• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Penanaman Modal Asing dalam Bidang Usaha Bisnis E- E-Commerce

PENANAMAN MODAL ASING DALAM BIDANG USAHA BISNIS ONLINE

C. Syarat Penanaman Modal Asing dalam Bidang Usaha Bisnis E- E-Commerce

Pemerintah saat ini tengah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada perusahaan yang ingin bekerja sama dalam penanaman modal asing di negara kita.

Kebutuhan akan keamanan, kejelasan dan kenyamanan bagi para penanam modal menjadi faktor yang sangat diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Dalam upaya meningkatkan penanaman modal di Indonesia, pemerintah Indonesia memperbaiki ketentuan daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal. Perbaikan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 Mei 2016. Peraturan ini menggantikan peraturan yang lama yaitu Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Dalam Daftar Lampiran III Peraturan Presiden ini mengatur bahwa Penanaman modal asing maksimal 49 % (persen) dalam Penyelenggara Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (marketplace berbasis platform, daily deals, price grabber, iklan baris online) dengan Nilai Investasi kurang dari Rp 100.000.000.000,00. Sementara untuk perusahaan yang nilai pekerjaannya di atas Rp.100 milyar, boleh sepenuhnya dimiliki oleh investor asing.

Pemerintah berharap dengan disahkannya Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal atau biasa disebut

dengan Daftar Negatif Investasi (DNI) bisa mendorong investasi di sektor “E-Commerce”82

Daftar Negatif Indonesia merupakan salah satu produk hukum yang diciptakan untuk membuat para investor memiliki kejelasan pilihan bidang usaha yang ada di Indonesia. Tak hanya kejelasan bidang usaha, rasa aman berinvestasi pun bisa didapatkan saat para penanam modal mengetahui secara pasti pengaturannya. Dalam Pasal 5 ayat (2) Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain dalam undang-undang. Mendirikan suatu Perseroan Terbatas (PT), disyaratkan bahwa seluruh pemegang sahamnya adalah Warga negara Indonesia. Dalam hal terdapat unsur asing baik sebagian ataupun seluruhnya, maka PT tersebut harus berbentu PT.

PMA (Penanaman Modal Asing). Suatu PT biasa yang dalam perkembangannya memasukkan pemodal baru yang berstatus asing (baik itu perorangan maupun badan hukum) maka PT tersebut harus merubah statusnya menjadi PT. PMA.

Sebelum memutuskan untuk mendirikan PT. PMA, tentunya terlebih dahulu harus mengetahui apakah bidang usaha dari PT. PMA tersebut. Bidang usaha dari suatu PMA tersebut menjadi tolok ukur pertama tentang boleh tidaknya bidang usaha tersebut dikerjakan oleh PT. PMA. Karena ada bidang-bidang usaha tertentu yang masih tertutup untuk dikerjakan oleh PT. PMA, dan harus dikerjakan oleh PT yang pemegang sahamnya seluruhnya WNI/badan hukum Indonesia.

82 Htttp://bandung.bisnis.com/m/read/20160525/34231/555410/investasi-asing-di-e-commerce-us525-juta diakses pada 3 Maret 2018 pada pukul 11:34

Secara umum, syarat-syarat untuk mengajukan Izin Prinsip pendirian PT.

PMA di BKPM adalah sebagai berikut:83

a. Pengajuan Ijin Prinsip untuk memulai usaha baru dalam rangka pendirian PT. PMA melalui BPKM

b. Pembuatan akan Pendirian PT. PMA

c. Pengurusan Domisili dan NPWP atas nama PT. yang bersangkutan NPWP yang dibuat untuk PT. PMA harus NPWP khusus PT. PMA Waktunya sekitar 10 hari kerja.

d. Pembukaan rekening atas nama Perseroan dan menyetorkan modal saham dalam bentuk uang tunai ke kas Perseroan. Bukti setornya diserahkan kepada Notaris untuk kelengkapan permohonan pengesahan pada Departemen Kehakiman RI.

e. Pengajuan persetujuan/pengesahan anggaran dasar ke Kementrian Hukum dan HAM RI.

f. Setelah keluar pengesahan dari Kementrian Kehakiman, dapat diurus Tanda Daftar Perusahaan (TDP), dalam jangka waktu sekitar 14 hari kerja.

g. Setelah semua selesai, tinggal pengurusan Berita Negara nya.

Sesudah memiliki Izin Prinsip, dan akan memulai usaha maka PT PMA tersebut harus punya Izin Usaha. Satu hal yang harus diperhatikan di sini adalah:

dalam hal ternyata ijin usaha PT. PMA tersebut sudah habis, Izin usaha tidak bisa langsung diajukan, melainkan harus memperpanjang izin prinsip terlebih dulu.

Suatu PT. PMA dapat mengajukan Izin Usaha:

83 http://irmadevita.com/2016/pendirian-perusahaan-penanaman-modal-asing-pma/ diakses pada 9 Maret 2018 pada pukul 01:34

a. Untuk investasi dengan total nilai di atas Rp.10 Milyar (diluar tanah dan bangunan) dimana untuk industri, setiap sub golongan yang sama di 1 lokasi proyek dalam 1 kabupaten/kota. Dan untuk non industri, setiap sub golongan yang sama di 1 kabupaten/kota

b. untuk investasi yang nilainya kurang dari Rp.10Milyar, maka dapat mengajukan Izin Usaha tanpa memperhatikan ketentuan lokasi proyek tsb.

Pasal 13 ayat (1) Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal telah mengatur bahwa PT PMA wajib melaksanakan ketentuan dan persyaratan nilai investasi dan permodalan dalam rangka memperoleh Izin Prinsip, yakni izin yang wajib dimiliki dalam rangka memulai atau melanjutkan usaha. Ketentuan nilai investasi dan permodalan diatur dalam Pasal 13 ayat (3) Peraturan BKPM Nomor 14 Tahun 2015 sebagai berikut:

Persyaratan nilai investasi dan permodalan dalam rangka PMA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, harus memenuhi ketentuan:

a. total nilai investasi lebih besar dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), diluar tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah:

1. untuk setiap subgolongan usaha yang sama berdasarkan KBLI di 1 (satu) lokasi proyek dalam 1 (satu) Kabupaten/Kota, khusus untuk sektor Industri;

2. untuk setiap subgolongan usaha yang sama berdasarkan KBLI di dalam 1 (satu) Kabupaten/Kota, diluar sektor Industri;

b. untuk proyek perluasan 1 (satu) bidang usaha dalam 1 (satu) kelompok usaha berdasarkan KBLI di lokasi yang sama maka nilai investasi diperkenankan kurang dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), dengan ketentuan akumulasi nilai investasi atas seluruh proyek di lokasi tersebut telah mencapai lebih dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) diluar tanah dan bangunan;

c. untuk perluasan 1 (satu) atau lebih bidang usaha dalam 1 (satu) sub golongan usaha berdasarkan KBLI, yang tidak mendapatkan fasilitas atau yang mendapatkan fasilitas di luar sektor industri, di 1 (satu)

lokasi dalam 1 (satu) kabupaten/kota maka nilai investasi diperkenankan kurang dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), dengan ketentuan akumulasi nilai investasi untuk seluruh bidang usaha lebih besar dari Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) diluar tanah dan bangunan;

d. nilai modal ditempatkan sama dengan modal disetor, sekurang-kurangnya sebesar Rp.2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah);

e. penyertaan dalam modal perseroan, untuk masing-masing pemegang saham sekurang-kurangnya Rp.10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan persentase kepemilikan saham dihitung berdasarkan nilai nominal saham.

Baik Peraturan BKPM Nomor 14 Tahun 2015 maupun Daftar Negatif Investasi (“DNI”) yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal (Perpres 44/2016) tidak mencantumkan pengaturan yang berbeda untuk nilai investasi dan permodalan.

Dalam Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 95 Tahun 2015 tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia disebutkan bahwa

“Dalam kegiatan perdagangan eceran melalui surat atau melalui internet (e-commerce), pembeli membuat pilihannya melalui iklan, katalog, informasi di website, contoh atau sarana iklan lainnya. Pembeli memesan melalui surat, telepon atau internet (biasanya melalui sarana khusus yang disediakan oleh website). Produk yang telah dibeli dapat langsung diambil (download) dari internet atau dikirim secara fisik ke pelanggan. Subgolongan ini mencakup :

a. Perdagangan eceran berbagai produk melalui pemesanan lewat surat

b. Perdagangan eceran berbagai produk melalui internet Subgolongan ini juga meliputi : Perdagangan langsung melalui televisi, radio atau telepon dan Pelelangan eceran lewat internet

Kepemilikan saham investor asing di perusahaan perdagangan elektronik (e-commerce) diberikan batasan dalam revisi Daftar Negati Investasi yang digarap Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Batasan ini bertujuan untuk memproteksi perusahaan e-commerce skla kecil dalam negeri agar tak buru-buru dibeli oleh investor asing. Jika dikelompokkan sesuai nilainya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan terdapat tiga tingkatan perusahaan e-commerce, yaitu:84

1. Perusahaan yang nilai pekerjaannya kurang dari 10 milyar;

2. Perusahaan yang nilai pekerjaannya dari 10 milyar sampai 100 milyar;

dan

3. Perusahaan yang nilai kerjanya di atas 100 milyar.

Investor asing tidak boleh masuk ke perusahaan yang nilainya dibawah 10 milyar. Kemudian untuk perusahaan dengan nilai pekerjaannya dari 10 milyar sampai 100 milyar, sahamnya boleh dimiliki asing sebesar 49 persen. Peraturan ini dapat dilihat dalam Daftar Lampiran III Daftar Negatif Investasi yang menjelaskan bahwa “Penanaman modal asing maksimal 49 % (persen) dalam Penyelenggara Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (marketplace berbasis platform, daily deals, price grabber, iklan baris online) dengan Nilai Investasi kurang dari Rp 100.000.000.000,00.

84 https://m.cnnindonesia.com/teknologi/menkominfo-ada-tiga-batas-investasi-asing-di-e-commerce diakses pada 10 Maret 2018

BAB IV

DAMPAK PENANAMAN MODAL ASING DALAM BIDANG USAHA