• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman padi dalam kondisi baik (umur 2 bulan)

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Foto 2. Tanaman padi dalam kondisi baik (umur 2 bulan)

Petani di Pangaribuan memiliki pengetahuan terhadap kualitas tanaman padi mereka. Para petani dalam mengetahui kualitas tanaman padi mereka dengan melihat perkembangan tanaman padi yang mempengaruhi hasil panen kedepannya nanti. Dengan memperhatikan lebarnya daun padi, dan hijau daun padi, batang

yang tidak terlalu pendek, dan ukuran dari bulir padi, dan tangkai padi, petani di Pangaribuan dapat memperkirakan hasil panen yang akan mereka peroleh nantinya.

Bagi para petani Pangaribuan melihat rumpunan padi pada satu titik penanaman. Rumpun padi tersebut memberikan arti bahwa dengan banyaknya rumpun maka semakin banyak batang padi yang menghasilkan buah padi begitu juga sebaliknya semakin sedikit rumpun padi hasil yang diperoleh juga akan semakin sedikit batang padi yang menghasilkan buah. Demikian diutarakan langsung oleh informan Op Pada Gultom, berupa;

Sakkabona eme na balga tong do godang batang ni emeni i namangalean eme nagodang molo songon ni hasil ni panen pe gabe marlipat gadda ima nadiharappon akka petani. (Rumpun padi yang besar akan memberikan banyaknya batang padi yang akan memberikan atau menghasilkan buah yang lebih banyak, dengan demikian hasil panen akan semakin banyak, dan hal itulah yang ingin dicapai setiap masing-masing petani).

Tidak hanya dari rumpun padi yang banyak, petani juga dapat memastikan kualitas padi melihat dari daun yang tanaman yang lebar. Ukuran daun ini menunjukkan bahwa tanaman padi dalam keadaan subur, tidak hanya itu saja batang padi juga harus terlihat besar-besar sebagai tanda tanaman padi dalam keadaan subur, yang akan menghasilkan bulir-bulir padi yang lebih banyak dan berkualitas. Seperti diutarakan oleh Oppung Pada Gultom, berupa:

Molo eme namarbulung bidang-bidang dohot hauna balga-balga berarti takkal dohot aek nacukkupma tu eme i, molo eme na margmetmet dohot hauna dang magodang ima na hona sahit, takkal nahurang, manang na adong musuna na mabahen gabe songon ni.

(Jika tanaman padi yang memiliki daun yang lebar dan batang yang lebih besar berarti pupuk dan air cukup sebagai kebutuhan tanaman padi, jika sebaliknya daun padi habis, atau kurang berkembang dan

batangnya mengecil padi terserang penyakit, atau pupuk yang kurang, serangan hama).

Pernyataan diatas menjelaskan bahwa daun dan batang yang berukuran lebar dan besar juga bisa sebagai pertanda tanaman padi tersebut bertumbuh dan berkembang dengan baik. Ukuran daun yang lebar dan batang yang besar sebagai pertanda bagi petani bahwa pasokan yang diterima tanaman padi cukup. Seperti pupuk, air, dan bebas dari penyakit dan hama.

Ukuran dan bulir padi juga sebagai tanda dari kualitas tanaman padi. Bulir padi yang terlihat rapat dan banyak pada rumpun tanaman padi menandakan padi tersebut subur dan akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Biji padi juga harus terlihat padat dan besar untuk memaksimalkan hasil panen, biasa disebut dengan

porngis. Apabila tanda-tanda tersebut sudah dimiliki tanman padi mereka yakin

bahwa kualitas tanaman padi akan memuaskan. Oppung Pada menjelaskan

berupa, molo eme ikkon porngis do jala balga-balhga batuna, biur na pe ikkon

gajjang jala padat (bahwa tanaman padi harus memiliki bulir yang besar, dan

biyur-biyur padi yang panjang dan biji-biji padi yang menempel pada biyur tersebut harus banyak). Hal ini menunjukkan hasil yang akan diperoleh akan lebih maksimal.

Penjelasan di atas mengambarkan ciri-ciri tanaman padi yang baik dan berkualitas menurut petani di Pangaribuan yaitu memiliki rumpun besar, dan batang yang besar, juga bulir yang besar dan tangkai padi yang panjang dan padat. Jika petani merasa tanaman mereka berkembang seperti ini, maka sedemikian mungkin petani akan menjaga tanaman mereka dari hama dan penyakit dengan

cara-cara yang mereka ketahui, jikalau hal sebaliknya yang terjadi maka petani akan memaksimalkan usaha mereka merawat padi mereka untuk mencapai hasil yang maksimal.

4.3. Pengetahuan Petani mengenai Hama dan Peyakit Padi Sawah

Hama merupakan bagian dari yang terdapat dalam ekosistem yang terdapat dalam persawahan, di balik kerugian-kerugian yang dibuat oleh hama sendiri sebagai hal yang menjadi peran hama tersebut, serta musuh petani dalam kegiatan mengelola persawahan, hama dapat mengakibatkan tanaman menjadi rusak dan sakit.

Hama menurut petani Pangaribuan, merupakan suatu yang menjadi musuh petani yang bisa menggagalkan hasil panen kami, yang membuat kami semakin

merugi. Ibu Heni Gultom menjelaskan, berupa: hama ima akka musu nieme

panegai, dohot akka duhut akka ima namabahen eme dang gera magodang.

(hama memiliki jenis binatang-binatang perusak, dan rumput yang dapat mengganggu perkembangan padi dan merusaknya).

Petani mengenal berbagai jenis hama seperti burung pemakan padi yaitu burung pipit, tikus, keong, ulat-ulat, dan rumput-rumput yang menggangu tanaman padi. Opung Mekar mengatakan berupa: “Hama menurut saya yaitu tikus, keong, ulat-ulat padi, burung pipit, rumput penganggu tanaman, dan yang paling merugikan dari semua itu adalah tikus”. Menurut petani Pangaribuan adalah jenis hama bagi mereka adalah jenis binatang dan tumbuhan yang mengganggu tanaman padi sawah mereka.

Rusaknya tanaman padi yang akibat hama-hama tersebut merupakan penyakit tanaman. Penyakit tanaman padi sawah berupa daunnya putih-putih, dan juga tanaman yang selalu mengecil (tidak berkembang) dan berwarna kuning, ada

juga yang mereka sebut sebagai “lapungan” (biji padi yang tidak berisi atau

kosong), ada juga yang disebut sebagai “lapung dok-dok” (biji padi yang berisi

namun kecil, tidak padat). Ibu Heni Gultom mengatakan berupa, molo akka hama

namanegai eme gabe roma sahit ni emei ima bulung ni eme gabe marbottar-

bottar, sai marmet-met, lapungon namangorui hasil ni panen nami. (jika hama-

hama menyerang tanaman padi maka akan timbul penyakit-penyakit padi berupa

daun padi putih-putih, padi tidak berkembang, lapungon, hal inilah yang

disebabkan hama-hama tersebut) yang mengagalkan panen kami.

Penanggulangan yang dibuat oleh petani Pangaribuan terhadap penyakit tersebut, telah bersamaan dengan pemberantasan hama-hama padi sawah tersebut. cara-cara yang dibuat petani dalam penanggulangan ini merupakan cara-cara yang diwariskan oleh nenek moyang dan pengetahuan petani sendiri yang mereka sepakati untuk melakukan penanggulangan hama. Baik cara-cara penanggulangan melalui alat-alat yang digunakan petani. Obat-obatan yang diberikan petani, dan pantangan-pantangan menurut kepercayaan nenek moyang. Ibu Parel Gultom mengatakan berupa:

Akka pattangan na binahen ni akka oppung najolo na majaga kelestarian ni suan-suanan nagabe sipasingot dipargunahon majaga eme sian akka musuna asa manabbai hasil ni suan-suanan nami.

(Pantangan dan aturan yang dahulu diajarkan nenek moyang dalam menjaga kelestarian tanaman padi yang selalu diingatkan para leluhur, sebagian berfungsi sebagai pengendali hama, dan meningkatkan keberhasilan tanaman padi).

Pengetahuan yang di miliki oleh petani dalam mencegah penyakit dan membrantas hama ada yang berubah dan berkembang. Semuanya itu di sebabkan oleh kemajuan jaman dan datangnya agama ke Pangaribuan dan pengalaman petani sendiri.

Pengalaman tersebut kemudian dibagikan kepada sesama petani sebagai harapan akan muncul cara yang lebih baik dan efisien lagi untuk kedepannya terhadap pengendalian hama. Opung Debora Gultom mengatakan bahwa:

Akka dalan nabinahen nami majagai suan-suanan naimi sian akka musuna hami dapot sian oppung nami najolo jala sian pamerengan nami gabe sada parsikkolaan dihami nahami patudos tu pamerengan nami dinamartani on ido nahami bahen namartani on. (Cara-cara yang kami gunakan dalam penanggulangan hama, dan bertani ini, itu kami dapatkan secara turun-temurun dan ada juga dari hasil pengalaman, yang menggunakan berbagai cara yang kami pakai, kami sesuaikan dengan pengamatan dan perkembangan jaman sekarang ini yang lebih bagus dan sesuai dengan keadaan Pangaribuan itulah yang kami pergunakan).

4.4. Penanggulangan Hama Padi

Terdapat beberapa hama padi yang sangat mengganggu tanaman-tanaman petani di Pangaribuan khususnya tanaman padi. Jenis hama yang biasanya merusak tanaman padi yakni, hama tikus dan burung, ulat-ulat perusak tanaman, walang sangit perusak daun. Petani di Pangaribuan mempunyai pengetahuan tersendiri dalam menanggulangi berbagai jenis hama padi tersebut. Pengetahuan yang dimiliki oleh petani dalam menanggulangi tikus, burung, walang sangit, dan ulat-ulat adalah berbeda-beda. Penanggulangan hama-hama tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Namun seiring perkembangan teknologi petani di

Pangaribuan berusaha menyesuaikan dengan pengetahuan yang di miliki sebelumnya.

Gangguan tikus (bagudung) yang merupakan hama paling merusak

tanaman padi. Langkah yang diambil oleh petani dalam menanggulangi bagudung

dengan membersihkan sawah mereka sebagai tahap pencegahan pertama. Membersihkan pematang dan sawah sekaligus juga berguna terhadap penanggulangan tumbuhan liar yang dianggap petani sebagai hama. Jenis

tumbuhan tersebut yakni; rumput sipon, lipper-lipper, rumput sigumoang, rumput

sihorpuk, rumput oma.

Jenis rumput tersebut menurut petani di Pangaribuan dapat mengundang tikus perusak tanaman juga menghambat perkembangan tanaman padi mereka. Mengundang tikus maksudnya jika rumput tersebut di biarkan tumbuh di lahan sawah, maka sawah akan terlihat semak sehingga tikus-tikus tidak takut menghabisi tanaman padi petani karena seolah-olah tidak ada penjaga tanaman tersebut. Selain itu pengaruh rumput liar di biarkan begitu saja membantu perkembangbiakan tikus tersebut, karena rumput tersebut dijadikan tikus sebagai sarangnya.

Selanjutnya petani akan mengelilingi pematang dengan plastik, ada juga menaruh racun tikus pada lubang-lubang sekitar sawah yang diperkirakan petani sebagai sarang tikus atau tempat persembunyian tikus-tikus, juga ada yang menaruh dedak yang dicampur oli kotor atau minyak tanah kemudian diletakkan di setiap aliran air yang ada di sawah tersebut. aliran air akan membantu menghanyutkan dedak tersebut dan menyebarkannya keseluruh pematang

pematang sawah. Aroma yang di milikinya tidak disukai tikus membuat tikus tersebut meninggalkan tanaman padi mereka. Seperti diutarakan Ibu Sadar Pakpahan, berupa;

Najoloi hami diajari oppung nami be do nalao palahon bagudung.

Molo musim marbabo tikki eme boltok. Dodak do hubahen hami

dicappur ma dohot oli kotor manang na miak tano muse di padalan ma sian dalan niaek biasana disudut ni hauma sai adong doi. Aek ima padalanton obat nai, uap naima palaohon bagudung i sahat tu saonari sai hubahen dope i. (Dahulu kami diajari nenek/kakek moyang untuk menanggulangi tikus. Ketika penyiangan kedua dan

padi mulai boltok (tanaman padi mulai berisi buah-buah padi namun

belum keluar menjadi biyur padi). Dedak yang sengaja dicampur dengan oli kotor atau minyak tanah kemudian dialirkan melalui aliran air pada setiap sudut petak sawah yang biasanya aliran air kecil di temukan pada setiap sudut sawah. Air mengalir tersebut mengalirkan obat yang kami buat. Aromanya yang menyengat tidak disukai tikus membuat tikus-tikus tersebut menghindar dari tanaman padi dan sampai sekarang kami masih melakukan cara ini).

Pengetahuan lokal yang di miliki petani dalam menanggulangi hama padi berupa burung-burung pemakan biji padi seperti burung pipit. Cara yang digunakan oleh petani dalam menanggulangi hama burung yaitu dengan membentangkan tali antara satu sisi sawah dengan sisi sawah lainnya. Pada tali yang dibentangkan tersebut dipasang benda-benda yang berkilau atau kaleng susu berisi batu yang menurut petani dapat mengusir burung dan menakut-nakutinya. Bentangan tali dibuat sedikit mengendur yang apabila terkena hembusan angin tali akan bergerak dan dapat menggoyangkan benda yang digantungkan pada tali tersebut sehingga burung-burung merasa terganggu, terancam dan takut sehingga tidak jadi hinggap di padi tersebut.

Ada juga sebagian dari petani yang membuat benda menyerupai orang (manusia) dengan tangan dibentangkan, petani menyebutnya orang-orangan.

Benda ini juga digunakan untuk mengusir burung-burung. Burung tersebut akan mengira bahwa sawah tersebut dijaga pemiliknya sehingga tidak jadi hinggap di padi mereka. Orang-orang sawah ini dibuat oleh petani di Pangaribuan dari kayu yang dipasangkan pakaian. Orang-orangan sawah tersebut biasanya diletakkan oleh petani di tengah-tengah lahan padi sawah, ada juga yang diletakkan dipinggir sawah. Pakaian yang dipasangkan pada orang-orangan sawah akan bergerak-gerak ketika terkena hembusan angin membuat burung-burung merasa terancam.

Cara yang dibuat petani menanggulangi hama walang sangit dan ulat-ulat yang biasanya menyerang daun. Jenis hama ini menyerang tanaman padi saat padi berumur 1 (satu) sampai 3 (tiga) bulan. Penanggulangan yang dilakukan oleh

petani dengan menancapkan daun pohon tabbissu di sebelah pokok tanaman padi,

supaya hama-hama tersebut tidak memakan tanaman padi lagi akan tetapi daun

tabbissu yang sengaja dibuat petani sebagai pengganti daun padi. Cara lain yaitu

dengan menyiramkan sirabun (debu kayu bakar yang di pergunakan petani

menghidupkan api untuk memasak). Sirabun yang disiramkan pada daun-daun

padi membuat hama ulat dan walang sangit yang tidak menyukai kering seperti sirabun menjadi tidak mampu bertahan di daun padi tersebut.

Foto 3. Tabbissu Foto 4. Sirabun(debu pembakaran)

Dokumen terkait