• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu Kerja dan Istirahat

BAB V KEHIDUPAN BURUH WANITA DI PABRIK TENUN BALIGE 1967-1998

5.1 Hak dan Kewajiban

5.1.2 Waktu Kerja dan Istirahat

Pekerja wanita adalah manusia biasa yang memerlukan waktu istirahat, karena itu untuk menjaga kesehatannya harus dibatasi waktu kerjanya dan diberikan hak istirahat. Undang-undang di bidang ketenagakerjaan memberikan batasan mengenai hal ini, misalnya untuk pekerja yang bekerja 6 hari dalam seminggu tidak boleh melakukan pekerjaan lebih dari tujuh jam sehari dan atau empat puluh jam seminggu. Dalam undang-undang No.25 tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan ketentuan waktu kerja diatur dalam pasal 100 yaitu sebagai berikut:

 7 (tujuh) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Sedangkan ketentuan untuk waktu istirahat diatur dalam pasal 102 sebagai berikut:

 Istirahat kerja antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selam 4 (empat) jam terus-menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja.

 Istirahat mingguan, sekurang-kurangnya 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

 Istirahat tahunan, sekurangnya 12 (dua belas) hari kerja untuk 6 (enam) hari kerja dalam

1 (satu) minggu atau 10 (sepuluh) hari kerja untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, setelah pekerja yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus

f. Istirahat sepatutunya untuk menjalankan kewajiban menunaikan ibadah menurut agamanya42.

Buruh wanita di pabrik tenun Balige bekerja mulai pada pukul 07.00 pagi dan selesai pada 06.00 sore dengan waktu selama 9 jam per hari. Hal ini bertentangan dengan peraturan yang terkait dengan undang-undang ketenagakerjaan, peraturan yang mereka jalani sebenarnya mereka kerjakan seturut dengan yang sudah diberlakukan, sehingga mereka tidak protes dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh pengusaha tersebut. Istirahat yang mereka mililki hanya satu jam per hari dan istirahat untuk menjalankan kewajiban ibadah hanya di dapat pada saat natal dan tahun baru saja. Kemudian jika pekerja wanita berhalangan untuk bisa bekerja, contohnya karena melahirkan, acara keluarga, sakit, mereka akan ijin kepada pemilik usaha tidak bekerja dan sebagai konsekuensinya ialah mereka tidak mendapatkan upah.

5.1.3. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)

Jaminan sosial tenaga kerja adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat dari peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua, dan meninggal dunia. Jaminan sosial tenaga kerja yang diatur dalam Undang-undang No.3 tahun 1992 tentang Jamsostek PP No. 14 tahun1993 tentang Penyelenggaraan Jamsostek dimaksudkan untuk memberikan perlindungan

42Sulaiman Abdullah, Upah Buruh di Indonesia , Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2008, hlm. 182

bagi tenaga kerja terhadap resiko sosial-ekonomi yang menimpa tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan baik berupa kecelakaan kerja, sakit, hari tua, maupun meninggal dunia.

Dengan demikian diharapkan ketenangan kerja bagi pekerja akan terwujud, sehingga produktifitasakan semakin meningkat. Jaminan sosial tenaga kerja adalah merupakan hak setiap tenaga kerja yang sekaligus merupakan kewajiban dari pengusaha. Adapun ruang lingkup jaminan sosial bagi tenaga kerja meliputi:

1. Jaminan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja termasuk sakit akibat hubungan kerja, demikian pula terhadap kecelakaan kerja yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang kembali melalui jalan melalui jalan yang biasa dilalui. Iuran jaminan kerja ini sepenuhnya ditanggung oleh pengusaha yang besarnya antara 0,24-1,74% dari upah kerja sebulan. Besarnya iuran sangat bergantung dari tingkat resiko kecelakaan yang mungkin terjadi dari suatu jenis usaha tertentu, semakin besar tingkat resiko tersebut, semakin besar iuran kecelakaan kerja yang harus dibayar dan sebaliknya, semakin kecil tingkat resiko semakin kecil pula iuran yang harus dibayar.

2. Jaminan Kematian

Kematian yang medapatkan santunan adalah tenaga kerja yang meninggal dunia pada saat menjadi peserta Jamsostek. Jaminan ini dimaksudkan untuk turut menanggulangi meringankan beban keluarga yang ditinggalkan dengan cara pemberian santunan biaya pemakaman. Besarnya jaminan kematian ini adalah 0,30% dari upah pekerja selama sebulan yang ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha. Dalam pasal 22 Peraturan Pemerintah No.14 tahun

1993 disebutkan bahwa jaminan kematian dibayar sekaligus kepada janda atau duda atau anak yang meliputi:

a. Santunan kematian sebesar Rp. 1.000.000,- b. Biaya pemakaman sebesar Rp. 200.000,-

Jika janda atau duda atau anak tidak ada maka jaminan kematian dibayarkan sekaligus kepada keturunan sedarah yang ada dari tenaga kerja, menurut garis lurus ke bawah dan garis lurus ke atas dihitung sampai dengan derajat kedua.

3. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja sehingga dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Jaminan ini meliputi upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan pemulihan (rehabilitatif). Iuran jaminan pemeliharaan kesehatan ini ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha yang besarnya 6% dari upah tenaga kerja sebulan bagi tenaga kerja yang sudah berkeluarga dan 3% sebulan bagi tenaga kerja yang belum berkeluarga. Jaminan pemeliharaan kesehatan diberikan kepada tenaga kerja atau suami istri yang sah dan anak sebanyak-banyaknya 3 orang. Bagi tenaga wanita yang memerlukan pemeriksaan kehamilan dan atau persalinan memperoleh pelayanan pemeriksaan kesehatan dari rumah bersalin yang ditunjuk. Jika terjadi persalinan yang sulit maka tenaga kerja dapat dirujuk ke rumah sakit.

4. Pembayaran Jaminan Hari Tua

Jaminan hari tua dibayarkan pada saat pekerja berusia 55 tahun atau cacat total untuk selama-lamanya dapat dilakukan dengan:

a. Secara sekaligus apabila jumlah seluruh jaminan hari tua yang harus dibayarkan kurang dari Rp. 3.000.000

b. Secara berkala apabila seluruh jaminan hari tua yang harus dibayar mencapai Rp.

3.000.000 atau lebih dilakukan paling lama 5 tahun43.

Salah satu bentuk perlindungan yang diberikan oleh program jaminan sosial tenaga kerja adalah jaminan hari tua. Jaminan hari tua dapat mengakibatkan terputusnya upah karena tidak lagi mampu bekerja.

Berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan tersebut nyatanya tidak menjadi jaminan bagi wanita untuk mendapatkan hak yang seharusnya mereka terima selama bekerja di pabrik tenun Balige. Seperti yang disebutkan diatas hal-hal yang seharusnya menjadi hak mereka tidak mereka dapatkan secara keseluruhan. Dari hasil wawancara penulis dengan buruh wanita di pabrik tenun Balige bahwa jaminan kesehatan tidak mereka dapatkan, jika mereka sakit mereka sendiri yang mengeluarkan biaya untuk pengobatan, bahkan ketika mereka sampai ada yang masuk rumah sakit tidak menjadi tanggungan oleh pengusaha tenun tersebut. Seperti Jaminan Hari Tua yang seharusnya mereka dapatkan setelah mereka sudah pensiun, tidak ada yang mereka dapatkan, mereka pensiun dengan tanpa menerima hak tersebut44.

Adapun yang mereka dapatkan selama bekerja di pabrik tenun adalah sesuai dengan hari libur yang telah ditetapkan oleh pemerintah mereka dapatkan juga, pada hari natal sampai ke tahun baru pekerja wanita mendapatkan waktu istirahat yang lebih lama dibandingkan dengan hari libur yang telah ditetapkan oleh pemerintah, menjelang hari natal pekerja wanita diberikan sejumlah uang oleh pemilik usaha, akan tetapi tidak seturut dengan ketentuan undang-undang

43Ibid. hal. 116

44Wawancara dengan N. Hutagaol, Balige 13 Januari 2016

ketenagakerjaan, hanya sesuai dengan kehendak pemilik usaha tersebut, mereka juga akan diberikan beberapa lembar kain sarung, dan sembako sebagai bentuk penghargaan bagi mereka yang telah bekerja di pabrik tenun.

Kewajiban buruh wanita di pabrik tenun Setia Balige sesuai dengan peraturan yang telah dibuat oleh pemilik usaha dan disepakati bersama dengan pekerja ialah mereka bekerja mulai pukul 07.00 kemudian istirahat pada pukul 12.00-01.00 dan selesai bekerja pada pukul 06.00, sebelum bekerja mereka menandatangani daftar hadir. Jika tidak masuk bekerja, mereka harus ijin terlebeh dahulu kepada pemilik usaha tenun.

5.2 Pendapatan yang diperoleh

Upah adalah suatu bentuk pembayaran periodik dari seorang pengusaha kepada karyawannya yang dinyatakan dalam suatu kontrak kerja. Di Indonesia dikenal beberapa sistem pemberian upah, yaitu:

1. Upah menurut waktu, sistem ini yaitu besarnya upah didasarkan pada lama bekerja seseorang. Satuan waktu dihitung per jam, per hari, per minggu, atau per bulan.

2. Upah menurut satuan hasil, sistem ini yaitu besarnya upah didasarkan pada jumlah barang yang dihasilkan oleh seseorang. Satuan hasil dihitung per potong barang, per satuan panjang, atau per satuan berat.

3. Upah borongan, sistem ini yaitu besarnya upah didasarkan pada kesepakatan bersama antara pemberi dan penerima pekerjaan.

4. Sistem bonus, artinya ialah adanya pembayaran tambahan di luar upah atau gaji yang ditujukan untuk memotivasi agar pekerja dapat menjalankan tugasnya lebih baik dan

penuh tanggung jawab, dengan harapan keuntungan lebih tinggi. Makin tinggi keuntungan yang diperoleh makin besar bonus yang diberikan kepada pekerja.

5. Sistem mitra usaha, artinya ialah pembayaran upah sebagian diberikan dalam bentuk saham perusahaan, tetapi saham tersebut tidak diberkan kepada perorangan melainkan pada organisasi pekerja di perusahaan tersebut. Dengan demikian hubungan kerja antara perusahaan dengan pekerja dapat ditingkatkan menjadi hubungan antara perusahaan dan mitra kerja45.

Pemberian upah kepada para pekerja wanita oleh pemilik usaha setiap tanggal 31-1 pada suatu periode. Pendistribusian uaph diberikan langsung kepada pekerjanya pada tanggal tersebut.

Di pabrik tenun Setia Balige dalam pemberian upah pada tahun 1960 masih bersifat menurut waktu yaitu mingguan dan tergantung pada seberapa banyak sarung yang bisa dihasilkan, semakin banyak yang bisa di selesaikan dalam waktu seminggu maka semakin besar upah yang diperoleh. Pada waktu itu alat yang digunakan untuk menenun sarung masih bersifat manual atau yang lebih dikenal dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sehingga pengerjaan sarung menghabiskan waktu yang cukup lama, sehingga para wanita hanya bisa menyelesaikan paling banyak sampai 5 lembar kain sarung dalam satu minggu.

Upah yang mereka dapatkan berbeda-beda, tergantung pada seberapa cepat mereka bisa menyelesaikan tenunan mereka, keterampilan mereka dalam menenun berbeda-beda dalam kecepatan dan kerapiannya. Bagi wanita yang sudah lama menekuni pekerjaan tenun maka lebih banyak yang dapat mereka selesaikan, begitu juga sebaliknya mereka yang masih pemula cenderung masih dalam proses belajar menenun jadi yang dapat mereka selesaikan dalam

45Opcit., hlm. 361.

seminggu hanya 2-3 lembar kain sarung. Pemilik usaha memberikan upah per satu lembar kain sarung yaitu 150/lembar, sehingga jika dapat menyelesaikan 5 lembar dalam seminggu maka upah yang didapatkan yaitu Rp.150x5 lembar kain sarung = Rp. 750/minggu.

Pada tahun 1967an ketika ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) beralih ke ATM (Alat Tenun Mesin) perubahan alat yang digunakan untuk mengerjakan tenun sarung mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam proses pengerjaan kain sarung, yang mana secara keseluruhan alat mesin dalam sehari dapat menyelesaikan ratusan lembar kain sarung, namun pada saat itu upah yang diterima oleh wanita pekerja tenun masih berbeda-beda, dan pengupahan mereka bukan mingguan lagi berubah menjadi per bulan ketika mesin yang mereka gunakan untuk bertenun rusak, untuk sementara mesinnya akan mati dan di perbaiki. Selama alat tenun yang mereka masih dalam perbaikan, wanita tersebut akan tertinggal dari pekerja yang lainnya.

Faktor lainnya ialah ketika dalam proses pengerjaan, benang yang dikerjakan putus maka harus diperbaiki dahulu benangnya kemudian boleh kembali melanjutkan pekerjaannya. Hal ini yang membuat jumlah sarung yang dihasilkan oleh mesin yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada tahun peralihan alat tenun dari manual ke mesin, mulai dipekerjakan tenaga kerja laki-laki yaitu untuk memperbaiki alat mesin yang rusak, mengangkat sarung yang sudah selesai ke gudang penyimpanan, proses pencelupan benang sampai pada penganian.

Untuk tenaga kerja laki-laki upah yang mereka terima berdasarkan kepada kesepakatan dengan pemilik usaha dengan tenaga kerja laki-laki artinya tidak seperti wanita yang menerima upah berdasarkan jumlah yang dapat diselesaikan, upah yang mereka dapatkan pada tahun 1970an yaitu sekitar Rp.25.000/bulan. Aturan yang ditetapkan sebelumnya, sama juga diberlakukan pada tenaga kerja laki-laki yaitu mulai bekerja pada pukul 07.00 dan istirahat pada

pukul 12.00-01.00 hingga selesai pada pukul 06.00. Tiap tahun upah yang mereka dapatkan juga bertambah melihat bagaimana penjualan kain sarung yang begitu berkembang, hasil yang dapat diselesaikan oleh pekerja wanita juga semakin banyak, sehingga pemilik usaha menambah pendapatan mereka. Penambahan yang diberikan tiap tahunnya sekitar Rp.10.000. Namun tetap yang mereka terima hanya penambahan terhadap upah mereka saja tanpa ada jaminan sosial yang seharusnya menjadi hak mereka.

5.3 Taraf Hidup

Pada umumnya tujuan wanita bekerja di pabrik tenun Balige ialah untuk memenuhi taraf hidup terhadap keluarganya. Pendapatan yang diterima dari suami mereka tidak mencukupi untuk segala kebutuhan keluarga, maka wanita juga turut mengambil peranan dalam membantu menopang kebutuhan hidup. Kebutuhanan akan pemenuhan taraf hidup baik dari kebutuhan primer, sekunder yang semakin bertambah mengakibatkan tingginya permintaan akan pemenuhan tersebut, sehingga wanita memegang peranan yang cukup penting dalam mengelola setiap pendapatan yang ada. Maka keputusan yang mereka pilih sebagai pekerja di pabrik tenun merupakan alternatif terbaik bagi mereka. Selain mendapatkan upah yang pasti, mereka juga memiliki pekerjaan yang menetap.

5.4 Pemanfaatan upah

Upah yang diterima oleh wanita yang bekerja di pabrik tenun Balige dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup kelurga, mulai dari untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari membayar sewa rumah, membeli beras, dan kebutuhan anak untuk sekolah. Suami yang menjadi kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga, dengan penghasilan mereka yang tidak pasti, menjadikan wanita harus tetap bekerja di pabrik tenun Balige untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarga. Wanita yang bekerja di pabrik tenun Balige pada umumnya bersuku batak toba,

mereka mengetahui dengan jelas bahwa cita-cita hidup orang batak sangat tinggi, dengan ungkapan Anakhon Ki do Hamoraon di Au artinya ialah anak mereka adalah harta kekayaan bagi mereka. Maka dari itu wanita sebagi ibu berjuang untuk menyekolahkan anak-anaknya untuk bersekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, agar nasib anaknya tidak sama seperti orang tuanya.

Buruh wanita yang hanya bisa menyelesaikan sekolah di tingkat sekolah dasar, mengajarkan kepada anak-anaknya betapa susahnya kalu tidak memiliki kemampuan dalam bidang tertentu, sehingga mereka harus menyekolahkan anak-anaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Seperi yang dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa selain bekerja di pabrik tenun Balige, mereka juga memiliki ternak yang dipelihara, seperti ayam telur yang di hasilkan akan mereka jual, ternak babi dikatakan sebagai tabungan mereka jika ada suatu waktu kebutuhan yang mendesak yang di perlukan maka dapat dijual. Pekarangan mereka ditanami sayuran sehingga tidak perlu lagi membeli sayur, dan terkadang anak-anak mereka pergi ke danau toba untuk menangkap ikan untuk dijadikan sebagi lauk mereka. Sebisa mungkin mereka mengurangi pengeluaran agar uang yang didapatkan dari hasil pekerjaan menjadi tabungan mereka. Menurut hasil wawancara dengan beberapa informan, mereka sudah menyekolahkan anak mereka sampai ke perguruan tinggi dan sudah bekerja.Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi mereka karena mampu menyekolahkan anak mereka sampai ke tingkat tersebut dengan terbatasnya kemampuan ekonomi mereka.

5.5 Tantangan yang dihadapi

Wanita yang bekerja di pabrik tenun Balige pada tahun 1967-1998 pada umumnya adalah seorang ibu, peran ganda yang mereka miliki tidak jarang menimbulkan konflik diantara anggota keluarga, mulai dari kurangnya waktu dengan anak-anak mereka, terkadang wanita tidak

mengetahui apa saja kegiatan anak-anak mereka selama bersekolah dan sepulang sekolah. Waktu yang mereka gunakan untuk bekerja memang menjadikan kurangnya komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Buruh wanita acap kali menghadapi perdebatan dengan suami mereka terkait masalah penghasilan yang mereka terima tidak sebanding. Kendala lainnya yaitu ketika ada acara atau kegiatan seperti menghadiri pesta pernikahan, acara syukuran, buruh wanita sulit untuk menghadiri oleh karena tidak adanya cuti yang didapatkan, hingga akhirnya perdebatan dengan suami mereka karena memperdebatkan masalah waktu untuk bersosialisasi dengan anggota masyarakat. Sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan yang lainnya menjadi dilema bagi buruh wanita di pabrik tenun Balige.

Dalam pabrik tenun kendala yang mereka hadapi ialah tidak adanya jenjang karir yang mereka miliki, kemudian jaminan kesehatan yang tidak diterima oleh buruh wanita, keselamatan kerja tidak ada mereka dapatkan, lamanya waktu bekerja tidak sebanding dengan upah yang mereka terima. Ketika mereka tidak bisa masuk bekerja, pendapatan mereka akan dikurangi sesuai dengan lama mereka bekerja. Mereka tidak mendapatkan waktu cuti dalam pekerjaan mereka, sehingga sulit untuk meninggalkan pekerjaan jika ada kepentingan tertentu, seperti menghadiri, pesta, dan acara lainnya, kecuali jika itu dalam keadaan yang mendesak, mereka dengan terpaksa tidak bekerja46.

Tantangan paling berat yang dialami oleh buruh wanita pada saat itu ialah pada tahun 1998 ketika gejolak ekonomi Indonesia mengalami keterpurukan, yang berimbas pada pabrik tenun yang ada di Balige, maka pemilik usaha tenun Balige dengan terpaksa untuk sementara menutup usahanya demi mengurangi kerugian yang tidak dapt dikendalikan. Keadaan ini

46Wawancara dengan R. Simanjuntak, Balige 08 Januari 2016.

merupakan hal yang sangat meresahkan bagi buruh wanita, mata pencaharian mereka yang telah digeluti selama bertahun-tahun harus berhenti. Akibat tidak adanya pekerjaan, menjadikan berusaha bangkit kembali untuk bekerja dalam bidang lainnya, seperti mengerjakan ladang orang lain, berdagang, buruh harian di ladang orang lain.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

Dengan berdirinya pabrik tenun Setia Balige memberikan kesempatan bagi wanita yang ada di Balige untuk bekerja sebagai buruh wanita. Disamping itu hasil kerajinan tenun sarung mempunyai potensi dalam membangun ekonomi masyarakat Balige. Begitu pula pengembangan kerajinan tenun sarung merupakan pelestarian budaya dalam menunjang pembangunan nasional.

Keterampilan yang minim dan keuletan menjadi modal utama wanita dalam bekerja. Dengan bimbingan secara informal yang diberikan telah menjadikan wanita sebagai pekerja yang memiliki keterampilan yang khusus dalam bidang pertenunan. Peranan wanita dalam dunia pekerjaan telah memberikan kontribusi yang sangat penting untuk pendapatan keluarga. Wanita yang berperan sebagai ibu mempunyai cita cita yang mulia untuk menjadikan keluarganya, khusunya bagi anak mereka agar dapat menempuh pendidikan yang tinggi sehingga dapat membawa nama baik keluarga mereka, melalui kekuatan dan kegigihan mereka dalam bekerja menjadikan perubahan kehidupan perekonomian mereka kearah yang lebih baik lagi. Selain sebagai ibu/istri dalam rumah tangga, solusi untuk membantu menopang kebutuhan ekonomi menjadikan wanita memiliki peranan ganda dalam kehidupannya. Pendapatan dari suami yang tidak mencukupi untuk pemenuhan kehidupan hidup keluarga, menjadikan wanita turut mengambil bagian untuk bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Pada umumnya pendapatan wanita rata-rata lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan suami. Hal ini menunjukkan bahwa peranan buruh wanita dalam ruang lingkup keluarga sangat menentukan kelangsungan hidup keluarga terutama menyangkut dengan keuangan keluarga.

Selain peranan wanita dalam keluarga, ternyata pekerjaan buruh wanita memberikan dampak yang positif bagi kelangsungan hidup keluarga mereka, mulai dari menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi, waktu kerja yang cukup lama sekitar 9 jam setiap harinya, tidak mengurangi semangat mereka untuk menambah penghasilan keluarga mulai dari beternak ayam, kerbau, babi yang dinilai sangat membantu kehidupan ekonomi mereka. Hak yang seharusnya mereka dapatkan dari ketetapan yang telah dibuat dalam Undang-undang Ketenagakerjaan nyatanya tidak mereka terima, pendapatan yang mereka peroleh tidak sesuai dengan jam kerja yang telah mereka habiskan selama bekerja di pabrik tenun Setia Balige.

Keterbatasan lapangan pekerjaan bagi mereka, mengakibatkan mereka memilih tetap bertahan dengan kondisi yang mereka alami selama bekerja di pabrik tenun Setia Balige. Dengan bekerja sebagai buruh melambangkan kemandirian wanita sebagai pekerja untuk membantu dalam menopang kehidupan ekonomi mereka.

6.2 Saran

Adapun yang menjadi saran penulis sampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah upah yang diterima oleh buruh wanita mempunyai kaitan yang cukup besar terhadap alokasi waktu yang dihabiskan dalam bekerja. Berkaitan dengan hal tersebut disarankan kepada:

1. Pengusaha tenun Setia Balige untuk mempertimbangkan kembali kesejahteraan buruh wanita salah satunya dengan menaikkan upah sesuai dengan waktu yang dikorbankan oleh wanita.

2. Pemerintah Balige kiranya turut berperan dalam memperhatikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh buruh wanita melalui ketetapan Undang-undang Ketenagaakerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

Butar – Butar, Hasudungan, Peranan Wanita Batak Toba dalam Keluarga dan Pertanian Padi Sawah di Desa Lumban Gurning, Kecamatan Porsea

Tapanuli Utara Bandung: belum diterbitkan, 1995.

Castles, Lance, Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatera: Tapanuli 1915-1940 Depok: Percetakan Duta Prima, 2001.

Gultom, J, dkk, Pengrajin Tradisional di Daerah Propinsi Sumatera Utara

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1988

Husni, Lalu, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Ihromi, T.O, dkk, Kisah Kehidupan Wanita untuk Mempertahankan Kelestarian Ekonomi Rumah Tangga, Jakarta: Lembaga Penelitian FE UI, 1991.

---Kajian Wanita dalam Pembangunan, Jakarta: Yayasan Obor

---Kajian Wanita dalam Pembangunan, Jakarta: Yayasan Obor

Dokumen terkait