BAB III METODE PENELITIAN
H. Instrumen Penelitian
I. Tata Cara Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut : 1. Analisis Situasi
a. Studi Pustaka
Dilakukan penelusuran pustaka dari buku-buku dan penelitian sejenis. Penelusuran pustaka ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai permasalahan yang akan diteliti, sebagai dasar dalam membuat kuesioner dan pedoman wawancara .
b. Proporsi Swamedikasi
Mencari proporsi swamedikasi penggunaan produk vitamin di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan digunakan untuk menentukan jumlah sampel. Karena tidak mendapat proporsi swamedikasi penggunaan produk vitamin di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, maka proporsi yang digunakan dalam menentukan jumlah sampel adalah P=50%.
c. Mencari jumlah penduduk dan jumlah kepala keluarga
Jumlah penduduk untuk tingkat Kabupaten sampai Kelurahan diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta, sedangkan untuk tingkat dusun/ RW jumlah kepala keluarga diperoleh dari perangkat pemerintahan di wilayah tersebut.
d. Pengurusan ijin
Pada penelitian ini perijinan di mulai dari tingkat Propinsi di BAPEDA Yogyakarta, sampai tingkat dukuh/ RW dengan meminta ijin pada perangkat pemerintahan di wilayah tersebut.
e. Sampling Frame
Sampling frame berdasarkan data kepala keluarga, peneliti mengunjungi ibu-ibu yang tercantum dalam kartu keluarga secara door to door, untuk mengetahui apakah ibu-ibu atau keluarganya pernah menggunakan produk vitamin atau tidak selama 6 bulan terakhir. Jika ibu-ibu atau keluarganya pernah menggunakan produk vitamin berarti ibu-ibu tersebut masuk dalam kriteria inklusi dan dapat digunakan sebagai sampel.
2. Pembuatan Instrumen
a. Pembuatan pedoman wawancara
Pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui pola perilaku swamedikasi dalam menggunakan produk vitamin. Pedoman wawancara ini harus dapat merangkum item-item pertanyaan mengenai pola perilaku swamedikasi menggunakan produk vitamin. Pembuatan pedoman wawancara ini telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.
b. Uji validitas pedoman wawancara
Pengujian validitas pedoman wawancara ini bertujuan untuk menyempurnakan pedoman wawancara dan untuk mengetahui apakah pedoman
wawancara yang digunakan valid. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity), yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment, untuk melihat sejauh mana tes mencerminkan atribut yang hendak diukur (Azwar,2003). Dosen pembimbing yang melakukan analisa rasional terhadap item-item yang telah disusun, hal ini dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara item dengan aspek yang bersangkutan.
c. Pembuatan kuesioner
Pembuatan kuesioner ini dilakukan berdasarkan perumusan masalah yang bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan responden dalam swamedikasi menggunakan produk vitamin. Pembuatan kuesioner ini telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Dalam penelitian ini dilakukan uji coba kuesioner meliputi uji pemahaman bahasa, uji validitas, dan uji reliabilitas. Pengujian ini dilakukan dengan mengujikan kuesioner ke ibu-ibu yang memiliki keadaan kurang lebih sama dengan responden yang sesungguhnya.
d. Uji pemahaman bahasa
Uji pemahaman bahasa dilakukan untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner mudah dipahami atau tidak oleh responden. Dari uji pemahaman bahasa dapat diketahui bagaimana pernyataan dapat dimengerti oleh responden dilihat dari jawaban yang diberikan. Jika dari uji ini responden kurang
memahami pernyataan dapat dilakukan perubahan kalimat dalam kuesioner agar responden dapat memahami maksud dari pernyataan sehingga memberikan jawaban yang diharapkan peneliti.
e. Uji validitas kuesioner
Pengujian validitas kuesioner ini bertujuan untuk menyempurnakan kuesioner dan untuk mengetahui apakah kuisisoner yang digunakan valid. Validitas adalah seberapa jauh alat ukur tersebut dapat mengukur apa yang akan diukur (Nurgiyantoro, 2002). Melalui pengujian validitas kuesioner, akan diketahui beberapa hal, seperti: apakah ada pertanyaan yang perlu dihilangkan, apakah ada pertanyaan yang perlu ditambah, apakah tiap pertanyaan dapat dimengerti dengan baik oleh responden, dan apakah urutan pertanyaan perlu diubah. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity), yaitu validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewatprofessional judgment, untuk melihat sejauh mana tes mencerminkan atribut yang hendak diukur. Validitas isi tergantung pada penilaian subyektif individual, dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan perhitungan statistik apapun melainkan hanya analisis rasional maka tidaklah diharapkan setiap orang akan sependapat mengenai sejauh mana validitas isi suatu tes/kuesioner telah tercapai (Azwar, 2003).
f. Uji reliabilitas kuesioner
Suatu alat ukur dikatakan mempunyai reliabilitas tinggi apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubah (Azwar, 1995). Reliabilitas dinyatakan dengan koefisisen reliabilitas yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai 1,00. Semakin tinggi reliabilitasnya mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya, sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2003). Berdasarkan uji reliabilitas yang sudah dilakukan koefisien reliabilitas yang diperoleh 0,699. Dari data koefisien reliabilitas yang diperoleh maka dapat dikatakan kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini sudah reliabel.
3. Pengambilan data dengan kuesioner dan wawancara responden
Penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap responden dilakukan di 8 RW/dusun di 4 kelurahan/desa dan 2 kecamatan dengan mengunjungi responden di rumah masing-masing. Pengisian Kuesioner dilakukan sendiri oleh responden ataupun dengan bantuan peneliti. Peneliti membantu dalam pengisian kuesioner, namun tidak mengubah pendapat responden atau berusaha memberikan pendapat. Selama pengisian kuesioner responden didampingi peneliti, ini dimaksudkan jika responden mengalami kesulitan dapat bertanya langsung kepada peneliti.
Menurut Nawawi (2005), wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan lisan, untuk dijawab secara lisan pula. Wawancara dilakukan oleh peneliti, apabila responden tidak jelas dengan maksud pertanyaan dapat langsung dijelaskan oleh peneliti. Responden diharapkan memberi jawaban yang jelas dan jujur sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, sehingga peneliti mendapatkan gambaran yang utuh tentang pola perilaku swamedikasi dalam menggunakan produk vitamin. Data yang telah terkumpul hasil wawancara berupa tulisan yang dicatat oleh peneliti sesuai hasil wawancara dan telah dikonfirmasikan kembali kepada setiap responden
4. Tatacara Pengolahan Data a. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa pengetahuan, sikap dan tindakan responden dalam menggunakan produk vitamin yang diukur dengan kuisioner menggunakan skala Likert. Dilakukan pemberian skor Likert sesuai dengan item yang diukur. Skala pengetahuan, skala sikap dan skala tindakan ditentukan dengan skor yang didapatkan dari skala Likert.
b. Data kualitatif
Data kualitatif berupa hasil wawancara dengan responden tentang swamedikasi menggunakan produk vitamin. Data kualitatif yang sama dikelompokkan dan dihitung jumlah total tiap alternatif jawabannya.
J. Analisis Hasil