• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAHAP KONSTRUKSI

Dalam dokumen SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN (Halaman 23-34)

1. Mobilisasi Tenaga Kerja

Peningkatan kesempatan pekerjaan

 Adanya keterbukaan syarat-syarat tenaga kerja oleh kontraktor pelaksana dalam proses pengambilan tenaga kerja melalui kerjasama dengan aparat kelurahan setempat.

 Pemberian upah para pekerja baik mandor, tukang, tenaga kasar sesuai aturan yang umumnya berlaku melalui perjanjian antara kontraktor dan tenaga kerja yang terlibat sehingga terhindar adanya perselisihan.

 Prioritas tenaga kerja dari wilayah setempat sehingga tidak timbul konflik sosial

 Melakukan kontrak kerja yang jelas sehingga pada masa pemutusan kerja tidak terjadi salah paham dan menimbulkan gejolak.

LAPORAN AKHIR

Kecemburuan sosial

 Bekerja sama dengan kontraktor proyek untuk lebih banyak mengambil tenaga kerja dari masyarakat di sekitar lokasi proyek utamanya pada masyarakat sekitar proyek melalui mekanisme pendaftaran yang disediakan lewat kantor kelurahan / kecamatan setempat.

 Keterbukaan dalam penerimaan tenaga kerja secara transparan dan jelas

 Memasukkan salah satu klausul atau SPK pada kontraktor pemenang untuk mengambil tenaga kerja dari masyarakat sekitar proyek.

 Selalu melakukan koordinasi secara terus-menerus dengan aparat kelurahan / kecamatan setempat.

Gangguan kamtibmas

 Tenaga kerja yang terlibat wajib melapor dan menyerahkan KTP untuk dilakukan registrasi demi menjaga kamtibmas.

 Melakukan jam kerja sampai pukul 17.00 WIB kecuali jika jam lembur terdapat pemberitahuan terlebih dahulu kepada warga setempat.

 Tenaga kerja proyek yang bermukim di dekat lokasi proyek namun berasal dari luar RT setempat dikenakan wajib lapor.

 Melakukan pendataan terhadap seluruh tenaga kerja yang dilibatkan.

 Bekerja sama dengan aparat keamanan proyek dan aparat keamanan RT setempat untuk menjaga keamanan dan ketertiban di sekitar lokasi proyek.

 Memberikan penekanan bagi tenaga kerja untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah setempat.

 Penempatan petugas keamanan 24 jam di lokasi proyek.

 Melakukan pemeriksaaan kepada masyarakat yang bersikap mencurigakan di sekitar lokasi proyek.

 Melaporkan kepada pihak berwajib jika ada tindakan kriminalitas.

 Pemrakarsa melalui kontraktor dan mandor proyek harus dapat mengkoordinasikan tukang di lapangan selama jam-jam istirahat sehingga tidak terkesan kumuh dan harus mampu mengkoordinasikan masalah kebutuhan konsumsi tukang sehingga tidak melakukan peminjaman ke warung yang berpotensi menimbulkan keresahan karena hutang yang tidak terbayar.

LAPORAN AKHIR

2. Mobilisasi Peralatan dan MaterialPenurunan kualitas udara

Penyiraman atau pembasahan secara berkala untuk mengurangi debu di dalam areal proyek maupun di sekitar lokasi permukiman penduduk terutama untuk daerah-daerah rawan debu.

Pengaturan arus lalu lintas sehingga kegiatan mobilisasi peralatan dan material ini dapat berlangsung singkat dan tidak menimbulkan penurunan kualitas udara.

Pemilihan kendaraan pengangkut peralatan dan pengangkut material yang masih layak pakai dengan kondisi mesin yang masih memadai, untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor.

Menekan kadar debu pada kegiatanquarrydengan :

a. Truk pembawa material harus dilengkapi dengan tutup sehingga material tidak mudah diterbangkan angin. Penutupan terutama untuk material yang mudah terdispersi / material sumber debu.

b. Penggunaan bahan pengisap debu, pada operasiquarryyang menimbulkan debu.

c. Menjalankan armada angkutan di sekitar lokasi proyek dengan kecamatan terkait.

Menyiapkan lokasi penampungan material di dalam areal proyek dan khusus untuk material-material yang mudah diterbangkan angin disimpan dalam tempat khusus.

Pembersihan ban truk pengangkut material sebelum keluar dari lokasi proyek.  Peningkatan kebisingan

 Mobilisasi peralatan dan material tidak dilakukan pada malam hari atau waktu istirahat penduduk dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan proyek.

 Pemilihan kendaraan pengangkut peralatan dan material yang masih layak pakai, untuk mengurangi tingkat kebisingan.

 Pengaturan di pintu keluar dan masuknya kendaraan pengangkut peralatan dan material proyek.

Peningkatan volume lalu lintas

 Melakukan koordinasi dengan Dinas Perhubungan setempat dan Polisi Lalu Lintas setempat dalam hal pengaturan lalu lintas terutama saat pengiriman peralatan dan material berlangsung pada ruas jalan utama.

 Jadwal pengangkutan peralatan dan material disesuaikan dengan kondisi arus lalu lintas dan sedapat mungkin dihindari saat jam-jam sibuk lalu-lintas.

 Pengangkutan peralatan dan material dilakukan secara bertahap sesuai jadwal proyek sehingga tidak membuat kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi proyek.

LAPORAN AKHIR

 Melakukan pengaturan keluar dan masuknya kendaraan pengangkut material dan peralatan oleh petugas keamanan proyek.

 Pemberian rambu lalu lintas / tanda / lampu di jalan sekitar lokasi proyek untuk menjelaskan bahwa proyek sedang berlangsung.

 Menggunakan kendaraan pengangkut peralatan dan material yang disesuaikan dengan kelas jalan yang dilalui sehingga tidak merusak kualitas jalan.

 Bekerjasama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) dalam hal mobilisasi peralatan dan material ke lokasi proyek.

 Material dan peralatan yang akan digunakan diambil dari daerah yang paling dekat dengan lokasi proyek.

 Menggunakan jalan yang paling cepat menuju ke lokasi proyek, menggunakan jalan yang relatif sepi / tidak padat / yang tidak banyak digunakan masyarakat.

Kerusakan jalan

 Melakukan perbaikan jalan segera apabila terjadi kerusakan jalan terutama yang dijadikan akses menuju ke lokasi proyek bekerjasama Dinas Pekerjaan Umum (PU).

3. Pembangunan dan PengoperasianBase Camp

Peningkatan volume air buangan

 Penyediaan MCK bagi pekerja proyek yang memenuhi syarat kesehatan termasuk kelayakan dalam penyediaan air bersihnya.

 Larangan tenaga kerja proyek untuk membuang air limbahnya secara sembarangan terutama ke badan air terdekat

 Melakukan penutupan kembali sarana MCK sementara setelah proyek selesai.  Peningkatan volume sampah

 Penyediaan tempat sampah di dalam areal proyek yang mudah diangkat dan dikosongkan petugas.

 Melakukan kerjasama dengan pihak ketiga terutama untuk menangani sampah yang sifatnya adalah sampah lapak (kardus) maupun sampah sisa kayu, dan bahan-bahan bangunan lainnya.

 Larangan pembuangan sampah sembarangan terutama bagi warung-warung yang membuka usaha di dalam area proyek.

Gangguan kamtibmas

 Penempatan material sesuai dengan jenis materialnya terutama material yang termasuk material mahal sehingga terhindar dari kasus pencurian.

 Memperbanyak penerangan malam hari di dalam wilayah proyek sehingga akan terkesan aman dan tidak gelap.

LAPORAN AKHIR

 Bekerja sama dan berinteraksi secara aktif antara masyarakat, aparat kelurahan / kecamatan setempat dengan pemilik proyek.

 Sedikit mungkin atau dibatasinya keberadaan tenaga proyek yang menempati base camp.

4. Penyiapan lahanKeresahan masyarakat

 Pemberitahuan lebih awal kepada masyarakat setempat tentang kegiatan penyiapan lahan (pengerukan dan penyaringan sampah).

 Melakukan koordinasi di lapangan yang melibatkan aparat kelurahan setempat, Muspika dan masyarakat sekitar termasuk tokoh masyarakat setempat ketika akan dilakukan penyiapan lahan (kesepakatan penempatan sampah hasil kegiatan pengerukan dan penyaringan sampah).

 Memasang rambu-rambu bahwa sedang dilakukan pengerukan dan penyaringan sampah di sepanjang saluran drainase pada daerah perencanaan.

 Mengelola dengan baik endapan dan sampah sehingga tidak mengganggu lingkungan yang meresahkan masyarakat dan segera dibawa keluar areal proyek

 Pemberitahuan lebih awal kepada masyarakat setempat tentang kegiatan normalisasi saluran drainase.

 Memasang rambu-rambu bahwa sedang dilakukan normalisasi saluran drainase di sepanjang saluran drainase pada daerah perencanaan.

 Memberikan kompensasi terhadap rumah masyarakat seperti perbaikan bangunan apabila ada kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan normalisasi saluran drainase, maupun penggantian biaya apabila ada kerusakan rumah atau gangguan kesehatan selama kegiatan normalisasi saluran drainase.

Persepsi positif

 Pemberian informasi yang benar kepada masyarakat sekitar tentang rencana teknis pembangunan proyek

 Menjelaskan bahwa kegiatan penyiapan lahan pengerukan dan penyaringan sampah serta normalisasi pada saluran drainase memberikan nilai tambah positif bagi masyarakat.

Peningkatan kebisingan

 Sedapat mungkin tidak melakukan kerja pada malam hari dan pada waktu istirahat penduduk terutama yang menimbulkan kebisingan sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

LAPORAN AKHIR

 Kegiatan penyiapan lahan dilakukan secara bertahap untuk meminimalkan terjadinya kebisingan dari alat pemotong tanaman.

 Pengetatan jadwal penyiapan lahan sehingga peningkatan bising dari alat-alat berat yang digunakan semakin dapat dikendalikan dengan cepat.

 Pemakaian sesedikit mungkin alat berat yang menimbulkan suara keras / bising.

 Jika untuk kepentingan penyiapan lahan, diperlukan genset maka genset harus dalam keadaan layak pakai dan tidak menimbulkan kebisingan berlebihan.

5. Pembongkaran aspal dan Penggalian TanahPenurunan kualitas udara

 Pemilihan peralatan penunjang yang masih layak pakai sehingga emisi gas buang yang dihasilkan tidak terlalu buruk.

 Penyiraman atau pembasahan secara berkala pada areal di sekitar proyek, dan permukiman penduduk terdekat untuk mengurangi debu terutama untuk wilayah-wilayah rawan debu.

 Pengetatan jadwal sehingga penurunan kualitas udara dari alat-alat berat yang digunakan untuk kegiatan pembongkaran aspal dan penggalian tanah semakin dapat dikendalikan dengan cepat.

Peningkatan kebisingan

 Sedapat mungkin tidak melakukan kerja pada malam hari sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

 Pemakaian seefisien mungkin alat berat atau peralatan proyek yang menimbulkan suara keras atau bising.

 Pemilihan alat berat yang masih layak pakai untuk mengurangi tingkat kebisingan.  Kegiatan pembongkaran aspal dan penggalian tanah dilakukan secara bertahap

untuk meminimalkan terjadinya kebisingan dari alat berat yang digunakan.

 Pengetatan jadwal pembongkaran aspal dan penggalian tanah sehingga peningkatan bising dari alat-alat berat yang digunakan semakin dapat dikendalikan dengan cepat.  Pemakaian sesedikit mungkin alat berat yang menimbulkan suara keras / bising.  Jika untuk kepentingan pembongkaran aspal dan penggalian tanah, diperlukan

genset maka genset harus dalam keadaan layak pakai dan tidak menimbulkan kebisingan berlebihan.

Penurunan K3

 Pemakaian masker dan peralatan kerja lainnya bagi tenaga kerja proyek

 Pemberian social cost apabila terdapat gangguan kesehatan masyarakat misalnya terjadi penyebaran debu yang sangat mengganggu dan sebagainya, yang menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana.

LAPORAN AKHIR

 Memberlakukan kewajiban pada tenaga kerja proyek untuk menggunakan SK3 (Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

 Pemberian sanksi apabila terdapat pelanggaran dalam pemakaian SK3.

 Memberikan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja (ASTEK) kepada tenaga kerja yang terlibat dalam pengerjaan proyek.

 Memasang tanda atau peringatan bahaya pada pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai resiko kecelakaan kerja dan tempat-tempat yang rawan bahaya.

 Memasang prosedur / langkah-langkah kerja yang aman di dalam areal lokasi proyek (SOP).

Keresahan masyarakat

 Menginformasikan lebih awal pada masyarakat yang lokasinya dekat dengan lokasi pembongkaran aspal dan penggalian tanah.

 Memberi ganti kerugian jika terjadi kerusakan bangunan warga sekitarnya dengan jumlah sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

 Melakukan koordinasi di lapangan yang melibatkan aparat kelurahan setempat, Muspika dan masyarakat sekitar termasuk tokoh masyarakat setempat ketika akan dilakukan kegiatan pemancangan.

6. Pembangunan Bak Kontrol dan ManholePenurunan kualitas udara

 Penyiraman atau pembasahan secara berkala pada areal di sekitar proyek, dan permukiman penduduk terdekat untuk mengurangi debu terutama untuk wilayah-wilayah rawan debu.

 Pengetatan jadwal sehingga penurunan kualitas udara dari alat-alat berat yang digunakan untuk kegiatan pembangunan bak kontrol dan manhole semakin dapat dikendalikan dengan cepat.

Peningkatan kebisingan

 Sedapat mungkin tidak melakukan kerja pada malam hari sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

 Pemakaian seefisien mungkin alat berat atau peralatan proyek yang menimbulkan suara keras atau bising.

 Pemakaian sesedikit mungkin alat-alat proyek yang menimbulkan suara keras / bising.

Penurunan K3

 Pemakaian masker dan peralatan kerja lainnya bagi tenaga kerja proyek untuk menghindari masuknya debu ke pernapasan.

LAPORAN AKHIR

 Pemberian social cost apabila terdapat gangguan kesehatan masyarakat misalnya terjadi penyebaran debu yang sangat mengganggu dan sebagainya, yang menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana.

 Memberlakukan kewajiban pada tenaga kerja proyek untuk menggunakan SK3 (Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

 Pemberian sanksi apabila terdapat pelanggaran dalam pemakaian SK3.

 Memberikan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja (ASTEK) kepada tenaga kerja yang terlibat dalam pengerjaan proyek.

 Memasang prosedur / langkah-langkah kerja yang aman di dalam areal lokasi proyek (SOP).

7. Pengurugan Pasir, Tanah dan Pengaspalan Kembali (finishing jalur SPAB dan sistem perpipaan air bersih)

Penurunan kualitas udara

 Pemilihan peralatan penunjang yang masih layak pakai.

 Penyiraman atau pembasahan secara berkala pada areal di sekitar proyek, dan permukiman penduduk terdekat untuk mengurangi debu terutama untuk wilayah-wilayah rawan debu.

8. Pembangunan Jamban beserta Septictank KomunalPersepsi positif

 Pengurusan lahan dan status lahan untuk jamban beserta septictank komunal harus jelas

 Perencanaan jamban dan septik-tank komunal yang memenuhi syarat termasuk kecukupan daripada kebutuhan air bersihnya.

9. Pekerjaan PondasiPenurunan kualitas udara

 Pemilihan peralatan penunjang pemancangan dan sistem pemasangan pondasi yang ramah lingkungan (seperti sistem hidrolis)

 Penyiraman atau pembasahan secara berkala pada areal di sekitar proyek dan permukiman penduduk terdekat untuk mengurangi debu terutama untuk wilayah-wilayah rawan debu.

 Pemancangan pondasi untuk pembangunan konstruksi pondasi dilakukan sesuai SOP yang ada.

Peningkatan kebisingan

 Sedapat mungkin tidak melakukan kerja pada malam hari sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

LAPORAN AKHIR

 Pemakaian seefisien mungkin peralatan proyek yang menimbulkan suara keras atau bising.

 Jika untuk kepentingan Pembangunan Pondasi IPAL diperlukan genset maka genset harus dalam keadaan layak pakai dan tidak menimbulkan kebisingan berlebihan. Penurunan K3

 Memberlakukan kewajiban pada tenaga kerja proyek untuk menggunakan SK3 (Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

 Pemberian sanksi apabila terdapat pelanggaran dalam pemakaian SK3.

 Memberikan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja (ASTEK) kepada tenaga kerja yang terlibat dalam pengerjaan proyek.

 Memasang prosedur / langkah-langkah kerja yang aman di dalam areal lokasi proyek (SOP).

Keresahan masyarakat

 Menginformasikan lebih awal pada masyarakat yang lokasinya dekat dengan lokasi pembangunan pondasi IPAL.

 Memberi ganti kerugian jika terjadi kerusakan bangunan warga sekitarnya dengan jumlah sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

 Membentuk pusat pengaduan masyarakat yang dapat memberikan informasi tentang ada tidaknya kerusakan ataupun gangguan yang lain pada masyarakat sekitar proyek dengan melibatkan aparat kelurahan dan Muspika setempat.

 Melakukan koordinasi di lapangan yang melibatkan aparat kelurahan setempat, Muspika dan masyarakat sekitar termasuk tokoh masyarakat setempat ketika akan dilakukan kegiatan pemancangan.

10. Pekerjaan Struktur Bangunan IPAL, TPST dan PelengkapnyaPeningkatan kebisingan

 Sedapat mungkin tidak melakukan kerja pada malam hari sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

 Pemakaian seefisien mungkin alat berat atau peralatan proyek yang menimbulkan suara keras atau bising.

 Pemilihan alat berat yang masih layak pakai untuk mengurangi tingkat kebisingan.  Pemilihan teknologi pengolahan air limbah domestik yang mudah dioperasionalkan

dan biaya tidak terlalu tinggi . Direncanakan untuk IPAL menggunakan sistem ABR dan biofilter serta wet land

 Pemilihan sistem operasional TPST yang mudah dioperasionalkan seperti dengan sistem komposting aerob yang dilengkapi dengan mesin pencacah sampah dan sistem pemilahan sampah

LAPORAN AKHIR

 Kegiatan pembangunan Pondasi IPAL dilakukan secara bertahap untuk meminimalkan terjadinya kebisingan dari alat berat yang digunakan.

Penurunan K3

 Memberlakukan kewajiban pada tenaga kerja proyek untuk menggunakan SK3 (Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

 Pemberian sanksi apabila terdapat pelanggaran dalam pemakaian SK3.

 Memberikan jaminan asuransi kesehatan dan keselamatan kerja (ASTEK) kepada tenaga kerja yang terlibat dalam pengerjaan proyek.

 Memasang tanda atau peringatan bahaya pada pekerjaan-pekerjaan yang mempunyai resiko kecelakaan kerja dan tempat-tempat yang rawan bahaya.

 Memasang prosedur / langkah-langkah kerja yang aman di dalam areal lokasi proyek (SOP).

11. Pembangunan TPSTKeresahan masyarakat

 Melakukan sosialisasi secara terus menerus tentang manfaat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu

 Memberikan kompensasi atas lahan yang digunakan untuk TPST

 Pemilihan sistem operasional TPST yang mudah dioperasionalkan seperti dengan sistem komposting aerob yang dilengkapi dengan mesin pencacah sampah dan sistem pemilahan sampah

 Memberikan kesempatan apabila terdapat masyarakat setempat yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi tenaga kerja TPST.

 Mengelola dengan baik sampah sehingga tidak mengganggu lingkungan yang meresahkan masyarakat.

 Melakukan pelatihan tentang pengolahan sampah dengan sistem komposting di masing-masing wilayah rencana dengan pengolahan sampah skala rumah tangga  Memberikan fasilitas tempat sampah dengan sistem pemilahan sampah basah dan

kering secara bertahap Peningkatan kebisingan

 Tidak melakukan kerja pada malam hari sehingga tidak mengganggu masyarakat sekitar.

 Pemakaian seefisien mungkin alat berat atau peralatan proyek yang menimbulkan suara keras atau bising.

LAPORAN AKHIR

Penurunan kualitas udara

 Melakukan penyiraman pada areal sekitar proyedak terjadi dispersi debu kemana-mana

12. Demobilisasi Peralatan dan MaterialPenurunan kualitas udara

 Penyiraman atau pembasahan secara berkala untuk mengurangi debu di dalam areal proyek maupun di sekitar lokasi permukiman penduduk terutama untuk daerah-daerah rawan debu.

 Pengaturan arus lalu lintas sehingga kegiatan demobilisasi peralatan dan material ini berlangsung singkat sehingga tidak menimbulkan penurunan kualitas udara.

 Jadwal pengembalian alat berat dan sisa material disesuaikan dengan kondisi arus lalu-lintas dan sedapat mungkin dihindari saat jam-jam sibuk.

 Pemilihan kendaraan pengangkut alat berat dan sisa material yang masih layak pakai dengan kondisi mesin yang masih memadai, untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan.

Peningkatan kebisingan

 Jadwal pengembalian tidak dilakukan pada saat-saat istirahat penduduk atau pada malam hari.

 Pemilihan kendaraan pengangkut peralatan dan material yang masih layak pakai untuk mengurangi tingkat kebisingan.

 Pengaturan arus lalu lintas sehingga tidak terjadi kemacetan yang menimbulkan kebisingan.

Peningkatan volume lalu lintas

 Pengaturan lalu-lintas di sepanjang jalan yang padat dengan penduduk.

 Melakukan pengembalian alat secara bertahap dan tidak pada jam-jam sibuk lalu-lintas.

13. Demobilisasi Tenaga KerjaPenurunan lapangan pekerjaan

 Pemberian informasi sejak awal kepada tenaga kerja terhadap batas kontrak kerja sama dengan kontraktor.

 Pihak kontraktor pelaksana segera menginformasikan adanya lowongan kerja yang serupa di tempat lain kepada pekerja proyek setelah masa kontrak kerjanya habis sehingga tenaga kerja tidak harus menunggu lama untuk memperoleh pekerjaan baru.

 Memberikan referensi kerja kepada tenaga kerja sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bila melamar pekerjaan lain yang sejenis.

LAPORAN AKHIR

 Melakukan kontrak kerja yang jelas sehingga pada masa pemutusan kerja tidak terjadi salah paham dan menimbulkan gejolak.

Dalam dokumen SAFEGUARD SOSIAL DAN LINGKUNGAN (Halaman 23-34)

Dokumen terkait