• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik Analisis Data

1. Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Uji Validitas

Menurut (Bhuono, 2005:66), Uji validitas digunakan untuk

mengetahui kelayakan butir-butir suatu daftar (struktur) pertanyaan

dalam mendefinisikan suatu variabel. Daftar pertanyaan ini pada

umumnya mendukung suatu variabel tertentu. Validitas adalah ukuran

untuk menunjukkan tingkat kevaliditasan suatu instrumen, suatu

instrumen dikatakan valid apa bila mampu mengukur apa yang diukur.

Uji Validitas dilakukan dengan membandingkan nilai rhitung

dengan rtabel, Dengan membandingkan nilai rhitung dari hasil output

(Corrected Item- Total Correlation) dengan rtabel, jika rhitung lebih besar

dari rtabel maka butir pertanyaan tersebut adalah valid, tetapi jika rhitung

lebih kecil dari pada rtabel maka butir pertanyaan tersebut tidak valid

(Ghozali, 2011:54).

b. Uji Reliabilitas

Setelah menentukan validitas instrumen penelitian tahap

selanjutnya adalah mengukur realibilitas data dari instrumen penelitian.

Reliabilitas adalah alat ukur untuk mengukur suatu kuesioner yang

merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Uji reliabilitas ini

digunakan untuk menguji konsistensi data dalam jangka waktu tertentu,

yaitu untuk mengetahui sejauh mana pengukuran yang digunakan dapat

alpha nya memiliki nilai lebih besar 0,70 yang berarti bahwa instrumen tersebut dapat dipergunakan sebagai pengumpul data yng handal yaitu

hasil pengukuran relatif koefisien jika dilakukan pengukuran ulang. Uji

realibilitas ini bertujuan untuk melihat konsistensi (Ghozali, 2011:48).

2. Pengujian Persyaratan Analisis (Uji Asumsi Klasik)

Pengujian persyaratan analisis digunakan sebagai persyaratan dalam

penggunaan model analisis regresi linier berganda. Suatu model regresi

harus dipenuhi syarat-syarat bahwa data berdistribusi normal, tidak terjadi

multikolinieritas dan heteroskedastisitas. Jika tidak ditemukan permasalahan

maka dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dengan analisis regresi. Dalam

regresi linier, untuk memastikan agar model tersebut BLUE (Best Linear

Unbiased Estimator) dilakukan pengujian sebagai berikut: a. Pengujian Normalitas Data

Uji normalitas data bertujuan mengetahui distribusi data dalam

variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang baik dan layak

digunakan dalam penelitian adalah yang memiliki distribusi normal.

normalitas data dapat dilihat dengan beberapa cara, diantaranya yakni

dengan melihat kurva normal P - plot. Suatu variabel dikatakan normal

jika gambar distribusi dengan titik-titik data yang menyebar di sekitar

garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah mengikuti garis

diagonal. Tekhnik lain yang dapat digunakan untuk menguji hubungan

Menurut Ghozali (2011:147) uji normalitas bertujuan apakah

dalam model regresi variabel dependen (terikat) dan variabel independen

(bebas) mempunyai kontribusi atau tidak. Penelitian yang menggunakan

metode yang lebih handal untuk menguji data mempunyai distribusi

normal atau tidak yaitu dengan melihat normal probability plot. Model

regresi yang baik adalah data distribusi normal atau mendekati normal,

untuk mendeteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran

data (titik) pada sumbu diagonal grafik. Terdapat dua cara untuk

mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan

analisis grafik dan uji statistik (uji Kolmogorov – Smirnov), adapun

penjelasan mengenai uji normalitas data adalah sebagai berikut (Ghozali,

2011:147).

1) Uji Normalitas Secara Grafik

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual

adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara

data observasi dengan distribusi yang mendeteksi distribusi normal.

Namun demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat

menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode

yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot yang

membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi

normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal dan ploting data

residual akan dibandingkan dengan garis diagonal (Ghozali,

2) Uji Normalitas Secara Statistik

Uji normalitas secara grafik dapat menyesatkan kalau tidak

hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik (Ghozali, 2011:163).

b. Pengujian Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2011:106), menyatakan bahwa Uji

multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model

regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel

independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka

variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel-variabel

independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama

dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di

dalam model regresi adalah sebagai berikut:

1) Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris

sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen

banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.

2) Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antar

variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas

0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas.

Tidak adanya korelasi yang tinggi antar variabel independen tidak

berarti bebas dari multikolonieritas. Multikolonieritas dapat

disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel

3) Multikolonieritas dapat juga dilihat dari: (1) Nilai tolerance dan

lawannya; (2) Variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini

menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan

oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap

variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan

diregresikan terhadap variabel independen lainnya. Tolerance

mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak

dijelaskan oleh varibel independen lainnya. Jadi nilai tolerance yang

rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF = 1/Tolerance).

Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolonieritas adalah nilai tolerance < 10 atau sama dengan nilai

VIF > 10 (Ghazali, 2011:106).

c. Pengujian Heteroskedastisitas

Menurut Ghozali (2011:139), Uji Heteroskedastisitas bertujuan

menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari

residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut

Homoskesdatisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model

regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi

Heteroskedastisitas. Kebanyakan data crossection mengandung situasi

Heteroskedastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili

berbagai ukuran (kecil, sedang dan besar). Ada beberapa cara untuk

untuk melihat Grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen)

yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Deteksi ada atau tidaknya

Heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola

tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana

sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y

prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Dasar Analisis:

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola

tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),

maka mengindikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan

dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi

Heteroskedastisitas.

3. Pengujian Hipotesis

a. Uji t (Pengujian Secara Parsial)

Untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial

(individual) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel

dependen. Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh

pengaruh satu variabel individu independen secara individu dalam

menerangkan variabel dependen (Ghozali, 2011:101). Apabila sig t lebih

besar dari 0,05 maka Ho diterima. Demikian pula sebaliknya jika sig t

hubungan yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel

dependen (Ghozali, 2011:101).

Dalam penelitian ini menggunakan uji signifikan dua arah atau

two tailed test, yaitu suatu uji yang mempunyai dua daerah penolakan Ho yaitu terletak di ujung sebelah kanan dan kiri. Dalam pengujian dua arah,

biasa digunakan untuk tanda sama dengan (=) pada hipotesis nol dan

tanda tidak sama dengan (≠) pada hipotesis alternatif. Tanda (=) dan (≠) ini tidak menunjukan satu arah, sehingga pengujian dilakukan untuk dua

arah (Suharyadi dan Purwanto, 2009:88 - 89).

Menurut Suharyadi dan Purwanto (2009:191) dalam menentukan

kriteria dalam uji parsial (Uji t) two tailed test dapat dilihat sebagai

berikut:

1) Uji Hipotesis dengan membandingkan thitung dengan ttabel

Apabila thitung < -ttabel atau thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha

diterima, artinya variabel independen secara parsial mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

2) Uji Hipotesis berdasarkan Signifikansi

a) Jika angka sig. > 0,05, maka Ho diterima.

b) Jika angka sig. < 0,05, maka Ho ditolak.

b. Uji F (Pengujian Secara Simultan)

Model regresi linier berganda diatas, untuk membuktikan apakah

terhadap variabel dependen, maka dilakukan uji F. Uji F dilakukan

dengan tujuan untuk menguji keseluruhan variabel independen, yaitu:

atribut produk, citra merek dan sikap konsumen terhadap satu variabel

dependen, yaitu keputusan pembelian. Secara bebas dengan signifikan

sebesar 0,05, dapat disimpulkan (Ghozali, 2011:98).

Apabila Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang

berarti variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap variabel dependen dengan menggunakan tingkat signifikan

sebesar 0,05 jika nilai Fhitung > Ftabel maka secara bersama-sama seluruh

variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Selain itu, dapat

juga dengan melihat nilai probabilitas. Jika nilai probabilitas lebih kecil

daripada 0,05 (untuk tingkat signifikansi = 0,05), maka variabel

independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel

dependen. Sedangkan jika nilai probabilitas lebih besar daripada 0,05

maka variabel independen secara serentak tidak berpengaruh terhadap

variabel dependen.

4. Koefisien Persamaan Regresi Linier Berganda

Untuk menguji hipotesis tentang kekuatan variabel independen

terhadap variabel dependen, dalam penelitian ini digunakan analisis regresi

Y= a + b1X1+ b2X2 + b3 X3 + ei Keterangan: Y = Keputusan Pembelian a = Konstanta X1 = Atribut Produk X2 = Citra Merek X3 = Sikap Konsumen E = Error

5. Koefisien Determinasi (Adjusted R2)

Koefisien determinasi (Adjusted R2) bertujuan untuk mengetahui

seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel

dependen. Dalam output SPSS, koefisien determinasi terletak pada tabel

Model Summaryb dan tertulis Adjusted R Square. Nilai R2 sebesar 1, berarti

pengaruh variabel dependen seluruhnya dapat dijelaskan oleh variabel

independen dan tidak ada faktor lain yang menyebabkan pengaruh variabel

dependen. Jika nilai Adjusted R2 berkisar antara 0 sampai dengan 1, berarti

semakin kuat kemampuan variabel independen dapat menjelaskan pengaruh

variabel dependen (Ghozali, 2011:97).

Dokumen terkait