BAB II KERANGKA TEORI
2.3 Technology Acceptance Model (TAM)
22Teori Technology Acceptance Model (TAM) adalah salah satu teori tentang penggunaan sistem teknologi informasi yang dianggap sangat berpengaruh dan umumnya digunakan untuk menjelaskan suatu penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Davis dan merupakan hasil dari pengembangan teori Theory of Reasoned Action (TRA) yang dicetuskan oleh Ajzen dan Fishbein, Teori ini diderivasi dari penelitian-penelitian sebelumnya yang dimulai dari teori sikap (theory of attitude) yang mempelajari tentang sikap (attitude) dan perilaku (behavior). Berikut adalah gambar dari model TRA.
21 Yola et al. 2013. “Analisis Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan dan Harga Produk pada Supermarket dengan Metode Importance Performance Analysis (IPA)”. Jurnal Optimasi Sistem Industri 12.12. (302)
22 Jogiyanto. 2007. “Sistem Informasi Keperilakuan”. Yogyakarta: Andi. (111)
Gambar 2.1
Model TRA (Theory of Reasoned Action)
Sumber: Jogiyanto, Sistem Informasi Keperilakuan. (2007:35)
Dalam TAM, konsep mengukur kemudahan (ease of use) dan kegunaan (usefulness) yang dirasakan sebagai kepercayaan individu terhadap penggunaan teknologi baru. Keyakinan individu beralih ke sikap mereka terhadap penggunaan dan mengarah pada niat untuk menggunakan teknologi baru.
Pengertian teori Technology Acceptance Model (TAM) 23menurut Jogiyanto, merupakan suatu model penerimaan sistem informasi yang akan digunakan oleh pemakai. Sedangkan menurut 24Hamzah dalam Agustina menyatakan bahwa TAM merupakan perilaku yang pada umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi, setiap perilaku tersebut dapat memberikan reaksi yang mendukung atau menetang terhadap suatu sistem informasi. Teori ini membuat model perilaku seseorang menjadi suatu fungsi dari tujuan perilaku tersebut, sehingga dapat dipahami bahwa reaksi dan persepsi pengguna sistem informasi akan mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan penggunaan sistem informasi. Berikut adalah gambar konstruk TAM yang dikembangkan oleh Davis dari model TRA.
23 Jogiyanto. 2007. “Sistem Informasi Keperilakuan”. Yogyakarta: Andi. (111)
24 Agustina, Nani. 2015. “Penerimaan Teknologi Pengguna Terhadap Sistem Informasi Simpan Pinjam Dengan Metode Technology Acceptance Model”. Jurnal Pilar Nusa Mandiri Vol. IX No.2 September 2015 (172)
Gambar 2.2
Konstruk TAM (Technology Acceptance Model)
Sumber: Jogiyanto, Sistem Informasi Keperilakuan. (2007:112)
25Kegunaan persepsian (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) keduanya mempunyai pengaruh ke minat perilaku (behavioral intention). Pemakai teknologi akan mempunyai minat menggunakan teknologi (minat perilaku) jika merasa sistem teknologi bermanfaat dan mudah digunakan.
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) juga memberi pengaruh kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) tetapi tidak sebaliknya.
Pemakai sistem akan menggunakan sistem jika sistem bermanfaat baik sistem itu mudah digunakan atau tidak mudah digunakan. Sistem yang sulit digunakan akan tetap digunakan jika pemakai merasa bahwa sistem masih berguna.
26Technology Acceptance Model (TAM) paling banyak digunakan dalam penelitian, karena menurut Bangkara dan Mumba TAM bertujuan untuk menjelaskan penerimaan pengguna terhadap suatu sistem informasi. Sedangkan
25 Jogiyanto. 2007. “Sistem Informasi Keperilakuan”. Yogyakarta: Andi (112)
26 Sari, Pita. 2019. “Pengaruh Persepsi Kemudahan, Persepsi Kepercayaan, dan Persepsi Resiko Pada Pembayaran Elektronik Terhadap Minat Menggunakan Ulang Gopay”. (15)
Kegunaan Persepsian
menurut Pertiwi dan Adhivinna, Technology Acceptance Model (TAM) memiliki tujuan untuk memberikan kerangka dasar untuk penelusuran pengaruh faktor eksternal terhadap kepercayaan, sikap dan tujuan penggunaan. TAM banyak digunakan untuk memprediksi tingkat akseptasi pemakai (user acceptance) dan pemakaian yang berdasarkan persepsi terhadap kemudahan penggunaan teknologi informasi (perceived usefulness) dengan mempertimbangkan kemudahan dalam penggunaan teknologi informasi (perceived ease of use).
Berdasarkan Jogiyanto, dalam buku Sistem Informasi Keperilakuan menyatakan bahwa Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model yang menjelaskan minat perilaku (behavioral intention) dan perilaku (behavior) adalah dua hal yang berbeda, minat perilaku (behavioral intention) masih merupakan minat (intention). Minat (intention) didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan perilaku, sedangkan perilaku (behavior) adalah tindakan atau kegiatan nyata yang dilakukan. Sehingga perilaku akan dilakukan jika seseorang mempunyai minat untuk melakukannya, dan minat perilaku akan menentukan perilakunya. Minat dapat berubah sewaktu-waktu, 27semakin lebar interval waktu, semakin mungkin terjadi perubahan di minat perilaku.
Menurut Jogiyanto, TAM menggunakan 5 konstruk utama. Kelima konstruk tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan Persepsian (Perceived Usefulness).
2. Kemudahan Penggunaan Persepsian (Perceived Ease of Use).
3. Sikap terhadap Perilaku (Attitude Towards Behavior) atau Sikap Menggunakan
27 Sari, Pita. 2019. “Pengaruh Persepsi Kemudahan, Persepsi Kepercayaan, dan Persepsi Resiko Pada Pembayaran Elektronik Terhadap Minat Menggunakan Ulang Gopay”. (16)
Teknologi (Attitude Towards using Technology).
4. Minat Perilaku (Behavioral Intention) atau Minat Perilaku menggunakan Teknologi (Behavioral Intention to Use).
5. Perilaku (Behavior) atau Penggunaan Teknologi sesungguhnya (Actual Technology Use).
2.4 Kemudahan Penggunaan (Perceived Ease of Use) 2.4.1 Pengertian Kemudahan Penggunaan
Menurut Jogiyanto, kemudahan penggunaan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha (“is the extent to which a person believes that using a technology will be free of effort.”). 28Dari definisi tersebut diketahui bahwa konstruk kemudahan penggunaan ini juga merupakan suatu kepercayaan (belief) tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya.
29Menurut Davis dalam Nurrahmanto, konsep kemudahan penggunaan menunjukkan tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan sistem informasi yang dalam hal ini adalah minat penggunaan aplikasi Go-Jek adalah mudah dan tidak memerlukan usaha yang keras dari pemakainya untuk dapat menggunakannya. Apabila sistem informasi mudah digunakan, maka pengguna
28 Jogiyanto. 2007. “Sistem Informasi Keperilakuan”. Yogyakarta: Andi (115)
29 Nurrahmanto, Prasetyo Agus. 2015. “Pengaruh Kemudahan Penggunaan, Kenikmatan Berbelanja, Pengalaman Berbelanja Dan Kepercayaan Konsumen Terhadap Minat Beli Konsumen Terhadap Minat Beli Konsumen Di Situs Jual Beli Online Bukalapak.com”. (24)
akan cenderung menggunakan kembali sistem informasi tersebut dalam kesehariannya.
30Menurut Mathieson dalam Sebayang, kemudahan penggunaan merupakan suatu keyakinan tentang proses pengambilan keputusan. Jika seseorang merasa yakin bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya kembali. Sebaliknya, jika seseorang tersebut merasa tidak yakin bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka dia tidak akan menggunakannya kembali.
2.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemudahan Penggunaan
31Kemudahan penggunaan sebuah teknologi didefinisikan sebagai suatu ukuran dimana seseorang percaya bahwa sebuah teknologi dapat dengan mudah dipahami dan digunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemudahan pengguna- an diantaranya adalah:
1. Berfokus pada teknologi itu sendiri, contohnya pengalaman pengguna terhadap penggunaan teknologi sejenis. Dalam hal ini pengalaman pengguna dalam menggunakan aplikasi Go-Jek.
2. Reputasi akan teknologi tersebut yang diperoleh dari pengguna lainnya.
Reputasi yang baik yang didengar oleh pengguna akan mendorong pengguna tersebut meyakini teknologi tersebut mudah digunakan. Dalam hal ini reputasi aplikasi Go-Jek dalam layanan Google Play Store untuk android atau AppStore untuk iOS.
3. Tersedia mekanisme pendukung handal. Mekanisme pendukung yang terper-
30 Sebayang, Aldhisa Amanda. 2017. “Pengaruh Resiko, Kemudahan Penggunaan, Kepercayaan, dan Electronic Word of Mouth Terhadap Penggunaan Layanan Mobile Banking” (13)
31 Istiarni, Panggih. 2014. “Analisis Pengaruh Persepsi Manfaat, Kemudahan Penggunaan, dan Kredibilitas Terhadap Minat Penggunaan Berulang Internet Banking dengan Sikap Penggunaan Sebagai Variabel Intervening” (19)
caya akan membuat pengguna merasa nyaman dan merasa yakin, bahwa terdapat mekanisme pendukung yang handal jika terjadi kesulitan dalam menggunakan teknologi, maka mendorong persepsi pengguna ke arah yang lebih positif. Dalam hal ini mekanisme pendukung untuk aplikasi Go-Jek seperti layanan kostumer harus tetap aktif dalam melayani kesulitan para pengguna.
2.4.3 Sikap Terhadap Perilaku (Attitude Towards Behavior)
32Menurut Davis et al dalam Jogiyanto, mendefinisikan sikap terhadap perilaku (attitude towards behavior) sebagai perasaan positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan (“an individual’s positive or negative feelings about performing the target behavior.”).
Sikap terhadap perilaku juga didefinisikan oleh Mathieson sebagai evaluasi pemakai tentang ketertarikannya menggunakan sistem.
2.4.4 Minat Perilaku (Behavioral Intention)
Menurut Jogiyanto dalam bukunya berjudul Sistem Informasi Keperilakuan mendefinisikan minat perilaku (behavioral intention) sebagai suatu keinginan (minat) seseorang untuk melakukan suatu perilaku yang tertentu. Seseorang akan melakukan suatu perilaku (behavior) jika mempunyai keinginan atau minat (behavioral intention) untuk melakukannya. Sedangkan 33menurut Taylor dan Todd, dan Vankatesh dan Davis mendefinisikan minat perilaku sebagai sebuah prediksi yang baik dari penggunaan teknologi oleh pengguna sistem teknologi informasi.
32 Jogiyanto. 2007. “Sistem Informasi Keperilakuan”. Yogyakarta: Andi (116)
33 Rahman, Abdul et al. 2017. “Pengaruh Kemudahan Penggunaan dan Kemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Minat Menggunakan Situs Jual Beli Online” (4)
2.4.5 Indikator Kemudahan Penggunaan
Menurut Davis dalam Jogiyanto, terdapat enam indikator kemudahan penggunaan, indikator tersebut yaitu:
1. Easy to learn, suatu aplikasi harus mudah untuk dipelajari sehingga pengguna mampu dengan mudah beradaptasi atau memahami aplikasi tersebut.
2. Controllable, suatu aplikasi harus mudah dikendalikan atau dikontrol. Artinya aplikasi tersebut dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.
3. Clear and Understandable, suatu aplikasi harus jelas dan dapat dipahami, baik dari segi konten maupun istilah yang digunakan.
4. Flexible, suatu aplikasi harus fleksibel. Artinya aplikasi dapat disesuaikan dan digunakan kapanpun sesuai keinginan pengguna.
5. Easy to become Skillful, suatu aplikasi harus mudah dimengerti, sehingga pengguna mudah untuk menguasai penggunaan aplikasi tersebut.
6. Easy to use, suatu aplikasi harus mudah untuk digunakan, sehingga pengguna tidak merasa kesulitan dalam pengoperasiannya.
2.5 Minat Penggunaan Ulang
2.5.1 Pengertian Minat Penggunaan Ulang
34Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, maka semakin besar minat. Minat yang ada pada diri seseorang akan memberi gambaran dalam aktivitas untuk mencapai suatu tujuan
34 Slameto. 2010. “Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya”. Jakarta: PT Rineka Cipta (180)
sehingga mendorong seseorang tersebut untuk memperoleh subyek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk pencapaian tujuan yang diinginkan oleh orang tersebut. Sehingga minat seseorang akan terlihat dari perilakunya dalam melakukan aktivitas seperti bekerja, menggunakan sesuatu, membeli sesuatu dan sebagainya.
35Kinnear dan Taylor dalam Sari berpendapat bahwa minat menggunakan ulang pada dasarnya adalah perilaku pelanggan dimana pelanggan merespons positif terhadap kulitas pelayanan suatu perusahaan dan berniat melakukan kunjungan kembali atau mengkonsumsi kembali produk atau jasa perusahaan tersebut. Minat penggunaan ulang memiliki pengertian yang sama dengan minat pembelian ulang dimana seseorang akan membeli suatu produk barang/jasa maka orang tersebut akan menggunakan barang/jasa tersebut. 36Aryadhe dan Rastini dalam Afriati menyatakan bahwa ketika konsumen telah merasakan nilai dari suatu produk atau perusahaan melalui pengalaman positif yang telah diperoleh sebelumnya, maka akan timbul perasaan senang dan puas. Hal tersebut akan membuat konsumen berniat untuk menggunakan kembali karena adanya ikatan emosional dari pengalaman yang diperolehnya.
Kotler dan Keller berpendapat bahwa setelah konsumen membeli dan menggunakan produk tersebut, konsumen bisa puas atau tidak puas dan terlihat dalam perilaku pasca pembelian. Pelanggan yang puas akan kembali membeli produk, memuji produk yang membelinya dihadapan orang lain, sedikit menarik perhatian pada merek dan iklan pesaing dan membeli produk lain dari perusahaan
35 Sari, Pita Kumala. 2019. “Pengaruh Persepsi Kemudahan, Persepsi Kepercayaan dan Persepsi Resiko Pada Pembayaran Elektronik Terhadap Minat Menggunakan Ulang Gopay”. (17)
36 Afriati, Nur Elsah. 2019. “Pengaruh Persepsi Harga, Kualitas Produk, dan Promosi Terhadap Minat Pembelian Ulang Produk Keju Prochiz”. (13)
yang sama. Sehingga pengertian dari minat penggunaan ulang yaitu seseorang yang melakukan pembelian suatu barang atau jasa pertama kali dan menunjukkan perilaku yang aktif berulang menggunakan produk atau jasa tersebut dan mempunyai sikap positif terhadap produk atau jasa tersebut yang didasari oleh pengalaman yang dilakukannya dimasa lampau.
2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Penggunaan Ulang
37Menurut Kotler dan Armstrong, faktor-faktor yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian ulang yaitu:
1. Faktor Kultur
Kultur atau kelas sosial seseorang dapat mempengaruhi minat seseorang dalam melakukan pembelian. Konsumen memiliki persepsi, keinginan dan tingkah laku yang dipelajari sedari kecil, sehingga pada akhirnya akan membentuk persepsi yang berbeda-beda pada masing-masing konsumen. Faktor - faktor nasionalitas, agama, kelompok ras dan wilayah geografis juga berpengaruh pada masing-masing individu.
2. Faktor Psikologis
Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa lalu, serta pengaruh, sikap, dan keyakinan individu. Pengalaman belajar ini dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan perilaku individu akibat pengalaman sebelumnya. Timbulnya minat konsumen untuk melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh pengalaman belajar individu dan pengalaman belajar konsumen yang akan menentukan tindakan dan pengambilan keputusan- membeli.
37 Kotler, P., & Armstrong. G. 2011. Principle Of Marketing. Thirteen Edition. New Jersey:
Prentice Hall (135-150)
3. Faktor Pribadi
Kepribadian, umur, pekerjaan, situasi ekonomi, dan juga lifestyle dari konsumen itu sendiri akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan dalam membeli. Faktor pribadi ini termasuk di dalamnya konsep diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita pikirkan. Dalam hubungan dengan minat beli ulang, suatu perusahaan perlu menciptakan situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan melayani konsumen dengan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen.
4. Faktor Sosial
Mencakup faktor kelompok anutan (small reference group). Kelompok anutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen. Kelompok anutan ini merupakan kumpulan keluarga, kelompok, atau orang tertentu. Dalam menganalisis minat beli ulang, faktor keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, pengambil inisiatif, pemberi pengaruh dalam keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa yang melakukan pembelian dan siapa yang menjadi pengguna.
Pengaruh kelompok menjadi acuan terhadap minat beli ulang seperti dalam menentukan produk dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Keefektifan pengaruh niat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada kualitas produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen yang terlibat dalam suatu kelompok anutan tersebut.
2.5.3 Indikator Minat Penggunaan Ulang
38Menurut Ferdinand dalam Saidani et al, terdapat empat indikator dari minat pembelian ulang yaitu:
1. Minat Transaksional
Kecenderungan konsumen untuk selalu membeli ulang produk atau jasa yang telah dikonsumsinya.
2. Minat Referensial
Kesediaan konsumen untuk merekomendasikan produk atau jasa yang telah dikonsumsinya kepada orang lain.
3. Minat Preferensial
Perilaku suatu konsumen yang menjadikan produk atau jasa yang telah dikonsumsinya sebagai pilihan utamanya.
4. Minat Eksploratif
Keinginan konsumen untuk selalu mencari informasi mengenai produk atau jasa yang diminatinya.
2.6 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai referensi terhadap penelitian ini antara lain yaitu:
1. Frenky Prathama dan Wilma Laura Sahetapy (2019) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Kemudahan Penggunaan Aplikasi dan Kepercayaan Konsumen Terhadap Minat Beli Ulang Konsumen E-Commerce Lazada”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemudahan
38 Saidani, Basrah et al. 2012. “Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen dan Minat Beli Pada Ranch Market”. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia Vol 3 No.1 (7)
penggunaan aplikasi dan kepercayaan konsumen terhadap minat beli ulang konsumen e-commerce Lazada. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 orang responden yang diambil dengan teknik nonprobability sampling dengan metode purposive sampling. Teknik pengolahan data menggunakan program smartPLS 3.0. Hasil dari penelitian ini yaitu: (a) terdapat pengaruh signifikan antara kemudahan penggunaan aplikasi terhadap kepercayaan konsumen e-commerce Lazada, (b) terdapat pengaruh signifikan antara kemudahan penggunaan aplikasi terhadap minat beli ulang konsumen e-commerce Lazada, (c) terdapat pengaruh signifikan antara kepercayaan konsumen terhadap minat beli ulang konsumen e-commerce Lazada.
2. Riadi Hartanto (2018) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Pengaruh Kemudahan Penggunaan, Harga, dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Pembelian Ulang Jasa Transportasi Online Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kemudahan penggunaan, harga, dan kualitas pelayanan terhadap minat pembelian ulang layanan jasa transportasi online pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik nonprobability sampling dengan menggunakan metode snowball sampling. Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data primer dengan cara menyebarkan kuesioner secara langsung kepada konsumen. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 97 orang. Hasil dari penelitian ini yaitu: (a) kemudahan penggunaan, harga, dan kualitas pelayanan secara simultan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap minat pembelian ulang layanan jasa transportasi online. (b) kemudahan penggunaan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat pembelian ulang layanan jasa transportasi online pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. (c) Harga secara parsial berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap minat pembelian ulang layanan jasa transportasi online pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. (d) Kualitas pelayanan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat pembelian ulang layanan jasa transportasi online pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Kartika Anggraeni dan Dominica A. Widyastuti (2017) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Kemudahan (Perceives Ease of Use) Terhadap Minat Ulang Penggunaan Aplikasi Mobile Banking Jenius”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh kemudahan terhadap minat ulang penggunaan mobile banking jenius. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 101 responden yang sudah memiliki aplikasi mobile banking dan menggunakan mobile banking jenius. Sampel dikumpulkan menggunakan teknik purposive sampling method dengan alat bantu pengolahan data IBM SPSS Statistics 23. Hasil dari penelitian ini yaitu kemudahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat ulang penggunaan sebesar 53,3 %.
4. Abdul Rahman dan Rizki Yudhi Dewantara (2017) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Kemudahan Penggunaan dan Kemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Minat Menggunakan Situs Jual Beli Online (Studi Kasus
pada Pengguna Situs Jual Beli “Z”)”. Tujuan dari penelitian ini yaitu: Untuk mengetahui pengaruh kemudahan penggunaan teknologi informasi terhadap minat menggunakan situs jual beli online (studi kasus pada pengguna situs jual beli “Z”) dan Untuk mengetahui pengaruh kemanfaatan teknologi informasi terhadap minat menggunakan situs jual beli online (studi kasus pada pengguna situs jual beli “Z”). Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan populasi parSa pengguna situs jual beli online “Z”. Hasil penelitian ini adalah:
(a) Terdapat pengaruh kemudahan penggunaan teknologi informasi terhadap minat menggunakan situs jual beli online “Z”. (b) Terdapat pengaruh kemanfaatan teknologi informasi terhadap minat menggunakan situs jual beli online “Z”.
5. Singgih Priambodo dan Bulan Prabawani (2016) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Persepsi Manfaat, Persepsi Kemudahan Penggunaan, dan Persepsi Resiko Terhadap Minat Menggunakan Layanan Uang Elektronik”.
Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan model Technology Acceptance Model (TAM) guna mengetahui pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi risiko terhadap minat pengguna untuk menggunakan layanan uang elektronik pada pengguna uang elektronik di kota Semarang. Tipe penelitian yang digunakan adalah explanatory research. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kuesioner dengan cara convenience sampling dengan jumlah sampel 100 responden.
Analisis data dilakukan secara kuantitatif, terdiri dari evaluasi outer model dan inner model dengan menggunakan software SmartPLS 2.0 M3. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi manfaat memiliki pengaruh
positif dan signifikan terhadap minat menggunakan, persepsi kemudahan penggunaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat menggunakan, serta persepsi risiko memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap minat menggunakan.
2.7 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kemudahan (perceive ease of use) terhadap minat penggunaan ulang aplikasi Go-Jek pada masyarakat kota Pematang Siantar. Pada kerangka pemikiran, kemudahan (perceive ease of use) yang mempengaruhi minat penggunaan ulang disebut sebagai variabel independen (variabel bebas) dan minat penggunaan ulang sebagai variabel dependen (variabel terikat).
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
Sumber: Diolah Penulis (2020) Kemudahan
(Perceive Ease of Use) (X)
Minat Ulang Penggunaan (Y)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. 39Menurut Sugiyono penelitian asosiatif adalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih, dengan bentuk penelitian asosiatif ini maka dapat diketahui bagaimana pengaruh kemudahan (perceive ease of use) terhadap minat penggunaan ulang aplikasi Go-Jek pada masyarakat kota Pematang Siantar.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Pematang Siantar. Waktu penelitian dimulai dari bulan Agustus 2020 sampai Oktober 2020.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
40Menurut Sugiyono, populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat kota Pematang Siantar yang sudah terdaftar dalam Badan Pusat Statistik Kota Pematang Siantar dan memiliki KTP domisili Kota Pematang Siantar. Berdasarkan data jumlah penduduk yang diperoleh melalui website resmi milik Badan Pusat Statistik Kota Pematang Siantar (https://siantarkota.bps.go.id), jumlah penduduk kota Pematang Siantar adalah:
39 Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta (23)
40 Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta (80)
Tabel 3.1
Jumlah Penduduk Kota Pematang Siantar 2017 – 2019
Kecamatan Penduduk per kecamatan (Jiwa)
2019 2018 2017
SIANTAR MARIHAT 19 822,00 19 642,00 19 451,00 SIANTAR MARIMBUN 16 198,00 16 053,00 15 896,00 SIANTAR SELATAN 18 339,00 18 240,00 18 123,00 SIANTAR BARAT 38 440,00 38 122,00 37 785,00 SIANTAR UTARA 49 886,00 49 598,00 49 276,00 SIANTAR TIMUR 41 316,00 41 078,00 40 813,00 SIANTAR MARTOBA 41 768,00 41 469,00 41 143,00 SIANTAR SITALASARI 29 548,00 29 298,00 29 029,00 PEMATANGSIANTAR 255 317,00 253 500,00 251 516,00 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Pematang Siantar (2018 – 2019)
Berdasarkan tabel 3.1, diketahui bahwa jumlah penduduk kota Pematang Siantar yang terdaftar dalam BPS kota Pematang Siantar berjumlah 255.317 jiwa.
3.3.2 Sampel
41Menurut Sugiyono, sampel merupakan bagian dari jumlah dan
41Menurut Sugiyono, sampel merupakan bagian dari jumlah dan