• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jabatan : Ketua KMUP Tani Widodo, Dusun Dondong, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari

Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?

Harsa (H) : Iya. Sosialisasi ada. Workshop juga waktu itu pernah diadakan. T : Apakah setelah itu Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan penyaluran dana?

H : Sebetulnya itu pinjaman bergulir. Namun sampai sekarang ada yang sudah beranak tapi ada yang belum. Pertama, karena terlalu kecil. Kedua, kebetulan mungkin di pemborong terlalu lama, jadi ada yang sakit. Yang jelas ada kekurangan pendampingan kesehatan. Penyaluran dana itu saya tidak mengerti alurnya. Tahunya sudah bentuk kambing saja.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping melakukan fasilitasi pengelolaan kawasan produksi?

H : Ya tentang tata cara pemeliharaan kambing. Tentang keadaan maju dan mundurnya kelompok.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina keuangan KMUP? H : Ya walaupun tidak ada pembinaan, tapi saya sendiri sudah tahu. T : Apakah sudah ada mitra pemasaran?

H : Belum ada. Hanya dari anggota KMUP saja. Banyak pemasarannya. Di Pasar Dondong ada. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi pasar?

H : Tentang pasar tidak ada masalah.

T : Berapa orang di KMUP yang menjadi penerima bantuan?

H : Anggotanya ada 20. Yang mendapat itu 11 orang. Jumlahnya per anggota 8 ekor. T : Apakah ada mitra pengembangan produksi?

H : Selama ini masih bisa ditangani anggota sendiri, jadi tidak ada. T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi?

H : Otomatis ada kemajuan. Sudah ada bunganya, istilahnya begitu. Kambingnya 80% sudah beranak.

T : Apakah ada Rencana Tindak Lanjut?

H : Otomatis ada. Di pertemuan kelompok itu sudah ada rancangan program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang. Yang pertama tentang kemajuan kelompok, jangka pendeknya diadakan kerjasama yang keuntungannya untuk semua warga. Yang menengah, untuk kandangnya setiap minggu diadakan pembersihan lingkungan. Jangka panjangnya akan diadakan tempat pertemuan sendiri. Tapi masih terbatas dana.

T : Apakah ada bantuan administrasi kelembagaan kelompok? H : Iya, itu perlu. Tapi lebih perlu lagi untuk kesehatan.

T : Apakah ada kunjungan dari tim-tim pusat, provinsi, dan kabupaten?

H : Iya, dari pusat ada 2 kali. Malah ada yang penanggung jawab program regional Jawa-Bali itu. Dari provinsi dan kabupaten juga ada. Bersamaan dengan yang dari pusat. Waktunya di awal dan pertengahan program ketika bantuan sudah datang. Yang kedua itu Maret.

H : Bagi KMUP itu suatu anugerah. Yang pertama keuntungannya itu disini banyak rumputnya sehingga berguna. Kedua itu, warga banyaknya petani. Petani Gunungkidul kalau tidak menggunakan kompos itu tidak akan berhasil. Yang ketiga, kambingnya sudah beranak. Dampaknya banyak sekali. Bagi saya bermanfaat sekali. Yang keempat itu, menyemangatkan kelompok. Setiap ada gerakan, ada suatu kebersamaan. Kelompok lainnya juga ikut tergerak agar bisa mendapatkan bantuan.

T : Saran atau kritik Bapak untuk P2KP-DT di masa yang akan datang?

H : Terima kasih karena KMUP kami ada peningkatan. Untuk bantuan yang akan datang, mohon ada pendampingan tentang kesehatan dan pengobatan. Jadi jangan sampai pengobatannya seperti saya sampai 800 lebih. KMUP kami juga ingin membuat gedung pertemuan tapi sampai sekarang itu terbentur dana. Kalau dinas yang terkait itu mohon bisa memberi bantuan langsung.

VII. Tanggal : Kamis, 22 November 2007 Nama : S. Wardiyo

Jabatan : Ketua KMUP Tani Wijaya, Dusun Timunsari, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari

Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?

Wardiyo (W) : Ya, pertamanya itu KMUP ini terpilih untuk menerima bantuan. Pelatihan awal itu ada.

T : Apakah Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan penyaluran dana?

W : Ya memang pada saat sosialisasi awal dijelaskan bahwa itu lewat rekanan. Lengkapnya saya tidak terlalu mengerti. Tentang dananya itu saya tahunya dapat saja. Kalau soal dana waktu itu diberikan untuk administrasi sekitar Rp 750.000,00. Itu saja.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping memfasilitasi pengelolaan kawasan produksi?

W : Jadi sebelum kambing itu datang kami diajak studi banding ke kelompok lain. Kami meniru kandang panggungnya. Pak Agung dan Pak Martin ini membimbing kelembagaannya, keorganisasiannya, dan mengarah ke budidaya. Meskipun tidak sedemikian detail, tapi kami tidak menyalahkan pendamping. Sumberdaya KMUP kami juga kurang. Jadi grafik perkembangannya rendah sekali. Dan karena dulu lewat rekanan, mungkin kambingnya terlalu banyak. Jadi ketika datang, kambingnya stres dan sakit. Ketika datang juga pakan belum ada karena kemarau di Desember. Kambing ini sendiri diarahkan ke urinenya untuk pupuk organik.

T : Apakah KMUP mengalami kemajuan produksi?

W : Sekarang sudah banyak yang beranak. Tapi awalnya 3 bulan ketika kambing baru datang itu sulit sekali. Kami ini juga dipercaya menjadi pengecer pupuk organik.

T : Apakah KMUP memiliki mitra usaha pemasaran?

W : Yang bagus itu pupuknya. Jadi dengan memelihara kambing itu manfaatnya yang bisa dirasakan sekarang itu ya pupuknya selain hasilnya yang lain. KMUP itu juga sudah memiliki seksi pemasaran. Ada bagian-bagiannya sendiri, seperti kesehatan juga. Karena bantuan ini sifatnya untuk digulirkan ke anggota lain, jadi hasilnya belum dipasarkan, tapi diberikan ke anggota lain. Ya sekarang ini jadi pemasaran belum seperti yang diharapkan.

T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan info pasar?

W : Pesanan sudah banyak, kambing dan pupuk. Pupuk untuk sekitar sini juga masih kurang. Kalau kambing masih untuk digulirkan lagi. Untuk penjualannya, kalau KMUP ini sudah bagus, kalau ada yang memesan, bisa lewat KMUP. Harga dan lainnya nanti dikendalikan. T : Apakah KMUP memiliki mitra investasi?

W : Sebenarnya banyak. Orang-orang kaya disini juga suka menanamkan modal. Nanti bagi hasil. T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi?

W : Tidak ada. Masih dari kelompok sendiri.

W : Tim P2KP-DT Kabupaten sering pemantauan. Dua atau tiga kali selama 6 bulan itu. Pusat dan Provinsi pernah ketika sosialisasi. Harapannya memang memberikan pengarahan. Setiap tamu yang datang, kami mohon dikritik dan diberi pengarahan.

T : Bagaimana manfaat P2KP-DT untuk KMUP dan masyarakat?

W : Kambing ini mudah dipelihara dan dapat terintegrasi dengan kegiatan lain di KMUP. Harapannya bisa menghidupi keluarga kami dan bisa menjadi contoh bagi orang lain. Kalau memelihara kambing dengan baik dan benar akan meningkatkan pendapatan. Bisa membawa ke kegiatan lain yang lebih maju juga, tanaman menjadi lebih bagus.

T : Saran untuk pelaksanaan P2KP-DT di masa yang akan datang?

W : Harapan kami untuk kambing ini harus dilestarikan. Untuk KMUP yang akan datang, sebaiknya ada dana untuk rehab kandang. Penggarapan kemiskinan ini juga harus terpadu antardinas yang terkait. Pertanian, peternakan harus ikut di dalamnya. Jangan dibebankan kepada KNPDT saja. Harus ada keterpaduan dan ada tekad bersama untuk menanggulangi kemiskinan. Terakhir, pendampingan secara berkelanjutan. Seperti inkubator. Dikasih tapi kalau dilanjutkan tidak ada pendampingan kan bisa mati. Jadi digiring terus menerus sampai bisa berjalan.

VIII. Tanggal : Kamis, 22 November 2007 Nama : Ir. Martin Sumbaga

Jabatan : Tenaga Pendamping Program P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul

Tantri (T) : Apakah semua pihak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya?

Martin (M) : Kalau yang saya lihat dari proses lelang memang sudah terpilih rekanan yang siap pengadaan. Semuanya sudah baik. Hanya masalah kapal itu saya juga tidak tahu. Dananya sudah ada tapi tidak berhasil. Saya tidak tahu.

T : Apakah peran tiap pihak di sosialisasi dan workshop terlaksana dengan baik dan benar? M : Saya tidak tahu karena belum dipekerjakan saat itu.

T : Apakah Tim Kabupaten bekerja dengan baik?

M : Kemarin itu kan waktunya sangat singkat. Hasilnya memang bisa tercapai semacam itu ya saya lihat sudah luar biasa. Meskipun karena kegiatannya baru pertama kali. Jadi masih ada kekurangannya. Saran saya agar ada suatu kebersamaan. Jangan memikirkan yang lain-lain. Tujuannya ya memang untuk mengembangkan daerah tertinggal. Jadi jangan ada kepentingan dari instansi lain.

T : Apakah Bapak mengerti tentang proses pengadaan dan penerimaan?

M : Tidak ikut tapi saya tahu itu timnya ada dari Dinas Perikanan dan Peternakan. Pengumumannya ada di koran. Seleksinya saya tidak tahu karena kami tidak ada di tim penerimaan. Tapi lelang dan penerimaan juga dilakukan oleh orang yang berbeda.

T : Apakah Tenaga Pendamping bukan aparat pemerintah? M : Bukan.

T : Apakah Tenaga Pendamping lulusan minimal D3?

M : Saya lulusan S1 dari Pertanian UGM. Mas Agung dari Manajemen. T : Apakah Tenaga Pendamping lulus seleksi? Seleksi seperti apa?

M : Itu ada semacam wawancara dan diskusi tentang wawasan dan pengetahuan umum daerah. Kebetulan saya dari dulu sudah menjadi tenaga sukarela dari Dinas Tenaga Kerja.

T : Apakah Tenaga Pendamping tinggal di Gunungkidul? M : Iya.

T : Apakah Tenaga Pendamping berusia di bawah 40 tahun? M : Waktu itu 40 kurang sedikit.

T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?

M : Tiap KMUP rata-rata sebulan 1 atau 2 kali. Bentuknya diskusi. Jadi saya memberikan suatu paparan dulu, setelah itu didiskusikan. Mereka juga mencatat hasilnya. Membicarakan kondisi lingkungan dan sebagainya. Setelah tertarik mereka juga jadi terbuka untuk diskusi. Sebelum ini mereka belum tahu banyak tentang budidaya.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan KMUP?

M : Yang mempunyai tugas itu Pak Agung. Dia memberitahu cash flownya bagaimana. Kalau masalah itu sebenarnya di KMUP sudah ada dasarnya. Kemarin itu juga ada bantuan

buku-buku untuk daftar-daftar. Ada yang keuangannya juga sudah bagus. Kita tinggal tambahkan wawasan saja.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping memantau penyaluran dana dari KMUP ke anggota?

M : Dana uang itu sebenarnya kecil. Hanya untuk pembangunan kelembagaan sebesar Rp 750.000,00. Dari Bappeda juga ikut mengawasi.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina usaha pembangunan kawasan produksi? M : Mereka ada studi banding dan pelatihan. Kendalanya itu kalau kambing banyak yang sakit. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi tentang pasar?

M : Untuk kambing pasarnya sudah terbuka. Setiap desa ada blantik yang mengumpulkan kambing untuk dijual. Kalau lele sudah ada di Playen. Pemasaran ikan juga sudah ada jalurnya sendiri.

T : Apa saja informasi perkembangan teknologi peningkatan mutu yang diberikan?

M : Itu bekerjasama dengan dinas. Misalnya lele dengan Dinas Perikanan. Kambing dari Dinas Peternakan.

T : Apakah Tenaga Pendamping membuat daftar kunjungan?

M : Biasanya saya membuat suatu daftar sudah kemana saja, membahas apa saja. Lalu dibuat rekapnya dan dilaporkan ke kabupaten.

T : Apakah Tenaga Pendamping membuat laporan ke Tim Kabupaten tiap akhir bulan?

M : Saya buatnya tiap akhir periode. Atau tiap bulan juga ada tapi sifatnya masih kasar. Karena tidak ada aturan dari kabupaten kunjungan harus berapa kali per bulannya, tapi diusahakan tiap pertemuan KMUP kita hadir.

T : Apakah dana bantuan mencukupi?

M : Sebenarnya masih kurang. Itu sifatnya kan hanya stimulan.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping memilih anggota penerima manfaat?

M : Saya kerjasama dengan beberapa instansi dari kecamatan, kelurahan, mantri hewan. Kan ada kriterianya. Kita memilih bersama-sama.

T : Bagaimana Tenaga Pendamping memberikan latihan pengelolaan?

M : Arahnya itu bagaimana supaya bisa berkembang dan digulirkan. Kalau kambing kan periodenya panjang. Lele itu kan hanya 2-3 bulan. Kalau sudah panen, ada yang disisakan. Itu boleh digunakan sendiri atau digulirkan ke anggota lain. Untuk kapal memang belum ada. Baru ada semacam rancangan nantinya kalau sudah ada kapal, pembagiannya bagaimana. Yang harus dibangun itu juga motivasi dan mental KMUP. Kita juga coba mengembangkan potensi daerah lainnya. Seperti tanaman yang ada di daerah tertentu, kecap, tiwul.

T : Apakah KMUP menerima bantuan teknis manajemen usaha budidaya? M : Tidak. Yang ada hanya bantuan untuk administrasi.

T : Apakah KMUP memiliki mitra usaha pemasaran? M : Sudah ada mitra-mitranya. Blantik itu.

T : Bagaimana kondisi bantuan kambing dan lele?

M : Ya pada dasarnya berkembang. Hambatan di kambing itu ada yang sakit. Lele itu susah air. T : Apakah dana bantuan penyiapan usaha dan kelembagaan kelompok berguna?

M : Ya diterima, biasanya untuk membuat lemari, rak, dan tikar untuk pertemuan. T : Apakah dana bantuan pengelolaan usaha komoditi berguna?

M : Tidak ada itu dana pengelolaan usaha komoditi.

T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi? M : Sejauh ini belum ada. Tapi harapannya memang kesana nanti. T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan investasi? M : Belum. Baru rencana saja.

T : Apakah KMUP mengelami kemajuan usaha produksi? Apakah karena pengaruh P2KP-DT? M : Pengaruh dari program jelas ada. Mereka jadi tertarik dan semangat. Yang kolamnya tadinya

dari tanah sekarang sudah kavling. Kambing yang tadinya kecil ditukar dengan yang besar. Kemunduran tidak ada. Satu atau dua KMUP memang ada yang jalan di tempat.

T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?

M : Bantuan program itu diberikan sebagai modal dasar. Yang dipilih itu yang mempunyai kemampuan dan ada jaminan. Saat ini ada yang terus dipercaya sebagai penyalur pupuk, bibit lele. Ini adalah salah satu efek samping dari program.

T : Apakah proses pelaporan dari kabupaten ke provinsi dan pusat berjalan dengan baik dan benar?

M : Saya tidak tahu. Saya hanya di lapangan.

T : Apakah tim yang berkunjung mengevaluasi keseluruhan pelaksanaan program?

M : Ya, itu langsung di lapangan. Kan kita diskusi dengan KMUP. Kalau ada masalah langsung dicari jalan keluarnya saat itu juga.

T : Apakah Tim Provinsi mengendalikan juga?

M : Mereka kan menerima laporan dari kabupaten. Baru bereaksi.

T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat?

M : Jelas memang sangat bermanfaat bagi KMUP. Status KMUP juga meningkat di mata mitra usaha yang lain. Membuka pekerjaan minimal untuk dirinya sendiri. Kambing bisa menghasilkan pupuk, bisa untuk tanaman. Yang harusnya beli pupuk jadi tidak beli. Karena mereka juga petani.

T : Kelebihan atau kekurangan P2KP-DT di tahun 2006?

M : Kelebihannya itu kan langsung ke masyarakat. Tidak lewat mana-mana. Sehingga sasarannya lebih tepat. Kekurangannya kemarin itu di pengadaan. Karena melalui rekanan, ketika bantuan dikarantina sekaligus 800an ekor, kambing jadi ada yang sakit. Mungkin bisa bertahap pengadaannya. Dan ada pendampingan kesehatan. Kalau masalah kapal saya juga tidak mengetahui secara persis. Rekanan sudah ada tapi tidak terealisasi, saya juga tidak mengerti. T : Kenapa kapal yang seharusnya untuk 2006 tidak dilanjutkan di 2007?

M : Karena proses 2007 itu kan lebih lama. Kemarin itu kan waktunya sudah habis, jadi rekanannya dibatalkan. Untuk 2007 rekanannya baru lagi.

T : Saran untuk P2KP-DT di masa yang akan datang?

M : Pendampingan kesehatan, terutama penyediaan obat. Mantri hewan sudah ada, tapi tidak dilengkapi obat yang gratis.

IX. Tanggal : Jumat, 23 November 2007 Nama : Drs. Sjaifudin HS

Jabatan : Sekretaris Tim Pengadaan Barang Program P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006

Tantri (T) : Apakah Tim Lelang membuat pengumuman lelang?

Sjaifudin (S) : Ya. Itu kita umumkan di media cetak, di Jawa Pos Yogya. Itu juga kita tempelkan di papan pengumuman Bappeda.

T : Apakah Tim Lelang melakukan seleksi pendaftar lelang?

S : Iya. Jadi mulai pelapor itu kasih, kita seleksi, kemudian kita suruh ikut mendaftar lelang. T : Apakah Tim Lelang membuat kontrak dengan pemenang?

S : Iya. Itu kan ada yang untuk pengadaan bibit lele, kambing, dan kapal. Semuanya ada sendiri. Jadi setiap kegiatan kita buat kontrak sendiri, tidak jadi satu.

T : Apakah Tim Penerimaan mengecek spesifikasi barang?

S : Ya. Setelah barangnya sudah ada, Tim Penerimaan diajak bersama-sama memeriksa barangnya di karantina. Lele di Muntilan. Setelah selesai, kebetulan kemarin itu kolamnya kan belum siap karena belum hujan. Setelah hujan, lele dikirim ke Gedangsari. Ketika pengiriman, Tim Penerimaan juga ikut memonitor. Apa spesifikasinya dan jumlahnya sudah sesuai. Termasuk yang kambing juga begitu. Kambing di Semanu. Tim mengecek umurnya, tingginya, jumlahnya. Baru dikirim ke kelompok masing-masing. Kalau kapal, kemarin setelah dicek, belum memenuhi syarat, akhirnya dibatalkan. Karena kemarin memang kontraknya itu waktunya tidak mencukupi untuk pembuatan. Tapi akan diusahakan. Kalau kemarin hanya 30 harian. Mau diusahakan. Tapi ketika akhir, baru berapa persen. Akhirnya kontrak dibatalkan.

T : Apakah Tim Penerimaan menandatangani berita acara serah terima?

S : Tim Penerimaan itu ada. Lalu ditandatangani juga oleh Kepala Bappeda selaku koordinator. Dan juga semua dikirim ke pusat ke Pejabat Pembuat Komitmen di KNPDT, Bu Endang. T : Apakah pengadaan dan penerimaan dilakukan oleh orang-orang yang berbeda? S : Iya. Panitia lelang ada sendiri. Dan panitia penerimaan juga ada sendiri. T : Apakah Tim Kabupaten bekerja dengan baik?

S : Kemarin kegiatan Tim Kabupaten belum maksimal. Karena semuanya dari Bappeda. Seolah-olah dari dinas teknis seperti Dinas Peternakan dan Pertanian kurang memberi masukan. Tapi ketika mau dilelangkan, ada koordinasi dengan dinas teknis mengenai spesifikasinya. Memang waktu itu dananya sudah hampir akhir tahun. Kelemahannya kemarin itu tentang kapal karena dari KNPDT minta semua harus tanda tangan. Tapi kapal belum selesai. Jadi disini timnya tidak mau menandatangani. Jadi dananya tidak bisa cair. Tim Penerimaan itu 7 orang. Kalau Tim Pengadaan 6-7 orang. Harusnya dari KNPDT itu bisa mempermudah pencairan.

T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat?

S : Kalau secara khusus ya memang bisa menambah pendapatan KMUP. Karena itu kan bisa dikembangkan. Dan saya dengar tahun ini juga ada lagi. Itu memang sangat bermanfaat,

terutama yang kambing. Kalau lele kan tergantung hujan. Dengan adanya penambahan income

per capita secara tidak langsung juga mempengaruhi masyarakat, terutama di lingkungannya.

T : Kelebihan atau kekurangan P2KP-DT tahun 2006?

S : Kelebihannya ya tujuannya itu, kan sudah ada. Kekurangannya dananya itu lambat sekali. Di tahun 2007 dananya juga tidak langsung awal tahun. Tahun 2006 itu padahal saya mau membuat lelang tapi kalau nanti ada pemenangnya dan dananya belum turun, yang mau bayar siapa? Tentang dana ke depannya itu harus ada kepastian. Pejabat Pembuat Komitmen juga sebaiknya dari kabupaten supaya lebih cepat.

X. Tanggal : Jumat, 23 November 2007

Dokumen terkait