6.1 Kebijakan Pemerintah Terhadap Pengadaan Input Susu di Indonesia
Pelayanan terhadap kebutuhan sarana produksi ternak yang meliputi bibit, peralatan dan terutama pakan konsentrat dilakukan oleh koperasi. Dalam pengadaan sapronak, koperasi bekerjasama dengan dinas terkait, GKSI, pihak perbankan, pemasok bahan baku dan pabrik makanan ternak. Dalam kebijakan pemasukan bibit ternak sapi perah, ada tiga SK Menteri Pertanian, yaitu :
1. SK Menteri Pertanian Nomor 750/Kpts/Um/10/82 tentang syarat-syarat pemasukan bibit ternak dari luar negeri.
2. SK Menteri Pertanian Nomor 752/Kpts/Um/10/82 tentang syarat-syarat teknik bibit sapi perah yang dimasukkan dari luar negeri.
3. SK Menteri Pertanian Nomor 753/Kpts/Um/10/82 tentang kesehatan bibit sapi perah yang akan dimaukkan dari Australia dan Selandia Baru.
Inti dari kebijakan ini adalah menitikberatkan persyaratan teknis agar impor bibit sapi perah tidak berdampak negatif, terutama penyakit ternak atau mutu genetis sapi perah yang rendah.
Hal ini dimaksudkan agar bibit sapi perah yang masuk ke Indonesia terjamin kualitasnya dan mempunyai standar kualifikasi tertentu. Sedangkan para peternak tersebut dilatih terlebih dahulu, agar memahami sepenuhnya apa yang harus dikerjakan untuk menghasilkan sapi-sapi
prima. Jika ada peternak berpotensi tetapi terhambat modal maka perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah.
6.2 Kebijakan Pemerintah Terhadap Produksi Susu di Indonesia
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mulai tahun 1977, Indonesia mulai mengembangkan agribisnis sapi perah rakyat ditandai dengan SKB Tiga Menteri (Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan menteri Pertanian). SKB ini merumuskan kebijakan dan program pengembangan agribisnis sapi perah dikembangkan melalui koperasi dan IPS. yang selanjutnya dikukuhkan dengan INPRES Nomor 2 Tahun 1985 mengatur tentang pemasaran susu segar dari peternak ke IPS. Oleh karena itu, IPS wajib menerima susu segar dalam negeri (SSDN) dan bukti serap sebagai pengaman harga SSDN dan harga bahan baku impor.
Kebijakan pemerintah yang mengatur sistem perijinan, perdagangan produk, aturan kesehatan dan lainya pada industri pengolahan susu diatur dalam bentuk Surat Keputusan (SK), Instruksi Presiden (Inpres) maupun dalam bentuk Undang-undang. Beberapa kebijakan pemerintah yang penting diungkapkan sebagai berikut.
1. Surat keputusan bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian Nomor 236/Kpb/VII/82, Nomor 341/SK/7/1982 dan Nomor 521/Kpts/Um/7/1982. Berisi tentang pengembangan usaha peningkatan produksi pengolahan dan pemasaran susu di dalam negeri.
Pokok-pokok yang penting adalah:
a. pemerintah menetapkan jumlah susu produksi dalam negeri yang wajib diserap oleh Industri Susu sesuai dengan proyeksi produksinya dan kebutuhan masyarakat dalam tahun bersangkutan
b. untuk kepentingan penyerapan susu produksi dalam negeri perusahaan dapat melengkapi peralatan yang diperlukan dengan ijin Departemen/Instansi yang bersangkutan
c. Menteri Perindustrian menyampaikan jumlah kebutuhan bahan baku susu untuk industri dalam negeri kepada Menteri Perdagangan dan Koperasi. Kebijakan ini dikeluarkan dengan maksud untuk mendorong pengembangan industri sapi perah nasional. Implikasi dari kebijakan ini adalah lahirnya bukti serap (Busep) dan rasio susu, seperti tertera pada Surat Keputusan berikut.
2. Surat keputusan bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian Nomor 236/Kpb/VII/82, Nomor 341/SK/7/1982 dan Nomor
521/Kpts/Um/7/1982. Berisi tentang pengaturan impor bahan baku susu, jumlah dan jenis yang akan diimpor serta pengawasan terhadap koperasi, perusahaan industri dan importir.
a. Impor bahan baku susu hanya dapat dilaksanakan oleh importir terdaftar susu yang diakui oleh Menteri Perdagangan dan Koperasi, baik sebagai importer umum maupun importer produsen.
b. Jumlah dan jenis bahan baku susu yang akan diimpor oleh importir terdaftar susu ditetapkan berdasarkan bukti realisasi penebusan/pembelian susu produksi dalam negeri.
c. Menteri Perdagangan dan Koperasi melakukan pengawasan terhadap koperasi dalam kegiatannya melakukan pembelian susu produksi dalam negeri serta terhadap perusahaan industri dan importir dalam melaksanakan impor bahan baku susu.
3. Instruksi Presiden Nomor 4/1998 tentang koordinasi pembinaan pengembangan persusuan nasional. Inpres ini menghapuskan kandungan lokal dan produk-produk turunan susu.
4. SE Menteri Pertanian per 20 April 2001 Nomor 510/94/A/IV/2001, tentang tindakan penolakan dan pencegahan masuknya penyakit mulut dan kuku (PMK).
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1983 tentang kesehatan masyarakat veteriner. PP ini mengatur :
a. setiap orang atau badan dilarang mengedarkan susu yang tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri
b. setiap orang atau badan yang mengedarkan susu harus mengikuti cara penanganan, penyimpanan, pengangkutan, dan penjualan susu yang ditetapkan oleh Menteri
c. Menteri menetapkan syarat kelayakan tempat usaha dan penjualan susu.
6. Surat keputusan Bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri pertanian No. 236/Kpb/VII/82, No. 341/M/SK/6/1982 tanggal 21 Juli 1982 dan No. 521/Kpts/Um/7/1982 tentang Pengembangan Usaha Peningkatan Produksi Pengolahan dan Pemasaran Susu. Pada SKB tersebut, penetapan harga dilakukan sekali setahun oleh “Tim Teknis Persusuan Nasional”, suatu bagian fungsional dari Tim Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Persusuan nasional.
Sejak bulan November tahun 2008, untuk mengatasi permasalahan kurangnya supply susu serta tingginya harga susu di tingkat konsumen, pemerintah melakukan program peningkatan daya saing industri susu di dalam negeri yaitu dengan memberikan insentif fiskal berupa penanggungan bea masuk oleh pemerintah atas impor barang dan bahan olah industri pengolahan susu (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/PMK.011/2008). Kemudian dilanjutkan dengan dikeluarkannya kebijakan terbaru mengenai penghapusan tarif impor masuk dari lima persen menjadi nol persen berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.
19/PMK.011/2009 pada bulan April dan efektif diberlakukan sejak 1 Juni 2009. Namun saat ini, pemberlakuan bea masuk impor susu mengacu pada Peraturan menteri Keuangan (PMK) Nomor 101/PMK.011/2009 yaitu dikembalikan sebesar 5% kepada impor tujuh produk susu yang merupakan bahan baku untuk menghasilkan produk susu jadi bagi konsumsi masyarakat.
6.3 Kebijakan lainnya
Selain itu, terdapat kebijakan lain yang berkaitan dengan komoditas susu sapi, yaitu:
1. Peraturan Menteri Keuangan nomor 19/PMK.011/2009, tentang penetapan tarif bea masuk atas barang impor produk-produk tertentu. Peraturan ini dilatarbelakangi dalam rangka mendukung pengembangan sektor riil di dalam negeri perlu dilakukan perubahan tarif bea masuk atas barang impor produk-produk tertentu.
2. Peraturan Menteri Keuangan nomor 101/PMK.011/2009, tentang penetapan tarif bea masuk atas impor produk-produk susu tertentu. Peraturan ini dilatarbelakangi dalam rangka mendukung pengembangan industri susu di dalam negeri perlu dilakukan perubahan tarif bea masuk atas impor produk-produk susu tertentu; dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006. Adapun ketentuannya, yaitu Pasal 1 menetapkan tarif bea masuk atas barang impor produk-produk susu tertentu sebagaimana ditetapkan dalam lampiran peraturan menteri keuangan ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan menteri keuangan ini. Pasal 2 ketentuan dalam peraturan menteri keuangan ini, berlaku terhadap impor barang yang dokumen pemberitahuan pabean impor-nya telah mendapatkan nomor pendaftaran dari kantor pabean pelabuhan pemasukan. Pasal 3 dengan berlakunya peraturan menteri keuangan ini, ketentuan mengenai besaran tarif bea masuk sebagaimana diatur dalam peraturan menteri keuangan nomor 19/pmk.011/2009 tentang penetapan tarif bea masuk atas barang impor produk-produk
tertentu, sepanjang mengatur mengenai produk-produk sebagaimana dimaksud dalam lampiran peraturan menteri keuangan ini, dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 peraturan menteri keuangan mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan menteri keuangan ini dengan penempatannya dalam berita negara republik indonesia.
3. Peraturan No. 122/M-IND/PER/10/2009, tentang peta panduan (road map) pengembangan klaster industri pengolahan susu. Peraturan ini dilatarbelakangi oleh dalam rangka industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, perlu menetapkan peta panduan (Road Map) pengembangan klaster industri prioritas yang mencakup basis industri manufaktur, industri berbasis agro, industri alat angkut, industri elektronika dan telematika, industri penunjang industri kreatif dan industri kreatif tertentu serta industri kecil dan menengah tertentu. Peraturan ini menyatakan bahwa Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu tahun 2010-2014 selanjutnya disebut Peta Panduan adalah dokumen perencanaan nasional yang memuat sasaran, strategi dan kebijakan, serta program/rencana aksi pengembangan klaster industri pengolahan susu untuk periode 5 tahun (terlampir).
4. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan nomor PerKBPOM nomor 22 Tahun 2013, tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan pembuih.
Peraturan ini dilatarbelakangi untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pembuih.
Peraturan ini menyatakan bahwa Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan. BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan/atau tidak diperlakukan sebagai bahan baku pangan. Penetapan batas maksimum penggunaan BTP pembuih pada produk susu.