dalam Akta Notaris
UUPT telah mengatur secara tegas bahwa Direksi wajib bertindak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar448. Dengan demikian, secara teori terdapat perjanjian antara Direksi dan Perusahaan, juga dengan para pemegang saham dalam hal pengangkatan Direksi tersebut. Dalam hal Direksi melanggar perjanjian tersebut, maka akan timbul wanprestasi dari persetujuan yang telah disepakati. Artinya untuk mendalilkan suatu subyek hukum telah wanprestasi, harus ada lebih dahulu perjanjian antara kedua belah pihak sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata:
“Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat: 1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. suatu hal tertentu;
4. suatu sebab yang halal.”
Wanprestasi terjadi karena Direksi (yang dibebani kewajiban) tidak memenuhi isi perjanjian yang disepakati, baik dalam Anggaran Dasar atau ketentuan lain yang dibuat dengan pemengang saham, seperti tidak melakukan pengurusan Perseroan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diantaranya mengatur secara tegas bahwa perbuatan hukum korporasi tertentu harus dituangkan dalam bentuk Akta Notaris. Perbuatan melawan hukum lahir karena undang-undang sendiri menentukan. Hal ini sebagaimana dimaksud Pasal 1352 KUHPerdata. Perbuatan
448
melawan hukum semata-mata berasal dari undang-undang, bukan karena perjanjian yang berdasarkan persetujuan dan perbuatan melawan hukum merupakan akibat perbuatan manusia yang ditentukan sendiri oleh undang-undang.
Ada dua kriteria perbuatan melawan hukum yang merupakan akibat perbuatan manusia, yakni perbuatan manusia yang sesuai dengan hukum (rechtmagitg, lawfull) atau yang tidak sesuai dengan hukum (onrechtmatig, unlawfull). Dari kedua kriteria tersebut dapat dianalisa apakah bentuk perbuatan melawan hukum tersebut berupa pelanggaran pidana (factum delictum), kesalahan perdata (law of tort) atau betindih sekaligus delik pidana dengan kesalahan perdata. Dalam hal terdapat kedua kesalahan (delik pidana sekaligus kesalahan perdata) maka sekaligus pula dapat dituntut pertanggungjawaban pidana (criminal liability) dan pertanggungjawaban perdata (civil liability)449.
Pada prinsipnya tanggung jawab anggota Direksi pada Perseroan yang bermasalah sama saja seperti tanggung jawab Direksi pada Perseroan yang berjalan normal. Dalam hal ini, tuntutan-tuntutan dari pihak ketiga yang berkepentingan pada prinsipnya hanya dapat ditujukan terhadap Perseroan yang bersangkutan dalam statusnya sebagai badan hukum, dan tanggung jawab hukumnya pun hanya sebatas asset yang dimiliki badan hukum tersebut. Dengan demikian, pada prinsipnya, jika suatu Perseroan dinyatakan bermasalah oleh lembaga peradilan oleh sebab apapun, termasuk sebab kelalaian Perseroan dalam melaksanakan persyaratan formal yang
449 Munir Fuady. Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer). Citra Aditya. 2005.
ditentukan UUPT, maka pihak ketiga yang berkepentingan seyogyanya tidak dapat meminta anggota Direksi atau Dewan Komisaris ataupun pemegang saham untuk bertanggung jawab secara pribadi.
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, dalam perkembangan teori dan praktek tentang Perseroan, penerapan prinsip umum tentang kemandirian tanggung jawab badan hukum tidak selamanya memuaskan karena dalam hal-hal tertentu penerapan prinsip tersebut akan melanggar sendi-sendi keadilan. Sifat pertanggungjawaban terbatas dari Perseroan tidak dapat dipergunakan untuk merugikan kepentingan pihak ketiga yang beritikad baik. Pengecualian terhadap anggota Direksi atas prinsip kemandirian tanggung jawab Perseroan dalam hal digugat atau dinyatakan bersalah, yaitu jika Direksi melakukan perbuatan yang termasuk dalam ruang lingkup doktrin penyingkapan tirai perusahaan (piercing the corporate veil)450, yaitu jika anggota Direksi bersikap sangat tidak layak atau bertentangan dengan prinsip fiduciary duty, khususnya ketidak-patuhan dalam mentaati peraturan perundang-undangan (statutory duty). Sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (1) UUPT bahwa tugas, wewenang dan tanggung jawab pengurusan Perseroan untuk kepentingan dan usaha Perseroan dipercayakan dan dibebankan kepada setiap anggota Direksi tanpa kecuali, maka baik kelalaian maupun kesalahan seorang atau lebih anggota Direksi, yaitu masing-masing anggota Direksi harus menanggung akibatnya Tanggung jawab kolegial ini yang dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2)
450 Munir Fuady. Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik (Buku Ketiga). Bandung: PT Citra
UUPT. Selanjutnya, yang harus membuktikan bahwa kepailitan telah terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi adalah pihak yang mengendalikannya. Apabila pihak dimaksud berhasil membuktikan hal tersebut, maka sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) UUPT setiap anggota Direksi karena hukum secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian akibat kepailitan Perseroan yang tidak dapat ditutup oleh kekayaan Perseroan, kecuali anggota Direksi yang merasa dirinya tidak salah atau lalai dapat membuktikan bahwa kepailitan Perseroan bukan karena kesalahan atau kelalainnya. Sesuai ketentuan yang dimaksud Pasal 90 ayat (3) UUPT beban pembuktian ada pada anggota Direksi tersebut.
UUPT mengakui doktrin piercing the corporate veil walaupun dalam penerapannya perlu kearifan, kehati-hatian dan pemikiran dalam suatu cakrawala hukum dengan visi yang perspektif dan responsif pada keadilan. Bentuk nyata dari perbuatan tersebut dapat berupa perbuatan melawan hukum yang dapat dicakup dalam rumusan istilah kelalaian atau kesalahan Direksi terhadap UUPT. Sebagai contoh, Direksi tidak patuh dan taat (disobedience) terhadap UUPT serta Anggaran Dasar yang dengan tegas mengatur bahwa perjanjian diantara pemegang saham mengenai pendirian perusahaan harus dimuat dalam Akta Notaris berbahasa Indonesia451, demikian juga dengan setiap perubahan dari Anggaran Dasar harus dinyatakan dengan Akta Notaris berbahasa Indonesia baik berbentuk akta pernyataan keputusan rapat atau akta perubahan Anggaran Dasar452. Dalam hal pendirian
451 Pasal 7 ayat (1) UUPT 452
perusahaan tidak didasarkan pada Akta Notaris, maka hal tersebut menyebabkan badan usaha tersebut bukan berbentuk badan hukum perusahaan terbatas (PT), melainkan berbentuk persekutuan perdata (burgerlijke maatschap). Hal ini karena bentuk usaha tersebut didasarkan pada perjanjian yang tidak berlaku bagi pihak luar melainkan hanya berlaku bagi para pihak perjanjian. Badan usaha demikian tidak disebut sebagai badan hukum karena yang terikat hanya pemodal pelaku saja (subjek hukum pribadi). UUPT tidak berlaku terhadap persekutuan perdata. Selanjutnya, apabila Perseroan membuat perubahan dari Anggaran Dasarnya, tetapi lalai dalam membuat akta pernyataan keputusan rapat atau akta perubahan Anggaran Dasar tersebut. Dalam hal ini perubahan Anggaran Dasar tersebut dapat dikatakan tidak berlaku bagi pihak ketiga, melainkan hanya berlaku secara internal di Perseroan atau diantara para pemegang saham saja. Apabila Perseroan membuat perbuatan hukum dengan pihak ketiga yang beritikad baik, namun perbuatan hukum tersebut dapat dibatalkan oleh karena tidak sesuai dengan Anggaran Dasar, maka akibat dari kelalaian diatas, Direksi dapat dimintakan pertanggungjawaban secara perdata.
Mekanisme meminta pertanggungjawaban perdapat dapat dilakukan dengan cara mengajukan gugatan perdata dengan tuntutan ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata. Hal kealpaan atau kelalaian juga dapat dihubungkan dengan Pasal 1366 KUHPerdata yang menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan oleh kelalaian atau kekurang hati-hatiannya. Berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, untuk terpenuhinya tuntutan ganti rugi berdasarkan perbuatan melawan
hukum harus dipenuhi empat syarat, yaitu adanya perbuatan melawan hukum, adanya kesalahan, adanya kerugian, dan adanya kausalitas antara sebab dan akibat453. Syarat pertama ialah adanya perbuatan melawan hukum. Pasal 1365 KUHPerdata tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum sehingga ajaran tentang perbuatan melawan hukum merupakan ajaran dari hasil perkembangan yurisprudensi. Syarat kedua, adanya kesalahan yaitu akibat dari suatu tindakan yang melanggar hukum. Pasal 1365 KUHPerdata hanya mengatakan harus ada kesalahan dipihak pembuat perbuatan melawan hukum agar si pembuat diwajibkan membayar ganti kerugian. Syarat ketiga, adanya kerugian, yaitu penggantian dalam wanprestasi pada umumnya dinilai dengan uang, tetapi hal ini tidak dapat dilakukan terhadap perbuatan melawan hukum yaitu perbedaan ujud penggantian kerugian terletak pada tujuannya. Tujuan dari akibat wanprestasi adalah memberikan penggantian kerugian, sedangkan dalam hal pelanggaran hukum adalah memulihkan kembali keadaan seperti semula. Syarat keempat ialah adanya kausalitas agar seseorang yang melakukan perbuatan melanggar hukum dapat dituntut ganti rugi, salah satu unsur yang harus dipenuhi, yaitu adanya hubungan kausal antara kerugian yang diderita dan perbuatan melanggar hukum.
Perbuatan hukum Perseroan yang dilakukan oleh Direksi menuntut Direksi untuk mempertanggungjawabkannya. Tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, menjadikan
453 Wirjono Prodjodikoro. Perbuatan Melanggar Hukum. Jakarta. Sumur Bandung. 1976.
profesionalitas tetap menjunjung etika dalam menjalankan bisnis dan menciptakan serta memelihara lingkungan bisnis yang sehat454. Setiap anggota Direksi bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pemegang saham yang beritikad baik atau pihak ketiga yang menjalin hubungan dengan Perseroan apabila Direksi menyalahi ketentuan perundang-undangan, melakukan kelalaian atau kesalahan dalam menjalankan tugasnya, yaitu tanpa itikad baik dan tidak bertanggung jawab serta tidak untuk kepentingan Perseroan455. Oleh karena itu, anggota Direksi dapat dimintakan untuk bertanggung jawab secara perdata ketika Perseroan dituntut jika ia dianggap melakukan kelalaian atau kesalahan baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan Perseroan tersebut menjadi rugi. Direksi yang lalai yang mengakibatkan Perseroan rugi dapat menyebabkan anggota Direksi turut bertanggung jawab untuk membayar kerugian tersebut dari kekayaan pribadinya456. Kekayaan pribadi Direksi dapat disita dan dilelang untuk memenuhi kewajibannya tersebut.
Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan untuk kepentingan dan tujuan Perseroan sehingga tanggung jawab Direksi secara hukum terletak pada pundak masing-masing anggota Direksi (jointly and severally). Tanggung jawab anggota Direksi bersifat tanggung renteng, artinya walaupun kelalaian atau kesalahan itu dilakukan seorang anggota Direksi tetapi anggota yang lain juga ikut bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan dengan UUPT yang
454
Ridwan Khairandy dan Camelia Malik. Good Corporate Governance: Perkembangan Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia Dalam Perspektif Hukum. Jakarta: Total Media. 2007. Hlm. 84
455 Pasal 69 ayat (3) juncto Pasal 37 ayat (3) juncto Pasal 97 ayat (4) UUPT 456
menyatakan tugas dan kewajiban pengurusan dan perwakilan Perseroan dilakukan secara kolektif oleh seluruh anggota Direksi. Pengecualian tanggung jawab renteng terjadi apabila anggota Direksi dapat membuktikan bahwa pertanggungjawaban yang dibebankan tersebut adalah diluar kelalaian atau kesalahannya.
2.Tanggung Jawab Pidana (Criminal Liability) Direksi Sehubungan dengan