• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

G. Teknik Analisis Data

Adapun variabel-variabel dalam penelitian ini adalah variablel independen/bebas dan variabel dependen/terikat. Dimana Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu, rasio desentralisasi fiskal (X1), rasio ketergantungan keuangan daerah (X2), rasio kemandirian keuangan daerah (X3), kemudian variabel dependen/terikatnya yaitu rasio efisiensi PAD (Y). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Analisis Deskriptif

Menurut Fidel (2013), analisis deskriptif adalah kegiatan dimana tingkat pekerjaannya mencakup cara-cara pengumpulan, menyusun

atau mengatur, mengelola, menyajikan dan menganalisis data angka agar dapat memberikan gambaran yang teratur, ringkas dan jelas mengenai keadaan, peristiwa atau gejala tertentu sehingga dapat ditarik pengertian atau makna tertentu. Metode ini dilakukan dengan memperhatikan tingkat kinerja Pemerintah Daerah Kab.Gowa dalam mengelola keuangan daerahnya dengan menggunakan rasio-rasio.

2. Analisis Regresi Berganda

Analisis Regresi berganda dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh dua variabel atau lebih terhadap satu variabel untuk menunjukkan ada atau tidaknya hubungan antara variabel bebas (rasio desentralisasi fiskal, rasio ketergantungan keuangan daerah, rasio kemandirian keuangan daerah) terhadap variabel terikat (rasio efisiensi PAD). Dalam penelitian ini digunakan analisis berganda untuk menganalisa kinerja keuangan daerah pemerintah Kab.Gowa terhadap efisiensi PAD. Bentuk persamaan regresi berganda adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e (Ghozali, 2009:13) di mana:

Y : rasio efisiensi PAD a : bilangan konstanta b1-b3 : koefisien regresi

X1 : rasio desentralisasi fiskal

X2 : rasio ketergantungan keuangan daerah X3 : rasio kemandirian keuangan daerah e : variabel pengganggu

3. Uji T atau Uji Parsial

Uji T ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu pengaruh dari masing-masing variabel independen (rasio desentralisasi fiskal, rasio ketergantungan keuangan daerah, rasio kemandirian keuangan daerah) terhadap variabel dependen (rasio efisiensi PAD), pada uji T, nilai probabilitas dapat dilihat dari hasil pengelolaan SPSS pada tabel Coefficient kolom sig atau significance (Ghozali,2009:25). jika probabilitas > 0,05 atau thitung < ttabel pada taraf signifikansi 0,05, maka hipotesis ditolak. Sebaliknya, jika probabilitas < 0,05 atau nilai thitung >

ttabel pada taraf signifikansi 0,05, maka hipotesis diterima.

45 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Pada gambaran lokasi penelitian akan menyajikan dua gambaran umum, yaitu gambaran umum Kabupaten Gowa dan gambaran umum mengenai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD). Gambaran umum Kabupaten Gowa mencakup kondisi geografis, kependudukan serta visi dan misi Kabupaten Gowa. Sedangkan gambaran Badan Pengelolaan Keuangan Daerah meliputi struktur organisasi, uraian tugas, fungsi dan tata kerja serta visi dan misi Badan Pengelolaan Keuangan Daerah.

1. Kondisi Geografis

Kabupaten Gowa berada pada 12º38.16’ Bujur Timur dari Jakarta dan 5º33.6’ Bujur Timur dari Kutub Utara. Sedangkan letak wilayah administrasinya antara 12º33.19’ hingga 13º15.17’ Bujur Timur dan 5º5’ hingga 5º34.7’ Lintang Selatan dari Jakarta. Kabupaten yang berada pada bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan ini berbatasan dengan 7 kabupaten/kota lain, yaitu di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba, dan Bantaeng. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian Barat berbatasan dengan Kota Makassar dan Takalar.

Luas wilayah Kabupaten Gowa adalah 1.883,33 km² atau sama dengan 3,01% dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan definitif sebanyak 167 dan 726 Dusun/Lingkungan.

Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Mamuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Selebihnya 27,74% berupa dataran rendah dengan topografi tanah yang datar meliputi 9 Kecamatan yakni Kecamatan Somba Opu, Bontomarannu, Pattallassang, Pallangga, Barombong, Bajeng, Bajeng Barat, Bontonompo dan Bontonompo Selatan.

Dari total luas Kabupaten Gowa, 35,30% mempunyai kemiringan tanah diatas 40 derajat, yaitu pada wilayah Kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya, Bontolempangan dan Tompobulu. Dengan bentuk topografi wilayah yang sebagian besar berupa dataran tinggi, wilayah Kabupaten Gowa dilalui oleh 15 sungai besar dan kecil yang sangat potensial sebagai sumber tenaga listrik dan untuk pengairan. Salah satu diantaranya sungai terbesar di Sulawesi Selatan adalah sungai Jeneberan oleh Pemerintah Kabupaten Gowa yang bekerja sama dengan Pemerintah Jepang, telah membangun proyek multi fungsi DAM Bili-Bili dengan luas + 2.415 Km² yang dapat menyediakan air irigasi seluas + 24.600 Ha, konsumsi air bersih (PAM) untuk masyarakat Kabupaten Gowa dan Makassar

sebanyak 35.000.000 m² dan untuk pembangkit tenaga listrik tenaga air yang berkekuatan 16,30 Mega Wait.

Seperti halnya dengan daerah lain di indonesia, diKabupaten Gowa hanya dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim kemarau dimulai pada Bulan Desember hingga Maret. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan, yaitu Bulan April-Mei dan Oktober-November. Jumlah penduduk Kabupaten Gowa pada tahun 2009 sebesar 695.697 jiwa, laki-laki berjumlah 344.740 jiwa dan perempuan sebanyak 350.957 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut 99,18% adalah pemeluk Agama Islam.

Curah hujan di Kabupaten Gowa yaitu 237,75 mm dengan suhu 27,125ºC. Curah hujan terendah pada Bulan Juli-September yang bisa dikatakan hampir tidak ada hujan, sedangkan curah hujan tertinggi yang dipantau oleh beberapa stasiun/pos pengamatan terjadi pada Bulan Desember yang mencapai rata-rata 676 mm.

2. Kondisi Demografi

Dilihat dari jumlah penduduk, Kabupaten Gowa termasuk Kabupaten terbesar ketiga di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil susenas 2007, penduduk Kabupaten Gowa tercatat sebesar 594.423 jiwa. Pada Tahun 2007 bertambah sebesar 1,43%. Persebaran penduduk di Kabupaten Gowa pada 18 kecamatan bervariasi. Hal ini terlihat dari kepadatan penduduk per kecamatan yang masih sangat timpang. Untuk wilayah Somba Opu, Pallangga, Bontonompo, Bontonompo Selatan, Bajeng dan

Bajeng Barat, yang wilayahnya hanya 11,42% dari seluruh wilayah Kabupaten Gowa, dihuni oleh sekitar 54,45% penduduk Gowa.

Sedangkan wilayah Kecamatan Bontomarannu, Pattallassang, Parangloe, Manuju, Barombong, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu, yang meliputi sekitar 88,58% wilayah Gowa hanya dihuni oleh sekitar 45,55%

penduduk Gowa. Keadaan ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh faktor keadaan geografis daerah tersebut.

Bila dilihat dari kelompok umur, penduduk anak-anak (usia 0-14 tahun) jumlahnya mencapai 31,12%, sedangkan penduduk usia produktif mencapai 63,18% dan penduduk usia lanjut terdapat 5,70%

dari jumlah penduduk di Kabupaten Gowa, terdapat 293.956 atau 49,45% laki-laki dan 300.467 atau 50,55% perempuan. Dengan demikian, secara keseluruhan penduduk laki-laki di Kabupaten Gowa jumlahnya lebih sedikit dari jumlah penduduk perempuan seperti yang tampak pada rasio jenis kelamin penduduk yang mencapai 98 artinya ada sejumlah 98 penduduk laki-laki di antara 100 penduduk perempuan.

3. Visi dan Misi Kabupaten Gowa a. Visi

“Terwujudnya Masyarakat yang berkualitas, mandiri dan berdaya saing dengan tata kelola Pemerintahan yang baik.”

b. Misi

1) Meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia berbasis pada hak-hak dasar kesetaraan gender, nilai budaya dan agama.

2) Meningkatkan perekonomian daerah berbasis pada potensi unggulan dan ekonomi kerakyatan.

3) Meningkatakan pembangunan infrastruktur berorientasi pada interkoneksitas antar wilayah dan sektor.

4) Meningkatkan pengembangan wilayah kecamatan, desa dan kelurahan.

5) Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih dan demokratis.

4. Struktur Organisasi

Dalam struktur organisasi pemerintah daerah merupakan wadah pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah daerah dan sebagai proses interaksi antara pemerintah dengan institusi daerah lainnya dengan masyarakat sebagai pilar pembangunan daerah. Struktur Tata Kerja Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa berdasarkan Peraturan Bupati Gowa Nomor 68 Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

STRUKTUR ORGANISASI

BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Gambar 4.1 5. Uraian Tugas dan Fungsi

a. Kepala Badan

1) Kepala Badan mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan bidang pengelolaan keuangan daerah berdasarkan kewenangan dan tugas

KEPALA BADAN

DAN KAS DAERAH Sub Bidang Pengelolaan Belanja Tidak Langsung Dan Pembiayaan Daerah

pembantuan yang ditugaskan kepada daerah sesuai ketentuan perundang-undangan.

2) Kepala Badan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyelenggarakan fungsi:

a) Perumusan kebijakan urusan pemerintah bidang pengelolaan keuangan daerah.

b) Pelaksanaan kebijakan urusan pemerintahan bidang pengelolaan keuangan daerah.

c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan bidang pengelolaan keuangan daerah.

d) Pelaksanaan administrasi Badan, dan

e) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati terikat tugas dan fungsinya.

b. Sekretariat

1) Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan koordinasi kegiatan, memberikan pelayanan teknis dan administrasi penyusunan program, pelaporan, umum, kepegawaian dan keuangan dalam lingkungan Badan.

2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris menyelenggarakan fungsi:

a) Pengoordinasian pelaksanaan tugas dalam lingkungan Badan.

b) Pengoordinasian penyusunan program dan pelaporan.

c) Pengoordinasian urusan umum dan kepegawaian.

d) Pengoordinasian pengelolaan administrasi keuangan, dan e) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

c. Bidang Anggaran

1) Bidang Anggaran dipimpin oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam mengoordinasikan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Anggaran mempunyai fungsi:

a) Perumusan kebijakan teknis Bidang Anggaran.

b) Pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Anggaran.

c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Bidang Angaran.

d) Pelaksanaan administrasi Bidang Anggaran.

e) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

d. Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah

1) Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah dipimpin oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam mengoordinasikan pelaksanaan perbendaharaan dan kas daerah.

2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah mempunyai fungsi:

a) Perumusan kebijakan teknis Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah.

b) Pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah.

c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah.

d) Pelaksanaan administrasi Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah.

e) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

e. Bidang Aset Daerah

1) Bidang Aset Daerah dipimpin oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam pengelolaan pelaporan aset daerah.

2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Aset Daerah mempunyai fungsi:

a) Perumusan kebijakan teknis Bidang Aset Daerah.

b) Pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Aset Daerah.

c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Bidang Aset Daerah.

d) Pelaksanaan administrasi Bidang Aset Daerah.

e) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

f. Bidang Akuntansi

1) Bidang Akuntansi dipimpin oleh Kepala Bidang yang mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan pelaporan pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Bidang Akuntansi mempunyai fungsi:

a) Perumusan kebijakan teknis Bidang Akuntansi.

b) Pelaksanaan kebijakan teknis Bidang Akuntansi.

c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan Bidang Akuntansi.

d) Pelaksanaan administrasi Bidang Akuntansi.

e) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya.

6. Visi dan Misi a. Visi SKPD

Berdasarkan keadaan saat ini dan perkiraan strategis 5 tahun yang akan datang Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa telah menetapkan visi yang telah dirumuskan dan menjadi komitmen bersama dengan melibatkan seluruh Stakeholders dilingkungan Badan Pengelolaan Keuangan Daerah

Kabupaten Gowa. Adapun visi yang ditetapkan yaitu sebagai berikut:

“Terwujudnya Pengelolaan Keuangan yang Handal dan Akuntabel guna mendukung Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.”

b. Misi SKPD

Dalam rangka mewujudkan harapan yang terkandung dalam visi Badan Pengelolaan Keuangan Daerah maka perlu dirumuskan misi yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan proyeksi kondisi tentang masa depan. Selaras dengan visi yang telah dirumuskan bersama, Badan Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Gowa merumuskan dan menetapkan misi untuk periode tahun 2016 sampai dengan tahun 2021 yaitu sebagai berikut:

Pernyataan Misi tersebut diatas harus diketahui dan dilaksanakan seluruh jajaran pegawai.

1) Meningkatkan kualitas sumber daya aparatur dan kualitas pelayanan administrasi Dinas Pengelolaan Keuangan.

2) Meningkatkan pelayanan publik dan potensi penerimaan keuangan daerah.

3) Meningkatkan pelayanan penatausahaan anggaran yang transparan, efektif, efisien dan akuntabel berbasis teknologi informasi.

4) Meningkatkan pelaksanaan tata kelola barang milik daerah yang baik dan berkelanjutan.

5) Meningkatkan penyusunan laporan keuangan dan akuntansi aset daerah yang transparansi dan akuntabel sesuai dengan kebijakan dan standar akuntansi pemerintah.

Pernyataan Misi tersebut diatas harus diketahui dan dilaksanakan seluruh jajaran pegawai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah sehingga seluruh jajaran pegawai Badan Pengelolaan Keuangan Daerah ikut berperan serta sesuai dengan beban tanggung jawabnya guna mewujudkan harapan yang terkandung dalam visi.

B. Hasil Penelitian

1. Rasio Desentralisasi Fiskal

Tingkat desentralisasi fiskal adalah ukuran untuk menunjukkan tingkat kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan.

Tingkat desentralisasi fiskal dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan total penerimaan daerah.

Semakin tinggi pendapatan asli daerah maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan dalam mendukung otonomi daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berukit:

𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐷𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝐹𝑖𝑠𝑘𝑎𝑙 = Pendapatan Asli Daerah

Total Penerimaan Daerah𝑥 100%

Hasil perhitungan rasio desentralisasi fiskal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1

Perhitungan Rasio Desentralisasi Fiskal Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Total Penerimaan

Daerah (Rp)

Rasio Desentralisasi

Fiskal

2015 154.772.384.000,10 1.450.811.765.394,00 10,67%

2016 187.176.036.300,40 1.612.246.983.358,60 11,61%

2017 268.339.203.299,15 1.790.263.499.730,15 14,99%

2018 217.112.642.503,37 1.781.396.471.000,37 12,19%

2019 238.239.570.974,67 1.870.608.908.440,64 12,74%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.1 di atas, diketahui bahwa Rasio Desentralisasi Fiskal Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 0,94% (11,61%-10,67%), 2016-2017 sebesar 3,38% (14,99%-11,61%), dan 2018-2019 sebesar 0,55% (12,74%-12,19%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 2,80% (14,99%-12,19%).

Grafik Rasio Desentralisasi Fiskal

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.2 2. Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Tingkat ketergantungan keuangan daerah adalah ukuran tingkat kemampuan daerah dalam membiayai aktifitas pembangunan daerah melalui optimalisasi pendapatan asli daerah. Tingkat ketergantungan keuangan daerah dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan total penerimaan APBD tanpa subsidi (Dana Perimbangan). Semakin tinggi rasio ini maka

0,00%

5,00%

10,00%

15,00%

2015 2016 2017 2018 2019

10,67% 11,61%

14,99%

12,19% 12,74%

Rasio Desentralisasi Fiskal

Rasio Desentralisasi Fiskal

semakin besar tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Rasio ini dirumuskan sebagai berukit:

𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐾𝑒𝑡𝑒𝑟𝑔𝑎𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 = Pendapatan Asli Daerah

Total Penerimaan APBD Tanpa Subsidi𝑥 100%

Hasil perhitungan rasio ketergantungan keuangan daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Perhitungan Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Penerimaan non subsidi

(Rp)

Rasio Ketergantungan

2015 154.772.384.000,10 497.024.656.895,00 31,14%

2016 187.176.036.300,40 386.392.821.321,60 48,44%

2017 268.339.203.299,15 486.169.602.967,15 55,19%

2018 217.112.642.503,37 544.313.613.853,37 39,89%

2019 238.239.570.974,67 611.704.058.324,64 38,95%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.2 di atas, diketahui bahwa Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 17,30% (48,44%-31,14%), 2015-2016-2017 sebesar 6,75%

(55,19%-48,44%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 15,30% (55,19%-39,89%), 2017-2018-2019 sebesar 0,94%

(39,89%-38,95%).

Grafik Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.3 3. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Tingkat kemandirian keuangan daerah adalah ukuran untuk menunjukkan tingkat kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pembangunannya. Tingkat kemandirian keuangan daerah dalam penelitian ini diukur dengan cara membandingkan perolehan PAD dengan bantuan pemerintah pusat dan pinjaman. Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi pula kemandirian keuangan daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:

𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐾𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖𝑎𝑛 = Pendapatan Asli Daerah

Bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjaman𝑥 100%

Hasil perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

0,00%

10,00%

20,00%

30,00%

40,00%

50,00%

60,00%

2015 2016 2017 2018 2019

31,14%

48,44%

55,19%

39,89% 38,95%

Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah

Tabel 4.3

Perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Tahun Pendapatan Asli

Daerah (Rp)

Bantuan Pemerintah Pusat

(Rp)

Rasio Kemandirian

2015 154.772.384.000,10 1.201.383.189.499,00 12,88%

2016 187.176.036.300,40 1.309.595.572.037,00 14,29%

2017 268.339.203.299,15 1.403.726.768.455,00 19,12%

2018 217.112.642.503,37 1.387.319.773.146,00 15,65%

2019 238.239.570.974,67 1.426.977.676.116,00 16,70%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.3 di atas, diketahui bahwa Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 1,41% (14,29%-12,88%), 2015-2016-2017 sebesar 4,83%

(19,12%-14,29%), 2018-2019 sebesar 1,05% (16,70%-15,65%).

Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2017-2018 sebesar 3,47% (19,12%-15,65%).

Grafik Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.4 4. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan besarnya perbandingan antara biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan analisis pendapatan yang diterima. Tingkat efisiensi pendapatan asli daerah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rasio biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD terhadap pendapatan asli daerah. Semakin kecil rasio efisiensi maka semakin baik kinerja pemerintah daerah. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:

𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝐴𝐷 =Biaya yg dikeluarkan untuk memungut PAD

Realisasi Penerimaan PAD 𝑥 100%

Hasil perhitungan rasio efisiensi pendapatan asli daerah dapat dilihat pada tabel berikut:

0,00%

5,00%

10,00%

15,00%

20,00%

2015 2016 2017 2018 2019

12,88% 14,29%

19,12%

15,65% 16,70%

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Tabel 4.4

Perhitungan Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Tahun Biaya yang dikeluarkan

untuk memperoleh pendapatan

(Rp)

Pendapatan Asli Daerah

(Rp)

Rasio Efisiensi PAD

2015 119.094.004.465,06 154.772.384.000,10 76,95%

2016 170.049.677.232,00 187.176.036.300,40 90,85%

2017 188.483.936.792,00 268.339.203.299,15 70,24%

2018 213.574.646.495,00 217.112.642.503,37 98,37%

2019 241.628.414.434,57 238.239.570.974,67 101,42%

Sumber: Data primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.4 di atas, diketahui bahwa Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Pemkab Gowa dalam 5 tahun terakhir (2015-2019) hanya mengalami kenaikan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2015-2016 sebesar 13,90% (90,85%-76,95%), 2017-2018 sebesar 28,13% (98,37%-70,24%), 2018-2019 sebesar 3,05% (101,42%-98,37%). Selebihnya mengalami penurunan pada tahun 2016-2017 sebesar 20,61% (90,85%-70,24%).

Grafik Rasio Efisiensi PAD

Sumber: Data diolah sendiri, 2020 Gambar 4.5

Adapun hasil dari perhitungan analisis rasio keuangan Pemerintah Kabupaten Gowa periode 2015-2019 adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Analisis Rasio Keuangan

Tahun X1 X2 X3 Y

2015 10,67 31,14 12,88 76,95 2016 11,61 48,44 14,29 90,85 2017 14,99 55,19 19,12 70,24 2018 12,19 39,89 15,65 98,37 2019 12,74 38,95 16,70 101,42 Sumber: Data primer yang diolah, 2020

0,00%

20,00%

40,00%

60,00%

80,00%

100,00%

120,00%

2015 2016 2017 2018 2019

76,95%

90,85%

70,24%

98,37% 101,42%

Rasio Efisiensi PAD

Rasio Efisiensi PAD

5. Uji Hipotesis

Analisis kinerja keuangan daerah Pemerintah kabupaten Gowa terhadap efisiensi PAD atau pengaruh rasio desentralisasi fiskal, rasio ketergantungan keuangan daerah, rasio kemandirian keuangan daerah terhadap efisiensi PAD dapat dilihat dari analisis regresi berganda dengan menggunakan SPSS (Statistical Produt Service Solution) seperti pada lampiran berikut:

Tabel 4.6

Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 224,437 6,881 32,618 ,020

rasio desentralisasi -64,243 2,947 -7,684 -21,801 ,029

rasio ketergantungan 1,116 ,120 ,765 9,277 ,068

rasio kemandirian 39,080 1,793 6,871 21,799 ,029

a. Dependent Variable: rasio efisiensi

Sumber : Data primer yang diolah, 2020

Berdasarkan hasil analisis regresi yang tertera pada tabel 4.5 diatas, diperoleh persamaan regresi yang distandarkan, yaitu:

Efisiensi = -7,684RDDF + 0,765RK + 6,871RK Di mana:

RDF = Rasio Desentralisasi Fiskal RK = Rasio Ketergantungan RK = Rasio Kemandirian

Model regresi tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikan rasio desentralisasi fiskal satu satuan akan diikuti kenaikan rasio efisiensi sebesar -7,684.

a. Uji T atau Uji Parsial

Berdasarkan data pada tabel diatas, hasil uji hipotesis parsial (uji t) dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X1 terhadap Y adalah sebesar 0,029 < 0,05 dan nilai t hitung -21,801 > t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti terdapat pengaruh antara rasio desentralisasi fiskal terhadap efisiensi PAD.

2) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X2 terhadap Y adalah sebesar 0,068 > 0,05 dan nilai t hitung 9,277 < t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis ditolak yang berarti tidak berpengaruh antara rasio ketergantungan keuangan daerah terhadap efisiensi PAD.

3) Diketahui nilai signifikan untuk pengaruh X3 terhadap Y adalah sebesar 0,029 < 0,05 dan nilai t hitung 21,799 > t tabel 12,706, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti terdapat pengaruh antara rasio kemandirian keuangan daerah terhadap efisiensi PAD.

C. Pembahasan

1. Pengaruh Rasio Desentralisasi Fiskal terhadap Efisiensi PAD Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio desentralisasi fiskal terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar -21,801 dan ttabel sebesar 12,706 dengan nilai signifikansi 0,029. Karena thitung > ttabel dan nilai probabilitasnya < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa rasio desentralisasi fiskal berpengaruh signifikan terhadap efisiensi PAD, tetapi tidak berpengaruh positif dikarenakan tingkat penerimaan daerah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah.

2. Pengaruh Rasio Ketergantungan terhadap Efisiensi PAD

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio ketergantungan keuangan daerah terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar 9,277 dan ttabel

sebesar 12,706 dengan nilai signifikansi 0,068. Karena thitung < ttabel dan nilai probabilitasnya > 0,05, maka hipotesis ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa rasio ketergantungan tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi Pendapatan Asli Daerah.

3. Pengaruh Rasio Kemandirian terhadap Efisiensi PAD

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial, pengaruh rasio kemandirian keuangan daerah terhadap efisiensi PAD dengan menggunakan program SPSS diperoleh thitung sebesar 21,799 dan ttabel

sebesar 12,706 dengan nilai signifikansi 0,029. Karena thitung > ttabel dan nilai probabilitasnya < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis

diterima. Hal ini menunjukkan bahwa rasio kemandirian berpengaruh signifikan terhadap efisiensi Pendapatan Asli Daerah.

Penelitian terdahulu, La Ode Abdul Wahab dkk (2016) yaitu meneliti tentang analisis kemampuan keuangan daerah pemerintah Kabupeten Jayapura yakni pada tingkat ketergantungan keuangan daerah masuk dalam kriteria daerah dengan tingkat ketergantungan yang masih sangat tinggi dan menyebabkan tingkat kemandirian daerah sangat kurang sehingga dengan sendirinya tingkat desentralisasi fiskal juga masuk dalam kriteria sangat kurang. Namun efektifitas dan efisiensi penerimaan PAD Kabupaten Jayapura sudah sangat efektif dan efisien, akan tetapi harus ditingkatkan sehingga dapat mengurangi ketergantungan keuangan daerah Kabupaten Jayapura terhadap pemerintah pusat.

Penelitian ini sama-sama mendapatkan hasil pada tingkat ketergantungan keuangan daerah Kabupaten Gowa dalam kategori sangat tinggi. Pada tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten Gowa dalam kategori kurang. Pada tingkat desentralisasi fiskal dalam kategori kurang. Dan pada tingkat efisiensi Pendapatan Asli Daerah hasil yang didapatkan berbeda, yakni pada penelitian yang dilakukan La Ode Abdul Wahab dkk, nilai efisiensi Pendapatan Asli Daerah dalam kategori sangat efisien.

68 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil pengujian secara parsial diperoleh thitung > ttabel dan nilai probabilitasnya < 0,05, yang berarti hipotesis diterima. Hal ini menunjukkan bahwa rasio desentralisasi fiskal berpengaruh signifikan terhadap efisiensi Pendapatan Asli Daerah, tetapi tidak berpengaruh positif.

2. Hasil pengujian secara parsial diperoleh thitung < ttabel dan nilai probabilitasnya > 0,05, yang berarti hipotesis ditolak. Hal ini

2. Hasil pengujian secara parsial diperoleh thitung < ttabel dan nilai probabilitasnya > 0,05, yang berarti hipotesis ditolak. Hal ini

Dokumen terkait