BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis data
Penelitian ini menggambarkan metode deskriptif dengan analisis kualitatif berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, kepustakaan, dan data Online. Data dianalisis secara detail dan sistematis sehingga dapat menjelaskan implementasi strategi public relations dan manajemen krisis PT PLN (Persero) menghadapi isu mafia pulsa listrik.
Salah satu karakteristik utama dalam melakukan analisis data kualitatif adalah kemampuan menganalisa dengan mencermati data-data yang ada, untuk kemudian diinterpretasikan berdasarkan kerangka pemikiran atau kerangka teori yang digunakan. Menurut Miles dan Huberman (1992:20) dalam menganalisa data kualitatif, terdapat empat komponen utama yaitu pengambilan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Semuanya saling berkaitan dengan menentukan hasil akhir analisis.
a. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan berdasarkan teknik pengumpulan data yang telah dipaparkan diatas yang meliputi observasi, wawancara, studi pustaka dan pengumpulan data online.
a. Reduksi data
Merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data (kasar) yang ada dalam fieldnote. Fieldnote merupakan catatan hasil wawancara dan observasi pada penelitian data kualitatif. Reduksi data adalah bagian dari analisis yang mempersingkat dan membuat fokus serta membuang hal yang tidak penting, mengatur data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat dilakukan.
b. Sajian data
Sajian informasi dalam bentuk kalimat yang disusun secara logis dan sistematis sehingga mudah dipahami. Sajian data ini harus mengacu pada rumusan masalah yang dijadikan sebagai pertanyaan penelitian sehingga yang tersaji adalah deskripsi mengenai kondisi yang menceritakan dan menunjuk permasalahan yang ada.
c. Penarikan kesimpulan
Kesimpulan merupakan hal penting sebagai upaya untuk melakukan justifikasi temuan peneliti. Justifikasi dilakukan dengan cara menarik hubungan dari latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian untuk mencari jawaban hasil penelitian yang selanjutnya dianalisis. Kesimpulan merupakan penegasan dari temuan penelitian yang telah dianalisis.
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kasual atau interaktif, hipotesis, atau teori.
Teknik analisis data dalam penelitian dilakukan sebelum di lapangan, di lapangan bahkan setelah selesai di lapangan, artinya analisis data ini benar-benar dilakukan secara terus menerus. Data-data yang terkumpul berupa kata-kata, kalimat-kalimat atau narasi, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi disusun menjadi laporan yang sistematis. Karena penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif maka hasil penelitian akan disajikan secara induktif (dari yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum) dalam bentuk narasi dan di akhir akan ditarik sebuah kesimpulan dari hasil penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Penelitian ini dilakukan terhadap empat informan yang tercatat sebagai pegawai divisi public relations dan tim manajemen krisis PLN Kantor Pusat, Jakarta. Penelitian ini hanya dibatasi terhadap empat informan karena data yang diperoleh sudah cukup dan jenuh yang artinya penambahan informasi tidak akan memberi informasi baru dan berarti bagi penelitian ini. Mereka yang terpilih sebagai informan adalah individu-individu yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan peneliti dan juga sesuai dengan teknik penarikan sampel yang dipilih yaitu purposive sampling dimana individu yang dipilih adalah pegawai divisi public relations dan juga tim manajemen krisis PLN Kantor Pusat, Jakarta.
Peneliti memilih PLN Kantor Pusat sebagai tempat penelitian mengingat krisis terjadi bersangkutan dengan PLN sehingga PLN Kantor Pusat harus turun tangan untuk menangani hal tersebut. Pernyataan dari seorang menteri yang menuding bahwa adanya mafia pulsa listrik di PLN menjadi bahan pertimbangan peneliti untuk mengamati lebih jauh apa pnyebab krisis mafia pulsa listrik dan apa saja strategi yang telah dilakukan PR PLN dalam menangani krisis tersebut.
4.2 Deskripsi Lokasi Penelitian
PT PLN (Persero) Kantor Pusat beralamatkan di jalan trunojoyo Blok M-I No. 135 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Letak kantor pusat PLN berada di seberang gedung Markas Besar Polisi Republik Indonesia. Kantor pusat PLN ini memiliki banyak fasilitas yang juga mendukung produktivitas para pegawai dan karyawan. Adanya café,food court, dan juga restoran menjadikan pegawai PLN tidak perlu memakan banyak waktu untuk makan siang diluar. Kantor pusat PLN juga menyediakan klinik khusus untuk para pegawai dan karyawan. Setiap pegwai dan karyawan diberikan kartu kesehatan untuk mempermudah mereka untuk cek kesehatan, kartu kesehatan PLN tersebut juga membebaskan biaya kesehatan untuk pegawai dan karyawan. Adanya lapangan basket juga hall yang biasa digunakan untuk melakukan senam sore khusus untuk para ibu. PLN juga melakukan senam sehat bersama setiap hari Jumat pagi, kegiatan olahraga
bulutangkis, dan juga tenis meja hal tersebut dilakukan untuk mengurasi tingkat stress dalam pekerjaan.
Adapun orang beberapa yang telah ditunjuk untuk menjalankan PLN sebagai direktur utama. Pada tahun 1979 sampai tahun 1984 direktur utama PLN adalah Suryono, setelah menjabat selama kurang lebih 5 tahun beliau digantikan oleh Sardjono. Sardjono menjabat menjadi direktur utama PLN sejak tahun 1984 hingga 1988. Setelah 4 tahun menjabat beliau digantikan oleh Ermansyah Jamin.
Ermansyah Jamin adalah seorang teknorat dan professional Indonesia, beliau menjabat menjadi direktur utama PLN sejak tahun 1988 hingga 1992. Setelah menjabat kurang lebih 4 tahun, beliau ditarik oleh departemen pertambangan dan energi untuk menjadi staf ahli menteri dan posisi direktur utama PLN diberikan kepada Zuhal. Muhammad Zuhal adalah mantan menteri Indonesia kabinet reformasi pembangunan, beliau menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 1992 hingga 1995.Setelah menjabat selama kurang lebih 3 tahun, beliau digantikan oleh Djiateng. Djiateng Marsudi menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 1995 hingga 1998. Setelah menjabat selama kurang lebih 3 tahun, beliau digantikan oleh Adi Satria. Adi Satria menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 1998 hingga tahun 2000. Setelah menjabat selama kurang lebih 2 tahun, beliau digantikan oleh Kuntoro.
Kuntoro Mangkusubroto menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 2000 hingga tahun 2001. Setelah menjabat kurang lebih 1 tahun, beliau digantikan oleh Eddie. Eddie Widiono menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 2001 hingga tahun 2008. Masa jabatan yang panjang kurang lebih 8 tahun tersebut diakhiri dan digantikan oleh Fahmi. Fahmi Mochtar menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 2008 hingga tahun 2009. Tidak bertahan lama kurang lebih 1 tahun digantikan oleh Dahlan. Dahlan Iskan menjabat menjadi direktur utama sejak tahun 2009 hingga tahun 2011. Setelah 2 tahun menjabat, beliau digantikan oleh Nur Pamudji. Beliau menajabat menajadi direktur utama sejak tahun 2011 hingga tahun 2014. Setelah menajabt selama kurang lebih 3 tahun, beliau digantikan oleh Sofyan Basir.
Berdasarkan Peraturan Direksi No. 0179.P/DIR/2016, tanggal 3 Mei 2016 telah diputuskan bahwa Sofyan Basir menjabat sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero). PLN memiliki 11 Direktur perusahaan antara lain yaitu Nicke Widyastuti sebagai Direktur Perencanaan Korporat, Supangkat Iwan Santoso sebagai Direktur Pengadaan, Muhammad Ali sebagai Direktur Human Capital Management, Sarwono Sudarto sebagai Direktur Keuangan, Amir Rosidin sebagai Direktur Bisnis regional Bagian Sumatera, Murtaqi Syamsuddin sebagai direktur Bisnis Regional Jawa bagian Barat, Nasri Sebayang sebagai Direktur Regional Jawa bagian Tengah, Amin Subekti sebagai Direktur Bisnis Regional Jawa bagian Timur & Bali, Djoko R. Abu Manan sebagai Direktur Bisnis Regional Kalimantan, Machnizon sebagai Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat, dan Haryanto W.S. sebagai Direktur Bisnis Regional Maluku &
Papua. Adapun juga Satuan dan Bagian yang dibawahi langsung oleh Direktur Utama, antara lain Satuan Pengawasan Intern, Satuan Hukum Korporat, Satuan Pengendalian Kinerja Korporat, Sekretaris Perusahaan, dan Satuan Komunikasi Korporat.
PLN Kantor Pusat menjadi lokasi penelitian skripsi ini. Tempat di lantai tiga, ruangan Satuan Komunikasi Korporat adalah tempat dimana pegawai divisi public relations menjalankan tugas kepegawaiannya sehari-hari. Wawancara dengan ketiga informan berlangsung diruangan tersebut. Sedangkan satu informan lainnya melakukan wawancara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan PLN Ragunan.
Keempat informan yang notabene menjabat sebagai pegawai di divisi public relations PLN merupakan pihak yang bertanggungjawab menyampaikan dan menginformasikan segala hal yang berkaitan dengan PLN. Informasi yang disampaikan termasuk krisis mafia pulsa listrik yang sudah terjadi di PLN.
Divisi public relations PLN dibawahi oleh Satuan Komunikasi Korporat.
Satuan Komunikasi Korporat (Skom) adalah salah satu satuan dari 8 satuan yang ada di PLN. Satuan komunikasi korporat saat ini dipimpin oleh I Made Suprateka.
Satuan komunikasi korporat terbagi menjadi 2 divisi, yaitu public relations (PR) dan divisi corporate social responsibility (CSR). Peneliti melakukan penelitian di divisi public relations. Tugas kepala satuan komunikasi korporat untuk bagian public relations adalah bertanggungjawab dalam fungsi komunikasi korporat,
public relations/ hubungan masyarakat, hubungan dengan media, hubungan komunikasi pihak internal dan eksternal. Letak kantor satuan komunikasi korporat berada di lantai 3 gedung utama PLN Kantor Pusat. Lantai 3 selain diisi oleh satuan komunikasi korporat juga ada bagian Sekertaris Perusahaan (Sekper).
Ruangan yang diisi oleh 2 bagian menjadikan ruang PR PLN terlihat kecil dan sempit. Keterbatasan tempat duduk dan ruang gerak menjadikan PR PLN mengambil kebijakan untuk tidak menerima anak magang lebih dari 2 orang.
Namun meskipun terlihat sempit, susunan meja kerja staf PR PLN sangat rapi sehingga menciptakan suasana kerja yang tetap nyaman.
Di ruangan bagian divisi PR, tersedia 2 televisi yang digunakan untuk melakukan monitoring media. Terlihat juga di dekat TV, papan tulis berwarna putih untuk mnuliskan jobdesk PR setiap minggu. Hal tersebut membantu para staf untuk mengingat hal yang harus dikerjakan dan yang harus dipersiapkan saat itu. Terlihat juga di depan pintu masuk ruangan satuan komunikasi korporat dan sekertaris perusahaan adanya beberapa meja dan kursi yang disediakan untuk tamu yang berkunjung atau ingin menemui salah satu staf. Saat peneliti berkunjung melakukan penelitian, peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu informan di tempat tersebut. Lingkungan yang nyaman dan bersih di ruang tunggu tersebut, membuat para tamu yang berkunjung akan nyaman juga.
4.1.2 Proses Penelitian
Proses penelitian ini dimulai sejak bulan Oktober 2016 lalu. Peneliti memiliki langkah awal yang baik dikarenakan peneliti pernah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PLN Kantor Pusat khususnya di divisi public relations selama 2 bulan. Hal tersebut memudahkan peneliti untuk berkomunikasi langsung dengan PR PLN Kantor Pusat. Peneliti menghubungi salah satu PR PLN melalui whatsapp dikarenakan jarak antara peneliti dengan informan terlampau jauh untuk bertatap muka secara langsung untuk menanyakan ijin dan juga seputar informasi awal mengenai krisis mafia pulsa listrik yang terjadi awal bulan September 2015.
Pihak PLN menerima baik untuk menjadikan isu tersebut sebagai sebuah penelitian mahasiswa demi memberikan pengetahuan mendalam mengenai
penanganan krisis juga menjadi pengetahuan umum mengenai cara pembayaran listrik prabayar.
Proses penelitian ini berlangsung cukup lama. Peneliti lebih dulu memastikan bahwa perusahaan mengijinkan untuk menjadikan isu tersebut sebgai sebuah penelitian kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan proposal, melakukan seminar hingga penyusunan proposal wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di PLN Kantor Pusat Jakarta sehingga peneliti membutuhkan waktu dan biaya dalam melakukan penelitian ini.
Satu minggu sebelum berangkat ke kota Jakarta untuk melakukan penelitian, peneliti menghubungi salah satu PR PLN melalui whatsapp untuk memastikan kesediaan waktu melakukan wawancara. PR PLN yang telah dihubungi oleh peneliti tidak memberikan respon. Setelah satu minggu berlalu, informan masih belum memberikan respon sehingga peneliti kembali menanyakan kesediaan waktu untuk wawancara dengan kalimat yang lebih sopan melalui whatsapp. PR PLN tersebut memberikan respon dan mengatakan bahwa ia tidak memiliki waktu untuk melakukan wawancara, ia menyarankan untuk melakukan wawancara dengan PR yang lain. Setelah meminta kontak PR PLN yang lain, peneliti melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kepada PR PLN pertama utnuk menanyakan kesediaan wawancara melalui whatsapp dan ia bersedia untuk dijadikan informan pertama peneliti namun ia tidak bisa melakukan wawancara di PLN Kantor Pusat melainkan di PLN Pusdiklat Ragunan dikarenakan adanya rapat kurikulum yang harus dihadiri oleh beliau.
Pada tanggal 27 Desember 2016, sesuai dengan janji temu yang telah ditentukan jam 13.00 WIB peneliti datang menemui informan pertama yang bernama Ahmed di PLN Pusdiklat Ragunan, Jakarta. Wawancara berlangsung kurang lebih 30 menit dikarenakan adanya rapat yang harus dihadiri kembali setelah jam makan siang kantor. Wawancara yang berlangsung berjalan dengan lancar, informasi yang diberikan oleh informan pertama cukup banyak dan juga penjelasan yang diberikan mudah dimengerti oleh peneliti. Komunikasi yang berlangsung antara peneliti dengan informan pertama sangat baik dikarenakan informan telah mengenal peneliti saat masa Praktek Kerja Lapangan (PKL) sehingga dengan hal tersebut, informan pertama bersedia membantu peneliti untuk
menemukan informan kedua. Setelah melakukan wawancara peneliti langsung menghubungi informan kedua, untuk menanyakan kesediaan waktu untuk melakukan wawancara penelitian melalui whatsapp. Informan kedua menanggapi hal tersebut dengan baik, beliau bersedia untuk memberikan waktu untuk diwawancarai oleh peneliti.
Pada tanggal 28 Desember 2016, sesuai dengan janji temu yang telah disepakati, setelah jam makan siang peneliti sudah berada di ruangan informan kedua. Infoman kedua adalah Sampurno selaku Deputi Manager Hubungan Masyarakat. Wawancara berlangsung di PLN Kantor Pusat. Wawancara yang dilakukan bersama informan kedua membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit.
Wawancara tersebut memberikan informasi yang lebih lengkap dalam penggunaan strategi PLN dalam menangani krisis mafia pulsa listrik tersebut.
Selain memberikan informasi strategi penanganan isu, informan kedua juga memberikan bahan konferensi pers yang dilakukan PLN untuk memberikan penjelasan kepada media dalam menghitung biaya listrik prabayar dan juga gambar-gambar ilustrasi iklan edukasi perhitungan biaya listrik prabayar untuk media-media cetak.
Setelah melakukan wawancara dengan informan kedua, peneliti menghampiri salah satu PR PLN yang dikenal untuk menanyakan langsung kesediaan waktu wawancara dan hal tersebut membuat peneliti memiliki informan ketiga pada hari yang sama. Informan ketiga bernama Dian selaku pegawai divisi public relations di PLN Kantor Pusat. Wawancara dilakukan di ruang tunggu divisi public relations PLN Kantor Pusat. Informan ketiga tidak melakukan wawancara dengan waktu selama informan kedua dikarenakan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum waktunya pulang namun, informasi yang diberikan memberikan menunjukkan adanya kesamaan informasi yang disampaikan oleh informan pertama dan kedua. Selesainya wawancara yang dilakukan dengan informan ketiga, peneliti meminta bantuan dan dukungan untuk dapat menemukan informan keempat. Pada akhirnya informan ketiga membantu peneliti menemukan informan keempat. Sama seperti informan satu, dua, dan tiga hal yang dilakukan terlebih dahulu adalah untuk menanyakan kesediaannya untuk melakukan wawancara penelitian. Dikarenakan pekerjaan yang harus diselesaikan
masih banyak, informan keempat meminta untuk melakukan wawancara besok setelah jam makan siang.
Sesuai dengan janji temu yang disepakati pada tanggal 29 Desember 2016 setelah makan siang peneliti sudah menunggu di ruang tunggu divisi public reations untuk melakukan wawancara dengan informan keempat. Informan keempat adalah Hasti selaku pegawaidivisi public relations PLN Kantor Pusat.
Wawancara membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Informasi yang diberikan juga kurang lebih sama dari yang disampaikan oleh informan pertama, kedua dan ketiga.
Tidak selesai sampai disitu, peneliti kembali mendatangi PLN Kantor Pusat pada tanggal 30 Desember 2016 untuk meminta data-data yang dapat dijadikan sebagai validasi data dalam melaksanakan strategi-strategi penanganan isu mafia pulsa listrik. Data-data yang didapatkan oleh peneliti berupa gambar ilustrasi pembayaran listrik prabayar, berita-berita penanganan isu, press release, video edukasi Youtube mengenai pembayaran listrik prabyara, dan juga video dirut PLN mengklarifikasi isu mafia pulsa listrik tersebut. Setelah peneliti menyelesaikan hal-hal yang diperlukan dalam penelitian, Sampurno Marnoto, selaku deputi manajer hubungan masyarakat PLN Kantor Pusat menandatangani surat ijin penelitian sebagai bukti bahwa penelitian pada tanggal 21-30 Desember 2016 telah dilaksanakan.
4.1.3 Deskripsi Profil Informan 4.1.3.1 Informan Pertama
Ahmad Hidayat adalah salah satu staf PR Satuan Komunikasi Korporat PLN Kantor Pusat. Ahmad Hidayat yang dikenal dengan nama panggilannya Ahmed lahir pada tanggal 24 April 1989. Beliau adalah salah satu lulusan S1 jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Bandung. Beliau mulai bergabung menjadi salah satu pegawai divisi public relations sejak tahun 2015 hingga sekarang.Beliau bekerja di bagian internal PR PLN yang menjaga hubungan antar pegawai juga melakukan publikasi yang bersifat internal.
Peneliti sudah pernah bertemu dan berkenalan disaat melakukan Praktek Kerja Lapangan pada bulan Juli 2016. Peneliti melihat beliau adalah seseorang
yang santai namun, sangat menguasai bidang pekerjannya yaitu sebagai salah satu staf public relations bagian eksternal. Selama peneliti melakukan praktek kerja lapangan di public relations Satuan Komunikasi Korporat PLN Kantor Pusat membangun hubungan yang baik dengan informan pertama ini. Sifatnya yang ramah dan menyambut baik para pemagang yang ada di kantor menjadikannya sebagai staf yang dikenal paling ramah dan supel. Beliau memiliki hubungan yang baik dengan wartawan, dan mengerti jalan kerja dengan wartawan media. Peneliti memilih Ahmed sebagai informan pertama dikarenakan rekomendasi dari staf lainnya dan juga beliau langsung menerima dan bersedia memberikan waktunya ditengah kesibukannya.
Saat ditemui untuk melakukan wawancara pada tanggal 27 Desember 2016 pada jam 13.00 WIB peneliti menunggu di depan ruang rapat yang dihadiri oleh beliau. Sekitar 3 menit kemudian, beliau keluar dari ruangan rapat menggunakan kemeja putih polos dengan celana berwarna coklat muda berjalan dengan sepatu kulit yang terlihat nyaman berjalan ke arah peneliti dan mulai bersalaman. Keramahan beliau mulai terlihat dengan menanyakan kabar peneliti setelah lama tidak berjumpa. Menanyakan kabar masing-masing adalah salah satu hal yang dilakukan sebelum memulai wawancara dengan beliau. Wawancara yang dilakukan selama 40 menit tersebut sangatlah berharga, peneliti banyak mendapatkan informasi penting dalam wawancara tersebut. Staf PR lainnya mengaku bahwa beliau adalah orang yang tepat untuk mengetahui informasi mengenai krisis yang terjadi pada awal bulan September 2016 itu. Saat peneliti melakukan wawancara, beliau dapat menjawab pertanyaan dengan santai dan lancar. Beliau adalah salah satu PR yang menangani krisis tersebut, sehingga dapat dipercaya sebagai informan yang memberikan informasi yang kredibel.
4.1.3.2 Informan Kedua
Sampurno Marnoto adalah pegawai PLN yang bekerja di bagian public relations Satuan Komunikasi Korporat PLN Kantor Pusat yang menjabat sebagai deputi manajer hubungan masyarakat. Sampurno Marnoto yang dikenal dengan panggilan Sam lahir pada tanggal 12 Agustus 2016. Beliau adalah alumni Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Informan kedua ini sudah menjadi bagian
PR PLN sejak tahun 1995 sampai sekarang. Peneliti mengenal informan kedua sejak memulai Praktek Kerja Lapangan pada bulan Juli 2016 lalu. Beliau sangat ramah, dan memberikan kepercayaan kepada peneliti untuk mengerjakan beberapa tugas seperti merekap data berita-berita di media mengenai PLN.
Peneliti memiliki hubungan yang baik dengan beliau. Beliau juga bersedia menceritakan kesehatannya kepada peneliti saat waktu senggang. Ia memiliki penyakit diabetes yang juga diderita oleh ibunda peneliti. Sejak berbagi pengalaman, beliau semakin ramah dan juga sering mengajak makan siang bersama staf lainnya untuk membangun hubungan yang lebih baik antara pemagang juga staf PR PLN. Keramahan yang ditunjukkan memberanikan diri peneliti untuk menjadikan beliau sebagai informan kedua untuk penelitian skripsi ini.
Peneliti menghubungi informan kedua melaui whatsapp meminta kesediaan beliau untuk memberikan beberapa informasi mengenai krisis pulsa listrikyang terjadi pada bulan September 2015 tersebut. Beliau menyambut hangat permintaan peneliti, seperti biasa ia juga menanyakan kabar dan kondisi kesehatan orangtua peneliti.
Tanggal 28 Desember 2016, tepatnya pukul 12:30 WIB peneliti sudah berada di ruang tunggu divisi PR. Peneliti menunggu sekitar satu jam setelah jadwal makan siang, beliau berjalan kearah peneliti dengan memakai kemeja batik berwarna coklat keemasan, dan juga menggunakan celana hitam yang kelihatan longer setelah bersalamaan beliau mempersilahkan peneliti untuk masuk ke ruangan beliau dan bersiap untuk melakukan wawancara. Wawancara tersebut berlangsung selama kurang lebih 60 menit, wawancara yang tergolong memakan waktu yang lama itu juga memberikan informasi-informasi yang berarti untuk skripsi peneliti. Peneliti dapat menilai bahwa informan kedua menjawab setiap pertanyaan dengan baik dan professional. Beliau juga termasuk salah satu yang menangani krisis mafia pulsa listrik tersebut, sehingga peneliti menilai bahwa informan kedua ini memberikan informasi yang kredibel.
4.1.3.3 Informan Ketiga
Dian Mandasari atau yang dikenal dengan panggilan Manda ini lahir di kota Semarang pada tanggal 21 Oktober 1991. Manda adalah salah satu alumni Hubungan Internasional di Universitas Diponegoro. Informan ketiga ini adalah seorang staf divisi PR sejak tahun 2015 hingga sekarang.Beliau bekerja di bagian eksternal PR PLN sehingga beliau berinteraksi langsung dengan media dan menjembatani antara PLN juga publik.
Beliau dikenal sebagai perempuan yang ramah dan periang dikarenakan
Beliau dikenal sebagai perempuan yang ramah dan periang dikarenakan