DAFTAR PUSTAKA
A. Buku Referensi
Babbie, Earl. 1971. The Practice of Social Research. Belmont: Wadsworth Publishing.
Blakely, Edward J.. 1989. Planning Local Economic Development: Theory and Practice. Newbury Park: Sage Publications, Inc.
Freeman, Edward R.. 1984. Manajemen Strategik: Pendekatan Terhadap Pihak-Pihak Berkepentingan. Jakarta: Pustaka Binaman Pres.
Dunn, William N.. 1994. Public Policy Analysis: An Introduction, Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Kountour, Ronny. 2004. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: Penerbit PPM.
Miles, Matthew. B & Hubberman, Michael.A. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.
Moleong, Lexy J.. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. DR. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi & Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. Remaja Rosdakrya.
Patton, Carl V., dan David Sawicki. 1986. Basic Methods of Policy Analysis & Planning. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Patton, Michael Quinn. 1990. Qualitative Evaluation & Research Methods: Second Edition. Newbury Park: Sage Publications, Inc.
Singarimbun, Marri, dan Sofian Efendi. 1982. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.
Umar, Husein. 1998. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
World Bank, The. 1999. Identifying Stakeholders. Washington: The World Bank Participation Source Book.
Zuria, Nurul. 2006. Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
B. Terbitan Terbatas
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. 2006. Pedoman Pelaksanaan P2KP-DT Tahun 2006. Jakarta: Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Indonesia.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. 2005. Rencana Strategis 2005-2009. Jakarta: Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. 2005. Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal. Jakarta: Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. 2006. Strategi Daerah Pembangunan Daerah Tertinggal Kabupaten Gunungkidul. Gunungkidul: Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Ramizes, R, Stakeholders Analysis And Conflict Management, dalam Danies Buckles, Cultivating Peace, Conflict And Collaboration In Natural Resource Management (washington DC, USA: WBI 1999), http://www.idrc.ca/en/ev-27971-201-1-DO_TOPIC.html dikutip tanggal 24 Desember 2007
Tim Koordinasi dan Pengendali P2KP-DT. 2006. Laporan Akhir Kegiatan P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2006. Jakarta: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia.
Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 2005. Beberapa Teknik Evaluasi Dalam Evaluasi Atas Sistem AKIP. Jakarta: Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia.
Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 2005. Evaluasi Kinerja Instansi Berbasis Evaluasi Program. Jakarta: Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia.
UN-HABITAT. 2000. Stakeholders Identification and Mobilisation: Draft Tool for the Local-EPM (Philippines) Phase One Tool-kit. URBAN GOVERNANCE TOOLKITSERIES,
http://www.vision2020.info.tt/pdf/Guidelines_Tools_Techniques/Tools/stakeh olderanalysis.pdf dikutip tanggal 24 Desember 2007
C. Peraturan Perundangan
..., 2006. Peraturan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum dan Penetapan Lokasi Dalam Rangka Koordinasi dan Fasilitasi Percepatan Pembangunan Kawasan Produksi Daerah Tertinggal (P2KP-DT). Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI.
LAMPIRAN I
Keputusan Bupati Gunungkidul tentang Pembentukan
Tim Koordinasi dan Pengendali P2KP-DT Kabupaten
Gunungkidul
LAMPIRAN II
Keputusan Ketua Tim Koordinasi dan Pengendali
P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul tentang
Pembentukan Tim Pengadaan dan Tim Penerima
Sarana Produksi Program P2KP-DT Kabupaten
Gunungkidul Tahun 2006
LAMPIRAN III
LAMPIRAN IV
Dokumentasi Penerimaan Barang
LAMPIRAN V
Keputusan Ketua Tim Koordinasi dan Pengendali
P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul tentang
Penunjukan Tenaga Pendamping Penerima Program
P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006
LAMPIRAN VI
Keputusan Bupati Gunungkidul tentang Lokasi
Pengembangan dan Komoditi Terpilih Program
LAMPIRAN VII
Rencana Anggaran Biaya Program P2KP-DT
Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006
LAMPIRAN VIII
Daftar Pertanyaan Wawancara
1. PERSIAPAN UMUM
1.1. Apakah semua pihak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya? Apakah kerangka kelembagaan berfungsi dengan benar?
1.2. Apakah peran tiap pihak di sosialisasi terlaksana dengan benar dan baik? 1.3. Apakah peran tiap pihak di workshop terlaksana dengan benar dan baik?
1.4. Apakah KMUP mengerti/dapat menyebutkan teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana secara garis besar?
2. PENGORGANISASIAN
2.1. Apakah Tim Kab bekerja dengan baik? Saran/kritik?
2.2. Apakah Tim Lelang membuat pengumuman lelang? Dimana?
2.3. Apakah Tim Lelang melakukan seleksi pendaftar lelang? Bagaimana? 2.4. Apakah Tim Lelang membuat kontrak dengan pemenang?
2.5. Apakah Tim Terima mengecek spesifikasi barang? Bagaimana dan dimana? 2.6. Apakah Tim Terima menandatangani berita acara serah terima? Dengan siapa? 2.7. Apakah lelang dan terima dilakukan oleh orang-orang yang berbeda? Buktinya apa? 2.8. Apakah Tenaga Pendamping bukan aparat pemerintah? Pekerjaan terakhirnya apa? 2.9. Apakah Tenaga Pendamping lulusan minimal D3? Pendidikan terakhirnya apa? 2.10. Apakah Tenaga Pendamping lulus seleksi? Seleksinya seperti apa? 2.11. Apakah Tenaga Pendamping tinggal di GK?
2.12. Apakah Tenaga Pendamping berusia di bawah 40 tahun?
2.13. Berapa kali fasilitasi&advokasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan? 2.14. Bagaimana TP membina administrasi keuangan KMUP?
2.15. Bagaimana TP memantau penyaluran dana dari KMUP ke anggota? 2.16. Bagaimana TP membina usaha pembangunan kawasan produksi? 2.17. Apakah TP memberi info pasar? Seperti apa?
2.18. Apa saja info perkembangan teknologi peningkatan mutu yang diberikan TP? 2.19. Apakah TP membuat daftar kunjungan?
2.20. Apakah TP membuat laporan ke Tim Kab tiap akhir bulan?
2.21. Apakah TP sudah melaksanakan tugasnya dengan baik? Saran/kritik? 3. PERENCANAAN
3.1. Apakah dana bantuan mencukupi?
3.2. Apakah dana bantuan disalurkan dengan benar? 4. PELAKSANAAN
4.1. Apakah TP memilih kelompok penerima manfaat? Pemilihannya tepat? 4.2. Bagaimana TP memberikan latihan pengelolaan? Apakah KMUP mengerti?
4.3. Apakah KMUP menerima bantuan teknis manajemen usaha budidaya sesuai alokasi? Apakah berguna dan mencukupi?
4.4. Apakah KMUP memiliki mitra usaha pemasaran? Dimana saja?
4.5. Apakah KMUP Purwosari, Saptosari, dan Tanjungsari menerima kambing jawa? Bagaimana kondisinya sekarang?
4.6. Apakah KMUP Gedangsari menerima bibit lele dumbo? Bagaimana kondisinya sekarang?
4.7. Apakah KMUP Gedangsari menerima pakan lele dumbo? Apakah membantu? 4.8. Apakah KMUP Girisubo menerima kapal ikan 15 GT?
4.9. Apakah dana bantuan penyiapan usaha&kelembagaan kelompok berguna? 4.10. Apakah dana bantuan pengelolaan usaha komoditi berguna? 4.11. Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi? Siapa? 4.12. Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan investasi? Siapa?
4.13. Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi? Apakah karena pengaruh P2KP-DT?
4.14. Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut? Secara garis besar yaitu.... 4.15. Apakah KMUP memiliki strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan?
Secara garis besar yaitu...
5. PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN
5.1. Apakah Tim Pusat mengawasi persiapan pelaksanaan? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
5.2. Apakah Tim Prov mengendalikan persiapan pelaksanaan? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
5.3. Apakah Tim Prov melaporkannya ke Tim Pusat? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
5.4. Apakah Tim Kab mengendalikan persiapan pelaksanaan pada tingkat masyarakat? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
5.5. Apakah Tim Kab melaporkannya ke Tim Prov? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
5.6. Apakah Tim Kab melaporkannya ke Tim Pusat? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
5.7. Apakah Bawasda GK mengawasi seluruh kegiatan? Sejauh apa? 5.8. Apa perbedaan antara pengendalian Tim Prov dengan Tim Kab?
5.9. Apakah sistem ini berfungsi dengan baik dan berguna bagi perbaikan implementasi kegiatan?
6. PEMANTAUAN, EVALUASI, DAN PELAPORAN
6.1. Apakah Tim Pusat memantau pelaksanaan tiap 3 bulan? Sejauh apa? 6.2. Apakah Tim Pusat mengevaluasi pelaksanaan? Apakah langsung berguna? 6.3. Apakah Tim Prov memantau pelaksanaan tiap bulan? Sejauh apa?
6.4. Apakah Tim Prov mengevaluasi pelaksanaan? Apakah langsung berguna?
6.5. Apakah Tim Prov memverifikasi laporan Tim Kab tiap bulan? Apakah Tim Prov tidak membuat laporan sendiri?
6.6. Apakah Tim Kab memantau pelaksanaan per bulan? Sejauh apa?
6.7. Apakah Tim Kab melaporkan pelaksanaan ke Tim Prov dan Tim Kab tiap bulan? Dalam bentuk apa?
7. KESIMPULAN
7.1. Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP secara khususnya dan masyarakat GK pada umumnya?
7.2. Apakah kelebihan/kekurangan P2KP-DT di tahun 2006?
LAMPIRAN IX
Transkrip Wawancara
I. Tanggal : Selasa, 20 November 2007
Nama : Ir. Iriawan Djatiasmoro
Jabatan : Penanggung Jawab Program P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006
Tantri (T) : Apakah semua pihak bertanggung jawab dan melaksanakan pekerjaannya? Dan apakah kerangka kelembagaan berfungsi dengan benar?
Iriawan (I) : Menurut saya iya, karena sebelum kita melangkah, kita melakukan koordinasi berkali-kali. Kemudian kita menerjemahkan konsep pusat sesuai dengan kondisi daerah itu, ditambah dengan sosialisasi. Jadi pemahaman teman-teman itu juga harusnya sudah paham. Jadi pertanyaan ini saya jawab iya. Kemudian kelembagaan berfungsi dengan benar dan baik, iya. Karena semua kegiatan bisa berjalan lancar dan masing personil bisa mendapat tugas sesuai dengan kewenangan masing-masing.
T : Sosialisasi di kabupaten berkali-kali, Pak?
I : Iya berkali-kali. Yang pertama ke tim dulu. Kemudian ke kecamatan kita sosialisasi juga. Perannya juga sama dengan yang ada di pedoman. Di KMUP pun dilakukan berkali-kali, itu pun masih ditambah peran Mas Martin, memahamkan bagaimana P2KP-DT itu, sasarannya dan bagaimana caranya.
T : Lalu apakah peran tiap pihak di workshop terlaksana dengan baik?
I : Iya, karena selain workshop itu dinamis, goal-nya juga memuaskan seperti yang kita harapkan karena adanya partisipasi aktif dari peserta.
T : Kemudian apakah KMUP mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana? I : Jelas bisa, tapi tidak semua anggota, pengurus-pengurusnya saja.
T : Kalau perbedaan sosialisasi dengan workshop itu apa, Pak?
I : Kalau sosialisasi itu adalah memberi penjelasan sampai ke detail, perannya apa, targetnya apa. Yang kita hadirkan ini adalah pelaku-pelaku utama. Kemudian ada juga sosialisasi yang levelnya tidak sedetail itu. Tujuannya adalah untuk petugas-petugas yang bisa menunjang lewat administrasi. Contohnya petugas kecamatan. Tetapi juga kita perlu menyampaikan konsep program ini ke pihak lain sehingga tidak akan ada perdebatan yang dapat memakan waktu. Jadi sosialisasi ada 2 level, untuk pendukung administrasi dan pelaku langsung. Kemudian workshop
ini dilakukan untuk menjelaskan konsep makro program, implementasi, dan tugas masing-masing pihak. Makanya biasanya kita hadirkan narasumber dari Bappeda Provinsi, untuk menjelaskan tentang perencanaan wilayah. P2KP-DT ini memberikan kontribusi tentang aplikasi teknis. Jadi bedanya seperti itu.
I : Ya, karena tim bekerja tidak hanya siang jam 8 sampai jam 4, tapi bisa sampai jam 1 malam, sampai lembur.
T : Apakah Tim Pengadaan Barang membuat pengumuman lelang? I : Iya, di media cetak dan di papan pengumuman kita sebar luaskan. T : Apakah Tim Pengadaan Barang melakukan seleksi pendaftar lelang?
I : Iya, karena di peraturan harus seleksi, kan nilainya di atas Rp50.000.000,00. Caranya seperti proses lelang biasa. Diranking, umumkan pemenang, kalau ada sanggahan kita tunggu.
T : Apakah Tim Pengadaan Barang membuat kontrak dengan pemenang? I : Setelah ada pemenang ya pasti kita buat kontrak dengan pemborong tersebut.
T : Apakah Tim Penerimaan Barang mengecek spesifikasi barang? Bagaimana dan dimana? I : Ya, di tempat karantina dan bengkel-bengkel produsen. Kalau kambing dan lele di karantina,
sedangkan kapal di bengkel produsen.
T : Apakah Tim Penerimaan Barang menandatangani berita acara serah terima?
I : Setelah dicek semuanya, ketika akan diserahkan, berita acara ditandatangani. Setelah itu, pemborong menyerahkan langsung ke KMUP. Jadi tim dan tenaga pendamping hanya mengawasi, sehingga resiko ada di pemborong.
T : Apakah lelang dan penerimaan dilakukan oleh orang-orang yang berbeda? Buktinya apa? I : Ya, berbeda semuanya.
T : Apakah Tenaga Pendamping bukan aparat pemerintah? I : Bukan, dia orang profesional.
T : Apakah Tenaga Pendamping lulusan minimal D3?
I : Keduanya S1. Mas Martin insinyur di aspek teknis dari budidaya, pemasaran, hingga
processing. Mas Agung di bidang manajemen karena latar belakangnya juga S1 Manajemen. T : Apakah Tenaga Pendamping lulus seleksi? Seleksinya seperti apa?
I : Kita seleksi tertulis dan wawancara. Seleksi tertulis tentang pemahaman wilayah, pemberdayaan kelompok, pengalaman, dan apa yang dikuasai.
T : Apakah Tenaga Pendamping tinggal di Gunungkidul? I : Iya, Mas Martin di Karangmojo. Mas Agung juga. T : Apakah Tenaga Pendamping berusia di bawah 40 tahun? I : Di bawah 40 tahun semua.
T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?
I : Dua puluh kali, 4 kali per kecamatan. Tapi Tenaga Pendamping mendatangi KMUP sekali atau dua kali setiap bulan sesuai kebutuhan.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan KMUP?
I : Melalui pembinaan, pelatihan, dan pertemuan-pertemuan. Jadi sesuai kebutuhan KMUP. T : Bagaimana Tenaga Pendamping memantau penyaluran dana dari KMUP ke anggota?
I : Melalui buku kas dan cash flow mereka. Intervensinya sebatas mengarahkan saja. Mengenai pelaksanaan keputusan terserah KMUP. Jadi dia tidak bisa intervensi ke keputusan, hanya sebatas saran.
I : Melalui pembinaan dan pelatihan.
T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi tentang pasar? I : Melalui informasi dan media lalu disampaikan ke KMUP.
T : Apa saja informasi perkembangan teknologi peningkatan mutu yang diberikan Tenaga Pendamping?
I : Di bidang budidaya, pakan, dan teknik-teknik lainnya. T : Apakah Tenaga Pendamping membuat daftar kunjungan? I : Ya, bentuknya laporan kunjungan.
T : Apakah Tenaga Pendamping membuat laporan ke Tim Koordinasi dan Kabupaten tiap akhir bulan?
I : Ya, ini dilakukan juga. Nanti kita rekap.
T : Apakah Tenaga Pendamping sudah melaksanakan tugasnya dengan baik?
I : Menurut saya sangat baik, karena 1 bulan bisa 2 kali, padahal menurut aturannya sekali saja. Tapi kalau dikalikan dengan jumlah KMUP kan luar biasa. Dan tidak hanya siang hari saja, malam hari pun dan hujan deras tetap dilakukan bila sudah jadwalnya. Jadi saya sendiri menilainya sangat baik. Tapi memang KMUP banyak tidak puasnya. Banyak yang berharap Tenaga Pendamping tinggal di situ terus. Tapi kan tidak bisa, karena melayani satu kabupaten. Dan ada juga KMUP yang menginginkan Tenaga Pendamping orang asli daerah situ. Tetapi kalau begitu kelemahannya adalah dia hanya akan paham wilayahnya saja. Tapi kalau seperti Mas Martin ini kan obyektif dan proporsional di semua wilayah.
T : Apakah dana bantuan mencukupi? I : Yang dari pusat itu cukup.
T : Apakah dana bantuan disalurkan dengan benar? I : Ya, kita salurkan dengan benar.
T : Apakah Tenaga Pendamping memilih kelompok penerima manfaat?
I : Contoh kriterianya itu untuk yang kambing adalah secara ekonomi mampu memelihara 9 ekor kambing dan bersedia menggulirkan ke anggota yang belum terima dan sudah memiliki akses dengan mitra penjual. Sehingga penerima manfaat ini adalah yang menerima sarana produksi. Konsep kami adalah memberi fondasi bagi pengembangan investasi. Sehingga anggota KMUP yang menerima saprodi pun ada kriterianya. Bisa jadi dari 35 anggota kelompok yang dapat hanya 8 atau 10 orang.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memberikan latihan pengelolaan?
I : Latihan pengelolaan itu lewat pembinaan. Rata-rata mereka antusias, karena banyak hal baru yang dikenalkan.
T : Apakah KMUP menerima bantuan teknis manajemen usaha budidaya sesuai alokasi? Apakah berguna dan mencukupi?
I : Sangat berguna. Kalau dibilang cukup, ya belum mencukupi. Konsep bantuan ini untuk biaya pertemuan, pembenahan kantor, karena ini kan usaha produksi. Kalau nanti usaha produksi berkembang dan ada investor, tampilan KMUP akan lebih profesional.
I : Ya, umumnya di tingkat lokal Gunungkidul.
T : Apakah KMUP Purwosari, Saptosari, dan Tanjungsari menerima kambing jawa? Bagaimana kondisinya sekarang?
I : Ya. Kondisinya dikelola sesuai anjuran.
T : Apakah KMUP Gedangsari menerima bibit lele dumbo? Bagaimana kondisinya sekarang? I : Ya. Kondisinya berkembang sesuai harapan.
T : Apakah KMUP Gedangsari menerima pakan lele dumbo? Apakah membantu? I : Iya, dan sangat membantu.
T : Apakah KMUP Girisubo menerima kapal ikan 15 GT?
I : Tidak. Sebenarnya penyebabnya hanya karena beberapa orang yang memaksakan kehendak. Sebenarnya kalau diceritakan ini memalukan. Jadi ya ada yang ingin kapal B yang dipakai padahal spek yang cocok untuk Samudera Hindia itu kapal A. Jadi dipersulit tanda tangan dari timnya. Padahal supaya dana cair harus ada tanda tangan semua orang
T : Apakah dana bantuan penyiapan usaha dan kelembagaan kelompok berguna? I : Sangat berguna.
T : Apakah dana bantuan pengelolaan usaha komoditi berguna? I : Sangat berguna.
T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi? I : Punya, yaitu swasta dan petugas instansi biasanya. T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan investasi? I : Iya, yaitu dari swasta lokal Gunungkidul.
T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi? Apakah karena pengaruh P2KP-DT? I : Iya. Tidak semua dari P2KP-DT. Karena banyak program lainnya. Tapi P2KP-DT ya ada
manfaatnya.
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut? I : Punya rencana. Dalam bentuk pengembangan usaha.
T : Apakah KMUP memiliki strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan? I : Iya, dikembangkan dan dikaitkan dengan networking mitra swasta KMUP.
T : Apakah Tim Pusat mengawasi persiapan pelaksanaan? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
I : Lima kali dari mulai koordinasi tingkat provinsi, kabupaten, dan KMUP. Survei sampai ke lokasi. Persiapan pelaksanaan, pelaksanaan, dan pelestarian manfaat Tim Pusat masing-masing sekali datang mengawasi pelaksanan. Terus yang dua lagi untuk koordinasi.
T : Apakah Tim Provinsi mengendalikan persiapan pelaksanaan? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
I : Iya juga. Di semua proses, seperti persiapan pelaksanaan sekali, pas pelaksanaan, dan pelestarian manfaat Tim Provinsi datang mengendalikan persiapan pelaksanaan masing-masing sekali.
T : Apakah Tim Provinsi melaporkannya ke Tim Pusat? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
I : Iya, dalam bentuk laporan resmi dalam bentuk buku.
T : Apakah Tim Kabupaten mengendalikan persiapan pelaksanaan? Berapa kali dan sejauh apa? Bagaimana dengan proses pelaksanaan dan pelestarian manfaat?
I : Ya, kurang lebih 20 kali kita mengendalikan ke lokasi. Empat kali di tiap kecamatan. Kita datang waktu persiapan, pelaksanaan pasti, waktu pelestarian manfaat kita jg kontrol.
T : Apakah Tim Kabupaten melaporkannya ke Tim Provinsi? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
I : Ya, bentuknya juga laporan resmi dalam bentuk buku, isinya ada semua tahapan persiapan, pelaksanaan, dan pelestarian manfaat kegiatan.
T : Apakah Tim Kabupaten melaporkannya ke Tim Pusat? Dengan cara apa? Apakah laporan dilakukan di tiap tahapan?
I : Ya, sama seperti ke Tim Provinsi. Kita tiap persiapan, pelaksanaan, dan pelestarian manfaat buat laporan. Setelah dari provinsi, dikirim ke pusat.
T : Apakah Inspektorat KNPDT mengawasi seluruh kegiatan? Sejauh apa?
I : Dua kali. Awal dan akhir. Mekanismenya memang inspektorat KNPDT sendiri yang mengawasi.
T : Apakah perbedaan antara pengendalian Tim Provinsi dengan Tim Kabupaten?
I : Provinsi itu dasarnya data administrasi. Rencana kerja dan jadwal. Kalau kabupaten sampai ke lapangannya dan berdasarkan rencana kerja. Juga jadwal dan kegiatan insidentil di lapangan. T : Apakah sistem ini berfungsi dengan baik dan berguna bagi perbaikan impelementasi kegiatan? I : Ya, sangat berguna.
T : Apakah Tim Pusat memantau pelaksanaan tiap 3 bulan?
I : Ini bukan per 3 bulan tapi per tahapan. Karena anggarannya datang 3 kali, Juni sampai Desember dibagi 3 kali. Kadang-kadang belum ada anggaran, kesini juga. Jadi menyesuaikan dengan keadaan anggaran di daerah agar kunjungannya tidak merepotkan daerah. Kendalanya di faktor anggaran saja.
T : Apakah Tim Pusat mengevaluasi pelaksanaan? Apakah langsung berguna?
I : Iya sangat berguna, karena langsung diberikan koreksi. Pusat kan memberitahu yang kurang apa. Mereka mengevaluasi tapi sebatas yang umum saja. Sesuai tidak dengan Pedoman, sesuai tidak dengan visinya. Mengingatkan saja sebenarnya, tapi semua diserahkan ke daerah. Tapi di Gunungkidul itu berusaha supaya konsepnya tidak menyimpang. Dan tahun ketiganya sebenarnya sudah mulai pengembangan investasi. Caranya administrasi sudah dilatih, sarana produksi ada, kantor ada. Tinggal hadirkan pengusaha kambing, lele, ikan.
T : Apakah Tim Provinsi memantau pelaksanaan tiap bulan? Sejauh apa? I : Tidak, tapi per triwulan.
T : Apakah Tim Provinsi mengevaluasi pelaksanaan? Apakah langsung berguna? I : Ya.
T : Apakah Tim Provinsi memverifikasi laporan Tim Kabupaten tiap bulan? I : Verifikasi laporan dilakukan per tahapan.
I : Iya kabupaten memantau per bulan, dan secara intens langsung ke lokasi KMUP.
T : Apakah Tim Kabupaten melaporkan pelaksanaan ke Tim Provinsi dan Tim Pusat tiap bulan? I : Tidak per bulan tapi per tahapan.
T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat Gunungkidul?
I : Benar berguna, tapi di tingkat desa dan kecamatan. Kalau Gunungkidul belum, karena ini kan 18 kecamatan di Gunungkidul, yang dapat hanya 5 kecamatan, yang menjadi kantong kemiskinan. Miskin itu dari ekonomi, infrastruktur, dan pendidikan. Kalau melalui P2KP-DT dan swadaya sedikit, untuk mengatasi ketiganya juga belum signifikan. Tetapi setidaknya di level desa sudah ada suatu dinamika. Wawasan yang diberikan tenaga pendamping tentang inovasi, itu juga menggugah kemauan untuk produktif.
T : Apakah kelebihan /kekurangan P2KP-DT di tahun 2006?
I : Saya tidak bisa menilai. Kekurangannya ya kapal itu. Kelebihannya ya kita sudah mengikuti yang ada di Pedoman Umum.
T : Saran untuk P2KP-DT di tahapan selanjutnya atau masa yang akan datang?
I : Konsep harus disesuaikan dengan arah dan sasaran konsep awal, karena sekarang ada yang bias sedikit.
T : Yang terakhir Pak, siapa yang sebaiknya saya wawancarai setelah ini untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam mengenai program ini?
I : Bisa ke Pak Martin. Atau langsung juga ke kelompok-kelompoknya. Di provinsi ada Bu Maya, di pusat banyak ada Pak Jamal, Bu Endang, Mas Iwan.
II. Tanggal : Selasa, 20 November 2007
Nama : Slamet
Jabatan : Ketua KMUP Sidorejo, Dusun Bengle, Desa Pucung, Kecamatan Girisubo
Tantri (T) : Apakah peran tiap pihak di sosialisasi dan workshop terlaksana dengan benar dan baik?
Slamet (S) : Sosialisasi saya datang. Workshop di kabupaten juga ikut sebagai peserta. T : Apakah KMUP mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana?
S : Kita mengikuti perkembangan yang lama. Kalau masalah wilayah sendiri wawasannya masih kurang. Tapi kalau cara P2KP-DT sudah paham.
T : Bapak mengikuti proses lelang dan penerimaan?
S : Kita hanya terima jadi. Istri saya yang mengurus. Kalau proses lelangnya sendiri tidak mengerti.
T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?
S : Sering. Kadang-kadang di Bappeda Kabupaten, kadang-kadang disini dengan anggota-anggota.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan KMUP? S : Karena belum dapat kapal, jadi belum bisa dibantu pembinaan keuangan.
T : Oh begitu ya Pak. Jadi yang langkah-langkah selanjutnya seperti mitra pengembangan usaha dan investasi juga belum ada?
S : Sudah ada mitra usaha dan investasi sendiri.
T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi? S : Ada peningkatan hasil dan pendapatan.
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?
S : Kalau nanti kapal diterima, terserah anggota perkembangannya bagaimana. Alat tangkap nelayan itu kan banyak. Ada jaring, pancing. Nanti untuk manajemen juga ada. Pendapatan. Pokoknya bagaimana agar usaha KMUP tidak punah.
T : Apakah dana bantuan penyiapan usaha dan kelembagaan kelompok berguna? S : Kita terima dananya. Untuk mengembangkan sementara kapalnya belum datang. T : Apakah Tim Pusat, Provinsi, dan Kabupaten pernah berkunjung?
S : Pernah. Tim Pusat 2 kali. Tim Provinsi 3 kali. Tim Kabupaten sering. T : Apakah tim-tim tersebut mengevaluasi pelaksanaan?
S : Saran itu pasti. Sementara ini ya masukan saja.
T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat sekitar?
S : Sangat masuk untuk usaha saya. Banyak wawasan yang menjadi masukan baru. Ke depannya juga perlu tambahan wawasan.
T : Saran untuk P2KP-DT di tahapan selanjutnya?
S : Saya rasa sementara ini baik. Kekurangannya masih banyak, dari segi apapun dan alat. Sementara ini untuk perkembangan. Tapi nanti kalau sudah berjalan, perlu relasi lagi. Program ini ya sudah bagus. Tapi kapal ini saya minta secepatnya direalisasikan.
III. Tanggal : Rabu, 21 November 2007
Nama : Sumadi
Jabatan : Ketua KMUP Harapan Mulya, Dusun Dawang, Desa Serut, Kecamatan
Gedangsari
Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?
Sumadi (S) : Iya, pernah sebagai peserta. Pelatihannya di kecamatan, tanggal 22 Oktober. KMUP diajak pelatihan di Yogya 1 hari, lalu studi banding ke Purwokerto. Tanggal 28 Oktober pelatihan 1 hari, lalu studi banding ke Cilacap. Sebanyak 8 orang peserta. T : Apakah Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana?
S : Kalau bantuan itu belum ada. Kalau ilmu pengembangan lele sudah, tapi modal pokok belum ada. P2KP-DT dibantu lele dan pakan, itu sudah saya kelola semua. Dananya ada tapi sedikit. Itu waktu itu diberikan dari kabupaten tapi belum bantu banyak. Mekanismenya ya tidak mengerti, langsung dari kabupaten saja.
T : Apakah dana bantuan pengelolaan ada?
S : Belum ada. Yang ada bantuan untuk penyiapan kelembagaan kelompok. T : Apakah ada fasilitasi pengelolaan kawasan produksi?
S : Iya ada.
T : Apakah Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan? S : Kalau administrasi juga ada.
T : Apakah ada mitra pemasaran dan investasi?
S : Sudah ada. Pak Handoyo di Playen untuk pemasaran dan bibitnya. Kalau investasi baru sebatas mengajukan proposal.
T : Berapa lama sampai akhirnya bantuan pakan lele habis?
S : 2,5 bulan. Kondisinya baik. Setelah itu beli sendiri karena 2,5 bulan itu sudah panen. Hasilnya bergulir untuk beli bibit dan pakan lagi.
T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi?
S : Sungguh-sungguh ada dan sungguh membantu. Yang membeli lele itu sampai langsung ada yang datang kesini dari Klaten, 5-10 kg.
T : Berapa kali Tenaga Pendamping datang untuk memberikan latihan pengelolaan? S : Bisa 1-2 kali dalam 1 bulan.
T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi pasar?
S : KMUP saya sudah mencoba cari pedagang ke Yogya. Tapi harga terbaik di Playen. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi teknologi peningkatan mutu? S : Ada. Bahkan sampai pembuatan bibit sendiri.
T : Apakah tim-tim pusat, provinsi, dan kabupaten pernah datang.
S : Pernah. Mei akhir. Tim Pusat, Provinsi, dan Kabupaten datang berbarengan ketika persiapan pelaksanaan.
T : Dimana penyerahan bibit lele dan pakan dilakukan?
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?
S : Ya, seperti mencari pasar yang lebih bagus, bertemu dengan pembudidaya yang lebih pandai untuk bertukar pikiran. Dan juga bertemu dengan ahli perikanan dari Gajah Mada.
T : Apakah KMUP memiliki strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan?
S : Harapan KMUP saya ingin membuat kolam yang bagus dan permanen. Jadi nanti kemarau air tetap ada dari tampungan hujan.
T : Apakah manfaat P2KP-DT bagi KMUP?
S : Mendorong semangat petani. Sebelum bantuan, istilahnya tidur-tidur saja. Setelah ada bantuan, bekerja keras.
T : Apakah ada kelebihan/kekurangan P2KP-DT?
S : Yang betul itu kekurangan. Seharusnya ada bantuan induknya, atau paling tidak ilmu pembuatannya. Harapannya ya ada bantuan lebih lagi untuk kolam yang bagus.
IV. Tanggal : Rabu, 21 November 2007
Nama : Darto Miyono dan Sirom
Jabatan : Ketua dan Sekretaris KMUP Sridadi, Dusun Jambon, Desa Hargomulyo,
Kecamatan Gedangsari
Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?
Sirom (S) : Waktu itu diundang ke Bappeda, diberi penjelasan oleh Pak Iriawan, tentang bagaimana pengelolaannya. Karena tidak bisa mengandalkan perikanan laut saja, sehingga diwujudkan di lele itu. Pembinaan juga ada di kecamatan.
T : Apakah setelah itu Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana? S : Kita tahunya dapat bantuan dari pemborong. Kalau banyaknya belum dijelaskan. Tapi
dijelaskan dapat bibit lele dan pakannya. Setelah pembinaan di kecamatan, diberi 14.000 ekor. T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?
Darto (D) : Dulu bahkan pernah 2 kali dalam seminggu. Tapi itu dulu. Sekarang sudah ada kelompok lain yang baru.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan?
S : Pak Martin sering memberitahu sebaiknya begini jalannya. Tapi ya maklum kelompok ini masih semampunya saja. Kita juga suka musyawarah bagaimana caranya biar ini jangan sampai mati.
T : Apakah ada dana bantuan berupa uang?
S : Ada, itu Rp 750.000,00. Untuk administrasi dan penyiapan kelompok. Hasilnya lemari ini. T : Apa ada informasi teknologi peningkatan mutu lele?
S : Di samping dari tenaga pendamping, saya juga bicara dengan dinas-dinas. Kalau untuk mempercepat tumbuhnya lele, ada juga, tapi saya belum memakai. Itu 50 hari sudah bisa panen.
D : Waktu dibantu pertama kali, 2 bulan 12 hari satu ekor lele sudah 9 ons. Tapi ketika kedua kalinya, air sudah susah, jadi hasilnya wajar saja. Maunya itu ada pompa. Jadi kan untuk mengambil air lebih mudah.
T : Apakah Tenaga Pendamping memilih anggota penerima manfaat? D : Iya. Dari 12 orang anggota kelompok, 7 orang yang diberi bantuan.
S : Setelah diberi bantuan itu, banyak orang yang ikut bersemangat juga. Jadi kita seperti memberi suri tauladan tanpa menyuruh orang lain harus berbuat apa. Orang lain jadi ikut memelihara lele juga. Bahkan tidak hanya dari KMUP ini. Sridadi juga menularkan sampai ke Ngasinan. Setelah dia melihat panen Sridadi, dia pulang dan membuat kolam, memelihara lele juga.
T : Apakah ada dana bantuan pengelolaan usaha komoditi?
S : Tidak ada. Kita hanya memakai daun katuk, dimasukkan saja ke kolam. T : Apakah ada peningkatan usaha produksi?
S : Ada peningkatan, tapi lihat situasinya. Kalau musim hujan, kita tabur banyak, saat itu ada peningkatannya. Ketika kemarau, kalau kita tabur banyak itu rugi.
T : Apakah KMUP memliki mitra pemasaran?
S : Alhamdulillah, untuk disini saja sudah cukup. Ada juga tengkulak dari luar. Pemasaran tidak ada kendala.
T : Bagaimana dengan investasi? S : Ini baru melobi, baru coba-coba.
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?
S : Kemarin ini mengajukan proposal untuk pinjaman APBD ke dinas. Selain itu KMUP ini juga jangan sampai terputus, jadi bisa digulirkan ke anggota lainnya.
T : Apakah ada mitra pengembangan produksi?
S : Masih sebatas di antara kelompok saja, belum ada mitra. T : Bagaimana strategi pengembangan usaha ke depannya?
S : Kalau sekarang kan paling banyak 1 orang 2 kolam. Ke depannya 1 orang 3 atau 4 kolam. Jadi kalau saat ini kolam I panen, minggu berikutnya kolam II. Jadi mempunyai keinginan untuk meningkatkan.
D : Syukur-syukur kalau didukung terpal. Tanah disini resapannya banyak. Kalau ada terpal kan hanya menguap tidak meresap.
T : Apakah pernah ada kunjungan dari tim-tim?
S : Dari Jakarta belum. Yang ada dari Tim Provinsi 1 kali, ketika persiapan. Tim Kabupaten juga sekali-kali datang.
T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat sekitar?
D : Kita senang sekali. Kita diberi modal untuk mengembangkan lele ya sangat senang sekali. Dulu kolam saya hanya satu. Setelah ada bantuan saya bikin lagi. Dampaknya di masyarakat itu, pertama, mereka ikut memelihara lele. Kedua, yang tidak punya kolam pun bisa membeli untuk konsumsi.
T : Kelebihan atau kekurangan Program P2KP-DT?
S : Kalau ini bisa berkelanjutan, itu sudah bagus. Cuma kurang banyak saja. Sehingga kalau banyak kan kita bisa mengembangkan lebih banyak lagi. Juga kekurangan sarana pendukung seperti terpal dan pompa diesel sehingga bisa mengefisienkan air.
V. Tanggal : Kamis, 22 November 2007
Nama : Supandi
Jabatan : Ketua KMUP Gemah Ripah, Dusun Karangnongko, Desa Giripurwo,
Kecamatan Purwosari
Tantri (T) : Apakah sosialisasi dan workshop pernah diadakan? Supandi (S) : Iya. Keduanya datang.
T : Apakah Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana?
S : Iya. Pertama, memang untuk Kecamatan Purwosari sudah ditunjuk KMUP yang berprestasi. Kami sudah mengikuti lomba tingkat kabupaten dua kali. Keduanya juara III. Makanya saya terpanggil ketika diberitahu akan ada bantuan. Sudah ada penjelasan juga bahwa itu lewat pemborong. Cuma secara keseluruhan saya tidak mengerti.
T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan fasilitasi pengelolaan?
S : Oh iya. Dalam pemberian keterangan kepada teman-teman kelompok. Harapannya kan ada peningkatan. Jadi cara pemeliharaannya sudah diuraikan. Tidak hanya sekali dua kali. Jadi suka menengok untuk melihat perkembangan KMUP.
T : Apakah ada mitra pemasaran?
S : Iya. KMUP tinggal menerima laporan saja. Yang memasarkan orang lain. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan info teknologi peningkatan mutu? S : Tidak ada. Yang ada dari dinas, yaitu persiapan tanaman penghijauan dan kandang. T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi setelah adanya bantuan?
S : Untuk KMUP kami, kambingnya lemas-lemas. Lantas ada yang sakit. Kemudian ditukar dengan kambing yang lebih besar.
T : Apakah ada mitra investasi? S : Belum ada mitra investasi.
T : Apakah ada bantuan lainnya berupa uang?
S : Tidak ada yang untuk pengelolaan. Kecuali untuk biaya administrasi Rp 750.000,00. T : Apakah ada Rencana Tindak Lanjut?
S : Kita merencanakan peralatan untuk kelompok. Meja, lemari, rencananya begitu. Kita juga rencana membuat kantor pertemuan.
T : Apakah pernah ada kunjungan dari tim-tim pusat, provinsi, atau kabupaten? S : Itu dari pusat, provinsi, dan kabupaten di awal sekali secara bersamaan. T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina keuangan KMUP?
S : Ada cara-caranya lewat pembinaan oleh Pak Martin.
T : Bagaimana manfaat P2KP-DT ke KMUP dan masyarakat sekitar?
S : Agar ada peningkatan perekonomian dan mudah-mudahan bisa menggulirkan ke orang-orang lain. Sekarang kambingnya ya sehat-sehat setelah ditukar. Kalau sebelumnya ya sakit-sakit. T : Apa ada saran untuk peningkatan P2KP-DT di masa yang akan datang?
VI. Tanggal : Kamis, 22 November 2007
Nama : Harsa Sentana
Jabatan : Ketua KMUP Tani Widodo, Dusun Dondong, Desa Jetis, Kecamatan Saptosari
Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?
Harsa (H) : Iya. Sosialisasi ada. Workshop juga waktu itu pernah diadakan. T : Apakah setelah itu Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan penyaluran dana?
H : Sebetulnya itu pinjaman bergulir. Namun sampai sekarang ada yang sudah beranak tapi ada yang belum. Pertama, karena terlalu kecil. Kedua, kebetulan mungkin di pemborong terlalu lama, jadi ada yang sakit. Yang jelas ada kekurangan pendampingan kesehatan. Penyaluran dana itu saya tidak mengerti alurnya. Tahunya sudah bentuk kambing saja.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping melakukan fasilitasi pengelolaan kawasan produksi?
H : Ya tentang tata cara pemeliharaan kambing. Tentang keadaan maju dan mundurnya kelompok.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina keuangan KMUP? H : Ya walaupun tidak ada pembinaan, tapi saya sendiri sudah tahu. T : Apakah sudah ada mitra pemasaran?
H : Belum ada. Hanya dari anggota KMUP saja. Banyak pemasarannya. Di Pasar Dondong ada. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi pasar?
H : Tentang pasar tidak ada masalah.
T : Berapa orang di KMUP yang menjadi penerima bantuan?
H : Anggotanya ada 20. Yang mendapat itu 11 orang. Jumlahnya per anggota 8 ekor. T : Apakah ada mitra pengembangan produksi?
H : Selama ini masih bisa ditangani anggota sendiri, jadi tidak ada. T : Apakah KMUP mengalami kemajuan usaha produksi?
H : Otomatis ada kemajuan. Sudah ada bunganya, istilahnya begitu. Kambingnya 80% sudah beranak.
T : Apakah ada Rencana Tindak Lanjut?
H : Otomatis ada. Di pertemuan kelompok itu sudah ada rancangan program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang. Yang pertama tentang kemajuan kelompok, jangka pendeknya diadakan kerjasama yang keuntungannya untuk semua warga. Yang menengah, untuk kandangnya setiap minggu diadakan pembersihan lingkungan. Jangka panjangnya akan diadakan tempat pertemuan sendiri. Tapi masih terbatas dana.
T : Apakah ada bantuan administrasi kelembagaan kelompok? H : Iya, itu perlu. Tapi lebih perlu lagi untuk kesehatan.
T : Apakah ada kunjungan dari tim-tim pusat, provinsi, dan kabupaten?
H : Iya, dari pusat ada 2 kali. Malah ada yang penanggung jawab program regional Jawa-Bali itu. Dari provinsi dan kabupaten juga ada. Bersamaan dengan yang dari pusat. Waktunya di awal dan pertengahan program ketika bantuan sudah datang. Yang kedua itu Maret.
H : Bagi KMUP itu suatu anugerah. Yang pertama keuntungannya itu disini banyak rumputnya sehingga berguna. Kedua itu, warga banyaknya petani. Petani Gunungkidul kalau tidak menggunakan kompos itu tidak akan berhasil. Yang ketiga, kambingnya sudah beranak. Dampaknya banyak sekali. Bagi saya bermanfaat sekali. Yang keempat itu, menyemangatkan kelompok. Setiap ada gerakan, ada suatu kebersamaan. Kelompok lainnya juga ikut tergerak agar bisa mendapatkan bantuan.
T : Saran atau kritik Bapak untuk P2KP-DT di masa yang akan datang?
H : Terima kasih karena KMUP kami ada peningkatan. Untuk bantuan yang akan datang, mohon ada pendampingan tentang kesehatan dan pengobatan. Jadi jangan sampai pengobatannya seperti saya sampai 800 lebih. KMUP kami juga ingin membuat gedung pertemuan tapi sampai sekarang itu terbentur dana. Kalau dinas yang terkait itu mohon bisa memberi bantuan langsung.
VII. Tanggal : Kamis, 22 November 2007
Nama : S. Wardiyo
Jabatan : Ketua KMUP Tani Wijaya, Dusun Timunsari, Desa Hargosari, Kecamatan
Tanjungsari
Tantri (T) : Apakah Bapak mengikuti sosialisasi dan workshop?
Wardiyo (W) : Ya, pertamanya itu KMUP ini terpilih untuk menerima bantuan. Pelatihan awal itu ada.
T : Apakah Bapak mengerti teknis pelaksanaan dan penyaluran dana?
W : Ya memang pada saat sosialisasi awal dijelaskan bahwa itu lewat rekanan. Lengkapnya saya tidak terlalu mengerti. Tentang dananya itu saya tahunya dapat saja. Kalau soal dana waktu itu diberikan untuk administrasi sekitar Rp 750.000,00. Itu saja.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memfasilitasi pengelolaan kawasan produksi?
W : Jadi sebelum kambing itu datang kami diajak studi banding ke kelompok lain. Kami meniru kandang panggungnya. Pak Agung dan Pak Martin ini membimbing kelembagaannya, keorganisasiannya, dan mengarah ke budidaya. Meskipun tidak sedemikian detail, tapi kami tidak menyalahkan pendamping. Sumberdaya KMUP kami juga kurang. Jadi grafik perkembangannya rendah sekali. Dan karena dulu lewat rekanan, mungkin kambingnya terlalu banyak. Jadi ketika datang, kambingnya stres dan sakit. Ketika datang juga pakan belum ada karena kemarau di Desember. Kambing ini sendiri diarahkan ke urinenya untuk pupuk organik.
T : Apakah KMUP mengalami kemajuan produksi?
W : Sekarang sudah banyak yang beranak. Tapi awalnya 3 bulan ketika kambing baru datang itu sulit sekali. Kami ini juga dipercaya menjadi pengecer pupuk organik.
T : Apakah KMUP memiliki mitra usaha pemasaran?
W : Yang bagus itu pupuknya. Jadi dengan memelihara kambing itu manfaatnya yang bisa dirasakan sekarang itu ya pupuknya selain hasilnya yang lain. KMUP itu juga sudah memiliki seksi pemasaran. Ada bagian-bagiannya sendiri, seperti kesehatan juga. Karena bantuan ini sifatnya untuk digulirkan ke anggota lain, jadi hasilnya belum dipasarkan, tapi diberikan ke anggota lain. Ya sekarang ini jadi pemasaran belum seperti yang diharapkan.
T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan info pasar?
W : Pesanan sudah banyak, kambing dan pupuk. Pupuk untuk sekitar sini juga masih kurang. Kalau kambing masih untuk digulirkan lagi. Untuk penjualannya, kalau KMUP ini sudah bagus, kalau ada yang memesan, bisa lewat KMUP. Harga dan lainnya nanti dikendalikan. T : Apakah KMUP memiliki mitra investasi?
W : Sebenarnya banyak. Orang-orang kaya disini juga suka menanamkan modal. Nanti bagi hasil. T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi?
W : Tidak ada. Masih dari kelompok sendiri.
W : Tim P2KP-DT Kabupaten sering pemantauan. Dua atau tiga kali selama 6 bulan itu. Pusat dan Provinsi pernah ketika sosialisasi. Harapannya memang memberikan pengarahan. Setiap tamu yang datang, kami mohon dikritik dan diberi pengarahan.
T : Bagaimana manfaat P2KP-DT untuk KMUP dan masyarakat?
W : Kambing ini mudah dipelihara dan dapat terintegrasi dengan kegiatan lain di KMUP. Harapannya bisa menghidupi keluarga kami dan bisa menjadi contoh bagi orang lain. Kalau memelihara kambing dengan baik dan benar akan meningkatkan pendapatan. Bisa membawa ke kegiatan lain yang lebih maju juga, tanaman menjadi lebih bagus.
T : Saran untuk pelaksanaan P2KP-DT di masa yang akan datang?
W : Harapan kami untuk kambing ini harus dilestarikan. Untuk KMUP yang akan datang, sebaiknya ada dana untuk rehab kandang. Penggarapan kemiskinan ini juga harus terpadu antardinas yang terkait. Pertanian, peternakan harus ikut di dalamnya. Jangan dibebankan kepada KNPDT saja. Harus ada keterpaduan dan ada tekad bersama untuk menanggulangi kemiskinan. Terakhir, pendampingan secara berkelanjutan. Seperti inkubator. Dikasih tapi kalau dilanjutkan tidak ada pendampingan kan bisa mati. Jadi digiring terus menerus sampai bisa berjalan.
VIII. Tanggal : Kamis, 22 November 2007
Nama : Ir. Martin Sumbaga
Jabatan : Tenaga Pendamping Program P2KP-DT Kabupaten Gunungkidul
Tantri (T) : Apakah semua pihak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya?
Martin (M) : Kalau yang saya lihat dari proses lelang memang sudah terpilih rekanan yang siap pengadaan. Semuanya sudah baik. Hanya masalah kapal itu saya juga tidak tahu. Dananya sudah ada tapi tidak berhasil. Saya tidak tahu.
T : Apakah peran tiap pihak di sosialisasi dan workshop terlaksana dengan baik dan benar? M : Saya tidak tahu karena belum dipekerjakan saat itu.
T : Apakah Tim Kabupaten bekerja dengan baik?
M : Kemarin itu kan waktunya sangat singkat. Hasilnya memang bisa tercapai semacam itu ya saya lihat sudah luar biasa. Meskipun karena kegiatannya baru pertama kali. Jadi masih ada kekurangannya. Saran saya agar ada suatu kebersamaan. Jangan memikirkan yang lain-lain. Tujuannya ya memang untuk mengembangkan daerah tertinggal. Jadi jangan ada kepentingan dari instansi lain.
T : Apakah Bapak mengerti tentang proses pengadaan dan penerimaan?
M : Tidak ikut tapi saya tahu itu timnya ada dari Dinas Perikanan dan Peternakan. Pengumumannya ada di koran. Seleksinya saya tidak tahu karena kami tidak ada di tim penerimaan. Tapi lelang dan penerimaan juga dilakukan oleh orang yang berbeda.
T : Apakah Tenaga Pendamping bukan aparat pemerintah? M : Bukan.
T : Apakah Tenaga Pendamping lulusan minimal D3?
M : Saya lulusan S1 dari Pertanian UGM. Mas Agung dari Manajemen. T : Apakah Tenaga Pendamping lulus seleksi? Seleksi seperti apa?
M : Itu ada semacam wawancara dan diskusi tentang wawasan dan pengetahuan umum daerah. Kebetulan saya dari dulu sudah menjadi tenaga sukarela dari Dinas Tenaga Kerja.
T : Apakah Tenaga Pendamping tinggal di Gunungkidul? M : Iya.
T : Apakah Tenaga Pendamping berusia di bawah 40 tahun? M : Waktu itu 40 kurang sedikit.
T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?
M : Tiap KMUP rata-rata sebulan 1 atau 2 kali. Bentuknya diskusi. Jadi saya memberikan suatu paparan dulu, setelah itu didiskusikan. Mereka juga mencatat hasilnya. Membicarakan kondisi lingkungan dan sebagainya. Setelah tertarik mereka juga jadi terbuka untuk diskusi. Sebelum ini mereka belum tahu banyak tentang budidaya.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan KMUP?
M : Yang mempunyai tugas itu Pak Agung. Dia memberitahu cash flownya bagaimana. Kalau masalah itu sebenarnya di KMUP sudah ada dasarnya. Kemarin itu juga ada bantuan
buku-buku untuk daftar-daftar. Ada yang keuangannya juga sudah bagus. Kita tinggal tambahkan wawasan saja.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memantau penyaluran dana dari KMUP ke anggota?
M : Dana uang itu sebenarnya kecil. Hanya untuk pembangunan kelembagaan sebesar Rp 750.000,00. Dari Bappeda juga ikut mengawasi.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina usaha pembangunan kawasan produksi? M : Mereka ada studi banding dan pelatihan. Kendalanya itu kalau kambing banyak yang sakit. T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi tentang pasar?
M : Untuk kambing pasarnya sudah terbuka. Setiap desa ada blantik yang mengumpulkan kambing untuk dijual. Kalau lele sudah ada di Playen. Pemasaran ikan juga sudah ada jalurnya sendiri.
T : Apa saja informasi perkembangan teknologi peningkatan mutu yang diberikan?
M : Itu bekerjasama dengan dinas. Misalnya lele dengan Dinas Perikanan. Kambing dari Dinas Peternakan.
T : Apakah Tenaga Pendamping membuat daftar kunjungan?
M : Biasanya saya membuat suatu daftar sudah kemana saja, membahas apa saja. Lalu dibuat rekapnya dan dilaporkan ke kabupaten.
T : Apakah Tenaga Pendamping membuat laporan ke Tim Kabupaten tiap akhir bulan?
M : Saya buatnya tiap akhir periode. Atau tiap bulan juga ada tapi sifatnya masih kasar. Karena tidak ada aturan dari kabupaten kunjungan harus berapa kali per bulannya, tapi diusahakan tiap pertemuan KMUP kita hadir.
T : Apakah dana bantuan mencukupi?
M : Sebenarnya masih kurang. Itu sifatnya kan hanya stimulan.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memilih anggota penerima manfaat?
M : Saya kerjasama dengan beberapa instansi dari kecamatan, kelurahan, mantri hewan. Kan ada kriterianya. Kita memilih bersama-sama.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memberikan latihan pengelolaan?
M : Arahnya itu bagaimana supaya bisa berkembang dan digulirkan. Kalau kambing kan periodenya panjang. Lele itu kan hanya 2-3 bulan. Kalau sudah panen, ada yang disisakan. Itu boleh digunakan sendiri atau digulirkan ke anggota lain. Untuk kapal memang belum ada. Baru ada semacam rancangan nantinya kalau sudah ada kapal, pembagiannya bagaimana. Yang harus dibangun itu juga motivasi dan mental KMUP. Kita juga coba mengembangkan potensi daerah lainnya. Seperti tanaman yang ada di daerah tertentu, kecap, tiwul.
T : Apakah KMUP menerima bantuan teknis manajemen usaha budidaya? M : Tidak. Yang ada hanya bantuan untuk administrasi.
T : Apakah KMUP memiliki mitra usaha pemasaran? M : Sudah ada mitra-mitranya. Blantik itu.
T : Bagaimana kondisi bantuan kambing dan lele?
M : Ya pada dasarnya berkembang. Hambatan di kambing itu ada yang sakit. Lele itu susah air. T : Apakah dana bantuan penyiapan usaha dan kelembagaan kelompok berguna?
M : Ya diterima, biasanya untuk membuat lemari, rak, dan tikar untuk pertemuan. T : Apakah dana bantuan pengelolaan usaha komoditi berguna?
M : Tidak ada itu dana pengelolaan usaha komoditi.
T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan produksi? M : Sejauh ini belum ada. Tapi harapannya memang kesana nanti. T : Apakah KMUP memiliki mitra pengembangan investasi? M : Belum. Baru rencana saja.
T : Apakah KMUP mengelami kemajuan usaha produksi? Apakah karena pengaruh P2KP-DT? M : Pengaruh dari program jelas ada. Mereka jadi tertarik dan semangat. Yang kolamnya tadinya
dari tanah sekarang sudah kavling. Kambing yang tadinya kecil ditukar dengan yang besar. Kemunduran tidak ada. Satu atau dua KMUP memang ada yang jalan di tempat.
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?
M : Bantuan program itu diberikan sebagai modal dasar. Yang dipilih itu yang mempunyai kemampuan dan ada jaminan. Saat ini ada yang terus dipercaya sebagai penyalur pupuk, bibit lele. Ini adalah salah satu efek samping dari program.
T : Apakah proses pelaporan dari kabupaten ke provinsi dan pusat berjalan dengan baik dan benar?
M : Saya tidak tahu. Saya hanya di lapangan.
T : Apakah tim yang berkunjung mengevaluasi keseluruhan pelaksanaan program?
M : Ya, itu langsung di lapangan. Kan kita diskusi dengan KMUP. Kalau ada masalah langsung dicari jalan keluarnya saat itu juga.
T : Apakah Tim Provinsi mengendalikan juga?
M : Mereka kan menerima laporan dari kabupaten. Baru bereaksi.
T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat?
M : Jelas memang sangat bermanfaat bagi KMUP. Status KMUP juga meningkat di mata mitra usaha yang lain. Membuka pekerjaan minimal untuk dirinya sendiri. Kambing bisa menghasilkan pupuk, bisa untuk tanaman. Yang harusnya beli pupuk jadi tidak beli. Karena mereka juga petani.
T : Kelebihan atau kekurangan P2KP-DT di tahun 2006?
M : Kelebihannya itu kan langsung ke masyarakat. Tidak lewat mana-mana. Sehingga sasarannya lebih tepat. Kekurangannya kemarin itu di pengadaan. Karena melalui rekanan, ketika bantuan dikarantina sekaligus 800an ekor, kambing jadi ada yang sakit. Mungkin bisa bertahap pengadaannya. Dan ada pendampingan kesehatan. Kalau masalah kapal saya juga tidak mengetahui secara persis. Rekanan sudah ada tapi tidak terealisasi, saya juga tidak mengerti. T : Kenapa kapal yang seharusnya untuk 2006 tidak dilanjutkan di 2007?
M : Karena proses 2007 itu kan lebih lama. Kemarin itu kan waktunya sudah habis, jadi rekanannya dibatalkan. Untuk 2007 rekanannya baru lagi.
T : Saran untuk P2KP-DT di masa yang akan datang?
M : Pendampingan kesehatan, terutama penyediaan obat. Mantri hewan sudah ada, tapi tidak dilengkapi obat yang gratis.
IX. Tanggal : Jumat, 23 November 2007
Nama : Drs. Sjaifudin HS
Jabatan : Sekretaris Tim Pengadaan Barang Program P2KP-DT Kabupaten
Gunungkidul Tahun 2006
Tantri (T) : Apakah Tim Lelang membuat pengumuman lelang?
Sjaifudin (S) : Ya. Itu kita umumkan di media cetak, di Jawa Pos Yogya. Itu juga kita tempelkan di papan pengumuman Bappeda.
T : Apakah Tim Lelang melakukan seleksi pendaftar lelang?
S : Iya. Jadi mulai pelapor itu kasih, kita seleksi, kemudian kita suruh ikut mendaftar lelang. T : Apakah Tim Lelang membuat kontrak dengan pemenang?
S : Iya. Itu kan ada yang untuk pengadaan bibit lele, kambing, dan kapal. Semuanya ada sendiri. Jadi setiap kegiatan kita buat kontrak sendiri, tidak jadi satu.
T : Apakah Tim Penerimaan mengecek spesifikasi barang?
S : Ya. Setelah barangnya sudah ada, Tim Penerimaan diajak bersama-sama memeriksa barangnya di karantina. Lele di Muntilan. Setelah selesai, kebetulan kemarin itu kolamnya kan belum siap karena belum hujan. Setelah hujan, lele dikirim ke Gedangsari. Ketika pengiriman, Tim Penerimaan juga ikut memonitor. Apa spesifikasinya dan jumlahnya sudah sesuai. Termasuk yang kambing juga begitu. Kambing di Semanu. Tim mengecek umurnya, tingginya, jumlahnya. Baru dikirim ke kelompok masing-masing. Kalau kapal, kemarin setelah dicek, belum memenuhi syarat, akhirnya dibatalkan. Karena kemarin memang kontraknya itu waktunya tidak mencukupi untuk pembuatan. Tapi akan diusahakan. Kalau kemarin hanya 30 harian. Mau diusahakan. Tapi ketika akhir, baru berapa persen. Akhirnya kontrak dibatalkan.
T : Apakah Tim Penerimaan menandatangani berita acara serah terima?
S : Tim Penerimaan itu ada. Lalu ditandatangani juga oleh Kepala Bappeda selaku koordinator. Dan juga semua dikirim ke pusat ke Pejabat Pembuat Komitmen di KNPDT, Bu Endang. T : Apakah pengadaan dan penerimaan dilakukan oleh orang-orang yang berbeda? S : Iya. Panitia lelang ada sendiri. Dan panitia penerimaan juga ada sendiri. T : Apakah Tim Kabupaten bekerja dengan baik?
S : Kemarin kegiatan Tim Kabupaten belum maksimal. Karena semuanya dari Bappeda. Seolah-olah dari dinas teknis seperti Dinas Peternakan dan Pertanian kurang memberi masukan. Tapi ketika mau dilelangkan, ada koordinasi dengan dinas teknis mengenai spesifikasinya. Memang waktu itu dananya sudah hampir akhir tahun. Kelemahannya kemarin itu tentang kapal karena dari KNPDT minta semua harus tanda tangan. Tapi kapal belum selesai. Jadi disini timnya tidak mau menandatangani. Jadi dananya tidak bisa cair. Tim Penerimaan itu 7 orang. Kalau Tim Pengadaan 6-7 orang. Harusnya dari KNPDT itu bisa mempermudah pencairan.
T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat?
S : Kalau secara khusus ya memang bisa menambah pendapatan KMUP. Karena itu kan bisa dikembangkan. Dan saya dengar tahun ini juga ada lagi. Itu memang sangat bermanfaat,
terutama yang kambing. Kalau lele kan tergantung hujan. Dengan adanya penambahan income per capita secara tidak langsung juga mempengaruhi masyarakat, terutama di lingkungannya. T : Kelebihan atau kekurangan P2KP-DT tahun 2006?
S : Kelebihannya ya tujuannya itu, kan sudah ada. Kekurangannya dananya itu lambat sekali. Di tahun 2007 dananya juga tidak langsung awal tahun. Tahun 2006 itu padahal saya mau membuat lelang tapi kalau nanti ada pemenangnya dan dananya belum turun, yang mau bayar siapa? Tentang dana ke depannya itu harus ada kepastian. Pejabat Pembuat Komitmen juga sebaiknya dari kabupaten supaya lebih cepat.
X. Tanggal : Jumat, 23 November 2007
Nama : Maya
Jabatan : Ketua Bagian Teknis Tim Koordinasi dan Fasilitasi Program P2KP-DT
Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2006
Tantri (T) : Apakah semua pihak bertanggung jawab terhadap pekerjannya?
Maya (M) : Karena sudah ada aturannya, sejauh ini sudah pada jalurnya masing-masing. Tidak ada duplikasi pekerjaan. Semua sudah berjalan sesuai dengan tugasnya.
T : Apakah peran tiap pihak di sosialisasi terlaksana dengan benar dan baik?
M : Kalau tim provinsi itu, kita mengkoordinasikan dengan kabupaten. Pusat menginformasikan hal itu ke provinsi. Lalu kita mengkoordinasikan dengan kabupaten. Jadi teman-teman kabupaten kita ajak bersama-sama mendengarkan sosialisasi dari pusat. Sebelum sosialisasi di kabupaten dimulai, kita berkoordinasi dengan pusat.
T : Apakah peran tiap pihak di workshop terlaksana dengan benar dan baik? M : Iya, sama seperti sosialisasi.
T : Apakah KMUP mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana?
M : Sosialisasi itu dilakukan dari pusat, provinsi, hingga kabupaten. Disana sudah dijabarkan semua aturan mainnya. Pemahamannya cukup bagus. Semuanya sudah diterapkan. Dari awal kegiatan, ketika ada pelaporan di pertengahan, tidak jauh melenceng dari aturan.
T : Apakah Tim Kabupaten bekerja dengan baik?
M : Kalaupun kurang, pasti bertambah. Sejauh ini saya lihat bagus. Karena mereka menerima program ini dengan antusias, maka dijalankannya juga dengan baik. Saran saya ya karena tim ini terkait dengan lembaga, kalau ada orangnya yang dimutasi, informasi harus tetap sampai. T : Apakah Tim Pengadaan dan Tim Penerimaan melaksanakan lelang dan penerimaan dengan
baik?
M : Karena ini ada di aturan, jadi ya dilaksanakan. T : Bagaimana dengan penetapan Tenaga Pendamping?
M : Tenaga Pendamping semua dari kabupaten, kita hanya dilapori. Karena ada aturan, kita mencocokkan dengan aturan itu. Kita mengingatkan mereka mulai dari pemilihan Tenaga Pendamping dari lokasi setempat. Pada prinsipnya, mereka memenuhi semua aturan, tetapi mungkin kendalanya kalau dari lokasi itu susah dicari, bagaimana kalau tenaga pendamping itu dari kecamatan tetangga.
T : Bagaimana dengan kegiatan yang dilakukan Tenaga Pendamping? M : Saya tahunya dari laporan saja.
T : Apakah Tenaga Pendamping membuat laporan ke Tim Kabupaten tiap akhir bulan? M : Saya tidak tahu persis. Tapi setiap kabupaten melaporkan ke provinsi itu ada. T : Apakah Tenaga Pendamping sudah melaksanakan tugasnya dengan baik?
M : Yang saya dengar itu mereka cukup berperan. Paling tidak dia membuat KMUP jadi mengerti dan menjadi lebih baik.
M : Ya masih kurang. Tetapi karena sudah pagu dan batasnya sesuai ketentuan, sejauh ini bagus. Cuma kalau ada KMUP yang lebih aktif dan maju mempunyai ide lagi, nah itu butuh tambahan lagi. Penyalurannya juga sudah baik. Kalau tim provinsi dapat bantuan dari pusat, ya tidak ada masalah. Hanya pelaksanaannya saja yang agak susah, karena dana turunnya di tengah-tengah, sedangkan kita harus membuat laporannya dari kemarin-kemarin.
T : Bagaimana kondisi KMUP setelah adanya bantuan?
M : Kondisinya semakin baik dan aktif produksinya. Jadi ada kemajuan usaha. Kalau untuk mitra usaha pemasaran, ya sudah ada yang menampung. Tapi kalau mitra pengembangan produksi dan investasi belum ada. Belum sampai begitu.
T : Apakah kemajuan ini disebabkan Program P2KP-DT atau ada faktor lain? M : Ada faktor bantuan P2KP-DT juga. Tapi mereka juga aktif.
T : Apakah KMUP memiliki Rencana Tindak Lanjut?
M : Sepertinya di masing-masing KMUP ada usaha untuk maju, seperti menggulirkan bantuan. T : Apakah ada strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan?
M : Saya tidak tahu pasti, tapi kami dari sisi pembinaan. Kami ikut membina supaya semakin lama semakin baik.
T : Apakah Tim Pusat mengawasi pelaksanaan Program P2KP-DT?
M : Kalau Tim Pusat mengawasinya paling tidak sekali dalam 1 tahun anggaran. Kadang-kadang Tim Pusat langsung ke kabupaten tanpa memberitahu provinsi.
T : Apakah Tim Provinsi mengendalikan pelaksanaan Program P2KP-DT?
M : Kita tidak bisa tiap bulan. Tapi paling tidak per triwulan. Itupun karena ini tidak langsung melekat pada tupoksi, jadi ini seperti titipan. Kita kan hanya mementingkan apa yang ada di tupoksi kita.
T : Apakah Tim Kabupaten melaporkan pengendalian ke provinsi dan pusat?
M : Sama saja. Bahkan kadang mereka langsung berhubungan dengan pusat, tapi setelah itu kita diberitahu.
T : Apakah Tim Provinsi melaporkan pengendalian ke Tim Pusat?
M : Laporannya dibuat dalam satu buku, kemudian dikirim ke pusat. Dalam tiap tahun kegiatan, kita bikin satu di akhirnya.
T : Bagaimana laporan kabupaten diverifikasi oleh Tim Provinsi?
M : Laporan kabupaten kita terima per tahapan. Kita tindak lanjuti kendalanya apa, pemecahan solusinya bagaimana.
T : Apakah ada pengawasan dari Bawasda Provinsi?
M : Mereka biasanya mengawasi kegiatan yang terkait dengan APBD. Karena tidak tercantum dalam APBD, mereka tidak terlibat secara dalam. Karena di luar tugas mereka. Tapi kan waktu itu kabupaten ada pendampingan. Kalau itu lewat APBD, otomatis Bawasda mengawasi dan memeriksa dana tersebut.
T : Perbedaan pengendalian Tim Provinsi dengan Tim Kabupaten?
M : Tim Kabupaten itu pengendalian teknis, langsung ke kegiatan di KMUP. Kalau provinsi lebih kepada pembinaan kebijakan. Lebih ke tulisannya.
T : Apakah sistem pelaporan ini berfungsi dengan baik dan berguna bagi perbaikan implementasi kegiatan?
M : Ya, itu sudah baik. Karena sudah ada di aturannya. Yang susah itu harus menepati waktunya karena banyak kegiatan lain.
T : Bagaimana Tim Pusat melakukan evaluasi di lapangan?
M : Ada yang begitu. Mereka melihat kesalahan, langsung memberikan pembenarannya. T : Apakah P2KP-DT di tahun 2006 berguna bagi KMUP dan masyarakat?
M : Banyak manfaatnya karena langsung ke KMUP sebagai pelaku usaha. Banyak masyarakat yang lebih mempunyai kesempatan dan wadah untuk memberdayakan diri. Program ini bagus. Harapannya bisa ditindaklanjuti. Modal di awal kan stimulan. Sebaiknya kemudian mereka mengembangkan sendiri. Jangan tergantung bantuan.
T : Saran dan kritik untuk P2KP-DT di masa yang akan datang?
M : Koordinasi kurang. Pemahaman tentang tahapan kegiatan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten itu jadi berbeda. Persepsi harus selalu disamakan. Intinya koordinasinya harus lebih
intense. Kemudian kalau ada ketidaksesuaian kecil langsung ditindaklanjuti. Jadi tidak berlarut-larut.
XI. Tanggal : Senin, 26 November 2007
Nama : Ir. H. Jamaluddien Malik, MM
Jabatan : Koordinator Umum Tim Koordinasi Pelaksana Pusat P2KP-DT Tahun 2006
Tantri (T) : Apakah semua pihak bertanggung jawab dan melaksanakan pekerjaannya? Dan apakah kerangka kelembagaan berfungsi dengan benar?
Jamal (J) : Pelaksanaan sampai sekarang menurut saya iya. Dari pusat sampai ke kabupaten itu bekerja dengan baik. Tugasnya kan sudah jelas semua karena ada sosialisasi sebelumnya. Kerangka kelembagaan juga berfungsi dengan benar. Buktinya ya pekerjaan tidak menumpuk di siapa-siapa, semua pihak bertanggung jawab.
T : Apakah peran tiap pihak di sosialisasi terlaksana dengan baik?
J : Iya. Jadi yang menyelenggarakan itu banyak. Sebelumnya pusat menyelenggarakan untuk yang pihak-pihak kabupaten supaya mereka jelas. Tetapi ketika diadakan untuk yang kelompok, ya kita sebagai pemberi materi. Yang membuatnya itu kabupaten. Tim provinsi juga ada sebagai fasilitator antara pusat dengan kabupaten.
T : Lalu apakah peran tiap pihak di workshop terlaksana dengan baik?
J : Kalau di workshop ini yang menyelenggarakan kabupaten. Dihadiri oleh KMUP. Tapi saya lihat ini terselenggara dengan baik. Lebih jelasnya memang harus ke kabupaten.
T : Kemudian apakah KMUP mengerti teknis pelaksanaan dan mekanisme penyaluran dana? J : Iya, mereka mengerti.
T : Apa Tim Koordinasi dan Pengendali Kabupaten bekerja dengan baik?
J : Iya. Kebanyakan target tercapai. Mereka juga bekerja siang malam. Saya salut sekali. Padahal mereka juga punya kerjaan lain. Jadinya hasil yang ada cukup memuaskan.
T : Apakah Tim Pengadaan Barang membuat pengumuman lelang?
J : Iya. Itu dibuatnya di media cetak setempat dan juga papan pengumuman. T : Apakah Tim Pengadaan Barang melakukan seleksi pendaftar lelang?
J : Ini juga harus ada. Jadi setelah ada pengumuman kan ada yang mendaftar. Lalu diseleksi, dilihat kesanggupan masing-masing pendaftar. Lalu diumumkan pemenangnya.
T : Apakah Tim Pengadaan Barang membuat kontrak dengan pemenang?
J : Setelah diumumkan pemenangnya lalu dibuat kontrak sesuai dengan komoditi masing-masing. T : Apakah Tim Penerimaan Barang mengecek spesifikasi barang? Bagaimana dan dimana? J : Iya, ini tergantung bentuk tempatnya apa dan dimana. Ada yang karantina atau juga yang
bengkel. Mereka akan datang kesitu dan mengecek kesiapan komoditi sebelum diserahkan. T : Apakah Tim Penerimaan Barang menandatangani berita acara serah terima?
J : Ini juga sudah ada di aturannya. Setelah komoditinya dicek, tim penerimaan akan menandatangani berita acara. Tapi komoditi diserahkan langsung oleh pemborong ke KMUP, diawasi sama tim penerimaan ini.
T : Apakah lelang dan penerimaan dilakukan oleh orang-orang yang berbeda? Buktinya apa? J : Buktinya itu bisa dilihat di berita acara, kan ada tanda tangannya. Dokumen lelang sama
T : Apakah Tenaga Pendamping bukan aparat pemerintah?
J : Ya, dia harus nonpemerintah. Di Gunungkidul itu juga tenaga pendampingnya bukan pemerintah.
T : Apakah Tenaga Pendamping lulusan minimal D3?
J : Ya, keduanya lulusan S1. Yang satu mengerti tentang pengelolaan teknis komoditinya, sedangkan yang satu mengerti tentang manajemen.
T : Apakah Tenaga Pendamping lulus seleksi? Seleksinya seperti apa?
J : Seleksinya itu dilakukan kabupaten. Mereka diseleksi mengenai pengetahuan akan daerah itu sendiri dan juga tentang ilmu yang berhubungan dengan program, ya seperti pertanian dan manajemen.
T : Apakah Tenaga Pendamping tinggal di Gunungkidul? J : Betul, keduanya di Gunungkidul.
T : Apakah Tenaga Pendamping berusia di bawah 40 tahun? J : Betul, keduanya di bawah 40 tahun.
T : Berapa kali fasilitasi pengelolaan kawasan produksi dilakukan?
J : Tenaga Pendamping biasanya mendatangi tiap KMUP 1-2 kali dalam sebulan. Kelompoknya kan ada banyak, jadi itu saya bilang sudah maksimal. Itu caranya ya didiskusikan masalah pengelolaannya apa, lalu dicari solusinya bersama.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina administrasi keuangan KMUP?
J : Mereka diskusikan di pertemuan bulanan itu. Sebaiknya bagaimana cash flownya. Salah satu tenaga pendamping itu bagus di manajemen, jadi ini bidangnya dia. Dia yang mengarahkan bagaimana keuangan KMUP supaya bisa berkembang maksimal.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping memantau penyaluran dana dari KMUP ke anggota?
J : Tenaga pendamping tidak bisa intervensi. Mereka hanya memantau buku kas dan penyerahan langsungnya supaya tidak ada yang curang.
T : Bagaimana Tenaga Pendamping membina usaha pembangunan kawasan produksi?
J : Mereka membinanya melalui pertemuan itu juga. Bedanya disini adalah mereka membina tempat pengelolaannya itu. Kandang atau kolam. Kondisinya bagaimana. Kekurangannya apa. Sebaiknya kandang itu bagaimana kondisi yang mendukungnya.
T : Apakah Tenaga Pendamping memberikan informasi tentang pasar?
J : KMUP biasanya sudah punya pasar sendiri. Tapi tenaga pendamping memberikan info perkembangan pasar yang ada. Pasar yang sudah dimiliki KMUP itu pun sebenarnya sudah bagus, jadi mereka sudah terbuka jalan pemasarannya.
T : Apa saja informasi perkembangan teknologi peningkatan mutu yang diberikan Tenaga Pendamping?
J : Di bidang-bidang yang berhubungan dengan komoditi yang mereka punya, seperti pakan, atau ilmu budidaya.
T : Apakah Tenaga Pendamping membuat daftar kunjungan?
J : Iya, ada. Mereka membuat laporan daftar kunjungan. Isinya itu apa yang mereka lakukan ketika mengunjungi KMUP.