• Tidak ada hasil yang ditemukan

BURUH WANITA DI PABRIK TENUN SETIA BALIGE PADA TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BURUH WANITA DI PABRIK TENUN SETIA BALIGE PADA TAHUN"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

BURUH WANITA DI PABRIK TENUN SETIA BALIGE PADA TAHUN 1967-1998 SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN O

L E H

NELVIDA PANJAITAN 110706029

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2016

(2)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

BURUH WANITA DI PABRIK TENUN SETIA BALIGE PADA TAHUN 1967-1998 SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN O

L E H

NELVIDA PANJAITAN 110706029

Pembimbing

Dra. Sri Pangestri Dewi Murni, M.A NIP. 195408141984032002

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian

Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra

dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2016

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan kasih karunia yang diberikan kepada penulis, sehingga mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan perkuliahan sekaligus untuk meraih gelar sarjana di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Judul skripsi ini adalah Buruh Wanita di Pabrik Tenun Setia Balige pada tahun 1967- 1998. Penulis menyadari bahwa tulisan ini belum sempurna, tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, baik dari isi dan penulisan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca khususnya dari Bapak/Ibu Dosen. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca.

Medan, Oktober 2016 Penulis

Nelvida Panjaitan 110706029

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas pertolongan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah memberikan bantuan, serta bimbingan yang diberikan kepada penulis terutama kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan, beserta Wakil Dekan I Prof. Drs. Mauly Purba M.A., Ph.D, Wakil Dekan II Dra. Heristina Dewi M.Pd, Wakil Dekan III Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution M.Si. Atas bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh selama kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno M.Hum dan Dra. Nurhabsyah, M.Si sebagai Ketua dan Sekretaris Departemen Sejarah sekaligus dosen yang telah membekali penulis dengan ilmu, nasihat dan bimbingan selama menimba ilmu di Departemen Sejarah.

3. Ibu Dra. Sri Pangestri Dewi Murni, M.A sebagai dosen pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Sumatera Utara yang telah membekali penulis selama menempuh perkuliahan.

5. Khususnya kepada kedua orang tua penulis, Bapak Jumaga Panjaitan dan Ibu Lenni Hutapea dengan penuh kasih sayang membesarkan, mendidik, mendoakan, memotivasi penulis tanpa hentinya. Terima kasih untuk semua pengorbanan yang tidak dapat terbalaskan oleh penulis.

(7)

6. Saudara penulis Andi Candra Panjaitan, Tetty L. Panjaitan, adik penulis Gunawan Jepri Panjaitan, Tony Josua Panjaitan, Sonia Sinta Uli Panjaitan, abang ipar penulis Timbul Silaen. Keluarga besar penulis yang telah memberikan doa dan motivasi selama menempuh pendidikan di masa perkuliahan khususnya dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Teman Kelompok Tumbuh Bersama dalam kerohanian Asyer of Desciple ( Rani Sitorus, Evelida Sinaga, Wendi Girsang, Sonya Pandiangan,dan Martionar Sinurat) yang mendukung dalam doa, memotivasi serta masukan dalam penulisan skripsi ini. Adik kelompok Emkal Barus dan Derlin Anak Ampun yang memberikan dukungan dalam doa dan motivasi.

8. Teman-teman seperjuangan stambuk 2011 terima kasih untuk kebersamaan selama ini.

9. Kepada senior dan junior terima kasih atas doa dan dukungan yang telah diberikan kepada saya.

10. “Kost Putri 21” untuk kakak Martina Siburian, untuk adik-adik penulis Surta Deviana Pasaribu, Marisi Pasaribu, Doranda Sianturi, Mey Siregar. Terima kasih atas doa, dukungan, canda tawa yang selama ini yang telah kita lalui bersama-sama, semoga semakin diberkati Tuhan.

11. Kepada seluruh informan yang telah meluangkan waktu untuk menjadi informan.

Akhirnya dengan rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih. Semoga. skripsi ini berguna bagi para pembaca.

Medan, Juni 2016 Penulis

(8)

Nelvida Panjaitan ABSTRAK

Judul skripsi ini: Buruh Wanita Di Pabrik Tenun Balige pada Tahun 1967-1998. Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis untuk menggambarkan dan menganalisis motivasi yang mendorong wanita yang berperan sebagai ibu bekerja di pabrik tenun Balige, bagaimana peranan wanita dalam rumah tangga yang bekerja di pabrik tenun Balige, serta kehidupan wanita dengan pekerjaan mereka sebagai buruh pabrik. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Metode tersebut mencakup heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber (mengkritisi setiap sumber informasi), interpretasi (penafsiran terhadap sumber) dan historiografi (penulisan). Penulisan skripsi ini menggunakan dekskriptif analisis untuk mendapatkan penulisan sejarah yang kritis. Tingginya kebutuhan hidup rumah tangga menjadikan wanita memiliki peranan ganda dalam hidupnya yaitu sebagai ibu/istri di dalam keluarga dan buruh di pabrik tenun Balige. Kurangnya pendapatan dari suami untuk pemenuhan kebutuhan hidup, menjadi buruh merupakan alternatif terbaik yang dimiliki oleh wanita. Dengan bermodalkan keuletan dan keterampilan yang terbatas menjadikan buruh di pabrik tenun Balige sebagai pekerjaan menetap mereka.

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……….i

UCAPAN TERIMA KASIH ………..ii

ABSTRAK………... v

DAFTAR ISI …...……….. vi

DAFTAR TABEL ………. ix

BAB I PENDAHULUAN………1

1.1 Latar Belakang ……….………...1

1.2 Rumusan Masalah ……….. 7

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ……….………. 7

1.4 Tinjauan Pustaka ……….………8

1.5 Metode Penelitian ……….11

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ……… 13

2.1 Keadaan Geografis ………....13

2.2 Mata Pencaharian ………..15

2.3 Keadaan Penduduk ………...……19

2.4 Pendidikan ………...……… 24

(10)

BAB III LATAR BELAKANG WANITA BEKERJA DI PABRIK TENUN BALIGE

TAHUN 1967-1998 ……….……….… 26

3.1 Faktor Ekonomi ………..………..26

3.2 Tingkat Pendidikan ………..… 29

3.3 Keinginan Wanita Bekerja ………..….………… 32

3.4 Umur dan Lama Menekuni Pekerjaan ……….… 34

BAB IV LATAR BELAKANG BERDIRINYA PABRIK TENUN SARUNG SETIA BALIGE SEBELUM TAHUN 1967 ………..….….. 37

4.1 Elit Tradisional sebagai perintis usaha tenun ………...……37

4.1.1 Berdirinya Pabrik Tenun Setia Balige………..….39

4.2 Perkembangan tenun sarung ………..…..……….40

4.3 Bahan Baku yang digunakan ………..….…… 42

4.4 Proses Menenun ………..…….45

BAB V KEHIDUPAN BURUH WANITA DI PABRIK TENUN BALIGE 1967-1998 ………..……….….………... 49

5.1 Hak dan Kewajiban ……….. 49

5.1.1 Hak Buruh Wanita ……… 54

5.1.2 Waktu Kerja dan Istirahat ………...…………... .54

5.1.3 Jaminan Sosial dan Tenaga Kerja ………...……...55

(11)

5.2 Pendapatan yang Diperoleh ………...……….. 60

5.3 Taraf Hidup ………...…………... 63

5.4 Pemanfaatan Upah ………...……….64

5.5 Tantangan yang Dihadapi ………...………..65

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………. 68

6.1 Kesimpulan ………..……….68

6.2 Saran ………..…………...70

DAFTAR PUSTAKA ………..………. ..71

DAFTAR INFORMAN ………...………… 73

LAMPIRAN ………..…………78

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Penggunaan Lahan di Kecamatan Balige ………16

Tabel 2 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur di Kecamatan Balige ……..21 Tabel 3 Jumlah Rumah Ibadah di Kecamatan Balige ………..…23

Tabel 4 Jumlah Penduduk Balige menurut Agama ………..23 Tabel 6 Tingkat Pendidikan Buruh Wanita Pabrik Tenun Balige 1998 ….………..31

Tabel 7 Umur Buruh Wanita di Pabrik Tenun Balige 1998 …...………..35

Tabel 8 Lamanya Buruh Wanita Menekuni Pekerjaan di pabrik Tenun Setia Balige 1998

………36

Tabel 9 Jumlah Pengusaha Tenun Balige menurut Marga Asal dan Kelangsungan Usaha berdasarkan Pencatatan Bulan Maret 1998 ………..38

(13)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Balige merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Toba Samosir sekaligus sebagai ibukota Toba Samosir yang disahkan oleh pemerintah pada tahun 19981. Salah satu sumber lapangan kerja yang cukup potensial karena keberadaannya sebagai warisan budaya bagi suku Batak adalah kerajinan tradisional. Kerajinan tradisional adalah proses pembuatan berbagai macam barang dengan mengandalkan tangan serta alat sederhana dalam lingkungan rumah tangga. Keterampilan yang diperlukan disosialisasikan dari generasi ke generasi dengan pendidikan informal yang kemudian pembinaan dan pengembangan kerajinan tradisional tersebut akan memperluas lapangan kerja sekaligus melestarikan warisan budaya. Balige dikenal dengan kerajinan tenun ulos yang merupakan hasil kreatifitas masyarakat setempat, yang berperan sebagai penyumbang peningkatan perekonomian masyarakat.

Disamping itu tenunan lain juga mengalami perkembangan pada tahun 1960an seperti tenun mandar2. Pabrik Tenun Setia merupakan salah satu pabrik tenun sarung yang ada di Balige. Pada awalnya pengerjaan tenun sarung ini dikerjakan dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang lebih dikenal dengan pengerjaan secara manual dan hasil yang didapatkan selama pengerjaan dalam seminggu hanya 4 lembar kain sarung dan pemasarannya masih di sekitar

1Pada awalnya Balige berada dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Utara sehingga untuk mempercepat pembangunan yang ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi daerah, maka pada tahun 1998 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi 2 wilayah yakni Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir sesuai dengan Undang-undang Nomor 12 tahun 1998 tentang pembentukan Kabupaten Toba Samosir dengan ibukota Balige.

Hingga pada tanggal 8 September 1999 di Jakarta Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dan Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia Muladi menandatangani ketetapan keputusan tersebut.

Kemudian Kabupaten Toba Samosir diresmikan sekaligus pelantikan Drs. Sahala Tampubolon sebagai Bupati Toba Samosir. Data diperoleh dari arsip Kabupaten Toba Samosir 2015.

2 Mandar menjadi sebutan untuk sarung. Masyarakat Balige sudah terbiasa menggunakan sarung dalam kehidupan sehari-hari.

(14)

Balige saja hingga di tahun 1967an pengerjaan tenun ini sudah beralih ke ATM (Alat Tenun Mesin). Sejak menggunakan alat mesin, dalam sehari kain ini diproduksi sebanyak 500 lembar dan pemasarannya mulai merambah ke luar daerah seperti ke Siantar, Medan, bahkan sampai ke Jawa3. Melihat peluang ini maka beberapa pengusaha yang ada di Balige mulai menggeluti usaha tenun sarung secara professional hingga sampai pada tahun 1998 ada 9 pabrik tenun yang beroperasi di Balige. Perkembangan industri ini turut menyumbang pendapatan masyarakat Balige khususnya melalui perekrutan tenaga kerja lokal. Wanita dalam bekerja cenderung tekun dan ulet sehingga tidak heran dalam pabrik tenun Balige pada umumnya adalah wanita. Wanita dibutuhkan tenaga dan keuletannya dalam bertenun, dalam pengerjaannya yang cukup lama untuk menghasilkan lembar kain sarung sehingga wanita dinilai sabar dalam bertenun.

Namun, sejak beralihnya proses pengerjaan tenun sarung dari manual ke pemakaian alat mesin terdapat pembagian kerja antara wanita dengan pria. Dalam proses menenun secara tradisional semua pengerjaannya dilakukan oleh wanita, sedangkan untuk proses menenun dengan menggunakan ATM bagian laki-laki yaitu pada proses pencelupan dan mekanik. Hal ini tergolong berat dalam pengerjaannya sehingga membutuhkan tenaga yang lebih kuat. Rendahnya tingkat pendidikan buruh wanita memberikan dampak pada kedudukan mereka dalam pekerjaan dan upah yang diterima. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai, sehingga upah yang diterima sebagai tenaga kerja lebih rendah dibandingkan mereka yang terampil dalam bidang tertentu4. Buruh wanita yang bekerja di pabrik tenun ini adalah masyarakat Balige itu sendiri. Pada awalnya para wanita mengalami kesulitan dalam mengerjakan tenun sarung karena merupakan hal yang baru bagi mereka. Akan tetapi hal ini

3Wawancara F. Napitupulu, Balige, 12 Januari 2016.

4Soewondo Nani, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat, Jakarta: Timun Mas, 1968, hal. 84.

(15)

tidak mengurangi semangat mereka dengan adanya pelatihan yang diberikan oleh pengusaha tenun. Bentuk pelatihan yang diberikan kepada buruh wanita ialah dengan mengenalkan jenis benang yang digunakan, penyatuan benang yang berbeda, dan menggunakan alat mesin. Pada umumnya mereka yang mahir mengerjakan tenun sarung menghabiskan waktu sekitar 4-7 hari.

Beberapa dari mereka yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige adalah kerabat dari pemilik usaha tenun, seperti N. Hutagaol adalah saudara keponakan dari F. Napitupulu5. Tujuan perekrutan tenaga kerja lokal ialah untuk lebih mudah saling mengenal lagi sesama masyarakat Balige, sehingga tercipta hubungan kekeluargaan antara pengusaha dengan tenaga kerja, dan juga antara sesama tenaga kerja.

Menurut Undang-undang No.25 tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan melakukan pembaharuan terhadap berbagai istilah di bidang perburuhan mulai dari penggantian istilah buruh menjadi pekerja, majikan menjadi pengusaha, istilah perburuhan menjadi ketenagakerjaan.

Dalam pasal 1 Undang-undang No.14 tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai

“Ketenagakerjaan disebutkan bahwa tenaga kerja adalah “setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di luar maupun di dalam hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat”6.

Peran wanita tidak hanya dikaitkan dengan kodratnya sebagai wanita, yaitu sebagai seorang istri atau ibu rumah tangga yang mengurus semua keperluan dalam rumah melainkan juga membantu perekonomian rumah tangga7. Anggota keluarga terdiri dari suami/ayah, istri/ibu, keduanya berperan sebagai orang tua, serta anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Masing–masing anggota keluarga, sesuai dengan statusnya, memiliki peran yang

5Wawancara N. Hutagaol, Balige 12 Januari 2016.

6Husni Lalu, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, hal.

9.

7Op.cit., hlm. 108.

(16)

fungsinya saling mendukung. Suami/ayah berperan sebagai instrumental, yaitu peran yang dikaitkan dengan pelindung, sedangkan istri/ibu berperan sebagai ekspresif, yaitu peran yang dikaitkan dengan kasih sayang, pelayanan, pengasuhan/pemeliharaan8. Bila terdapat dalam keluarga suatu kekurangan, maka umumnya kaum ibu yang paling merasakan hal ini, sehingga ibu berusaha mencari jalan keluar dalam membantu perekonomian rumah tangga.

Wanita mencurahkan tenaganya untuk menyejahterakan keluarganya, mendidik anak- anaknya, bahkan di luar rumah tangga wanita memegang peranan dalam usaha kesejahteraan rumah tangga. Besarnya peranan yang diemban tenaga kerja wanita dalam membantu memenuhi kebutuhan ekonomi erat kaitannya dengan jenis pekerjaan yang mampu dikerjakan oleh buruh wanita9. Begitu juga yang dialami oleh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige yang turut mengambil bagian untuk menambah penghasilan sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Bagi seorang wanita (ibu) pilihan untuk bekerja di luar rumah sebagai buruh, maupun yang lainnya tidak mengurangi rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaan rumah tangga yang sudah menjadi kewajibannya10.

Berdasarkan uraian di atas maka judul penelitian ini adalah “Buruh Wanita di Pabrik Tenun Setia Balige pada tahun 1967–1998”. Adapun yang mendasari penulis untuk melakukan penelitian ini karena ingin mengetahui kegiatan wanita sebagai buruh yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige, apa saja yang menjadi latar belakang buruh wanita bekerja di pabrik tenun Setia. Adapun yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian di pabrik tenun Setia Balige ialah karena jenis tenun yang dikerjakan hanya sarung saja, tenaga kerja ialah dominan wanita.

8 Ihromi T.O, Kajian Wanita dalam Pembangunan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995, hlm.112

9 Butar – Butar Hasudungan, Peranan Wanita Batak Toba dalam Keluarga dan Pertanian Padi Sawah di Desa Lumban Gurning, Kecamatan Porsea Tapanuli Utara, Bandung: Belum diterbitkan, 1995, hlm.5

10 Nopopuro Hardjito, Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1979 ,hlm.134.

(17)

Balige menjadi lokasi penelitian penulis ialah karena Balige yang pertama membuka pabrik tenun sarung di Kabupaten Toba Samosir.

Dalam pemilihan tahun 1967 ialah karena pada tahun ini produksi kain tenun sudah menggunakan alat mesin dan juga tenaga kerja yang cukup banyak. Tahun 1998 menjadi batasan akhir dalam penulisan ini karena tahun pada tahun tersebut terjadi gejolak ekonomi Indonesia yang mengalami penurunan nilai mata uang, hal iniberdampak buruk bagi kelangsungan proses produksi tenun sarung Balige. Pada saat itu juga harga bahan baku benang yang cukup mahal sehingga para pengusaha banyak yang tidak mampu dalam menghadapi krisis ekonomi yang sedang terjadi dan pada akhirnya menutup usaha mereka dan beberapa di antara pengusaha tenun untuk sementara tidak menjalankan usahanya, karena tidak mampu membayar gaji buruh. Hal ini mengakibatkan buruh wanita kehilangan pekerjaan mereka. Pada saat itu juga para pengusaha yang memiliki lahan sawah, mengalami gagal panen sehingga mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi pengusaha tenun. Seperti pabrik yang menjadi tempat penelitian penulis mengalami keterpurukan pada tahun 1998 sehingga untuk waktu setahun tidak mempekerjakan para tenaga kerja untuk mengurangi besarnya kerugian yang mereka terima.

(18)

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah menjadi suatu landasan bagi seorang peneliti dalam melakukan suatu penelitian. Adapun latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah yang menjadi latar belakang buruh wanita bekerja di Pabrik Tenun Setia Balige 1967-1998?

2. Bagaimana latar belakang berdirinya pabrik tenun Setia Balige 1967-1998?

3. Bagaimana buruh wanita menjalankan peran ganda dalam kehidupannya 1967-1998?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan latar belakang buruh wanita bekerja di pabrik tenun Setia Balige 1967-1998.

2. Menjelaskan latar belakang berdirinya pabrik tenun Setia Balige 1967-1998.

3. Menjelaskan kehidupan wanita dalam menjalankan peran gandanya 1967-1998 Manfaat penelitian yang dilakukan adalah:

1. Untuk memberikan informasi tentang kehidupan buruh wanita di pabrik tenun Setia Balige.

2. Untuk dapat dijadikan masukan bagi pemilik usaha tenun Setia Balige dalam pengambilan kebijakan dan keputusan demi meningkatkan kesejahteraan hidup buruh wanita.

3. Untuk menambah referensi dalam ilmu sejarah dan menjadi acuan bagi penulis lain dalam melakukan penelitian berikutnya.

(19)

1.4 Tinjauan Pustaka

Dalam melakukan penelitian ada hal yang mendukung untuk mencapai tujuan penelitian seperti sumber tulisan. Buku yang digunakan oleh penulis ialah “Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia” (2003), dalam buku ini menjelaskan peraturan tentang buruh/tenaga kerja yang telah disahkan dalam Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan. Pemerintah turut serta campur tangan dalam bidang perburuhan untuk mewujudkan perburuhan yang adil, karena peraturan perundang-undangan perburuhan memberikan hak-hak bagi buruh/pekerja sebagai manusia yang utuh, karena itu harus dilindungi baik menyangkut keselamatannya, upah yang layak. Buku ini digunakan oleh penulis untuk membantu dalam penulisan hingga mengetahui bagaimana peraturan yang diterapkan terhadap buruh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige.

Sumber lainnya ialah “Kajian Wanita dalam Pembangunan” (1995), buku ini menjelaskan wanita berperan sebagai ibu/istri dalam rumah tangga yang berperan aktif dalam mengasuh, memelihara, memenuhi kesehatan keluarga, dalam buku ini juga dijelaskan peranan wanita dalam masyarakat, bukan sekedar ibu rumah tangga saja akan tetapi turut juga menyumbangkan pengetahuannya terhadap masyarakat, seperti turut mengambil bagian dalam struktur organisasi.

Dalam buku “Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat” (1968) menjelaskan bahwa kedudukan wanita dalam keluarga yang mengemban seluruh tugas–tugas rumah tangga, dan mencoba untuk mencari solusi untuk membantu perekonomian rumah tangga dan pada akhirnya timbul perselisihan dengan anggota keluarga, dalam buku ini juga diulas bagaimana persoalan yang timbul ketika wanita menjadi pekerja, sehingga akhirnya dibuat

(20)

hukum keluarga dan hukum yang mengatur tentang kedudukan wanita. Buku ini dengan baik menjelaskan bahwa wanita yang berperan aktif dalam kegiatan yang dilakukan oleh wanita, sehingga sangat membantu penulis menjelaskan bagaimana kedudukan wanita khususnya buruh wanita yang berada di pabrik tenun Setia Balige.

Dalam buku “Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia” (1979), menjelaskan bahwa kaum wanita tidak mau ketinggalan dan bersama-sama dengan kaum pria dalam berjuang untuk kesejahteraan rumah tangga, kaum wanita memiliki hak, kewajiban, dan kesempatan yang sama dengan pria dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Dalam buku ini juga dijelaskan hambatan-hambatan yang dialami oleh wanita dalam mencari pekerjaan karena faktor pendidikan yang rendah. Buku ini turut membantu penulis dalam menjelaskan bagaimana usaha yang ditempuh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige dalam membantu menopang kebutuhan ekonomi melalui keterampilan yang mereka miliki.

Dalam tesis “Peranan Wanita Batak Toba dalam Keluarga dan Pertanian Padi Sawah di Desa Lumban Gurning, Kecamatan Porsea Tapanuli Utara” (1995), menjelaskan bahwa peranan wanita tidak hanya dikaitkan dengan kodratnya sebagai wanita, yaitu sebagai seorang istri atau ibu saja, namun telah berkembang sedemikian rupa sehingga wanita telah berperan serta dalam setiap kehidupan masyarakat juga dijelaskan bahwa tenaga kerja wanita sudah cukup berperan dalam berbagai kegiatan sektoral di beberapa daerah, namun masih ada kendala yang dihadapi wanita antara lain, masih adanya tatanan nilai yang belum seluruhnya menopang berkembangnya peran dan status wanita sesuai dengan potensi wanita sebagai manusia yang utuh. Dalam tesis ini juga dijelaskan bahwa filosofi orang Batak menyatakan bahwa anak adalah harta bagi orang tuanya, sehingga orang tua, khususnya ibu mengharapkan anak-anaknya dapat menempuh

(21)

pendidikan yang tinggi. Dengan adanya tesis ini sangat membantu penulis dalam menjelaskan bahwa peranan wanita dalam memperbaiki kondisi ekonomi, sosial keluarga.

1.5 Metode Penelitian

Dalam penelitian, penulis wajib menggunakan metode penelitian agar proses penelitian dapat berjalan secara efektif. Penelitian sejarah mempunyai beberapa tahap yaitu: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.

Langkah pertama adalah heuristik yaitu pengumpulan sumber atau data yang berkaitan dengan jenis sejarah yang akan ditulis. Sumber dalam hal ini berupa data tertulis dan juga wawancara (lisan). Dalam penulisan ini penulis melakukan penelitian pustaka dengan sumber buku, artikel, arsip yang berhubungan dengan buruh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Sumber-sumber ini diperoleh dari Perpustakaan USU, data yang dimiliki oleh pabrik tenun Balige, Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba Samosir. Sumber lisan yang penulis lakukan dalam penelitian yaitu wawancara terhadap beberapa informan yang memberikan informasi berupa keterangan mengenai penelitian. Dalam wawancara dilakukan pemilihan terhadap beberapa informan yang mengetahui informasi tentang topik, yaitu mereka yang pernah bekerja di pabrik tenun maupun yang masih bekerja hingga pada tahun 1998.

Langkah kedua yaitu verifikasi (kritik sumber), dalam tahapan ini data yang telah diperoleh akan dianalisis apakah dokumen itu dapat dipercaya kebenarannya. Kritik yang dilakukan ialah kritik interen dan juga kritik eksteren. Kritik interen diperlukan dalam menilai

(22)

kelayakan data, benarkah data tersebut dapat dipercaya atau sebaliknya, sedangkan kritik eksteren ialah untuk menentukan keabsahan data11.

Tahapan berikutnya yaitu interpretasi atau penafsiran. Dalam hal ini data yang telah diperoleh dan kemudian dianalisis sehingga menjadikan analisis yang baru yang sifatnya lebih objektif dan ilmiah.

Tahap terakhir adalah historiografi, setelah semua sumber-sumber yang didapatkan selesai diuji kebenaran dan kelayakannya maka tahap selanjutnya yaitu merampungkan semua hasil data. Dalam penulisan sejarah aspek kronologi dan sistematis sangat penting sehingga dapat menghasilkan penulisan yang tepat sehingga dapat dimengerti.

11 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 1995, hlm.99

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 2.1 Keadaan Geografis

Keadaan geografis merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan dalam penulisan sejarah. Dengan mengetahui dan menganalisis tempat yang akan diteliti maka akan dapat diperoleh informasi seputar kejadian masa lampau. Kebenaran suatu kejadian bisa dikatakan bersifat fakta jika tempat peristiwa dapat dibuktikan kebenarannya. Balige adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Toba Samosir, Propinsi Sumatera Utara. Pada awal pembentukannya pada tahun 1999, kabupaten Toba Samosir terdiri dari 13 kecamatan, 5 kecamatan pembantu, 281 desa dan 19 kelurahan.

Kecamatan Balige terdiri dari 29 desa dan 6 kelurahan dengan luas wilayah mencapai 91,05 Km2, yaitu 4.50% dari total luas Kabupaten Toba Samosir yang tersebar di 35 desa12. Dengan terbagi atas 100 dusun dan 31 lingkungan. Pada awalnya hanya 33 desa saja, kemudian untuk meningkatkan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat, maka pada tahun 2009 jumlah desa di kecamatan Balige bertambah menjadi 35.

Adapun desa dan kelurahan yang terdapat di Kecamatan Balige yaitu: Aek Bolon Julu, Aek Bolon jae, Siburuon, Hutagaol Peatalun, Bonan Dolok I, Bonan Dolok II, Bonan Dolok III, Hutanamora, Hutadame, Sibuntuon, Lumban Gorat, Sianipar Sihail-hail, Hinalang Bagasan, Sangkar Nihuta, Pardede Onan, Silalahi Pagar Batu, Napitupulu Bagasan, Lumban Dolok, Longat, Balige I, Balige II, Balige III, Paindoan, Parsuratan, Huta Bulu Mejan, Saribu Raja Janji

12Kantor BPS 2009

(24)

Maria, Baruara, Matio, Lumban Pea, Lumban Gaol, Sibola Hotang, Lumban Bumbul, Lumban Silintong, Lumban Pea Timur, Tambunan Sunge.

Kecamatan Balige secara astronomis berada pada 20-15’- 20-21 Lintang Selatan dan 990-0- 990-11 Bujur Timur.Kecamatan Balige secara geografis berbatasan dengan, Sebelah Utara berbatasan dengan Danau Toba, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara, Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tampahan, Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Laguboti13.

Wilayah Balige dengan topografi (keadaan permukaan tanah) sebagian besar adalah berbukit hingga bergunung. Oleh karena itu kondisi tersebut merupakan sumber air bagi penduduk Balige. Ada beberapa sungai yang mengalir di wilayah Balige dan bermuara di Danau Toba yaitu: Aek14 Halian, Aek Pamulingan, Aek Tordong, Aek Samate Asu, dan Aek Lumban Binanga. Penduduk yang tinggal di pedesaan dan berada di daerah kaki perbukitan memanfaatkan air bersih yang bersumber dari mata air, sedangkan penduduk yang bermukim di pinggiran Danau Toba memanfaatkan air danau.

2.2 Mata Pencaharian

Kecamatan Balige sesuai dengan letak astronomis, terletak pada wilayah dataran tinggi yang berada pada ketinggian 905 sampai 1200 M di atas permukaan laut, yang tergolong ke dalam daerah beriklim tropis basah sehingga mempunyai kelembapan udara yang cukup, dengan topografi dan kontur tanah yang beragam, yaitu datar, landai, dan terjal. Secara umum Kecamatan Balige mempunyai lahan dengan status penguasaan lahan yaitu tanah ulayat dan tanah pemerintah yang artinya yaitu, Tanah ulayat/tanah adat adalah tanah yang dimiliki oleh

13 Kantor BPS 1998

14 Aek dalam bahasa Batak Toba artinya merupakan aliran air

(25)

garis keturunan yang memiliki lahan tersebut dan dikelola oleh turunan dari para orang tua terdahulu. Tanah ulayat yang berkaitan dengan budaya masyarakatnya masih banyak ditemukan pemanfaatannya yang belum optimal hingga tanah tersebut hanya ditumbuhi oleh semak belukar.

Tanah Negara (Pemerintah) adalah tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan dikelola oleh pemerintah yang digunakan sebagai sarana umum15.

Tabel 1

Penggunaan Lahan Di Kecamatan Balige

No Jenis Lahan Luas (Ha)

1 Permukiman 474,15

2 Pertanian Lahan Kering 470,52

3 Pertanian Lahan Kering Campuran 1.907,61

4 Sawah 350,81

5 Semak Belukar 102,44

6 Area Penggunaan Lain 1.824,18

Total (Ha) 5.129,72

Sumber :Kantor BPS, Kabupaten Toba Samosir dalam angka tahun 1998

Berdasarkan data di atas lahan terluas merupakan pertanian lahan kering campuran yang digunakan masyarakat Balige sebagai sumber mata pencaharian, lahan kering ini ditanami berbagai macam tumbuhan seperti sayuran, buah-buahan. Lahan sawah terluas berada di desa Baruara seluas 237 ha dan tersempit di desa Siburuon dengan luas 20 ha.

15Wawancara DM. Sigalingging, Balige, 13 Januari 2016.

(26)

Masyarakat Balige mempunyai latar belakang pekerjaan yang berbeda diantaranya yaitu Petani, Pegawai Negeri Sipil, Nelayan, Pedagang, Buruh, dan juga Wiraswasta, pekerjaan yang mendominasi yaitu Petani dan juga buruh (mereka yang bekerja di pabrik tenun).

Dalam menopang kehidupan masyarakat pada umumnya bergantung dari hasil pertanian di sawah yang mereka usahakan, lahan yang mereka kerjakan kebanyakan merupakan hasil dari warisan orang tua. Sebagian besar rumah tempat tinggal penduduk berbahan baku utama kayu, baik untuk lantai maupun dinding. Atap rumahnya telah menggunakan seng.

Sistem pengelolahan lahan pertanian yang diterapkan pada tahun 1930an masih dilakukan dengan cara yang sederhana sekali dan bersifat tradisional yaitu menggunakan tenaga manusia dan hewan. Untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan mudah dan cepat masyarakat mengunakan sisitem yang dikenal dengan Marsialap Ari (gotong royong)16 yang dilakukan secara bergantian. Selain bermata pencaharian sebagai petani, mereka juga sebagai peternak seperti memelihara kerbau, ayam, bebek, babi, dan juga anjing. Hal ini dilakukan karena makanan yang diberikan kepada ternak mereka berasal dari ladang atau sawah yang mereka miliki, sehingga tidak membebani petani untuk membeli pakan ternak. Hewan yang dipelihara selain untuk konsumsi sendiri, juga dapat membantu pekerjaan di sawah dan dapat dikatakan sebagai harta, khususnya ternak kerbau karena dalam keadaan yang mendesak akan kebutuhan, terutama dalam masalah keuangan maka ternak dapat dijual.

16 Marsialap Ari dalam masyarakat Batak merupakan suatu budaya gotong royong untuk melaksanakan pengerjaan lahan untuk bercocok tanam , mulai dari mencangkul, menanam, menyiangi, sampai dengan memanen.

Sistem gotong royong tersebut berupa tenaga secara bergiliran dan saling bahu membahu tanpa adanya upah yang dikeluarkan.

(27)

Penanaman padi dilakukan di lahan yang basah atau berair, sementara lahan yang kering tempat penanaman jagung, jahe, ubi, dan kopi. Mereka juga memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami sayur-sayuran, agar dapat dikonsumsi sehari-hari tanpa membeli ke pasar.

Umumnya yang mengerjakan pekerjaan ini adalah wanita, dimulai dari penanaman bibit padi, pemupukan, panen. Bagian dari laki-laki yaitu membuka lahan, mengangkat hasil panen. Oleh karena itu dalam kesehariannya yang dipenuhi dengan berbagai aktifitas menjadikan wanita lebih tekun, sabar, dan terampil. Sistem pengairan (irigasi) pada lahan padi dilakukan dengan memanfaatkan sumber air dari Danau Toba. Masyarakat mendapatkan kesempatan yang cukup baik untuk bercocok tanam padi oleh karena sumber air yang melimpah. Sehingga sejak tahun 1930an Balige menjadi lumbung padi bagi masyarakat Toba17.

Terdapat 29 desa dan 4 kelurahan di Kecamatan Balige sudah merupakan swasembada pangan.Kelurahan tersebut yaitu Kelurahan Sangkar Nihuta, Kelurahan Pardede Onan, Kelurahan Napitupulu Bagasan, Kelurahan Balige III18. Danau Toba berperan penting dalam membantu pengairan sawah, maupun lahan kering bagi masyarakat, khususnya daerah Balige yang memanfaatkan sumber daya alam ini sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, terutama hasil tangkapan ikan yang didapat dari danau selain untuk dikonsumsi sehari-hari, masyarakat juga menjual hasil tangkapan ikan mereka di pasar.

Bagi masyarakat yang bekerja sebagai nelayan memanfaatkan Danau Toba dengan membuat keramba19 sebagai wadah pemeliharaan ikan yang bersifat efisien dan efektif, hasil

17 Wawancara M. Panjaitan, Balige 12 Januari 2016.

18 Kantor BPS, Kabupaten Toba Samosir 2009.

19Keramba adalah budidaya ikan yang dilakukan di laut, sungai, ataupun di danau yang kerangkanya terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi berbentuk persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik agar wadah tersebut tetap terapung dalam air. Wawancara dengan A. Sianturi, Balige 13 Januari 2016.

(28)

yang ikan yang didapatkan dengan cara ini lebih menguntungkan karena ikan lebih banyak dan ukuran lebih besar dibandingkan dengan menggunakan jaring biasa.

2.3 Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk sebanyak 43.737 orang terdiri dari 22.224 jiwa perempuan dan laki- laki sebanyak 21.513 jiwa. Jumlah rumah tangga yaitu 8.283 rumah tangga, dengan kepadatan 480,4 jiwa/km2. Kecamatan Balige sebagai ibukota kabupaten merupakan pusat perdagangan, dan pusat pemerintahan dengan tingkat kepadatan yang tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Toba Samosir.

Jumlah penduduk di tiap desa bervariasi yang mana desa Napitupulu Bagasan merupakan tingkat kepadatan penduduk tertinggi sementara yang terendah di desa Hutanamora. Balige berada di pesisir Danau Toba yang menjadi pusat aktifitas masyarakat sejak tahun 1930an.

Dengan adanya sarana umum seperti sekolah, rumah sakit, tempat ibadah menyebabkan Balige menjadi daerah yang cukup ramai20. Kecamatan Balige merupakan bonapasogit (asal marga) bagi penduduk yang bermarga Napitupulu, Siahaan, Pardede, Sianipar, Simanjuntak, Hutagaol, Silalahi, Tampubolon Simangunsong (marga yang dimiliki merupakan para pengusaha tenun sarung yang ada di Kecamatan Balige). Marga yang lainnya seperti Situmorang, Siregar, Harahap, Simanjorang adalah masyarakat pendatang yang sehari-hari mengunakan bahasa Batak Toba.

Konsep garis keturunan masih sangat kuat di Balige, satu garis keturunan ditandai dengan marga yang digunakan secara turun temurun berdasarkan garis keturunan laki-laki. Marga dalam adat Batak dapat diartikan sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai tali persaudaraan

20 Castles Lance, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940, Depok:

Percetakan Duta Prima, 2001, hlm. 120.

(29)

yang sangat kuat. Marga-marga terus berkembang dan penyebarannya seiring dengan sebaran kampung-kampung sesuai dengan marganya. Selain itu terdapat juga etnik lain seperti Nias, Jawa yang bermukim di Kecamatan Balige meskipun jumlahnya sedikit.

Tabel 2

Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur Kecamatan Balige No Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah

1 0-4 2.216 2.162 4.378

2 5-16 5.967 5.925 11.892

3 17-34 7.178 7.072 14.299

4 35-49 3.289 3.763 7.052

5 50 keatas 3.136 3.632 6.768

Sumber: Badan Pusat Statistik Balige 1998

Kondisi di atas memperlihatkan bahwa indikator usia produktif sangat dominan bila dibandingkan dengan usia anak-anak dan lanjut usia.

Kehidupan masyarakat Balige masih kental dengan tradisi peninggalan leluhur, upacara adat yang berhubungan dengan periode hidup manusia mulai dari lahir hingga meninggal masih tetap melekat. Suatu kelompok kekerabatan di Balige dihitung berdasarkan satu bapak yang disebut “sa ama”, satu kakek atau nenek moyang diistilahkan “sa ompu”. Suatu kekerabatan yang lebih besar adalah “marga” yang berarti klen patrilineal, bagi masyarakat Balige kesamaan marga sangat penting karena yang satu marga masih satu keturunan dan sangat dekat. Hal ini menimbulkan adanya rasa persaudaraan yang bertanggung jawab satu sama lain, meskipun telah

(30)

terpisahkan oleh garis keturunan yang cukup jauh. Sedangkan perkawinan yang semarga tidak diperbolehkan dan dianggap tabu oleh warga Balige.

Kebiasaan demikian yang dilakukan tidak terlepas dari falsafah hidup orang Toba yaitu Dalihan Na Tolu21(tiga prinsip dasar hidup masyarakat Batak Toba). Budaya Manortor yang masih dilakukan ketika melakukan acara pernikahan, kematian. Dalam acara syukuran seperti yang dikenal dengan Pesta Gotilon yang diadakan sekali dalam setahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapatkan. Dengan adanya kegiatan yang dilakukan dapat mengikat tali persaudaraan diantara masyarakat Batak Toba. Acara ini dilakukan di gereja dan kemudian di lapangan terbuka dilaksanakan oleh seluruh kalangan masyarakat.Masyarakat di Kecamatan Balige mayoritas beragama Kristen yang pertama sekali dikenalkan oleh tokoh Zending bernama I.L. Nommensen yang berasal dari Jerman.

Pada tahun 1870an misi zending telah membawa perubahan yang cukup berarti bagi masyarakat Batak Toba, khususnya bagi penduduk Balige. Sebelum agama Kristen masuk ke Balige, Ugamo Malim (kepercayaan tradisional masyarakat Toba) masih sangat kental pada masa itu, kemudian dengan melalui proses yang cukup panjang, agama Kristen diterima baik oleh masyarakat. Ada satu bangungan gereja yaitu gereja HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan) yang dibangun pada 7 Oktober 1861 dan diresmikan pada tahun 1881 dan pada saat itu Pdt. I. L.

Nommensen diangkat menjadi Ephorus (pimpinan tertinggi) HKBP yang hingga pada saat ini masih digunakan oleh masyarakat Balige sebagai sarana ibadah22 .

21Dalihan Na Tolu ialah filosofi yang menyangkut masyarakat dan Budaya Batak Toba.Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional yang menjadi dasar bersama. Ketiganya yaitu: pertama, somba marhula-hula artinya hormat kepada keluarga pihak istri. Kedua, elek marboru artinya mengayomi wanita.Ketiga, manat mardongan tubu artinya bersikap hati-hati kepada teman semarga.

22 Castles Lance, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940, Depok:

Percetakan Duta Prima, 2001, hal.111.

(31)

Tabel 3

Jumlah Rumah Ibadah di Kecamatan Balige No Tempat ibadah Jumlah

1 Mesjid 5

2 Musholla 3

3 Gereja 41

Sumber: Kantor BPS, Kabupaten Toba Samosir tahun 1998

Tabel 4

Jumlah Penduduk Balige menurut Agama No Agama Jumlah Persentase

1 Islam 1.859 4,25%

2 Kristen Protestan 41.878 95,74%

Total 43.737 100%

Sumber: Kantor BPS, Kabupaten Toba Samosir tahun 1998

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh penduduk masyarakat Kecamatan Balige adalah beragama Kristen.

2.4 Pendidikan

Salah satu unsur yang mendukung dalam pencapaian pelaksanaan pembangunan suatu daerah adalah keahlian yang cukup tinggi. Keahlian dapat diperoleh melalui pembelajaran lebih dini melalui wajib belajar 9 tahun. Dalam adat Batak Toba terdapat istilah Anakkon Ki do Hamoraon Di Ahu (anak merupakan harta kekayaan bagi orang tua).

(32)

Di dalam satu keluarga jika ada yang mencapai pendidikan ke jenjang yang tinggi, maka sangat dihargai dikalangan masyarakat. Maka dalam hal ini orang tua sangat berusaha keras dalam menyekolahkan anaknya kejenjang pendidikan yang lebih baik,orang tua mengahabiskan sebagian besar waktu dan tenaga mereka dalam pekerjaan, baik mereka sebagai petani maupun buruh terlebih karena rendahnya tingkat ekonomi yang dimilki sehingga dengan harapan anak- anak mereka akan menjadi sukses di masa depan yang dapat memperbaiki tingkat perekonomian dan pada akhirnya dapat membawa nama baik keluarga di masyarakat. Wanita yang bekerja sebagai buruh di pabrik tenun Setia Balige mempunyai harapan yang besar terhadap anak-anak mereka, sehingga dengan keterampilan dan tenaga yang mereka miliki digunakan untuk bekerja sehingga anak-anaknya dapat menempuh pendidikan yang lebih baik.

Ketersediaan prasarana sekolah sebagai salah satu faktor pendukung kemajuan pendidikan di Kecamatan Balige tersedia mulai dari pendidikan TK, SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi, yang mana masing-masing diantarnya berjumlah 5 TK, 31 SD, 8 SLTP, 13 SLTA, dan 2 Perguruan Tinggi23. Dalam hal ini lembaga pendidikan negeri lebih banyak dibandingkan lembaga pendidikan swasta. Bagian dari pencapaian proses pendidikan ini yaitu ketersediaan guru sebagai tenaga kerja pendidik/pengajar. Mereka diantaranya yaitu 1030 guru yang terdiri dari 31 guru TK, 322 guru SD, 212 guru SLTP, dan SLTA 1601 orang24.

23BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 1998.

24 Kantor BPS, Kabupaten Toba Samosir dalam angka 1998.

(33)

BAB III

LATAR BELAKANG BURUH WANITA BEKERJA DI PABRIK TENUN SETIA BALIGE TAHUN 1967-1998

3.1 Faktor Ekonomi

Kebutuhan akan pemenuhan ekonomi sering menjadi titik sentral dari motivasi seseorang dalam melakukan tindakan tertentu.Faktor ekonomi menjadi pendorong yang melatar belakangi sesorang untuk bekerja.Sejalan dengan usaha tersebut, maka aktifitas yang paling menonjol ialah mencari pekerjaan. Dalam usaha pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga tidak hanya laki-laki saja yang berperan secara penuh, namun wanita juga mempunyai peran yang tidak kalah penting dalam membantu perekonomian keluarga khususnya ketika pendapatan dari suami tidak mencukupi kebutuhan perekonomian. Peran wanita tidak hanya di rumah saja menjalankan kegiatan sehari-hari mengurus rumah tangga (memasak, membesarkan anak, mencuci)25. Hal ini menjadi tugas pokok wanita sebagai ibu rumah tangga, disamping itu wanita juga menciptakan suasana kekeluargaan dengan keluarga lain di lingkungan tempat tinggalnya.

Ibu dalam rumah tangga memegang peranan penting terutama dalam membimbing dan mendidik anak-anak. Keadaan yang demikian membuat wanita mempunyai peranan ganda yaitu peran domestik yang bertugas mengurusi kebutuhan rumah tangga dan peran publik yang bertugas diluar rumah atau bekerja. Bagi wanita yang bekerja dipabrik tenun Balige keadaan ini bukanlah sesuatu yang baru khususnya mereka yang tinggal dalam lingkungan ekonomi rendah, karena sejak remaja telah ditanamkan oleh orang tua untuk berkewajiban bekerja dalam

25 Notopuro Hardjito, Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984, hlm. 35.

(34)

membantu perekonomian keluarga26. Dengan berbagai usaha wanita bekerja dengan memberikan kemampuan yang dimiliki untuk menjaga kehormatan keluarga27.

Wanita dalam keluarga berpenghasilan rendah memiliki potensi yang terbatas untuk meningkatkan kehidupan ekonomi keluarganya, khususnya jika tingkat pendidikan wanita yang rendah mengakibatkan wanita mengalami keterbatasan dalam mencari pekerjaan yang lebih baik28. Hal inilah yang dialami oleh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige oleh karena tingkat pendidikan mereka yang rendah, pekerjaan yang mereka dapatkan menjadi sangat terbatas. Dalam hal ini wanita mencari solusi dengan turut bekerja salah satunya ialah sebagai buruh tenun. Dengan diikutsertakannya kaum wanita dalam kegiatan menambah penghasilan rumah tangga akan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi menjadikan wanita untuk bekerja meninggalkan rumah (bekerja sebagai buruh) demi membantu menopang kebutuhan keluarga.

Upah yang diperoleh oleh wanita sebagai buruh di pabrik tenun sebenarnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun dengan penghasilan tetap yang mereka terima akhirnya mengharuskan mereka tetap bekerja. Begitu juga dengan waktu yang mereka habiskan bekerja di pabrik yang di mulai pada pukul 07.00 pagi kemudian istirahat pada pukul 12.00 sampai 01.00 dan selesai bekerja pada pukul 06.00 dengan penghasilan sebesar Rp.1500, namun tetap saja menjadi buruh merupakan alternatif terbaik untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Pekerjaan suami para buruh wanita yaitu ada sebagai nelayan, petani, tukang becak, sopir angkot, dan juga petani.

Upah yang diperoleh oleh suami mereka tidak menentu sehingga sebanding dengan tingkat kebutuhan ekonomi rumah tangga.

26Ihromi T.O, Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1994, hlm. 7

27Ibid, hlm. 49.

28 Ihromi T.O, Kajian Wanita dalam Pembangunan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995, hlm. 268.

(35)

Wanita yang bekerja sebagai buruh di pabrik tenun Setia Balige pada tahun 1970an tidak dapat dikatakan sebagai buruh sejati, karena pada dasarnya pekerjaan mereka adalah petani, waktu senggang yang mereka miliki dimanfaatkan untuk bekerja sebagai buruh tenun29. Dengan sistem yang ditetapkan oleh pemilik usaha tenun tersebut pada saat itu yaitu tidak menggunakan sistem kontrak dan juga bekerja harian. Hal ini yang cukup menguntungkan bagi wanita yang memiliki lahan pertanian karena dapat mengerjakan lahan dan bertenun. Contohnya ketika lahan yang dikerjakan siap untuk dipanen, maka buruh wanita tersebut untuk beberapa hari tidak bekerja dipabrik tenun. Jadi dapat dikatakan bahwa mereka wanita yang bekerja sebagai buruh tenun pada masa itu ialah pekerjaan sampingan mereka. Hasil padi dari sawah mereka cukup untuk pemenuhan kehidupan mereka, bahkan bisa sampai menjual hasil panen mereka.

Akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi buruh tenun yang tidak mempunyai lahan atau pun sawah yang dapat dijadikan sebagai pekerjaan utama mereka. Mereka yang tidak memiliki lahan/tanah menjadikan buruh tenun sebagai pekerjaan tetap. Bagi wanita yang tidak memliki lahan untuk dikelola, sebelum menjadi buruh di pabrik tenun mereka bekerja harian di lahan pertanian milik orang lain, dan ada juga yang menyewa tanah untuk dikerjakan. Dengan dibukanya pabrik tenun Setia Balige menjadi suatu kesempatan yang baik bagi mereka dalam menambah penghasilan keluarga, mengingat pendapatan yang diperoleh oleh suami mereka tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga pada tahun 1990an buruh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige menjadikan pekerjaan tenun sebagai sumber mata pencaharian mereka dalam arti pekerjaan utama untuk mendapatkan penghasilan.

29Wawancara N.Hutagaol 11 Januari 2016

(36)

3.2 Tingkat Pendidikan

Secara formal sistem pendidikan di Indonesia terdiri dari pendidikan dasar, lanjutan pertama, lanjutan atas, dan pendidikan tinggi. Pada tahun 1940an pendidikan hanya ditujukan untuk kelompok elit saja. Tingginya biaya menjadi hambatan bagi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Khususnya bagi keluarga yang kurang mampu, orang tua lebih memilih untuk menyekolahkan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan pada tahun 1940an lebih rendah kedudukannya mereka lebih dibutuhkan di rumah untuk membantu orang tua dan dididik untuk persiapan berumah tangga.

Anggapan bahwa anak perempuan kelak akan menjadi anggota keluarga suami setelah menikah, sementara anak laki-laki yang akan membawa martabat keluarga menjadi alasan mengapa anak laki-laki yang disekolahkan.

Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki oleh seseorang maka semakin besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, begitu juga sebaliknya rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan keterbatasan dalam memilih pekerjaan. Hal inilah yang dilami oleh wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige, pada umumnya tingkat pendidikan mereka hanya sampai di tamatan tingkat pertama. Dari hasil wawancara yang penulis lakukan kepada 45 wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige diketahui bahwa tingkat pendidikan yang mereka tempuh adalah sebagai berikut:

(37)

Tabel 6

Tingkat Pendidikan Buruh Wanita Pabrik Tekstil Balige tahun 1998 No. Tingkat Pendidikan Jumlah

1 Tidak sekolah 3

2 Tidak tamat SD 5

3 Tamat SD 17

4 Tidak tamat SLTP 15

5 Tamat SLTP 5

Jumlah 45

Sumber: wawancara dengan buruh wanita di pabrik tenun Setia Balige

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase tingkat pendidikan wanita yang paling rendah yaitu adanya buruh wanita yang tidak menempuh pendidikan dasar, sedangkan tingkat pendidikan yang paling tinggi berada pada tamatan sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan keterbatasan mereka dalam mencari pekerjaan sehingga alternatif terbaik yaitu menjadi buruh. Di pabrik tenun Setia Balige tingkat pendidikan yang ditempuh bukanlah menjadi syarat untuk bisa bekerja, hanya dibutuhkan tenaga, keuletan, karena selama proses pengerjaan tidaklah membutuhkan keterampilan yang memadai. Semakin lama mereka akan terbiasa dengan pekerjaan tenun sehingga kemampuan dalam bertenun akan muncul karena faktor kebiasaan. Menurut hasil wawancara yang melatar belakangi penyebab tingkat pendidikan mereka rendah yaitu karena faktor ekonomi yang sulit pada waktu itu, kemudian perhatian orang tua akan pemahaman pentingnya bersekolah belum memadai, dan juga mereka mempunyai saudara yang cukup banyak sehingga orang tua mereka tidak sanggup untuk

(38)

menyekolahkan mereka. Dari hasil wawancara penulis dengan wanita yang bekerja di pabrik tenun mereka bekerja sejak mereka remaja hingga sampai mempunyai anak yang telah disekolahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi bahkan sudah ada yang mempunyai cucu dan tetap bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Mereka yang telah lama bekerja merasa sudah nyaman dengan pekerjaannya, mereka mengatakan bahwa akan tetap bekerja di pabrik sampai dengan batas kemampuan mereka.

3.3 Keinginan wanita bekerja

Pada umumnya ketika wanita memutuskan untuk bekerja, ada alasan tertentu yang diutarakan, hasil wawancara dengan wanita yang bekerja di pabrik tenun mengungkapkan faktor penyebab mereka memutuskan untuk bekerja di pabrik tenun Balige yaitu ketika mereka masih remaja kewajiban membantu orang tua sudah ditanamkan kepada mereka sejak kecil, mengingat kondisi perekonomian mereka yang sulit pada waktu itu, mereka membantu orang tua dengan mengambil tugas-tugas rumah sebagai pekerjaannya seperti mencuci, memasak dan ketika mereka libur sekolah ikut ke ladang pun mereka dikerahkan oleh orang tua, hal ini dinilai cukup membantu karena semakin banyak yang ikut bekerja maka semakin cepat pekerjaan itu selesai.

Ketika mereka beranjak dari remaja ke dewasa dengan kemampuan yang terbatas, oleh karena pendidikan mereka yang rendah pilihan untuk bekerja di tempat yang lebih baik sangat kecil bagi mereka. Dengan dibukanya pabrik tenun Balige menjadi suatu kesempatan yang cukup baik bagi mereka untuk dapat mendapatkan upah.

Pada awalnya motivasi mereka bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, namun ketika mereka sudah beranjak dewasa mereka mulai memikirkan tentang masa depan mereka sendiri mereka ingin hidup mandiri dengan menabung hasil dari pekerjaan mereka. Inilah yang menyebabkan mereka tidak lagi berkeinginan untuk kembali melanjutkan sekolah, dengan upah

(39)

langsung yaitu uang yang mereka terima membuat pekerjaan tenun lebih menarik dibandingkan dengan kembali bersekolah, hingga pada akhirnya mereka berumah tangga tetap bekerja di pabrik tenun ini. Motivasi lainnya ialah wanita yang menikah muda dan pekerjaan suami mereka dengan penghasilan yang tidak menetap, seperti yang telah dibahas diatas menjadikan mereka turut serta dalam menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka. Lainnya yaitu seperti yang dijelaskan diatas bahwa waktu luang yang dimiliki oleh wanita ketika lahan mereka sudah selesai dikerjakan atau sedang menunggu masa panen, waktu tersebut digunakan untuk bekerja sebagai buruh di pabrik tenun Setia Balige.

Dengan memanfaatkan waktu yang ada, mereka dapat menghasilkan uang di luar daripada hasil pertanian mereka sehingga dapat menambah penghasilan dalam kehidupan keluarganya. Merupakan suatu keuntungan bagi mereka ketika sistem yang diterapkan dalam pekerjaan tersebut tidak mengikat mereka dengan ketentuan yang membebani mereka.

3.4 Umur dan Lama Menekuni Pekerjaan

Dalam pekerjaan sektor formal batasan umur dalam penerimaan tenaga kerja ditetapkan.

Akan tetapi bagi industri non formal pada umumnya umur dan tingkat pendidikan tidak menjadi batasan bagi pemilik usaha untuk penerimaan tenaga kerja. Ketika wanita tersebut tidak cacat fisik, maka dapat dipekerjakan, cukup dengan keuletan dan kemauan untuk berlatih sudah menjadi modal yang cukup bagi wanita untuk dapat bekerja. Hal inilah yang terjadi di pabrik tenun Setia Balige, tanpa adanya syarat-syarat tertentu yang diberlakukan, sehingga banyak wanita khususnya dari daerah Balige yang mau bekerja sebagai buruh, dan kemudian dari luar daerah Balige yang berdatangan ke Balige untuk mencari pekerjaan.

(40)

Berdasarkan wawancara penulis dengan 45 wanita yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige dapat dilihat umur wanita yang bekerja seperti di bawah ini:

Tabel 7

Umur Buruh Wanita di pabrik Tenun Balige tahun 1998

Umur Jumlah

25-30 6

31-36 10

37-42 12

43-48 17

Sumber: wawancara dengan buruh wanita

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa padausia 25-30 usia termuda yang bekerja di pabrik tenun Setia Balige dan usia tertua pada batasan 43-48 tahun. Hal ini menggambarkan bahwa umur bukanlah menjadi faktor penghalang mereka untuk mendapatkan pekerjaan, khususnya di pabrik tenun ini.

(41)

Tabel 8

Lamanya Buruh Wanita Menekuni Pekerjaan di Pabrik Tenun Balige Tahun 1998 No Lama bekerja Jumlah

1 1-5 tahun 4 orang

2 6-11 tahun 10 orang

3 12-17 tahun 12 orang

4 18-22 tahun 8 orang

5 23-27 tahun 10 orang

6 28 tahun keatas 15 orang

Jumlah 45 orang Sumber: wawancara dengan informan

Berdasarkan tabel diatas bahwa wanita yang paling lama bekerja di pabrik tenun Balige yaitu 28 tahun ke atas sebanyak 15 orang. Dapat disimpulkan bahwa pada umumnya mereka bekerja sebagai buruh adalah karena faktor ekonomi. Menjadi buruh tenun di pabrik tenun Setia Balige menjadi satu-satunya mata pencaharian mereka untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.

(42)

BAB IV

LATAR BELAKANG BERDIRINYA PABRIK TENUN SARUNG BALIGE 4.1 Elit Tradisional Sebagai Perintis Usaha Tenun

Dalam bab ini menjelaskan latar belakang berdirinya pabrik tenun sarung atau yang lebih kerap disebut mandar Balige. Sebagaimana marga raja30 (elit tradisional) yang mempunyai kesempatan (peluang) paling besar dalam mendirikan suatu usaha dengan modal yang dimiliki.

Status kepemilikan tanah yang dimiliki oleh marga raja menjadi salah satu alasan mengapa anggota elit tradisional tersebut berpeluang mendirikan usaha tenun sarung. Tokoh-tokoh perintis industri tenun sarung Balige semuanya berasal dari kalangan marga raja yaitu Karl Sianipar, Baginda Siahaan, Timbang Siahaan31.

Bagi masyarakat Balige, pemakain sarung merupakan hal yang harus mereka lakukan sejak dari usia muda (bayi) hingga orang tua. Balige yang terikat dengan adat Batak menggunakan sarung merupakan kebiasaan mereka, dalam acara adat biasanya wanita dan laki- laki menggunakan sarung. Pada awalnya hanya masyarakat Balige saja yang menggunakan sarung di Kabupaten Toba samosir, hal ini karena pembuatan sarung pertama sekali diproduksi di Balige, dan awal pembuatannya hanya untuk keperluan keluarga, belum sampai pada tingkat produksi sarung untuk dijual. Hingga pada kesempatan yang dimiliki oleh para pengusaha setempat yang dikenal dengan elit tradisional memproduksi kain sarung dengan jumlah yang lebih banyak dan sudah dipasarkan.

30Marga raja ialah mereka yang bergabung suatu kumpulan marga Sibagotnipohan yaitu mereka yang mempunyai desa Balige.Balige merupakan kampung halaman mereka, sehingga mereka disebut sebagai elit tradisonal.Wawancara T. Panjaitan 07 Januari 2016.

31Wawancara F. Napitupulu, 08 Januari 2016.

(43)

Tabel 9

Jumlah Pengusaha Tenun Balige Menurut Marga Asal dan Kelangsungan Usaha Berdasarkan Pencatatan Bulan Maret 1998

No Marga asal Masih beropersi

Sudah berhenti Jumlah

I Marga raja

1. Sianipar 1 2 3

2. Siahaan 3 3 6

3. Simanjuntak 1 1 2

4. Napitupulu 2 3 5

5. Pardede 3 2 5

6. Panjaitan 1 3 4

7. Tampubolon 1 1 2

II Marga pendatang

1. Situmorang 1 0 1

2. Gultom 0 1 1

Jumlah 13 16 29

Sumber: wawancara dengan informan

Berdasarkan data di atas bahwa pengusaha tenun sarung Balige didominasi oleh pengusaha setempat dengan adanya peluang atas hak tanah yang dimiliki, pengusaha setempat lebuh mudah dalam mendapatkan tanah untuk membangun pabrik tenun, dibandingkan dengan pengusaha pendatang yang mendirikan usahanya di Balige.

4.1.1Berdirinya Pabrik Tenun Setia Balige

Pabrik tenun Setia berada di jalan Gereja Desa Balige II, Kecamatan Balige yang didirikan oleh Firman Napitupulu pada pertengahan tahun 1956. Pabrik ini berada pada kawasan

(44)

pemukiman penduduk. Sebelum menjadi pengusaha tenun Sarung Setia Balige beliau adalah buruh di pabrik tenun sarung yang telah lama berdiri dan sudah cukup terkenal yaitu Pabrik Tenun Sarung KARLSITEX yang berada di Desa Sianipar Hauma Bange Balige yang didirikan oleh pengusaha bernama Karl Sianipar.

Setelah mempunyai modal yang cukup, baik dari uang, tanah, kemampuan, maka Firman Napitupulu mendirikan usaha tenunnya. Pada awalnya pengerjaan tenun sarung masih dikerjakan oleh anggota keluarga dan mengunakan Alat Tenun Bukan Mesin32. Pada tahun 1956-1970an dengan adanya hubungan kerjasama antara pemerintah dan pengusaha tenun sarung lokal di Indonesia, maka suatu kesempatan yang baik bagi Firman Napitupulu dalam meningkatkan produksi sarung. Maka Firman Napitupulu mengalihkan alat produksi tenunnya dari Alat tenun Bukan Mesin (ATBM) menjadi Alat Tenun Mesin (ATM) yang didatangkan dari Bandung.

Seiring dengan peralihan alat produksi tersebut, maka dilakukan perekrutan tenaga kerja. Untuk mengerjakan tenun sarung ini, pada umumnya mereka ialah wanita. Pada awal tahun 1970 ada50 alat tenun mesin yang dimiliki oleh Firman Napitupulu. Menurut hasil wawancara dengan jumlah tersebut pada tahun 1970 sudah dapat dikatakan pabrik yang besar33.

4.2 Perkembangan Tenun Sarung

Perkembangan tenun sarung Balige menampilkan 3 kelompok pengusaha yaitu kelompok perintis, kelompok pengikut, kelompok, penerus34.

Kelompok Perintis yaitu kelompok pertama yang merintis usaha tenun sarung yaitu pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Mereka diantaranya yaitu: Baginda Siahaan, Karel Sianipar, Eli

32 Wawancara Maris Napitupulu 12 Januari 2016

33 Ibid.

34 Sitorus Marlyn Tua, Pembentukan Golongan Pengusaha Lokal Di Indonesia: Pengusaha Tenun dalam Masyarakat Batak Toba, Bogor: Belum diterbitkan, 1999, hlm. 94

(45)

Simanjuntak, Timbang Siahaan. Para pengusaha ini merupakan para elit tradisonal pada masanya. Selain sebagai pengusaha, pedagang, mereka juga sebagai tokoh masyarakat, kedua Kelompok Pengikut yaitu kelompok yang mengikuti jejak pengusaha tenun, pada masa itu terjadi ledakan industri tenun, kemunculan para pengusaha ini pada tahun 1950an sampai 1970an.

Ledakan industri yang dimaksud ialah ketika pemerintahan Sukarno menerapkan sistem jatah (kuota) benang untuk mendukung keberlangsungan industri tekstil di Indonesia. Sebagian dari kelompok penerus ini merupakan yang pernah bekerja di pabrik yang dimiliki oleh Kelompok Perintis. Dalam hal ini perlu dibedakan “kelompok pengikut” dengan kelompok yang “ikut- ikutan”, artinya kelompok ini ada yang memanfaatkan celah dari kelemahan sistem kuota benang yang diberikan oleh pemerintah. Bagi kelompok pengusaha yang ikut-ikutan, hal ini sepertinya sedang menjelaskan umpasa (perumpamaan) orang batak toba yaitu eme na masak digagat ursa ia I namasa I na ni ula (padi yang masak di makan rusa, jika itu yang belaku umum maka itu yang akan dikerjakan)35.

Syarat yang diterapkan oleh pemerintah pada saat itu ialah para pengusaha yang memiliki ATBM yang mendapatkan kuota benang. Melihat peluang ini, akhirnya muncul pengusaha tenun yang baru dengan memanfaatkan kesempatan yang ada yaitu ketika telah mendapatkan benang kemudian mereka menjual benang tersebut kepada pengusaha tenun yang lainnya. Dapat dikatakan bahwa mereka yang menjual kuota benang tersebut sebagai pedagang gelap. Sistem yang diterapkan oleh pemerintah membawa dampak positif bagi pengusahapengikut khususnya yang berlatar belakang petani/buruh merupakan faktor pendorong yang sangat berarti dalam mendukung usaha pertenunan yang baru mereka kerjakan. Sistem jatah tersebut memungkinkan

35Perumpamaan ini mengandung arti bahwa setiap orang Batak Toba akan mengerjakan apa yang sedang orang lain kerjakan selagi hal itu menguntungkan. Tidak adanya konsisten dalam mengerjakan suatu hal, jika ada sesuatu pekerjaan atau hal yang sedang marak terjadi, maka akan dikerjakan yang lainnya juga.

(46)

para pengusaha mendapatkan benang dengan harga yang murah. Dengan modal yang kecil mereka dapat memulai usaha tenun dengan skala rumahan. Kelompok Penerus yaitu kelompok ketiga pengusaha tenun Balige yang muncul pada pertengahan tahun 1980an. Kelompok ini merupakan golongan muda penerus pengelolaan usaha tenun peninggalan orang tua mereka yang telah meninggal dunia atau menarik diri (pensiun) dari usaha yang didirikan. Mereka pada dasarnya masih berada dalam tahap bimbingan oleh orang tua masing-masing dan masih pada usia yang muda36.

Penerapan sistem jatah benang pada paruh pertama tahun 1960an yang memudahkan para pengusaha tenun memperoleh bahan baku tidak saja dalam hal bahan baku, tetapi juga dalam harga. Di Balige pada masa itu setiap pengusaha tenun memperoleh jatah benang sebanyak 45kg/bulan untuk tiap ATBM yang dimiliki, artinya semakin banyak ATBM yang dimiliki oleh pengusaha maka semakin banyak jatah benang yang didapat. Pengusaha dapat memilih satu dari dua cara untuk memperoleh benang tersebut tunai atau kontrak. Sistem kontrak pengusaha membayar kepada pemerintah melalui ketentuan bagi hasil tenunan dengan norma 40:60 yaitu 40% menjadi bagian pengusaha dan 60% menjadi bagian pemerintah. Dengan sistem tunai yaitu harga ditetapkan 17.500 per bal untuk benang jenis 20S dan 26.500 untuk benang jenis 42/2 (1 bal=180 kg)37.

4.3 Bahan Baku yang Digunakan

Jenis- jenis benang yang dipakai sebagai bahan utama dalam pembuatan sarung di Balige ada 3 yaitu benang cotton 42/2cd (paling bagus), cotton 40/2cd (menengah), dan cotton 20/2cd (sedang).

36Wawancara M. Napitupulu 11 Januari 2016

37Wawancara M. Simanjuntak 11 Januari 2016

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dari masyarakat Kudus yang bekerja sebagai buruh pabrik rokok terhadap tari Kretek apakah para buruh pabrik rokok mengetahui

Sumber: Wawancara dengan buruh Pabrik Teh “2 Tang” (Oktober 2012). Pemilihan subyek penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil beberapa buruh yang dapat mewakili dari

Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam bagi anak keluarga buruh pabrik kurang berjalan dengan baik, hal ini terbukti permasalahan yang sering

Dalam penelitian ini permasalahan yang dibahas adalah konflik antara buruh dengan pegawai admisnistratif di Pabrik Karung Goni Delanggu tahun 1948, yang kemudian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang perempuan bekerja sebagai buruh pabrik di Kecamatan Medan Deli Kelurahan Titipapan Lingkungan VI, untuk

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, menunjukkan bahwa karakteristik ekonomi pengguna smartphone pada kalangan buruh pabrik berasal dari golongan yang berkecukupan

Tujuannya adalah untuk menguji apakah ada hubungan antara pengetahuan akan hak buruh dengan perceived justice pada buruh perempuan pabrik “X” di Kota Surabaya.. Subjek penelitian

Teman atau tetangga yang memberi tahu mengenai industri ini sebagian besar merupakan buruh yang telah lebih dahulu bekerja di industri tersebut, para buruh