• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY (Halaman 61-96)

A. KEPENDUDUKAN

1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Laju dan Kepadatan Penduduk Provinsi D.I. Yogyakarta Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 3.457.491 jiwa, dengan persentase jumlah penduduk laki-laki 49,43 persen dan penduduk perempuan 50,57 persen. Persebaran penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2011 paling banyak di Kabupaten Sleman yakni sekitar 31,40 persen. Sementara di Kota Yogyakarta hanya sekitar 11,29 persen.

Laju pertumbuhan penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 1,04. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang mencapai 1,02. Menurut hasil sensus penduduk 2010, laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Sleman, yakni mencapai 1,96 persen pertahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk terendah terjadi di Kota Yogyakarta, yakni mencapai minus 0,21. Data Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk serta kepadatan penduduk menurut kabupaten kota bisa dilihat pada Tabel DE-1. Agar lebih jelas, persebaran penduduk di Provinsi DIY dapat dilihat dalam Gambar 26. berikut ini.

Gambar 26. Grafik Persebaran Penduduk Di Provinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2011

Kepadatan penduduk merupakan salah satu indikator kependudukan yang mencerminkan tingkat pemerataan penduduk di suatu wilayah. Tinggi rendahnya tingkat

1,093,110

388,627

BAB III

TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN

A. KEPENDUDUKAN

1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Laju dan Kepadatan Penduduk Provinsi D.I. Yogyakarta Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 3.457.491 jiwa, dengan persentase jumlah penduduk laki-laki 49,43 persen dan penduduk perempuan 50,57 persen. Persebaran penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2011 paling banyak di Kabupaten Sleman yakni sekitar 31,40 persen. Sementara di Kota Yogyakarta hanya sekitar 11,29 persen.

Laju pertumbuhan penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 1,04. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang mencapai 1,02. Menurut hasil sensus penduduk 2010, laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Sleman, yakni mencapai 1,96 persen pertahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk terendah terjadi di Kota Yogyakarta, yakni mencapai minus 0,21. Data Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk serta kepadatan penduduk menurut kabupaten kota bisa dilihat pada Tabel DE-1. Agar lebih jelas, persebaran penduduk di Provinsi DIY dapat dilihat dalam Gambar 26. berikut ini.

Gambar 26. Grafik Persebaran Penduduk Di Provinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2011

Kepadatan penduduk merupakan salah satu indikator kependudukan yang mencerminkan tingkat pemerataan penduduk di suatu wilayah. Tinggi rendahnya tingkat

388,869

1. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Laju dan Kepadatan Penduduk Provinsi D.I. Yogyakarta Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 3.457.491 jiwa, dengan persentase jumlah penduduk laki-laki 49,43 persen dan penduduk perempuan 50,57 persen. Persebaran penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2011 paling banyak di Kabupaten Sleman yakni sekitar 31,40 persen. Sementara di Kota Yogyakarta hanya sekitar 11,29 persen.

Laju pertumbuhan penduduk di Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai 1,04. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang mencapai 1,02. Menurut hasil sensus penduduk 2010, laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Sleman, yakni mencapai 1,96 persen pertahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk terendah terjadi di Kota Yogyakarta, yakni mencapai minus 0,21. Data Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk serta kepadatan penduduk menurut kabupaten kota bisa dilihat pada Tabel DE-1. Agar lebih jelas, persebaran penduduk di Provinsi DIY dapat dilihat dalam Gambar 26. berikut ini.

Gambar 26. Grafik Persebaran Penduduk Di Provinsi D.I. Yogyakarta Tahun 2011

Kepadatan penduduk merupakan salah satu indikator kependudukan yang mencerminkan tingkat pemerataan penduduk di suatu wilayah. Tinggi rendahnya tingkat

Kulonprogo

Gunungkidul

Yogyakarta

kepadatan penduduk dapat membawa dampak positif maupun negatif. Kepadatan yang sudah mencapai titik jenuh, mungkin akan lebih banyak memberikan dampak negatif, akibat terjadinya ketimbangan sumber daya. Bila dilihat menurut kepadatannya, angka kepadatan tertinggi tercatat di Kota Yogyakarta sebesar 11.957,75 jiwa per km2. Angka ini lebih kecil jika dibanding tahun 2010 yang mencapai 14.059 jiwa per km2. Pada tahun 2011, kepadatan penduduk di Kabupaten Gunungkidul hanya tercatat 455 jiwa per km2, paling rendah bila dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain.

2. Penduduk Laki-laki menurut Golongan Umur

Ukuran keberhasilan pembangunan di bidang kependudukan dapat dilihat juga melalui perubahan komposisi penduduk menurut umur yang digambarkan dengan semakin rendahnya proporsi penduduk tidak produktif yaitu penduduk berumur muda (di bawah 15 tahun) dan lanjut usia (65 tahun keatas) dibandingkan penduduk yang produktif (15-64 tahun). Penduduk muda berusia 15 tahun umumnya secara ekonomis masih tergantung pada orangtua atau orang lain yang menanggungnya. Sementara penduduk usia di atas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi. Angka Beban Ketergantungan di Provinsi D.I. Yogyakarta pada tahun 2010 sebesar 46. Artinya secara rata-rata setiap 100 penduduk produktif menanggung sekitar 46 penduduk tidak produktif atau setiap orang usia tidak produktif akan ditanggung oleh sekitar 2-3 orang usia produktif.

Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 beban ketergantungan penduduk laki-laki di DIY adalah 46. Angka ini sebanding dengan tahun lalu. Artinya setiap 100 penduduk produktif menanggung sekitar 46 penduduk tidak produktif atau setiap 1 orang laki-laki tidak produktif ditanggung oleh sekitar 2-3 orang laki-laki produktif. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dari Tabel 4 berikut.

Tabel 4 :

Penduduk Laki-Laki Menurut Golongan Umur Prov DIY Tahun 2011

Sumber: BPS Prov. DIY, Olahan dari hasil Sensus Penduduk 2010

Bila dilihat menurut kabupaten/kota terlihat beban ketergantungan tertinggi berada di Kabupaten Gunungkidul yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Kulonprogo sebesar 54.

Sedangkan beban ketergantungan terendah di Kota Yogyakarta sebesar 36. Agar lebih jelas, beban ketergantungan penduduk laki-laki di Provinsi DIY bisa dilihat dalam Gambar 27. berikut.

Gambar 27. Grafik Beban Ketergantungan Penduduk Laki-Laki di DIY 10%0%

Sumber: BPS Prov. DIY, Olahan dari hasil Sensus Penduduk 2010

Bila dilihat menurut kabupaten/kota terlihat beban ketergantungan tertinggi berada di Kabupaten Gunungkidul yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Kulonprogo sebesar 54.

Sedangkan beban ketergantungan terendah di Kota Yogyakarta sebesar 36. Agar lebih jelas, beban ketergantungan penduduk laki-laki di Provinsi DIY bisa dilihat dalam Gambar 27. berikut.

Gambar 27. Grafik Beban Ketergantungan Penduduk Laki-Laki di DIY

Kab/Kota 0-14 15-64 65+

Sumber: BPS Prov. DIY, Olahan dari hasil Sensus Penduduk 2010

Bila dilihat menurut kabupaten/kota terlihat beban ketergantungan tertinggi berada di Kabupaten Gunungkidul yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Kulonprogo sebesar 54.

Sedangkan beban ketergantungan terendah di Kota Yogyakarta sebesar 36. Agar lebih jelas, beban ketergantungan penduduk laki-laki di Provinsi DIY bisa dilihat dalam Gambar 27. berikut.

Gambar 27. Grafik Beban Ketergantungan Penduduk Laki-Laki di DIY

65+

3. Penduduk Perempuan menurut Golongan Umur

Sementara itu angka beban ketergantungan penduduk perempuan di DIY adalah 46.

Angka ini sebanding dengan beban ketergantungan penduduk laki-laki yang juga 46. Bila dilihat menurut kabupaten/kota angka beban ketergantungan perempuan tertinggi berada di Kabupaten Kulonprogo yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Gunungkidul (54). Sedangkan angka terendah terjadi di Yogyakarta yakni 36. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam Gambar 28. di bawah ini.

Gambar 28. Grafik Beban ketergantungan penduduk Perempuan di DIY Tahun 2011

4. Migrasi Selama Hidup.

Penduduk dengan provinsi tempat lahir berbeda dengan tempat tinggal sekarang merupakan migran selama hidup. Angka migrasi selama hidup merupakan perbandingan jumlah migran selama hidup dengan jumlah penduduk. Jumlah Migran masuk (datang) selama hidup ke Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai sekitar 562.384 persen dari total penduduk D.I. Yogyakarta. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki lebih tinggi dibanding yang perempuan. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki menurut hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat 16,5 persen, sementara angka migrasi masuk selama hidup perempuan sekitar 16,1 persen. Angka migrasi selama hidup di DIY bisa dilihat dalam Gambar 29. berikut ini.

0

3. Penduduk Perempuan menurut Golongan Umur

Sementara itu angka beban ketergantungan penduduk perempuan di DIY adalah 46.

Angka ini sebanding dengan beban ketergantungan penduduk laki-laki yang juga 46. Bila dilihat menurut kabupaten/kota angka beban ketergantungan perempuan tertinggi berada di Kabupaten Kulonprogo yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Gunungkidul (54). Sedangkan angka terendah terjadi di Yogyakarta yakni 36. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam Gambar 28. di bawah ini.

Gambar 28. Grafik Beban ketergantungan penduduk Perempuan di DIY Tahun 2011

4. Migrasi Selama Hidup.

Penduduk dengan provinsi tempat lahir berbeda dengan tempat tinggal sekarang merupakan migran selama hidup. Angka migrasi selama hidup merupakan perbandingan jumlah migran selama hidup dengan jumlah penduduk. Jumlah Migran masuk (datang) selama hidup ke Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai sekitar 562.384 persen dari total penduduk D.I. Yogyakarta. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki lebih tinggi dibanding yang perempuan. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki menurut hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat 16,5 persen, sementara angka migrasi masuk selama hidup perempuan sekitar 16,1 persen. Angka migrasi selama hidup di DIY bisa dilihat dalam Gambar 29. berikut ini.

3. Penduduk Perempuan menurut Golongan Umur

Sementara itu angka beban ketergantungan penduduk perempuan di DIY adalah 46.

Angka ini sebanding dengan beban ketergantungan penduduk laki-laki yang juga 46. Bila dilihat menurut kabupaten/kota angka beban ketergantungan perempuan tertinggi berada di Kabupaten Kulonprogo yakni 55, kemudian disusul Kabupaten Gunungkidul (54). Sedangkan angka terendah terjadi di Yogyakarta yakni 36. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam Gambar 28. di bawah ini.

Gambar 28. Grafik Beban ketergantungan penduduk Perempuan di DIY Tahun 2011

4. Migrasi Selama Hidup.

Penduduk dengan provinsi tempat lahir berbeda dengan tempat tinggal sekarang merupakan migran selama hidup. Angka migrasi selama hidup merupakan perbandingan jumlah migran selama hidup dengan jumlah penduduk. Jumlah Migran masuk (datang) selama hidup ke Provinsi D.I. Yogyakarta mencapai sekitar 562.384 persen dari total penduduk D.I. Yogyakarta. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki lebih tinggi dibanding yang perempuan. Angka migrasi masuk selama hidup laki-laki menurut hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat 16,5 persen, sementara angka migrasi masuk selama hidup perempuan sekitar 16,1 persen. Angka migrasi selama hidup di DIY bisa dilihat dalam Gambar 29. berikut ini.

65+

15-64 0-14

Gambar 29. Grafik Migrasi Selama Hidup di DIY Tahun 2011 menurut Kabupaten/Kota

Sedangkan yang dimaksud dengan migrasi selama hidup pada tingkat kabupaten/kota adalah kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang. Penduduk dengan kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang disebut migran selama hidup. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 migran masuk terbanyak berada di Kabupaten Sleman, yaitu 375.923 orang atau 45,7 persen dari total migran masuk selama hidup kabupaten/kota di Provinsi D.I.

Yogyakarta. Kemudian disusul migran masuk di Kabupaten Bantul sebesar 197.509 orang (24,0

%) dan Kota Yogyakarta 171.255 orang (20,8%). Sementara di Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul migrasi masuk selama hidup masing-masing hanya sekitar 4-5 persen dari total migran masuk selama hidup.

Bila dilihat menurut jenis kelamin di Provinsi D.I. Yogyakarta lebih banyak migran masuk selama hidup penduduk perempuan dibanding migran masuk selama hidup penduduk laki-laki. Penduduk migran selama hidup laki-laki mencapai 48,92 persen sedangkan penduduk migran selama hidup perempuan mencapai 51,08 persen dari total migran selama hidup di Provinsi D.I. Yogyakarta.

5. Penduduk Laki-Laki Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu indikator output selesainya suatu jenjang pendidikan yang ditandai dengan ijazah yang dimiliki. Ijazah yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formalnya. Makin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan tentunya makin tinggi kualitas SDMnya.

0

Gambar 29. Grafik Migrasi Selama Hidup di DIY Tahun 2011 menurut Kabupaten/Kota

Sedangkan yang dimaksud dengan migrasi selama hidup pada tingkat kabupaten/kota adalah kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang. Penduduk dengan kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang disebut migran selama hidup. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 migran masuk terbanyak berada di Kabupaten Sleman, yaitu 375.923 orang atau 45,7 persen dari total migran masuk selama hidup kabupaten/kota di Provinsi D.I.

Yogyakarta. Kemudian disusul migran masuk di Kabupaten Bantul sebesar 197.509 orang (24,0

%) dan Kota Yogyakarta 171.255 orang (20,8%). Sementara di Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul migrasi masuk selama hidup masing-masing hanya sekitar 4-5 persen dari total migran masuk selama hidup.

Bila dilihat menurut jenis kelamin di Provinsi D.I. Yogyakarta lebih banyak migran masuk selama hidup penduduk perempuan dibanding migran masuk selama hidup penduduk laki-laki. Penduduk migran selama hidup laki-laki mencapai 48,92 persen sedangkan penduduk migran selama hidup perempuan mencapai 51,08 persen dari total migran selama hidup di Provinsi D.I. Yogyakarta.

5. Penduduk Laki-Laki Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu indikator output selesainya suatu jenjang pendidikan yang ditandai dengan ijazah yang dimiliki. Ijazah yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formalnya. Makin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan tentunya makin tinggi kualitas SDMnya.

Gambar 29. Grafik Migrasi Selama Hidup di DIY Tahun 2011 menurut Kabupaten/Kota

Sedangkan yang dimaksud dengan migrasi selama hidup pada tingkat kabupaten/kota adalah kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang. Penduduk dengan kabupaten/kota tempat lahir berbeda dengan kabupaten/kota tempat tinggal sekarang disebut migran selama hidup. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 migran masuk terbanyak berada di Kabupaten Sleman, yaitu 375.923 orang atau 45,7 persen dari total migran masuk selama hidup kabupaten/kota di Provinsi D.I.

Yogyakarta. Kemudian disusul migran masuk di Kabupaten Bantul sebesar 197.509 orang (24,0

%) dan Kota Yogyakarta 171.255 orang (20,8%). Sementara di Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul migrasi masuk selama hidup masing-masing hanya sekitar 4-5 persen dari total migran masuk selama hidup.

Bila dilihat menurut jenis kelamin di Provinsi D.I. Yogyakarta lebih banyak migran masuk selama hidup penduduk perempuan dibanding migran masuk selama hidup penduduk laki-laki. Penduduk migran selama hidup laki-laki mencapai 48,92 persen sedangkan penduduk migran selama hidup perempuan mencapai 51,08 persen dari total migran selama hidup di Provinsi D.I. Yogyakarta.

5. Penduduk Laki-Laki Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu indikator output selesainya suatu jenjang pendidikan yang ditandai dengan ijazah yang dimiliki. Ijazah yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formalnya. Makin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan tentunya makin tinggi kualitas SDMnya.

Laki-laki Peremp Laki+Peremp

Dari hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat 49,59 persen penduduk laki-laki berusia 5-6 tahun tidak/belum pernah sekolah SD dan 50,41 persen belum tamat SD. Sedangkan penduduk laki-laki 7-12 tahun sebanyak 1,06 persen tidak/belum pernah sekolah dan 92,27 persen tidak/belum tamat SD serta 6,67 persen tamat SD.Sedangkan penduduk laki-laki usia 13-15 tahun terdiri dari0,36 persen tidak/belum pernah sekolah dan 10,28 persen tidak/belum tamat SD, 67,55 persen tamat SD serta 21,81 persen tamat SLTP. Pada penduduk laki-laki kelompok umur 16-18 tahun masih terdapat 0,70 persen tidak/belum pernah sekolah, 1,18 persen tidak/belum tamat SD, 10,79 persen tamat SD, 61,49 persen tamat SLTP dan 25,84 tamat SLTA. Sementara itu pada penduduk laki-laki kelompok umur 19-24 tahun terdapat 1,06 persen tidak/belum pernah sekolah 0,87 persen tidak tamat SD, 5,28 persen tamat SD, 16,43 persen tamat SLTP, 70,69 persen tamat SLTA dan 2,28 persen tamat Diploma serta 3,38 persen tamat Universitas. Agar lebih jelas, bisa dilihat dalam Gambar 30. berikut.

Gambar 30. Grafik Penduduk Laki-Laki Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan, Provinsi DIY Tahun 2011

6. Penduduk Perempuan Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan Sementara itu penduduk perempuan pada kelompok usia 5-6 tahun terlihat bahwa masih terdapat 48,50 persen tidak/belum pernah sekolah. Hal ini sangat wajar karena yang dimaksud sekolah disini adalah sekolah formal, tidak termasuk TK. Angka ini sedikit lebih rendah bila dibanding dengan kelompok 5-6 tahun penduduk laki-laki.

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000

05-06 07-12 13-15 16-18 19-24 Jumlah

Tidak Sekolah SD

SLTP SLTA Diploma Universitas

Dari hasil Sensus Penduduk 2010 mayoritas penduduk perempuan yang menamatkan tidak/belum tamat SD yakni sebesar 30,93 . Hal ini bisa dinilai wajar, karena komposisi penduduk berusia 7-12 tahun yang pada umumnya belum tamat SD juga mencapai 27,88 persen dari total penduduk. Urutan kedua adalah pendidikan SLTA yaitu sekitar 27,63 persen, selanjutnya tamat STLP 18,70 persen. Dari tabel ini juga terlihat pada penduduk perempuan pada kelompok usia 5-24 tahun masih relatif kecil yang tamat Diploma 1,50 persen maupun universitas 1,91 persen. Pola ini juga terjadi pada kelompok usia 5-24 tahun penduduk laki-laki.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar 31. berikut.

Gambar 31. Grafik Penduduk Perempuan Berusia 5-24 Tahun Menurut Golongan Umur dan Status Pendidikan Provinsi DIY Tahun 2011

7. Penduduk Laki-Laki Berusia 5 Tahun Ke Atas menurut Golongan Umur dan Pendidikan Tertinggi

Menurut Hasil Sensus Penduduk 2010 pada laki-laki kelompok umur 5-9 tahun dan kelompok umur 10-14 tahun di Provinsi D.I. Yogyakarta mayoritas tidak tamat SD. Sedangkan pada kelompok umur 15-19 tahun mayoritas tamat SLTP. Pada kelompok umur 20-24, 25-29, 30-34, 35-39 dan 40-44 mayoritas memiliki ijazah tertinggi SLTA. Sementara itu laki-laki pada kelompok umur 45-49, 50-54, 55-59, 60-64, 65-69 dan 70-74 tahun mayoritas tamat SD. Pada kelompok umur 75 tahun ke atas masih didominasi tidak tamat SD atau belum memiliki ijazah.

Secara umum laki-laki di D.I. Yogyakarta mayoritas memiliki ijazah tertinggi SLTA.

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000

05-06 07-12 13-15 16-18 19-24 Jumlah

Tidak Sekolah SD

SLTP SLTA Diploma Universitas

8. Penduduk Perempuan Berusia 5 Tahun Ke Atas menurut Golongan Umur dan Pendidikan Tertinggi

Bila dilihat menurut ijazah tertinggi yang dimiliki perempuan di D.I.Yogyakarta, mayoritas tamat SLTA. Pada kelompok umur 5-9 belum ada yang tamat SD, sedangkan pada kelompok umur 10-14 sejumlah 44.820 tamat SD dan 3.512 tamat SLTP. Sedangkan kelompok umur 15-19 tahun mayoritas tamat SLTP. Pada kelompok umur 20-24 tahun, 25-29 tahun, 30-34 tahun, 35-39 tahun, 40-44 tahun perempuan di Provinsi D.I. Yogyakarta tamatan SLTA.

Sedangkan pada perempuan kelompok umur 45-49, 50-54, 55-69, 60-64, 65-69, 70-74 mayoritas memiliki ijazah SD. Sedangkan kelompok umur 75 tahun keatas pada umumnya perempuan di D.I. Yogyakarta belum memiliki ijazah atau tidak tamat SD. Secara umum perempuan di Provinsi D.I. Yogyakarta mayoritas memiliki ijazah SLTA.

9. Jumlah Penduduk, Luas daerah dan Jumlah Sekolah menurut Kabupaten Kota.

Pendidikan adalah salah satu hal penting dan mendasar untuk menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Oleh karena itu pendidikan juga dianggap sebagai investasi SDM. Pentingnya pendidikan tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang bertujuan untuk mencerdaskan bangsa.

Salah satu modal dasar yang menjadi motor pembangunan adalah SDM, namun pada kondisi dimana masyarakat yang relatif rendah, maka penduduk yang besar bukan merupakan aset tetapi justru menjadi beban pembangunan.

Fasilitas pendidikan sebagai salah satu indikator input merupakan kekuatan awal dalam membangun kualitas SDM dibidang pendidikan. Ketersediaan sarana dan prasarana sangat mempengaruhi proses belajar yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi output pendidikan.Kualitas pendidikan yang memadai diperlukan penduduk untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Tingginya permintaan jasa pendidikan menuntut tersedianya penyelenggaraan pendidikan yang semakin bermutu. Secara nasional, pendidikan diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun swasta maupun Non Dikbud.

Pada jenjang Sekolah Dasar (SD),pada tahun 2008 memiliki 2.017 unit sekolah. Bila dilihat dari rasio jumlah penduduk usia 7-12 tahun terhadap fasilitas yang tersedia, maka di Provinsi D.I.Yogyakarta rasio jumlah penduduk usia 7-12 tahun (usia sekolah SD) dibanding ketersediaan fasilitas SD adalah 1 : 149 artinya setiap 149 penduduk usia 7-12 tahun terfasilitasi dengan 1 unit SD.

Sedangkan pada jenjang SMP tercatat sebanyak 506 unit sekolah baik swasta maupun negeri. Rasio jumlah penduduk usia 13-15 tahun (usia sekolah SLTP) dibanding ketersediaan fasilitas SMP adalah 1 : 309 artinya setiap 309 penduduk usia 13-15 tahun terfasilitasi dengan 1 unit sekolah SLTP.

Kemudian untuk jenjang SLTA pada tahun 2011 di Provinsi D.I. Yogyakarta tercatat 395 unit sekolah ( SMU, SMK, SLTA-MA). Rasio jumlah penduduk usia 16-18 tahun dibanding ketersediaan fasilitas SMA adalah 1: 422 yang berarti untuk setiap 422 penduduk usia 16-18 tahun terfasilitasi dengan 1 unit sekolah SLTA.

B. PERMUKIMAN

Karakteristik utama yang membedakan sektor perumahan dengan komoditas ekonomi lainnya adalah lokasi perumahan yang tetap tidak berubah dan unik. Karena lokasinya yang tetap maka perumahan merupakan komoditas yang unik, artinya perumahan di suatu lokasi tidak dapat disubstitusikan dengan perumahan di lokasi yang lain. Karena keunikannya tersebut komoditas perumahan merupakan komoditas yang heterogen yang ditunjukkan oleh perbedaan karakteristik fisik bangunan dan interior serta karakteristik lokasi perumahan yang tercermin pada tingkat akesibilitas dan kondisi lingkungan. Heterogenitas komoditas perumahan ini berpengaruh terhadap tingkat harga perumahan. Dua buah perumahan dengan bentuk fisik yang sama tetapi lokasi berbeda maka harga rumah tersebut akan berbeda.

Aksesibilitas merupakan kemudahan untuk mencapai berbagai pusat kegiatan, seperti tempat kerja, pusat perdagangan, pusat pendidikan, daerah industri, jasa pelayanan perbankan, tempat rekreasi, pelayanan pemerintah, jasa profesional, dan lokasi lain yang memerlukan perjalanan tertentu. Sedangkan faktor lingkungan meliputi aspek fisik dan sosial lingkungan, yang terdiri dari keamanan, kebersihan udara, kenyamanan, topografi, dan sebagainya yang akan memberikan kemudahan dan ketenangan bagi masyarakat dalam berusaha dan bertempat tinggal. Sehingga kawasan yang memiliki keadaan sosial lingkungan yang baik akan cepat berkembang, karena masyarakat akan melakukan aktivitas untuk membangun wilayah tersebut.

Heterogenitas komoditas perumahan di Provinsi DIY tercermin pada sifat perumahan yang terkait dengan lokasi perumahan. Provinsi ini memiliki perumahan yang terencana

Heterogenitas komoditas perumahan di Provinsi DIY tercermin pada sifat perumahan yang terkait dengan lokasi perumahan. Provinsi ini memiliki perumahan yang terencana

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY (Halaman 61-96)

Dokumen terkait