• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembaharuan (Updating ) Data

TINJAUAN PUSTAKA

3.4 Teknik Kajian Jenis Data

Data yang digunakan dalam kajian ini berupa data kualitatif yang diperoleh dari dokumen dan arsip serta data pendukung yang bersumber dari instansi yang terkait.

Cara Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penyusunan basis data adalah sebagai berikut:

a. Studi Literatur

Studi ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yang diperoleh dengan melakukan studi kepustakaan atau literatur (proposal, laporan, catatan, artikel, serta arsip lainnya) yang bersumber dari kelembagaan yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berkaitan erat dengan adaptasi perubahan iklim.

b. Survey Kelembagaan

Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data primer melalui kegiatan mewawancarai pelaku/pegiat adaptasi perubahan iklim, baik yang dilakukan oleh Kementerian atau Kelembagaan/Lembaga Swadaya Masyarakat serta Perguruan Tinggi sesuai dengan form isian pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.

3.5 Alat dan Bahan Kajian

Alat yang digunakan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

 Seperangkat komputer dengan program Ms. Excel, Ms. Word,

DBMS MySQL, Adebe

Dreamweaver CS 3, Notepad++, XAMPP, Google Earth, dan

Google Fusion Table.  Alat Tulis

Sementara bahan yang digunakan berupa data dan informasi yang bersumber dari dokumen proposal, laporan, ataupun bahan diseminasi serta arsip digital dari

website Kelembagaan/ Kementerian/ Perguruan Tinggi/ LSM sebagai berikut:

 Kementerian Pertanian (Balitklimat)

 Kementerian Kelautan dan Perikanan

 Kementerian Kesehatan  Kementerian Pekerjaan Umum  Kementerian Lingkungan Hidup  Kementerian Keuangan

 Kementerian Riset dan Teknologi  Kementerian Kehutanan

 BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)  DNPI (Dewan Nasional Perubahan

Iklim)

 CCROM (Center for Climate Risk and Opportunity Management)  RCCCUI (Research Center for

Climate Change Universitas Indonesia)

 WFP (World Food Program)  Bintari (salah satu LSM pegiat

adaptasi perubahan iklim, berpusat di Semarang).

Kegiatan yang diintegrasikan dan dianalisis pada penelitian ini merupakan hasil sementara dari perolehan data dan informasi kegiatan adaptasi perubahan iklim di Indonesia sampai bulan Juni 2012. 3.6 Metode Analisis Kajian

Tahap pertama, dilakukan inventarisasi data dan informasi kegiatan adaptasi perubahan iklim yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh berbagai kelembagaan yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berkaitan erat dengan adaptasi perubahan iklim. Pada tahap ini penulis mengikuti dan

mencatat serta menganalisa hal-hal penting yang ditemukan dalam seluruh rangkaian kegiatan penyusunan basis data adaptasi perubahan iklim. Perolehan data dan informasi juga dilakukan melalui kegiatan survey kelembagaan.

Tahap kedua yaitu menyusun dan mengintegrasikan kegiatan adaptasi setiap kelembagaan berdasarkan indikator dan kriteria yang telah ditentukan yaitu mencakup pada jenis adaptasi, dimensi adaptasi, teknologi dan pendekatan adaptasi perubahan iklim, sebaran lokasi kegiatan, serta sektor kelembagaan yang melakukan kegiatan adaptasi perubahan iklim, serta berdasarkan waktu pelaksanaan kegiatan (telah, sedang, atau akan).

Tahap ketiga yaitu melakukan analisis kegiatan adaptasi berdasarkan indikator dan kriteria kegiatan adaptasi perubahan iklim pada seluruh sektor kelembagaan di Indonesia.

Lalu tahapan terakhir yaitu membuat display basis data kegiatan adaptasi perubahan iklim.

3.7 Metode Display Basis data 1. Perancangan ide

Pada tahap ini akan dilaksanakan proses identifikasi dan perumusan masalah, analisis kebutuhan pengguna, analisis karakteristik pengguna, dan perancangan ide. Seluruh data yang diperoleh dari proses tersebut kemudian akan diolah untuk merancang konsep awal dari pembuatan sistem ini.

2. Perancangan sistem

Pada tahap ini akan ditentukan seperti apa sistem tersebut beroperasi, fungsi-fungsi apa saja yang dibutuhkan di dalamnya, seperti apa rancangan basis data yang diperlukan, bagaimana sistem keamanannya, dan kebutuhan-kebutuhan sistem lainnya. Adapun beberapa bagian yang akan dirancang pada tahap ini adalah sebagai berikut:

a. Desain tampilan antar muka b. Fungsi-fungsi

c. Sistem basis data( Entity-Relationship Diagram)

Gambar 4 Diagram ERD (Entity Relationship Diagram). 3. Pembuatan sistem

Semua fungsi dan fitur yang telah dirancang pada tahap sebelumnya akan dibuat pada tahap ini. Pengembangan sistem ini menggunakan:

 Metode: incremental model

 Bahasa pemrograman: PHP

Basis data Management System

(DBMS): MySQL

 Perangkat lunak: Adebe Dreamweaver CS 3, Notepad++, XAMPP.

 Sistem operasi pengembangan Sistem: Windows 7

4. Pengujian sistem

Pada tahap ini akan diujikan kepada

user untuk menguji sistem ini. 5. Display Basis Data

Pada tahap ini, basis data yang telah disusun dan diintegrasikan dapat dilihat dan digunakan untuk keperluan kelembagaan terkait dengan kegiatan adaptasi perubahan iklim.

Gambar 5 Diagram alir kegiatan tugas akhir.

Daftar

Kelembagaan

Survey

Kelembagaan

(wawancara)

Kompilasi Data &

Informasi

Data & Informasi

Kegiatan

Integrasi Data &

Informasi

Display Basis data

Penelusuran

Informasi dari

Literatur (laporan,

proposal, internet)

Pembuatan Perangkat

Lunak Basis Data

1. Perancangan Sistem

2. Pembuatan Sistem

3. Pengujian Sistem

Analisis Data

& Informasi

Diseminasi Hasil

ke Pengguna

Pembaharuan

(Updating) Data

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Banyak bukti menunjukkan bahwa manusia di berbagai lokasi sudah melakukan adaptasi sebagai respon terhadap perubahan iklim yang telah terjadi atau sebagai antisipasi terhadap perubahan iklim yang diramalkan akan terjadi (IPCC 2007). Hal ini dapat dilihat pada banyaknya lembaga yang melakukan kegiatan adaptasi guna membantu masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim sehingga mereka dapat menyesuaikan diri terhadap dampak yang telah ataupun yang akan terjadi nanti. 4.1 Adaptasi Perubahan Iklim di

Indonesia pada Semua Sektor Kelembagaan

Hampir semua sektor kelembagaan di Indonesia memberikan perhatian khusus pada masalah perubahan iklim terutama sektor-sektor kelembagaan yang terkena dampak langsung dari perubahan iklim. Berdasarkan data kegiatan adaptasi dari 14 kelembagaan di Indonesia diperoleh hasil bahwa kegiatan adaptasi yang telah

dilakukan mencakup semua sektor kelembagaan yang ditetapkan oleh UNDP (2007), yaitu pertanian dan ketahanan pangan, pembangunan wilayah pesisir, kesehatan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam, manajemen risiko bencana, serta sumber daya dan kualitas air.

Berdasarkan Gambar 6, dapat dilihat bahwa kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim termasuk pada sektor manajemen risiko bencana. Hal ini dikarenakan sektor tersebut memiliki cakupan yang luas di antaranya yaitu sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur.

Gambar 6c menunjukkan bahwa tidak ada kegiatan adaptasi yang direncanakan akan dilakukan oleh sektor kesehatan masyarakat pada tahun mendatang. Hal ini seharusnya dapat menjadi perhatian penting bagi para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim karena bagaimanapun juga harus ada langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya dampak perubahan iklim pada sektor tersebut.

Gambar 6 Sektor kelembagaan adaptasi perubahan iklim kegiatan (a) telah dilakukan; (b) sedang dilakukan; (c) akan dilakukan; (d) semua kegiatan.

4.1.1 Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Kegiatan adaptasi pada sektor pertanian banyak dilakukan oleh Balitklimat (Kementan), sedangkan kegiatan yang berkaitan dengan sektor ketahanan pangan dilakukan oleh WFP. Selain lembaga tersebut, ada juga BMKG dan CCROM yang melakukan kegiatan adaptasi perubahan iklim pada sektor pertanian.

Kegiatan adaptasi pada sektor pertanian yang rutin dilakukan oleh Balitklimat setiap tahunnya yaitu penyusunan kalender tanam interaktif dan dinamik. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu para petani dalam menentukan waktu tanam yang tepat sehingga dapat menurunkan risiko terkena gagal panen. Kegiatan rutin lainnya yaitu Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang dilakukan oleh Balitklimat dan BMKG. Kegiatan ini termasuk kegiatan pembangunan berlanjut yang dilakukan rutin setiap tahun di berbagai tempat di Indonesia. Sementara kegiatan insidental yang dilakukan oleh Balitklimat yaitu kegiatan panen air dam parit dan aplikasi irigasi yang merupakan kegiatan aksi adaptasi, kegiatan ini dilakukan untuk mengembangkan jaringan irigasi dan menyusun model teknologi panen air hujan. Ada juga kegiatan pembuatan pola kerentanan pertanian di Pulau Jawa yang dilakukan oleh CCROM bekerjasama dengan ci:grasp. Selain itu, saat ini BMKG sedang merencanakan kegiatan berupa penempatan 1000 penakar hujan observasi di seluruh Indonesia serta merencanakan pembangunan pos agroklimat di seluruh Indonesia agar dapat mengantisipasi dampak perubahan iklim yang akan terjadi serta mengancam pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia. Masih banyak kegiatan adaptasi pada sektor pertanian lainnya baik yang telah, sedang, ataupun akan dilaksanakan (Lampiran 3).

Sektor yang berkaitan erat dengan sektor pertanian yaitu sektor ketahanan pangan. Pada sektor ini, WFP rutin melaksanakan kegiatan food for asset (FFA) setiap tahunnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas adaptif masyarakat rentan pangan terhadap dampak perubahan iklim. Kegiatan FFA terfokus di NTB dan NTT, karena kedua propinsi tersebut merupakan salah satu prioritas utama dalam hal penguatan ketahanan pangan.

Gambar 7 Diagram persentase kegiatan adaptasi sektor pertanian. Gambar 7 menunjukkan bahwa hampir 80% kegiatan adaptasi pada sektor pertanian merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan, sementara yang sedang dan akan dilaksanakan masing-masing hanya 12% dan 9%. Hal ini dikarenakan beberapa lembaga terkait hanya memberikan laporan akhir tahun kegiatan yang dilakukan, sementara proposal data kegiatan adaptasi yang sedang dan akan dilaksanakan tidak diberikan dengan alasan sesuai ketentuan yang berlaku di lembaga tersebut, sehingga kegiatan adaptasi pada sektor pertanian dan ketahanan pangan lebih banyak termasuk kegiatan yang telah dilakukan.

Jika melihat pada Gambar 6, kegiatan adaptasi pada sektor pertanian dan ketahanan pangan mendapatkan perhatian yang cukup konsisten dari para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim dibandingkan dengan sektor lainnya, dibuktikan dengan nilai persentase yang dimiliki oleh sektor tersebut pada waktu lalu, sekarang, dan akan datang adalah cukup konstan. Hal ini dikarenakan sektor tersebut memang sangat dipengaruhi oleh iklim. Kemarau panjang dan banjir akan menyebabkan gagal panen yang sangat berpengaruh terhadap sumber penghidupan petani. Oleh karena itu, sektor ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim agar kondisi pertanian dan ketahanan pangan Indonesia menjadi lebih baik serta kondisi taraf hidup masyarakat Indonesia yang mayoritas petani dapat meningkat.

4.1.2 Sektor Pembangunan Wilayah Pesisir

Pada sektor pembangunan wilayah pesisir, kegiatan adaptasi banyak dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di antaranya yaitu kajian kerentanan di sepanjang jalur Pantura, rehabilitas mangrove, dan program pengembangan sistem informasi perubahan iklim bagi masyarakat di sekitar daerah pesisir. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan adaptasi yang bersifat insidental. Sementara kegiatan yang bersifat lanjutan yaitu program pengembangan desa pesisir tangguh yang dilaksanakan dari tahun 2011-2014.

Selain KKP, ada juga lembaga lain yang melakukan kegiatan adaptasi pada sektor pembangunan wilayah pesisir yaitu CCROM. Lembaga tersebut melaksanakan kegiatan adaptasi komunitas daerah pesisir di Tapak Tugurejo Semarang serta mengevaluasi tingkat emisi GRK dan kemungkinan dampak perubahan iklim dan juga kenaikan muka air laut di daerah rawa Kota Palembang.

Kegiatan adaptasi yang rutin dilakukan pada sektor ini adalah pengelolaan kawasan pesisir melalui rehabilitasi pantai dengan penanaman mangrove dan pembuatan alat penahan ombak (APO) sepanjang 100 meter oleh Bintari. Kegiatan ini telah berjalan dengan baik dan sedang dalam proses pengembangan.

Gambar 8 Diagram persentase kegiatan sektor pembangunan wilayah pesisir.

Gambar 8 menunjukkan bahwa 63% kegiatan adaptasi pada sektor pembangunan wilayah pesisir merupakan kegiatan yang

telah dilaksanakan, 21% merupakan kegiatan adaptasi yang sedang dilaksanakan dan 16% merupakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Berdasarkan Gambar 6, kegiatan yang telah dilakukan pada sektor ini hanya sedikit saja, namun karena kondisi muka air laut yang terus naik dan diperkirakan akan terjadi dampak perubahan iklim yang cukup besar pada sektor pesisir, oleh karena itu saat ini ada beberapa kelembagaan yang sedang melakukan kegiatan adaptasi sebagai upaya mengatasi dampak perubahan iklim yang telah terjadi serta merencanakan kegiatan adaptasi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim yang akan terjadi nanti. Salah satu program yang sedang dilaksanakan dan direncanakan akan berjalan pada tahun berikutnya yaitu program pengembangan desa pesisir tangguh yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim dapat bertahan hidup dalam kondisi yang baik, termasuk membantu masalah perekonomiannya.

4.1.3 Sektor Kesehatan Masyarakat Kegiatan adaptasi perubahan iklim pada sektor kesehatan banyak dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, dengan kegiatannya yaitu protecting health from climate change di Jakarta serta penelitian pola penyakit akibat dampak perubahan iklim di beberapa provinsi di Indonesia. Selain itu ada kegiatan berupa penelitian dan ujicoba pengembangan pedoman model surveilans dampak perubahan iklim di Indonesia. Pada saat penelitian tahun 2011 kegiatan ini masih berupa kapasitas adaptif, sementara setelah dilakukan ujicoba di Lampung, Jawa Tengah, dan Bali pada tahun 2012 kegiatan ini merupakan aksi adaptasi yang dilakukan langsung oleh Menkes kepada masyarakat yang rentan akibat perubahan iklim.

Semua kegiatan adaptasi pada sektor kesehatan merupakan kegiatan yang insidental, tidak ada kegiatan rutin yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dalam mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Contoh kegiatan lain yang dilakukan oleh Menkes dalam mengatasi dampak perubahan iklim adalah model prediksi penyakit demam berdarah dengue/DBD berdasarkan kondisi iklim di Indonesia, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan model matematik yang mampu memprediksi kejadian DD/DBD

dengan memanfaatkan informasi iklim, sehingga dapat digunakan sebagai peringatan dini terhadap kejadian penyakit DD/DBD.

Gambar 9 Diagram persentase kegiatan sektor kesehatan masyarakat. Gambar 9 menunjukkan bahwa 80% kegiatan adaptasi pada sektor kesehatan merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan dan sisanya merupakan kegiatan yang sedang dilakukan. Sementara data kegiatan adaptasi yang akan dilakukan oleh Kementerian kesehatan tidak disampaikan. Walaupun demikian, kegiatan adaptasi yang telah dan sedang dilakukan oleh Menkes guna mengatasi dampak perubahan iklim pada sektor kesehatan telah berjalan dengan cukup baik dibuktikan dengan penyusunan strategi adaptasi dampak perubahan iklim di bidang kesehatan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.

Dalam mengembangkan dan melaksanakan pelayanan terhadap dampak perubahan iklim dalam bidang kesehatan masyarakat harus menghadapi beberapa realitas. Pertama, dampak perubahan iklim akan sangat bervariasi menurut wilayah. Kedua, mereka akan bervariasi menurut kelompok penduduk, tidak semua orang sama-sama rentan. Ketiga, efek ini sangat kompleks sehingga perlu perencanaan dan tindakan yang multidimensi (Frumkin et al.

2008).

4.1.4 Sektor Pengelolaan Sumber Daya Alam

Pada sektor pengelolaan sumber daya alam, CCROM membuat model tata lahan di kelurahan Sukorejo dengan cara pembuatan model konservasi yang sudah terarah dalam bentuk pilot project untuk konservasi tanaman, masa tanam, dan terasering, serta model untuk mengurangi kekeringan, banjir, erosi, dan bencana lainnya. Selain itu juga CCROM membuat sumur tangkapan biopori dan penghijauan. Sementara itu, RCCCUI melakukan rencana restorasi pasca tambang timah provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang bertujuan untuk menyusun alternatif konsep pembangunan dan pengelolaan restorasi lahan pasca penambangan timah dan lahan kritis lainnya di seluruh wilayah Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung.

Gambar 10 Diagram persentase kegiatan sektor pengelolaan sumber daya alam.

Gambar 10 menunjukkan bahwa 79% kegiatan adaptasi pada sektor pembangunan wilayah pesisir merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan, 14% merupakan kegiatan adaptasi yang sedang dilaksanakan dan 7% merupakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Berdasarkan Gambar 6, kegiatan adaptasi pada sektor ini masih sedikit dibandingkan dengan sektor lainnya, sehingga dengan kondisi tersebut seharusnya dapat memperoleh perhatian dari para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim.

4.1.5 Sektor Manajemen Risiko Bencana Pada sektor manajemen risiko bencana, kegiatan adaptasi dikaitkan dengan kondisi ekonomi, sosial, budaya, pendidikan/ edukasi, dan infrastruktur. Kegiatan adaptasi pada sektor ini banyak dilakukan oleh CCROM, salah satunya yaitu program Micro-finance di Kemijen Semarang yang bekerjasama dengan Iset, URDi, ACCCRN, dan MercyCorps. Program ini bertujuan untuk mengembangkan model perputaran dana yang diharapkan dapat meningkatkan kondisi sanitasi dan kehidupan kepala rumah tangga wanita yang miskin.

Selain itu, BMKG melakukan kegiatan berupa edukasi mengenai perubahan iklim dalam bentuk komik,

pocket book, iklan masyarakat, sampai acara TV yaitu “Teropong Si Bolang”. Kegiatan tersebut termasuk bentuk manajemen risiko bencana berupa pemberian edukasi ringan untuk kalangan petani, nelayan, serta anak-anak. Ada juga kegiatan yang dilakukan oleh Bintari pada sektor ini yaitu adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat melalui konsep wanatani yang berkelanjutan di Ungaran, Semarang, Indonesia.

Kegiatan adaptasi pada sektor manajemen risiko bencana juga menarik perhatian para pelaku kepentingan perubahan iklim di tingkat Kementerian Republik Indonesia, di antaranya KKP melakukan pengembangan sistem informasi perubahan iklim di Kota Pekalongan yang bertujuan untuk memudahkan akses informasi tentang iklim kepada para nelayan dan masyarakat pesisir; KLH yang menjalankan program Clean Batik Initiative

(CBI) dengan tujuan untuk menciptakan kesadaran akan penggunaan batik ramah lingkungan di Indonesia; Menhut yang mendirikan beberapa koperasi hasil hutan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang berbasis pada pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam; Menristek melakukan Technology Needs Assesment untuk mengidentifikasi dan menentukan teknologi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; serta Menkeu melakukan pengembangan Clean Technology Fund

(CTF).

Gambar 11 Diagram persentase kegiatan sektor manajemen risiko bencana.

Gambar 11 menunjukkan bahwa 77% kegiatan adaptasi pada sektor manajemen risiko bencana merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan, 15% merupakan kegiatan adaptasi yang sedang dilaksanakan, dan 8% merupakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Berdasarkan Gambar 6, kegiatan adaptasi sektor manajemen risiko bencana merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan sektor tersebut memiliki cakupan yang luas di antaranya yaitu sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur.

4.1.6 Sektor Sumber Daya dan Kualitas Air

Pada sektor ini kegiatan adaptasi perubahan iklim banyak dilakukan oleh Bintari, dengan kegiatannya yaitu scaling up

wanatani berbasis masyarakat sebagai upaya mengurangi penurunan lahan dan dampak perubahan iklim di DAS Garang, Ungaran, Semarang, pemanenan air hujan untuk meningkatkan ketahanan kota, dan Early warning Sistem Banjir dengan menyediakan

flood shelter. Semua kegiatan yang dilakukan oleh Bintari bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Selain Bintari, CCROM pun melakukan kegiatan adaptasi pada sektor sumber daya dan kualitas air dengan kegiatannya berupa penguatan kelembagaan untuk mengintegrasikan manajemen SDA di 8 lokasi di Jawa Barat sejak September 2010 sampai September 2012. Sementara Menristek melakukan inovasi teknologi sistem membran pada

pompa air siap minum dan membuat PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) dengan tujuan untuk menjaga lingkungan hutan agar sumber daya air sebagai sumber daya listrik harus tetap terjaga.

Berdasakan Gambar 6, kegiatan adaptasi pada sektor sumber daya dan kualitas air tidak terlalu banyak dilakukan oleh para pemangku kegiatan adaptasi, padahal seharusnya sektor ini perlu mendapat perhatian khusus agar dampak yang terjadi tidak menyebar luas pada sektor yang lainnya. Perubahan pola curah hujan akan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Sebagai contoh, ketika masyarakat kekurangan sumber daya air bersih maka sektor kesehatan pun akan terganggu karena sumber daya air merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan ini, tidak hanya dibutuhkan untuk minum atau mandi saja, namun dibutuhkan juga untuk mencuci semua perlengkapan sehari-hari agar senantiasa hidup dalam kondisi yang bersih, serta dibutuhkan untuk irigasi lahan pertanian. Namun, kekhawatiran ini mendapat tanggapan cukup baik dari para pemangku kegiatan adaptasi perubahan iklim, hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya kegiatan pada sektor sumber daya dan kualitas air yang sedang dan akan dilakukan oleh beberapa kelembagaan di Indonesia.

Gambar 12 Diagram persentase kegiatan sektor sumber daya dan kualitas air.

Gambar 12 menunjukkan bahwa 57% kegiatan adaptasi pada sektor manajemen risiko bencana merupakan kegiatan yang telah dilaksanakan, sementara yang sedang dan akan dilaksanakan masing-masing hanya 29% dan 14%. Walaupun secara keseluruhan kegiatan adaptasi perubahan iklim pada sektor ini tergolong sedikit, namun para pemangku kepentingan masih memberikan perhatiannya pada sektor ini, dibuktikan dengan adanya kegiatan adaptasi yang sedang dan akan dilakukan guna mengatasi dampak yang telah, sedang, atau akan terjadi pada sektor sumber daya dan kualitas air. 4.2 Analisis Kegiatan Adaptasi

Berdasarkan Jenis Adaptasi Perubahan Iklim

Kegiatan adaptasi yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh kelembagaan di Indonesia harus memiliki basis ilmiah agar dapat menjustifikasi bahwa kegiatan adaptasi tersebut memiliki dasar yang mencukupi sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim. Pengidentifikasian kegiatan berdasarkan jenis adaptasi dapat menjadi salah satu basis ilmiah. Menurut McCarthy et al. (2001), jenis adaptasi perubahan iklim dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu adaptasi terencana yang merupakan hasil dari keputusan kebijakan yang direncanakan berdasarkan kesadaran bahwa kondisi telah berubah atau akan berubah; adaptasi otonom merupakan adaptasi yang bukan merupakan respon secara sadar terhadap rangsangan iklim tetapi dipicu oleh perubahan ekologi di sistem alam ataupun sistem manusia; dan adaptasi antisipatif yang dilakukan sebelum dampak perubahan iklim terjadi.

4.2.1 Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, sebagai contoh kekeringan dan banjir akan menyebabkan gagal panen produksi pertanian. Oleh karena itu perlu adanya kegiatan adaptasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang sudah terjadi ataupun mengantisipasi dampak perubahan iklim yang diperkirakan akan terjadi.