BAB III METODE PENELITIAN
3.4 Teknik Pemilihan Informan
Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball
sampling. Teknik ini merupakan teknik penentuan sampel yang awalnya
berjumlah kecil, kemudian berkembang semakin banyak (Kriyantono, 2016, h. 160).
1.4.1 Gatekeeper atau Informan Kunci (Key Informan)
Penelitian ini menggunakan gatekeeper untuk memberikan masukkan atau arahan untuk menentukan informan selanjutnya. Gatekeeper
adalah seseorang dalam peran resmi atau tidak resmi yang mengontrol
akses ke situs penelitian (Neuman, 2014). Gatekeeper bisa juga disebut sebagai key informant (Creswell, 2014). Gatekeeper dalam penelitian ini dijumpai oleh peneliti ketika melakukan wawancara. Informan mengarahkan peneliti ke sumber lain yang dianggap lebih mengetahui tentang Nyadran daripada informan tersebut. Pertimbangan yang digunakan peneliti dalam menentukan gatekeeper adalah sebagai berikut:
1) Memiliki pengetahuan atau wawasan yang mendalam terkait sejarah desa, Nyadran, persiapan dan pelaksanaan Nyadran Sonoageng
2) Warga asli Sonoageng maupun pendatang yang sudah lama menetap di Sonoageng dan berperan aktif dalam persiapan dan pelaksanaan Nyadran
3) Memberikan arahan atau rujukan terkait informan lain yang dapat diakses oleh peneliti sebagai sumber informasi
4) Rujukan dari instansi yang dijumpai peneliti saat menyampaikan tujuan penelitian dan surat ijin permohonan penelitian kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Nganjuk.
Penentuan informan dalam penelitian ini pada awalnya menggunakan teknik purposive sampling, namun seiring berjalannya penelitian peneliti menemukan gatekeeper dan akhirnya teknik pemilihan informan menjadi
snowball sampling. Gatekeeper yang peneliti temui saat turun di situs
lapangan penelitian adalah sebagai berikut:
1) Gatekeeper 1: Y adalah orang yang pertama kali peneliti jumpai dan mengetahui karakteristik masyarakat Sonoageng serta akrab dengan orang-orang yang berperan aktif dalam pelaksanaan Nyadran Sonoageng. Y mengarahkan peneliti kepada informan 6 dengan pertimbangan informan 6 juga pemuda Sonoageng yang berperan aktif dalam persiapan dan pelaksanaan Nyadran.
2) Gatekeeper 2: Informan 1 adalah orang kedua yang peneliti jumpai saat turun di situs lapangan. Informan 1 mengarahkan peneliti untuk bertemu informan 2, informan 2 merupakan salah satu pencetus prosesi Nyadran Sonoageng
3) Gatekeeper 3: Informan 3 adalah pihak dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk, peneliti bertemu dengan informan 3 saat menyerahkan surat ijin penelitian dan wawancara. Informan 3 mengarahkan peneliti untuk wawancara dengan informan 4 karena menurut informan 3 informan 4 lebih mengetahui data umum perkembangan dan jumlah pengunjung Nyadran Sonoageng.
4) Gatekeeper 4: Informan 7 merupakan juru kunci situs yang dianggap makam Mbah Sahid yang diangkat pada tahun 2016. Informan 7 merasa tidak berwenang dalam menyampaikan sejarah tentang desa dan perkembangan Nyadran Sonoageng secara mendalam, karena mempunyai pimpinan yaitu ketua paguyuban Putro Wayah Eyang Sahid, sehingga informan 7 mengarahkan peneliti untuk menemui informan 9 yang dianggap lebih berhak dan menjelaskan tentang sejarah, perkembangan Nyadran Sonoageng. Informan 9 merupakan salah satu pelopor prosesi Nyadran Sonoageng.
3.4.2 Informan dalam Penelitian
Menurut Neuman (2013) informan penelitian lapangan yang ideal adalah sebagai berikut:
1) Orang yang benar-benar akrab dengan budaya dan yang menyaksikan peristiwa penting menjadi informan yang baik. Ia hidup dan bernapas dalam budaya dan terlibat dalam rutinitas di lingkungan tersebut. Individu tersebut bukan pemula namun memiliki pengalaman beberapa tahun dalam budaya.
2) Individu saat ini terlibat di lapangan. Mantan anggota yang memiliki pandangan mengenai lokasi lapangan dapat memberikan wawasan yang berguna, tetapi semakin lama mereka menjauh dari keterlibatan langsung, semakin besar kemungkinan bahwa mereka telah mengkonstruksi ingatan mereka.
3) Orang tersebut dapat menghabiskan waktu dengan peneliti. Wawancara dapat berlangsung berjam-jam, dan beberapa anggota tidak bersedia untuk diwawancarai secara ekstensif.
4) Informan yang lebih baik adalah individu yang non analitis. Informan non analitis mengenal dan menggunakan teori pribumi atau bakal sehat pragmatis. Hal ini berbeda dengan anggota analitis yang melakukan pra-analitis latar dengan menggunakan kategori dengan media atau pendidikan. Bahkan anggota yang dididik dalam ilmu sosial dapat belajar untuk menanggapai secara non analitis tetapi hanya jika mereka menyisihkan pendidikan mereka dan menggunakan perspektif anggota.
Informan dalam penelitin ini adalah sebagai berikut: No.
Informan Alasan pemilihan
1 Bayan Desa Sonoageng yang berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan desa termasuk di dalamnya adalah Nyadran Sonoageng, Bayan ini adalah warga Sonoageng yang mengerti sejarah, prosesi Nyadran dan pelaksanaan Nyadran.
2 Sesepuh Desa Sonoageng sekaligus juru kunci situs yang dianggap makam Mbah Sahid yang sudah pensiun. Mbah Bayan merupakan warga asli Desa Sonoageng yang mengerti tentang sejarah desa dan riwayat Mbah Sahid
3 Anggota Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemudan dan Olahraga (DISBUDPARPORA) Kabupaten Nganjuk. Nyadran Sonoageng mempunyai keterkaitan dengan DISBUDPARPORA Nganjuk. Wawancara dengan salah satu tokoh dari DISBUDPARPORA dilakukan untuk mengetahui perkembangan Nyadran Sonoageng sebagai wisata budaya di Nganjuk.
4 Kepala Desa Sonoageng berperan dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh warga desa. Kepala desa merupakan tokoh masyarakat dan dipandang sebagai orang yang mengerti tentang tradisi dan kondisi masyarakat desa yang dipimpin.
5 Ketua karang taruna Desa Sonoageng. Wawancara dilakukan untuk mengetahui peran karangtaruna Desa Sonoageng dalam mengembangkan tradisi Nyadran serta pengaturan dalam pelaksanaan
Nyadran Sonoageng.
6 Pemuda asli Dusun Sonoageng sekaligus sebagai anggota paguyuban Jumat Pahing dan Putra Wayah Eyang Sahid. Informan ini mempunyai wawasan terkait orang-orang yang terlibat serta mengetahui sejarah Nyadran Sonoageng.
7 Juru kunci baru situs yang dianggap makam Mbah Sahid yang baru mulai tahun 2016. Juru kunci dipandang sebagai sesepuh desa dan orang yang mengerti tentang sejarah Mbah Sahid serta prosesi Nyadran
8 Kepala Dusun Sonoageng. Informan 8 menjabat sebagai Kamituwo Sonoageng sejak tahun 1989. Informan 8 merupakan pelopor atau pencetus adanya prosesi Nyadran Sonoageng.
9 Ketua paguyuban Jumat Pahing dan Putra Wayah Eyang Sahid Sonoageng. Beliau bertindak sebagai tokoh masyarakat yang dituakan serta yang mengatur penyelenggaraan prosesi Nyadran Sonoageng. 10 Anggota DISBUDPARPORA Kabupaten Nganjuk yang bergerak di
bidang sejarah dan situs kuno di Nganjuk
11 Mantan Kepala Desa Sonoageng pada tahun 1990-1998
12 Ahli spiritual dari luar Desa Sonoageng sekaligus pengurus situs makam Syech Wahdzat
13 Pengurus makam Syech Wahdzat
14 Incidental sampling dengan warga asli Sonoageng