BAB II KEBUDAYAAN SUKU DAYAK SIANG-MURUNG
2.7 Tata Cara dan Pelaksanaan Upacara-upacara
Masyarakat Desa Dirung Bakung masih sangat kuat menganut dan mempertahankan nilai-nilai Kaharingan yang mereka warisi dari ke percayaan leluhur mereka. Hal itu tidak hanya terbukti melalui keyakinan mereka akan keberadaan berbagai jenis roh dan berbagai pantangan yang harus mereka patuhi sesuai dengan nilainilai agama yang berlaku, tetapi juga tergambar dalam praktik keagamaan yang mereka lakukan.
Segala ketetapan, peraturan, dan tata cara pelaksanaan berbagai ri tual dalam Kaharingan dipercaya berasal dari Tuhan atau Ranying
Ha-talla Langit yang diberikan melalui perantara leluhur. Ketika leluhur
Dayak diutus untuk turun ke bumi, mereka telah dibekali oleh Ranying
Hatalla Langit berbagai peraturan dan tata cara untuk melakukan ritual.
Manusia pertama yang diutus ke bumi ialah Raja Buno dan keturunannya.
Raja Buno diamanatkan oleh Ranying Hatalla Langit untuk memenuhi
permukaan bumi yang telah Ia ciptakan. Ranying Hatalla Langit juga mem berikan petunjuk dan tata cara kepada Raja Buno tentang bagaimana caranya kelak membawa keturunan-keturunannya di bumi kembali kepada
Ranying Hatalla Langit. Oleh karena itu, sebelum Ranying Hatalla Langit
menurunkan Raja Buno beserta keturunannya ke bumi, Ia meminta kepada
Raja Buno untuk melaksanakan ritual Tiwah Suntu di lewu bukit batu nidan tarung, sesuai dengan tata cara yang telah ditentukan oleh Ranying Hatalla Langit agar dapat membekali Raja Buno dan keturunannya ketika
mereka kelak hidup di bumi.
Salah satu ritual yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Dirung Bakung, khususnya yang beragama Kaharingan adalah upacara ritual
bapura atau masa 40 hari setelah kematian. Ritual tersebut masih tetap
dilakukan hingga sekarang. Ritual bapura biasanya dipimpin oleh basi
bawe atau basi perempuan. Tujuan diadakannya ritual bapura ialah untuk
meluruskan jalan lio melalui bantuan manyamei agar lio itu tidak tersesat dalam perjalanannya menuju lewu lio. Setiap anggota keluarga baik suami, istri, anak, dan cucu dari orang yang meninggal berhak menjalani dan mengikuti proses ritual bapura. Keluarga besar atau masyarakat yang hadir pada saat itu juga terlibat dalam proses ritual ini. Adapun rangkaian pelaksanaan dan beberapa perlengkapan ritual bapura ialah sebagai berikut.
Pada siang hari para keluarga yang melaksanakan upacara bapura dan para tamu baik tua, muda, dan anakanak berkumpul di dalam ruang an rumah. Tiga sampai empat lakilaki dewasa duduk dengan memainkan alat musik berupa gong, kankanung (gong berukuran kecil), dan ketambung (gendang berukuran kecil). Dua orang basi perempuan duduk di depan sesajen dan perlengkapan ritual yang telah disediakan oleh pihak keluarga. Sesajen tersebut di antaranya:
1. beras yang diletakkan dalam empat piring putih lalu disusun ber tingkat,
2. 2 kain bahalai (kain panjang bermotif) yang diletakkan di atas piring berisi beras,
3. 1 kain putih yang diletakkan di atas piring putih,
4. sirih pinang yang diletakkan di atas kain berwarna putih, 5. 1 buah lading,
6. 3 gelas air popa atau anding (minuman khas suku Dayak yang mengandung alkohol dan diolah dengan rempahrempah),
7. 1 buah apar (piring besar terbuat dari kuningan) tempat meletakkan sesajensesajen yang disebutkan di atas,
8. 2 buah lanjung (tas gendong dari anyaman rotan), satu berukuran sedang dan yang satunya berukuran kecil, tempat meletakkan kain dan bulu burung tingang,
9. 2 buah guci berukuran besar dan sedang yang diisi dengan ranting pohon,
10. 1 buah talenan,
11. 1 buah piring rabun yang diletakkan di atas talenan, dan 12. 2 buah alat musik ketambung.
Setelah semua perlengkapan ritual telah dipersiapkan oleh pihak keluarga, kedua basi perempuan pun siap memulai ritual bapura. Salah satu basi mengangkat piring rabun (kayu dan akarakaran yang dibakar di atas piring seng hingga menjadi arang) lalu mengarahkannya ke atas sesajen dan perlengkapan bapura. Basi pun mengangkat ketambung lalu menggerakgerakkannya di atas piring rabun. Kegiatan seperti ini di sebut dengan istilah marabun, bertujuan untuk mengantarkan sesajen pada tujuannya, yaitu kepada para roh baik. Begitu juga dengan alat alat musik yang digerakgerakkan di atas rabun, bertujuan agar alatalat musik tersebut cepat terdengar ke telinga rohroh baik dan dengan cepat mengundang kehadiran mereka dalam ritual tersebut. Setelah itu barulah
kemudian kedua basi mulai memukul ketambung sambil menyanyi dengan menggunakan bahasa sangiang, yang diistilahkan dengan ngeroja.
Sementara basi melaksanakan ritual bapura, pemilik rumah menge luarkan popa atau anding. Minuman tersebut dimasukkan ke dalam ceret dan kemudian dituangkan ke dalam satu gelas lalu dibagikan kepada tamutamu yang hadir untuk diminum secara bergiliran. Selain meminum
anding, kebiasaan lain yang dilakukan pada saat menghadiri ritual, baik
lakilaki ataupun perempuan ialah merokok. Rokok tersebut ada yang dibuat sendiri dari tembakau yang digulung menggunakan daun singkong atau daun pisang muda, namun banyak juga di antaranya yang merokok dengan merk tertentu yang dijual bebas di warung.
Keesokan harinya proses ritual bapura mencapai puncaknya. Be-be rapa sesajen diletakkan di depan rumah, yang Be-berarti sesajen siap di antarkan ke pemakaman, namun sebelumnya akan didoakan oleh basi. Sesajen-sesajen tersebut di antaranya ialah
1. lamak, yaitu kue yang terbuat dari ketan yang digoreng lalu ditusuk dengan bambu seperti sate,
2. lemang, yaitu ketan yang dimasak dalam bambu berukuran kirakira 60 cm,
3. ayam rebus yang diletakkan dalam satu piring, 4. satu gelas kecil popa atau anding,
5. satu guci kecil,
6. satu tombak yang diletakkan di dalam guci kecil,
7. bagian paha dan kaki ayam yang sudah direbus lalu ditusuk dengan bambu, dan kemudian ditusukkan pada ujung lemang lalu diletakkan dalam guci kecil, dan
8. ranting pohon yang sudah tampak kering dan diletakkan di dalam guci kecil.
Di tengahtengah ruangan rumah dibuat sebuah kurungan yang ter buat dari kayu. Di dalam kurungan yang tingginya kurang lebih 100 cm, lebar 1 m, dan panjang 1,5 m terdapat satu ekor babi dan empat ekor ayam yang diikat pada tiangtiang kurungan bagian bawah, serta beberapa ranting kering dan kain bahalai yang diikatkan pada tiang kayu seperti bendera.
Acara puncak ritual bapura dimulai dengan salah seorang basi pe-rem puan mengikatkan ujung benang jahit pada ranting pohon yang dile takkan pada guci kecil di depan pintu rumah. Kedua basi perempuan
ke-mudian duduk di lantai, menghadap ke sesajen di depan pintu. Salah satu
basi tampak mengenakan kebaya dan selendang penutup kepala sambil
menabuh ketambung dan membacakan doa atau mantra, dengan cara dinyanyikan atau ngeroja. Setelah itu basi menarik benang yang ujungnya diikat pada ranting pohon di depan pintu, lalu memagari keluarga almar hum yang duduk berbaris ke belakang dari arah pintu masuk ke dalam rumah. Ujung benang kemudian diikatkan kembali pada ranting pohon kering yang terletak dalam guci kecil di pintu rumah. Basi pun mengambil beras dan menaburkan beras tersebut ke atas kepala masingmasing anggota keluarga almarhum sambil membaca doa dengan bahasa
sa-ngiang. Ritual menaburkan beras di atas kepala masingmasing anggota
keluarga ini menandakan bahwa hambaruan atau roh yang dibawa oleh
liau atau orang yang sudah meninggal telah dikembalikan kepada anggota
keluarga yang masih hidup.
2.8 Praktek Keagamaan atau Kepercayaan Tradisional Upacara-upacara