• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan yang Dihadapi

BAB V KEHIDUPAN BURUH WANITA DI PABRIK TENUN BALIGE 1967-1998

5.5 Tantangan yang Dihadapi

Wanita yang bekerja di pabrik tenun Balige pada tahun 1967-1998 pada umumnya adalah seorang ibu, peran ganda yang mereka miliki tidak jarang menimbulkan konflik diantara anggota keluarga, mulai dari kurangnya waktu dengan anak-anak mereka, terkadang wanita tidak

mengetahui apa saja kegiatan anak-anak mereka selama bersekolah dan sepulang sekolah. Waktu yang mereka gunakan untuk bekerja memang menjadikan kurangnya komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Buruh wanita acap kali menghadapi perdebatan dengan suami mereka terkait masalah penghasilan yang mereka terima tidak sebanding. Kendala lainnya yaitu ketika ada acara atau kegiatan seperti menghadiri pesta pernikahan, acara syukuran, buruh wanita sulit untuk menghadiri oleh karena tidak adanya cuti yang didapatkan, hingga akhirnya perdebatan dengan suami mereka karena memperdebatkan masalah waktu untuk bersosialisasi dengan anggota masyarakat. Sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan yang lainnya menjadi dilema bagi buruh wanita di pabrik tenun Balige.

Dalam pabrik tenun kendala yang mereka hadapi ialah tidak adanya jenjang karir yang mereka miliki, kemudian jaminan kesehatan yang tidak diterima oleh buruh wanita, keselamatan kerja tidak ada mereka dapatkan, lamanya waktu bekerja tidak sebanding dengan upah yang mereka terima. Ketika mereka tidak bisa masuk bekerja, pendapatan mereka akan dikurangi sesuai dengan lama mereka bekerja. Mereka tidak mendapatkan waktu cuti dalam pekerjaan mereka, sehingga sulit untuk meninggalkan pekerjaan jika ada kepentingan tertentu, seperti menghadiri, pesta, dan acara lainnya, kecuali jika itu dalam keadaan yang mendesak, mereka dengan terpaksa tidak bekerja46.

Tantangan paling berat yang dialami oleh buruh wanita pada saat itu ialah pada tahun 1998 ketika gejolak ekonomi Indonesia mengalami keterpurukan, yang berimbas pada pabrik tenun yang ada di Balige, maka pemilik usaha tenun Balige dengan terpaksa untuk sementara menutup usahanya demi mengurangi kerugian yang tidak dapt dikendalikan. Keadaan ini

46Wawancara dengan R. Simanjuntak, Balige 08 Januari 2016.

merupakan hal yang sangat meresahkan bagi buruh wanita, mata pencaharian mereka yang telah digeluti selama bertahun-tahun harus berhenti. Akibat tidak adanya pekerjaan, menjadikan berusaha bangkit kembali untuk bekerja dalam bidang lainnya, seperti mengerjakan ladang orang lain, berdagang, buruh harian di ladang orang lain.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Dengan berdirinya pabrik tenun Setia Balige memberikan kesempatan bagi wanita yang ada di Balige untuk bekerja sebagai buruh wanita. Disamping itu hasil kerajinan tenun sarung mempunyai potensi dalam membangun ekonomi masyarakat Balige. Begitu pula pengembangan kerajinan tenun sarung merupakan pelestarian budaya dalam menunjang pembangunan nasional.

Keterampilan yang minim dan keuletan menjadi modal utama wanita dalam bekerja. Dengan bimbingan secara informal yang diberikan telah menjadikan wanita sebagai pekerja yang memiliki keterampilan yang khusus dalam bidang pertenunan. Peranan wanita dalam dunia pekerjaan telah memberikan kontribusi yang sangat penting untuk pendapatan keluarga. Wanita yang berperan sebagai ibu mempunyai cita cita yang mulia untuk menjadikan keluarganya, khusunya bagi anak mereka agar dapat menempuh pendidikan yang tinggi sehingga dapat membawa nama baik keluarga mereka, melalui kekuatan dan kegigihan mereka dalam bekerja menjadikan perubahan kehidupan perekonomian mereka kearah yang lebih baik lagi. Selain sebagai ibu/istri dalam rumah tangga, solusi untuk membantu menopang kebutuhan ekonomi menjadikan wanita memiliki peranan ganda dalam kehidupannya. Pendapatan dari suami yang tidak mencukupi untuk pemenuhan kehidupan hidup keluarga, menjadikan wanita turut mengambil bagian untuk bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Pada umumnya pendapatan wanita rata-rata lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan suami. Hal ini menunjukkan bahwa peranan buruh wanita dalam ruang lingkup keluarga sangat menentukan kelangsungan hidup keluarga terutama menyangkut dengan keuangan keluarga.

Selain peranan wanita dalam keluarga, ternyata pekerjaan buruh wanita memberikan dampak yang positif bagi kelangsungan hidup keluarga mereka, mulai dari menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi, waktu kerja yang cukup lama sekitar 9 jam setiap harinya, tidak mengurangi semangat mereka untuk menambah penghasilan keluarga mulai dari beternak ayam, kerbau, babi yang dinilai sangat membantu kehidupan ekonomi mereka. Hak yang seharusnya mereka dapatkan dari ketetapan yang telah dibuat dalam Undang-undang Ketenagakerjaan nyatanya tidak mereka terima, pendapatan yang mereka peroleh tidak sesuai dengan jam kerja yang telah mereka habiskan selama bekerja di pabrik tenun Setia Balige.

Keterbatasan lapangan pekerjaan bagi mereka, mengakibatkan mereka memilih tetap bertahan dengan kondisi yang mereka alami selama bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Dengan bekerja sebagai buruh melambangkan kemandirian wanita sebagai pekerja untuk membantu dalam menopang kehidupan ekonomi mereka.

6.2 Saran

Adapun yang menjadi saran penulis sampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah upah yang diterima oleh buruh wanita mempunyai kaitan yang cukup besar terhadap alokasi waktu yang dihabiskan dalam bekerja. Berkaitan dengan hal tersebut disarankan kepada:

1. Pengusaha tenun Setia Balige untuk mempertimbangkan kembali kesejahteraan buruh wanita salah satunya dengan menaikkan upah sesuai dengan waktu yang dikorbankan oleh wanita.

2. Pemerintah Balige kiranya turut berperan dalam memperhatikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh buruh wanita melalui ketetapan Undang-undang Ketenagaakerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

Butar – Butar, Hasudungan, Peranan Wanita Batak Toba dalam Keluarga dan Pertanian Padi Sawah di Desa Lumban Gurning, Kecamatan Porsea

Tapanuli Utara Bandung: belum diterbitkan, 1995.

Castles, Lance, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940 Depok: Percetakan Duta Prima, 2001.

Gultom, J, dkk, Pengrajin Tradisional di Daerah Propinsi Sumatera Utara

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1988

Husni, Lalu, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Ihromi, T.O, dkk, Kisah Kehidupan Wanita untuk Mempertahankan Kelestarian Ekonomi Rumah Tangga, Jakarta: Lembaga Penelitian FE UI, 1991.

---Kajian Wanita dalam Pembangunan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.

Kuntowijoyo ,Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 1995.

--- Metodologi Sejarah, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2003.

Louis, Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroto Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1958.

Notopuro, Hardjito, Peranan Wanita dalam Masa pembangunan Di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1979.

Sitorus, Marlyn Tua, Pembentukan Golongan Pengusaha Lokal Di Indonesia: Pengusaha Tenun dalam Masyarakat Batak Toba, Bogor: Belum diterbitkan, 1999.

Soewondo, Nani, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat, Jakarta: Timun Mas, 1968.

Subadio, Maria Ulfah, T.O. Ihromi, Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994.

Sulaiman, Abdullah, Upah Buruh di Indonesia, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2008.

Sujogya, Pudjiwati, Peranan Wanita dalam Perkembangan Masyarakat Desa, Jakarta: CV Rajawali, 1983.

DAFTAR INFORMAN

Alamat : Pardede Onan Pekerjaan : Bertenun 7. Nama : N. Silalahi

Umur : 60 tahun Alamat : Pardede Onan Pekerjaan : Bertenun 8. Nama : A. Hutagaol

Umur : 58 tahun Alamat : Onan Raja Pekerjaan : Bertenun 9. Nama : K. Sianipar

Umur : 58 tahun Alamat : Onan Raja Pekerjaan : Bertenun 10. Nama : B. Hutajulu

Umur : 59 tahun Alamat : Hutagaol Pekerjaan : Bertenun

11. Nama : N. Simanjuntak Umur : 59 tahun

Alamat : Balige II Pekerjaan : Bertenun

12. Nama : P. Sianipar

Pekerjaan : Bertenun

Alamat : Hutagaol Pekerjaan : Bertenun 24. Nama : N. Silalahi

Umur : 51 tahun Alamat : Pardede Onan Pekerjaan : Bertenun 25. Nama : P. Tambunan

Umur : 52 tahun

Alamat : Sangkar Ni Huta Pekerjaan : Bertenun

26. Nama : A. Simangungsong Umur : 45 tahun

Alamat : Pardede Onan Pekerjaan : Mekanik 27. Nama : F. Napitupulu

Umur : 55 tahun

Alamat : Napitupulu Bagasan Pekerjaan : Pemilik Usaha Tenun Setia

LAMPIRAN Lampiran 1

Sumber: koleksi penulis, 12 Januari 2016

Lampiran 2

Sumber : Koleksi Penulis, Balige 12 Januari 2016

Lampiran 3

Sumber : Koleksi Penulis, Balige 12 Januari 2016

Lampiran 4

Sumber : Koleksi Penulis, Balige 12 Januari 2016

Lampiran 5

Sumber : Koleksi Pribadi, Balige 12 Januari 2016

Lampiran 6

Sumber :http://wikipedia.co.id/kabupatentobasamosir/diakses pada 15 Januari 2016

Dokumen terkait