• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknis analisis data yang dilakukan adalah analisis data kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif baik data primer maupun sekunder yang telah didapatkan akan diolah menggunakan tiga tahap kegiatan analisis data dan dilakukan secara bersamaan, yatu reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan (Sitorus. 1998). 1. Mereduksi data, bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan,

mengeliminasi data-data yang tidak diperlukan dan mengorganisir data sedemikian sehingga didapatkan kesimpulan.

2. Data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk deskriptif yang menggambarkan proses dan keefektifan implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) yang sedang dilakukan perusahaan dan masyarakat. Sehingga diharapkan dapat menjawab perumusan masalah yang telah ditetapkan. 3. Kesimpulan, menarik simpulan yaitu diambil dari data-data primer dan sekunder

dengan mereduksi bagian-bagian terpenting.

Sedangkan untuk analisis data kuantitatif yang mengukur keefektifan program CSR bagi masyarakat melalui hasil penyebaran kuesioner kepada responden. Data yang diperoleh akan diolah dengan proses editing dan scoring dengan menggunakan program Microsoft Excel for Windows dan uji ranksperman dengan menggunakan SPSS v.15.0. Data yang dilakukan sistem editing untuk mengecek kelengkapan pengisisan kuesienr dan sistem scoring dibuat konsisten yaitu semakin tinggi skor semakin tinggi kategorinya. Dengan menggunakan sistem scoring

digunakan untuk menghitung tingkat partisipasi responden setiap kategorinya dan menghubungkan antara tingkat partisipasi dengan keadaan fisik dan fasilitas banguan. Setelah didapatkan scor setiap kategori sosial. Pada pendapatan dan pengeluaran yang dimiliki responden juga dikelompokkan menurut kategori sosial. Setelah dikelompokkan menurut kategori sosial, jumlah sesudah dan sebelum dari pendapatan, pengeluaran dan keadaan fisik dan fasilitas bangunan mengikuti LKMS Kartini di rata-rata dan kemudian dikurangi antara sesudah dan sebelum, hal ini digunakan untuk mengetahui perubahan taraf hidup yang dialami responden.

Pengolahan data hasil penyebaran kuesioner ini juga digunakan untuk melihat kategorisasi aspek-aspek yang mempengaruhi kedua variabel yaitu tingkat partisipasi dengan keadaan fisik dan fasilitas banguan yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori tinggi dan rendah pada tingkat partisipasi dan kategori mengingkat dan tidak meningkat pada keadaan fisik dan fasilitas banguan setelah dan sebelum mengikuti LKMS kartini. Rumus kategorisasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Rentang = (Jumlah pertanyaan x 1)-(Jumlah Pertanyaan x 0) Banyak kelas = Jumlah kategori

Panjang kelas =

Jumlah pertanyaan yang dimasukkan ke dalam kuesioner mempengaruhi rentang nilai pada masing-masing aspek dari kedua variabel tersebut.

         

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN LOKASI PENELITIAN 4.1 Profil Perusahaan Geothermal

Terdapat perusahaan energi terbesar di dunia yang terletak di San Ramon, California. Perusahaan ini terlibat dalam setiap aspek industri minyak mentah dan gas alam, termasuk eksplorasi dan produksi, manufaktur, pemasaran dan transportasi, manufaktur dan penjualan bahan kimia, energi panas bumi dan pembangkit listrik. Perusahaan juga berinvestasi dalam energi terbaru dan teknologi yang maju6.

Perusahaan Geothermal mulai melakukan operasi panasbumi sejak tahun 1980-an. Kontrak Operasi Bersama (KOB) atau Joint Operation Contract (JOC) Perusahaan Geothermal-PERTAMINA mengoperasikan Pembangkit Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak, dimana PLTP Gunung Salak dinyatakan resmi beroperasi oleh pemerintah pada tanggal 15 Desember 1994 dalam Anonim (2009). PLTP Gunung Salak masuk ke dalam proyek strategis negara untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Perusahaan Geothermal ini mengelolah panasbumi menjadi energi listrik. Energi panas bumi merupakan energi bersih (clean energy) dalam rumah tangga hingga kini tercatat Perusahaan Geothermal menghasilkan daya listrik dari panasbumi sebesar 600 Megawatt (MW) berasal dari 108 sumur dalam Anonim (2007).

Dalam melakukan kegiatan usahanya, Perusahaan Geothermal menetapkan visi bahwa perusahaan ini berkembang menjadi perusahaan energi global. Para pemimpin manajemen puncak Perusahaan Geothermal telah berkomitmen bahwa seluruh kebijakan yang ada akan mengarah kepada visi tersebut. Perusahaaan ini pun telah berkomitmen untuk dapat menyediakan sumber energi listrik yang bersih, terpercaya, dan terjangkau dalam Anonim (2007).

Peusahaan Geothermal berkomitmen bekerjasama dengan komunitas sekitar dan pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan community engagement yang dibawahi oleh Departemen Policy Government and Public Affairs (PGPA) di wilayah

      

6

Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Untuk Kabupaten Sukabumi, program

community engagement difokuskan dan dilaksanakan secara terbatas di Kecamatan Kalapanunggal dan Kecamatan Kabandungan, sedangkan di Kabupaten Bogor, dilakukan hanya di Kecamata Pamijahan. Pada tahun 1999 dalam Anonim (2009), Perusahaan Geothermal melaksanakan program community engagement yang terfokuskan di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan dan pengunaan ekonomi lokal, lingkungan hidup, hingga dukungan pengembangan kebudayaan komunitas setempat. Visi dan misi community engagement Perusahaan Geothermal ini dalam Anonim (2008) adalah visi, tumbuh bersama masyarakat yang mandiri untuk mendukung kegiatan operasi Perusahaan Geotehrmal melalui pemanfaatan sumberdaya lokal secara berkenjutan, sedangkan misi yaitu memfasilitasi transformasi sosial dalam meningkatkan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan melalui asistensi teknis, tukar informasi dan diskusi publik, peningkatan kapsitas, serta penerapan hasil-hasil penelitian secara berkelanjutan.

Dalam Anonim (2009) untuk pembentukan suatu program community engagement membutuhkan proses perancanaa sampai dengan pelaksanaan. Proses perencanaan program community engagement dilaksanakan berdasarkan evaluasi kegiatan tahun sebelumnya. Selain itu, perencanaan juga melalui proses isu dengan komunitas masyarakat tokoh dan aparat setempat bersama muspika, kepala desa dalam musrenbang untuk membahas evaluasi dan perencanaan community engagement. Kesepakatan dari musrenbang akan menjadikan usulan kepada Perusahaan Geothermal dan ditentukan berdasarkan prioritas dan kemampuan dan batasan yang dimiliki Perusahaan Geothermal. Proses pengawasan dan pelaksanaan program community engagement dilaksanakan bersama-sama dengan komunitas masyarakat.

4.2 Profil LKMS Kartini

Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Kartini ini lahir diawali dari diselenggarakannya kegiatan pelatihan operasional Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pada tanggal 12-14 Agustus 2008 yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan

program community development Perusahaan Geothermal sebagai wujud dari

Corporate Social Responsibility. PT. Permodalan Nasional Madani (persero) telah menjadi mitra Perusahaan Geothermal dalam memfasilitasi dan mendampingi masyarakat untuk memiliki kemauan dan kemampuan mengelola Lembaga Keuangan Mikro (LKM) ini. Visi dan misi Lemaga Keuangn Mikro Syariah (LKMS) Kartini ini adalah sebagai berikut :

1. Visi

“Menjadi Lembaga Keuangan Syariah yang terbaik dan terdepan secara regional dalam membangun kekuatan ekonomi umat yang dapat meningkatkan kesejahteraan bersama secara adil dan merata sesuai dengan prinsip-prinsip syariah serta menjadi mitra dan memberi solusi yang bermakna bagi kaum dhuafa, pengusaha mikro dan kecil secara berkelanjutan dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip fathonah, amanah, shiddiq dan tabligh.”

2. Misi

1. Meningkatkan akses permodalan bagi masyarakat kecil baik finansial maupun nonfinansial.

2. Membantu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas masyarakat kecil demi kesejahteraan dan keadilan ekonomi.

3. Membantu mencari dan menciptakan pasar yang dapat menyerap hasil produksi masyarakat.

4. Menjadi Lembaga Keuangan Syariah yang tumbuh secara berkelanjutan seiring dengan pertumbuhan usaha nasabahnya.

5. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan ekonomi syariah dalam rangka mendukung penguatan ekonomi syariah dalam praktik, baik melalui institusi keuangan maupun melalui kegiatan bisnis dan usaha riil.

Selain visi dan misi, struktur pengelolaan pada gambar 4 dan juga memiliki target budaya lembaga sebagai faktor kunci keberhasilan, yaitu : (1) SDM yang amanah, kompeten, terpercaya dan profesioal; (2) Permodalan yang kuat; (3) Memberikan keuntungan secara berkelanjutan; (4) Proses bisnis yang efektif dan efisien; (5)

Pelayanan yang cepat dan memuaskan; (6) Sistem informasi manajemen yang berkualitas; (6) Jaringan (networking) yang luas, dan (7) Akreditasi dari lembaga yang kredibel.

Sumber: Company Profile LKMS KARTINI 2010

Gambar 3. Struktur Pengelolaan LKMS Kartini

Kegiatan usaha KARTINI bergerak dalam bidang Jasa Keuangan Syariah yang diperkenalkan kepada masyarakat dengan nama Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Kantor operasional saat ini beralamat di Jl. Babakan Jayanegara-Gn. Salak RT 08/04 Desa Kabandungan Kecamatan Kabandungan. Lembaga ini memiliki badan hukum Koperasi no. 22/BH/XIII.15/V/2009 pada tanggal 22 Mei 2009. LKMS KARTINI saat ini memiliki produk Tabungan dan produk Pembiayaan sebagai berikut : tabungan pembiayaan yaitu (a) Kartini Ummat, adalah simpanan biasa anggota/non anggota dengan mendapatkan bagi hasil dari LKMS setiap bulan sesuai dengan pendapatan yang diperoleh lembaga; (b) Simpanan sahara, adalah tabungan titipan yang dibagikan pada saat menjelang hari raya; (c) simpanan pendidikan, adalah tabungan untuk kepentingan pendidikan, (d) simpanan pelajar, adalah tabungan titipan pelajar oleh para guru, dan (e) simpanan qurban, adalah tabungan persiapan hari raya Idul Qurban. Sedangkan pada produk pembiayaan yaitu murabahah (jual-beli), mudharabah (bagi-hasil), ijarah (sewa) dan rahn (gadai).

MANAGER Lili Suciati BAGIAN MARKETING - Asep Saepuloh - LIlis Maryatun BAGIAN PELAYANAN - Sendy Nuraeni - Feni Bauti F

4.3 Profil Anggota Kelompok LKMS Kartini di Desa Cihamerang

Kelompok LKMS Kartini adalah kelompok ibu-ibu simpan-pinjam dimana anggotanya terdiri dari lima orang setiap kelompoknya terdapat satu orang sebagai ketuanya sebagai penanggung jawab. Kelompok ini dibentuk untuk menggunakan fasilitas yaitu murabahah (Jual-Beli) atau peminjaman modal kepada LKMS Kartini untuk usaha yang telah dijalankan dan untuk siapa saja yang membutuhkan. Cara untuk menjadi anggota LKMS Kartini, yaitu:

1. Mengisi form pendaftaran

2. Membayar simpanan pokok sebesar Rp.100.000,-

3. Membayar simpanan wajib sebesar Rp. 10.000,- (setiap bulan selama menjadi anggota)

4. Administrasi Rp 5.000,- 5. Fotocopy KTP suami dan istri 6. Fotocopy Kartu Keluarga

7. Foto 3x4 (2 lembar) dan 3x4 (2 lembar)

Untuk menjadi anggota LKMS Kartini dalam bentuk kelompok tidak diperlukan suatu jaminan, namun jaminannya adalah ucap janji biasa dikatakan kepercayaan sebagai jaminan. Kecuali peminjaman secara individu, harus memberikan jaminan seperti akta tanah. Karena peminjaman secara individu jumlah yang diberikan cukup banyak, sedangkan kelompok Tahap I Rp. 500.000 dengan cicilan selama 25 minggu dan perminggunya Rp 23.500. Apabila cicilan setiap minggu lancar dan selalu hadir pada saat penarikan, LKMS Kartini akan memberikan kebijakan untuk penambahan peminjaman maksimal Rp. 1.000.000 pada Tahap II dengan cicilan selama 25 minggu dan perminggunya Rp. 46.000.

Pada kelompok di Desa Cihamerang diberikan nama kelompok tani, binatang dan wayang. Responen penelitian yaitu yang bertempat tinggal di Dusun Pameungpeuk dan Pasirhaur. Jumlah responden menurut kategori sosial dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah dan Persentase Responden LKMS Kartini Menurut Kategori Sosial Kategori Sosial Jumlah (Orang) Persentase (%)

Pengusaha pertanian 6 20

Pengusaha non Pertanian 7 23

Buruh tani 4 13

Buruh non tani 13 44

Total 30 100

Sumber: Data Primer Penelitian Tahun 2010

Dari Tabel 4 dapat terlihat bahwa pada kategori Sosial, banyak jumlah responden yang mengikuti program LKMS Kartini dengan kategori non farm buruh yang memiliki jumlah yang paling banyak dibandingkan yang lain yaitu 13 orang. Kategori buruh non tani rata-rata pekerjaan rumah tangga adalah bukan rumah tangga yang memiliki usaha yang produktif, melainkan sebagai PNS, sekertaris desa, tukang cuci, supir, serabutan, dan ojek. Pada kategori pengusaha pertanian adalah pekerjaan rumah tangganya memeiliki usaha produktif yang sudah berskala besar, pengusaha non pertanian adalah pekerjaan rumah tangganya usaha produktif yang berskala kecil namun dapat berjalan secara berkelanjutan, dan kategori buruh tani adalah pekerjaan rumah tangga yang memang sebagai buruh tani.

4.4 Profil Desa Binaan Perusahaan Geothermal

Perusahaan Geothermal memiliki tiga daerah tanggung jawab perusahaan yaitu Kecamatan Pamijahan, Kalapanunggal dan Kabandungan. Kecamatan tersebut menjadi tanggung jawab perusahaan karena letaknya berada disekitar lokasi operasi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang juga turut menunjang kelangsungan operasi perusahaan. Didalam penelitian ini hanya difokuskan di Kecamatan Kabandungan khusunya di Desa Cihamerang, dimana melihat keefektifan implementasi program

Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan Geothermal dalam meningkatkan taraf hidup warga komunitas pedesaan .

Desa Cihamerang merupakan salah satu desa binaan Perusagaan Geothermal yang terletak di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Desa Cihamerang

memiliki tinggi dari pusat permukaan 700-800 mm dan suhu 20-25 derajat celcius. Jarak Desa Cihamerang dengan ibu kota Kecamatan 7 km, sedangkan 60 km ke pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi. Luas wilayah Desa Cihamerang adalah 9712,4 Ha yang terdiri dari tanah sawah 2687,5 Ha, tanah kering 1941 Ha, tanah hutan 2817 Ha, tanah perkebunan 61 Ha, tanah untuk fasilitas umum (tanah desa dan tanah perkantoran) 25 Ha dan lain-lain 0,5 Ha. Desa Cihamerang terdiri dari 4 Dusun/lingkungan, 4 Rukun Warga dan 30 Rukun Tetangga. Desa ini juga berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu: sebelah utara Desa Cipeuteuy dan Kecamatan Kabandungan, sebelah selatan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sebelah timur Sungai Citarik dan sebelah barat Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Berdasarkan Data Demografi Desa Cihamerang tahun 2009, penduduk Desa Cihamerang terdiri dari 1761 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mayoritas adalah laki-laki, yaitu 3369 orang (50,2%) sedangkan perempuan sebanyak 3346 orang (49,8%) dari total keseluruhan penduduk 6715 orang. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5. Selain itu, mayoritas penduduk Desa Cihamerang menganut agama Islam, yaitu sebanyak 6714 orang dan hanya satu orang perempuan yang menganut agama Kristen.

Tabel 5. Jumlah dan Persentase Penduduk Desa Cihamerang Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

Laki-Laki 3369 50,2

Perempuan 3346 49,8

TOTAL 6715 100,0

Sumber: Data Demografi Desa Cihamerang Tahun 2009

Dari Tabel 6 dapat dikatakan bahwa masyarakan Desa Cihamerang mata pencaharian atau sumber penghasilan utama adalah petani dan buruh tani. Penduduk usia produktif di Desa Cihamerang berjumlah 1886 orang laki-laki dan 1911 orang perempuan. Komoditi pertanian utama adalah padi, karena lahan pertanian yang terdapat di Desa Cihamerang khususnya sawah adalah seluas 2687,5 Ha

Tabel 6. Jumlah Penduduk Desa Cihamerang Menurut Jenis Pekerjaan

No Mata Pencaharian Jumlah (Orang)

1 Petani 810

2 Buruh tani 810

3 Pegawai negeri sipil 9

4 Pengrajin industri rumah tangga 5

5 Pedagang keliling 25

6 Montir 2

7 Prawat swasta 1

8 Pembantu rumah tangga 50

9 Pensiunan PNS/TNI/POLRI 9

10 Pengusaha besar 5

BAB V

PROSES PELAKSANAAN PROGRAM LKMS KARTINI DIIMPLENTASIKAN HINGGA MENCAPAI TUJUAN

Perusahaan Geothermal melakukan eksplorasi sejak tahun 1982 di area Gunung Salak, Kebupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogro. Seiring dengan itu perusahaan juga melakukan kegitan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan melakukan CSR merupakan strategi perusahaan untuk berkembang bersama masyarakat. Dari kegiatan CSR, perusahaan melaksanakan program

community engagement (CE) yang difokuskan di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan dan penguatan ekonomi lokal, lingkungan hidup, hingga dukungan ke pengembangan kebudayaan komunitas setempat. Dalam penelitian ini, fokus program yang diteliti adalah pemberdayaan dan penguatan ekonomi lokal melalui LKMS Kartini.

Program LKMS Kartini berawal pada tahun 2006 yang diawali Perusahaan melakukan social mapping yang bertujuan untuk memotret kondisi sosial masyarakat di sekitar perusahaan beroperasi. Hasil dari social mapping adalah (1) secara demografis jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki; (2) tingkat pengangguran tinggi; dan (3) banyak rentenir sehingga usaha kurang berkembang. Dengan keadaaan masyarakat yang seperti itu tokoh masyarakat yaitu sekolompok ibu guru memberikan ide kepada Perusahaan Geothermal untuk mendirikan koperasi. Kemudian pihak perusahaan berbicara dengan mitra yaitu PNM, akhirnya ditemukannya solusi yaitu mendirikan koperasi di wilayah operasi perusahaan. Dimana koperasi ini menjadi suatu lembaga yang dapat memfasilitasi warga untuk dapat meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat. Hal ini diperkuat dengan pernyataan manager LKMS Kartini yaitu:

“LKMS Kartini adalah suatu program dan tujuan dari Perusahaan Geothermal sendiri mungkin pemberdayaan di bidang ekonomi karena selama ini dana- dana yang dikatakan pemberdayaan atau community development di bidang ekonomi tidak ada hasilnya mungkin Perusahaan Geotehrmal bekerja sama dengan PNM, dia mengharapkan adanya LKMS Kartini ini uang yg diberikan oleh Perusahaan Geothermal ini berjalan terus. Tujuan dari LKMS Kartini itu

sendiri untuk menghilangkan bank keliling. Awalnya LKMS Kartini untuk para usaha yang produktif tapi sekarang sebagianpun untuk konsumsi sendiri, namun LKMS kartini menitikberatkan untuk konsumen yang memiliki usaha” Dari pernyataan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 bahwa tujuan yang dinyatakan oleh manajer LKMS Kartini dana yang diberikan untuk usaha produktif belum tepat sasaran karena jumlah responden dalam penelitian ini masih banyak yang tidak memiliki usaha produktif. LKMS Kartini mengatakan bahwa indikator usaha produktif yaitu usaha yang berkelanjutan, walaupun usaha yang dijalankan sedikit tetapi masih tetap berjalan.

Perusahaan Geothermal tidak pernah memberikan dana langsung kepada LKMS Kartini, perusahaan memberikan dana kepada PNM dan kemudian PNM yang mengolahnya dari fase pendirian, pelatihan, pendampingan, kantor dan kebutuhan modal. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan staf PGPA Perusahaan Geothermal yang memiliki spesialisasi di bidang community engagement, yaitu:

“Perusahaan Geothermal hanya memberikan dana kepada PNM pada fase pendirian (pelatihannya, bangunannya, dan operasi awal), namun untuk modalnya Perusahaan Geothermal mendidik LKMS Kartini untuk mencari modal sendiri. Saat ini hampir 50% dana dari masyarakat dan 50% lagi dana yang diberikan oleh PNM yang bersifat lunak dan jangka panjang” 

Dalam perjalanannya LKMS Kartini dapat merekrut beberapa anggota khususnya dari ibu-ibu yang berlokasi di Kecamatan Kabandungan karena LKMS Kartini difokuskan untuk Kecamatan Kabandungan yang terdiri dari Desa Kabandungan, Desa Cihamerang, Desa Cipeteuy, Desa Tugu Bandung, Desa Mekarjaya kecuali Desa Cianaga dan penelitian ini difokuskan di Desa Cihamerang. Untuk mengajak ibu-ibu menjadi anggota LKMS Kartini yaitu dengan cara bersosialisasi ke Kantor Desa untuk memperkenalkan LKMS Kartini dikalangan pemerintahan desa setelah itu staf LKMS Kartini meminta tolong kepada pemerintah desa untuk mengantar ke Ketua RT agar sosialisasi ke masyarakat dapat dilakukan. Namun sayangnya manager LKMS Kartini tidak pernah langsung turun ke lapangan.

Dari 30 responden, mereka mengetahui LKMS Kartini rata-rata dari tetangga/kerabat dan sisanya dari pemerintah desa dan pihak LKMS Kartini itu sendiri.

 

Gambar 4. LKSM Kartini yang Dibentuk Oleh Perusahaan Geothermal bersama mitraya yaitu Permodalan Nasional Madani (PNM)

Pada Gambar 5 dapat dikatakan bahwa informasi yang didapatkan responden mengenai LKMS Kartini lebih banyak didapatkan dari tetangga/kerabat sebesar 83.33%, sedangkan dari pihak LKMS Kartini itu sendiri sebesar 13.33% dan pemerintah desa 3.33%. Hal tersebut terjadi karena penyebaran informasi tentang LKMS Kartini lebih kepada mulut ke mulut untuk menjadi anggota.

Gambar 5. Jumlah Rata-Rata Persentase Responden mengetahui LKMS Kartini menurut Sumber Informasi

Untuk menjadi anggota LKMS Kartini ada yang berbentuk kelompok dan individu. Dalam berbentuk kelompok harus terdiri dari lima orang dan terdapat ketua

83.33%

13.33% 3.33%

Tetangga/Kerabat LKMS Kartini Pemerintah Desa

kelompok. Persyaratan menjadi anggota LKMS Kartini antara individu dan kelompok sama saja namun terdapat satu perbedaan yaitu individu adanya jaminan yang harus diberikan apabila, sedangkan kelompok jaminan yang diberikan hanya ucap janji, yang berbunyi sebagi berikut:

Demi keberhasilan kami, kami berjanji :

1. Selalu hadir tepat waktu pada setiap kumpulan 2. Membayar setoran mingguan

3. Pinjaman hanya untuk usaha yang telah disetujui 4. Hasil Usaha untuk kesejahteraan keluarga

5. Bertanggungjawab bersama apabila ada anggota yang tidak memenuhi janji- janji tersebut.

Karena pinjaman yang diberikan kepada kelompok lebih sedikit yaitu pada tahap I Rp.500.000,- sedangkan individu pinjaman yang diberikan yaitu minimal sebesar Rp.1.000.000,- dan maksimal sebesar Rp. 15.000.000,-. Penarikan yang dilakuan oleh LKMS Kartini adalah stiap seminggu sekali pada anggota yang berbentuk kelompok.

Adanya LKMS Kartini menjadi lebih mudah untuk meminjam modal karena bunga yang diberikan tidak besar yaitu 2,5% dibandingakan bunga yang diberikan oleh bank keliling sebesar 5%. Hal ini diperkuat oleh pernyataan manager LKMS Kartini, yaitu:

“Program ini memberikan dampak yang sangat bagus karena banyak kelompok ibu-ibu yang terbantu baik bagi nasabah dan para anggotan dan yang pasti dari adanya Kartini sudah ada sebagian dusun yang tidak dimasuki oleh bank keliling lagi.”

Gambar 6. Penarikan yang Dilakukan oleh Pegawai LKMS Kartini Setiap Minggu

5.1 Ikhtisar

Bab ini berjudul proses pelaksanaan LKMS Kartini diimplementasikn hingga tujuan program. Secara ringkas bab ini membahas tentang sejauhmana proses pelaksanaan LMKS Kartini diimplementasikan hingga mencapai sasaran tujuan program itu sendiri. Dapat dilihat pada gambar 7.

Perusahaan Geothermal memiliki pandangan terhadap CSR yaitu lebih kepada strategi perusahana untuk bisa berkembang bersama masyarakat dan startegi tersebut harus memberi dampak langsung kepada masyarakat dan lingkungan. Maka dari itu Perusahaan Geothermal melakukan social mapping untuk mengetahui keadaan masyarakat disekitar daerah operasi perusahaan. Ternyata hasil dari social mapping

itu sendiri adalah (1) secara demografi jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki; (2) tingkat pengangguran tinggi; dan (3) banyak rentenir sehingga usaha kurang berkembang. Dengan keadaan ini Perusahaan Geothermal berusaha untuk membuat suatu program yang dapat menanggulangi masalah yang ada, yaitu mendirikan LKMS Kartini dengan tujuan pemberdayaan di bidang ekonomi, dimana program tersebut berasal dari ide tokoh masyarakat yaitu sekumpulan ibu guru. Kemudian Perusahaan Geothermal berkerjasama dengan Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk mendirikan Koperasi yaitu LKMS Kartini. Tujuan LKMS Kartini sendiri menurut manajernya bahwa program ini dilakukan untuk mengurangi

bank keliling dan untuk para usaha yang produktif tapi sekarang sebagianpun untuk konsumsi sendiri, namun LKMS Kartini menitikberatkan untuk konsumen yang memiliki usaha. Dalam pembentukan LKMS Kartini ini, Perusahaan Geothermal menggandeng mitra yaitu PNM (Permodalan Nasional Madani). Di dalam tahap implementasi hal yang paling penting adalah sosialisasi, pelaksanaan dan internalisasi. Pada sosialisai masyarakat mengetahui LKMS Kartini dari tentangga/kerabat karena informasi disampaikan melalui mulut ke mulut. Perusahaan Geothermal memang tidak terjun secara langsung, namun semuanya diberikan kepada pihak mitra yaitu PNM.

Dokumen terkait