BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur
1. Technology Acceptance Model (TAM)
Technology Accepted Model (TAM) merupakan sebuah model yang dikembangkan oleh Davis (1989). TAM merupakan suatu model yang menjelaskan terkait faktor-faktor yang dapat mempengaruhi individu atau kelompok dalam menerima suatu perkembangan teknologi. Lebih lanjut, Davis (1989) menyatakan bahwa TAM merupakan model yang digunakan oleh peneliti untuk menggambarkan atau memprediksi penerimaan pengguna terhadap suatu teknologi melalui persepsi kemanfaatan dan kemudahan dalam penggunaannya. Persepsi kemanfaatan diartikan sebagai tingkat kepercayaan dari pengguna sistem bahwa dengan menggunakan sistem tersebut maka akan memberikan kebermanfaatan terhadap kinerja pengguna tersebut (Daryatno, 2017). Sedangkan persepsi kemudahan didefinisikan bahwa suatu sistem tersebut mudah untuk digunakan dan diaplikasikan.
Dalam memformulasikan TAM ini, Davis (1989) menggunakan Theory of Reasoned Action (TRA) sebagai Grand Theory. Namun, hanya memanfaatkan unsur “Attitude” dan “Beliefe”, sedangkan Normative Beliefe dan Subjective Norms tidak digunakannya.
Skema dari Technology Accepted Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis (1989) digambarkan sebagai berikut :
13
Gambar 2.1
Technology of Acceptance Model (TAM) Sumber : Davis (1989)
TAM memberikan dasar untuk menganalisis pengaruh faktor eksternal yang berimplikasi pada tingkat kepercayaan, sikap, dan tujuan dari pengguna suatu sistem (Fatmawati, 2015).
Oleh karena itu, model ini ditujukan kepada para peneliti di mana sistem e-filing yang diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Pajak diharapkan dapat memberikan aspek kebermanfaatan bagi Wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya terutama dalam pelaporan SPT Tahunannya secara online. Selain itu, sistem e-filing ini diharapkan juga dapat memudahkan wajib pajak , sehingga tidak perlu lagi untuk datang ke kantor pajak terdaftar. Jika sistem tersebut diterima artinya wajib pajak sebagai pengguna e-filing telah memberikan kepercayaannya untuk menggunakan sistem tersebut terutama dalam aspek kemudahan dan keamanan & kerahasiaan data pengguna.
14 2. Task Technology Fit (TTF)
Task Technology Fit (TTF) merupakan sebuah teori yang dikembangkan oleh Goodhue dan Thompson (1995). Teori TTF merupakan model tentang kesesuaian fungsi teknologi terhadap kebutuhan tugas pengguna yang di mana teknologi diciptakan untuk mendukung tugas-tugas pengguna (Goodhue dan Thompson, 1995). Dalam arti sempit, TTF dapat diartikan bagaimana teknologi yang ada dapat memberikan dukungan terhadap pekerjaan.
Model ini mengindikasikan bahwa kinerja akan meningkat ketika adanya sebuah teknologi yang mendukung dengan fitur yang mudah untuk diaplikasikan. Sama halnya pada penelitian ini pada sistem e-filing, di mana memiliki fungsi sebagai fasilitas untuk melaporkan pajak sehingga dapat membantu wajib pajak dalam melaporkan SPT Tahunannya secara online dan realtime.
3. Tax Avoidance
Tax avoidance atau lebih dikenal dengan penghindaran pajak adalah salah satu upaya wajib pajak untuk meminimalkan beban pajak yang dilakukan secara sah (legal) dan aman sesuai dengan ketentuan perpajakan (Titisari dan Mahanani, 2017). Teknik atau metode yang digunakan oleh Wajib pajak dalam melakukan tax avoidance (penghindaran pajak) adalah dengan cara memanfaatkan kekurangan atau kelemahan yang terdapat
15
dalam aturan dan ketentuan perpajakan yang berlaku dengan tujuan untuk memperkecil beban pajak terutang.
Adapun cara untuk melakukan tax avoidance menurut penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih dan Sari (2013) adalah sebagai berikut:
a. Memindahkan subjek pajak dan/atau objek pajak ke negara-negara yang memberikan perlakukan pajak khusus atau keringanan pajak (tax haven country) atas suatu jenis penghasilan (substantive tax planning) b. Usaha penghindaran pajak dengan mempertahankan substansi ekonomi
dari transaksi melalui pemilihan formal yang mmeberikan beban pajak yang paling rendah (formal tax planning)
c. Ketentuan anti avoidance atas transaksi transfer pricing, thin capitalization, treaty shopping, dan controlled foreign corporation (Specific Anti Avoidance Rule), serta transaksi yang tidak mempunyai substansi bisnis.
Dalam praktiknya, tax avoidance tersebut salah satunya dipengaruhi oleh tingkat profitabilitas yang diukur menggunakan rasio return on assets (ROA). Return on Assets merupakan rasio keuangan yang menunjukan hasil atas penggunaan aktiva oleh perusahaan. Menurut Damayanti, dkk (2020), nilai ROA berbanding lurus dengan performa perusahaan. hal tersebut berarti semakin tinggi nilai ROA, maka akan semakin bagus performa perusahaan tersebut.
Menurut Yenni Sucipto sebagai Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran, dalam penelitian yang dilakukan oleh Damayanti,
16
dkk (2020), mengatakan bahwa pengelakan pajak menjadi masalah yang serius di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan terjadinya tax avoidance yang diduga senilai Rp110 triliun setiap tahunnya. Kebanyakan tax avoidance tersebut dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang mineral dan batubara.
4. Tax Evasion
Tax evasion merupakan kebalikan dari tax avoidance. Menurut Dewi dan Merkusiwati (2017), tax evasion (penggelapan pajak) adalah tindakan yang bersifat tidak legal untuk mengurangi beban pajak terutang oleh wajib pajak baik Wajib Pajak Orang Pribadi maupun badan. Masalah utama bagi wajib pajak ketika memilih untuk melakukan tax avoidance (penghindaran pajak) adalah kurangnya pengetahuan wajib pajak karena tax avoidance (penghindaran pajak) sangat terikat dengan peraturan perpajakan yang berlaku (Ardyaksa, 2014).
Oleh karena itu, wajib pajak lebih memilih untuk melakukan tax evasion (penggelapan pajak) karena dibandingkan tax avoidance (penghindaran pajak) walaupun bersifat tidak legal dan melanggar Peraturan Perpajakan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Palowa, Nangoi, dan Gerungai (2018), adapun faktor pendorong wajib pajak dalam melakukan tax evasion adalah wajib pajak merasa beban pajak yang dikenakan terlalu tinggi. Selain itu, faktor ekonomi, ketidaktegasan pemerintah, kepatuhan,
17
dan ketidakpercayaan kepada birokrasi pemerintah juga menjadi beberapa faktor yang menyebabkan Wajib pajak melakukan tax evasion.
5. Pemahaman Pajak a. Definisi pajak
Menurut Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan (UU KUP) Nomor 28 Tahun 2007, Pasal 1 Ayat 1, menyatakan bahwa :
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”
b. Fungsi pajak
Menurut laman pajak.go.id, pajak berfungsi sebagai :
1. Fungsi anggaran (budgeter), yaitu berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran rutin dan pembangunan. Pengeluaran rutin seperti belanja pegawai, pemulihan, dan belanja barang. Sedangkan pengeluaran pembangunan seperti pembangunan saran dan prasarana untuk kepentingan umum.
2. Fungsi mengatur (regulated), yaitu pajak berfungsi sebagai mengatur pertumbuhan ekonomi melalui pajak.
3. Fungsi stabilitas, yaitu pajak berfungsi menstabilkan harga dalam rangka pengendalian inflasi
18
4. Fungsi redistribusi pendapatan, yaitu pajak berfungsi membiayai kepentingan umum seperti membiayai pembangunan untuk membuka lapangan pekerjaan.
c. Sistem perpajakan
Dilansir dari laman pajak.go.id, sistem perpajakan adalah suatu mekanisme yang diatur tentang pelaksanaan hak dan kewajiban Wajib pajak dalam perpajakan. Terdapat 2 jenis sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia yaitu :
1. Official Assessment, berarti Wajib pajak bersifat pasif dimana besarnya pajak terutang ditentukan oleh instritusi pemungut pajak.
2. Self Assessment, yaitu sebuah sistem dimana Wajib pajak mengurus urusan perpajakannya secara mandiri mulai dari mendaftar, menghitung, membayar, hingga melapor Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunannya. Jadi institusi pemungut pajak hanya berperan mengawasi Wajib pajak, melakukan penyelidikan dan penegakan hukum.
Sistem Perpajakan Indonesia yang berlaku pada saat sekarang ini yaitu Self Assessment System, dimana Direktorat Jenderal Pajak memberikan kepercayaan kepada Wajib pajak dalam melakukan kewajiban perpajakannya secara mandiri sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.
19 6. Persepsi Kemudahan
Menurut Nurjannah (2017), persepsi kemudahan mengandung arti bahwa tingkat kepercayaan seorang terhadap penggunaan teknologi atau sistem, di mana sistem tersebut dapat dengan mudah digunakan dan dipahami sehingga tidak kesulitan dalam memenuhi kewajibannya. Dalam Davis (1989) dituliskan bahwa “freedom from difficulty or great effort”.
Hal tersebut berarti pengguna memberikan kepercayaannya terhadap suatu sistem bahwa sistem tersebut mudah untuk digunakan dan terbebas dari kesulitan dalam penggunaan.
Hasil penelitian dari Davis (1989) juga menunjukan bahwa persepsi kemudahan ini dapat memberikan kepercayaan kepada pengguna untuk menggunakan suatu sistem tersebut.
Davis (1989) dalam penelitiannya membagi Persepsi kemudahan ke beberapa dimensi sebagai berikut:
1. Kemudaha untuk mempelajari penggunaan website
2. Kemudahan untuk menggunakan website sesuai dengan kebutuhan 3. Meudahan menggunakan website dengan terampil dan tanpa kesulitan
Di sisi lain, Venkatesh dan Davis (2000) dalam penelitiannya membagi Persepsi kemudahan ke beberapa dimensi sebagai berikut:
1. Interaksi individu dengan sistem jelas dan mudah dimengerti
2. Tidak dibutuhkan banyak usaha untuk berinteraksi dengan sistem tersebut
3. Sistem mudah digunakan
20
4. Mudah mengoperasikan sistem sesuai dengan apa yang ingin individu kerjakan
Dalam penelitian sejenis, Jimenez (2016) mengemukakan bahwa persepsi kemudahan dibagi kedalam 3 indikator sebagai berikut :
1. Mudah untuk dipelajari
Merupakan suatu kondisi yang menggambarkan bahwa suatu sistem yang baru mudah untuk dipelajari
2. Mudah untuk didapatkan
Merupakan suatu kondisi yang menggambarkan bahwa sistem baru yang akan digunakan oleh pengguna mudah untuk diperoleh
3. Mudah untuk dioperasikan
Merupakan suatu kondisi dimana sistem baru yang akan digunakan akan mudah untuk mengoperasikannya.
Dari beberapa indikator diatas, dapat dijadikan acuan dalam pembuatan kuesioner penelitian. Dalam penelitian ini, persepsi kemudahan berfokus pada penggunaan fasilitas e-filing , yang berarti waiib pajak dapat berinterasksi dengan e-filing dengan mudah dan dapat dimengerti dengan jelas. Persepi kemudahan akan mengurangi waktu, usaha, maupun tenaga wajib pajak dalam mempelajari dan memahami cara berinteraksi dengan e-filing. Oleh karena itu, apabila penggunaan fasilitas e-filing dipersepsikan mudah untuk digunakan, maka akan mendorong niat wajib pajak untuk menggunakan e-filing tersebut.
21
Adapun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dimensi yang dikemukakan oleh Venkatesh dan Davis (2000) dalam penyusunan kuesioner penelitian.
7. Persepsi Keamanan dan Kerahasiaan
Security (keamanan) adalah kualitas atau keadaan seperti bebas dari bahaya, bebas dari ketakutan, dan bebas dari kemungkinan PHK (Merriam Webster Dictionary online). Menurut Flavia´n dan Guinalı´u (2006), keamanan dapat diartikan sebagai probabilitas subjektif seseorang percaya bahwa informasi pribadi mereka (private and moneter) tidak akan dilihat, disimpan, dan dimanipulasi selama transit dan penyimpanan oleh pihak-pihak yang tidak pantas dengan cara yang konsisten dengan harapan kepercayaan mereka.
Selanjutnya, privacy (kerahasiaan) menurut kamus Merriam Webster adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk penggunaan tertentu bagi kepentingan pribadi, kelompok, maupun perusahaan. Sedangkan menurut Flavia´n dan Guinalı´u (2006), makna privacy (kerahasiaan) adalah kemampuan individu untuk mengendalikan informasi pribadinya.
Jadi, keamanan dan kerahasiaan disini maksudnya yaitu semua data, identitas, maupun informasi pribadi Wajib pajak dapat dijaga, dilindungi, dan disimpan untuk kepentingan perpajakan bagi Direktorat Jenderal Pajak.
22
Flavia’n dan Guinali’u (2006) dalam penelitiannya membagi Persepsi keamanan dan kerahasiaan ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Terjamin kamanan data dalam bertransaksi
2. Mengenal identitas pemberi layanan saat suatu informasi tersebut digunakan
3. Data aman dan tidak dimanipulasi oleh hacker 4. Terjamin kerahasiaan data dalam bertransaksi 5. Adanya perlindungan data pengguna
6. Hanya mengumpulkan data yang diperlukan
7. Memperoleh informasi dengan persetujuan penggunaan
Ananda (2009) dalam penelitiannya membagi Persepsi keamanan dan kerahasiaan ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Aman
2. Resiko hilangnya data informasi 3. Resiko pencurian kecil
4. Terjamin kerahasiaannya
Dalam penelitian yang sejenis, Wibisono dan Toly (2014) dalam penelitiannya membagi Persepsi keamanan dan kerahasiaan ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Resiko pengguna berkaitan dengan resiko terhadap pihak luar (hacker)
2. Penyimpanan daya berkaitan dengan resiko terhadap pihak dalam (pegawai pajak)
23
3. Kemampuan e-filing berkaitan dengan kemampuan sistem dalam mengantisipasi masalah-masalah terkait data.
Dari beberapa indikator diatas, dapat dijadikan acuan dalam pembuatan kuesioner penelitian. Dalam penelitian ini, persepsi keamanan dan kerahasiaan berfokus pada penggunaan fasilitas e-filing , yang berarti waiib pajak dapat berinterasksi dengan e-filing dengan aman dan informasi pribadi Wajib pajak dapat dijaga, dilindungi, dan disimpan untuk kepentingan perpajakan bagi Direktorat Jenderal Pajak..
Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan indikator yang dikemukakan oleh Flavia’n dan Guinali’u (2006) dalam penyusunan kuesioner penelitian.
8. Penggunaan Fasilitas e-filing
E-filing atau Electronik Filing merupakan suatu metode atau cara yang disedikan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib pajak atau SPT Perpanjangan yang bersifat online melalui Penyedia Jasa Aplikasi (Amalia, 2016). E-filing ini dibuat dengan maksud untuk memudahkan wajib pajak dalam melaporkan SPT Tahunannya secara real time sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Menurut Amalia (2016), terdapat 3 tujuan utama E-filing sebagai layanan pelaporan pajak :
24
a. Memudahkan wajib pajak dalam pelaporan SPT Tahunan dimana saja dan kapan saja yang memerlukan koneksi internet.
b. Bagi kantor pajak, dapat mempercepat rekapan penerimaan laporan SPT, pengadministrasian, dan pengarsipan laporan SPT.
c. Bagi wajib pajak, mempermudah dan mempercepat Wajib pajak dalam melaporkan SPTnya sehingga diharapkan akan meningkatkan angka kepatuhan pajak dan penerimaan negara tercapai.
Mc. Leod (2009) dalam Fazri dan Octavia (2016), dalam penelitiannya membagi Penggunaan e-filing ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Keahlian pengguna
2. Kepercayaan keamanan dan kerahasiaan 3. Ekonomis
Sedangkan Wibisono dan Toly (2014) dalam penelitiannya membagi Penggunaan e-filing ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Menggunakan e-filing setiap kali melaporkan pajak 2. Menggunakan e-filing di masa depan
3. E-filing mempunya fitur yang dapat membantu pekerjaan penggunanya
4. Pelaporan SPT dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun 5. E-filing dapat merespon dan memberi konfirmasi dengan cepat 6. E-filing dapat menghemat biaya
7. Pelaporan SPT menjadi lebih praktis
25
8. Perhitungan pajak lebih cepat, mudah, dan akurat 9. Memudahkan kewajiban dalam perpajakan 10. Mudah dipelajari dalam pengisian SPT 11. Penyampaian data mejadi lengkap
Dari beberapa indikator yang dikemukakan oleh para ahli diatas, dalam penelitian ini peneliti menggunakan indikator yang dikemukakan oleh Wibisono dan Toly (2014) dalam penyusunan kuesioner penelitian.
9. Pelayanan Account Representative
Menurut Amalia (2016), salah satu bentuk perwujudan dari modernisasi perpajakan atau lebih dikenal dengan Sistem Administrasi Perpajakan Modern adalah dengan dibentuknya Account Representative (AR). KMK No.98/KMK.01/2006 mengatur tentang Account Representative (AR) pada Kantor Pelayanan Pajak yang telah Mengimplementasikan Organisasi Modern. Di dalam pasal 1 ayat 2 dikatakan bahwa Account Representative adalah pegawai yang diangkat pada setiap Seksi Pengawasan dan Konsultasi di Kantor Pelayanan Pajak yang telah mengimplementasikan Organisasi Modern.
Tugas dari Account Representative (AR) adalah :
a. Melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan Wajib pajak
b. Melakukan bimbingan dan konsultasi teknis perpajakan kepada Wajib pajak
c. Melakukan penyusunan profil Wajib pajak
26
d. Melakukan analisis kinerja wajib pajak dan rekonsiliasi data Wajib pajak guna untuk intensifikasi data
e. Melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan peraturan yang berlaku Ramadhan (2015) dalam penelitiannya membagi Pelayanan Account Representative ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Account Representative dalam memberikan pelayanan 2. Account Representative dalam menjalin komunikasi 3. Account Representative dalam menyelesaikan masalah
Widomoko dan Nofryanti (2017) dalam penelitiannya membagi Pelayanan Account Representative ke beberapa indikator sebagai berikut:
1. Adanya sarana dan prasarana yang nyaman
2. Petugas pajak berkomunikasi dengan baik, bersikap ramah dan sopan terhadap wajib pajak
3. Kecepatan dalam pemrosesan dan pelayanan
Dari beberapa indikator yang dikemukakan oleh para ahli diatas, dalam penelitian ini peneliti menggunakan indikator yang dikemukakan oleh Ramadhan (2015) dalam penyusunan kuesioner penelitian.
B. Penelitian Terdahulu
Berikut lampiran hasil-hasil penelitian sebelumnya mengenai tema yang dibahas dalam penelitian ini.
27 Tabel 2.1
Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
1) Pengaruh Persepsi Kemudahan terhadap Pelayanan Account Representative
No. Persamaan Perbedaan
1. Alberta Esti pajak Pribadi Sebagai Sarana Pelaporan SPT Masa Secara Online signifikan antara persepsi kegunaan (X1), persepsi kemudahan (X2), kerumitan (X3), keamanan (X4), kesiapan teknologi Wajib pajak (X5) terhadap intensitas Wajib pajak dalam penggunaan e-filing (Y) pada KPP Pratama
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan, dan Kepuasan Wajib pajak Terhadap Penggunaan EFiling Bagi Wajib pajak di Kebumen
Variabel
Persepsi Kebermanfaatan tidak berpengaruh terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi di Kebumen, sedangkan Persepsi Kemudahan dan Kepuasan berpengaruh positif terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi
Pengaruh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kemudahan terhadap Penggunaan
E-filing dan
Dampaknya terhadap Kepatuhan Wajib pajak Orang Pribadi
Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Penggunaan e-filing, Persepsi Kegunaan, dan Persepsi Kemudahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan e-filing
4. Andreas Bambang Daryatno (2017)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan e-filling pada Wajib pajak
variabel persepsi kegunaan, keamanan dan kerahasiaan, kesukarelaan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing, sedangkan variabel persepsi kemudahan, kompleksitas penggunaan, kesiapan teknologi informasi dan pengetahuan umum pajak tidak
28
Informasi dan Pengetahua n Umum
mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing.
5. Nurjannah (2017)
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan, Kepuasan, Kecepatan, Keamanan dan Kerahasiaan terhadap Penggunaan Fasilitas e-filing Sebagai Sarana Penyampaian SPT Masa secara Online dan Realtime Bagi Wajib pajak Badan di Dumai
Variabel
Persepsi kemudahan, kepuasan, dan kecepatan berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing. Sedangkan variabel persepsi kebermanfaatan dan keamanan dan kerahasiaan tdak berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing
Pengaruh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kemudahan Penggunaan terhadap Hubungan antara Persepsi Penerapan Sistem e-filing dengan Tingkat Kepatuhan Wajib pajak Badan yang Dimediasi Oleh Perilaku Wajib pajak
Variabel
1. Persepsi penerapan
sistem e-filing berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan Wajib pajak
2. Perilaku Wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan Wajib pajak
3. Persepsi kegunaan
terbukti dapat memoderasi hubungan antara persepsi penerapan sistem e-filing dengan tingkat kepatuhan Wajib pajak
4. Persepsi kemudahan
terbukti dapat memoderasi hubungan antara persepsi penerapan sistem e-filing dengan tingkat kepatuhan Wajib pajak 7. Shelby
Devina (2016)
Pengaruh Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan,
Kecepatan, Keamanan dan Kerahasiaan Serta Kesiapan Teknologi Informasi Wajib pajak terhadap Penggunaan e-filing Bagi Wajib pajak Orang Pribadi di Kota Tangerang, Kecamatan Karawaci e-filing, serta Objek Persepsi kemudahan berpengaruh Kesiapan teknologi informasi tidak berpengaruh terhadap penggunaan e-filing
3. Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, kecepatan, keamanan dan kerahasiaan serta kesiapan teknologi informasi Wajib
29
pajak berpengaruh secara simultan terhadap penggunaan e-filing
8. Rizki Fitri Amalia (2016)
Pengaruh Penerapan e-filing terhadap Tingkat Kepatuhan Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib pajak Orang Pribadi dengan Pelayanan Account
Representative Sebagai Variabel Intervening di Kota mampu memediasi variabel penerapan e-filing terhadap kepatuhan Wajib pajak orang pribadi
Behavioral Intention of Taxpayers towards Online Tax Filing in
Persepsi Kemudahan dan Persepsi Kebermanfaatan berpengaruh secara signifikan terhadap niat/perilaku Wajib pajak dalam menggunakan tax filing
10. Bojuwon Mustapha (2013)
The Impact of Perceived Ease of Use and Perceived Usefulness on Online Tax System
Persepsi Kemudahan dan Persepsi Kebermandaatan mempunyai dampak terhadap penggunaan Sistem Pajak Online
2) Pengaruh Persepsi Keamanan dan Kerahasiaan terhadap Pelayanan Account Representative Persamaan Perbedaan
1. Alberta Esti pajak Pribadi Sebagai Sarana Pelaporan SPT Masa Secara Online signifikan antara persepsi kegunaan (X1), persepsi kemudahan (X2), kerumitan (X3), keamanan (X4), kesiapan teknologi Wajib pajak (X5) terhadap intensitas Wajib pajak dalam penggunaan e-filing (Y) pada KPP Pratama Surabaya Rungkut.
30
2. Andreas Bambang Daryatno (2017)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan e-filling pada Wajib pajak
variabel persepsi kegunaan, keamanan dan kerahasiaan, kesukarelaan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing, sedangkan variabel persepsi kemudahan, kompleksitas penggunaan, kesiapan teknologi informasi dan pengetahuan umum pajak tidak mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing.
3. Nurjannah (2017)
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan, Kepuasan, Kecepatan, Keamanan dan Kerahasiaan terhadap Penggunaan Fasilitas e-filing Sebagai Sarana Penyampaian SPT Masa secara Online dan Realtime Bagi Wajib pajak Badan di Dumai
Variabel
Persepsi kemudahan, kepuasan, dan kecepatan berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing. Sedangkan variabel persepsi kebermanfaatan dan keamanan dan kerahasiaan tdak berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing
4. Shelby Devina (2016)
Pengaruh Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan,
Kecepatan, Keamanan dan Kerahasiaan Serta Kesiapan Teknologi Informasi Wajib pajak terhadap Penggunaan e-filing Bagi Wajib pajak Orang Pribadi di Kota Tangerang, Kecamatan Karawaci e-filing, serta Objek Persepsi kemudahan berpengaruh terhadap penggunaan e-filing
2. Kecepatan,
Keamanan dan kerahasiaan,
Kesiapan teknologi informasi tidak berpengaruh terhadap penggunaan e-filing
3. Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, kecepatan, keamanan dan kerahasiaan serta kesiapan teknologi informasi Wajib pajak berpengaruh secara simultan terhadap penggunaan e-filing
31
3) Pengaruh Persepsi Kemudahan terhadap Penggunaan Fasilitas e-filing
No. Persamaan Perbedaan
1. Rochmatul Anisa dan Dwi Suprajitno (2020)
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan, dan Kepuasan Wajib pajak Terhadap Penggunaan EFiling Bagi Wajib pajak di Kebumen
Variabel
Persepsi Kebermanfaatan tidak berpengaruh terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi di Kebumen, sedangkan Persepsi Kemudahan dan Kepuasan berpengaruh positif terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Penggunaan, dan Kepuasan Wajib pajak Terhadap Penggunaan e-filing Bagi Wajib pajak di Kebumen
Variabel
Persepsi Kebermanfaatan tidak berpengaruh terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi di Kebumen, sedangkan Persepsi Kemudahan dan Kepuasan berpengaruh positif terhadap Penggunaan E-filing bagi Wajib pajak orang pribadi
Pengaruh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kemudahan terhadap Penggunaan
E-filing dan
Dampaknya terhadap Kepatuhan Wajib pajak Orang Pribadi
Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Penggunaan e-filing, Persepsi Kegunaan, dan Persepsi Kemudahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penggunaan e-filing
4. Andreas Bambang Daryatno (2017)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan e-filling pada Wajib pajak
variabel persepsi kegunaan, keamanan dan kerahasiaan, kesukarelaan mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing, sedangkan variabel persepsi kemudahan, kompleksitas penggunaan, kesiapan teknologi informasi dan pengetahuan umum pajak tidak mempunyai pengaruh terhadap penggunaan e-filing.
32
5. Nurjannah (2017)
Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan, Kepuasan, Kecepatan, Keamanan dan Kerahasiaan terhadap Penggunaan Fasilitas e-filing Sebagai Sarana Penyampaian SPT Masa secara Online dan Realtime Bagi Wajib pajak Badan di Dumai
Variabel
Persepsi kemudahan, kepuasan, dan kecepatan berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing. Sedangkan variabel
Persepsi kemudahan, kepuasan, dan kecepatan berpengaruh terhadap penggunaan fasilitas e-filing. Sedangkan variabel