3. Tenaga Kerja dan Nelayan
5.1 Tabel Input-Output Wilayah DKI Jakarta .1 Tabel Input-Output (Satuan Produksi)
41
5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Tabel Input-Output Wilayah DKI Jakarta 5.1.1 Tabel Input-Output (Satuan Produksi)
Data tabel input–output DKI Jakarta tahun 2006 terdiri dari 87 sektor produksi. Dari ke-87 sektor produksi tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan matriks koefisien teknologi. Setelah diperoleh matriks koefisien teknologi, maka dilakukan penghitungan terhadap matrix (I–A) dan kemudian dihitung |I-A| guna memperoleh matrix Leontief Invers (I-A)-1. Pada saat dilakukan penghitungan ternyata tidak dapat menghasilkan determinan matriks yang dimaksud karena terdapat matriks (I–A) bersifat singular. Oleh karenanya dilakukan pengurangan sektor produksi yang terdapat pada Tabel Input–Output yang ada hingga mencapai 55 sektor produksi. Pengurangan beberapa sektor produksi yang dilakukan hingga 34 sektor produksi dilakukan karena sektor produksi tersebut tidak memiliki data (0), oleh karena itulah ke-34 sektor produksi tersebut menyebabkan terjadinya sifat singular.
Hal penting yang perlu dikemukakan dari penganalisisan tabel input-output Jakarta tahun 2006 adalah perkiraan perubahan besarnya permintaan akhir di semua sektor pembangunan yang diduga berubah sebesar 25% dalam masa 2006 hingga 2010. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa permintaan akhir terhadap barang dan jasa untuk wilayah DKI Jakarta pada tahun 2010 meningkat sebesar 25% dari tahun 2006.
5.1.2 Matriks koefisien input/teknologi (a)
Koefisien input dihitung dari tabel transaksi (tabel dasar) dengan cara sebagai berikut: ij ij
X
a
X j
=
Dimana :Xij : Banyaknya output sektor i yang akan digunakan sebagai input oleh sektor j untuk menghasilkan Xi.
42 Xj : Output domestik sektor j
aij : Koefisien input antara yang berasal dari sektor i terhadap output sektor.
5.1.3 Matriks kebalikan (inverse matriks (I-A)-1)
Matriks kebalikan tabel I-O merupakan kerangka dasar untuk berbagai analisis ekonomi. Pada prinsipnya matriks ini merupakan suatu fungsi yang menghubungkan permintaan akhir dengan tingkat produksi. Oleh karena itu, matriks kebalikan ini dapat dipakai untuk menghitung pengaruh perubahan permintaan akhir terhadap berbagai sektor. Misalnya jika ditentukan atau ditargetkan jumlah konsumsi atau ekspor suatu sektor maka dengan menggunakan matriks ini dapat dihitung jumlah output semua sektor lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi atau ekspor tersebut. Hasil perhitungan matriks invers (I-A)-1 yang merupakan Leontief invers dapat dilihat pada Lampiran 5.
5.1.4 Sektor (departemen) teknis yang harus memiliki target kerja positif
Didasarkan pada analisis tabel input-output DKI Jakarta tahun 2006 yang diasumsikan permintaan akhirnya meningkat 25%, maka diperoleh bahwa sektor-sektor produksi (departemen teknis) yang harus bekerja keras agar target produksinya dapat meningkat pula sesuai dengan besarnya kenaikan permintaan akhir adalah sektor-sektor (disusun berdasarkan urutan perubahan total output terbesar yang harus disediakannya) sebagai berikut :
1. Sektor industri penggergajian kayu, bahan bangunan kayu, kayu lapis dan sejenisnya.
2. Sektor industri barang – barang rajutan
3. Sektor industri makanan dan minuman terbuat dari susu 4. Sektor tanaman hias
5. Sektor ternak dan hasil – hasilnya, kecuali susu segar 6. Sektor susu segar
7. Sektor industri pakan ternak
8. Sektor industri kulit samakan serta alas kaki dan barang dari kulit 9. Sektor unggas dan hasil – hasilnya
43 11.Sektor industri makanan lainnya
12.Sektor industri roti, biskuit, mie dan sejenisnya
13.Sektor perikanan
Semua sektor di atas merupakan sektor-sektor yang memiliki nilai perubahan total output positif, dimana kesemua sektor tersebut haruslah bekerja keras dalam upaya meningkatkan produksi totalnya guna dapat memenuhi permintaan akhir yang terjadi di tahun 2010. Berdasarkan hasil analisis tabel input-output DKI Jakarta tahun 2006 ternyata bahwa sektor-sektor produksi lainnya tidak perlu meningkatkan target produksinya, bahkan sektor-sektor produksi lainnya tersebut justru disarankan agar dapat melakukan penurunan target produksi. Terjadinya penurunan target produksi yang dialami oleh sektor-sektor produksi lainnya tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan wilayah DKI Jakarta pada wilayah-wilayah lainnya (baik dalam negeri maupun luar negeri) sangat terlihat dengan jelas. Hal menarik yang perlu diperhatikan dari ke 13 sektor yang memiliki nilai target produksi positif tersebut di atas adalah masuknya perikanan dalam upaya peningkatan produksi yang harus ditingkatkan.
5.1.5 Proyeksi perencanaan produksi perikanan DKI Jakarta hingga tahun 2010
Setelah mengetahui dengan jelas dan pasti sektor-sektor mana saja yang harus ditingkatkan produksinya, maka ditetapkan perubahan target produksi yang harus dicapai di tahun 2010 ini. Berikut adalah besaran perubahan target produksi yang harus dapat dicapai oleh masing-masing sektor produksi tersebut pada tahun 2010. Perubahan target produksi wilayah DKI Jakarta tahun 2010 dapat dilihat pada Tebel 11.
Tabel 11 Perubahan Target Produksi Wilayah DKI Jakarta Tahun 2010
No. Sektor Produksi Produksi 2006
∆ Produksi 2010 ∆ (%) 1 Sektor industri penggergajian
kayu,bahan bangunan kayu, kayu lapis dan sejenis nya.
6.248.534 136.648.384,35 2.086,9
2 Sektor industri barang-barang rajutan
1.225.520 9.059.404,02 639,23 3 Sektor industri makanan dan
minuman terbuat dari susu
4.691.384 29.151.810,85 521,39 4 Sektor tanaman hias 254,08 1.203.576,24 373,70
44
5 Sektor ternak dan
hasil-hasilnya, kecuali susu segar 864,79 4.067.082,43 370,30 6 Sektor susu segar 1.334.947 4.989.420,23 273,75 7 Sektor industri pakan ternak 1.853.046 6.666.103,86 259,74 8 Sektor industri kulit samakan
serta alas kaki dan barang dari kulit
2.204.719 6.277.650,26 184,74
9 Sektor unggas dan hasil-hasilnya
3.809.936 5.934.235,80 55,76 10 Sektor industri perabot rumah
tangga dari kayu, bambu dan rotan
1.908.810 2.637.332,09 38,17
11 Sektor industri makanan lainnya
6.661.005 8.616.077,92 29,35 12 Sektor industri roti, biscuit,
mie dan sejenisnya
3.447.926 4.408.823,48 27,87
13 Sektor perikanan 4.382.901 4.468.863,04 1,96
Sumber : Hasil analisis tabel input-output DKI Jakarta 2006
5.1.6 Peran PPS Nizam Zachman terhadap hasil proyeksi perencanaan produksi perikanan DKI Jakarta yang didapatkan dari database tabel input-output
Bila diperhatikan tabel di atas, maka terlihat bahwa sektor perikanan DKI Jakarta pada tahun 2010 harus dapat meningkatkan produksi perikanannya hingga mencapai 4.468.863,04 kg atau 4.468,9 ton. Bila dibandingkan dengan data produksi perikanan laut yang didaratkan di PPS Nizam Zachman pada tahun 2008 yang telah mencapai 16.933,13 ton, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pencapaian target produksi perikanan DKI Jakarta sebesar 4.468,9 ton dapat dikatakan masih kecil karena justru PPS Nizam Zachman dapat lebih banyak menampung produksi perikanan hingga 16.933,13 ton. Hal tersebut menggambarkan bahwa peranan PPS Nizam Zachman dalam penanganan produksi perikanan di wilayah DKI Jakarta adalah sebagai tempat menampung produksi hasil perikanan dari wilayah- wilayah lain di luar DKI Jakarta.
Hal yang perlu diperhatikan dalam peningkatan total output agar tidak terjadi multitafsir adalah sektor perikanan. Bila upaya peningkatan total output tersebut harus terjadi di sektor perikanan tangkap, maka karena keterbatasan potensi perikanan laut tidak memungkinkan total output tersebut dapat disesiakan oleh wilayah DKI Jakarta sendiri. Oleh karenanya wilayah DKI Jakarta harus membuka diri terhadap suplay output yang datang dari wilayah lain. Sehubungan dengan kondisi yang demikian, maka pekerjaan besar yang dihadapi oleh sektor
45 perikanan (khususnya perikanan laut) adalah upaya memperbaiki kondisi Pusat-Pusat Pendaratan Ikan (PPI), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) dan Pelabuhan Periakanan Samudera (PPS) agar nelayan-nelayan yang datang dari luar wilayah DKI Jakarta dapat merasakan kenyamanan dari pelayanannya.
Mengingat kondisi Pusat Pendaratan Ikan (PPI), Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) dan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) yang berada di wilayah DKI Jakarta, maka hanya Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman sajalah yang paling memungkinkan dapat menerima hasil produksi perikanan laut dari wilayah lainnya di luar DKI Jakarta, karena PPS Nizam Zachman pelabuhan tipe A yang merupakan pelabuhan terbaik di Indonesia karena memiliki fasilitas yang lengkap dan letak yang strategis untuk menampung, melakukan pembongkaran hasil tangkapan dan pengolahan hasil tangkapan. Kondisi tersebut sesuai dengan data-data aktual yang masuk ke PPS Nizam Zachman.