34
Berdasarkan struktur hirarki diatas, dapat diketahui bahwa sub elemen Pembangunan infrastruktur dan konektivitas dilaut (SO)1 berada pada level I. Hal tersebut merupakan sub elemen strategi awal yang perlu diprioritaskan dalam rangka membangun keamanan maritim nasional. Pada level II, terdapat sub elemen (ST)1 yaitu Peningkatan presentase APBN bagi sektor maritim dalam pembangunan kekuatan TNI AL dan stake holder lainnya.
Pada Level III terdapat dua sub elemen strategi yang dapat dilaksanakan secara bersamaan (WO)2 dan (WT)1 yaitu strategi Membentuk kebijakan sebuah satuan tugas pemberantasan korupsi dan pungli di wilayah laut, dan Membentuk satuan tugas yang terintegrasi dengan sesama aktor dalam keamanan maritim. Pada level ini sangat penting untuk mengurangi penyalahgunaan wewenang oleh aktor terkait serta memberikan efisiensi operasi sehingga tidak terjadi tumpang tindih wewenang terkait.
Pada level IV terdapat dua sub elemen strategi yaitu (WO)3 dan (WT)3, sub elemen strategi ini adalah Melaksanakan kerjasama dengan negara maju dalam bidang transfer teknologi pada pembangunan infrastruktur militer, dan Pengembangan industri jasa maritim diwilayah pesisir, guna pembukaan lapangan kerja ditiap wilayah. Level V yaitu (SO)4 dan (WT)2 dengan sub elemen Pemanfaatan politik bebas aktif negara sebagai penengah dalam hegemoni China dan AS di Asia Pasifik, dan Pemerataan pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim diwilayah pesisir dan perbatasan.
Pada level VI yaitu (ST)3 Membangun fondasi dan infrastruktur sistem informasi yang kuat di wilayah maritim guna menghadapi ancaman siber pihak lain. Level VII sub elemen strategi (SO)2 yaitu Pendayagunaan angkatan kerja yang melimpah dalam perekrutan personel pengawak TNI AL dan stakeholder lain.
Pada level VIII terdapat 3 sub elemen strategi yaitu Membangun kembali budaya sebagai bangsa maritim (SO)3; Melaksanakan re-negosiasi dengan pihak asing dalam pengelolahan sumberdaya alam yang dikuasai asing (WO)1; Melaksanakan negosiasi dengan negara tetangga terkait dalam penanganan perjanjian lintas batas negara dilaut (ST)2.
Keseluruhan elemen strategi tersebut merupakan sebuah tahapan dalam menangani permasalahan terkait keamanan laut nasional, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung. Permasalahn tersebut bukan hanya sebatas pada laut semata tetapi dari sudut pandang maritim secara keseluruhan yang telah diidentifikasi sebelumnya dengan analisis SWOT.
a.
35
Berdasarkan analisis MICMAC diatas, terdapat tiga kelompok variabel yang berkaitan dengan elemen strategi sebelumnya. Elemen strategi (ST)1 merupakan variabel Dependent. (SO)1 merupakan variabel independen. Sedangkan pada variabel Autonomous terdapat 11 elemen strategi yaitu (SO)3; (ST)2; (SO)4; (WT)2; (WO)1; (WT)1; (WT)3; (WO)2; (WO)3; (SO)2; (ST)3.
Strategi Implementasi
Pada tahap implementasi strategi dibagi dalam sebuah Rencana Strategi dalam waktu 8 tahun. Tabel 9. Peta Implementasi Strategi.
Ke semua tahap tersebut merupakan sebuah peta rencana strategi yaitu serangkaian proses perencanaan dalam sebuah lingkup kerja organisasi diwilayah maritim beserta stake holder terkait dengan dorongan sub-sub elemen strategi yang telah diidentifikasi sebagai proyeksi kebutuhan atau permasalahan dimasa mendatang.
Output dari proses ini yaitu sebuah dokumen yang dapat menjelaskan dan memperkirakan masa datang dan tujuan yang hendak dicapai yaitu keamanan kondisi maritim nasional beserta langkah-langkah yang diperlukan, apa dan siapa yang melaksanakan, sumber daya dan kapabilitas yang diperlukan
KESIMPULAN DAN SARAN
Indonesia diprediksi sebagai salah satu negara yang akan mengalami peningkatan kekuatan yang muncul pada tahun 2030. Perkembangan ekonomi Indonesia dan kawasan regional memberikan efek pada keamanan nasional, termasuk sektor keamanan maritim. Indonesia memiliki tantangan untuk mengelola keamanan maritim dengan berbagai dimensi termasuk perspektif pertahanan dan keamanan. Indonesia diprediksi akan menghadapi ancaman terhadap aspek maritim. Sehingga diperlukan sebuah analisis strategi dalam menghadapi ancaman keamanan laut nasional.
36
Berdasarkan analisis SWOT didapatkan 9 faktor kekuatan dan kelemahan yang terkait dengan faktor internal. Kemudian didapatkan 9 faktor ancaman dan peluang terkait dengan kondisi eksternal. Hal tersebut telah merumuskan 13 elemen strategi dalam penanganan keamanan laut nasional.
Berdasarkan struktur hirarki diatas, didapatkan 8 level elemen strategi. Diketahui bahwa sub elemen Pembangunan infrastruktur dan konektivitas dilaut (SO)1 berada pada level I. Pada level II, terdapat sub elemen (ST)1 yaitu Peningkatan presentase APBN bagi sektor maritim dalam pembangunan kekuatan TNI AL dan stake holder lainnya. Pada Level III terdapat dua sub elemen strategi yang dapat dilaksanakan secara bersamaan (WO)2 dan (WT)1 yaitu strategi Membentuk kebijakan sebuah satuan tugas pemberantasan korupsi dan pungli di wilayah laut, dan Membentuk satuan tugas yang terintegrasi dengan sesama aktor dalam keamanan maritim. Pada level IV terdapat dua sub elemen strategi yaitu (WO)3 dan (WT)3, sub elemen strategi ini adalah Melaksanakan kerjasama dengan negara maju dalam bidang transfer teknologi pada pembangunan infrastruktur militer, dan Pengembangan industri jasa maritim diwilayah pesisir, guna pembukaan lapangan kerja ditiap wilayah. Level V yaitu (SO)4 dan (WT)2 dengan sub elemen Pemanfaatan politik bebas aktif negara sebagai penengah dalam hegemoni China dan AS di Asia Pasifik, dan Pemerataan pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim diwilayah pesisir dan perbatasan.
Pada level VI yaitu (ST)3 Membangun fondasi dan infrastruktur sistem informasi yang kuat di wilayah maritim guna menghadapi ancaman siber pihak lain. Level VII sub elemen strategi (SO)2 yaitu Pendayagunaan angkatan kerja yang melimpah dalam perekrutan personel pengawak TNI AL dan stakeholder lain. Pada level VIII terdapat 3 sub elemen strategi yaitu Membangun kembali budaya sebagai bangsa maritim (SO)3; Melaksanakan re-negosiasi dengan pihak asing dalam pengelolahan sumberdaya alam yang dikuasai asing (WO)1; Melaksanakan negosiasi dengan negara tetangga terkait dalam penanganan perjanjian lintas batas negara dilaut (ST)2.
DAFTAR PUSTAKA.
Agarwal, A., Shankar, R., & Tiwari, M. K. (2007). Modeling Agility of Supply Chain. Industrial Marketing Management, 36(4), 443-457.
Akhira, K., Hamas, M. I., & Puspitasari, D. (2015). Nusantara Microalgae Park: Solution of Energy Crisis in Outer and Small Islands of Indonesia. Renewable Energy and Energy Conversion Conference and Exhibition, 94-101.
Astor, Y., Sulasdi, W. N., Hendriatiningsih, S., & Wisayantono, D. (2014). Problem Identification of Marine Cadastre in Indonesian Archipelagic Perspective. Indonesian Journal of Geospatial, 38-53.
Athapaththu, H. K. (2016). An Overview of Strategic Management: An Analysis of the Concepts and the Importance of Strategic Management . International Journal of Scientific and Research Publications , 6(2), 124-127.
Attri, R., Dev, N., & Sharma, V. (2013). Interpretative Structural Modelling (ISM) Approach: an Overview. Research Journal of Management Sciences, 2(2), 3-8.
Bateman, S. (2010). Regional Maritime Security: Threats and Risk Assessment. Southeast Asia and the Rise of Chinese and Indian Naval Power: Between Rising Naval Powers, 99-113.
Bueger, C. (2015). What is Maritime Security. Forthcoming in Marine Policy, 1-11.
Chapsos, I., & Malcolm, J. A. (2017). Maritime Security in Indonesia: Towards a Comprehensive Agenda? Marine Policy, 76, 178–184.
Collins-Kreiner, N., & Wall, G. (2007). Evaluating tourism potential: A SWOT analysis of the Western Negev. Israel,Tourism, 55, 51-63.
CSIS. (2013). Beyond the Last War: Balancing Ground Forces and Future Challenges Risks in USCENTCOM and USPACOM .
Espas. (2011). Citizens in an Interconnected and Polycentric World. Paris: Institute for Security Studies European Union.
Firoz, N., & Rajesh, R. (2012). Relationship among Supplier Selection Criteria using Interpretative Structural Modeling for Manufacturing Organization in Kerala . International Journal of Engineering Science Invention, 3(8), 60-70.
Heiduk, F. (2016). Indonesia in ASEAN Regional Leadership between Ambition and Ambiguity. Berlin: Stiftung Wissenschaf.
37
Hozairi, Artana, K. B., Masroeri, & Irawan, M. I. (2012). Application Of Intelligent Decision Support Systems (Idss) To Calculate The Number Of Sectors For Security Operations In The East Sea Indonesia. International Journal of Modern Engineering Research, 2(6), 4373-4377. Hussain, M. (2011). Modelling the Enablers and Alternatives for Sustainable Supply Chain
Management. Montreal: Concordia University.
Klimov, P. (2015). Definition of HAzard and Threats of National Maritime Areas. Naval Academy Scientific Bulletin, XVIII, 52-57.
Lin, K.-C., & Gertner, A. V. (2015). Maritime Security in The Asia-Pacific. London: The Royal Institute of International Affairs.
Manurung, H. (2016). The Impacts of Indonesia and Russia Trade Relations on Indonesia’s Maritime
Security. Journal of International Studies, 1-17.
Matthews, A. D. (2016). Indonesian Maritime Security Cooperation in the Malacca Straits. Monterey: The NPS Institutional Archive.
McKinsey, G. I. (2012). The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia'a Potential. McKinsey & Company.
Morris, L. J., & Paoli, G. P. (2018). A Preliminary Assessment of Indonesia's Maritime Security Threats and Capabilities. Cambridge: RAND Corporation.
Özleblebici, Z., Pinto, C., & Antonio, N. (2015). Variations in Strategy Perception among Business and Military . International Journal of Research in Business and Social Science , 4(1), 17-31. Panackal, N., & Singh, A. (2016). Using Interpretative Structural Modeling to Determine the Relation
between Youth and Sustainable Rural Development. Journal of Management and Research, 4(1), 58-64.
Phillips, L. M. (2008). : International relations in 2030: The transformative power of large developing countries. London: Deutsches Institut für Entwicklungspolitik.
Poerwowidagdo, S. J. (2015). Blue Ocean Strategy in Managing Maritime Security. Jurnal Pertahanan, 1(1), 13-26.
Puspitawati, D. (2017). Urgent Need For National Maritime Security Arrangement In Indonesia: Towards Global Maritime Fulcrum. Indonesian Journal of International Law, 14(3), 321-347. Putra, I. N., Hakim, A., Pramono, S. H., & Leksono, A. S. (2017). The Effect of Strategic Environment
Change toward Indonesia Maritime Security : Threat and Opportunity. International Journal of Applied Engineering Research, 12(16), 6037-6044.
Ramadhani, M. A. (2015). An Indonesian Perspetive Toward Maritime Vision : Is Pursuing National Interest While Maintaining Neutrality in The South China Sea Possible ? European Scientific Journal, 381-400.
Rumley, D. (2005). The Geopolitics of Asia-Pacific Regionalism in the 21st Century. The Otemon Journal of Australian Studies, 5-27.
Saragih, H. J., Barna, R., & Purwanto. (2016). Defence Management Concept Improving indonesia Maritime Security. Jurnal Pertahanan, 2, 257-272.
Soti, R. S., & Kaushal, O. P. (2010). Modeling the Enablers of Six Sigma using Interpreting Structural Modeling . Journal of Modeling in Management, 5(2), 124-141.
Valli, V., & Saccone, D. (2015). Structural Change, Globalization and Economic Growth in China and India . The European Journal of Comparative Economics, 133-163.
Wang, M.-T. (2015). Use of a Combination of AHP and ISM for Making an Innovative Rescue Caring Design in Landslide Area. Mathematical Problems in Engineering, 1-13.
Wheelen, T., & Hunger, J. (1995). Strategic Management and Business Policy . Reading: Addison-Wesley.
Yuksel, I., & Dagdeviren, M. (2007). Using the Analytic Network Process (ANP) in a SWOT Analysis –
A Case Study for a Textile Firm. Information Sciences, 177, 3364–3382.
Zhang, D. (2014). Challenges and New Developments in Maritime Risk Assessment. Hawaii: Probabilistic Safety Assessment and Management PSAM 12,.