Pemahaman Tabel Input Output
2.2. Tabel Input Output
Tabel I-O menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matriks. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. Disamping itu, isian pada baris nilai tambah menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur input yang digunakan oleh masing-masing sektor dalam proses produksi, baik yang berupa input antara maupun input primer.
Menurut Baumol (1972) analisis input ouput sebagai upaya memasukkan fenomena keseimbangan umum dalam analisis empiris sisi produksi. Keseimbangan dalam analisis input-output didasarkan arus transaksi antar pelaku perekonomian. Teknologi produksi yang digunakan memegang peranan penting yaitu teknologi dalam kaitannya dengan penggunaan input antara.
£
Tabel I-O menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matriks
8
Sedangkan informasi pada komponen nilai tambah yang terdiri dari kompensasi tenaga kerja, surplus usaha/pendapatan campuran bruto serta pajak lainnya dikurang subsidi lainnya atas produksi.
TABEL SUPPLY TABEL USE
LAPANGAN
USAHA Valuasi LAPANGAN USAHA PERMINTAAN AKHIR harga pembeli
KOM ODIT I Ou tp ut Dom estik har ga d as ar Im por B ar ang d an J as a M ar gi n Pe rdaga ngan d an P engangk ut an P ajak ku ra ng s ub sidi a ta s pr od uk T OT AL P E NY E DIAA N at as h ar ga p em bel i KOM ODIT I Per m in taan A nt ar a har ga p em bel i K ons um si ru m aht an gga K on su m si L NP RT K on su m si P em er in ta h K on su m si P M TB P er ubahan Inv ent or i E ks por b ar ang d an j as a TOT AL P E NGGUNA AN at as h ar ga p em bel i TOTAL OUTPUT Total Konsumsi Antara NTB (Input Primer) TOTAL INPUT
Sumber: Sanjiv Mahajan, “Development, Compilation and Use of SUT in the United Kingdom National Accounts”, 2011
Gambar 1.1 Kerangka Kerja SUT Persamaan pada SUT yang harus dipenuhi:
Total Penyediaan = Total Penggunaan. Total Output = Total Input
Dimana:
Nilai sama
Nilai sama
Keterbatasan Tabel Input Output
Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya, model input output bersifat statis dan terbuka. Asumsi dasar dalam penyusunan Tabel I-O adalah:
1. Keseragaman (homogenity), yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang dan jasa dengan susunan input tunggal (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dari output sektor yang berbeda.
2. Kesebandingan (proportionality), yaitu asumsi bahwa hubungan antara input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linier, artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding (berbanding lurus) dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut.
3. Penjumlahan (additivity), yaitu asumsi bahwa total efek dari kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing sektor secara terpisah. Ini berarti bahwa di luar sistem Tabel I-O semua pengaruh dari luar diabaikan.
Berdasarkan asumsi tersebut, maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan, yaitu bahwa koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisis atau proyeksi. Karena koefisien teknis dianggap konstan, maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output.
Walaupun demikian, model I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah:
1. Menggambaran kondisi perekonomian dari sisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa secara komprehensif.
2. Untuk analisis-analisis keterkaitan antar sektor dan analisis pengganda untuk melihat pengaruh suatu sektor dengan sektor lainnya serta memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap perekonomian.
£
Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian
3. Untuk analisis dan dasar penyusunan model ekonomi lainnya yang lebih kompleks.
Kerangka Kerja
Secara umum, matriks dalam Tabel I-O dapat dikelompokkan menjadi tiga kuadran (sub matriks), yaitu kuadran I, II dan III. Isi dan pengertian masing-masing kuadran tersebut secara ringkas dapat dilihat pada gambar 2.3.
Gambar 2.3. Kerangka Tabel I-O
£
Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi 19 Alokasi Output PERMINTAAN PENYEDIAAN Permintaan Antara Permintaan Akhir Industri homogen Susunan Input 1 - 185 1800 3011 3012 3020 3030 3040 3070 3090 3100 4090 5090 6090 7000 8000 Kom odi ti 1 Transaksi antara (Kuadran I) Per m in taan ant ar a Kons um si R um aht angga Ko nsu m si L NP RT Kons um si P em er in tah Pem bent uk an M odal T et ap B rut o Per ubahan I nv ent or i Ek spor b ar ang d an jas a Tot al P er m int aan A khi r TOT AL P E RM INT AA N Im por b ar an g d an j as a M ar gi n per da ganga n d an p engan gk ut an Pa jak ata s p ro du k n et o TOT AL OUT P UT TOT AL P E NY E DIAA N . . . 185 1900 Konsumsi antara
1950 Pajak dikurang subsidi atas produk 2000 Impor
In
pu
t P
rim
er 2010 2020 Kompensasi tenaga kerja Surplus Usaha Bruto
2030 Pajak dikurang subsidi lainnya atas produksi
2090 Nilai Tambah Bruto
2100 TOTAL INPUT
Gambar 1.3. Kerangka Kerja Tabel I-O
a. Kuadran I.
Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Isian sepanjang baris pada kuadran ini memperlihatkan alokasi output suatu sektor ekonomi yang digunakan sebagai input oleh sektor lainnya dan disebut sebagai permintaan antara. Sedangkan isian-isian sepanjang kolomnya memperlihatkan penggunaan input oleh suatu sektor yang berasal dari sektor lainnya dan disebut sebagai input antara. Dalam analisis menggunakan model I-O, kuadran I memiliki peranan penting karena
K uad ran II I Kuadran II 1. Kuadran I
Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Isian sepanjang baris pada kuadran ini memperlihatkan alokasi output suatu sektor ekonomi yang digunakan sebagai input oleh sektor lainnya dan disebut sebagai permintaan antara. Sedangkan isian-isian sepanjang kolomnya memperlihatkan penggunaan input oleh suatu sektor yang berasal dari sektor lainnya dan disebut sebagai input antara. Dalam analisis menggunakan model I-O, kuadran I memiliki peranan penting karena kuadran inilah yang
menunjukkan keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya.
2. Kuadran II
Isian sel-sel pada kuadran II ada dua jenis, yaitu (a) transaksi permintaan akhir dan (b) komponen penyediaan pada masing-masing sektor produksi. Permintaan akhir terdiri dari enam komponen, yaitu pengeluaran total konsumsi rumah tangga (3010), konsumsi LNPRT (3012), pengeluaran konsumsi pemerintah (3020), PMTB (3030), perubahan inventori (3040), total ekspor barang dan jasa (3070) terdiri dari ekspor barang dan jasa (3070). Jumlah permintaan (3100) merupakan jumlah permintaan antara (1800) ditambah dengan jumlah permintaan akhir (3090). Sedangkan jumlah penyediaan (8000) terdiri dari produksi dalam negeri atau output domestik (7000), barang dan jasa yang berasal dari impor dan margin perdagangan dan biaya pengangkutan (5090) serta pajak atas produk dikurang subsidi atas produk (6090). Barang dan jasa impor (4090). Margin perdagangan dan biaya pengangkutan atau Trade and Transport Margin (TTM) terdiri dari margin perdagangan dan biaya pengangkutan (5090). Dengan demikian isian sepanjang baris pada kuadran II memperlihatkan komposisi permintaan akhir terhadap suatu sektor produksi dan bagaimana komposisi penyediaannya. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan distribusi masing-masing komponen permintaan akhir dan penyediaan.
3. Kuadran III
Isian kuadran III terdiri dari sel-sel nilai tambah bruto atau input primer. Nilai tambah bruto (2090) terdiri dari kompensasi tenaga kerja (2010), surplus usaha bruto (2020), dan pajak dikurangi subsidi lainnya atas produksi (2030). Isian sepanjang baris pada kuadran III menunjukkan distribusi penciptaan masing-masing komponen nilai tambah bruto menurut kelompok produk sesuai industri yang menghasilkan. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah bruto oleh masing-masing kelompok industri menurut komponennya. Dalam banyak analisis, nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh masing-masing kelompok produk dikonversikan ke PDB. Untuk menghasilkan total PDB maka nilai tambah bruto atas dasar harga dasar terlebih dahulu harus ditambah dengan pajak kurang subsidi atas produk (6090). Di samping melalui nilai tambah bruto, produk domestik bruto dapat juga diturunkan dari permintaan akhir, yaitu jumlah seluruh permintaan akhir (3090) dikurangi dengan total impor barang jasa (4090).
£
Isian sel-sel pada kuadran II ada dua jenis, yaitu (a) transaksi permintaan akhir dan (b) komponen penyediaan pada masing-masing sektor produksi
Transaksi yang digunakan dalam Tabel I-O ada dua jenis, yaitu transaksi total dan transaksi domestik. Transaksi total mencakup semua transaksi barang dan jasa, baik yang berasal dari produksi dalam negeri (output domestik) maupun yang berasal dari impor. Sedangkan yang dicakup pada transaksi domestik hanya transaksi atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor produksi di dalam negeri saja. Di samping itu pada Tabel I-O juga menggunakan dua jenis harga untuk penilaian setiap transaksi yang digunakan, yaitu harga pembeli dan harga dasar. Pada transaksi atas dasar harga pembeli, semua transaksi dinilai atas dasar harga yang dibayar oleh pembeli yang mencakup juga margin perdagangan dan biaya pengangkutan serta pajak dikurangi subsidi atas produk. Sedangkan pada transaksi atas dasar harga dasar yang digunakan sebagai dasar penilaian adalah harga dari produsen barang dan jasa yang bersangkutan tanpa margin perdagangan dan biaya pengangkutan serta pajak dikurangi subsidi atas produk. Berdasarkan uraian tersebut, maka Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014 yang disusun terdiri dari tiga tabel dasar, yaitu
1. tabel transaksi total atas harga pembeli; 2. tabel transaksi total atas harga dasar; 3. tabel transaksi domestik atas harga dasar.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pada tabel transaksi domestik atas dasar harga dasar transaksinya tidak lagi mencakup barang dan jasa impor. Untuk menjaga agar tetap seimbang (balance), maka barang dan jasa yang diperoleh dari impor pada tabel transaksi domestik dikumpulkan pada baris tersendiri dan diberi kode (2000) sedangkan nilai pajak dikurang subsidi atas produk dikumpulkan pada baris tersendiri dengan kode (1950).
Hubungan antara tabel transaksi atas dasar harga pembeli dan harga dasar dijelaskan pada formula di bawah ini:
Tabel transaksi total atas dasar harga pembeli
dikurang (-) tabel margin perdagangan dan pengangkutan dikurang (-) tabel pajak atas produk neto
= Tabel transaksi total atas harga dasar
£
Transaksi yang digunakan dalam Tabel I-O ada dua jenis, yaitu transaksi total dan transaksi domestik
dikurang (-) tabel impor
= Tabel transaksi domestik atas harga dasar
2.3. Tahapan Penyusunan
Penyusunan Tabel I-O ekonomi kreatif dilakukan dengan teknik updating, metode ini menggabungkan pendekatan secara langsung dengan metode tak langsung. Dengan kata lain sebagian sel-sel matriks koefisien teknis diperkirakan dari hasil survei dan sebagian lagi menggunakan model berdasarkan Tabel I-O terkini yang disusun lengkap/sebagai benchmarking pada periode sebelumnya dan data makro ekonomi. Dengan kata lain updating Tabel I-O ekonomi kreatif 2014 disusun menggunakan data-data hasil sensus, survei, data administratif, dan Tabel I-O Indonesia 2010. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa level dan nominal (current price) sektor-sektor ekonomi untuk proses produksi barang dan jasa, mengalami perubahan cukup berarti, meskipun secara struktur ekonomi tidak berubah secara nyata. Tahapan umum dan penjelasan penyusunan Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014 adalah sebagai berikut:
Gambar 2.4. Tahapan Penyusunan Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014
£
Penyusunan Tabel I-O ekonomi kreatif dilakukan dengan teknik updating, metode ini menggabungkan pendekatan secara langsung dengan metode tak langsung
Penyusunan klasifikasi dan framework
Dimensi klasifikasi tabel I-O ekonomi kreatif 2014 adalah 63x63 produk
Updating komponen supply dan use
* updating output
* updating permintaan antara * updating nilai tambah * updating permintaan akhir * transformasi tabel I-O
Updating Tabel I-O
* Rekonsiliasi tabel I-O * updating Matriks impor * updating Matriks valuasi
Catatan mengenai tahapan pokok penyusunan tersebut dielaborasi lebih lanjut pada pembahasan berikut ini.
Klasifikasi Tabel Input-Output Ekonomi Kreatif
Untuk menyusun klasifikasi sektor, sifat dan jenis setiap komoditi yang ada harus dipelajari dengan seksama. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah teknologi pembuatan dan prospek masa depan dari peranan dan kegunaan setiap komoditi dalam kegiatan perekonomian secara menyeluruh. Jika penyusunan klasifikasi sektor dibuat semakin rinci, maka akan lebih mendalam pula pengenalan terhadap anatomi fisik
berbagai barang dan jasa yang dicakup oleh masing-masing sektor. Asumsi utama yang digunakan dalam penyusunan klasifikasi sektor adalah bahwa satu sektor hanya akan menghasilkan satu macam barang dan jasa. Pada kenyataannya, satu kegiatan ternyata dapat menghasilkan lebih dari satu macam komoditi. Dalam hal ini maka harus diusahakan agar komoditi-komoditi yang dihasilkan oleh suatu sektor memiliki kelas yang sama atau setara. Namun demikian jika ternyata dari kegiatan di suatu sektor dihasilkan pula suatu komoditi yang sangat berbeda dengan sifat komoditi di sektor yang bersangkutan, maka komoditi ini harus dikeluarkan dari sektor tersebut dan dimasukkan ke sektor yang sesuai.
Dalam penyusunan Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014, pertimbangan utama yang digunakan adalah Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2015, aktivitas ekonomi kreatif diklasifikasikan kedalam 16 subsektor. Klasifikasi 16 subsektor ekonomi kreatif yang berbasis KBLI dikorespondensikan dengan produk-produk yang dihasilkan dari aktivitas ekonomi tersebut berdasarkan Klasifikasi Baku Komoditi Indonesia (KBKI). Klasifikasi tersebut dikorespondensikan dengan klasifikasi Tabel I-O. Adapun rincian klasifikasi Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014 berdimensi 63x63 produk dimana rincian klasifikasi dan korespondensinya dapat dilihat pada tabel lampiran 1.
Dimensi Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014 diklasifikasikan berdasarkan 63 produk-x-produk. Dalam penyusunannya diintegrasikan dengan penyusunan klasifikasi SUT sehingga dapat ditelusuri kesesuaian klasifikasi Tabel I-O dengan sistem klasifikasi standar. Tabel I-O produk-x-produk mendeskripsikan hubungan teknologi antara produk dan unit produksi yang homogen. Bagian transaksi antara mendeskripsikan untuk setiap produk, jumlah produk yang digunakan untuk memproduksi suatu produk, terlepas dari industri yang memproduksi. Analisisnya dapat dilakukan untuk melihat dampak perubahan konsumsi akhir suatu produk terhadap produksi produk tersebut. Klasifikasi Tabel I-O Updating Ekonomi Kreatif 2014 berkorespondensi dengan KBKI 2010 dapat dilihat pada tabel lampiran 2.
Updating Output
Output adalah nilai dari seluruh produk (barang/jasa) yang dihasilkan oleh lapangan usaha produksi di suatu wilayah domestik tanpa membedakan kepemilikan faktor-faktor produksi yang ada di wilayah itu. Jadi pelaku produksinya dapat berupa penduduk di wilayah domestik tersebut atau perusahaan dan penduduk asing. Oleh karena itu output sering juga
£
Dalam penyusunan updating Tabel I-O ekonomi kreatif 2014, pertimbangan utama yang digunakan adalah Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2015
disebut sebagai output domestik. Penghitungan output dilakukan dengan menjumlah nilai dari barang/jasa yang telah dihasilkan oleh suatu lapangan usaha tanpa memperhatikan apakah produk tersebut terjual atau tidak. Untuk sektor perdagangan, output atau margin perdagangan merupakan nilai jual dikurangi nilai beli barang yang diperdagangkan setelah dikurangi dengan biaya angkutan yang dikeluarkan oleh pedagang.
Secara umum metode yang digunakan untuk estimasi output dari masing-masing industri menggunakan pendekatan produksi. Uraian metodologi masing-masing Sektor di bawah ini merujuk pada klasifikasi pada lampiran 2, bahwa setiap sektor mencakup beberapa kategori dan lima digit KBKI. Estimasi output dan input dilakukan per kategori dalam tiap-tiap Sektor ekonomi kreatif. Berikut adalah cakupan, sumber data dan metode estimasi output dan input dengan berbagai indikator yang digunakan dari masing-masing sektor ekonomi kreatif.
1. Sektor Arsitektur
Berdasarkan klasifikasi Industri sektor arsitektur mencakup aktivitas arsitektur dan keinsinyuran. Penghitungan output pada sektor arsitektur menggunakan data output SE 2006 dimana nilai output tahun 2014 diestimasi dengan menggunakan indikator produksi berupa jumlah tenaga kerja dan indikator harga berupa rata-rata output per tenaga kerja. Sementara itu untuk memperoleh nilai struktur input sektor arsitektur, menggunakan struktur input hasil SE 2006 dan Survei Khusus Neraca Produksi Ekonomi Kreatif (SKNP-EK) tahun 2017 serta data dari Survei Khusus Sektor Perdagangan dan Jasa (SKSPJ).
2. Sektor Desain Interior
Serupa dengan sektor arsitektur, sektor desain interior juga mencakup aktivitas arsitektur dan keinsinyuran dimana nilai output diestimasi dengan menggunakan output SE 2006. Indikator produksi yang digunakan adalah jumlah tenaga kerja sementara indikator harga berupa rata-rata output per tenaga kerja. Sementara itu untuk penghitungan struktur input pada sektor desain interior, data-data yang digunakan meliputi data struktur input hasil SE 2006, SKNP-EK tahun 2017 serta data hasil SKSPJ.
3. Sektor Desain Komunikasi Visual
Berdasarkan klasifikasi Industri sektor desain komunikasi visual juga
£
Penghitungan output dilakukan dengan menjumlah nilai dari barang/jasa yang telah dihasilkan oleh suatu lapangan usaha tanpa
memperhatikan apakah produk tersebut terjual atau tidak
serupa dengan sektor arsitektur dan desain interior yaitu mencakup aktivitas arsitektur dan keinsinyuran. Penghitungan output pada sektor ini menggunakan output hasil SE 2006 dimana indikator produksi yang digunakan adalah jumlah tenaga kerja sementara indikator harga menggunakan rata-rata output per tenaga kerja.Untuk penghitungan struktur input sektor desain komunikasi visual, data-data yang digunakan meliputi struktur input hasil SE 2006, data SKNP-EK tahun 2017, SKSPJ serta informasi yang bersumber dari Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI).
4. Sektor Desain Produk
Sektor desain produk mencakup tiga aktivitas yaitu aktivitas perancangan khusus, pengepakan dan pendidikan teknik swasta. Untuk aktivitas perancangan khusus dan pengepakan, nilai output diestimasi dengan menggunakan output SE 2006 dengan indikator produksi berupa jumlah tenaga kerja. Untuk aktivitas pendidikan teknik swasta nilai output dihitung berdasarkan perkalian indikator produksi yaitu jumlah siswa dengan indikator harga yaitu rata-rata output per siswa.
Penghitungan struktur input sektor desain produk untuk ketiga aktivitas menggunakan metode yang sama yaitu menggunakan struktur input hasil SE 2006 dan SKNP-EK tahun 2017. Secara Keseluruhan sumber data yang digunakan dalam penghitungan sektor desain interior meliputi data SE 2016, data SKNP-EK 2017, data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan SKSPJ.
5. Sektor Film, Animasi dan Video
Sektor film, animasi dan video mencakup tiga aktivitas yaitu industri pengolahan, informasi dan komunikasi serta jasa pendidikan. Penghitungan output pada aktivitas industri pengolahan menggunakan output dari data Industri Besar Sedang (IBS) yang dihasilkan oleh BPS. Sementara itu untuk data informasi dan komunikasi dihitung berdasarkan data jumlah film, sinetron, dan sejenisnya dikalikan dengan rata-rata biaya pembuatan film, sinetron, dan sejenisnya tersebut. Untuk struktur supply, menggunakan struktur data produksi IBS dan data SE 2006. Pada aktivitas jasa pendidikan nilai output dihitung berdasarkan hasil perkalian antara indikator produksi dan indikator harga. Indikator produksi yang digunakan adalah jumlah peserta kursus, sedangkan indikator harga yang digunakan adalah output per peserta kursus. Data jumlah peserta kursus diperoleh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sedangkan data output per peserta menggunakan data hasil SKSPJ. Struktur output dan input dibentuk
dengan menggunakan hasil SUT Nasional.
Penghitungan struktur input pada sektor desain produk untuk ketiga aktivitas menggunakan metode yang sama yaitu menggunakan struktur input hasil SE 2006 dan SKNP-EK tahun 2017.
6. Sektor Fotografi
Sektor fotografi mencakup tiga aktivitas yaitu jasa perusahaan, jasa pendidikan dan jasa lainnya baik jasa lainnya swasta maupun yang disediakan pemerintah. Pada aktivitas jasa perusahaan estimasi output didasarkan pada hasil SE 2006 dengan menggunakan indikator produksi berupa jumlah tenaga kerja dan indikator harga menggunakan rata-rata output per tenaga kerja. Selanjutnya, dilakukan proses konkordansi untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2014 menurut KBLI 2015. Pada aktivitas jasa pendidikan struktur output dan input dibentuk dengan menggunakan hasil SUT Nasional. Output dihitung berdasarkan hasil perkalian antara indikator produksi dan indikator harga. Indikator produksi yang digunakan adalah jumlah peserta kursus, sedangkan indikator harga yang digunakan adalah output per peserta kursus. Data jumlah peserta kursus diperoleh dari Kemendikbud, sedangkan data output per peserta kursus diperoleh dari hasil SKSPJ. Untuk penghitungan data terkait aktivitas jasa lainnya nilai output dihitung menggunakan pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan antara indikator produksi dan indikator harga. Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam penghitungan output adalah jumlah tenaga kerja. Selain itu untuk sektor jasa lainnya khususnya jasa lainnya pemerintah sumber data yang digunakan adalah realisasi belanja pegawai dan estimasi penyusutan APBN dan APBD.
7. Sektor Kriya
Sektor kriya mencakup dua aktivitas yaitu industri pengolahan dan perdagangan. Untuk aktivitas industri pengolahan penghitungan output menggunakan output dari data Industri Besar dan Sedang (IBS) dan Industri Mikro dan Kecil (IMK). Sementara itu untuk aktivitas perdagangan penghitungan output untuk menggunakan pendekatan tidak langsung/commodity flow, yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang sektor kriya yang diperdagangkan. Dalam pendekatan ini dibutuhkan rasio marjin perdagangan besar