• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA

B. Ketentuan Proses Beracara di Badan Penyelesaian

2. Tata Cara Persidangan

2.1. Persidangan dengan cara konsiliasi

Insiatif salah satu pihak atau para pihak membawa sengketa konsumen ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam hal ini hanya bersikap pasif dalam persidangan dengan cara konsiliasi sebagai pemerantara antara para pihak yang bersengketa, Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) menurut Pasal 28 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 BPSK hanya bertugas:

a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;

b. Memanggil saksi dan saksi ahli bila diperlukan;

c. Menyediakan forum bagi konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;

d. Menjawab pertanyaan konsumen dan pelaku usaha, perihal peraturan

perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen.103

Menurut Pasal 29 Surat Keputusan Menperindang Nomor

350/MPP/Kep/12/2001, prinsip tata cara penyelesaian sengketa konsumen dengan cara konsiliasi ada 2 cara, yaitu:

Pertama, proses penyelesaian sengketa konsumen menyangkut bentuk maupun jumlah ganti rugi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak sedangkan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) bertindak pasif sebagai konsiliator.

Kedua, hasil musyawarah konsumen dan pelaku usaha dikeluarkan dalam bentuk keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

2.2. Persidangan dengan cara mediasi

Cara mediasi ditempuh atas inisiatif salah satu pihak atau para pihak, sama halnya dengan cara konsiliasi. Keaktifan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) sebagai pemerantara dan Penyelesaian Sengketa Konsumen

(PSK) dengan cara mediasi, terlihat dari tugas Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yaitu:

a. Memanggil konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;

b. Memanggil saksi dan saksi ahli bila diperlukan;

c. Menyediakan forum bagi konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;

d. Secara aktif mendamaikan konsumen dan pelaku usaha yang bersengketa;

e. Secara aktif memberikan saran atau anjuran penyelesaian sengketa konsumen sesuai dengan peraturan perundang-undangan dibidang perlindungan konsumen.

Berdasarkan Pasal 31 Surat Keputusan Menperindag Nomor

350/MPP/Kep/12/2001, prinsip tata cara penyelesaian sengketa konsumen dengan cara mediasi ada 2 cara, yakni:

a. Proses penyelesaian sengketa konsumen menyangkut bentuk maupun jumlah

ganti rugi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak sedangkan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) bertindak pasif sebagai mediator.

b. Kedua, hasil musyawarah konsumen dan pelaku usaha dikeluarkan dalam bentuk

keputusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). 2.3. Persidangan dengan cara arbitrase

Pada persidangan dengan cara ini, para pihak menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk memutuskan dan menyelesaikan sengketa yang terjadi. Proses pemilihan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) menurut Pasal 32 SK Menperindag

Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 dengan cara arbitrase dapat ditempuh melalui 2 (dua) tahap.

1. Para pihak memilih arbitor dari anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang berasal dari unsur pelaku usaha dan konsumen sebagai anggota Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);

2. Arbitor yang dipilih para pihak tersebut kemudian memilih arbitor ketiga dari anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dari unsur pemerintah sebagai Ketua Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Jadi, unsur pemerintah selalu dipilih untuk menjadi ketua Majelis.

Prinsip tata cara Penyelesaian Sengketa Konsumen (PSK) dengan cara arbitrase, dilakukan melalui 2 (dua) tata cara persidangan yaitu melalui persidangan pertama dan persidangan kedua. Pertama,

1. Prinsip-prinsip pada persidangan pertama, yaitu:

a. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

memberikan petunjuk tentang upaya hukum bagi kedua belah pihak (Pasal 33 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;

b. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk mendamaikan kedua belah pihak (Pasal 34 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, dalam hal tercapai perdamaian, maka hasilnya wajib dibuatkan penetapan perdamaian oleh Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) (Pasal 35 ayat (3) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);

c. Pencabutan gugatan konsumen dilakukan sebelum pelaku usaha memberikan jawaban, dituangkan dengan surat pernyataan, disertai kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) (Pasal 35 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);

d. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk memberikan kesempatan yang sama bagi para pihak (asas audi et alteram

partem) (Pasal 34 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, yaitu:

1. Kesempatan yang sama untuk mempelajari berkas yang berkaitan dengan

persidangan dan membuat kutipan seperlunya (Pasal 33 ayat (2) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;

2. Pembacaan isi gugatan konsumen dan surat jawaban pelaku usaha, jika tidak tercapai perdamaian (Pasal 34 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001).

2. Prinsip-prinsip pada persidangan kedua, yaitu:

a. Kewajiban Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk memberikan kesempatan terakhir sampai persidangan kedua disertai kewajiban para pihak membawa alat bukti yang diperlukan, bila salah satu pihak tidak hadir pada persidangan pertama (Pasal 36 ayat (2) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);

b. Persidangan kedua dilakukan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) hari kerja sejak hari persidangan pertama (Pasal 36 ayat (2) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001);

c. Kewajiban Sekretariat Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk memberitahukan persidangan kedua dengan surat panggilan kepada

para pihak (Pasal 36 ayat (2) SK Menperindag Nomor

350/MPP/Kep/12/2001);

d. Pengabulan gugatan konsumen, jika pelaku tidak datang pada persidangan kedua (verstek), sebaliknya gugatan digugurkan, jika konsumen yang tidak datang (Pasal 36 ayat (3) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Di Inggris, model penyelesaian sengketa arbitrase (alternative arbitration

schemes) menyangkut sengketa pelaku usaha dan konsumen tidaklah selalu sebagai

penyelesaian sengketa konsumen ideal (..it cannot always be said that arbitration is

an ideal solution to consumer diputes).104 Kritik tajam dikemukakan bahwa jawaban terhadap pengaduan konsumen (the answer to the consumer complaint) adalah klausula arbitrase dalam perjanjian konsumen.

Sesuai dengan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) sebagaimana dimaksud Pasal 52 huruf I Undang-Undang Pelindungan Konsumen (UUPK) jo Pasal 3 huruf I SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja ini, termasuk 10 (sepuluh) hari kerja yang telah dikemukakan pada butir 3c bab ini.

Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), isi putusan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) bersifat final dan mengikat

104 David Oughton dan Jhon Lowry, Textbook on consumer Law, (London: Great Brittain, Blackstoone Press Ltd, 1997), hlm. 76-77.

(Pasal 54 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) jo Pasal 42 ayat

(1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001). Kata “final” menurut

Penjelasan Pasal 54 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) bahwa tdak ada upaya hukum banding dan kasasi atas putusan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

Sedangkan ini putusan (amar putusan) dalam hal ini permohonan Penyelesaian Sengketa Konsumen (PSK) dikabulkan, antara lain berupa penjatuhan sanksi administratif maksimal Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) (Pasal 52 huruf m Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK)), Pasal 60 ayat (2) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) jo. Pasal 37 ayat (5) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001.

Dalam hal ternyata hasil Penyelesaian Sengketa Konsumen (PSK) dicapai melalui arbitrase, maka hasilnya dituangkan dalam bentuk putusan Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang ditandatangani Ketua dan Anggota Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), di mana di dalamnya diperkenankan penjatuhan sanksi administratif (Pasal 37 ayat (4) dan ayat (5) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001).

Menurut 39 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 proses dikeluarkannya putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) hanya

dilakukan dengan tahapan, yaitu (Pasal 39 SK Menperindag Nomor

1. Didasarkan atas musyawarah untuk mencapai mufakat.

2. Maksimal jika hal itu telah diusahakan (dengan sungguh-sungguh), ternyata tidak mencapai mufakat, maka putusan dilakukan dengan cara voting/suara terbanyak.

Amar putusan BPSK menurut Pasal 40 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 hanya terbatas pada 3 (tiga) alternatif, yaitu:

1. Perdamaian,

2. Gugatan ditolak, atau

3. Gugatan dikabulkan.

Jika gugatan dikabulkan, maka dalam amar putusan ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku usaha, dapat berupa sebagai berikut:

1. Ganti rugi atas segala kerusakan, pencemaran dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau memanfaatkan jasa;

2. Pengembalian uang;

3. Pergantian barang dan/jasa yang sejenis atau setara nilainya; atau

4. Perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan (Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) Pasal 12 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001;

5. Sanksi administratif beruba penetapan ganti rugi maksimum Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) (Pasal 60 ayat (2) dan Pasal 52 huruf m Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) jo Pasal 3 huruf I, Pasal 14, dan Pasal 40 ayat (3) butir b SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) tidak mengatur dalam waktu berapa lama putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) diberitahukan kepada para pihak. (Bila disepakati) tidak diaturnya hal itu karena menyangkut salah satu “ketentuan teknis lebih lanjut tentang pelaksanaan tugas

majelis”, maka Pasal 54 ayat (4) Undang-Undang Perlindungan Konsumen

(UUPK)105 memberi Menteri Perindustrian dan Perdagangan kewenangan

mengeluarkan Surat Keputusan Menteri. SK Menperindag Nomor

350/MPP/Kep/12/2001 merupakan salah satu Surat Keputusan Menteri yang dimaksud pada Pasal 54 ayat (4) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK).

Pasal 41 ayat (1) SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001,106

menentukan bahwa putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) diberitahukan secara tertulis kepada alamat para pihak dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak putusan dibacakan, namun ternyata Pasal 13 ayat (1) Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 menentukan lain, yaitu: pemberitahuan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dilakukan secara tertulis dan disampaikan ke alamat pelaku usaha dengan bukti penerimaan atau pengiriman, selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja terhitung sejak putusan ditetapkan.

Hal itu tentu menimbulkan masalah hukum dalam praktek; tidak jelas mana yang dijadikan pegangan dalam pemberitahuan putusan Pasal 41 ayat (1) atau Pasal

105 Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) berbunyi: “Ketentuan teknis lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas diatur dalam surat Keputusan Menteri”.

13 ayat (1) SK Menperindag tersebut. Apalagi dijadikan tolak ukur hari dan tanggal penandatanganan penerimaan putusan sebagai pegangan untuk menganggap pelaku usaha secara resmi telah menerima pemberitahuan putusan,107 akan menimbulkan kesulitan dalam praktek, yaitu: jika pelaku usaha atau kuasa hukumnya tidak mau menandatangani penerimaan (pemberitahuan) putusan apakah dengan sikap pelaku usaha tersebut membawa konsekuensi putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) telah diberitahukan secara patut atau tidak patut.

Menurut Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), pelaku usaha wajib melaksanakan putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) itu dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dimaksud. Tidak terdapat penjelasan kata “menerima putusan” disitu berarti menyetujui atau sependapat dengan isi (diktum) putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Waktu 7 (tujuh) hari kerja di situ lebih terkait dengan pelaksanaan (eksekusi) putusan secara sukarela.

2.4. Alat Bukti dan Sistem Pembuktian

Pasal 21 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001, alat-alat bukti yang digunakan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yaitu:

1). Barang dan/atau jasa; 2). Keterangan para pihak;

3). Keterangan saksi dan/atau saksi ahli; 4). Surat dan/atau dokumen;

5). Bukti-bukti lain yang mendukung.

Sistem pembuktian yang digunakan dalam gugatan ganti rugi sebagaimana dimaksud Pasal 19, Pasal 22 Pasal 23 Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), yaitu: sistem pembuktian terbalik sesuai dengan Pasal 28 Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) jo Pasal 22 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001. Pendekatan dengan menggunakan sistem Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK), maka sistem pembuktian yang digunakan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) juga sistem pembuktian terbalik.

Sistem pembuktian terbalik dalam sistem hukum di Indonesia tidaklah sama

sekali baru. Subekti mengemukakan bahwa persangkaan undang-undang:108

Pada hakekatnya merupakan pembalikan beban pembuktian. Ia mencontohkan adanya 3 (tiga) kwitansi berturut-turut (terakhir) membebaskan debitur untuk membuktikan semua pembayaran angsuran/cicilan terdahulu, sebaliknya membebankan kewajiban kepada kreditur untuk menerima semua pembayaran tersebut.109 Contoh yang bersifat kasuistik yang diketengahkan tersebut, dapat menjadi beban pertimbangan bagi Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) menyelesaikan Sengketa Konsumen yang diajukan kepadanya.

Di dalam melakukan pemeriksaan dan penelitian sengketa konsumen (Pasal 52 butir f jo Pasal 3 butir f, SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001), terdapat 2 (dua) hal yang harus diperhatikan oleh Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), berdasarkan pasal 10 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001; yaitu:

108 Alat bukti dalam perkara perdata menurut Pasal 164 HIR/Herziene Indonesisch Reglement (Pasal 283 RBg/Reglement Buitengewesten), yaitu: (a) bukti tulisan; (b) bukti dengan saksi-saksi; (c) persangkaan-persangkaan; (d) pengakuan; (e) sumpah.

109 Subekti, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung: Badan Pembinaan Hukum Nasional dan Bina Cipta, 1982), hlm. 109.

a. Penelitian dan pemeriksaan terhadap bukti surat, dokumen, bukti barang, hasil uji laboratorium, dan alat bukti lain yang diajukan baik oleh konsumen maupun pelaku usaha;

b. Pemeriksaan terhadap konsumen, pelaku usaha, saksi, dan saksi ahli atau terhadap orang lain yang mengetahui adanya pelanggaran ketentuan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Kedua hal tersebut diperhatikan oleh Majelis Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dalam rangka menyelesaikan sengketa konsumen (Pasal 11 SK Menperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001).

2.5.Contoh-contoh kasus produk cacat yang ditangani di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Medan

Kasus ditemukannya produk cacat berupa penjualan barang yang berbentuk Roti Kacang/Tausan Besar di Buana Plaza Aksara, Medan. Kejadian itu ditemukan pada tanggal 25 Maret 2009, di mana Pihak I (Pertama/Konsumen) dalam hal ini, Priadi Siahaan, Umur 27 Tahun, Pekerjaan pegawai swasta, Bertempat tinggal di Jl. Taduan Gg. Kabu-kabu No. 3 Medan, mengalami sakit perut dan mual-mual setelah mengkonsumsi roti kacang yang bermerek tausan besar tersebut dan menyebabkan Pihak I (Pertama/Konsumen) tersebut mengalami kerugian materi maupun fisik yang menyebabkan Pihak I (Pertama/Konsumen) itu tidak dapat beraktivitas/tidak kerja selama 2 (dua) hari. Ternyata setelah dilihat lebih lanjut terhadap roti tersebut, terdapat jamur. Padahal roti tersebut belum mengalami masa kadaluwarsa (expired) dan masih bisa dikonsumsi sampai tanggal 30 Mei 2009. Atas kejadian ini, Pihak I

(Pertama/Konsumen) tersebut mengadukan kejadian tersebut ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Medan dengan Formulir Pengaduan Konsumen Nomor 12/P3K/III/2009. Atas kejadian tersebut Pihak I (Pertama/Konsumen) mengajukan jenis tuntutan ganti rugi yang diinginkan kepada Pihak II (Kedua/Pelaku Usaha) dalam hal ini Arie Dharmansyah, Jabatan Pimpinan PT. RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk, Beralamat di Gedung Buana Plaza Jl. Aksara Medan. antara lain: Penggantian barang/jasa yang sejenis atau setara lainnya, Perawatan kesehatan, Teguran kepada pelaku usaha, Moril, dll.

Atas pengajuan tuntutan tersebut Pihak II (Kedua/Pelaku Usaha) mengambil langkah-langkah untuk bersepakat mengadakan perdamaian dengan Pihak I (Pertama/Konsumen) pada tanggal 16 April 2009, dengan perincian sebagai berikut:

1) Pihak I (Konsumen) bersedia berdamai dalam pengaduannya No.

12/Pen/BPSK-MDN/2009 yang didaftarkan oleh Pihak I tertanggal 31 Maret 2009 pada Sekretariat BPSK Kota Medan Jalan Jend. A. Haris Nasution No. 17 Medan, prihal penjualan barang yang berbentuk Roti Kacang/Tausan Besar yang dilakukan oleh pihak Pelaku Usaha.

2) Bahwa, pihak II dalam hal ini sebagai Pelaku Usaha bersedia: Memberikan kompensasi atas tuntutan konsumen yaitu mengganti biaya pembelian roti, biaya perobatan dan biaya pengganti tidak masuk kerja selama 2 hari sehingga berjumlah Rp. 471.000 (empat ratus tujuh puluh satu ribu rupiah).