• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tarah hidup dilihat dari Data BPS tahun 2005 dalam Rahman (2009a) yaitu variabel kemiskinan yaitu luas lantai bangunaan tempat tinggal, jenis lantai bangunan tempat tinggal, jenis dinding bangunan tempat tinggal, fasilitas tempat buang air besar, sumber penerangan rumah tangga, sumber air minum, bahan bakar ungtuk memasak, konsumsi daging/ayam/susu/perminggu, pembeliaan pakaian baru setiap anggota rumah tangga setiap tahun, frekuensi makan dalam sehari, kemampuan membayar untuk berobat ke puskesmas atau dokter, lapangan pekerjaan kepala rumah tangga, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga dan kepemilikan asset/harta bergerak maupun tidak bergerak. Taraf hidup adalah tingkat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2.1.6 Efektivitas Implementasi Corporate Social Responsibility

Wibisono (2007) mengungkapkan, untuk melihat sejauhmana efektivitas program CSR, diperlukan para meter atau indikator unutk mengukurnya. Setidaknya ada dua indikator internal dan indikator eksternal. Indikator internal yaitu terdapat ukuran primer/kualitatif (M-A-O terpadu) dan ukuran skunder. Ukuran primer/kualitatif (M-A-O terpadu) yaitu (1) Minimize, meminimalkan perselisihan/konflik/potensi konflik antara perusahaan dengan masyarakat, dengan harapan terwujudnya hubungan yang harmonis dan kondusif; (2) Asset, aset perusahaan yang terdiri dar pemilik/pemimpin perusahaan, karyawan, pabrik, dan

fasilitas pendukungnya terjadi dan terpilihnya dengan aman, (3) Operasional, seluruh kegiatan perusahaan berjalan aman dan lancer, sedangkan ukuran skunder yaiu (1) tingkat penyaluran dan kolektibilitas (umumnya untuk PKBL BUMN) dan (2) tingkat

compliance pada aturan yang berlaku. Indikator eksetranal terdiri dari indakator ekonomi yang terdiri dari tingkat pertambahan kualitas sarana dan prasarana umum, tingkat peningkatan kemandirian masyarakat secara ekonmis dan tingkat pengingkatan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan, sedangkan indikator sosial terdiri dari frekuensi terjadinya gejolak/konflik sosial, tingkat kualitas hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat, dan tingkat kepuasan masyarakat (dilakukan dengan survey kepuasan) Nurdiana (2008) dalam Rahmawati (2010) mengekukaan bahwa implementasi CSR merupakan pelaksanaan program- program aktivitas CSR yang telah dibuat dan direncanakan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan pada lingkungan dan masyarakat.

2.1.7 Partisipasi

Nasdian (2003) mengungkapkan selama ini, peranserta masyaraat hanya dilihat dalam konteks yang sempit, artinya manusia cukup dipandang sebagai tenaga kasar untuk mengurangi biaya pembangunan. Dengan kondisi ini, partisipasi masyarakat “terbatas” pada implementasi atau penerapan program. Masyarakat tidak dikembangkan dayanya, menjadi kreatif dari dalam dirinya dan harus menerima keputusa yang sudah diambil “pihak luar”. Cohen dan Uphoff (1980) dalam Nasdian (2003) melihat keterlibatan masyarakat mulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmat hasil dan evaluasi.

Arstein (1969)3 menggambarkan delapan tingkatan yang setiap tingkatannya menggambarkan peningkatan pengaruh masyarakat dalam menentukan produk akhir pembangunan, yaitu dari tingkat terendah hingga tertinggi adalah manipulation

(manipulasi), therapy (terapi), information (informasi), consultation (konsultasi),

placation (penentraman), partnership (kemitraan), delegated power (pelimpahan

      

3 http://www.scn.org/mpfc/modules/par-bein.htm hari 21 november 2010 pukul 9.13.  

kekuasaan) dan citizen kontrol (kontrol masyarakat). Partisispasi mendukung masyarakat untuk mulai “sadar” akan situasi dan masalah yang dihadapinya serta berupaya mencari jalan keluar yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah mereka (memiliki kesadaran kritis) dan partisispasi juga membantu masyarakat miskin untuk melihat realitas sosial ekonomi yang mengelilingi mereka (Lihat Gambar 1).

Sumber : Mengawal PP tentang CSR, Berharap “ Bubur yang Enak dan Sehat” oleh CSR Indonesia4

Gambar 1. Anak Tangga Partisipasi Arnstein (1969)

Dalam Septiani, dkk5 Tingkatan terendah adalah manipulation dan therapy

yang dideskripsikan sebaga non-participation atau tiadanya partisipasi. Pada tingkatan ini tidak ada partisipasi dari masyarakat dalam merencanakan maupun melaksanakan program. Pemegang kekuasaan mendikte masyarakat dimana tidak ada dialog diantara mereka. Tingkatan tiga, empat dan lima merupakan peningkatan pada

      

4http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=6&ved=0CDsQFjAF&url=http\\%3A%2F%2F www.csrindonesia.com%2Fdata%2Farticles%2F20080208131154-

a.pdf&rct=j&q=tangga%20partisipasi%20arstein&ei=DnPoTPCoBoWivgOnv_zCCA&usg=AF QjCNGmsG_OiqzDDsW_cj7p_gOhBb5hFw&cad=rja di akses pada tanggal 21 Novmber 2010 pukul 9.00

5

 http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10255-Paper.pdf di akses pada tanggal 4 Desember 2010 pukul 12.56

level tokenism atau partisipasi semu yang memungkinkan masyarakat yang semula tidak didengarkan menjadi didengarkan dan memiliki suara. Ada tindakan dari masyarakat untuk mulai terlibat dalam partisipasi. Namun pada tingkatan ini, tidak ada jaminan bahwa suara mereka akan didengarkan oleh pemegang kekuasaan. Pada tingkatan citizen power atau terdapat partisipasi aktif, masyarakat dapat bermitra dengan pemegang kekuasaan yang memungkinkan mereka bernegoisasi. Dan jika tingkat partisipasi diperdalam hingga level tertinggi yaitu citizen control, masyarakat memiliki kekuasaan penuh untuk membuat keputusan. Tingkatan partisipasi masyarakat dapat diidentifikasikan dengan mengkaji darimana asal partisipasi apakah dari pemerintah, masyarkaat ataukah bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat.

Menurut Nasdian (2003) ada beberapa cara untuk mengembagkan pertisispasi di tingkat komunitas. Pada dasarnya orang-orang akan berpartisipasi dalam kegitan komunikasi apabila kondisi-kondisinya kondusif melakukan kegiatan tersebut. Kondisi-kondisi tersebut adlah seperti berikut :

1. Warga komunitas akan berpartisipasi kalau merea memandang penting issue-issue atau aktifitas tertentu. Untuk menentukan issue atau tindakan mana yang penting, warga komunitaslah yang menentukan dan bukan orang lain. Biasanya isu-isu yang menyentuh kebutuhan merupakan prioritas komunitas.

2. Warga komunitas berpartisipasi apabila mereka merasa bahwa tindakannya akan membawa perubahan, khususnya di tingkat rumah tangga atau individu, kelompok dan komunitas.

3. Perbedaan bentuk-bentuk partisipasi harus diakui dan dihargai. Jenis partisipasi yang harus dihargai tidak hanya keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan formal (kepanitiaan, pertemuan dan lain-lain), tetapi juga kegitan-kegiatan yang lainnya (menyiapkan konsumsi, membuat notulen, kegiatan kesenian dan lain-lain).

4. Orang harus dimungkinkan untuk berpartisipasi dan didukung dalam partisipasinya. Ini berarti bahwa isu-isu seperti ketersediaan transportasi, keamanan, waktu dan lokasi aktifitas serta lingkungan tempat aktifitas terjadi

merupakan sesuatu hal yang penting dan perlu dipertimbangkan proses yang didasarkan pada komunitas.

5. Struktur dan proses partisipasi hendaknya tidak bersifat menjauhkan. Sebagai contoh prosedur pertemuan dan teknik-teknik pengambilan keputusan seringkali menyingkirkan orang-orang tertentu, terutama orang-rang yang cenderung pendiam, tidak ingin menginterupsi orang lain, kurang percaya diri dan tidak mempunyai kemampuan verbal.

 

2.2 Kerangka Pemikiran

Pada penelitian ini melihat suatu keefektifan implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan Geothermal dalam meningkatkan taraf hidup warga komunitas pedesaan. Keefektifan program LKMS Kartini dilihat dari indikator parisipasi anggota LKMS Kartini dan dapat meningkatkan taraf hidup warga masyarakat. Pada indikator partispasi anggota LKMS Kartini, variable yang dihitung adalah tahap perencanaan, tahap implementasi, tahap evaluasi dan tahap pelaporan. Pada indikator meningkatkan taraf hidup, variable-variabel yang dihitung adalah pendapatan, pengeluran dan keadaan fisik dan fasilitas banguan sebelum dan sesudah mengikuti LKMS Kartini.

Pembentuk suatu program Corporate Social responsibility (CSR) dipengaruhi oleh kehadiran stakeholder yaitu masyarakat, pemerintah dan perusahan itu sendiri. Dimana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program CSR yaitu LKMS Kartini dilihat dari tahap perencanaan, tahap implementasi, tahap evaluasi dan tahap pelaporan yang nantiya dapat mengetahui sejauhmana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program yang telah dibuat, sedangkan pada pemerintah, perusahaan dan mitra sejauhmana pengaruh mereka didalam program CSR tersebut. Dari ketiga pengaruh stakeholder tersebut di dalam program CSR yang telah dibuat, akan mempengaruhi keefektifan program CSR yaitu LKMS Kartini karena pengaruh partisipasi digunakan untuk melihat peningkatkan tarah hidup.

Keterangan :

= mempengaruhi

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Keefektifan Implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan Geothermal dalam Meningkatkan Taraf Hidup Warga Komunitas Pedesaan

2.3 Hipotesis Penelitian

Semakin tinggi keefektifan program Corporate Social Responsibility (CSR) maka semakin meningkatkan taraf hidup masyarakat.

2.4 Definisi Konseptual

1. Perusahaan Geothermal merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan gas bumi yang kemudian dipergunakan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Program CSR LKMS Kartini Perusahaan Geothermal Tingkat Partisipasi Perusahaan dan Mitra Pemerintah - Regulator Tingkat Partisipasi Masyarakat ‐ Tahap perencanaan ‐ Tahap implementasi ‐ Tahap evaluasi

Keefektifan Program CSR yaitu LKMS Kartini

• Partisipasi anggota kelompok LKMS Kartini

• Meningkatkan Taraf hidup:

‐ Pendapatan

‐ Pegeluaran

‐ Keadaan Fisik dan Fasilitas bangunan (indeks komposit)

2. Mitra merupakan suatu individu/kelompok/organisasi/perusahaan yang menjadi patner untuk bekerjasama.

3. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dengan tugas menjalankan suatu sistem pemerintahan.

4. Regulator merupakan tata aturan yang telah dibentuk oleh pemerintah untuk melakukan suatu sistem pemerintahan.

5. Tingkat partisipasi masyarakat merupakan tingkatan partisipasi sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. 6. Program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan suatu kegiatan

yang dilakukan perusahaan dalam melakuakan tanggung jawab sosial kepada masyarakat sesuai dengan daerah yang akan diberikan program.

7. Tahap perencanaan merupakan inti dalam memberikan petunjuk pelaksanaan CSR bagi konsumen perusahaan.

8. Tahap Implementasi merupakan beberapa poin yang harus diperhatikan seperti pengorganisasian, penyusunan untuk menempatkan orang sesuai dengan jenis tugas, pengarahan, pengawasan, pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana, serta penilaian untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan. 9. Tahap evaluasi merupakan dilakukan secara konsisten dari waktu ke waktu

untuk mengukur sejauhmana efektivitas penerapan Corporate Social Responsibilitiy (CSR).

10.Tahap pelaporan merupakan untuk membangun sistem informasi, baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

11.Taraf hidup merupakan kebutuhan tingkat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

12.Keefektifan program merupakan suatu program efektif dilihat dari sejauhmana anggota program berpartisipasi mempangaruhi meningkatnya taraf hidup.

2.5 Definisi Operasional

1. Pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan atau individu dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan. Dilihat dari sesudah dan sebelum mengikuti program CSR yaitu LKMS Kartini.

2. Pengeluaran adalah sejumlah uang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau individu dari aktivitasnya. Dilihat dari sesudah dan sebelum mengikuti program CSR yaitu LKMS Kartini.

3. Kepemilikin asset adalah barang yang dimiliki rumah tangga yaitu jenis lantai, fasilitas MCK, sumber penerangan, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak dan barang yang dimiliki sesudah dan sebelum mengikuti LKMS Kartini.

Tidak meningkat apabila skor 0 < x ≤ 4 Meningat apabila skor 4 < x ≤ 8

4. Tingkat partisipasi adalah jenjang peran serta masyarakat terhadap implementasi CSR perusahaan. Tingkat partisipasi akan dilihat dari peran serta masyaraat dalam tahapan CSR.

Jika skor bernilai 1 jika jumlah nilai 0 < x ≤ 7,5 Jika skor bernilai 2 jika jumlah nilai 7,5 < x ≤ 15

             

BAB III

PENDEKATAN LAPANGAN

Dokumen terkait