BAB I PENDAHULUAN
B. Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Bloom (dalam Sudjana 2010:22) membagi tujuan pendidikan menjadi 3 (tiga) ranah yaitu Cognitive Domain (Ranah Kognitif), Affective Domain (Ranah Afektif), dan Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor), serta setiap ranah di atas dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan tingkatannya dan ketiga ranah ini menjadi objek penilaian hasil belajar.
Bloom membagi ranah kognitif ke dalam 6 (enam) tingkatan. Bagian pertama berupa pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa kemampuan dan keterampilan intelektual (kategori 2-6).
Keenam tingkatan yang dimaksud dalam ranah kognitif adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan (Knowledge)
Pada tingkatan ini berisi kemampuan untuk mengenali dan mengingat hal-hal yang sudah dipelajari. Adapun hal-hal yang dapat digali untuk mengenali dan mengingat adalah istilah, definisi, rumus, fakta-fakta, gagasan, metode, dan prinsip. Aspek yang ditanyakan pada tingkatan ini,
lebih menuntut peserta didik pada ingatan sehingga jawaban mudah ditebak, seperti menanyakan rumus.
2. Pemahaman (Comprehension)
Pada tingkatan ini berisi kemampuan mengerti benar arti dari mata pelajaran yang dipelajari. Pemahaman disini (pada taksonomi Bloom) berbeda arti dengan memahami pada definisi efektivitas. Tingkatan ini adalah tingkatan yang paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan kemampuan dan keterampilan intelektual. Sebagian item pemahaman dapat disajikan dalam gambar, denah, diagram, atau grafik.
3. Aplikasi (Application)
Pada tingkatan ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, definisi, rumus, metode, prinsip, dsb di dalam menyelesaiakan permasalahan (soal) yang baru.
Untuk menyusun tes tingkat aplikasi (dalam Sudjana 2010: 26) membedakan aplikasi kedalam beberapa tipe, seperti:
a. Dapat menetapkan prinsip atau generalisasi yang sesuai untuk situasi baru yang dihadapi. Dalam hal ini yang bersangkutan belum diharapkan dapat memecahkan seluruh problem, tetapi sekedar dapat menetapkan prinsip yang sesuai.
b. Dapat menjelaskan suatu gejala baru berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu.
c. Dapat meramalkan suatu yang akan terjadi berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu.
d. Dapat menentukan tindakan atau keputusan tertentu dalam menghadapi situasi baru dengan menggunakan prinsip dan generalisasi yang relevan. e. Dapat menjelaskan alasan menggunakan prinsip dan generalisasi bagi
situasi baru yang dihadapi. 4. Analisis (Analysis)
Pada tingkatan ini, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih spesifik untuk mengenali pola dan hubungannya sehingga informasi yang masuk dapat dimengerti.
Untuk menyusun tes tingkat analisis (dalam Sudjana 2010: 27) membedakan analisis kedalam beberapa tipe, seperti:
a. Dapat mengklasifikasi kata-kata, frase-frase, pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan kriteria analitik tertentu.
b. Dapat meramalkan sifat-sifat khusus tertentu yang tidak disebutkan secara jelas.
c. Dapat meramalkan kualitas, asumsi, atau kondisi yang implisit atau yang perlu ada berdasarkan kriteria dan hubungan materinya.
d. Dapat mengetengahkan pola, tata, atau pengaturan materi dengan menggunakan kriteria seperti relevansi, sebab-akibat, dan peruntutan. e. Dapat mengenal organisasi, prinsip-prinsip organisasi, dan pola-pola
f. Dapat meramalkan sudut pandangan, kerangka acuan, dan tujuan materia yang dihadapinya.
5. Sintesis (Syntesis)
Pada tingkatan ini, seseorang mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Dengan kata lain seseorang mampu meramu beberapa konsep menjadi konsep yang baru, yang nantinya konsep baru ini dapat digunakan menjadi solusi dalam menyelesaikan suatu masalah.
Untuk menyusun tes tingkat sintesis (dalam Sudjana 2010: 28) membedakan sintesis kedalam tiga tipe, seperti:
a. Kemampuan menemukan hubungan yang unik.
b. Kemampuan menyusun rencana atau langkah-langkah operasi dari suatu tugas atau problem yang diketengahkan.
c. Kemampuan mengabstraksikan sejumlah besar gejala, data, dan hasil observasi menjadi terarah, proporsional, hipotesis, skema, model, atau bentu-bentuk lain.
6. Evaluasi (Evaluation)
Pada tingkatan ini, seseorang memiliki kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Evaluasi adalah
tingkatan yang tertinggi diantara tingkatan-tingkatan yang lain, karena disini melibatkan kelima tingkatan-tingkatan sebelumnya.
Untuk menyusun tes tingkat evaluasi (dalam Sudjana 2010: 29) membedakan evaluasi kedalam beberapa tipe, seperti:
a. Dapat memberikan evaluasi tentang ketepatan suatu karya atau dokumen.
b. Dapat memahami nilai serta sudut pandang yang dipakai orang dalam menggambil keputusan.
c. Dapat mengevaluasi suatu karya dengan membandingkannya dengan karya lain yang ditetapkan, atau menggunakan kriteria yang telah ditetapkan.
d. Dapat memberikan evaluasi tentang suatu karya dengan menggunakan sejumlah kriteria yang eksplisit.
Keenam tingkatan di atas digunakan untuk menganalisis sejauh mana peserta didik memahami materi yang diajarkan melalui hasil belajar, di mana pada setiap butir soal tes akhir mengandung tingkatan dari ranah kognitif yang dijelaskan di atas. Pemahaman peserta didik dapat dikatakan lebih baik jika keterampilan berpikir peserta didik dalam enam tingkatan di atas terpenuhi dengan baik. Prinsip matematika yang diajarkan adalah dari bentuk yang sederhana kemudian sulit. Penggunaan media pembelajaran inilah yang nantinya diharapakan dapat membantu peserta didik untuk melakukan aktivitas memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
C. Kerangka Berpikir
Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi dan belajar”. Menurut
Djamarah (1994) prestasi berarti apa yang telah dapat diciptakan,hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Sedangkan belajar menurut Slameto (2003) belajar adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Jadi prestasi belajar adalah hasil dari suatu usaha yang ulet dengan cara merubah tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman dirinya sendiri. Adapun pengertian prestasi belajar menurut DepDikBud (1999) adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi dalam penilitian yang dimaksudkan adalah nilai yang diperoleh oleh peserta didik pada mata pelajaran matematika dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang diberikan padanya.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, terdapat dua unsur yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan peserta didik kuasai setelah pembelajaran
berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik peserta didik. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar (mendidik), serta alat belajar yang menarik (untuk peserta didik).
Pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan minat belajar seorang peserta didik, membangkitkan motivasi dan dapat menjadi stimulus kegiatan belajar. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat peserta didik, media pembelajaran juga dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman secara lebih mendasar, dengan metode yang digunakan adalah menggali pemahaman peserta didik tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan pemahaman yang sudah dipelajari sebelumnya.
Keberhasilan belajar seorang peserta didik khususnya pada pembelajaran matematika dapat dilihat dari tingkat pemahaman dan penguasaan materi. Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dari kemampuan peserta didik dalam memahami dan menerapkan berbagai konsep untuk memecahkan masalah. Peserta didik dapat dikatakan memahami pelajaran/ materi yang diajarkan apabila indikator-indikator pemahaman tercapai. Indikator-indikator di atas yang dimaksud adalah peserta didik dapat mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan baik dan benar, untuk mengukur peserta didik memahami materi yang diajarkan maka diadakan tes
hasil belajar, dan didukung oleh kuesioner dan wawancara. Tes hasil belajar di analisis dengan melihat cara pengerjaan soal oleh peserta didik.
Media pembelajaran berupa program Cabri 3D berbantukan LKS yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan dalam pembelajaran dikelas karena program itu mudah untuk dioperasikan dan peserta didik juga lebih berminat untuk mempelajari matematika. Dengan minat yang tinggi dari peserta didik, proses belajar juga akan efektif dan mampu menciptakan susana yang kondusif, dan jika kedua point tersebut sudah tercapai tentunya prestasi belajar peserta didik juga akan meningkat, tentunya dimulai dari meningkatnya pemahaman tentang materi yang diajarkan secara lebih mendasar.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan hasil tinjauan pustaka (hal-hal teoritik) dan kerangka pemikiran tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi metode pembelajaran yang efektif untuk digunakan dalam pelajaran Matematika, terutama dalam pemahaman pokok bahasan luas permukaan bangun ruang sisi datar kubus dan balok. Dengan kriteria efektivitas hasil belajar peserta didik secara kuantitatif setidaknya adalah baik atau presentase ketuntasan peserta didik sekurang- kurangnya 70%, dan kriteria efektivitas hasil belajar peserta didik secara kualitatif setidaknya adalah tinggi atau prsentase hasil tes hasil belajar peserta didik yang mendapatkan nilai lebih dari sama dengan 70 sekurang- kurangnya 75%.
2. Program Cabri 3D dan LKS ini diharapkan juga dapat menjadi media pembelajaran yang dapat membantu peserta didik dalam memahami pokok bahasan luas permukaan kubus dan balok ditinjau dari hasil tes hasil belajar peserta didik, hasil kuesioner, dan hasil wawancara. Dengan hasil tes hasil belajar dilihat presentase ketuntasan sekurang-kurangnya masuk dalam kategori baik, serta rata-rata kelas masuk dalam kategori tinggi, hasil kuesioner dengan cara melihat jawaban peserta didik pada hasil kuesioner serta dihitung standar nilai presentasenya dan setidaknya hasilnya masuk dalam kategori baik, sedangkan hasil wawancara dilihat dari jawaban peserta didik pada pertanyaan yang menanyakan tentang membantu atau tidaknya program Cabri 3D dan LKS dalam pemahaman mereka tentang materi yang diajarkan.