METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan atau memperoleh data penelitian yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Teknik yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data yaitu menggunakan teknik tes. Tes tersebut digunakan untuk mengukur kemampuan awal dan kemampun akhir siswa yang termasuk dalam ranah kognitif setelah diberi perlakuan
1. Tes
penguasaan bahan ajar sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Bentuk tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda yang mencakup aspek kognitif.
2. Obvservasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional terhadap beberapa kejadian untuk mencapai tujuan tertentu (Zainal Arifin, 2011:231). Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi terstruktur. Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya juga dilakukan apabila peneliti tahu dengan pasti variabel apa yang akan diamati (Sugiyono, 2013:205). G. Instrumen Penelitian
1. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat ukur yang digunakan dalam penelitian (Sugiyono, 2013: 148).
a. Soal
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur hasil belajar yaitu tes objektif dalam bentuk pilihan ganda dengan 3 pilihan jawaban sebanyak 20 soal, untuk jawaban benar mendapatkan skor 1 dan jawaban salah akan mendapatkan skor 0. Setelah instrumen tersusun dengan baik selanjutnya dilakukan uji coba instrumen untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen. Data yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari data kuantitatif yang terdiri dari hasil pre test dan post test hasil belajar IPS. Tes yang diberikan sama pada kedua kelas yaitu materi
IPS memahami kegiatan jual beli di lingkungan rumah dan sekolah. Adapun kisi-kisi instrumen tes pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Kisi-kisi Instrumen Soal Kompetensi
Dasar Indikator
Proses Berfikir Jumlah Butir Soal C1 Ingatan C2 Pemahaman C3 Aplikasi 2.3 Memahami kegiatan jual beli di lingkungan rumah dan sekolah 2.3.1 Menjelaskan arti
kegiatan jual beli 1 *8 2
2.3.2 Menjelaskan
pengertian penjual 16 3 2
2.3.3 Menjelaskan
pengertian pembeli 6 *11 2
2.3.4 Menjelaskan kegiatan jual beli pada masa lampau
*2 5 2
2.3.5.Menyebutkan
syarat kegiatan jual beli 4 12 2
2.3.6 Menyebutkan tempat terjadi kegiatan jual beli di lingkungan rumah 15, 16, 17 7, *9, 14, 19, 20 8 2.3.7.Menyebutkan
tempat terjadi kegiatan jual beli di lingkungan sekolah
10, 13,
18 3
Jumlah 20
*Butir soal gugur b. Lembar Observasi
Lembar observasi berfungsi sebagai alat untuk mengamati kegiatan selama proses belajar mengajar, mengamati aktivitas siswa dalam pembelajaran berbasis Interpersonal dan Intrapersonal. Lembar observasi memuat aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, yaitu interaksi antar siswa yang melibatkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan mengelola diri (interpersonal). Deskripsi indikator
Muhamad Yumi (Muhamad Yumi, 2012: 147-178). Pengisian lembar observasi dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan dilakukan oleh observer.
Penilaian lembar observasi, menggunakan klasifikasi hasil belajar dengan skala 4. Skala 4 artinya hasil belajar siswa diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: sangat baik (SB), baik (B), cukup (C), dan kurang (K) (Widoyoko, 2016: 190). Adapun cara menghitung skor akhir menurut S. Eko Putro Widoyoko (2016: 146) sebagai berikut.
SA = Keterangan:
SA= Skor Akhir peserta tes PS= Perolehan Skor
ST= Skor Tertinggi SP= Skala Penilaian
Berikut tabel klasifikasi hasil penilaian (Widoyoko, 2016: 191). Tabel 5. Klasifikasi Hasil Penilaian
Skor Akhir Klasifikasi
>3,25–4,00 Sangat Baik (SB)
>2,50–3,25 Baik (B)
>1,75–2,50 Cukup (C)
Tabel 6. Kisi-kisi lembar observasi siswa No Aspek yang
diamati Deskripsi (Indikator)
No.
Item Jumlah
1 Interpersonal
Bekerja sama selama kegiatan kegiatan
pembelajaran berlangsung. 1
5 Bersosialisasi dengan teman sejawat dan
orang lain 2
Berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran 3
Peduli terhadap orang lain (memberi
nasihat dan saran) 4
Memiliki dua atau lebih teman akrab
(kelompok) 5
2 Intrapersonal
Mengerjakan sesuatu dengan baik ketika
ditinggalkan sendiri 6
5 Patuh terhadap peraturan yang ada. 7
Bisa mengatur diri sendiri 8
Menunjukkan kemandirian 9
Menerima kekalahan 10
Jumlah 10
2. Uji Coba Instrumen
Uji coba instrumen dalam penelitian ini menggunakan uji coba validitas dan reliabilitas. Uji coba instrumen mempunyai tujuan yaitu memperoleh informasi mengenai kualitas instrumen yang akan digunakan dalam penelitian, meliputi sudah atau belumnya instrumen tersebut memenuhi syarat sebagai pengumpul data yang baik. Instrumen dikatakan baik apabila instrumen tersebut valid. Instrumen tersebut dicobakan pada anggota populasi yang diteliti tetapi di luar anggota populasi yang
a. Uji Validitas
Untuk mengetahui validitas butir soal maka dilakukan uji validitas butir soal. Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 144) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Untuk instrumen tes digunakan validitas isi dan butir, sedangkan untuk lembar observasi digunakan validitas konstruk. Validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori, yaitu yang menjadi dasar penyusunan instrumen (Widoyoko, 2016: 237). Untuk menguji validitas konstruk, dapat menggunakan pendapat ahli (expert judgement) Widoyoko (2016: 237). Lembar observasi yang sudah dibuat kemudian dikonsultasikan kepada dosen yang ahli dalam bidang IPS selakuexpert judgement.
Instrumen yang harus mempunyai validitas isi (content validity) adalah instrumen yang berbentuk tes untuk mengukur hasil belajar Widoyoko (2016: 233). Untuk mengetahui validitas butir soal peneliti pengujian menggunakan validitas butir (itemvalidity). Peneliti menggunakan bantuan komputer program SPSS 20for windowsdengan rumus korelasi oleh Pearson. Dalam penelitian ini, soal tes yang digunakan diujicobakan di kelas 3 SD Negeri Kotagede 5 pada Sabtu, 25 Februari 2017 di kelas 3 dengan jumlah siswa yang mengikuti tes sebanyak 26 anak. SD Negeri Kotagede 5 dipilih sebagai peserta tes uji coba instrumen dikarenakan SD Negeri Kotagede 5 mempunyai akreditasi dan status yang sama dengan SD Negeri Percoban 2. Dari 20 butir soal yang diujikan, diperoleh sebanyak 16 butir soal yang valid. Angka korelasi tiap-tiap butir sebagai hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel pada taraf signifikasi 5% dan N=26. Butir atau item dikatakan valid
jika rXY≥ r tabel. Berdasarkan tabel, diketahui bahwa angka korelasi adalah 0,388.
Jadi apabila koefisien korelasi dari suatu butir kurang dari 0,388 dapat dikatakan bahwa butir/item tersebut gugur dan sebaliknya apabila koefisien korelasi suatu item tersebut lebih besar atau sama dengan 0, 388 maka item tersebut valid. Berdasarkan penghitungan dengan aplikasi SPSS, dari 20 butir soal yang telah dibuat, terdapat 4 soal yang gugur yaitu nomor 2, 8, 9, dan 11. Soal yang tidak valid tidak digunakan dalam penelitian dan soal yang valid digunakan dalam penelitian. Sehingga soal yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 16 butir.
b. Uji Reliabilitas
Selain validitasnya, butir soal tersebut juga dihitung reliabilitasnya. Reliabilitas adalah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana data yang dikumpulkan reliabel, dapat dipercaya (Suharsimi Arikunto, 2002:154). Untuk mengetahui reliabilitas instrumen soal digunakan rumusAlpha Cronbachdi bawah ini:
( 1) 1
(Suharsimi Arikunto, 2002: 171) Keterangan :
r11 = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal = jumlah varians butir
Penghitungan untuk mengetahui besarnya koefisien reliabilitas dengan bantuan komputer program SPSS 20 for windows dan diperoleh koefisien alpha sebesar 0,871. Koefisien alpha yang diperoleh berada pada tingkat tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut reliabel
c. Tingkat Kesukaran Butir
Tingkat kesukaran butir soal bertujuan untuk mengetahui bobot soal yang sesuai dengan kriteria perangkat soal untuk mengukur tingkat kesukaran. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut guru pembuat soal. Menurut menurut Nana Sudjana (2005: 137) untuk menghitung indeks kesukaran suatu butir soal digunakan rumus sebagai berikut :
I =
Keterangan:
I = Indeks kesulitan untuk setiap butir soal
= Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal
= Banyaknya siswa yang memberikan jawaban pada soal yang dimaksudkan
Kriteria yang digunakan adalah makin kecil indeks yang diperoleh, maka soal tersebut sulit. Sebaliknya, makin besar indeks yang diperoleh, makin mudah soal tersebut. Menurut Nana Sudjana (2009:137) Kriteria indeks kesulitan soal diklasifikasikan sebagai berikut:
I = 0,71–1,00 = Soal kategori mudah
Berdasarkan kriteria indeks kesukaran soal, maka diperoleh 1 soal dengan kategori mudah, 8 soal dengan kategori sedang dan 7 soal dengan kategori sukar. d. Daya Beda
Daya beda (discriminating power) adalah kemampuan butir soal membedakan siswa yang tergolong kurang atau lemah prestasinya (Purwanto, 2010: 102). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Rumus daya beda menurut Purwanto (2010: 102-103) adalah sebagai berikut.
DB = Atau DB = Keterangan:
= proporsi siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.
= proporsi siswa yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah.
= jumlah peserta yang menjawab benar pada kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi.
= jumlah kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi. = jumlah peserta yang menjawab benar pada kelompok siswa yang
= jumlah kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah. Menurut Suharsimi Arikunto (2013: 213) daya pembeda diklasifikasikan menjadi 5, sebagai berikut.
D = 0,00–0,20 = jelek (poor)
D = 0,20–0,40 =cukup (satisfactory) D = 0,40–0,70 = baik (good)
D = 0,70–1,00 = baik sekali (excellent) D = negatif, semuanya tidak baik
Dari kriteria di atas, diperoleh 7 soal dengan kriteria baik, 7 soal dengan kriteria cukup, dan 2 soal dengan kriteria jelek.