• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

D. Tanggapan Pembaca

Tanggapan pembaca yang penulis peroleh dari pengarang bertujuan untuk mengetahui pendapat mereka terhadap novel Dunia Kecil yang telah dibaca oleh mereka. Adapun tanggapan pembaca yang penulis peroleh dari pengarang adalah sebagai berikut:

Judul : Dunia Kecil Penulis : Yoyon Indra Joni

Penerbit : Diva Press, Jogjakarta, Oktober 2012 Tebal : 435 halaman

ISBN : 978-602-769-601-3

Oase Perjuangan dari Nol

Meraih mimpi dengan kaki-tangan sendiri mulia.Kemuliaan yang didapat dari jerih payah dan keringat bercucuran ibarat menemukan intan di laut lepas sangat menyenangkan dan memuaskan. Perjuangan yang dilakukan dari nol akan membuahkan hasil sempurna. Seseorang yang mampu meraih mimpi-mimpinya dengan keringat sendiri jauh lebih membanggakan dibanding dengan bantuan orang lain.

Buku dengan judul Dunia Kecil ini menawarkan dahaga, jerih payah anak manusia dalam meraih mimpinya.Suratan takdir Tuhan memang pasti.Namun, usaha seseorang dalam meraih mimpi itu harus dimulai dari jerih payah.Ibarat pepatah berakit-berakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.Bersakit-sakit dahulu dalam meraih cita-cita baru kemudian meraih kemenangan.Buku ini sangat inspiratif.Karena dalam ulasan buku ini menceritakan secercah perjuangan anak manusia yang luar biasa.Tidak sekedar perjuangan.Akan tetapi, usaha serius dalam mencapai puncak kesuksesan.

Dalam buku ini, semangat perjuangan itu terwakili dari sejumlah tokoh. Para tokoh itu adalah Ikal (nama lengkapnya, Ikal Hendriyanto), Asrul, Epon, Ijap, Idul, Bu Sal, Pak Mawardi, dan sejumlah tokoh bergengsi lainnya. Para tokoh dalam ulasan novel fenomenal ini seperti menjadi sosok hidup.Sangat dekat dengan kehidupan pembaca yang membaca karya ini.Dengan latar tempat wilayah pedesaan kecil, tepatnya di sebuah pelosok negeri yang tidak terlalu terkenal di peta, Nagari Taratak Kota Padang.

Di pelosok kecil tanah Padang ini Ikal, Asrul dan temannya yang lain mencoba bengkit menata cita-cita. Mimpi masa depan yang diwarnai dengan cerita penderitaan. Tokoh dalam cerita fiksi ini sangat komunikatif dan inspiratif.Mereka seperti sangat dekat dengan realitas kebanyakan warga di pedalaman.Komunitas yang berjalan tertatih membangun semangat namun tegas menghadapi hidup dengan segala tantangannya. Ikal, Asrul, Epon, dan sejumlah tokoh lainnya belajar bersama bagaimana mewujudkan mimpi masa depan.

Bersama, mereka belajar tentang persahabatan, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam mengemban amanat kehidupan.Masing-masing berproses hingga potensi yang ada pada diri mereka akhirnya mampu terkuak, menjadi kenyataan.Sebuah pengalaman yang membentuk karakter pantang menyerah pada diri anak-anak pedalaman.

Novel ini juga menghadirkan fragmen masa kanak-kanak yang bermental baja.Anak-anak Indonesia yang mau berjuang keras di tengah keterbatasan materi dan sarana-prasarana.Intinya, mereka berjuang dari nol dan akhirnya meraih mimpi dengan gemilang.Karya ini sangat bergengsi dan patut mendapat apresiasi terbaik.1

Sejak meledaknya tetralogi Laskar Pelangi yang notabene novel motivasi bagi anak-anak dan remaja, akhir-akhir ini marak bermunculan novel-novel bergenre serupa dari penulis-penulis anak negeri. Salah satunya adalah Dunia

1

http://www.rimanews.com/read/20130217/92313/oase-perjuangan-dari-nol, diunduh pada tanggal 17 Juli 2013

Kecil: Mimpi Hidup di Mata Si Kecil karya Yoyon Indra Joni. Sekilas kubaca synopsis yang tertera di cover belakang buku ini, dan kurasa cukup menjanjikan petualangan seru, hingga aku tak segan-segan merogoh kocek untuk menambahkan buku ini sebagai koleksi baruku.

Sederhana, satu kata ini mewakili sekian banyak kesanku ketika selesai membaca buku ini. Berlawanan dengan cerita Laskar Pelangi yang demikian heroik melalui tokoh lintang si jenius bernasib malang, tokoh-tokoh dalam novel hidup di dunia anak-anak sebagaimana wajarnya anak-anak menghabiskan masa kecilnya. Semua tokoh yang disebutkan dengan nama panggilan seperti Ijap, Isap, Igun, dan masih banyak lagi itu menjalani hari-hari di sekolah dasar dengan kenakalan-kenakalan khas anak-anak di pelosok yang jauh dari hingar binger modernisasi perkotaan. Perkelahian yang diwakili saling mengejek, mengganti angka di rapor saking inginnya mendapat angka keramat 8, membuat gaduh kelas, dan kenakalan lain yang diganjar dengan harus mengulang di kelas yang sama nyaris dialami seluruh tokoh dalam novel ini.

Aku dibuat terkikik sepanjang waktu membaca bab-bab yang menceritakan keseharian anak-anak tersebut. Persaingan di kelas yang pada akhirnya membentuk ahli bahasa, ahli IPA, ahli musik, ahli IPS, ahli gambar ini meresahkan si tokoh utama yang terjebak di tengah-tengah akibat setelah sekian lama belum juga menemukan bakatnya. Tapi jangan mengira ahli-ahli disini bak Lintang yang dengan fasih membahasa dalil-dalil fisika tingkat universitas, anak-anak disini menjadi ahli di bidangnya sebatas pengetahuan wajar anak-anak SD. Ahli bahasa misalnya, menjadi kaya kosakata lengkap dengan kata serapan akibat kegemaran mereka akan akronim sehingga dengan rajin membaca Koran, majalah, buku untuk mencari akronim baru. Ahli musik mengetahui macam-macam lagu nasional lengkap dengan pencipta dan sejarah di baliknya karena berusaha untuk mendapat pujian dari guru kelas yang tiap hari menyuruh anak menyanyikan lagu nasional di depan kelas. Ahli IPS bermula dari kegemarannya menggambar peta sehingga berlanjut dengan mempelajari daerah-daerah yang digambarnya.

Tokoh-tokoh di sini menjalani keseharian dengan wajar, berpegang pada norma agama dan adat istiadat, patuh pada bapak ibu guru dan orang tua di rumah. Keseharian yang demikian berbeda dengan kondisi anak-anak sekarang.Hampir serupa dengan Laskar Pelangi, nasib anak-anak di Dunia Kecil ini terbentuk dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Meskipun terkendala biaya, tokoh-tokoh

di Dunia Kecil ini bisa dengan wajar bangun sebelum subuh sekolah, bermain,

membantu orang tua, belajar, dan istirahat demikian berulang hingga semua lulus sekolah dasar. Meskipun demikian, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Kesderhanaan berpikir anak-anak desa, kepolosan, dan ketaatan akan nasehat orang tuda dan guru demikian kental dengan novel ini menyadarkan betapa pudarnya disiplin, semangat dan sopan santun saat ini. Sebuah novel yang bukan hanya sekedar bercerita tentang masa kecil, namun juga memberikan contoh perilaku yang terpuji dan perilaku yang tidak seharusnya dilakukan.2

2

http://airatezuka.blogspot.com/2013/01/dunia-kecil.html, diunduh pada tanggal 17 Juli 2013

Dokumen terkait