• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORITIK DAN HIPOTESIS

E. Teknik Pembelajaran Bermain Peran ( Role Play )

Piaget dalam Tuti Soekamto (1997:56) menyatakan bahwa: “Pandangan tradisional tehadap pengetahuan sebagai adanya realitas lahiriah, obyektif dan tetap. Subyek menerima secara pasif realitas obyektif tersebut. Subyek pada dasarnya dilihat sebagai sehelai kertas yang kosong.

Metode serta teknik pembelajaran konvensional lebih berpusat pada guru (teacher centered). Sudjana (2001:39) menyatakan bahwa “Kegiatan

pembelajaran yang berpusat pada guru menekankan pentingnya aktivitas guru dalam membelajarkan peserta didik.” Peserta didik berperan sebagai pengikut dan penerima pasif dari kegiatan yang dilaksanakan. Lebih lanjut Sudjana (2001: 39) menjelaskan bahwa:

Didalam teknik pembelajaran Bermain Peran (Role Play) dicirikan oleh :

1. Dominasi guru lebih banyak didalam dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan peserta didik bersifat pasif dan hanya melakukan kegiatan melalui perbuatan guru atau pengajar.

2. Bahan belajar terdiri atas konsep-konsep dasar atau materi belajar yang tidak dikaitkan dengan pengetahuan awal siswa sehingga peserta didik membutuhkan informasi yang tuntas dan gamblang dari guru.

3. Pembelajaran tidak dilakukan secara berkelompok.

4. Pembelajaran tidak dilaksanakan melalui kegiatan laboratorium.

Suatu teknik pembelajaran jika diterapkan tidak akan sempurna dan pasti ada kelemahan dan kekurangannya. Sudjana (2001: 39) mengemukakan bahwa keunggulan dari teknik pembelajaran yang berpusat pada guru ini adalah:

1. Bahan belajar dapat disampaikan secara tuntas, 2. Dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar,

3. Pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan alokasi waktu yang telah disediakan,

4. Target materi relatif mudah dicapai.”

Joyce dan Weil dikutip oleh Soekamto (1997:79) telah mengelompokkan Metode dan teknik pembelajaran kedalam beberapa kategori, yaitu :.

1. Pengelompokan kedalam metode pengolahan informasi (The Information Processing Family).

2. Pengelompokan kedalam metode Personal (The Personal Family). 3. Pengelompokan kedalam metode Kelompok Sosial (The social Family).

4. Pengelompokan kedalam metode Sistem Perilaku (The Behavioral System Family).

Adapun teknik bermain peran termasuk ke dalam katagori kelompok teknik Sistem Perilaku (Behavioral Systems).

Didalam penelitian ini penulis hanya menitikberatkan pada teknik pembelajaran yang berkaitan langsung dan cocok dengan karakteristik materi pelajaran, yaitu teknik pengolahan sistem Perilaku (Behavioral Systems). Metode serta teknik pembelajaran sistem perilaku (Behavioral Systems) pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan ekternal (datang dari luar) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya. Beberapa metode dalam kelompok ini memberikan kepada para siswa sejumlah konsep, sebagian lagi menitik beratkan pada pembentukan konsep dan pengetesan hipotesis, sebagian lainnya memusatkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. Beberapa metode telah dirancang untuk memperkuat kemampuan intelektual umum.

Pembelajaran bermain peran adalah sebuah teknik pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan yang beragam untuk

mengembangkan ketrampilan, sikap, dan pemahaman berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan, dan efektif. Meskipun yang diharapkan pertama dan utama adalah keaktifan dan kekreatifitasan peserta didik, namun sebenarnya guru pun dituntut untuk aktif dan kreatif. Agar pembelajaran metode ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, sudah tentu guru harus merancang pembelajaran dengan baik, melaksanakannya, dan akhirnya menilai hasilnya. Selain aktif dan kreatif, guru sangat menentukan apakah skenarionya berhasil atau tidak.

Tugas guru adalah untuk membimbing pembelajaran dengan menekankan pada proses pembelajaran dan mengajak siswa untuk merefleksikannya pada kerangka pokok dan harus mendorong tingkat ketelitian yang baik dalam penelitian (Joyce-Weil, 2000:194). Aktivitas siswa yang berupa memegang, meraba, mengamati dan menghitung sendiri tersebut, diharapkan siswa tidak hanya memperoleh konsep tentang sisi bangun ruang, rusuk dan titik sudut dari suatu bangun ruang, tetapi juga menemukan cara-cara yang praktis dan sistematis dalam menghitungnya. Keuntungan-keuntungan lain adalah siswa memperoleh pengalaman langsung, melakukan penemuan-penemuan sendiri sehingga mempunyai pengertian dan pemahaman yang lebih baik. Sesuai dengan pendapat Snelbecker dalam Soekamto dan Winataputra (1997:8) bahwa belajar adalah aktif dan merupakan fungsi dari situasi di sekitar individu yang belajar serta diarahkan oleh tujuan dan terdiri dari bertingkah laku, yang menimbulkan adanyan pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu.

Teknik pembelajaran bermain peran termasuk pada kelompok metode sosial. Teknik pembelajaran ini menuntut siswa menjadi anggota baik (home group) kelompok rumah dan (expert group) kelompok ahli. Siswa harus bekerja sama untuk menyelesaikan soal atau masalah yang diberikan pada kelompoknya dan dipresentasikan secara bergantian.

Pembelajaran kooperatif teknik bermain peran merupakan teknik pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pemikiran Knowles, (E. Mulyasa, 2003:25) menyebutkan indikator pembelajaran kooperatif metode bermain peran, yaitu :

1. Adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik dalam bentuk permainan

2. Adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan

3. Dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik. Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut: 1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.

2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan

3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.

4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.

6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.

7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

Pembelajaran kooperatif metode bermain peran didefinisikan sebagai cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna dalam bentuk permainan. Dalam perkembangan terakhir ini, pengajaran metode Bermain peran sering diungkapkan sebagai pembelajaran berkorelasi atau pembelajaran terpadu.

Adapun tujuan dari penggunaan pendekatan pengajaran teknik bermain peran ini adalah :

1. Melatih peserta didik berpikir komprehensif dengan cara mengkaji dan memecahkan permasalahan dari berbagai disiplin ilmu atau berbagai aspek dalam suatu tindakan bermain.

2. Melatih peserta didik menggunakan keterampilan proses atau metode ilmiah dalam pemecahan masalah.

3. Terbentuk sikap kritis, kerjasama, rasa ingin tahu, menghargai waktu dan menghargai pendapat orang lain.

4. Melatih peserta didik agar memiliki kemampuan merencanakan, mengorganisasi dan memimpin suatu kegiatan.

5. Mengembangkan keterampilan berkomunikasi.

Pengajaran teknik bermain peran digunakan guru karena berbagai alasan berikut:

1. Terdapat keterkaitan antara satu topik dengan topik lainnya atau satu bidang studi dengan bidang studi lainnya dalam suatu pemecahan masalah sehingga harus diciptakan suatu metode yang dapat menciptakan kesatuannya.

2. Memberikan pengalaman belajar tentang pemecahan masalah dari berbagai disiplin ilmu.

3. Mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

4. Melibatkan peserta didik secara fisik maupun psikis dalam KBM.

Adapun kekuatan serta keterbatasan penggunaan teknik pembelajaran bermain peran (Role Play), yaitu :

1. Kekuatan teknik pembelajaran bermain peran (Role Play)

Berbagai kekuatan penggunaan metode bermain peran ini, adalah : a. Membantu peserta didik lebih berpikir komprehensif

b. Memperluas wawasan peserta didik dalam ilmu pengetahuan dengan keanekaragaman sumber informasi.

c. Memperhatikan karakteristik peserta didik secara khusus

d. Menciptakan iklim demokratis dalam belajar di mana peserta didik dapat ikut menentukan rencana bersama guru tentang topik yang akan dibahas e. Pengajaran bermain peran disesuaikan dengan tingkat perkembangan,

minat dan bakat peserta didik sehingga pengajaran akan lebih bermakna. 2. Keterbatasan teknik pembelajaran bermain peran (Role Play)

Adapun berbagai keterbatasan penggunaan teknik ini, antara lain :

a. Sulit menentukan topik yang sesuai dengan minat, bakat dan perkembangan anak.

b. Memerlukan kecakapan khusus dalam melaksanakan pengajaran bermain peran.

c. Memerlukan biaya yang cukup besar. d. Memerlukan waktu yang cukup lama;

e. Kemungkinan pemecahan masalah yang kabur dan dangkal karena ditinjau dan berbagai disiplin ilmu dan tidak semua ilmu dapat dikuasai peserta didik dengan baik.(Sudjana, 2001 : 134-141)

Dardiri dalam sudono (2007: 56) mengatakan sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa pembelajaran metode bermain peran diterapkan, yaitu 1) bermain peran lebih memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Selama ini kita mengenal pembelajaran metode konvensional dinilai hanya guru yang aktif (monologis), sementara peserta didiknya pasif, sehingga pembelajaran dinilai menjemukan, kurang menarik dan tidak menyenangkan, 2) bermain peran lebih memungkinkan, baik peserta didik maupun guru sama-sama kreatif. Guru berupaya kreatif mencoba berbagai cara melibatkan semua peserta didiknya dalam pembelajaran. Sementara peserta didik juga dituntut kreatif pula dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, maupun bahan ajar dengan segala alat bantunya, sehingga pada akhirnya hasil pembelajaran dapat meningkat. Dalam pelaksanaan metode bermain peran dilandasi oleh filsafah kontrustivitisme yang menekankan agar peserta didik mampu mengintregasikan gagasan baru dengan gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimiliki oleh peserta didik. Harapannya mereka mampu membangun makna bagi fenomena yang berbeda, sedangkan falsafah lainnya adalah

pragmatisme yang menekankan agar dalam pembelajaran peserta didik sebagai subyek aktif dan guru fasilitator.

Pembelajaran teknik bermain peran merupakan salah satu teknik pembelajaran yang dapat memecahkan masalah ditinjau dari berbagai mata pelajaran sebagai satu kesatuan yang menyenangkan.

Dokumen terkait