BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Tata Ruang Perpustakaan
Kondisi tata ruang perpustakaan cukup menentukan keberhasilan pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu harus ditata sebaik-baiknya, supaya dapat menumbuhkan rasa nyaman bagi penggunanya.
Tata ruang adalah cara mengatur ruang yang berwujud struktural dan pola ruang, agar pemanfaatan setiap ruang yang terencana maupun tidak dapat
commit to user
berkembang secara maksimal maka perlu adanya pengendalian pemanfaatan ruang itu sendiri sehingga dapat memberikan perencanaan tata ruang yang menarik dan nyaman. Tata ruang yang menarik akan membuat para pengguna merasa nyaman di perpustakaan yang diharapakan dapat meningkatkan minat pengguna untuk mengunjungi dan memanfaatkan layanan perpustakaan.
Menurut Lasa Hs (2005: 157) menyatakan bahwa tata ruang adalah perencanaan ruangan yang mempertimbangkan keserasian dalam penataan ruang yang dapat mempengaruhi produktivitas, efisiensi, efektifitas dan kenyamanan pemakai.
Sedangkan D.K Ching (2002: 46) menjelaskan bahwa tata ruang adalah merencanakan, menata dan perencangan ruang dalam di dalam bangunan. Keadaan fisiknya memenuhi kebutuhan dasar kita akan naungan dan perlindungan, memepengaruhi bentuk aktivitas dan memenuhi aspirasi kita dan mengekspresikan gagasan yang menyertai tindakan kita, disamping itu sebuah tata ruang juga mempengaruhi pandangan, suasana hati dan kepribadian kita. Oleh karena itu tujuan dari perencanaan tata ruang adalah pengembangan fungsi, pengayaan estetis dan peningkatan psikologi ruang interior.
Dari pendapat dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tata ruang adalah perencanaan ruang yang berfungsi sebagai tempat bernaung dan perlindungan yang dapat mempengaruhi pandangan dan suasana hati dengan mempertimbangkan keserasian untuk menciptakan kenyamanan bagi pemakai.
commit to user
16
2.3.1 Tujuan Tata Ruang Perpustakaan
Gedung atau ruang perpustakaan perlu ditata sesuai dengan kebutuhan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip arsitektur. Penataan ruang perpustakaan bertujuan untuk (Lasa Hs, 2005: 148) :
1. Memperoleh efektifitas kegiatan dan efisiensi waktu, tenag, dan anggaran.
2. Menciptakan lingkungan yang nyaman suara, nyaman cahaya, nyaman udara dan nyaman warna.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan.
4. Meningkatkan kinerja petugas perpustakaan.
Untuk pencapaian tujuan tata ruang perpustakaan perlu diperhatikan asas tata ruang dan prinsip-prinsip tata ruang. Adapun asas-asas tata ruang menurut Lasa Hs (2005: 149) antara lain :
1. Asas jarak, yaitu suatu susunan tata ruang yang memungkinkan proses penyelesaian pekerjaan dengan menempuh jarak yang paling pendek.
2. Asas rangkaian kerja, yaitu suatu tata ruang yang menempatkan tenaga dan alat-alat dalam suatu rangkaian yang sejalan dengan urutan penyelesaian pekerjaaan yang bersangkutan.
3. Asas Pemanfaatan, yaitu tata susunan ruang yang mempergunakan sepenuhnya ruang yang ada.
Selain asas-asas tata ruang juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip tata ruang yakni :
commit to user
1. Bagian pelayanan umum hendaknya ditempatkan di lokasi yang strategis, di tengah atau mudah dijangkau.
2. Pelaksanaan tugas yang membutuhkan konsentrasi hendaknya ditempatkan di ruang terpisah atau di tempat yang aman dari gangguan.
3. Bagian yang menimbulkan berisik/suara hendaknya ditempatkan di ruang terpisah.
4. Ukuran tinggi, rendah, panjang, lebar, luas dan bentuk perabot hendaknya dapat diatur lebih leluasa.
5. Perlu adanya lorong yang cukup lebar untuk jalan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
6. Penempatan perabot, meja, kursi, rak, almari disusun dalam bentuk garis lurus.
7. Bagian-bagian yang mempunyai tugas sama hendaknya ditempatkan di lokasi yang berdekatan.
2.3.2 Unsur-Unsur Tata Ruang
Dalam penyusunana tata ruang, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan yaitu ruang/gedung, perabot dan perlengkapan ruang, pewarnaan, penerangan/cahaya dan sirkulasi udara/ventilasi.
1. Ruang/Gedung
Ruang/gedung merupakan salah satu faktor yang turut menunjang pelaksanaan tugas-tugas pengelolahan perpustakaan. Tanpa
commit to user
18
ada ruang/gedung tidak dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Oleh karena itu perlu adanya perencanaan mengenai ruang/gedung, sehingga perpustakaan dapat berfungsi secara efisien dan efektif yang memudahkan mahasiswa dan karyawan, memberi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, dan menarik sebagai tempat belajar dan bekerja. Bahkan gedung perpustakaan dapat menjadi ukuran ada/tidaknya perhatian dari pemimpin dan pustakawan. Beberapa langkah penting dalam proses perencanaan (Frazer G. Poole, 1981: 11 – 17), meliputi :
a. Struktur Organisasi
Sebagai dasar bagi desain gedung perpustakaan yang baik adalah struktur organisasi yang hendak ditempati gedung itu. Struktur organisasi mendasari jenis, fungsi dan lokasiberbagai unsure gedung, jumlah dan besar ruang kantor, jumlah tempat bekerja karyawan, dan berbagai sifat fisik gedung yang lain-lain. Hendaknya pustakawan memperhatikan karena lankag pertama dalam proses perencanaan. Beberapa hal yang perlu diperhatiakan dalam struktur organisasi, yaitu :
a) Dalam struktur organisasi hanya ada dua bagian, yaitu bagian pelayanan dan bagian pengolahan.
b) Di bagian pelayanan reference terdapat buku acuan dan buku cadang (keduanya tidak dapat dipinjamkan), digolongkan ke dalam satu jenis pustaka dan menjadi satu koleksi.
c) Tidak ada unit silanglayan secara terpisah. Kegiatan silaglayan merupakan pelayanan yang relatif kecil dan dapat ditangani
commit to user
secara efektif oleh pustakawan yang khusus bekerja di bagian tersebut.
d) Pelayanan referens tidak ada hubungannya dengan pemanduan pembaca. Koleksi referens sebagai satu unit dari bagian peminjaman.
e) Buku langka dan koleksi khusus yang terbatas jumlahnya perlu menduduki tempat tersendiri, jika perlu koleksi tersebut merupakan sub-bagian saja.
f) Pustaka renik (film renik, kartu renik, dan karya cetak) merupakan perluasan langsung dari karya cetak, sangat cocok ditempatkan berdekatan dengan pelayanan majalah, walaupun secara administrasi tidak termasuk bagian majalah.
g) Berbagai pustaka pandang-dengar fungsi dan pemakainnya berhubungan satu dengan yang lain.
h) Di bagian pengolahan terlihat satu unit tunggal yang mempunyai tanggung jawab untuk sekelompok kegiatan yang secara umum berkaitan dengan pengolahan buku, menjilid serta memperbaiki dan mengawetkan buku.
b. Program Tertulis
Di dalam pembangunan gedung perpustakaan perguruan tinggi perlu menyiapkan program gedung secara tertulis dan terperinci yang dilakukan oleh pustakawan. Dalam program tertulis terdapat empat pokok yang harus dipenuhi :
commit to user
20
a) Merupakan pedoman bagi arsitek di dalam mendesain gedung. Seorang arsitek tidak mengetahui bagaimana gedung itu akan berfungsi, pelayanan apa yang ada, bagaimana berbagai ruang harus berhubungan, berapa daya muat gedung untuk buku dan pembaca atau berapa jumlah tempat kerja untuk karyawan. Semua itu diperoleh dari pustakawan.
b) Pustakawan dan stafnya harus berfikir hati-hati mengenai masa datang gedung dan bagaimana gedung itu harus diatur dan harus beroperasi.
c) Merupakan catatan yang berguna mengenai sejumlah keputusan penting yang harus dibuat dan mengenai alasan yang mendasari keputusan itu, karena informasi yang demikian dapat bermanfaat di kemudian hari.
d) Program tertulis merupakan alat untuk mendapatkan persetujuan resmi dari pemimpin tertinggi di dalam kampus untuk proyek tersebut.
c. Panitia Perencana
Gedung perpustakaan yang paling berhasil itu tidak direncanakan oleh satu orang melainkan kerja sama dengan sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah kepanitiaan. Dalam perencanaan yang paling penting diperhatikan adalah gedung itu sendiri bukan bangunan yang termahal di dalam kampus. Penting juga keikutsertaan pustakawan dan seorang konsultan dalam anggota kepanitiaan perencanaan, karena
commit to user
seorang pustakwan lebih mengetahui bagaimana perpustakaan itu berfungsi dan bertanggung jawab atas penggunaan gedung sehinnga arsitek dapat mengerjakan tugas dengan kebutuhan perpustakaan.
d. Proses Mendesain Gedung
Setelah program gedung disiapkan, ditelaah, dan disetujui, kemudian secara resmi program diserahkan kepada arsitek pada pertemuan panitia perencanaan. Dalam proses mendesain gedung oleh arsitek ada beberapa fase dasar yang berbeda tergantung cara arsitek memilih fase tersebut. Terdapat dua fase sebagai berikut :
a) Fase pengembangan desain yang biasanya terdiri dari dua subfase: desain secara bagan dan desain awal.
b) Fase gambar kerja disebut juga gambar kontruksi atau fase gambar kontrak.
Setelah gambar desain gedung jadi, maka gambar tersebut diserahkan kepada panitia. Jika panitia sudah menyetujui gambar perencanaan, selanjutnya proses pembangunan gedung sudah siap untuk dilaksanakan.
e. Tata ruang
Dalam penataan ruang diperpustakaan dapat dipilih beberapa alternative sebagai berikut :
commit to user
22
yaitu cara pengaturan ruangan yang menempatkan koleksi secara terpisah dari meja baca pengunjung. Biasanya cara ini diterapkan pada system tertutup.
b) Tata parak
Yaitu cara pengaturan ruangan yang menempatkan koleksi terpisah dari ruang baca, namun pengguna dapat mengambil sendiri koleksi dan dibaca di ruang baca yang tersedia.
c) Tata baur
Yaitu cara penempatan koleksi yang dicampur dengan meja baca agar pembaca lebih mudah mengambil koleksi yang dikehendaki.
Secara umum penggunaan gedung dialokasikan menjadi tiga keperluan pokok, yaitu untuk keperluan pengguna, ruang kerja petugas dan koleksi.
2. Perabot dan perlengkapan
Perabot adalah segala jenis barang yang diperlukan di dalam ruang perpustakaan sebagai sarana penunjang keberhasilan fungsi tugas dan peran serta kegiatan yang tidak habis dalam suatu pemakaian. Perabot dan perlengkapan di setiap ruang perpustakaan disesuaikan dengan fungsi dan spesifikasi jenis kegiatan yang dilaksanakan. Menurut Sulistyo-Basuki (1991: 309) Perabot dan perlengkapan merupakan barang-barang yang diperlukan untuk keperluan umum, ruang kerja, pemberian jasa, serta
commit to user
barang tambahan lainnya. Barang untuk keperluan umum artinya barang yang akan digunakan pengunjung termasuk meja dan kursi, rak buku, laci catalog, meja sirkulasi, filling cabinet dan meja pameran.
Perabot perpustakaan adalah semua kelengkapan fisik berupa mebeler yang digunakan di perpustakaaan dalam rangka menunjang kelancaran tugas-tugas perpustakaan, sedangkan perlengkapan perpustakaan adalah semua peragkat peralatan yang ada di perpustakaan untuk menunjang kelancaran tugas-tugas, seperti alat-alat tulis, komputer, dan sebagainya (Abdul Rahman, 2009: 2.41).
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa perabot dan perlengkapan perpustakaan adalah segala jenis barang yang dibutuhkan oleh ruang perpustakaan yang berdasarkan fungsi dan spesifikasi ruang untuk menunjang kelancaran tugas-tugas perpustakaan.
Perabot untuk perpustakan tidak perlu yang mewah karena dapat menimbulkan kesan glamour. Hendaknya perlengkapan itu tahan lama, fungsional dan estetis. Perlengkapan yang tahan lama, kuat sangat diperlukan perpustakaan. Setiap perlengkapan perpustakaan harus bersifat fungsional artinya setiap alat bertujuan melayani fungsi perpustakaan, oleh karena itu setiap alat harus dipertimbangkan masak-masak sesuai dengan fungsinya. Sedangkan estetis artinya perabot perpustakaan hendaknya indah dipandang, karena dengan perlengkapan yang estetis pengunjung akan tertarik mengunjungi perpustakaan.
commit to user
24
Dalam menentukan perabot dan perlengkapan perpustakaan perlu memperhatikan beberapa aspek (Abdul Rahman Saleh, 2009: 2.41 – 2.42) :
1. Jumlah dan jenis koleksi yang akan dimiliki oleh perpustakaan dalam lima tahun atau sepuleh tahun mendatang.
2. Jangkauan layanan yang akan diselenggarakan, termasuk jumlah tenaga yang akan menempati ruang tiap ruangan dan pengembangannya lima atau sepuluh tahun mendatang
3. Pada keadaan tertentu ruangan pasti dipakai untuk kegiatan administrasi lainnya serta pengembangannnya.
3. Pewarnaan
Warna sangat mempengaruhi orang yang bekerja dan membaca di perpustakaan. Warna juga dapat mengoptimalkan konsentrasi dan mempengaruhi jiwa seseorang yang dapat membuat seseorang menjadi nyaman dan hangat. Oleh karenanya dalam perancaaan gedung perlu dipahami sifat dan pengaruh warna. Lasa Hs (2005: 164-165) menyatakan bahwa warna yang kondusif untuk ruang perpustakaan antar lain :
a. Warna merah mengambarkan panas, warna kegemaran dan kegiata bekerja. Warna ini bertujuan untuk merangsang panca indra dan jiwa agar bermanfaat dalam melaksanakan tugasnya.
commit to user
b. Warna kuning mengambarkan kehangatan, warna ini akan merangsang mata dan syaraf yang dapat menimbulkan perasaaan gembira.
c. Warna hijau dapat menimbulkan suasan sejuk dan kedamaian oleh karena warna ini cocok untuk perpustakaan dan lainnya.
Dalam pemilihan warna untuk suatu ruangan sangat erat hubungannya dengan faktor penerangan/pencahayaan, artinya harus memperhatikan nila-nilai pemantulan. Misalnya warna dinding sebelah bawah harus lebih gelap dari warna dinding sebelah atas agar tidak terjadi pemantulan dari bagian lain ruang tersebut.
Pemilihan warna yang sesuai untuk ruang dalam akan memberikan kesan :
1. Suasana yang menyenangkan dan menarik
2. Dapat meningkatkan semangat dan gairah kerja, sehingga akan mampu meningkatkan produktivitas kerja.
3. Mengurangi kelelahan. (Lasa Hs, 2005: 166)
4. Penerangan
Tujuan penerangan perpustakaan adalah untuk meningkatkan fungsi perpustakaan, karena pencahayaan merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah gedung atau bangunan termasuk perpustakaan.
commit to user
26
Faktor yang menentukan berhasil tidaknya perencanaan pencahayaan di dalam ruangan tergantung dari kondisi bangunan itu sendiri. Menurut Pool System pencahayaan harus mempunyai kekuatan 50 lux
Pencahayaan berfungsi untuk aktivitas membaca dan bekerja, mencegah serangan serangga yang suka di tempat gelap dan untuk kenyamanan cahaya. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan adanya pencahayaan yang cukup, antara lain :
a. Meningkatkan produktivitas kerja b. Mencapai kualitas pekerjaan
c. Mengurangi ketengangan dan kelelahan mata d. Meningkatkan semangat kerja
e. Meningkatkan prestise suatu lembaga/perpustakaan (Lasa Hs, 2005: 172)
Menurut Lasa Hs (2005: 170), pencahaayan yang masuk ke dalam ruangan ada dua macam, yaitu:
a. Cahaya alami
Cahaya alami adalah cahaya yang ditimbulakan oleh matahari dan kubah langit. Cahaya matahari yang mengandung radiasi panas itu apabila masuk ke ruangan akan menyebabkan kenaikan suhu ruangan. Oleh karena itu cahaya matahari harus dibatasi dan diusahakan tidak langsung masuk ke ruang perpustakaan.
Kelemahan dari cahaya alami :
1. Cahaya alami sulit dikendalikan, kondisinya selalu berubah karena dipengaruhi oleh waktu dan cuaca 2. Cahaya alam tidak tersedia pada malam hari
commit to user
3. Sinar ultra violet dari cahaya matahari mudah merusak benda-benda yang ada di dalam ruang perpustakaan. Apabila terkena sinar matahari secara langsung kertas akan segera lapuk, tulisannya memudar dan warnanya menjadi kuning kecoklatan (Lasa Hs, 2005: 170). b. Cahaya buatan
Cahaya buatan adalah cahaya yang ditimbulkan oleh benda atau gerakan benda yang dibuat oleh manusia baik yang berupa lampu pijar atau TL.
Kelebihan menggunakan cahaya buatan, menurut Lasa Hs (2005: 171) :
1. Cahaya buatan dapat dikendalikan, dalam arti cahaya yang dihasilkan dari lampu dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
2. Cahaya buatan tidak dipengaruhi oleh kondisi alam. 3. Cahaya buatan tidak merusak bahan informasi yang
terdiri dari kertas.
Menurut Wesley E. Woodson dalam Lasa Hs (2005: 173-174), bahwa pencahayaan berdasarkan sumbernya dapat dibagi menjadi empat cara penerangan, yakni :
1. Cahaya Langsung
Cayaha yang dipancarkan langsung dari sumbernya, berkisar antara 90% sampai 100% cahaya output yang langsung jauh
commit to user
28
dari daerah kerja/meja baca. Jika menggunakan lampu pijar, maka cahaya yang dipancarkan akan sangat tajam dan bayangan yang ditimbulkan sangat tegas.
2. Cahaya tidak langsung
Cahaya ini berasal dari sumber yang dipantulkan dengan suatu media agar menerangi ruangan. Cahaya ini cocok untuk melaksanakan pekerjaaan baca tulis maupun cetak-mencetak. Cahaya ini dipantulkan oleh sumbernya kemudian dipantulkan ke dinding ruangan, barulah menyebar ke seluruh ruangan. Cayaha yang ditimbulkannya benar-benar lunak dan tidak menimbulkan baying-bayang.
3. Pencahayaan diffusi
Pencahayaan diffusi adalah sistem pencahayaan yang menghasilkan cahaya yang terpencar ke semua arah. Sumber cahaya sebagian besar berasal dari pantulan langit-langit ruangan, deengan demikian baying-bayang yang ditimbulkannya dan sifat cahayanya tidak begitu tajam sehingga tidak akan mempercepat kelelahan mata. 4. Pencahayaan Campuran
Sistem pencahayaan campuran antara cahaya langsung, cahaya tidak langsung dan penerangan diffusi.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan antara lain : 1. Kegiatan perpustakaan sebagian besar adalan kegiatan
commit to user
pencahayaan yang cukup karena syarat mutlak untuk melakukan aktivitas di dalam ruangan.
2. Pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan terdiri dari dua macam yaitu cahaya alami dan cahaya buatan. 3. Keuntungan yang diperoleh dengan adanya
pencahayaan yang baik antara lain meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, mengurangi keteganagan pada mata serta dapat meningkatkan presise suatu lembaga/perpustakaan.
Menurut Suptandar (1999, 217) dalam Visipustaka Majalah Perpustakaan (Wanda dan Novalinda, 2007: 42), terang cahaya suatu penerangan ditentukan oleh beberapa factor, antara lain :
1. Kondisi ruang (tertutup atau terbuka) 2. Letak penempatan lampu
3. Jenis dan daya lampu
4. Jenis permukaan benda-benda dalam ruang (memantulkan atau menyerap)
5. Warna-warna dinding (gelap atau terang) 6. Udara dalam ruang
commit to user
30
5. Sirkulasi udara
Ventilasi atau sirkulasi udara merupakan proses masuknya udara ke dalam suatu ruangan atau keluarnya udara dari ruanagan secara mekanis maupun alami. Karena ventilasi merupakan salah satu komponen yang terdapat pada kondisi fisik tata ruang perpustakaan, yang dapat membantu perputaran udara dengan lancar yang dapat memberikan kenyamanan dan kesegaran udara bagi penggunanya maupun penyelengggara perpustakaan. Sirkulasi udara atau ventilasi alami akan terjadi jika terdapat perbedaan tekanan antara lingkungan luar dengan ruang dalam suatu bangunan, yang disebabkan oleh angina tau perbedaan temperature.
Suatua ruangan akan terasa nyaman apabila udara di dalam ruangan itu mengandung oksigen (O2) yang cukup. Selain itu juga tidak ada bau yang mengganggu pernapasan, seperti asap pembakaran, sampah, dan gas-gas yang berbahaya bagi manusia, seperti karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2), (Lasa Hs, 2005: 168).
Untuk menjaga kenyamanan ruangan, diperlukan pemasangan alat pengatur suhu, misalnya :
a. Memasang AC(air conditioning) untuk mengatur udara di dalam ruangan.
b. Mengusahakan agar peredaran udara dalam ruangan itu cukup baik, misalnya dengan memasang lubang-lubang angin dan membuka jendela pada saat kegiatan di perpustakaan sedang berlangsung
commit to user
c. Memasang kipas angin untuk mempercepat pertukaran udara dalam ruangan. Adapun kecepatan udara yang ideal adalah berkisar antara 0,5 – 1 m/detik.
Menurut Frazer G. Poole (1981: 40), Batas pengaturan hawa yang umum untuk sebuah perpustakaan perguruan tinggi adalah 19º – 23ºC dan kelembaban 40% - 50% . Pada umumnya dapat dikatakan setiap keawetan suhu 5ºC.