BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Pengolahan data bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara dan proses untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Pada pengolahan data ini ada beberapa hal yang akan dibahas yaitu:
1. Klasifikasi massa batuan menggunakan metode rock mass ratting
47
Adapun metode yang digunaka untuk menganasilis klasifikasikan masa batuan yaitu dengan metode Rock Mass Rating, berikut persamaan dan rumus untuk menganalisis massa batuan dengan metode rock mass rating:
a. Pengujian Point Load Indeks menggunakan persamaan 2.7 pada bab 2 kemudian dilanjutkan dengan pengujian kuat tekan dengan persamaan 2.8 pada bab 2, Perhitungan nilai Rock Quality Designation menggunakan persamaan 2.12 pada bab 2
b. Klasifikasi parameter pembobotan dengan menggunakan (Tabel 2.3 hal.29).
c. Pembobotan orientasi kekar mengguanakan (Tabel 2.4 hal.31).
d. Sebelum melakukan pembobotan dilakukan pengimputan data strike dan dipdengan bantuan software stereonetuntuk mendapatkan orientasi kekar.
e. Kelas massa batuan menurut bobot total menggunakan (Tabel 2.5 hal 31).
f. Perhitungan bobot isi asli (natural density) menggunakan persamaan 2.13 g. Perhitungan bobot isi kering (dry density) menggunakan persamaan 2.14 h. Perhitungan bobot isi jenuh (saturated density) menggunakan persamaan
2.15
2. Faktor Keamanan berdasarkan metode janbu
Menggunakan bantuan pengimputan Software Slide V.6.0 dengan mengimputkan data koordinat lereng, litologi batuan, kohesi, sudut geser dalam dan bobot isi batuan. Menggunakan metode janbu untuk mengetahui nilai faktor keamanan lereng.
48 3.6.2. Analisa Data
Setelah melalui tahap dalam pengumpulan data dan pengolahan data maka dilakukan analisa data dengan mengevaluasi dari pengolahan data yang didapat.
Pada analisa data bertujun untuk:
1. Mendapatkan kelas massa batuan dengan menggunakan metode rock mass rating.
2. Mendapatkan faktor keamanan dengan metode slide v.6.0 pada lereng tambang terbuka.
49 3.7 Kerangka Metodologi
Adapun langkah-langkah penelitian yang digunakan penulis dapat dilihat pada kerangka metodologi berikut :
Analisis kestabilan lerengmenggunakan metode janbu di CV.
Putri Surya Pratama NaturalKecamatan Talawi Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat
Identifikasi Masalah
1. Kemiringan lereng berkisar antara 600 – 700. 2. Banyaknya joint (kekar) atau rekahan pada lereng
3. belum diketahuinya faktor keamanan pada lereng portal tambang bawah tanah SPN 03
Data primer
Geometri lereng, Sampel batuan, Data kekar (bannyak kekar dan orientasi kekar), Orientasi kekar (dip dan strike
Tujuan penelitian
1. mendapatkan kelas massa batuan menggunakan metode rock mass ratting di portal tambang bawah tanah SPN 03.
2. mendapatkan nilai faktor keamanan pada lereng portal tambang bawah tanah SPN 03.
Data Sekunder Peta kesampaian daerah, Peta geologi, Peta topografi
A
50
Gambar 3.1. Bagan Alir Penelitian Pengolahan Data
1. Menentukan kelas batuan dari hasil pengujian sifat fisik dan mekanik batuan (pengujian metode RMR).
2. Menentukan faktor keamanandengan menggunakan metode janbu pada software Rocscience Slide6.0
Analisis data 1. Rock mass ratting (RMR)
2. Menganalisa faktor keamanan lereng dengan menggunakan metode Janbu dengan bantuan software Rocscience slide 6.0.
Kesimpulan dan saran
51
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab ini berisikan pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian analisis kestabilan lereng menggunakan metode rock mass rating pada area CV.
Putri Surya Pratama Natural Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat
4.1. Pengumpulan Data
Sebelum melakukan analisa terhadap kestabilan lereng, terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder yang bersumber dari pengamatan langsung di lapangan dan arsip perusahaan, adapun data-data tersebut berupa:
4.1.1. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapatkan secara langsung di lapangan berupa pengukuran geometri lereng, pengukuran kekar dan pengambilan sampel yang akan dilakukan pengujian di laboratorium STTIND padang.
1. Data Lapangan.
Data yang didapatkan di lapangan berupa pengukuran geometri lereng, pengukuran kekar dan pengambilan sampel dengan keterangan sebagai berikut:
a. Data geometri lereng didapat dengan melakukan pengukuran menggunakan kompas geologi dan meteran. Kondisi lereng aktual dapat dilihat pada gambar 4.1 dan hasil pengukuran geometri lereng dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut:
52
Gambar 4.1Kondisi Lereng Aktual
Berikut adalah data geometri lereng yang didapatkan dari hasil pengukuran dilapangan:
Tabel 4.1 Geometri Lereng
Keterangan Nilai
TinggiLereng 15 meter
LebarLereng 15 meter
Strike Lereng N 285˚ E
Dip Lereng 86˚
b. Data rock quality designation didapatkan dari pengamatan jumlah kekar yang terdapat pada bentangan scanline sepanjang 15 meter seperti yang terlihat pada gambar 4.2 dibawah ini:
Data hasil pengukuran kekar yang didapat dari pengamatan dilapangan dapat dilihat pada tabel 4.2:
53
Gambar 4.2 Pengamatan kekar Tabel 4.2 Data Pengukuran Kekar Pengukuran Kekar Jumlah Kekar
0 - 1 meter 1
1 - 2 meter 1
2 - 3 meter 0
3 - 4 meter 0
4 - 5 meter 0
5 - 6 meter 0
6 - 7 meter 0
7 - 8 meter 1
8 - 9 meter 1
9 - 10 meter 0
10 - 11 meter 0
11 - 12 meter 1
54
12 - 13 meter 1
13 - 14 meter 1
14 - 15 meter 0
Total 7
c. Data jarak antar kekar didapatkan dengan melakukan pengukuran langsung antara kekar yang terdapat di sepanjang bentangan scanline dengan menggunakan meteran seperti yang terlihat pada gambar 4.3:
Gambar 4.3 Pengukuran Jarak Kekar
Data jarak antar kekar yang didapat dari pengukuran dilapangan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:
55
Tabel 4.3 Jarak Kekar
Kekar Jarak
1 ke 2 1.50 meter
2 ke 3 5,8 meter
3 ke 4 0,80 meter
4 ke 5 2,80 meter
5 ke 6 1,5 meter
6 ke 7 0,5 meter
d. Data kondisi kekar (condition of discontinuity) didapatkan dengan melakukan pengamatan dan pengukuran pada kekar seperti yang terlihat pada gambar 4.4:
Gambar 4.4 Pengukuran Bukaan Pada Kekar
Data kondisi kekar dari hasil pengamatan dan pengukuran kekar dilapangan dapat dilihat pada tabel 4.4:
56
Tabel 4.4 Kondisi Kekar No
e. Data orientasi kekar (orientation of discontinuitas) didapatkan dengan melakukan pengukuran strike dan dip kekar seperti yang terlihat pada gambar 4.5:
(a) (b)
Gambar 4.5 Pengukuran Pada Kekar, (a) Strike Kekar, (b) Dip Kekar Data orientasi kekar yang didapatkan dari pengukuran dilapangan dapat dilihat pada tabel 4.5 :
57
Tabel 4.5 Data Orientasi Kekar Strike
Kekar
Dip Kekar
115˚ 72˚
128˚ 80˚
139˚ 52˚
136˚ 50˚
140˚ 81˚
136˚ 77˚
236˚ 73˚
f. Data kondisi air tanah (groundwater conditions) didapatkan melalui pengamatan di sekitar lereng dan didukung dengan peta hidrogeologi regional dari arsip perusahaan seperti yang dapat dilihat pada (Lampiran 4). Dan dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa kondisi air tanah kering karena daerah penelitian masuk kedalam zona daerah air tanah langka.
g. Pengambilan sampel batuan didapatkan langsung dari tempat penelitian dan sampel diambil perlitologi. Adapun sampel batuan yang diambil terdiri dari batu pasir, batu serpih napalan, dan batu breksi andesit.
2. Data Laboratorium.
Data yang didapatkan pada pengujian laboratorium adalah data uji sifat fisik batuan dan data uji sifat mekanik batuan. Sampel batuan yang digunakan terdiri dari batu pasir, batu lanau dengan keterangan sebagai berikut:
58
a. Data uji sifat fisik batuan terdiri dari pengujian berat natural, berat kering, berat jenuh dan berat melayang dari setiap sampel batuan seperti yang dapat dilihat pada gambar 4.6:
Gambar 4.6 Sampel Batuan
Sampelditimbangmenggunakanneracatimbangdancataberatnyasepe rtiterlihatpadaGambar 4.7 berikut
Gambar 4.7Pengujian Berat Sampel Batuan
Hasil yang didapatkan dari hasil pengujian sifat fisik batuan ini dapat dilihat pada tabel 4.6 :
59
Tabel 4.6 Berat Sampel Batuan
Keterangan
b. Data uji sifat mekanik batuan didapatkan dari hasil pengujian Unconfined Compressive Strength (UCS) menggunakan alat Point Load Index (PLI) dengan ketentuan pemotongan sampel batuan harus memenuhi syarat ukuran D/W=1-1,4 dan L=0,5D seperti yang terlihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7 Ukuran Sampel Batuan No
60 Keterangan:
D = Jarak antar konus penekan (cm) d = Diameter sampel (cm)
W1 = Lebar sampel bagian bawah (cm) W2 = Lebar sampel bagian atas (cm) W = Rata-rata lebar sampel (cm) D/W = Luas sampel (cm)
Gambar pengukuran sampel batuan dapat dilihat pada gambar 4.8:
(a) (b)
Gambar 4.8Pengukuran Sampel Batuan, (a) Diameter Batuan, (b) Kuat Tekan
Kemudian hasil yang didapatkan dari pengujian sifat mekanik batuan menggunakan alat Point Load Index (PLI) dapat dilihat pada tabel 4.8 :
Tabel 4.8 Uji Kuat Tekan Batuan Sampel Batuan P (kg/cm2)
1 22,3
2 31
4.1.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang bersumber dari arsip dan literatur perusahaan yang menyangkut kajian penelitian berupa :
1. Peta IUP Perusahaan (Lampiran 1)
61 2. Peta Topografiperusahaan(Lampiran 2) 3. Peta Geologi Regional (Lampiran 3) 4. Peta Geomorfologi (Lampiran 4) 4.2. Pengolahan Data
Setelah melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian, maka selanjutnya adalah pengolahan data. Tujuan dari pengolahan data ini yaitu untuk mengetahui nilai tingkat kestabilan lereng penambangan, mengetahui prediksi arah umum kelongsoran dan kemungkinan jenis longsor yang terjadi pada lereng serta mengetahui nilai faktor keamanan dari lereng penambangan.
4.2.1. KlasifikasiBatuanMenggunakanMetodeRock Mass Rating (RMR) Klasifikasi rock mass rating yang diusulkan oleh Bieniawski (1989) digunakan untuk menentukan kualitas massa batuan berdasarkan lima parameter utama, cara mendapatkan nilai rock mass rating yaitu dengan menjumlahkan kelima parameter utama. Berikut adalah penjelasan mengenai lima parameter utama yang digunakan
1. Kuat Tekan Batuan
Uji kuat tekan batuan dilakukan dengan menggunakan alat point load index. Tujuan dari uji kuat tekan ini yaitu untuk mengetahui kualitas dari massa batuan. Dalam pengujian ini sampel yang digunakan berjumlah 3 buah sampel batuan yang terdiri dari batu pasir, batu serpih napalan, dan batu breksi andesit.
Sampel batuan berbentuk irreguler dan masing-masing sampel dipotong kemudian dirapikan menggunakan grinda listrik dengan ketentuan pemotongan sampel batuan harus memenuhi syarat ukuran D/W=1-1,4 dan L=0,5D.
62
Untuk mencari nilai kuat tekan batuan dibutuhkan nilai faktor koreksi (F).
Nilai ini didapatkan dari persamaan Greminger (1982) seperti yang dijelaskan pada (persamaan 2.4 halaman 21). Setelah faktor koreksi didapatkan kemudian masukkan nilai faktor koreksi ke persamaan point load index menggunakan (persamaan 2.3 halaman 20). Lalu setelah nilaipoint load index didapatkan, selanjutnya dapat dicari nilai kuat tekan batuan berdasarkan nilai Unconfined Compressive Strength (UCS) dengan menggunakan (persamaan 2.6 halaman 22).
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan (Lampiran 6), maka bobot nilai UCS rata-rata dari 3 sampel batuan dapat dilihat pada tabel 4.9:
Tabel 4.9 Hasil Uji Kuat Tekan Batuan Sampel
2. Rock Quality Designation (RQD)
Berdasarkan data kekar dengan garis scanline sepanjang 15 meter maka dilakukan perhitungan nilai rock quality designation dapat dilihat pada (Lampiran 7). Dengan hasil pembobotan seperti yang terlihat pada tabel 4.10:
63
Tabel 4.10 Kualitas dan Bobot Batuan Berdasarkan Nilai RQD
Pengukuran Kekar Jumlah Kekar RQD (%) Rata-rata RQD Bobot
0 - 1 meter 1 99.582
Jarak bidang discontinue adalah jarak tegak lurus antar kekar. Untuk mencari jarak antar kekar dapat dihitung secara langsung di lapangan.
Berdasarkan pengukuran di lapangan menggunakan alat ukur berupa meteran.
Bobot jarak kekar dapat dilihat pada tabel 4.11:
Tabel 4.11 Jarak Kekar
Kekar Jarak
Kondisi kekar memiliki lima karakteristik. Lima karakteristik ini meliputi panjang kekar, bukaan kekar, kekasaran kekar, isian kekar, pelapukan kekar.
64
Berdasarkan pengukuran di lapangan dengan menggunakan alat berupa meteran maka didapatkan bobot hasil kondisi kekar seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.12:
Tabel 4.12 Kodisi Kekar No
Kekar KekasaranKekar Isian Kekar
mm Slightly rough None Moderately weathered
Bobot 4 0 3 6 3
5. Kondisi Air Tanah
Berdasarkan pengamatan secara fisual kondisi umum air tanah pada kekar dilapangan dapat disimpulkan bahwa keairan di lokasi penelitian pada kondisi kering. Maka dari itu didapat rating/bobot untuk kondisi air tanah sebesar 15, Bobot kondisi air tanah dapat dilihat pada tabel 4.13.
Tabel 4.13 Kondisi Air Tanah
Kondisi Umum Bobot
Kering (complete dry) 15
Setelah bobot kelima parameter rock mass rating didapatkan, selanjutnya dilakukan pembobotan total dari seluruh parameter. Hasil pembobotan total
65
parameter rock mass rating dapat dilihat pada tabel 4.14 dan deskripsi massa batuan menurut pembobotan total rock mass rating dapat dlihat pada tabel 4.15:
Tabel 4.14 Pembobotan Total
No Parameter Bobot
1 Unconfined Compressive Strength (UCS) 1
2 Rock Quality Designation (RQD) 20
3 Jarak Kekar 15
4 Kondisi Kekar
Panjang Kekar 4
Bukaan Kekar 0
Kekasaran Kekar 3
Isian Kekar 6
Pelapukan Kekar 3
5 Kondisi Air Tanah 15
Bobot Total 67
Setelah diperoleh seluruh parameter-parameter yang ada maka di jumlahkan seluruh nilai bobot yang ada maka diperoleh nilai dari RMR, dan dari total nilai pembobotan yang diperolehdari RMR maka bias di dapat deskripsi batuan seperti tabel 4.15 berikut
Tabel 4.15 Deskripsi Massa Batuan Berdasarkan Bobot Total Rock Mass Rating
No Keterangan Deskripsi
1 Bobot Total 67
2 Kelas II
3 Deskripsi Batuan Baik
4 Kohesi 350 kN/m2
5 Sudut Geser Dalam 40˚
66
4.2.2. Analisis Nilai Faktor Keamanan Pada LerengMetode JanbuSimplified Dengan Bantuan Software Slide V.6.0.
Dalam menganalisa faktor keamanan pada lereng penulis menggunakan metode janbusplimfiedpada perangkat lunak slide V.6.0. Pada perangkat lunak ini dibutuhkan parameter-parameter pendukung yang akan dimasukkan sebagai pengolahan data. Parameter-parameter pendukung ini antara lain yaitu, geometri lereng (tabel 4.1 halaman 53), nilai kohesi (tabel 4.15 halaman 65), sudut geser dalam (Lampiran 8) dan bobot isi batuan seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.18 dibawah ini:
67
Tabel 4.16Bobot Isi Batuan Keterangan
Sampel
1 2
Berat Natural (Wn) 90.5 gr 77.4 gr Berat Kering (Wo) 89.5 gr 76.9 gr Berat Jenuh (Ww) 94.0 gr 79.9 gr Berat Melayang (Ws) 28.7 gr 23.2 gr
Bobot Isi Asli 1,386 gr/cm3 1,146 gr/cm3
Rata-Rata 1,266 gr/cm3
1 gr/cm3 = 9.8066358553
12,4152kn/m3
Setelah semua parameter pendukung telah didapatkan selanjutnya adalah memasukkan semua parameter tersebut ke dalam software slide V.6.0 untuk dapat dilakukan pengolahan data. Langkah-langkah pengolahan data untuk mendapatkan nilai faktor keamanan pada lereng dapat dilihat pada (Lampiran 7).
Dari hasil pengumpulan data dan analisa databasedalam menggunakan software slide v.6.0. Langkah-langkah dalam pengolahan data sebagai berikut:
a. Pembuatan geometri lereng
Langkah awalnya buka software slide V.6.0, selanjutnya pilih new untuk lembar kerja baru, buat geometri lereng menggunakan measure untuk meteran, dimenson angle untuk membuat sudut, penciluntuk membuat garis dan boundaries untuk langkah akhir pembuatan kerangka lereng.
68
Pembuatan kerangka lereng dapat menyesuaikan dari data geometri lereng (Tabel 4.4), dan tabel di bawah ini.
Untuk melihat gambar kerangka lereng dari software slide.v.6.0 dapat dilihat pada gambar 4.9 di halaman 65.
Gambar 4.9Kerangka Lereng
Adapun pengimputan geometri lereng pada software slide.v.6.0 dapat dilihat pada gambar 4.10 di bawah ini.
69
Gambar 4.10Pengimputan Geometri Lereng b. Langkah kedua memasukkan material boundary
kemudian masukkan kohesi (Lampiran 7), sudut geser dalam (Lampiran 7) dan bobot isi (Lampiran 7) pada kolom define material properties. Hasil pengimputan define material dapat dilihat pada gambar 4.11 di halaman 66.
Gambar 4.11 Pengimputan Define Material
70 c. Faktor keamanan
Langkah ketiga pilih analysis klik project setting pilih arah longsoran, pilih methods klik janbu simplified kemudian OK. Pilih auto grid, analysis, compute dan save. Pilih analysis lagi interpert. Untuk melihat hasil faktor keamanan lereng dapat dilihat pada gambar 4.12 di bawah ini.
Gambar 4.12 Faktor Keamanan Lereng
Berdasarkan gambar diatas dapat dianalisis bahwa nilai factor keamanan dari lereng sebesar 4, 5333 dan lereng dinyatakan stabil.
71
BAB V ANALISA DATA
Dari hasil pengolahaan data yang didapatkan analisa data dibuat sesuai dengan pengolahan data atau hasil dari pengolahan data yang dibandingkan atau analisis sesuai teori yang digunakan.
5.1. Analisa RockMass Ratting
1. Uji kuat tekan batuan Point Load Index (PLI).
Uniaxial compressive strength (UCS) adalah kekuatan dari batuan utuh (intackrock) yang diperoleh dari hasil uji UCS menggunakan mesin tekan untuk menekan sampel batuan dari satu arah (uniaxial). Nilai UCS merupakan besar tekanan yang harus diberikan sehingga membuat batuan pecah. Namun, apabila tidak memiliki mesin kuat tekan, maka ada alternatif lain yaitu dengan pengujian point load index.
Dari nilai rata-rata UCS yang sudah didapatkan, nilai UCS dari batu pasir 18,5243kg/cm2 atau 1,8224Mpa dan batu lanau sebesar 29,8kg/cm2 atau 2,9223Mpa dengan rata-rata kedua batuan tersebut adalah sebesar 2,37235MpaBerdasarkan tabel pembobotan RMR nilai UCS batulanau mempunyai bobot 1.
Dari hasil pengujian dapat diambil kesimpulan bahwa batu pasir dan batu lanau yang di uji memiliki kuat tekan yang bagus yang ditunjukan (tabel 4.9).
2. Rock Quality Designation (RQD).
Rock Quality Designation (RQD)merupakan parameter yang dapat menunjukkan kualitas massa batuan.Data rock quality designation didapatkan secara tidak langsung dengan melakukan pengamatan jumlah kekar yang terdapat
72
pada bentangan scanline sepanjang 15 meter, maka pengambilan data RQD pada penelitian ini menggunakan metode scanline dan persamaan RQD = 100 (0,1 λ + 1) e-0,1λ, Nilai RQD untuk batulanau 99.721 % dengan nilai rating 20 yang ditunjukan (tabel.4.10 hal.62). Semakin tinggi nilai RQD maka semakin baik kualitas massa batuan.
3. Jarak Diskontinuitas
Jarak antar kekar didefinisikan sebagai jarak tegak lurus antara dua kekar berurutan sepanjang garis pengukuran. Pada perhitungan nilai rock mass rating, parameter jarak antar kekar diberi bobot berdasarkan nilai spasi kekarnya.
Pengolahan data jarak kekar dapat dilihat pada (tabel 4.11 halaman 63) sehingga didapatkan nilai rata-rata jarak kekar sebesar 1,84 meter. Berdasarkan (tabel 2.5 halaman 32) pembobotan RMR dengan nilai jarak kekar 1,84 meter mempunyai bobot 15 dengan deskripsi jarak kekar batuan lebar (wide). Dari pembobotan yang dilakukan dapat dianalisa bahwa jika suatu lereng tersusun dari batuan yang memiliki kekar dengan jarak yang lebar (wide) maka kekuatan dari batuan penyusun lereng tersebut akan semakin baik hal ini dikarenakan bidang-bidang lemah dari batuan tidak berdekatan sehingga meminimalisir terjadi longsoran.Namun jikasuatu lereng tersusun dari batuan yang memiliki kekar denganjarak yang rapat maka akan memperburuk kekuatan dari batuan penyusun lereng tersebut.
4. Kondisi Kekar
Pada perhitungan Rock Mass Rating (RMR) khususnya diparameter kondisi kekar ada lima karakter yang harus diketahui yaitu, meliputi kemenerusan
73
(persistence), jarak antar permukaan kekar (roughness), kekasaran kekar, material pengisi dan tingkat pelapukan. Kondisi diskontinuitas di lapangan ditentukan dengan menggunakan alat pengukur berupa meteran untuk panjang dan bukaan kekar, sedangkan untuk kekasaran, material pengisi dan kelapukan ditentukan menggunakan indra penglihatan (mata) dan perasa (kulit).
Kemenerusan yang merupakan panjang dari kekar yang diukur di lapangan dapat disimpulkan bahwa nilai panjang rata-rata kekar adalah 1-3 meter dengan bobot 4. Semakin pendek kemenerusan dari kekar, maka semakin baik kualitas massa batuan yang diukur.
Bukaan kekar (aperture) diartikan sebagai lebar kekar yang dilakukan pengukuran di lapangan dan dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata bukaan kekar adalah sebesar dari 10,2 mm dengan bobot 0. Semakin besar bukaan kekar, maka semakin buruk kualitas massa batuan yang ada.
Kekasaran berfungsi sebagai pengunci permukaan bidang kekar, yang mana semakin kasar bidang batuan maka semakin kecil kekuatan geser bidang pada massa batuan, sehingga pergerakan bidang batuan akan berkurang. Untuk kondisi kekasaran di lapangan memiliki kondisi sedang dengan nilai pembobotan 3.Isian (infilling) yang merupakan isian celah antar permukaan bidang kekar, material pengisi akan mempengaruhi kuat geser bidang kekar, yang mana tergantung ketebalannya, isian menghambat penguncian yang diakibatkan kekerasan rekahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, tidak ada isian diseluruh kekar yang telah diukur dan setelah dicocokkan dengan tabel pembobotan memiliki bobot 6 (enam).
74
Selain isian, hal lain yang mempengaruhi kuat geser bidang batuan adalah kelapukan, yang mana semakin lapuk suatu bidang kekar,
maka semakin besar kuat geser pada bidang batuan. Berdasarkan kondisi di lapangan, kondisi bidang kekar terlihat sedang dengan nilai pembobotan 3.
5. Kondisi Air Tanah
Berdasarkan pengamatan secara fisual kondisi umum air tanah pada kekar dilapangan dapat disimpulkan bahwa keairan di lokasi penelitian pada kondisi kering. Maka dari itu didapat rating/bobot untuk kondisi air tanah sebesar 15.
Setelah dilakukan analisis kelima parameter utama pendukung metode rock mass rating dapat simpulkan seperti yang terlihat pada (tabel 4.15 halaman 66) bahwa pembobotan total kelas massa batuan dengan metode rock mass rating iniadalah 67. Kelas massa batuan dengan bobot 67 termasuk kedalam batuan kelas II dengan deskripsi batuan baik dimana deskripsi massa batuan ini memiliki nilai kohesi 350 kN/m2 dan sudut geser dalam 40˚.
5.2. Analisa Faktor Keamanan Lereng
Faktor keamanan lereng pada lubang bukaan tambang CV. Putri Surya Pratama Natural akan dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain. Parameter material yang sangat mempengaruhi nilai faktor keamanan adalah karakteristik sifat fisik dan sifat mekanik material penyusun lereng yang meliputi nilai bobot isi material atau density (γ) dalam kN/m3, nilai kohesi (c) dalam kN/m3 dan sudut geser dalam (θ) derajat.
Untuk mendapatkan nilai dari parameter ini harus didapatkan dengan uji point load index terhadap material yang akan dianalisis. Hasil pengujian sampel harus
75
dilakukan dengan baik agar dapat mewakili karakteristik material penyusun lereng yang sebenarnya. Hasil yang didapatkan akan di inputkan ke dalam software slide v.6.0 untuk nilai faktor keamanan.
1. Bobot Isi Batuan
Bobot isi material menyatakan perbandingan antar berat dengan volume material tersebut. Semakin jenuh material maka nilai bobot isi semakin besar dan beban yang ditanggung badan lereng semakin besar, sebaliknya material dalam kondisi kering, bobot isinya akan semakin kecil sehingga bebannya akan semakin kecil. Pengaruh terhadap faktor keamanan adalah jika nilai bobot isi material semakin besar maka faktor keamanannya semakin kecil dan semakin kecil nilai bobot isi maka faktor keamanannya menjadi semakin besar, dengan ketinggian dan kemiringan lereng serta propertis material yang lain seperti kohesi dan sudut geser dalam adalah sama. Nilai bobot isi material yang digunakan untuk analisis kestabilan lereng adalah nilai material yang didapat dari hasil pengujian sifat fisik batuan, untuk batu lanau sebesar 13,6 dan batu pasir sebesar 11,23.
2. Kohesi
Nilai kohesi didapatkan dari hasil perhitungan kualitas massa batuan (rock mass rating). Dari hasil perhitungan tersebut didapat nilai kohesi pada lampiran 7 diperoleh nilai kohesi batu lanau sebesar 30 kN/m2 dan batu pasir sebesar 54,17 kN/m2
3. Sudut Geser Dalam
Sudut geser dalam merupakan sudut yang terbentuk dari hubungan tegangan normal dan tegangan geser didalam material batuan. Sudut geser dalam adalah
76
sudut rekahan yang terbentuk jika suatu batuan dikenakan tegangan yang melebihi tegangan gesernya. Semakin besar sudut geser dalam suatu material, maka material tersebut akan lebih tahan manerima tegangan luar yang dikenakan dengan ketentuan ketinggian dan kemiringan lereng dan propertis material yang lain seperti kohesi dan bobot isi adalah sama.
Kekuatan material lereng penambangan untuk menahan longsoran sangat tergantung pada daya ikat antar butirnya (kohesi) dan sudut geser dalam.
Kekuatan material lereng penambangan untuk menahan longsoran sangat tergantung pada daya ikat antar butirnya (kohesi) dan sudut geser dalam.