• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.2. Teknik Penentuan Sampel

Menurut Sugiyono (2011), teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang dikelompokkan menjadi dua yaitu Probability sampling dan Nonprobability sampling. Dimana dalam penelitian teknik sampling yang digunakan adalah Nonprobability sampling, yaitu pengambilan sampel dengan metode sampling jenuh atau sensus, sampel dalam penelitian ini adalah petani dengan populasi berjumlah 30 orang yang ada di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng. Karena jumlah populasi yang kurang dari 100 maka, seluruh sampel akan dijadikan sebagai responden, yang tergabung dalam beberapa kelompok tani yang ada di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa.

40 3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan adalah jenis data deskriptif kualitatif tentang tingkat pengadopsian petani padi sawah terhadap sistem tanam jajar legowo.

Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah :

1. Data primer adalah data yang bersumber dari wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner seperti data identitas responden, tanggapan responden.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait seperti data monografi desa dan data kelompok tani yang ada di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden.

Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang sudah ada sebelumnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan langsung mengenai objek yang diteliti untuk mengumpulkan data primer yang terfokus pada petani responden.

2. Wawancara atau Interview

Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya secara langsung kepada responden untuk tujuan penelitian. Cara ini dengan membuat daftar pertanyaan atau kuisioner yang sesuai dengan variabel yang

41 akan diteliti dan tujuan yang ingin dicapai. Kuisioner berguna untuk mengumpulkan data primer yang diperoleh dari hasil responden terhadap pertanyaan yang diajukan.

3. Dokumentasi

Data pendukung yang diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait. Cara ini untuk mengumpulkan data sekunder.

3.5. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan dikategorikan secara tabulasi untuk selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Analisis data untuk menjawab adalah analisis pengukuran terhadap indikator pengamatan dengan menggunakan tehnik skoring atau skala nilai dengan ketentuan (Sugiyono, 2004).

a. Tinggi : 3 b. Sedang : 2 c. Rendah : 1

Interval = Skor tertinggi-Skor terendah Jumlah kelas

42 3.6 Definisi Operasional

Adapun operasional variabel penelitian yaitu sebagai berikut :

1. Petani sampel adalah petani padi yang membudidayakan tanaman padi dengan sistem tanam jajar legowo

2. Penyuluh pertanian merupakan informan bagi para petani dalam menyampaikan informasi teknologi pertanian.

3. Sistem tanam legowo adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi barisan kosong dimana pada setiap jarak tanam pada tipe legowo adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 25 cm (barisan kosong).

4. Penerapan sistem legowo adalah penggunaan sistem tanam jajar legowo untuk penanaman terutama untuk tanaman padi.

5. Tingkat adopsi dapat diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun ketrampilan (psycho-motoric) pada diri seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan penyuluh kepada masyarakat sasarannya.

43

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Geografis

Desa Paraikatte merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Desa Paraikatte memiliki luas 8,24 km2. Secara geografis, Desa Paraikatte dibatasi oleh wilayah - wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Pallangga

Sebelah Timur : Kecamatan Pallangga dan Desa Pa’bentengang Sebelah Selatan : Desa Pa’bentengang

Sebelah Barat : Desa Maccini Baji

Desa Paraikatte berjarak 8 km dari ibukota Kecamatan bajeng dan bila ditempuh dengan kendaraan bermotor dapat ditempuh selama 20 menit.

Dan berjarak 22 km dari ibukota Kabupaten Gowa. Dan 30 km dari ibukota Propinsi. Desa Paraikatte merupakan wilayah daerah dataran rendah di kabupaten Gowa karena elevasinya hanya berada pada ketinggian 20-30 mdpl.

4.2. Kondisi Demografis

Keadaan demografi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kaitannya dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi yang mempengaruhi proses mobilitas sosial masyarakat. Faktor penduduk ini menempati posisi yang paling utama, karna seperti yang kita ketahui bahwa pembangunan itu adalah suatu upaya manusia untuk merubah pola hidup dan posisi sosial mereka untuk tetap memenuhi kebutuhan hidupnya.

44 a. Kependudukan

Data potensi di desa Paraikatte tahun 2014, penduduk di desa Paraikatte menurut jenis kelamin laki-laki 1403 orang dan perempuan sebanyak 1416 orang dan jumlah total penduduknya sebanyak 2816 orang. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-lakinya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah perempuannya.

Tabel 1: Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin.

No Nama Dusun

Sumber, Kantor Desa Paraikatte 2015

Data pada tabel di atas jika dilihat dari jumlah secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak di banding jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki meskipun jumlahnya tidak beda jauh, yaitu penduduk yang berjenis kelamin perempuan tercatat dengan jumlah 1426 jiwa sedangkan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki tarcatat dengan jumlah 1401 jiwa.

b. Pendidikan

Data yang diperoleh di kantor desa Paraikatte tingkat pendidikan masyarakat di desa Paraikatte yang paling banyak adalah tamat SMP, dengan jumlah secara keseluruhan sebanyak 315 orang. Diurutan kedua yang tingkat

45 pendidikan masyarakatnya adalah tamat SD dengan jumlah 254 orang. Kemudian tamatan SMA dengan jumlah 156 orang.

c. Agama

Data yang diperoleh dari kantor desa Paraikatte menjelaskan bahwa agama yang mayoritas dalam masyarakat desa Paraikatte adalah agama Islam. Kondisi ini merata pada 5 dusun yang terdapat di desa Paraikatte adalah pemeluk agama islam, dimana tercatat sebanyak 2816 orang.

d. Sarana dan Prasarana Umum

Tabel 2: Jumlah Sarana dan Prasarana Tempat Ibadah, Pemakaman Umum.

No Sarana dan Prasarana Jumlah

1 Mesjid 8

Sumber Kantor Desa Paraikatte 2015

Dari Tabel 2 terlihat bahwa di desa Paraikatte, memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai, hal itu ditunjukkan oleh tersedianya sarana dan prasarana seperti mesjid, taman kanak-kanak, sekolah dasar, SLTP, SLTA, pondok pesantren, puskesmas, dan pemakaman umum.

46 4.3. Kondisi Pertanian

Data yang diperoleh dari kantor desa Paraikatte. Dari luas desa yang memliki luas 8,24 km2. Desa Paraikatte memiliki lahan persawahan seluas 100 ha, dan selebihnya adalah pemukiman warga dan sarana prasarana desa. Seperti mesjid, sekolah, posyandu, dan lain-lain. Sistem pengairan persawahan di desa paraikatte memiliki saluran tersier yang di aliri oleh dua waduk, yakni waduk Bili-bili dan waduk Bissua. Jadi sangat memungkinan bagi petani yang ada di desa Paraikatte untuk melakukan penanaman padi tiga kali musim tanam dalam setahun. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan sumber air yang cukup untuk areal persawahan petani di desa Paraikatte sepanjang tahun.

Sistem tanam jajar legowo mulai diperkenalkan oleh penyuluh kepada masyarakat desa Paraikatte khususnya kepada petani melalui program Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT BO) pada tahun 2007. Namun baru 3 tahun belakangan petani di desa Paraikatte mulai menerapkan sistem tanam jajar legowo, hal ini disebabkan oleh hasil produksi tanaman padi yang dihasilkan melalui sistem tanam jajar legowo ini memiliki hasil yang lebih banyak jika dibandingkan dengan sistem konvensional, selain itu menurut petani yang ada di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa sistem tanam jajar legowo lebih ekonomis dari segi penggunaan bibit tanaman padi dibandingkan sistem konvensional. Para petani di Desa Paraikatte mulai beralih dari sistem konvensional ke sistem tanam jajar legowo dan pola SRI (system of rice intensification).

47

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden Petani Padi

Identitas responden menggambarkan suatu kondisi atau keadaan serta status dari responden tersebut. Identitas responden dapat memberikan informasi tentang keadaan usaha taninya, terutama tingkat adopsi petani terhadap sistem tanam jajar legowo pada tanaman padi di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Identitas responden tinkat Adopsi Petani Terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo Pada Tanaman Padi di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten gowa dapat dilihat sebagai berikut:

5.1.1 Umur Petani

Salah satu karakteristik yang dimiliki seorang petani yang dianggap penting adalah faktor umur. Identitas responden petani ditingkat umur dapat dilihat pada Tabel 3.

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2015

48 dalam melaksanakan peran sebagai petani padi.

5.1.2 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden juga ikut mempengaruhi pola pengolaan usaha tani. Pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan pola pikir petani.

Identitas responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Identitas Responden Petani Padi di Tingkat Pendidikan di Desa

Sumber : Data Primer Setelah diOlah, 2015

Tabel 4 menunjukkan bahwa seluruh responden dan petani telah mengikuti pendidikan formal dengan tingkat pendidikan yang berbeda. Dimana tingkat pendidikan yang terbesar adalah tamat SD sebanyak 56,67% sedangkan pada tingkat terendah ada yang tamat SMP dan SMA sebanyak 13,33% dan 30%.

49 5.1.3 Pengalaman Bertani

Pengalaman petani dibagi menjadi lima interval yaitu pengalaman 7-10 tahun, 11-14 tahun, 15-19 tahun, 20-23 tahun, dan 24-27 tahun. Pengalaman petani sangatlah beragam mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi 26 tahun. Berikut sebaran distribusi responden menurut pengalaman petani.

Tabel 5. Distribusi Petani Menurut Pengalaman No Pengalaman Bertani

Sumber : Data Primer Setelah diOlah, 2015

Hampir seluruh responden memperoleh pengalaman dalam berusaha tani dimulai dari lingkungan keluarga tani. Adapun motif petani dalam menjalankan usaha budidaya padi disebabkan karena tuntutan kehidupan, tidak ada pilihan pekerjaan lain selain bertani padi, dan menjadikan pekerjaan sampingan selain pekerjaan utama yang mereka tekuni dan mengisi waktu kosong mereka.

5.1.4 Status Kepemilikan Lahan

Status kepemilikan lahan petani dibagi menjadi dua bagian yang terdiri dari lahan garapan & lahan milik sendiri. Status lahan petani didominasi oleh

50 lahan garapan yang dikelola oleh petani sebanyak (56,67 %), sedangkan milik sendiri hanya sebanyak (43,33%). Berikut sebaran distribusi responden menurut status kepemilikan lahan petani.

Tabel 6. Distribusi Status Kepemilikan Lahan Petani

Status Lahan Petani Jumlah (Orang) Persentase (%)

Garapan 17 56,67

Milik Sendiri 13 43,33

Total 30 100,00

Sumber : Data primer setelah diolah, 2015.

Mayoritas lahan yang dimiliki oleh petani penggarap adalah lahan milik keluarga atau lahan milik penduduk desa tetangga, dimana petani penggarap dibebankan oleh pemilik lahan berupa sistem bagi hasil atau sistem sewa lahan.

Untuk sistem bagi hasil petani penggarap biasanya akan menanggung seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses usaha tani berlangsung, kemudian hasilnya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan oleh pemilik lahan. Sedangkan petani yang lainnya merupakan pemilik lahan sekaligus pengelola lahan miliknya sendiri.

5.1.5 Luas Lahan Responden

Lahan merupakan salah satu faktor produksi, dimana luas lahan akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Untuk mengetahui rata-rata luas lahan petani responden di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa dapat dilihat pada Tabel 7 .

51 Tabel 7. Identitas Responden Petani Padi ditingkat Berdasarkan Luas Lahan di

Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

No Luas Lahan (ha) Petani (Orang) Presentase (%)

Sumber : Data primer setelah diolah, 2015.

Tabel 7 Menunjukkan pembagian luas lahan petani dibagi menjadi lima interval, yaitu umur 0 – 0,3 ha, 0,4 – 0,6 ha, 0,7 – 0,9 ha, 1,0 – 1,2 ha, dan 1,3 – 1,5 ha, petani yang memiliki luas lahan terbanyak dari keseluruhan responden adalah 0,4 – 0,6 ha sebanyak 16 orang.

5.2 Adopsi Petani Terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo.

Proses adopsi merupakan proses kejiwaan atu mental yang terjadi pada diri petani pada saat menghadapi suatu inovasi dimana terjadi proses penerapan suatu ide baru sejak diketahui atau didengar sampai diterapkanya ide baru tersebut. Pada tahapan adopsi sistem legowo, petani diharapkan dapat mengadopsi 15 perlakuan mengenai sistem legowo. Penyebaran adopsi sistem tanam jajar legowo dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori tinggi, sedang, dan rendah. Adapun pembagian kategori tersebut dengan melihat bobot yang diberikan dari masing-masing pertanyaan yang diajukan oleh peneliti mengenai sistem tanam jajar legowo.

52 Sistem tanam jajar legowo yang diterapkan di Desa Paraikatte Kecematan Bajeng Kabupaten Gowa adalah dengan sistem tanam jajar legowo dimana diantara barisan tanaman padi terdapat lorong kosong yang lebih lebar dan memanjang sejajar dengan barisan tanaman padi. Pengukuran tingkat adopsi sistem legowo dilapangan, peneliti merujuk kepada anjuran penyuluh yang telah diberikan kepada petani, diantaranya : penerapan baris sistem legowo 2:1, penggunaan alat jarak tanam (tali plastik atau tali tambang), 2-3 bibit padi per lubang tanam, usia bibit yang digunakan 21 hari setelah semai, penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali selama musim tanam berlangsung pada waktu 14 HST dan 42 HST, serta pemberian pemupukan sebanyak 2 kali pada waktu 15 HST dan 45 HST. Hal tersebut digunakan untuk mengukur seberapa jauh petani mengadopsi sistem legowo yang dianjurkan oleh penyuluh.

. Sehubungan dengan hasil penelitian menunjukan bahwa petani sudah mengerti tentang jenis penerapan tanam jajar legowo dalam mempengaruhi petani sehingga dapat menerapkan teknologi budidaya padi sistem tanam jajar legowo agar dapat meningkatkan pendapatan para petani yang secara merata dengan baik, dimana beberapa penerapan sistem jajar legowo sudah diterapakan oleh petani.

Beberapa penerapan sistem tanam jajar legowo sudah berada dalam kategori tinggi karena sebagian besar petani sudah mengerti dan menerapkannya, ada juga beberapa penerapan yang masih dalam kategori sedang, serta penerapan dalam kategori rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa petani belum sepenuhnya melakukan penerapan tersebut dalam usaha taninya.

53 Penerapan sistem tanam jajar legowo yang berada dalam kategori tinggi misalnya seperti, Pengetahuan petani tentang teknologi sistem tanam jajar legowo, sistem tanam jajar legowo merupakan cara tanam padi yang memiliki beberapa barisan tanaman yang diselingi baris kosong, penggunaan bibit padi 1-3 batang perlubang tanam, penggunaan tali plastik sebagai alat garis tanam, pemupukan yang dilakukan sebanyak 3 kali (pemupukan pertama 7-10 HST, pemupukan kedua 15 HST, dan pemupukan ketiga 35 HST), pemupukan yang dilakukan secara menyebar dan merata, serta pembuangan air pada lahan sawah 1-2 hari sebelum tanam, Uraian penerapan tersebut sudah banyak diketahui oleh sebagian besar petani di desa Paraikate Kecamatan Bajeng Kabupaten gowa. Informasi tentang teknologi sistem tanam jajar legowo didapatkan oleh petani melalui petugas penyuluh pertanian juga melalui informasi sesama petani, baik yang berada dalam lingkungan desa Paraikatte maupun desa tetangga.

Penerapan sistem tanam jajar legowo yang berada dalam kategori sedang seperti, pemidahan bibit padi pada usia 21 hari dan penyiangan tanaman menggunakan landak atau osrok, pemindahan bibit padi dari persemaian pada usia 21 hari jarang dilakukan petani. Hal ini sesuai dengan temuan dilapangan bahwa petani biasanya memindahkan bibit padi dari persemaian pada umur 15 hari. serta penyiangan tanaman padi hanya dilakukan dengan menggunakan sabit.

Sedangkan penerapan sistem tanam jajar legowo yang berada dalam kategori rendah, yaitu pemberian pupuk kandang pada lahan sawah sebelum penanaman padi. Hal itu dikarenakan bahwa petani beranggapan pupuk organik seperti pupuk kandang memiliki proses waktu yang lama untuk berporses didalam

54 tanah. Sehingga kotoran ternak yang sebenarny bias dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan persawahan dibiarkan begitu saja dan petani lebih memilih pupuk

kimia sebagai pemupukan dasar di lahan pertaniannya.

Hasil penelitian adopsi petani terhadap penerapan sistem tanam jajar legowo pada tanaman padi dapat dilihat secara rinci pada Tabel 7.

Tabel 8. Respon Petani Terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo Pada Tanaman Padi di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa

No. Uraian Nilai Kategori

1. Apakah Bapak pernah mengetahui sistem tanam

jajar legowo 2,80 Tinggi

2.

Sistem tanam jajar legowo merupakan cara tanam padi yang memiliki berapa barisan tanam yang diselingi oleh beberapa baris kosong

2,86 Tinggi

3.

Sewaktu anda menanam padi disawah, apakah anda membuat beberapa baris tanam yang diselingi oleh satu baris kosong

2,76 Tinggi

4. Sebelum ditanami padi, apakah lahan sawah anda

diberi pupuk kandang 1,56 Rendah

5. Ketika menanam padi, apakah anda menggunakan

1 sampai 3 bibit padi perlubang tanam 2,8 Tinggi 6. Ketika menanam padi, apakah anda menggunakan

tali plastik sebagai alat garis tanam 3,00 Tinggi 7. Bibit padi bagusnya dipindahkan dari persemaian

berusia diatas 21 hari 1,96 Sedang

8. Pembuangan air pada lahan sawah 1-3 sebelum

tanam 3,00 Tinggi

9. Pemupukan padi lebih baik menggunakan cara

sebar agar pupuknya merata 3,00 Tinggi

55 10. Pemupukan sebaiknya dilakukan sebanyak 3 kali 2,76 Tinggi 11. Pemupukan pertama dilakukan 7-10 HST. 2,56 Tinggi 12 Pemupukan kedua dilakukan 15 HST. 2,73 Tinggi 13 Pemupukan ketiga dilakukan 35 HST. 2,76 Tinggi 14 Penyiangan tanaman dilakukan dengan

menggunakan landak atau osrok 2,00 Sedang

Jumlah 36,55

Rata-rata 2,61 Tinggi

Sumber : Data primer setelah diolah, 2015.

Tabel 7 Hasil dari uraian kesuluruhan menunjukkan bahwa adopsi petani terhadap penerapan sistem tanam jajar legowo tergolong didalam kategori tinggi, dengan kategori tinggi, itu berarti terjadi peningkatan dalam penerapan sistem tanam jajar legowo pada tanaman padi di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa melalui peran penyuluh dan kelompok tani.

56

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani responden di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa telah mengadopsi sistem tanam jajar legowo dengan kategori tinggi. Hal itu dapat dilhat dari petani yang sudah mamahami teknik penerapan sistem tanam jajar legowo, mulai dari teknik penamanan, jumlah bibit yang digunakan perlubang tanam, serta pemupukan dan pemeliharaan. Pola tanam petani di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa mengalami banyak perubahan dari sistem yang sebelumnya dimana mereka menggunakan sistem tanam konversional beralih ke sistem tanam legowo, dari perubahan tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peninkatan Penerapan sistem tanam jajar legowo di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten gowa dan petani telah mengadopsi teknologi sistem tanam jajar legowo.

6.2 Saran

1. Kegiatan penyuluhan hendaknya disesuaikan dengan karakteristik petani setempat, dengan tujuan penyerapan materi penyuluhan yang baik.

2. Pengembangan masyarakat lebih berorientasi pada komunitas, di mana peserta didik berpartisipasi sejak awal tentang penentuan tujuan, isi, orientasi kegiatan, teknik-teknik yang akan digunakan, dan mereka endiri sebagai pelaku utama dalam sebuah kegiatan pengembangan.

57 DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S. 2000. Teknologi P-starter Dengan Sistem Tanam Legowo (Shaf) Pada Budidaya Padi Sawah. Prosiding Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian dan Pengkajian Pertanian. Buku I. Sukarami, 21-22 Maret 2000.

Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian Bogor.

Andi Ishak dan Afrizon. 2011. Persepsi dan Tingkat Adopsi Petani Padi Terhadap Penerapan System Of Rice Intensificationdi Desa Bukit Peninjauan 1, Kecamatan Sukaraja Kabupaten. Jurnal penelitian metode system of rice intensification Thn 2011. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu.

Arianda, Dwi. 2010. Evaluasi kegiatan penyuluhanbudidaya padi sistem legowo di Kabupaten Tangerang. Skripsi.

Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta

Hajrah Lalla, M. Saleh S. Ali, dan Saadah. 2012. Adopsi petani padi sawah terhadap sistem tanam jajar legowo 2:1 di Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar. Tesis. Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin. Makassar

Ikhwani, Gagad Restu Pratiwi, Eman Paturrohman dan. Makarim , (2013).

Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo. Jurnal penerapan tanam jajar legowo Thn 2013. Balai Besar Peneltian Tanaman Padi Bogor.

Ismilaili. 2015. Tingkat adopsi inovasi pengelolaan tanaman terpadu padi swah di Kecamatan Leuwilelang Kabupaten Bogor. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Misran, 2014. Studi Sistem Tanam Jajar Legowo terhadap Peningkatan Produktivitas Padi Sawah, Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 14 (2):

106-110. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.

Mujisihono, R. dan T. Santosa. 2001. Sistem Budidaya Teknologi Tanam Benih Langsung (TABELA) dan Tanam Jajar Legowo (TAJARWO). Makalah Seminar Perekayasaan Sistem Produksi Komoditas Padi dan Palawija. Diperta Provinsi D.I.

Yogyakarta.

Rogers. 2003. Diffusion of Innovation. Fifth Edition. New York. The Free Press.

diakses pada 10 mei 2015

Sarlan Abdulrachman, Made Jana Mejaya, Nurwulan Agustiani, Indra Gunawan, Priatna Sasmita, dan Agus Guswara, 2013. Panduan sistem tanam legowo.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.

Sugiyono. 2004. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta

58 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

59 Lampiran 1

KUESIONER PENELITIAN

TINGKAT ADOPSI PETANI TERHADAP SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO PADA TANAMAN PADI DI DESA PARAIKATTE

KECAMATAN BAJENG KABUPATEN GOWA

1. Sudah berapa tahun anda melakukan usaha tani ini ? ………. Tahun 2. Apakah Bapak pernah mengtahui sistem tanam jajar legowo ?

(a) tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

3. Apakah bapak/ibu mengetahui sistem tanam jajar legowo melalui penyuluh pertanian atau sesama petani ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

4. Sistem tanam jajar legowo adalah sistem tanam yang memiliki beberapa baris tanam yang diselingi oleh satu baris kosong ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

60 5. Saat pertama kali mendengar sistem tanama jajar legowo, apakah sistem

tanam jajar legowo merupakan sistem tanam yang layak digunakan dalam usaha tani anda ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

6. Bagaiamana respon bapak/ibu saat pertama kali melihat penerapan sistem tanam jajar legowo di lahan percontohan ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

7. Apakah Bapak/ibu tahu bahwa sistem tanam jajar legowo mulai diperkenalkan di wilayah anda sejak tahun 2009 ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

8. Apakah bapak/ibu mulai menerapkan sistem tanam jajar legowo pada usaha tani anda ?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

9. Sudah berapa tahun bapak/ibu menerapkan sistem tanam jajar legowo?

(a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

10. Dalam setahun bapak/ibu melakukan sistem tanam jajar legowo berapa kali ? (a) Tahu (b) kurang tahu (c) tidak tahu

11. Apakah bapak/ibu mengetahui sistem tanam jajar legowo memilki beberapa

11. Apakah bapak/ibu mengetahui sistem tanam jajar legowo memilki beberapa

Dokumen terkait