• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analisis statistik kuantitatif dengan bantuan Microsoft Excel dan analisis deskriptif. Kedua teknik ini digunakan agar data yang diperoleh dapat semakin baik dan sesuai dengan apa yang hendak diukur. Data tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, angket dan wawancara. Dalam pengumpulan data yang

80 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h.67

81 Noehi Nasution, Adi Suryanto, dan Yetti Supriyati. Evaluasi Pembelajaran Fisika.

Departemen Pendidikan Nasional, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008) h. 1.36.

82 Sugiyono. Op.cit; h. 199

83 Ibid

84 Sugiyono. Op.cit; h. 137

dilakukan terdapat beberapa hal yang menjadi acuan dalam melakukan analisis data.

Adapun acuan tersebut terdiri dari penskoran dan analisis butir soal untuk mengetahui tingkat validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Adapun penjelasan lebih lengkap mengenai acuan yang di gunakan adalah sebagai berikut:

1. Penskoran

Tes yang telah disusun dan diujikan kepada subjek penelitian dapat bermakna ketika dilakukan penskoran terhadap jawaban yang diberikan. Penskoran merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa dari penilai85. Dalam melakukan pekerjaan menskor dapat digunakan tiga alat bantu yaitu menentukan jawaban benar disebut kunci jawaban, menyeleksi jawaban benar dan salah, disebut kunci skoring dan yang terakhir menentukan angka, disebut pedoman penilaian86

Penskoran yang dilakukan oleh peneliti melalui tahap:

a. Memberikan skor mentah pada setiap jawaban siswa berdasarkan pedoman penskoran yang telah dibuat.

b. Menghitung skor total dari tes uraian untuk setiap siswa dengan menjumlahkannya.

Skor maksimal yang akan diperoleh yaitu 66.

c. Menghitung rata-rata skor dari setiap sekolah yang dijadikan sampel d. Menentukan nilai persentase dan melakukan pengkategorian.

Adapun perhitungan pengkategorian untuk skor yang diperoleh ialah sebagai berikut:87

Keterangan:

NP: nilai persentase yang dicari

Selain skor, ketercapaian pada setiap indikator pun dihitung menggunakan persamaan berikut:88

Keterangan:

NP: nilai persentase yang dicari

85 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h.259

86 Ibid

87 Tanti Aggiasari, Saleh Hidayat, Binar Azwar Anas Harfian, Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Kecamatan Kalidoni dan Ilir Timur II. Bioma, Vol. 7 No. 2, 2018, h. 188

88 Ibid

X: rata-rata skor siswa per indikator

SM: jumlah skor maksimal (4), dan (6) untuk nomor 10, 11, dan 12.

Nilai presentase yang diperoleh baik pada skor dan ketercapaian kemudian diinterpretasikan ke dalam lima katagori yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Adapun pengkategoriannya dilakukan berdasarkan Tabel 3.989

Tabel 3.9 Kriteria Skor Berdasarkan Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Skor (%) Kriteria

0-20 Sangat rendah

21-40 Rendah

41-60 Sedang

61-80 Tinggi

81-100 Sangat tinggi

2. Analisis Butir Soal

Sebelum diujikan kepada sampel penelitian, pada instrumen ini terlebih dahulu dilakukan uji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran dengan bantuan software anatesV4 sehingga instrumen layak untuk digunakan. Pengujian validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran kemudian di jelaskan pada sub ini sebagai berikut:

a. Uji Validitas Instrumen

Validitas instrumen adalah derajat kedekatan hasil pengukuran dengan keadaan yang sebenarnya (kebenaran).90 Sebuah instrumen dikatakan valid ketika instrumen dapat mengukur apa yang seharusnya diukur.91 Pengujian validitas instrumen pada penelitian ini dilakukan secara dua tahap yaitu validitas konstruk dan validitas isi.

Berikut merupakan penjabaran dari kedua uji validitas tersebut.

1). Uji Validitas Konstruk

Validitas konstruk merupakan uji kelayakan instrumen berdasarkan cocok tidaknya dengan konstruksi teoretik. Instrumen diuji cobakan pada responden yang

89 Riduan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung:

Alfabeta, 2015), h. 89

90Asep Kurniawan. Metodologi Penelitian Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018), h. 154.

91 Sugyiono. op.cit; h. 173

sudah memahami dan berpengalaman terhadap konten yang digunakan. Hasil uji validitas dihitung menggunakan rumus product moment sebagai berikut.92

Keterangan:

= koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y = banyaknya siswa

= skor butir soal = skor total

Uji validitas konstruk dilakukan untuk membandingkan hasil output dengan pada taraf signifikansi 5% dengan menetapkan derajat kebebasan terlebih dahulu dengan . Tabel kategori validitas lapangan berdasarkan perbandingan output dengan dapat dilihat pada Tabel 3.9 sebagai berikut.

Tabel 3.10 Kategori Validitas93

Ketentuan Nilai Kategori

≥ Valid

Tidak valid

Interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 3.10

Tabel 3.11 Interpretasi Validitas Butir Soal94

Nilai Interpretasi Validitas

Sangat tinggi Tinggi

0.40 – 0.59 Cukup

0.20 – 0.39 Rendah

0.00 – 0.19 Sangat rendah

92 Suharsimi, Arikunto, op, cit, h.87

93 Ibid., h.89

94 Ibid

Pada penelitian ini uji validitas konstruk menggunakan bantuan software anatesV4. Hasil uji validitas konstruk dapat dilihat pada Tabel 3.11 di bawah ini:

Tabel 3.12 Hasil Uji Validitas Instrumen Tes

Statistik Butir Soal

Jumlah soal 15

Jumlah siswa 35

Nomor soal yang diujikan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15 Nomor soal yang valid 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15

Persentase 100%

2). Validasi Isi

Validasi isi dalam penelitian ini ditentukan oleh penilaian pendapat para ahli (judgment expert) untuk menilai instrumen dengan beberapa aspek yang dinilai.

Dalam penelitian ini validasi isi dilihat dari tiga aspek yaitu: aspek konstruk, aspek materi, dan aspek bahasa. Aspek konstruk menilai kesesuaian instrumen terhadap aturan penyusunan instrumen. Aspek materi menilai kesesuaian instrumen dengan konsep fisika yang digunakan. Aspek bahasa menilai kesesuaian bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Ketiga aspek tersebut memiliki indikator yang akan dinilai yang menonjolkan aspek-aspek yang hendak dicapai.

Hasil penilaian ahli diolah menggunakan content validity index (CVI).

Sebelumnya terlebih dahulu menghitung content validity ratio (CVR) untuk merekap data skor yang diberikan oleh masing-masing ahli pada tiap nomor soal. Rumus untuk menentukan CVR sebagai berikut95:

Keterangan:

= jumlah ahli pemberi nilai (penting/relevan/esensial) = jumlah ahli

Nilai CVR akan berkisar antara +1 dan -1. Nilai positif menunjukkan bahwa setidaknya setengah ahli menilai sebagai penting/esensial. Semakin besar nilai CVR

95 C.H Lawse, A Quantitative Approach To Content Validity, Personnel Psychology, Vol. 28, 1975, h. 567

dari 0, maka semakin penting dan semakin tinggi validitasnya. Setelah mendapatkan nilai CVR tiap nomor soal, kemudian mencari nilai CVI. Content validity index (CVI) merupakan rata-rata dari nilai CVR yang di dapat. Setelah didapatkan nilai CVI kemudian diinterpretasikan berdasarkan kategori yang termuat pada Tabel 3.12.

Tabel 3.13 Kategori Nilai Content Validity Index (CVI)96

Rentang Nilai Kategori

0.00 – 0.33 Tidak sesuai

0.34 – 0.67 Sesuai

0.68 – 1.00 Sangat sesuai

Hasil uji validitas isi dapat dilihat pada Tabel 3.13 sebagai berikut:

Tabel 3.14 Hasil Validitas Isi

Aspek yang dinilai Skor CVI Kategori

Konstruk 0.99 Sangat sesuai

Materi 0.99 Sangat sesuai

Bahasa 0.99 Sangat sesuai

b. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap.97 Dalam penelitian ini pengetesan hanya menggunakan sebuah tes dan dicobakan satu kali. Untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes harus digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut98:

Keterangan:

= koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan

96 C.H Lawse, Op. Cit h.573

97 Suharsimi Arikunto, Loc. Cit h. 100

98 Ibid

= korelasi antara skor skor setiap belahan tes

Penentuan klasifikasi koefisien reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 3.14 berikut.

Tabel 3.15 Interpretasi Reliabilitas Butir Soal Koefisien Reliabilitas ( ) Interpretasi

0.800 ≤ ≤ 1.00 Sangat tinggi

0.600 ≤ < 0.800 Tinggi

0.400 ≤ < 0.600 Cukup/sedang

0.200 ≤ 𝑟11 < 0.400 Rendah

0.00 ≤ 𝑟11 < 0.200 Sangat rendah

Berdasarkan perhitungan dengan bantuan software AnatesV4 diperoleh nilai reliabilitas instrumen tes ini adalah 0.92, nilai ini termasuk kategori sangat tinggi.

Oleh karena itu instrumen ini layak digunakan dalam penelitian.

c. Taraf Kesukaran

Uji taraf kesukaran soal adalah menghitung indeks besarannya. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran. Besarnya indeks kesukaran untuk soal bentuk uraian adalah menghitung berapa persen siswa yang gagal menjawab benar ada di bawah batas lulus tiap-tiap soal.99

Penentuan interpretasi taraf kesukaran butir soal dapat dilihat pada Tabel 3.15 sebagai berikut:100

Tabel 3.16 Interpretasi Taraf Kesukaran Butir Soal Taraf Kesukaran (P) Interpretasi

0.00 – 0.27 Sukar

0.28 – 0.72 Sedang

0.73 – 1.00 Mudah

Hasil perhitungan taraf kesukaran instrumen tes menggunakan software anates v4 dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut ini:

99 Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014), h. 273

100 Ibid

Tabel 3.17 Hasil Uji Taraf Kesukaran

Kriteria Soal Butir Soal

Jumlah Soal Persentase

Sedang 14 93%

Sukar 1 7%

Jumlah 15 100%

d. Daya Pembeda

Daya Pembeda adalah kemampuan suatu butir item untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan berpikir kritis tinggi dengan siswa yang berkemampuan berpikir kritis rendah. Daya pembeda soal dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.101

D = Keterangan:

D = Indeks daya beda

= banyak siswa kelas atas yang menjawab benar untuk setiap butir soal

= banyak siswa kelas bawah yang menjawab benar untuk setiap butir soal = jumlah siswa kelas atas

= jumlah siswa kelas bawah

= proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Klasifikasi interpretasi untuk daya pembeda dapat dilihat pada Tabel di bawah ini:102

Tabel 3.18 Interpretasi Indeks Diskriminasi Butir Soal

Daya Pembeda (𝑫) Interpretasi

Bernilai negatif Sangat Jelek

0.00 – 0.20 Jelek

0.21 – 0.40 Cukup

101Arikunto, Op. Cit; h. 228-229.

102 Ibid, h.232.

Daya Pembeda (𝑫) Interpretasi

0.41 – 0.70 Baik

0.71 – 1.00 Baik sekali

Hasil uji daya pembeda instrumen tes menggunakan software AnatesV4 dapat dilihat pada Tabel 3.17 berikut ini:

Tabel 3.19 Hasil Uji Daya Pembeda

Kriteria Soal Butir Soal

Jumlah Soal Persentase

Sangat Jelek 0 0

Jelek 0 0

Cukup 7 47%

Baik 8 53%

Baik sekali 0 0

Jumlah 15 100%

56 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Penelitian kemampuan berpikir kritis atau bisa disingkat KBK ini dilakukan dengan menyebar instrumen tes KBK, angket dan lembar wawancara. Instrumen tes tersebut terdiri dari 15 butir soal uraian. Instrumen tes dan angket diujikan kepada siswa di empat sekolah dengan rincian dua SMA dan dua MA yang terletak di Kabupaten Serang, dan lembar wawancara diberikan kepada guru Fisika dari siswa yang menjadi sampel penelitian. Berikut penjelasan dari empat tempat penelitian:

1. Profil Sekolah dan Madrasah

Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah yang dijadikan tempat penelitian, masing-masing berjumlah dua, adapun penjelasannya sebagai berikut:

a. Sekolah Menengah Atas (SMA)

Sekolah Menengah Atas (SMA) di kabupaten Serang berjumlah 80103 sekolah. Sekolah menengah atas negeri berjumlah 26 dan swasta 54, sebanyak dua sekolah dijadikan tempat penelitian. Penentuan tempat penelitian didasarkan pada Nilai UN Fisika tahun 2019, yakni nilai tertinggi diperoleh SMA Islam Nurul Fikri Boarding School, dan terendah di SMAN 1 Kopo. Kedua SMA tersebut akan menggunakan kode sekolah. Adapun kedua sekolah tersebut termuat pada Tabel 4.1:

Tabel 4.1 Data Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Serang No.

Kode Sekolah Akreditasi Nilai UN Fisika

Peringkat Kab. Serang 1. S1 SMA Islam Nurul Fikri

Boarding School A104 58.96105 1

2. S2 SMAN 1 Kopo B106 27.5107 40

Tabel 4.1 menunjukan profil SMA yang menjadi tempat penelitian. Data sekolah yang ditampilkan pada hasil penelitian selanjutnya akan menggunakan kode

103 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

104 https://referensi.data.kemdikbud.go.id/tabs.php?npsn=20607991

105 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

106 https://referensi.data.kemdikbud.go.id/tabs.php?npsn=20217357

107 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

sebagaimana termuat pada Tabel 4.1, yakni S1 untuk SMA Islam Nurul Fikri Boarding School dan S2 untuk SMAN 1 Kopo.

b. Madrasah Aliyah (MA)

Madrasah Aliyah (MA) di Kabupaten Serang berjumlah 84108 madrasah.

Madrasah Aliyah Negeri berjumlah satu dan swasta 83. Dua diantaranya dijadikan tempat penelitian. Penentuan tempat penelitian didasarkan pada Nilai UN Fisika tahun 2019, yakni nilai tertinggi diperoleh MA Al-Khairiyah Rancaranji, dan terendah di MA As-sa’adah Dahu Cikeusal. Adapun kedua madrasah tersebut termuat pada Tabel 4.2:

Tabel 4.2 Data Madrasah Aliyah di Kabupaten Serang No. Kode Sekolah Akreditasi Nilai UN

Fisika

Peringkat Kab. Serang

1. M1 MA Al-Khairiyah

Rancaranji A109 42.73110 4

2. M2 MA As-Sa’adah Dahu

Cikeusal B111 27.5112 40

Tabel 4.2 menunjukan profil MA yang menjadi tempat penelitian. Data sekolah yang ditampilkan pada hasil penelitian selanjutnya akan menggunakan kode sebagaimana termuat pada Tabel 4.2, yakni M1 untuk MA Al-Khairiyah Rancaranji dan M2 untuk MA As-Sa’adah Dahu Cikeusal.

2. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA dan MA di Kabupaten Serang Berdasarkan Skor

Hasil penelitian berikut menggambarkan kemampuan berpikir kritis siswa SMA dan MA di Kabupaten Serang ditinjau dari skor berdasarkan jenis sekolah.

Adapun hasil tersebut termuat pada tabel 4.3:

108 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

109 https://referensi.data.kemdikbud.go.id/tabs.php?npsn=20623395

110 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

111 https://referensi.data.kemdikbud.go.id/tabs.php?npsn=20623374

112 https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/hasil-un/

Tabel 4.3 Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA dan MA Jenis Sekolah Rata-rata Skor

KBK

Persentase Skor KBK

Kategori

SMA 26.05 39.39% Rendah

MA 26.74 40.51% Rendah

Skor Maksimal = 66

Tabel 4.3 merupakan skor kemampuan berpikir kritis siswa. Skor Siswa SMA dan MA menunjukan hasil yang sama yaitu kemampuan berpikir kritis siswa dalam kategori rendah. Skor siswa MA sedikit lebih baik dari siswa SMA. Persentase skor untuk SMA sebesar 39.39% dan MA sedikit lebih baik yaitu sebesar 40.51%.

3. Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA dan MA di Kabupaten Serang Berdasarkan Kelompok KBK ditinjau dari Jenis Sekolah

Data kemampuan berpikir kritis siswa SMA dan MA di Kabupaten Serang berdasarkan kelompok KBK jika ditinjau dari jenis sekolah selanjutnya termuat dalam Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Grafik Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA dan MA di Kabupaten Serang

Gambar 4.2 menyatakan skor terbaik pada aspek memberikan penjelasan mendasar (elementary clarification) baik pada siswa SMA maupun MA. Kelompok KBK dengan skor terendah yaitu membangun keterampilan dasar (basic support) baik pada siswa SMA maupun MA yaitu sebesar 1.43 dan 1.35.

4. Gambaran Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA di Kabupaten Serang pada tiap Indikator

Data sebelumnya menunjukan kemampuan berpikir kritis siswa pada tiap kelompok KBK jika ditinjau dari jenis SM dan MA. Pada subbab ini akan ditampilkan kemampuan berpikir kritis siswa SMA di Kabupaten Serang berdasarkan kelompok KBK jika ditinjau dari seluruh siswa SMA yang menjadi sampel penelitian. Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.2:

Gambar 4.2 Grafik Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Berdasarkan Kelompok KBK

Gambar 4.2 menyatakan kelompok dengan skor terbaik yaitu pada aspek memberikan penjelasan mendasar (elementary clarification) sedangkan skor terkecil yaitu membangun keterampilan dasar (bassic support). Berdasarkan data grafik siswa S1 mendapatkan skor terbaik dan S2 dengan rata-rata pada setiap kelompok KBK terendah. Hasil persentase ketercapaian kemampuan berpikir kritis siswa SMA berdasarkan indikator kelompok kemampuan berpikir kritis termuat pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4.4 Persentase Perolehan Kelompok KBK Siswa SMA

Kode

a B c d e

a.1 a.2 a.3 b.1 b.2 b.3 c.1 c.2 c.3 d.1 d.2 d.3 e.1 e.2 e.3

S1 54% 50% 41% 43% 33% 40% 53% 50% 44% 50% 51% 38% 40% 37% 47%

S2 51% 49% 39% 39% 22% 22% 40% 36% 32% 49% 47% 23% 32% 22% 28%

Rata-rarta 53% 50% 40% 41% 28% 31% 47% 43% 38% 50% 49% 31% 36% 30% 38%

Keterangan:

a: Memberikan Penjelasan Mendasar (Elementary Clarification) b: Membangun Keterampilan Dasar (Basic Support)

c: Menyimpulkan (Inference)

d: Memberikan Penjelasan Lebih Lanjut (Advance Clarification) e: Mengatur Strategi dan Taktik (Strategy and Tactics)

Tabel 4.4 merupakan persentase perolehan kelompok kemampuan berpikir kritis. Masing-masing kelompok memuat indikator yang berbeda-beda. Adapun rata-rata hasil yang diperoleh terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Penjelasan masing-masing kelompok dan indikator dijelaskan pada bagian berikut ini:

a. Memberikan Penjelasan Mendasar (Elementary Clarification)

Memberikan penjelasan mendasar (elementary clarification) diukur pada indikator bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau tantangan (Mengapa demikian). Indikator ini diukur denga menggunakan konsep pemuaian luas pada kehidupan sehari-hari, dan kalor terhadap perubahan suhu dan perubahan wujud benda. Adapun rata-rata hasil perolehan indikator bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau tantangan (a.1) sebesar 53% dengan kategori sedang. Perolehan tertinggi diraih oleh S1 sebesar 54% dengan kategori sedang dan perolehan terkecil diraih oleh S2 sebesar 51% dengan kategori sedang. (a.2) sebesar 50% dengan kategori sedang. Perolehan tertinggi diraih oleh S1 sebesar 50% dengan kategori sedang dan perolehan terkecil diraih oleh S2 sebesar 49% dengan kategori

sedang. (a.3) sebesar 40% dengan kategori rendah. perolehan tertinggi diraih oleh S1 sebesar 41% dengan kategori sedang dan perolehan terkecil diraih oleh S2 sebesar 39% dengan kategori rendah.

b. Membangun Keterampilan Dasar (Basic Support)

Membangun keterampilan dasar (basic support) diukur pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber (Keterampilan memberikan alasan).

Indikator ini diukur dengan menggunakan konsep pemuaian panjang. Adapun rata-rata hasil perolehan kelompok basic support (membangun keterampilan dasar) pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber (keterampilan memberikan alasan) (b.1) sebesar 41% dengan kategori sedang. Hasil tertinggi diraih oleh S1 sebesar 43% dengan kategori sedang dan terkecil diraih oleh S2 sebesar 39% dengan kategori rendah. Pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber (keterampilan memberikan alasan) (b.2) rata-rata yang diperoleh sebesar 28% dengan kategori rendah. S1 sekolah dengan perolehan terbaik yaitu 33% dengan kategori rendah dan S2 sebagai sekolah dengan perolehan terkecil sebesar 22% dengan kategori rendah. Selanjutnya (b.3) dengan indikator yang sama dengan b.2 diperoleh rata-rata sebesar 31% dengan kategori rendah. S1 sekolah dengan perolehan terbaik yaitu 40% dengan kategori rendah dan S2 sebagai sekolah dengan perolehan terkecil sebesar 22% dengan kategori rendah.

c. Menyimpulkan (Inference)

Menyimpulkan (Inference) diukur pada indikator membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi (membuat generalisasi). Pada kelompok ini diukur dengan menggunakan konsep hubungan pertambahan volume dengan perubahan suhu.

Adapun rata-rata persentase hasil perolehan untuk indikator membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi (membuat generalisasi) (c.1) sebesar 47%

berkategori sedang. S1 mendapat perolehan terbaik sebesar 53% dengan kategori sedang sedangkan S2 merupakan sekolah dengan perolehan terkecil sebesar 32%

dengan kategori rendah. Pada indikator Membuat induksi (Membuat generalisasi) (c.2) rata-rata 43% berkategori sedang. S1 memperoleh hasil tertinggi yaitu sebesar 51% berbeda agak jauh dengan S2 yang hanya pada kategori rendah dengan skor 36%.

Pada indikator membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi (membuat kesimpulan dan hipotesis) (c.3) rata-rata 38% berkategori rendah. S1 memperoleh

perolehan lebih tinggi yaitu sebesar 44% dari pada S2 yang hanya pada kategori rendah dengan skor 32%.

d. Memberikan Penjelasan Lebih Lanjut (Advance Clarification)

Memberikan penjelasan lebih lanjut (advance clarification) diukur pada indikator mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi (Strategi definisi tindakan mengidentifikasi persamaan) (d.1). Indikatorini diukur dengan menggunakan konsep suhu. Adapun rata-rata hasil yang diperoleh 50%

berkategori sedang. S1 mendapat perolehan 50% dengan kategori sedang dan S2 memperoleh hasil hampir sama yaitu 49% dengan kategori sedang. (d.2) rata-rata 49% berkategori sedang. S1 memperoleh hasil lebih tinggi yaitu sebesar 51%

sedangkan S2 memperoleh hasil 47%. Pselanjutnya (d.3) rata-rata 31% berkategori rendah. S1 memperoleh hasil lebih tinggi yaitu sebesar 38% dari pada S2 yaitu 23%

walaupun keduanya termasuk dalam kategori rendah.

e.Mengatur Strategi dan Taktik (Strategy and Tactics)

Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics) pada indikator memutuskan suatu tindakan (melakukan review). Indikator ini diukur dengan menggunakan konsep menentukan hubungan antar skala pada termometer Reamur, Kelvin, Celcius, dan Fahrenheit. Adapun persentase hasil rata-rata untuk indikator memutuskan suatu tindakan (melakukan review) (e.1) sebesar 36% berkategori rendah. Adapun S1 dengan perolehan sebesar 40% berkategori rendah dan S2 dengan perolehan sebesar 32% berkategori rendah. Persentase rata-rata indikator Memutuskan suatu tindakan (Mendefinisikan masalah, Menyeleksi kriteria untuk membuat solusi, serta Merumuskan alternatif yang memungkinkan) (e.2) sebesar 30% berkategori rendah. S1 memperoleh hasil sebesar 37% dengan kategori rendah dan S2 memperoleh hasil 22% rendah. Persentase rata-rata (e.3) sebesar 38% dengan kategori rendah. S1 memperoleh hasil lebih besar yaitu 47% dengan kategori sedang.

Sedangkan, S2 memperoleh hasil jauh lebih rendah yaitu 28% dengan ketagori rendah.

5. Gambaran Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MA di Kabupaten Serang Berdasarkan Indikator

Data sebelumnya menunjukan kemampuan berpikir kritis siswa pada tiap kelompok KBK jika ditinjau dari siswa SMA. Pada subbab ini akan ditampilkan

kemampuan berpikir kritis siswa MA di Kabupaten Serang berdasarkan kelompok KBK jika ditinjau dari seluruh siswa MA yang menjadi sampel penelitian.

Data tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.3:

Gambar 4. 3 Kemampuan Berpikir Kritis Siswa MA Berdasarkan Kelompok KBK Gambar 4.3 menyatakan kelompok dengan skor terbaik yaitu memberikan penjelasan mendasar (elementary clarification) sedangkan skor terkecil yaitu membangu keterampilan dasar (bassic support). Berdasarkan data grafik siswa M1 mendapatkan skor terbaik dan M2 dengan rata-rata pada setiap kelompok KBK terendah. Hasil persentase perolehan kemampuan berpikir kritis siswa MA berdasarkan indikator kelompok kemampuan berpikir kritis termuat pada tabel 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4. 5 Persentase Ketercapaian Kelompok KBK Siswa MA

Kode

a b C d e

a.1 a.2 a.3 b.1 b.2 b.3 c.1 c.2 c.3 d.1 d.2 d.3 e.1 e.2 e.3 M1 50% 51% 48% 41% 28% 31% 52% 48% 48% 56% 53% 40% 41% 34% 44%

M2 42% 50% 50% 32% 20% 25% 41% 40% 24% 49% 51% 29% 28% 23% 36%

Rata-rarta 46% 50% 49% 36% 24% 28% 46% 44% 36% 52% 52% 34% 34% 28% 40%

Keterangan:

a: Memberikan Penjelasan Mendasar (Elementary Clarification) b: Membangun Keterampilan Dasar (Basic Support)

c: Menyimpulkan (Inference)

d: Memberikan Penjelasan Lebih Lanjut (Advance Clarification) e: Mengatur Strategi dan Taktik (Strategy and Tactics)

Tabel 4.5 merupakan persentase perolehan kelompok kemampuan berpikir kritis. Masing-masing kelompok memuat indikator yang berbeda-beda. Adapun rata-rata hasil yang diperoleh terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Penjelasan masing-masing kelompok dan indikator dijelaskan pada bagian berikut ini:

a. Memberikan Penjelasan Mendasar (Elementary Clarification)

Memberikan penjelasan mendasar (elementary clarification) diukur pada indikator bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau tantangan (mengapa demikian). Indikator ini diukur dengan menggunakan konsep pemuaian luas pada kehidupan sehari-hari, dan kalor terhadap perubahan suhu dan perubahan wujud benda. Adapun rata-rata hasil perolehan indikator bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau tantangan (a.1) sebesar 46% dengan kategori sedang. Perolehan tertinggi diraih oleh M1 sebesar 50% dengan kategori sedang cukup berbeda engan ketercapain yang diraih oleh M2 yaitu sebesar 42% dengan kategori sedang. (a.2) sebesar 50% dengan kategori sedang. Perolehan M1 sebesar 51% dengan kategori sedang dan M2 sebesar 50% dengan kategori sedang. (a.3) memperoleh ata-rata sebesar 49% dengan kategori sedang. Perolehan M1 sebesar 48%

dengan kategori sedang dan ketercapain M2 sebesar 50% dengan kategori sedang.

b. Membangun Keterampilan Dasar (Basic Support)

Membangun keterampilan dasar (basic support) diukur pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber (keterampilan memberikan alasan).

indikator ini diukur dengan menggunakan konsep pemuaian panjang. Adapun rata-rata hasil perolehan kelompok basic support (membangun keterampilan dasar) pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber (keterampilan memberikan alasan) (b.1) sebesar 36% dengan kategori rendah. Hasil tertinggi diraih oleh M1 sebesar 41% dengan kategori sedang dan terkecil diraih oleh M2 sebesar 32% dengan kategori rendah. Pada indikator mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber

(Keterampilan memberikan alasan) (b.2) rata-rata yang diperoleh sebesar 24% dengan kategori rendah. M1 sekolah dengan perolehan terbaik yaitu 28% dengan kategori

(Keterampilan memberikan alasan) (b.2) rata-rata yang diperoleh sebesar 24% dengan kategori rendah. M1 sekolah dengan perolehan terbaik yaitu 28% dengan kategori

Dokumen terkait