BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.6. Teknik Keabsahan Data
Terdapat beberapa rekomendasi pendekatan yang diajukan Creswell untuk memperoleh keabsahan data, namun peneliti hanya menggunakan beberapa pendekatan sebagai berikut:
1. Melakukan triangulasi sumber data yang berbeda dengan memeriksa bukti dari sumber data untuk membangun penyesuaian yang koheren sesuai dengan topik penelitian ini.
2. Melakukan pengecekan dengan cara yaitu mengkonfirmasi kembali keakuratan hasil temuan penelitian kepada partisipan. Teknik ini dapat dilakukan melalui wawancara lanjutan, agar partisipan atau informan mendapatkan kesempatan untuk mengkoreksi jika terjadi kesalahan.
Yang menjadi sumber informasi pada proses triangulasi dalam penelitian ini adalah:
1) Pengamat komunikasi sekaligus dosen Komunikasi dan juga Ketua Asosiasi Jurnalistik perempuan, yaitu Ibu Lia Anggia Nasution, S.Sos., M.I.Kom yang peneliti anggap memiliki kompetensi dalam memberikan informasi tentang objek penelitian ini.
2) Master Teacher Ruang Guru, yaitu Mentor atau Tentor daring di aplikasi Ruang Guru yang mempunyai kompetensi dan mampu memberikan informasi secara akurat tentang objek penelitian ini, yaitu Riky Wahyu Ramadhani, S.Sos.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Proses Penelitian
Penelitian mengenai efektivitas aplikasi Ruang Guru sebagai medium komunikasi dalam kegiatan bimbingan belajar daring di kalangan siswa SMA di kota Medan dimulai dengan melakukan beberapa persiapan sebelum akhirnya melakukan pengumpulan data atau informasi. Beberapa persiapan tersebut dimulai dengan melakukan pengumpulan beberapa literatur yang tentunya berkaitan dengan topik penelitian ini. Pengumpulan beberapa literatur tersebut peneliti ambil dari internet, buku, jurnal dan sumber lainnya. Tidak hanya melakukan pengumpulan literatur, peneliti juga melakukan observasi awal yang akan menjadi alasan peneliti dalam memulai penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan penelitian dengan wawancara mendalam kepada narasumber yang sudah peneliti tetapkan dari awal. Pengumpulan data dimulai dari observasi awal kemudian pra penelitian dan yang terakhir sampai kepada wawancara langsung narasumber di lapangan. Ketika melakukan proses wawancara dengan narasumber, peneliti menggunakan alat pencatat manual berupa buku atau catatan lapangan serta alat perekam yang dapat memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data bila ada data yang tidak sempat untuk dicatat dalam buku atau catatan lapangan. Penelitian ini dimulai dari bulan Mei 2021 sampai bulan Juli 2021 dengan persiapan awal melihat berbagai fenomena yang terjadi akibat pembelajaran jarak jauh melalui media daring atau online.
62
Penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kalimat atau kata-kata tertulis secara lisan atau langsung yang didasari oleh perilaku yang diamati.
Pendekatan kualitatif secara utuh mengarah pada latar belakang individu yang diamati oleh peneliti sehingga deskripsi yang tertulis pada penelitian ini merupakan kesungguhan data atau informasi yang berlatarbelakang dari proses belajar mengajar narasumber atau informan yaitu siswa SMA yang pernah berlangganan aplikasi Ruang Guru, orang tua siswa SMA serta guru SMA yang mengetahui aplikasi Ruang Guru.
Dalam proses menuju seminar proposal, peneliti mengakses dan mengamati video pembelajaran yang ada di aplikasi Ruang Guru. Peneliti juga mengamati berita-berita seputar aplikasi Ruang Guru yang dijadikan sebagai medium komunikasi dalam kegiatan bimbingan belajar daring. Peneliti melihat di laman atau website media online serta melalui media sosial seperti Instagram. Sepanjang pengamatan peneliti, terdapat informasi yang peneliti dapat jadikan sebagi sumber informasi terkait penelitian ini.
Selama menunggu berlangsungnya seminar proposal, peneliti sudah beberapa kali melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing dan diarahkan untuk segera menyiapkan informan yang tepat dijadikan sebagai sumber informasi terkait penelitian ini. Beberapa nama informan tersebut telah peneliti sampaikan dan disetujui oleh komisi pembimbing. Pada tanggal 24 Mei 2021, peneliti telah mengikuti seminar proposal tesis.
Setelah kegiatan seminar proposal tesis dilaksanakan dan surat izin penelitian dengan nomor 83/UN5.2.1.9.2.4/SPB/2021 telah diterbitkan, peneliti kemudian mulai melakukan penelitian sepenuhnya dengan menghubungi setiap informan utama dan informan triangulasi pada akhir Mei 2021. Adapun yang menjadi kriteria informan yang telah peneliti tetapkan adalah siswa SMA yang pernah berlangganan aplikasi Ruang Guru, orang tua siswa serta guru SMA yang mengetahui aplikasi Ruang Guru.
Sebelum melakukan proses wawancara kepada setiap informan, peneliti telah menyiapkan daftar pertanyaan terkait topik penelitian ini. Awalnya peneliti mengunjungi langsung Brain Academy Ruang Guru yang ada di Komplek Crown Centre, jalan S.Parman No.19-20 Medan Petisah untuk meminta izin penelitian dan menanyakan siswa serta master teacher (tentor) yang bersedia untuk diwawancarai oleh peneliti. Ketika sudah tiba di lokasi, peneliti mendapat respon yang baik dari konsultan dan tim Ruang Guru. Namun untuk mewawancarai siswa, pihak Ruang Guru menyarankan untuk mencarinya di sekolah-sekolah yang ada di Medan. Menurut pihak Ruang Guru, setiap sekolah SMA yang ada di Medan pasti ada yang berlangganan aplikasi Ruang Guru. Mereka juga menambahkan bahwa siswa SMA yang ada dan datang ke Brain Academy hanyalah siswa SMA yang berlangganan kelas offline sehingga menurut peneliti tidak sesuai dengan kriteria informan yang sudah ditetapkan. Informasi mengenai jadwal wawancara dengan Master Teacher (tentor) Ruang Guru akan diinformasikan kembali oleh tim Ruang Guru kepada peneliti melalui aplikasi chatting yaitu What’s App.
Peneliti kemudian mencari informan siswa dengan cara menanyakan perihal siswa kelas 3 SMA yang berlangganan Ruang Guru pada Instagram’s story (sebutan untuk cerita di Instagram) di akun peneliti sendiri. Peneliti mendapat respon yang cepat dari followers (sebutan untuk pengikut di Instagram) peneliti dan mulai menanyakan beberapa rekomendasi dari followers peneliti. Peneliti langsung menghubungi beberapa calon informan dengan menanyakan data pribadi dan sepintas mengenai Ruang Guru. Calon informan pertama sudah sesuai dengan kualifikasi yang peneliti tetapkan namun ketika ditanyakan kesediaannya untuk diwawancarai, calon informan tersebut menolak. Peneliti kemudian menanyakan kepada calon informan yang menolak untuk diwawancarai perihal temannya yang berlangganan Ruang Guru. Ketika sudah panjang lebar chatting melalui aplikasi What’sApp, calon informan selanjutnya juga menolak. Dengan cara yang sama, peneliti juga menanyakan calon informan yang menolak peneliti mengenai temannya yang berlangganan Ruang Guru, dan sayangnya hal yang sama juga terjadi pada peneliti. Peneliti kemudian menghubungi rekomendasi selanjutnya yang peneliti dapatkan dari followers di Instagram. Peneliti menanyakan hal yang sama namun dengan berat hati calon informan tersebut menolak dikarenakan pandemi Covid-19 yang membuatnya enggan untuk bertemu siapapun. Peneliti kemudian menanyakan apakah ada temannya yang berlangganan Ruang Guru, calon informan tersebut mengatakan iya. Peneliti sangat berharap bahwa temannya akan menerima peneliti untuk mewawancarainya. Namun hal yang serupa juga masih peneliti dapatkan. Temannya juga menolak peneliti dikarenakan takut bertemu dengan peneliti yang merupakan orang asing. Peneliti sempat menyerah dikarenakan sudah lima siswa yang menolak untuk
diwawancarai. Peneliti kemudian menghubungi rekomendasi selanjutnya yang peneliti juga dapatkan dari balasan Instagram’s Story. Dikarenakan rekomendasi selanjutnya ini merupakan adik sepupu dari teman peneliti, maka peneliti sangat berharap siswa tersebut bersedia, namun sangat disayangkan karena ketika siswa tersebut sudah sesuai dengan kualifikasi yang ada, siswa tersebut menolak diwawancarai dikarenakan takut ditanyain mengenai Ruang Guru.
Pada tanggal 7 Juni 2021 tepatnya hari senin, peneliti akhirnya mendapat kesediaan dari informan siswa untuk diwawancarai. Peneliti mulai mewawancarai informan pertama yaitu seorang siswa SMA bernama Nita Penina Purba. Sebelum mewawancarai informan pertama, peneliti terlebih dahulu sudah mempersiapkan daftar pertanyaan yang diajukan serta menanyakan jadwal yang tepat untuk dilakukan penelitian. Peneliti mengenal informan pertama dari rekomendasi follewers peneliti yang merupakan teman SMA peneliti. Teman peneliti tersebut memiliki seorang adik yang berlangganan di aplikasi Ruang Guru. Oleh sebab itu, peneliti kemudian meminta nomor WhatsApp adiknya dan menanyakan kesediaannya untuk diwawancarai. Setelah informan pertama bersedia untuk diwawancara, peneliti dan informan pertama kemudian melaksanakan wawancara di rumahnya yang ada di daerah Simalingkar Medan dengan lancar. Peneliti kemudian menanyakan kesediaan orang tua Peni untuk diwawancarai juga seputar aplikasi Ruang Guru. Karena orang tua Peni (Ibu Purba) bersedia diwawancara, peneliti pun mengajukan pertanyaan setelah selesai bertanya kepada Peni.
Sepanjang satu minggu kemudian, peneliti juga sempat mendapat penolakan dari calon informan kedua dikarenakan siswa tersebut tidak ingin diwawancarai seputar Ruang Guru. Awalnya siswa tersebut memiliki respon yang cepat dan baik
ketika peneliti tanyakan mengenai Ruang Guru, namun pada akhirnya siswa tersebut menolak. Peneliti kemudian menghubungi rekomendasi dari followers Instagram selanjutnya. Peneliti mendapat kendala dalam menemukan jadwal yang tepat untuk mewawancarai informan kategori siswa selanjutnya. Namun setelah berdiskusi waktu yang tepat, akhirnya peneliti dan informan dapat melaksanakan wawancara pada tanggal 15 Juni 2021. Sama seperti informan pertama yang peneliti dapatkan dari teman peneliti yang melihat Instagram Story peneliti, informan kedua berasal dari rekomendasi teman kuliah peneliti. Informan kedua dalam penelitian ini bernama Fildzah Hasyyati Andila seorang siswa SMAN 2 Medan. Peneliti melakukan wawancara di rumah informan yang berada di daerah Tanjung Morawa. Setelah selesai mewawancarai informan kedua, peneliti mengajukan permohonan untuk mewawancarai Ayah Fildzah, namun Ayah Fildzah menolak dikarenakan tidak terlalu paham mengenai Ruang Guru. Fildzah kemudian menyarankan untuk mewawancarai Ibunya saja. Pada saat itu, ibu Fildzah sedang berada di luar rumah sehingga Fildzah harus menanyakannya melalui nomor telepon. Peneliti kemudian mendapat persetujuan dari Ibu Fildzah untuk diwawancarai dan melangsungkan wawancara di sebuah café yang ada di Tanjung Morawa karena ibu Fildzah sedang ada disana bersama dengan rekannya.
Sebelum mewawancarai informan kategori siswa selanjutnya, peneliti menerima persetujuan dari informan kategori guru yaitu Ibu Supraba Ika Sari., S.Pd., M.Pd. Awalnya peneliti mengenal Ibu Ika dari rekan sejawat peneliti yang menyarankan untuk mewawancarai bu Ika karena bu Ika sesuai dengan kriteria yang sudah peneliti tetapkan. Dikarenakan jadwal bu Ika yang sibuk sebagai PLT SMAN 14 Medan, peneliti menyarankan untuk wawancara telepon via WhatsApp
dan bu Ika setuju. Peneliti merasa beruntung karena bu Ika sangat ramah dan memudahkan proses wawancara peneliti. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan Bu Ika via WhatsApp pada tanggal 16 Juni 2021.
Peneliti kemudian mewawancarai informan ketiga kategori siswa. Peneliti mendapatkan informasi mengenai informan ketiga dari adiknya teman peneliti yang bernama Ieremia Ritonga. Siswa tersebut merupakan ketua OSIS di sekolahnya yakni SMA Methodist-1 Medan. Peneliti tidak mendapat kendala dalam menjadwalkan wawancara dengan informan ketiga. Wawancara dengan informan ketiga berlangsung dengan baik pada tanggal 22 Juni 2021 di rumah Ieremia Ritonga yang berada di Taman Anggrek Setia Budi. Sama halnya dengan kedua informan siswa sebelumnya, peneliti meminta untuk dapat mewawancarai orang tua Ieremia Ritonga. Setelah mereka berdiskusi, peneliti mendapat persetujuan dari orang tua Ieremia untuk diwawancarai. Tepat setelah Ibunda Ieremia Ritonga menyetujui untuk diwawancarai, peneliti langsung memulai mengajukan pertanyaan kepada bu Nenci di hari yang sama dengan wawancara Ieremia Ritonga.
Peneliti menyadari bahwa informan kategori siswa sudah memenuhi fokus dan tujuan yang peneliti sudah tetapkan sehingga peneliti tidak mewawancari informan dengan kategori siswa lagi. Peneliti kemudian mencari lagi informan dengan kategori guru yang tepat untuk mendapatkan informasi terkait penelitian ini. Peneliti sempat terkendala dalam mencari guru SMA yang tepat dikarenakan beberapa hal yakni tidak menemukan jadwal yang sesuai antara peneliti dengan calon informan, kriteria calon informan yang menurut peneliti belum tepat, serta penolakan dari calon informan guru. Peneliti sempat kebingungan untuk mencari
informan guru selanjutnya, namun peneliti tetap berusaha mencarinya dengan cara menanyakan kepada rekan lainnya. Setelah bertanya dengan rekan lainnya, peneliti akhirnya mendapat informan guru yang tepat yaitu Bapak M. Hanafiah Lubis, M.Pd seorang guru Bahasa Indonesia di SMAN 7 Medan. Peneliti kemudian mewawancarai pak Lubis pada tanggal 24 Juni 2021 di SMAN 7 Medan.
Informan selanjutnya yang peneliti wawancarai adalah informan untuk triangulasi. Berdasarkan saran dan rekomendasi dari komisi pembimbing, peneliti awalnya menetapkan dua informan. Informan untuk triangulasi pertama dalam penelitian ini adalah dosen Komunikasi sekaligus tenaga pendukung di Dinas Komunikasi dan Informatika Medan. Dosen sekaligus ASN (Aparatur Sipil Negara), Ibu Lia Anggia Nasution, S.Sos., M.I.Kom merupakan pengamat komunikasi yang menurut peneliti relevan dengan penelitian ini. Peneliti mendapatkan informasi kontak Ibu tersebut melalui dosen pembimbing peneliti.
Peneliti kemudian menghubungi Bu Anggi dan menemukan jadwal wawancara yaitu pada tanggal 25 Juni 2021 di Dinas Komunikasi dan Informatika Medan.
Informan untuk triangulasi selanjutnya ialah salah satu master teacher atau tentor Ruang Guru yaitu, Riky Wahyu Ramadhani, S.Sos. Awalnya peneliti mendapat kendala dalam menemukan master teacher Ruang Guru dikarenakan pegawai di Brain Academy Ruang Guru tidak mengizinkan untuk mewawancarai master teacher mereka. Peneliti sempat kecewa dikarenakan pada saat peneliti pertama kali datang ke Brain Academy, respon pegawai disana sangat baik dan bersedia untuk diwawancara. Dikarenakan peneliti belum mempersiapkan daftar pertanyaan, peneliti menawarkan untuk menjadwalkan wawancara dengan master
teacher disana. Namun ketika peneliti menghubungi kembali pegawai tersebut, dengan berat hati mereka menolak untuk diwawancarai dikarenakan sedang sibuk dalam persiapan semester baru. Peneliti pun mencoba menanyakan beberapa rekan dan sepupu peneliti mengenai master teacher Ruang Guru. Peneliti kemudian mendapat kontak Branch Manager Brain Academy Medan dari rekan MIKOM peneliti. Peneliti langsung menghubungi kontak tersebut dan menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian ini. Sangat disayangkan karena ternyata Branch Manager tersebut memberikan respon yang lama dan kemudian peneliti mencoba untuk menghubungi kembali via Whats’App. Sudah lebih dari 2 minggu peneliti tidak mendapati balasan chat dari Branch Manager tersebut dan menganggap bahwa secara tidak langsung memang sudah ditolak. Kemudian peneliti mendapat salah satu kontak pegawai di Ruang Guru yang pernah bekerja sama di BNN Lubuk Pakam. Peneliti mendapat kontak tersebut dari sepupu peneliti yang juga bekerja di BNN Lubuk Pakam. Peneliti langsung menghubungi kontak tersebut. Awalnya chat atau pesan peneliti mendapat respon yang cepat.
Pegawai tersebut mengatakan akan memberikan salah satu kontak dari temannya yang merupakan master teacher Ruang Guru. Peneliti sangat senang dikarenakan ada respon positif dari pegawai tersebut. Beberapa hari kemudian peneliti pun menanyakan terkait janji dari pegawai tersebut dan ternyata sampai sekarang pesan dari peneliti tidak dibaca dan dibalas. Peneliti merasa bahwa hal tersebut merupakan penolakan kembali, dikarenakan satu minggu kemudian setelah mengirimkan pesan terkait janjinya, peneliti mendapati foto profil Whats’App pegawai tersebut sudah kosong atau tidak ada. Peneliti awalnya berpikir bahwa kemungkinan pegawai tersebut menghapus foto profilnya. Peneliti kemudian
iseng memberikan kontak tersebut ke kakak peneliti untuk melihat apakah benar foto profilnya sudah tidak ada. Ternyata melalui whatsapp kakak peneliti, foto profil tersebut masih ada. Peneliti pun menganggap bahwa pegawai tersebut sudah memblokir peneliti. Peneliti sempat kehilangan semangat untuk melanjutkan penelitian ini dikarenakan selalu mendapat penolakan. Namun dikarenakan semangat dari keluarga, peneliti pun mencoba menanyakan kepada teman peneliti satu per satu perihal master teacher Ruang Guru. Peneliti pun mencari cara lain untuk mendapatkan informasi master teacher Ruang Guru dengan cara meminta teman peneliti membuat informasi tentang master teacher Ruang Guru di Instagram Story. Setelah teman peneliti membantu membagikan cerita tersebut, akhirnya peneliti mendapat master teacher Ruang Guru yaitu Riky Wahyu Ramadhani. Peneliti mendapat informasi Riky melalui teman dari rekan peneliti.
Peneliti kemudian mewawancarai Riky pada tanggal 5 Juli 2021 di Biro Rektorat Universitas Sumatera Utara.
Tahap analisis yang dilakukan peneliti adalah membuat daftar pertanyaan untuk proses wawancara mendalam, pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Peneliti melakukan beberapa tahapan untuk mengetahui kedalaman informasi atau data yang diberikan narasumber atau informan penelitian. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Peneliti membuat dan menyusun daftar pertanyaan wawancara yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan juga menyesuaikan dengan jenis narasumber atau informan penelitian yang berbeda untuk wawancara mendalam.
2. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan beberapa siswa SMA, orang tua siswa dan guru SMA sampai peneliti mendapat data jenuh.
3. Peneliti mencatat semua informasi atau data penelitian yang didapatkan dari semua pertanyaan yang diajukan kepada narasumber atau informan penelitian ketika melakukan proses wawancara mendalam.
4. Terakhir, peneliti menganalisis hasil wawancara mendalam yang dijadikan sumber data untuk penelitian ini.
4.2. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian mengenai efektivitas aplikasi Ruang Guru sebagai medium komunikasi dalam kegiatan bimbingan belajar daring pada kalangan siswa SMA dilakukan di kota Medan, Sumatera Utara. Alasan peneliti memilih kota Medan sebagai lokasi penelitian adalah karena kota Medan merupakan salah satu dari 15 kota di Indonesia yang memiliki kantor resmi Ruang Guru dan tempat Brain Academy Ruang Guru. Brain Academy Ruang Guru yang dimaksud merupakan tempat bagi para siswa Ruang Guru yang ingin konsultasi secara langsung (tanpa melalui media atau daring) dengan pihak Ruang Guru. Selain itu, Medan merupakan kota terbesar ketiga dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jakarta dan Surabaya menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS). Kota Medan juga menduduki peringkat pertama dengan jumlah siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) terbanyak di provinsi Sumatera Utara (sumber:
https://referensi.data.kemdikbud.go.id/pd_index.php?kode=070000&level=1).
4.2.1. Profil Singkat Kota Medan
Kantor Ruang Guru yang ada di kota Medan yaitu Brain Academy berada di jalan S.Parman No.19-20 di dalam Komplek Crown Center Medan Petisah,
Sumatera Utara. Berdasarkan informasi yang peneliti dapatkan dari master teacher Ruang Guru, Brain Academy di kota Medan sudah berdiri sejak 15 Juli 2019 lalu.
Mayoritas siswa yang berlangganan di aplikasi Ruang Guru adalah siswa kelas 3 SMA jurusan MIPA atau IPA. Informasi mendalam terkait Ruang Guru tidak peneliti dapatkan dikarenakan pihak Ruang Guru yang tidak mengizinkan memberikan informasi pribadi. Peneliti kemudian bertanya dengan Riky selaku master teacher Ruang Guru, namun Riky juga tidak terlalu mengetahui sejarah detail mengenai Ruang Guru di Medan. Informasi terkait Ruang Guru Medan di media internet juga tidak banyak, sehingga peneliti tidak mendeskripsikan informasi lebih banyak pada bagian ini.
Penelitian ini dilakukan di kota Medan, Sumatera Utara. Peneliti mengambil sumber data dan informasi mengenai kota Medan melalui akun website pemerintah kota Medan yaitu https://pemkomedan.go.id/hal-sejarah-kota-medan.html. Berikut merupakan profil singkat dari kota Medan. Sebelumnya kota Medan dikenal dengan nama Tanah Deli dengan keadaan tanah yang berawa-rawa seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.
Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular. Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai
Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara kedua sungai tersebut.
Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Surabaya serta kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota Medan juga merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dengan keberadaan Pelabuhan Belawan dan Bandar Udara Internasional Kuala Namu yang merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia. Akses dari pusat kota menuju pelabuhan dan juga bandara sudah dilengkapi dengan fasilitas jalan tol dan kereta api. Hal tersebutlah yang menjadikan kota Medan menjadi kota pertama yang mengintegrasikan bandara dengan kereta api. Medan menjadi kota perdagangan, industri dan bisnis yang sangat penting di Indonesia karena berbatasan dengan Selat Malaka.
Sejarah kota Medan berawal dari sebuah kampung yang didirikan oleh Guru Patimpus dalam sebuah pertemuan di kawasan Sungai Deli dan Sungai Babura.
Tanggal 1 Juli 1590 merupakan hari jadi kota Medan yang sudah ditetapkan.
Selanjutnya pada tahun 1632 merupakan tahun dimana Medan dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Menurut Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), kota Medan merupakan salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan kota Jakarta, Surabaya dan Makassar. Medan adalah kota multietnis yang memiliki penduduk dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda. Selain etnis Melayu dan Karo sebagai penghuni awal kota Medan, Medan juga didominasi oleh etnis
Selanjutnya pada tahun 1632 merupakan tahun dimana Medan dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Menurut Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), kota Medan merupakan salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan kota Jakarta, Surabaya dan Makassar. Medan adalah kota multietnis yang memiliki penduduk dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda. Selain etnis Melayu dan Karo sebagai penghuni awal kota Medan, Medan juga didominasi oleh etnis