• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Teknik Analisis Data

Data hasil belajar dalam penelitian ini mencakup 2 aspek, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Setiap ranah memiliki penilaian yang berbeda. Untuk mengetahui tingkat hasil belajar pada aspek kognitif peneliti berpedoman pada hasil tes tertulis dalam bentuk soal uraian. Sedangkan untuk mengetahui tingkat hasil belajar aspek afektif peneliti

berpedoman pada lembar observasi. Perhitungan hasil belajar pada setiap aspek sebagai berikut:

1) Aspek Kognitif

Pengukuran hasil belajar siswa pada aspek kognitif menggunakan tes tertulis.

Adapun teknik penskoran adalah sebagai berikut: a) Ketuntasan Individu

Setiap siswa dikatakan tuntas dalam proses pembelajarannya jika memperoleh nilai ≥ 75 (KKM). Tes kognitif dilaksanakan setiap akhir siklus yang ditunjukkan untuk mengetahui hasil belajar siswa.

Adapun rumus untuk mengetahui ketuntasan individual sebagai berikut:

= 1

Tabel 3.5 Kriteria Skor Ketuntasan Individu

Nilai Individu Keterangan

≤ 74 dari KKM Tidak Tuntas

≥ 75 dari KKM Tuntas

Untuk mengetahui skor rata-rata kelas menggunakan rumus sebagai berikut:

= ∑ ∑

b) Ketuntasan Klasikal

Ketuntasan klasikal dikatakan telah dicapai siswa memenuhi KKM dengan target pencapaian ideal ≥ 75% dari jumlah siswa dalam kelas. Untuk mengetahui ketuntasan secara klasikal menggunakan rumus sebagai berikut:

= 1

1

Keterangan:

KK : ketuntasan klasikal

n1 : jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 n2 : jumlah siswa yang ikut tes (banyaknya siswa) 2) Aspek Afektif

Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada aspek afektif digunakan lembar observasi. Lembar observasi terdiri dari 10 pernyataan yang diisi oleh observer sesuai aktivitas kelompok yang diamati pada setiap siklus pembelajaran. Penilaian hasil belajar aspek afektif dapat dilihat dari skor pada lembar observasi aspek afektif yang diperoleh. Skor yang diperoleh dari lembar observvasi digunakan untuk menentukan berapa besar tanggapan dan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Adapun pedoman pengisian skor

lembar observasi hasil belajar aspek afektif siswa adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6 Pedoman Penskoran Lembar Observasi Kelompok dengan jumlah anggota 5 siswa

Kategori Skor

Jika sebanyak 4-5 siswa dalam kelompok melakukan aspek seperti pada lembar observasi.

5 Jika sebanyak 3 siswa dalam

kelompok melakukan aspek seperti

pada lembar observasi. 4

Jika sebanyak 2 siswa dalam kelompok melakukan aspek seperti pada lembar observasi.

2 Jika hanya 1 siswa dalam kelompok

melakukan aspek seperti pada lembar

observasi. 1

Hasil penskoran akan dirata-rata dan rata-rata persentase aspek afektif siswa dianalisis menggunakan deskriptif kuantitatif, yaitu dengan mencari persentase tertinggi pada tiap kategori kemudian diambil rata-rata keseluruhan kategori seluruh siswa berdasarkan pengamatan dari observer. Rumus yang digunakan untuk mencari persentase skor hasil observasi kelompok sebagai berikut:

p =

1

Keterangan:

p = persentase skor hasil observasi kelompok siswa q = jumlah keseluruhan skor yang diperoleh kelompok r = skor maksimal (total skor)

Adapun kriteria persentase skor hasil belajar ranah afektif siswa dengan lima kategori yaitu kategori sangat tinggi dengan rentang persentase 80% sampai 100%, kategori tinggi dengan rentang persentase 60% sampai 80%, kategori sedang dengan rentang persentase 40% sampai 60%, kategori rendah dengan rentang persentase 20% sampai 40%, dan kategori sangat rendah dengan rentang persentase 0% sampai 20%. Kriteria hasil persentase ranah afektif siswa terhadap pembelajaran dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3.7 Kriteria Persentase Hasil Belajar Siswa Ranah Afektif terhadap Pembelajaran Persentase (%) Keterangan 80 p ≤ 100 Sangat Tinggi 60 p ≤ 80 Tinggi 40 p ≤ 60 Sedang 20 p ≤ 40 Rendah 0 ≤ p ≤ 20 Sangat Rendah Sumber : Arikunto, 2010

Setelah data observasi siswa secara kelompok diperoleh, kemudian menentukan persentase jumlah kelompok siswa dengan hasil belajar minimal tinggi digunakan perhitungan sebagai berikut:

Persentase =

Sehingga peneliti dapat menentukan kesimpulan berdasarkan target yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Peningkatan hasil belajar siswa ranah afektif selama mengikuti proses pembelajaran lebih atau sama dengan 70% termasuk dalam kategori tinggi.

b. Kuesioner/Angket Motivasi Belajar

Arikunto (2010) menyatakan bahwa angket merupakan sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden maksutnya adalah data atau laporan tentang pribadi responden tersebut. Angket dalam penelitian ini berupa daftar-daftar butir pernyataan yang dibagikan kepada responden atau dalam hal ini adalah siswa dan dipergunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa dan metode pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing. Kuesioner ini terdiri dari 20 item pernyataan. Tiap pernyataan disediakan 4 alternatif jawaban dimana siswa harus memilih salah satu jawaban. Pernyataan-pernyataan tersebut terdiri dari item positif dan item negatif. Empat alternatif jawaban untuk pernyataan positif antara lain sangat tidak setuju (STS) dengan skor 1, tidak setuju (ST) dengan skor 2, setuju (S) dengan skor 3, sangat setuju (SS) dengan skor 4. Empat alternatif jawaban untuk pernyataan negatif antara lain sangat tidak setuju (STS) dengan skor 4, tidak setuju (ST) dengan skor 3, setuju (S) dengan skor 2, sangat setuju (SS) dengan skor 1. Adapun pedoman penskoran kuesioner sebagai berikut:

Tabel 3.8 Pedoman Penskoran

Sumber : Arikunto, 2010

= 1

Hasil skoring tersebut kemudian dianalisis menggunakan perhitungan motivasi belajar siswa perindividu, yaitu jumlah skor yang diperoleh (∑S) dibagi skor maksimal (M) dan dikali seratus persen. Bila dituliskan dalam persamaan matematisnya adalah sebagai berikut:

K = 1

Keterangan:

K = persentase ketercapaian motivasi ∑s = jumlah skor maksimal yang diperoleh M = skor maksimal

Setelah skor motivasi diperoleh, dilakukan penggolongan skor motivasi belajar sesuai dengan kriteria motivasi belajar. Adapun kriteria motivasi belajar siswa dengan lima kriteria yaitukriteria sangat tinggi dengan rentang persentase 80% sampai 100%, kriteria tinggi dengan rentang persentase 60% sampai 80%, kriteria sedang dengan rentang persentase 40% sampai 60%, kriteria rendah dengan rentang persentase 20% sampai 40%, dan

Pernyataan Positif Negatif

Jawaban SS S TS STS SS S TS STS

kriteria sangat rendah dengan rentang persentase 0% sampai 20%. Berikut adalah tabel kriteria motivasi belajar siswa:

Tabel 3.9 Kriteria Motivasi Belajar

Kelas Interval (%) Kriteria Motivasi Belajar 80 KI ≤ 100 Sangat Tinggi 60 KI ≤ 80 Tinggi 40 KI ≤ 60 Sedang 20 KI ≤ 40 Rendah 0 ≤ KI ≤ 20 Sangat Rendah Sumber : Arikunto, 2010

Kemudian untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe Snowball Throwing, peneliti menghitung pencapaian motivasi belajar awal dan akhir berdasarkan banyaknya siswa yang tergolong dalam kategori tinggi maupun sangat tinggi.

KM = ( +∑

1

Keterangan:

KM = ketercapaian motivasi

∑a = jumlah siswa dalam kategori tinggi

∑b = jumlah siswa dalam kategori sangat tinggi n = banyaknya siswa

I. Validitas Instrumen

Validitas instrumen dilakukan untuk menguji keabsahan dan instrumen yang telah dibuat dapat digunakan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Instrumen yang akan di validasi yaitu sebagai berikut:

1. Instrumen Tes

Validitas instrument tes dilakukan dengan mempertimbangkan isi. Validitas isi berkenaan dengan kesanggupan alat penilaian dalam mengukur isi yang seharusnya. Artinya, tes tersebut mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variabel yang hendak dibentuk. Selanjutnya, akan meminta bantuan ahli yang berkompeten dibidangnya untuk menilai apakah instrumen yang dibuat telah memenuhi kelayakan sebagai alat pengumpulan data (Sudjana, 2010). Tenik validitas pakar (expert judgment) dilakukan peneliti dengan meminta bantuan guru mata pelajaran dan dosen pembimbing untuk menelaah konsep materi instrumen tes prestasi belajar siswa, sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian sesuai dengan keadaan siswa di sekolah yang bersangkutan. 2. Intrumen Nontes

Validitas instrumen nontes yang meliputi kuisioner, dan observasi siswa. Validitas dalam hal ini yaitu dengan membuat kisi-kisi. Selanjutnya, akan meminta bantuan ahli yang berkompeten dibidangnya untuk menilai apakah instrumen yang telah dibuat memenuhi kelayakan sebagai alat pengumpul data (Sudjana, 2010).

Dokumen terkait