BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Teknik Analisis Data
Data yang peneliti dapat akan di analisa menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang muncul berupa data-data tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati dan diproses melalui catatan, kemudian disusun dalam teks dan diperluas. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan beraturan dan instruksional yang terdiri dari:
1. Pengumpulan data sekaligus reduksi data
Reduksi data merupakan proses penggumpulan data penelitian, seorang peneliti dapat menemukan kapan saja, waktu untuk mendapatkan data. Dalam penelitian ini data-data yang di kumpulkan melalui observasi dan wawancara yang berhubungan dengan subjekyang di teliti.
2. Penyajian data, setelah data direduksi disajikan dalam bentuk narasi
Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisirkan tersusun dalam pola hubugan, sehingga semakin mudah dipahami dan merencanakan kerja penelitian selanjutnya. Pada langkah ini peneliti ini berusaha menyusun data yang relevan sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan memiliki makna tertentu. Prosesnya dapat dilakukan dengan cara menmpilkan data, membuat hubungan antar fenomena untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian. Dalam penyajian data disusun secara sistematis sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan atau menjawab masalah yang diteliti. Sehingga ada respon masyarakat terhadap Konstribusi Wisata Ziarah Komplek Pemakaman Syekh Burhanuddin Terhadap Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman.
3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap ke dua.
Menggambil kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data dan penyajian data, sehingga data dapat disimpulkan, dan peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan penarikan kesimpulan sementara masih dapat di uji kembali dengan data dilapangan.32
32A.Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kualitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal.372
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Terbentuknya Nagari Ulakan Tapakis
Nagari Ulakan Berada di Pesisir Pantai Padang Pariaman Sumatera Barat daerah ini terkenal dengan kunjugan bersyafarnya pengikut ulama besar syatariyah Syekh Burhanuddin. Nama Ulakan sendiri berasal dari sebutan penolakan untuk tempat empat sahabat Syekh Burhanuddin yang ditolak kembali belajar dengan Syekh Abdurauf dan diperintah untuk menjadi murid Syekh Burhanuddin atas perintah Syekh Abdurauf sendiri sekaligus membantu Syekh Burhanuddin dalam mengembangkan Agama Islam di Ranah Minang. Nagari Ulakan berada di wilayah pesisir pantai sebelah barat Sumatera tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman sederetan alur pantai kota Padang, berada di dekat Bandara Internasioanal Minangkabau (BIM).
Ulakan merupakan bagian dari wilayah dibawah naungan Kecamatan Ulakan Tapakis tetapi masih merupakan daerah otonom Kerajaan Adat Rantau Minang Kabau (Bak kata pepatah Luhak ba Panghulu, Rantau Barajo) maka dari sinilah berulayat Rajo Nan Sabaleh. Yaitu Rang Kayo Rajo Amai Said, Rang Kayo Rajo Dihulu, Rang Kayo Rajo Sulaiman, Rang Kayo Rajo Mangkuto yang bermahligai di Ulakan dan Rang Kayo Rajo Tan Basa, Rang Kayo Rajo Majo Basa, Rang Kayo Rajo Malaka, Rang Kayo Rajo Malakewi,
Rang Kayo Rajo Datuak Batuah berkuasa di Tapakis Rang Kayo Rajo Sampono berkuasa di Ketaping dan Bijo Rajo Datuak Tamin Alam memegang mandat di Tanjung Medan. Kesebelas penguasa ini memegang sendi Adat dan Sarak.
Pada abad ke XII Masehi (Urang Tuo Nan Barampek) orang tua yang berempat turun dari Darek merintis Nagari (malaco pintalak) membuka ladang. Yaitu Suku Pinyalai, Chaniago, dan Suku Koto. Ketiga Suku inilah yang menjadi Suku Asal yang memilki peranan khusus di Ulakan. Namun, perkembangan empat suku lain membuat belahan datang yaitu Suku Sikumbang datang mengisi adat pada Suku Koto dan Suku Tanjuang mengisi adat pada Suku Jambak yang dahulu malakok mengisi adat ke Suku Koto.
Kemudian belakangan datang Suku Guci membelah ke Suku Panyalai (Chaniago).
Menurut penuturan pemuka adat dan tokoh masyarakat dan data arsip yang ada di Belanda (Al Mc. Gregor Vida de Mathias de Albuer quer-quer dalam buku seaflight near Singapore in the 1570) bahwa Nagari Ulakan dikenal sejak kehadiran Syekh Burhanuddin pada Abad ke 12 Hijriyah atau Abad ke 17 Masehi. Dimana kehadiran Syekh Burhanuddin menjadi pusat perhatian karena dialah orang pertama yang mendirikan sekolah berbentuk pesantren di pulau perca Pantai Sumatera yang kala itu masih berbentuk surau sebagai pusat pendidikan Islam dan Kajian Agama Islam di Minangkabau.
Bersama empat sahabatnya yaitu Datuak Maruhun Panjang dari Padang
Gantiang, sitarapang dari Kubang Tigobaleh Solok, Mohd. Natsir syekh surau baru dari Koto Tangah Padang dan Syekh Buyuang Mudo dari Bayang Pulut Pesisir Selatan yang sebelum selesai belajar dari Syekh Abdurrauf mereka pulang terlebih dahulu dan mencoba mengembangkan ajaran Islam dikampung halaman masing-masing namun tidak mendapat sambutan sehingga kembali ke Aceh dan diperintahkan belajar pada Syekh Burhanuddin di Tanjung Medan Ulakan.
.
2. Lambang Daerah Kabupaten Padang Pariaman berbentuk perisai bersegilima, diatas dasar hijau yang dihiasi dengan :
a. Didalamnya/ditengah-tengah, berdiri sebuah Balairung Adat Bergonjong Lima yang beratap Ijuk (hitam) berdinding hitam.
b. Disamping kiri dan kanan Balirung Adat, terdapat dua batang pohon kelapa berwarna hijau yang mempunyai pelapah lima belas buah Disebelah bawah Balairung Adat, terdapat dua jalur warna biru bergelombang, membayangkan adanya lautan diatas dasar putih.
c. Warna merah melengkung diatas balairung adat, adalah busur/panah dan diujung anak panah ada sebuah bintang bersegi lima.
d. Pada bahagian sebelah atas, tertulis judul Padang Pariaman dan bahagian sebelah bawah tertulis Motto SAIYO SAKATO diatas dasar kuning.
3. Arti Motto SAIYO SAKATO
Pada bahagian sebelah atas, tertulis judul Padang Pariaman dan bahagian sebelah bawah tertulis Motto SAIYO SAKATO diatas dasar kuning.
a. Balairung Adat Melambangkan bahwa rakyat daerah Kabupaten Padang Pariaman mematuhi/menghormati dan melaksanakan ketentuan Adat Minangkabau dan juga lambang tempat permusyawaratan yang menjunjung tinggi Demokrasi.
b. Bintang Merupakan bahagian dari Lambang Negara yakni Lambang Ketuhanan Yang Maha Esa.
c. Pohon Kelapa Lambang kesatuan yang merupakan tanaman utama di daerah Padang Pariaman dengan jumlah pelapah daun 17 buah, menunjukkan banyaknya Kecamatan yang ada dalam Daerah Kabupaten Padang Pariaman.
d. Panah Lambang patriotisme, senjata sakti untuk mempertahankan hak atas jalan kebenaran, musuh tidak dicari-cari (basuo pantang dielakkan).
e. Lautan Melambangkan masyarakat yang dinamis, kreatif yang merupakan manifestasi dari alam fikiran dan perikehidupan masyarakat yang
berpaham luas dan berfikiran tenang. Laut juga merupakan bahwa Daerah Kabupaten Padang Pariaman mempunyai daerah lautan yang luas.
4. Letak Geografis
Secara Geografis Kecamatan Ulakan Tapakis terletak pada 0 18’30”- 0 50’ Lintang Selatan dan 99 56’ – 100 28’ Bujur Timur. Kecamatan Ulakan Tapakis merupakan dari 17 (tujuh belas) kecamatan yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman denga luas wilayah 38,85 Km dan jumlah penduduk 18.369 jiwa. Kecamatan Ulakan Tapakis terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera dengan panjang Garis Pantai 7,5 Km dan ketinggian dari permukaan laut 2,0 Mdpl. Kecamatan Ulakan Tapakis mempunyai 1(satu) buah pulau kecil, yaitu Pulau Pieh seluas 3 Ha. Dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Nan Sabaris Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Batang Anai
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Alung
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kota Pariaman dan Samudera Indonesia
Suhu udara di Ulakan Tapakis berkisar antara 24,40 C – 25,70 C. Suhu udara terpanas jatuh pada bulan Mei, sedangkan suhu terendah terdapat pada bulan September. Kelembaban udara rata-rata 86.75 % dengan kecepatan angin rata-rata yaitu 2.14 knot/jam. Sedangkan rata-rata suhu
maksimum 31.08o C dan rata-rata suhu minimum yaitu 21.34o C dengan curah hujan tercatat rata-rata290.12 mm/tahun.
Topografi wilayah Ulakan Tapakis termasuk iklim tropis besar yang memiliki musim kering yang sangat pendek dan daerah lautan sangat dipengaruhi oleh angin laut. Suhu udara terpanas jatuh pada bulan Mei, sedangkan suhu terendah jatuh pada bulan september.
5. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Nagari Ulakan Tapakis pada tahun 2017 penduduk Ulakan terdapat sebanyak 13.551 jiwa, yang terdiri dari 6.673 laki-laki dan 6.878 perempuan, sedangkan nagari Tapakis terdapat sebanyak 4.793, yang terdiri dari 2.292 laki-laki dan 2.501 perempuan. Secara umum, di nagari Ulakan Tapakis jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Hal ini selaras dengan karakter penduduk Sumatera Barat, dimana penduduk laki-laki Sumatera Barat lebih banyak yang merantau dibandingkan penduduk perempuannya. Dimana jumlah laki-laki di Ulakan Tapakis sebesar 8.965 jiwa, sedangkan perempuan sebesar 9.379 jiwa.
Tabel 4.1
Jumlah tenga kerja di Kecamatan Ulakan Tapakis menurut tingkat pendidikan tahun 2017
No Tingkat pendidikan Total
1 Tidak tamat SD 1.230
2 Tamat SD 4.327
3 Tamat SLTP/SLTA 7.456
4 Diploma/universitas 3.331
Total 16.344
Sumber :Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman 2017
Dari tabel 4.1 jumlah tenaga kerja menurut tingkat pendidikan berjumlah 16.344 dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD 1.230, Tamat SD 4.327, Tamat SLTP/SLTA 7.456, dan Diploma/Universitas 3.331. Jika dilihat jumlah tenaga kerja di kecamatan ulakan tapakis menurut pendidikan lebih banyak Tamat SLTP/SLTA yaitu 7.456.
Tabel 4.2
Jumlah Tingkat Kesejahteraan Keluarga di Kecamatan Ulakan Tapakis Pada Tahun 2017
Sumber :Data Dinas Kependudukan Kabupaten Padang Pariaman 2017
Dilihat dari tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan data dari Dinas Kependudukan sebanyak 18.344 keluarga. Keluarga pada tingkat sejahtera, 6.278 keluarga pada tingkat Pra Sejahtera, 4.327 keluarga pada tingkat Sejahtera I, 2.254 pada tingkat Sejahtera II, 2.200 dan Sejahtera III sebanyak 3.285.33
6. Sosial dan Budaya a). Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk mencerminkan keberhasilan pembangunan suatu daerah. Pendidikan yang tinggi akan memberi pengaruh yang positif bagimasa depan suatu daerah. Pendidikan mempunyai peran penting dalam kehidupanmanusia. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat senantiasa memberikan perhatian yang besar demi perkembangan pendidikan. Dibidang pendidikan telah dilakukan uapaya-upaya pembinaan dan fasilitasi mulai dari program sekolah sampai program pendukung seperti UKS, PLS dan sebagainya.
Pembinaan dilakukan melalui rapat-rapat koordinasi dan dalam setiap upacara sekolah-sekolah.
33Padang Pariaman Dalam Angka Tahun 2017,Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Padang Pariaman
Tabel 4.3
Sarana Pendidikan Kec. Ulakan Tapakis No Tingkat
pendidikan Jumlah
Negeri Swasta
1 TK 2 1
2 SD 17 1
3 SLTP 2
-4 SMA 2
-Jumlah 23 2
Dilihat dari tabel 4.3 ada dua jumlah sarana pendidikan yaitu Negeri dan Swasta. Jumlah tingkat pendidikan negeri berjumlah sebanyak 23 dengan rincian berdasarkan tingkat pendidikan. TK 3, SD 18, SLTP 2, SMA 2. Sedangkan jumlah tingkat pendidikan swasta berjumlah sebanyak 2 dengan rincian berdasarkan tingkat pendidikan.
TK 1, SD 2. Jadi sarana pendidikan di kec. Ulakan Tapakis dilihat dari jumlah lebih banyak negeri dari pada swasta.
b). Agama
Sebagian besar penduduk Kec, Ulakan Tapakis beragama islam.
Tempat ibadah yang merupakan wadah dalam menggerakkan kehidupan beragama dan beramal untuk kepentingan bersama dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.4
Banyaknya Rumah Ibadah di Kec. Ulakan Tapakis NO Tempat Ibadah Jumlah Jumlah
1 Mesjid 5
2 Mushalla 15
3 Gereja
-4 Pura
-5 Wihara
-Jumlah 20
Dari tabel 4.4 banyaknya jumlah rumah ibadah di kec. Ulakan Tapakis berjumlah 20. Dengan rincian Mesjid 5, Mushalla 15.
c). Kesehatan
Guna mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, diperlukan sarana-prasarana dan tenaga kesehatan yang memadai. Saat ini beberapa sumber daya yang tersedia adalah sebagai berikut: Puskesmas 1 buah, Pustu 2 buah, Posyandu 35 buah Poskesri 1 buah dan Tenaga Dokter 1 orang, Tenaga Bidan 11 orang, Kader 110 orang. Program-program bidang kesehatan yang secara teknis dilaksanakan oleh pimpinan Puskesmas Kecamatan Ulakan Tapakis beserta jajaran kesehatan telah dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kecamatan Ulakan Tapakis.
d) Pertanian
Ulakan Tapakis tercatat memiliki lahan sawah seluas 1.810 hektar di tahun 2017. Sebanyak 497 hektar dari total luas lahan sawah tersebut sudah menggunakan irigasi sebagai sistem pengairan, sedangkan sisanya 1.313 hektar masih merupakan sawah non irigasi. Dengan jumlah lahan sawah seluas 1.801 hektar tersebut, Ulakan Tapakis pada tahun 2017 dapat memproduksi padi sebanyak 23.967,04 ton..
B. Deskripsi responden
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara.
Dari wawancara tersebut diperoleh mengenai gambaran umum karakteristik responden, responden dalam penelitian ini adalah pedagang di sekitar komplek pemakaman Syekh Burhanuddin sebanyak 30 orang pedagang.
Karakteristik responden pada penelitian ini antara lain meliputi jenis kelamin dan umur.
Tabel 4.5
Gambaran Umum Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Keterangan Jumlah
(orang) Persentase%
1 Laki-laki 8 26,67%
2 Perempuan 22 73,33%
Jumlah 30 100%
Sumber: Data Primer yang diolah 2018
Berdasarkan tabel 4.5 di atas diketahui dari jenis kelamin responden yang memiliki usaha di komplek pemakaman Syekh Burhanuddin adalah laki-laki sebanyak 8 orang atau 26,67%, dan perempuan sebanyak 22 orang atau 73,33%. Dari tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar yang memiliki perempuan.
Tabel 4.6
Gambaran Umum Responden Berdasarkan Umur
No Keterangan Umur Jumlah
(orang) Persentase%
1 < 20 tahun -
-2 20 – 30 tahun 7 23,33%
3 30 – 40 tahun 18 60%
50 – 60 tahun 5 16,67%
Jumlah 30 100%
Sumber : Data Primer yang diolah 2018
Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui sebagian besar responden yang mempunyai usaha di sekitar komplek pemakaman Syekh Burhanuddin adalah berumur 30 – 40 tahun yaitu sebanyak 60%.
C. Gambaran Umum Tentang Makam Syekh Burhanuddin
Syekh Burhanuddin adalah seorang ulama berpengaruh di Minangkabau dan juga seorang penyebar agama Islam di Sumatera Barat.
Makam ini berada di Ulakan, di wilayah pesisir pantai sebelah barat Sumatera tepatnya di Kabupaten Padang Pariaman dekat Bandara Internasioanal
Minangkabau. Dan hanya berjarak 38,4 kilometer atau sekitar 1,5 jam dari kota Padang.
Ulakan terkenal dengan kunjungan bersyafarnya pengikut ulama besar syatariyah Syekh Burhanuddin. Selain dikenal dengan ulama penyebar Islam di Minangkabau, Ia juga dikenal sebagai ulama sufi tarekat shatariyah di Minangkabau. Tradisi Basapa merupakan salah satu aktivitas ritual keagamaan yang dilakukan oleh muslim tarekat syatariyah. Ritual ini diadakan setiap tahunya, setiap tanggal 10 bulan Syafar di Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan. Tak heran jika tradisi Basapa dilaksanakan, jalur lalu lintas Ulakan ini macet total. Bahkan, di pintu masuk gerbang kawasan Makam Syekh Burhanuddin ditutup. Pengunjung hanya diperbolehkan berjalan kaki.
Desain bangunan areal makam ini cukup unik bercirikan arsitektur masjid pada abad ke-16. Arsitektur Minang terasa kental dengan ciri atap gonjong (runcing) mendominasi bagian atap bangunan makam. Namun, sentuhan arsitek jepang juga terasa di bagian atap bangunan yang memiliki atap tumpang persegi dipadu atap gonjong. Makam Syekh Burhanuddin ini berada dalam sebuah gobah (cungkup makam) yang terbuat dari bata berplester dari keramik dan dipagari besi. Ukuran cungkup ini memiliki lebar 450 sentimeter, panjang 500 sentimeter, dan tingginya 200 sentimeter. Dalam cungkup ini terdapat tiga buah makam, yaitu sisi timur makam Syekh Abdurrahman (merupakan murid dan khalifah pertama penganti Syekh
Burhanuddin), sisi barat makam Syekh Majalelo (salah satu murid Syekh Burhanuddin), sementara makam Syekh Burhanuddin berada di tengah-tengah.
Masing-masing jirat berukuran panjang 210 sentimeter dan lebar 110 sentimeter. Letak ketiga makam ini berhimpitan. Jirat makam Syekh Burhanuddin seluruh pinggirnya telah diberi keramik, nisan makam tersebut terbuat dari batu kecil dengan pengerjaan yang sangat sederhana hanya dibentuk balok dengan pengerjaan yang kasar. Di sisi utara jirat terdapat inskripsi dalam bahasa dan tulisan arab tentang tanggal wafatnya Syekh Burhanuddin yaitu 10 syafar 1111 H (20 Juni 1704 M).
Makam Syekh Burhanuddin ini ramai dikunjungi peziarah penganut tarekat Islam Sattariyah di Sumatera Barat. Lokasi makam ulama tidak pernah sepi oleh peziarah.
Makam Syekh Burhanuddin ini berdiri di areal yang luasnya diperkiran sekitar satu hertar persegi. Makam ini berada tepat di kawasan pasar ulakan yang ramai dikunjungi warga setempat. Selain menjadi lokasi untuk memanjatkan doa bagi penganut tarekat Sattariyah, areal makaam Syekh Burhanuddin merupakan tempat wisata religius bagi penganut Islam.
Saat memasuki areal makam, sejumlah panganan khas daerah menghiasi jalan masuk areal makam. Para pedagang yang berjejer di jalan masuk menuju areal makam didominasi pedagang buku-buku Islam serta batu giok dan Mereka juga menawarkan Qur,an kecil.
Syekh Burhanuddin merupakan ulama penyebar Islam di Minangkabau pada abad ke-17. Ulama besar ini memiliki kekuatan supranatural. Tak hanya menjelang Ramadhan, makamnya juga sangat ramai dikunjungi peziarah jika masuk bulan syafar bertepatan dengan meninggalnya ulama besar ini. Masyarakat setempat menyebut tradisi tersebut dengan istilah
“Basyafar”.
Menurut Ali Imran Tuanku Radhi, juru kunci makam, basyafar merupakan rangkaian ibadah yang dilakukan untuk mengangungkan Sang Pencipta Alam Semesta. Ritual ini juga menyempatkan untuk membuka kembali peninggalan Syekh Burhanuddin yaitu Al-Quran yang terbungkus kulit mayang. Syekh Burhanuddin meninggal pada usia 53 tahun. Dalam berbagai literatur, disebutkan beliau meninggal tanggal 10 Syafar 1111 Hijriah atau tahun 1704 M, dan tanggal ini juga dijadikan sebagai puncak kegiatan Basapa.
D. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman
Berdasarkan hasil penelitian wawancara dan informasi yang di dapatkan di lapangan dari beberapa pedagang dan juru parkir di komplek pemakaman Syekh Burhanuddin adalah sebagai berikut:
Pertama, Ibu Deni Candra Putri, beliau mengatakan bahwa modal yang didapat untuk membuka usaha itu dipinjam dari koperasi. Ibu Deni meminjam sebesar Rp. 4.000.000 dan dibayar per harinya sebesar Rp. 40.000.
Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik sendiri dan untuk membayar retribusinya beliau membayar pajak yang setiap tahunya dibayar sebesar Rp. 10.000 dan Ibu Deni menggatakan bahwa hari yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah adalah pada musim Basapa. Pada musim Basapa omset yang beliau peroleh mencapai Rp.1.000.000 – Rp.
1.500.000/hari. Dan pada hari biasa beliau hanya mendapatkan omset sebesar Rp.250.000 –Rp. 300.000/hari. Ibu Deni sendiri tidak memakai tenaga kerja atau karyawan. Beliau, hanya dibantu oleh keluarganya yaitu anak dan adiknya. Fasilitas atau bantuan untuk berdagang yang diberikan pemerintah daerah ulakan untuk Ibu Deni berupa steling kaca.34
Kedua, Ibu Fitri yeni, beliau mengatakan modal yang di dapat untuk membuka usaha dipinjam dari koperasi. Ibu Fitri meminjam sebesar Rp.
2.000.000 dan di bayar per harinya sebesar Rp. 20.000. Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik sendiri dan untuk membayar retribusinya beliau membayar pajak, yang setiap tahunya dibayar sebesar Rp.
10.000. Ibu Fitri mengatakan bahwa hari yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah adalah pada musim Basapa. Pada musim Basapa omset yang beliau peroleh mencapai Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000/hari. Dan pada hari biasa beliau hanya mendapatkan Rp. 300.000/hari. Ibu Fitri sendiri tidak memakai tenaga kerja atau karyawan. Beliau, hanya dibantu oleh anak dan keluarga terdekatnya. Fasilitas atau bantuan yang diberikan pemerintah
34Wawancara dengan Ibu Deni Candra Putri, 24 Juli 2018
ulakan untuk Ibu Fitri Yeni yaitu berupa steling kaca dan wajan pengorengan.35
Ketiga, Ibu Sari Kayo, beliau mengatakan bahwa modal untuk usaha dalam berdagang dipinjam dari koperasi. Ibu Sari Kayo meminjam kepada koperasi sebesar Rp. 4.000.0000 dan di bayar per harinya sebesar Rp. 40.000.
Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik pemerintah daerah ulakan. Jadi, Ibu Sari Kayo hanya membayar uang iuran retribusinya kepada pemerintah daerah ulakan yaitu sebesar Rp. 500.000/tahunnya. Ibu Sari Kayo mengatakan bahwa hari yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah adalah pada musim Basapa. Pada musim Basapa omset yang diperoleh ibu Sari Kayo adalah sebesar Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000/hari dan pada hari biasa beliau hanya mendapat omset sebesar Rp. 300.000. Pada musim Basapa Ibu Sari Kayo memakai tenaga kerja sebanyak 2 orang pekerja dengan gaji 50.000/orang. Fasilitas atau sarana dan prasarana yang diberikan oleh pemerintah daerah ulakan untuk Ibu Sari Kayo yaitu berupa steling kaca dan wajan pengorengan serta kios untuk berjualan.36
Ke empat, Ibu uncu Ijun, jenis usaha menjual souvenir oleh-oleh khas ulakan. Beliau, mengatakan modal untuk usaha dalam berdagang dipinjam dari Bank beliau meminjam sebesar Rp. 10.000.000 dan dibayar per bulanya sebesar Rp. 500.000. Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik
35Wawancara dengan Ibu Fitri Yeni, 24 Juli 2018
36Wawancara dengan Ibu Sari Kayo, 24 Juli 2018
pemerintah daerah ulakan. Jadi, Ibu Ijun hanya membayar uang iuran kepada pemerintah daerah ulakan yaitu sebesar Rp. 500.000/tahunya. Menurut Ibu Ijun hari yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan atau peziarah adalah pada musim Basapa. Pada musim Basapa omset yang diperoleh Ibu Ijun adalah sebesar Rp. 8.000.000 selama musim basapa. Basapa sendiri berlangsung dalam kurun waktu 1 minggu. Dan pada hari biasa beliau hanya mendapatkan omset sebesar Rp. 100.000 – Rp. 200.000/hari. Ibu Ijun sendiri tidak memakai jasa tenaga kerja beliau hanya dibantu oleh anaknya. Fasilitas yang diberikan dari pemerintah daerah untuk Ibu Ijun berupa meja pajangan untuk souvenir serta kios untuk berjualan.37
Kelima, Ibu Tina, jenis usaha adalah pedagang souvenir. Beliau mengatakan bahwa modal yang digunakan untuk usaha di dapat dari meminjam ke Bank beliau meminjam sebesar Rp. 6.000.000 dan dibayar per bulanya sebesar Rp. 300.000. Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik pemerintah ulakan tapakis. Jadi, Ibu Tina hanya membayar iuran kepada pemerintah daerah ulakan yaitu sebesar Rp. 500.000/tahunnya. Ibu Tina mengatakan bahwa hari yang paling ramai dikunjungi adalah hari
Kelima, Ibu Tina, jenis usaha adalah pedagang souvenir. Beliau mengatakan bahwa modal yang digunakan untuk usaha di dapat dari meminjam ke Bank beliau meminjam sebesar Rp. 6.000.000 dan dibayar per bulanya sebesar Rp. 300.000. Tempat yang digunakan untuk berdagang adalah milik pemerintah ulakan tapakis. Jadi, Ibu Tina hanya membayar iuran kepada pemerintah daerah ulakan yaitu sebesar Rp. 500.000/tahunnya. Ibu Tina mengatakan bahwa hari yang paling ramai dikunjungi adalah hari