• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel C 3. Matriks Kesimpulan dan Rekomendasi Bab Sektoral

PENDIDIKAN

Kesimpulan Rekomendasi

Proporsi belanja pegawai terhadap total belanja sektor pendidikan relatif sangat besar, tetapi proporsi belanja modal relatif kecil.

Proporsi belanja pegawai di sektor pendidikan perlu ditekan ke level yang lebih rendah, agar proporsi belanja modal dapat diangkat ke tingkat yang lebih signifi kan.

Untuk menekan proporsi belanja pegawai, perlu kebijakan moratorium penerimaan pegawai untuk beberapa tahun ke depan atau setidaknya menempuh kebijakan zero growth jumlah pegawai.

Belanja pegawai pada pos belanja langsung harus lebih ditingkatkan efi siensinya.

Peningkatan belanja pendidikan di Sulawesi Selatan telah berhasil mendorong kinerja keluaran terutama rasio guru-murid, tetapi belum berhasil mendorong kinerja hasil. Terutama rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf pada tingkat setara dengan target RPJMD dan angka nasional.

Belanja pendidikan perlu semakin ditajamkan arah

penggunaannya untuk mendorong kabupaten/kota dengan kinerja rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf di kabupaten yang rendah angkanya.

Perlu rekruitmen guru di tingkat SMA, tetapi tidak perlu di tingkat SD dan SMP.

Menjangkau dan memasukkan ke bangku sekolah seluruh anak usia wajib belajar.

Upaya pemberantasan buta huruf perlu difokuskan pada perempuan dengan wilayah bagian selatan Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, Takalar dan Gowa.

Perlu kebijakan realokasi guru dari kabupaten/kota dengan rasio guru-murid rendah ke kabupaten/kota dengan rasio guru-murid tinggi.

Porsi anggaran untuk kebijakan pendidikan gratis relatif cukup besar dan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Mengingat kebijakan ini sudah diimplementasikan sejak tahun 2008, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh mengenai efektivitas kebijakan pendidikan gratis.

Kebijakan pendidikan gratis perlu dikorelasikan dengan target kinerja keluaran dan kinerja hasil yang ingin dicapai atau dikoreksi.

Terdapat ketidaksetaraan gender dalam kinerja hasil pembangunan pendidikan di Sulawesi terutama pada kelompok usia di atas 29 tahun.

Pemerintah memberlakukan Kejar Paket A pada kelompok umur di atas 29 tahun.

Kelompok perempuan yang buta huruf ini juga diberi keahlian lain sebagai bagian dari pemberdayaan.

Kebijakan pendidikan gratis telah berhasil meringankan beban pada anak usia sekolah yang telah mengakses pendidikan tetapi belum efektif mendorong anak usia sekolah yang belum terjangkau pendidikan untuk masuk ke bangku sekolah

Kebijakan pendidikan gratis perlu diikuti dengan bentuk

intervensi lain yang bisa memaksa anak usia sekolah untuk masuk ke bangku sekolah, khususnya pada anak yang terhambat secara geografi s (berlokasi di pegunungan serta pesisir, dan kepulauan) dan secara ekonomi-budaya (yang putus sekolah karena mencari nafkah).

Harus ada payung hukum untuk kerjasama pemerintah provinsi dan kabupaten dalam merealisasikan hal ini.

Rata-rata pengeluaran rumahtangga untuk pendidikan antar kelompok pendapatan menunjukkan kesenjangan yang cukup timpang. Kelompok pendapatan termiskin di Kabupaten Selayar, Bone, Sidrap dan Luwu mengeluarkan anggaran untuk pendidikan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pendapatan yang sama di kabupaten lain.

Mengurangi beban pengeluaran untuk pendidikan bagi kelompok pendapatan termiskin misalnya lewat subsidi pendidikan keluarga, diprioritaskan di Kabupaten Selayar, Bone, Sidrap, dan Luwu..

Kebijakan pendidikan gratis harus memastikan keberpihakannya pada kelompok pendapatan termiskin.

KESEHATAN

Kesimpulan Rekomendasi

Angka Harapan Hidup Sulawesi Selatan masih lebih rendah dari nasional dan Angka Kematian Ibu dan Bayi masih lebih tinggi.

Sosialisasi secara intensif kepada rumah tangga miskin tentang pentingnya perbaikan gizi pada balita (termasuk jenis makanan yang mengandung gizi yang tinggi dan bagus untuk dikonsumsi anak-anak).

Penanganan secara khusus pada daerah daerah rawan gizi buruk dan daerah-daerah yang terbanyak jumlah balita yang menderita gizi buruk.

Pemerataan cakupan pemeriksaan kehamilan dan perawatan pasca melahirkan antara di perdesaan dan kepada kelompok profesi sebagai petani, nelayan, dan buruh.

Sosialisasi gender secara intensif bagi masyarakat khususnya ibu hamil (istri) dan suami.

Proporsi belanja kesehatan terhadap belanja daerah hanya berkisar 8 sampai 10 persen per tahun.

Mengupayakan proporsi yang lebih seimbang antara belanja pegawai dengan belanja modal dan belanja barang dan jasa.

Belanja kesehatan juga diharapkan untuk program yang tidak hanya bersifat pengobatan, tetapi juga program yang bersifat pencegahan.

Masih ditemukan adanya kendala pembiayaan dalam program Kesehatan Gratis.

Perlu diciptakan suatu model pembiayaan lintas batas baik antar provinsi maupun antar kabupaten/kota.

Selain itu perlu dilakukan penyeragaman terhadap biaya jasa layanan kesehatan gratis yang berlaku untuk seluruh kabupaten/ kota

Fasilitas kesehatan di Sulawesi Selatan tersebar merata di kabupaten, sementara tenaga kesehatan justru terkonsentrasi di perkotaan.

Mendistribusi ulang tenaga kesehatan dari daerah perkotaan.

Memberikan insentif tambahan bagi tenaga kesehatan yang bekerja di pelosok.

INFRASTRUKTUR

Kesimpulan Rekomendasi

Arus penumpang dan barang di pelabuhan udara meningkat sementara di pelabuhan laut cenderung menurun.

 Pemerintah Sulawesi Selatan konsisten membenahi infrastruktur pendukung bandar udara seperti terminal penumpang, loket kendaraan, lapangan parkir, dan kenyamanan dalam bandar udara, untuk mengantisipasi pertumbuhan.

Cakupan infrastruktur dasar di Sulawesi Selatan lebih baik dari mayoritas provinsi di Sulawesi, beberapa kabupaten masih memiliki tantangan.

 Kabupaten Selayar, daerah Luwu Raya, perlu secara konsisten mengalokasikan belanja infrastruktur yang signifi kan disebabkan sebaran penduduk dan kondisi geografi nya.

Akses rumah tangga yang dikepalai perempuan terhadap air bersih cenderung memburuk.

 Meningkatkan penyadartahuan kepala rumah tangga terhadap sanitasi dan air bersih

 Menghilangkan diskriminasi pelayanan terhadap rumah tangga yang dikepalai perempuan

Peningkatan belanja infrastruktur di Sulawesi Selatan berdampak pada bertumbuhnya panjang jalan di kabupaten/kota.

 Pemerintah daerah harus memperhatikan pemeliharaan kualitas jalan selain dari total ruas panjang jalan karena kualitas jalan di Sulawesi Selatan memburuk.

Terjadi peningkatan kualitas irigasi di lahan yang telah dialiri.

Karena ada hubungan positif antara cakupan irigasi dengan produktivitas lahan, maka direkomendasikan agar pemerintah fokus pada peningkatan rasio jaringan irigasi dan kualitasnya daripada mendorong ekstensifi kasi lahan

PERTANIAN

Kesimpulan Rekomendasi

Program unggulan di bidang pertanian mendapat dukungan dari kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, terlihat dari besarnya belanja pertanian di kabupaten sentra produk unggulan. Tetapi mayoritas masih untuk belanja pegawai.

 Belanja pertanian lebih diarahkan juga kepada pembangunan infrastruktur pengolahan atau produksi (belanja modal) selain belanja yang lebih konvensional seperti penyuluhan

Secara umum, kinerja pencapaian produksi pertanian pada setiap subsektor menunjukkan kinerja yang baik dan sejalan dengan target pencapaian yang ditetapkan dalam RPJMD, terutama pada komoditas-komoditas yang menjadi andalan Sulawesi Selatan.

Mengimplementasikan secara konsisten program-program pokok yang telah ditetapkan dalam RPJMD

Mengembangkan tiga komoditas prioritas utama yakni beras, jagung dan ternak kearah peningkatan value added.

Memperbaiki kualitas pengembangan komoditas beras dan jagung dalam bentuk pengembangan produk organik. Produk organik dapat meningkatkan pendapatan petani melalui penurunan biaya produksi dan peningkatan harga produk.

Mengembangkan produk pertanian organik melalui integrasi dengan pengembangan ternak.

Mengintegrasikan padi dan jagung dengan ternak sapi untuk menghasilkan pupuk organik, pakan ternak dari sisa tanaman, dan sumber energi (biogas) sehingga biaya produksi ketiga komoditas tersebut lebih rendah dan kualitas dan harga produk lebih tinggi.

Mengembangkan udang organik untuk memenuhi persyaratan permintaan internasional dan sekaligus memulihkan atau memperbaiki ekosistem pertambakan, sebaiknya dikembangkan agar kegiatan budidaya daya udang dapat bangkit kembali, lestari dan berkelanjutan.

Mengolah komoditas kakao dan rumput laut untuk menghasilkan produk yang siap dikonsumsi.

Mengembangkan pengolahan bahan baku menjadi produk yang siap dikonsumsi agar tercipta nilai tambah atau pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja.

Perkembangan kontribusi sektor pertanian cenderung menurun dengan tingkat pertumbuhan relatif kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya di Sulawesi Selatan. Selain itu, ketergantungan tenaga kerja sektor pertanian cukup tinggi.

Melakukan pemetaan komoditas unggulan melalui sinergitas stakeholder pembangunan bidang pertanian.

Melakukan diversifi kasi produksi pasca panen untuk meningkatkan nilai tambah (value added) sektor pertanian.

Meningkatkan investasi sektor publik pada sektor pertanian yang memiliki akselerasi dan daya dorong tinggi.

Dokumen terkait