• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik pengumpulan data

Dalam dokumen GELANDANGAN DAN PENGEMIS (Halaman 26-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini diawali dengan studi dokumentasi dan pustaka untuk menggali lebih jauh informasi terkait gelandangan dan pengemis. Dokumen pendukung berupa catatan harian, laporan kegiatan dan foto

16 27 juga diperlukan untuk mendukung informasi yang diperlukan. Selanjutnya penelitian ini juga menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu:

1) angket; dalam penelitian ini akan menggunakan e-kuesioner yang menggunakan aplikasi Survey Monkey. Penyebaran e-survey ini akan dilakukan kepada dua kelompok yaitu manajemen pelayanan sosial yang dalam hal ini diwakili oleh kepala Balai/Loka/panti/LKS dan kelompok penerima manfaat yaitu gelandangan dan pengemis. Pengisian data oleh responden dilakukan dengan wawancara oleh enumerator yang sudah dilatih.

2) Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam tentang kondisi dan kebutuhan gelandangan dan pengemis, serta untuk mengetahui bagaimana solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

3) Focus Group Discussion (FGD), dilakukan untuk proses triangulasi data serta memperoleh informasi lebih mendalam dari stakeholders tentang pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis.

Pengumpulan data kuantitatif dibantu oleh enumerator yang sudah dilatih oleh peneliti. Seorang enumerator rata-rata akan melakukan wawancara 2-4 orang setiap hari sehingga diperlukan dua-empat hari bagi masing-masing enumerator untuk menyelesaikan wawancara. Pemilihan enumerator akan dilakukan perekrutan dengan syarat pekerja sosial yang bertugas di Balai/panti/LKS setempat, dengan pertimbangan enumerator mengetahui situasi dan kondisi para penerima manfaat. Untuk menghindari bias, tim peneliti akan melakukan pemilihan lokasi bagi enumerator dalam melaksanakan tugasnya secara objektif, dengan tetap mempertimbangkan situasi pandemi. Setiap lokasi membutuhkan enumerator yang berbeda yang dihitung secara proporsional (Tabel 2).

1728

Tabel 2. Jumlah Enumerator Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan, tahap pertama merupakan penelitian kuantitatif, dengan penyebaran e-survey ini akan dilakukan kepada dua kelompok yaitu manajemen pelayanan sosial yang dalam hal ini diwakili oleh kepala Balai/Loka/panti/LKS dan kelompok penerima manfaat yaitu gelandangan dan pengemis. Pengisian data oleh responden dilakukan dengan wawancara oleh enumerator yang sudah dilatih. Untuk tahap pertama ini dilakukan di 6 (enam) provinsi dengan di beberapa lokasi layanan rehabilitasi sosial (Tabel 3).

Tabel 3. Daftar Nama Institusi Lokasi Penelitian Kuantitatif dan Jumlah Sampel

Provinsi Nama Lembaga Jumlah

Sampel

Generasi Anti Narkotika & Kriminalitas (G.A.N.K) 21

LKS Karang Madya 21

Panti Rehabilitasi Sosial Bina Karya Cisarua 21

Jawa Tengah 42

PPS PGOT "Mardi Utomo" Semarang 21

Rumpelsos PGOT Mardi Guno Kebumen 21

Jawa Timur 64

No Provinsi Sampel Enumerator

1 DKI Jakarta 209 12

18 29

LKS Insan Sejahtera 21

UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Pasuruan 21

UPT RSBK Madiun 22

Selanjutnya untuk tahap kedua, penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif di 6 provinsi, namun demikian tidak semua lokasi dalam Tabel 3 menjadi lokasi pengambilan data kualitatif dengan alasan keterwakilan antara balai yang merupakan lembaga layanan lanjut di bawah Kementerian Sosial, panti milik pemerintah dan LKS dalam hal ini mewakili lembaga milik swasta. Adapun lembaga yang menjadi lokasi pengambilan data kualitatif antara lain, UPT Pelayanan Sosial Gepeng Binjai (Sumut); PSBK Harapan Jaya (DKI Jakarta), PSBK Cisarua, Balai Rehablilitasi Sosial Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur dan LKS Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (G.A.N.K) Kota Bandung (Jawa Barat); PGOT Mardi Utomo Semarang (Jateng); PSBK Pasuruan dan LKS Insan Sejahtera di Kota Malang (Jatim); LKS Yayasan Pabatta Ummi dan LKS Yayasan Ummi Naharia (Sulsel).

D. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang didapatkan diperoleh melalui proses pengumpulan data dianalisis dalam beberapa tahap. Tahap pertama akan dilakukan pengolahan data kuantitatif untuk hasil survey dengan menggunakan aplikasi SPSS meliputi: 1) editing, memeriksa seluruh daftar pertanyaan yang diisi oleh responden; 2) coding, memberikan simbol atau tanda berupa angka terhadap jawaban responden penelitian; dan 3) tabulasi, menyusun dan menghitung data dari hasil pengkodean yang kemudian akan disajikan dalam wujud tabel. Selanjutnya, hasil pengolahan data tersebut akan dianalisis untuk mendapatkan data deskriptif. Pengolahan data kualitatif dilakukan dengan memeriksa semua data dari instrumen penelitian,

1930 seperti dokumen, catatan, hasil FGD dan wawancara, rekaman dan hasil observasi.

Selanjutnya akan dianalisis berdasarkan pendekatan analisis tematik.

E. Limitasi Penelitian

Data penelitian belum menunjukkan data secara nasional karena penelitian ini memiliki sampel populasi adalah kelompok gelandangan dan pengemis yang mendapatkan pelayanan sosial di dalam panti, maupun pelayanan berbasis komunitas oleh Balai/Panti maupun LKS. Data gepeng di Balai milik Kementerian Sosial dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang melayani rehabilitasi sosial Gepeng didapatkan dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang. Sementara itu, data terkait Panti (milik pemerintah daerah) berasal dari penelusuran tim peneliti melalui internet maupun rekan sejawat yang memiliki informasi valid terkait panti yang melayani rehabilitasi sosial gepeng.

20 31 BAB IV GAMBARAN UMUM HASIL PENELITIAN

Pelayanan rehabilitasi sosial merupakan tahapan yang mendasar dalam proses dukungan sosial dan psikososial bagi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS). Tahapan ini sangat penting untuk pencapaian tingkat keberfungsian sosial dan menyiapkan individu untuk berfungsi secara sosial dan kembali ke komunitas. Penelitian ini dilaksanakan di enam (6) provinsi yaitu di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Lokasi penelitian ini antara lain 1 (satu) Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis (BRSEGP) milik Kementerian Sosial yaitu BRSEGP Pangudi Luhur Bekasi, 8 (delapan) panti sosial untuk gelandangan dan pengemis milik pemerintah provinsi, dan 11 (sebelas) LKS yang menangani program pelayanan sosial bagi gelandangan dan pengemis. Secara keseluruhan, total jumlah lembaga yang menjadi sampel dalam penelitian kuantitatif sebanyak 20 lembaga.

Secara umum, berikut gambaran di masing-masing lokasi.

A. Provinsi DKI Jakarta

1. Gambaran umum lembaga yang menjadi lokasi penelitian

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dimana polulasi paling besar untuk gelandangan dan pengemis yang mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial di panti maupun di LKS. Salah satu panti yang memberikan pelayanan rehabilitasi sosial milik pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah PSBK Balaraja. Panti ini beralamat di Balaraja, Tangerang, Provinsi Banten. Panti Sosial Bina Karya Harapan Jaya (PSBK HJ) merupakan Panti Sosial yang dibentuk dengan tujuan untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial khususnya gelandangan dan pengemis. Namun demikian, pada proses pelaksanaan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan di PSBK HJ terdapat ketidaksesuaian penerima manfaat atau yang disebut sebagai Warga Binaan Sosial (WBS), yaitu terdapat WBS yang mengalami masalah kesehatan mental dan kejiwaan yang tentunya hal tersebut tidak selaras dengan fungsi PSBK HJ itu sendiri. Berdasarkan

2132 pendataan serta proses assessment yang dilaksanakan pada bulan April 2021 oleh tim PSBK Harapan Jaya, jumlah total WBS di panti tersebut adalah 263 orang, dimana yang masuk kategori geldangan sejumlah 170 orang, pengemis 43 orang dan penyandang disabilitas mental (ODMK dan ODGJ) sejumlah 50 orang. Dalam pelayanan rehabilitasi sosial, PSBK ini menerima rujukan dari panti sosial di wilayah DKI Jakarta dari hasil operasi yustisi yang dilakukan oleh Satpol PP, maupun rujukan dari pihak lain.

Di Provinsi DKI Jakarta, terdapat juga LKS yang menangani gelandangan dan pengemis, salah satunya adalah LKS Balarenik. LKS Balarenik beralamat di kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur berdiri pada tahun 2000. LKS Balarenik memfokuskan kegiatan pada upaya-upaya perlindungan anak dengan program utama pemenuhan hak dasar anak, khususnya anak jalanan dan anak pemulung. Dalam perjalanannya, pada tahun 2015 LKS Balarenik menemukan fakta bahwa anak-anak ini juga rentan menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Yayasan Balarenik melakukan pengembangan kegiatan yaitu Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkoba khusus anak. Balarenik menyediakan empat rumah singgah di Jakarta dan rumah rawat inap untuk anak korban pernyalahgunaan narkoba di Bogor, Jawa Barat. Lembaga ini bekerja dengan pendekatan pengembangan masyarakat dan menfokuskan pada program pendidikan dan Kesehatan, termasuk pemenuhan hak anak.

Terkait dengan program penampingan bagi gelandangan dan pengemis, LKS Balarenik juga ambil bagian dalam program pelayanan sosial bagi mereka.

2. Gambaran umum penerima Manfaat

Gambaran umum penerima manfaat di Provinsi DKI Jakarta dapat digambarkan dalam Gambar berikut. Jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan (60%) dan 40% lainnya berjenis kelamin laki-laki.

22 33

Gambar 2. Jenis Kelamin Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sedangkan untuk tingkat pendidikan responden, sebagian besar adalah tamatan SD (32%). Jumlah responden yang tidak tamat juga menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebesar 30%, responden yang lulusan SMP sebanyak 17%, lulusan SMA/SMK sebanyak 11% dan di antara mereka juga ada yang luluasan Diploma sebanyak 2%. Namun demikian, jumlah responden yang buta aksasa juga cukup tinggi yaitu sebanyak 9%.

Gambar 3. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden di wilayah DKI Jakarta berada dalam rentang usia produktif, dimana mereka yang berusia antara 18-25 tahun sebanyak 14%, responden berusia antara 26-33 tahun sebanyak 21%, responden berusia antara34-41 tahun sebanyak 27%, dan mereka yang berusia antara 42-49 tahun sebanyak 18%. Namun demikian ada juga yang sudah berusia lebih dari 49 tahun sebanyak 19%. Sedangkan mereka yang yang berusia anak-anak atau di bawah 18 tahun sebanyak 1%.

2334

Gambar 4. Responden Berdasarkan Usia di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Berdasarkan kepemilikan kartu identitas atau KTP, sebagian besar responden sudah memiliki KTP (84%) dan masih ada 16% yang belum memiliki KTP. Sedangkan untuk kepemilikan BPJS, masih ada 51% yang belum mempunyai BPJS maupun Jamkessos dan sebagian diantaranya (49%) sudah memiliki BPJS/Jamkessos.

Gambar 5. Responden Berdasarkan Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesos di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden di Provinsi DKI Jakarta adalah pemulung (70%), sedangkan 7% lainnya adalah pengamen dan 11% lainnya diantaranya bekerja sebagai tukang parkir dan serabutan. Dari keseluruhan responden hanya 12% yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok gelandangan dan pengemis.

24 35

Gambar 6. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tinggal di bedeng-bedeng yang mereka sewa yaitu sebanyak 58%, sedangkan 13% lainnya tinggal di rumah/kamar kontrakan. Responden juga ada yang mengaku tinggal di kolong jembatan sebanyak 6% maupun di teras toko sebanyak 3% dan di bangunan kosong sebanyak 1%.

Gambar 7. Tempat tinggal Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden mengaku bahwa mereka menggelandang atau bekerja di lingkungan jalan raya (38%), di lingkungan perumahan (36%), dan sebagian juga di lingkungan pasar/toko sebanyak 11%.

Gambar 8. Tempat Responden Bekerja di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

2536 Hasil penelitian di DKI Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai penghasilan rata-rata per-minggu antara Rp.

100.000 – Rp. 300.000 sebanyak 49%, namun pengeluaran rata-rata per-minggu juga sebagian besar antara Rp. 100.000 – Rp. 300.000 sebanyak 48%. Yang menarik, dari 35% responden yang pengeluaran rata-ratanya antara Rp, 300.000-Rp. 700.000 ternyata hanya 17% yang mempunyai penghasilan antara Rp, 300.000-Rp. 700.000. Artinya besar pasak daripada tiang.

Gambar 9. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Yang menarik dalam penelitian ini, ternyata sebagian besar responden mengaku tidak memilik tabungan (81%) tapi memilik hutang sebanyak 65%, hanya 19% yang memiliki tabungan, dan 35% yang tidak memiliki hutang.

Gambar 10. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

26 37 3. Pelayanan Rehabilitasi Sosial

Pelayanan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan melalui tahap assessment awal, dimana sebagian besar penerima manfaat merupakan hasil rujukan dari Dinas Sosial ataupun hasil operasi yustisi. Namun demikian, untuk PSBK Balaraja ini sebagian besar juga mendapatkan rujukan dari RSJ yang ada Di DKI, sehingga sebagian penerima manfaat adalah eks psikotik. Sedangkan rujukan dari Dinas Sosial Provinsi DKI maupun hasil operasi yustisi seharusnya sudah dilaksanakan sesuai seleksi.

Namun demikian, sebagian dari PM di panti tersebut ternyata adalah ODGJ yang memang masih belum siap untuk memperoleh bimbingan keterampilan karena secara mental masih memerlukan terapi mental, sementara dalam panti tersebut belum tersedia petugas khusus yang memberikan layanan tersebut.

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu pelayanan dasar, untuk responden yang berada di balai/panti mereka mendapatkan layanan dasar seperti makan 3 kali sehari yang disediakan oleh Panti. Namun untuk yang di LKS, layanan dasar berupa makan sehari-hari bukan menjadi tanggung jawab pihak LKS, karena mereka tinggal di komunitas dan masih melaksanakan aktivitas pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Untuk layanan kesehatan, di Balai/Panti memberikan layanan kesehatan bagi semua penerima manfaat secara rutin, sebagian besar lembaga tersebut bekerjasama dengan pihak Puskesmas setempat untuk layanan kesehatan. Di DKI Jakarta, semua responden (100%) menyatakan bahwa mereka mendapatkan layanan kesehatan dari Balai/Panti. Responden di LKS sebagian besar belum memperoleh akses layanan kesehatan dari LKS yang mendampingi yaitu sebanyak 75% dan hanya 25% yang mengaku memperoleh akses layanan kesehatan.

2738

Gambar 11. Responden Mendapat Pelayanan Kesehatan Difasilitasi Lembaga

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Terkait dengan bimbingan keterampilan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang dimiliki oleh responden masih minim dan bimbingan keterampilan yang diberikan oleh lembaga bagi responden masih terbatas. 64% reponden menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keterampilan sebelum bergabung dengan lembaga dimana mereka mendapat pelayanan rehabilitasi sosial, dan 72% menyatakan tidak memperoleh bimbingan keterampilan.

Gambar 12. Responden Memiliki Keterampilan dan Mendapat Bimbingan Keterampilan

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Selama dalam pelayanan di Balai/Panti maupun pendampingan dari LKS di Provinsi DKI Jakarta, berbagai permasalahan tentunya muncul dan memerlukan tempat atau orang yang diajak untuk ngobrol atau berdiskusi maupun sekedar curhat. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih terbatasnya kesempatan untuk curhat khususnya di LKS sebanyak 77% dan hanya 23% yang mendapat kesempatan untuk curhat kepada pendamping.

Sedangkan responden yang di panti mengaku 71% mendapat kesempatan curhat kepada pendamping dan hanya 29% yang tidak mendapat kesempatan untuk curhat kepada pendamping.

28 39

Gambar 13. Petugas Menjadi Tempat Curhat Jika Responden Mengalami Masalah

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Keterbatasan pelayanan kesehatan, layanan keterampilan, pendamping sosial bagi penerima manfaat/responden dalam pelayanan rehabilitasi sosial tentunya sangat berpengaruh terhadap hasil yang diharapkan, yaitu tingkat keberfungsian sosial. Kondisi ini tentunya mempengaruhi proses yang seharusnya dilakukan dalam tahapan rehabilitasi sosial. Di LKS kondisinya agak berbeda. Pelayanan dan pendampingan oleh tim dari LKS diberikan kepada keluarga gepeng yang tinggal di slum area, seperti wilayah yang dekat dengan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) atau tempat pengepul sampah plastik. Beberapa program yang dilakukan terkait dengan pendidikan anak, kesehatan maupun akses untuk bantuan sosial lainnya. Pendekatan yang dilakukan berbasis komunitas, sehingga kelompok ini bisa tetap berada di komunitasnya dan bekerja untuk mencari nafkah yang sebagian besar adalah bekerja sebagai pemulung. Yang menarik dalam penelitian ini, bahwa kelompok ini sebagian besar adalah pemulung dan berbeda dengan karakteristik kelompok gelandangan dan pengemis. Layanan di LKS seringkali tidak mengenal istilah terminasi karena pendampingan terus dilakukan oleh pendamping. Namun demikian keterbatasan dana untuk beberapa program seperti bimbingan keterampilan maupun untuk modal usaha.

2940 4. Tingkat Keberfungsian Sosial

Secara umum pemenuhan kebutuhan dasar bagi penerima manfaat di panti sebagian besar terpenuhi, diantaranya pemenuhan kebutuhan makan 3 kali sehari, kebutuhan pakaian yang layak, dan tempat tinggal. Namun demikian, informan yang berada di LKS mengaku harus bekerja dan mendapatkan uang untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sebagian besar bekerja sebagai pemulung dan tinggal di lokasi pemukiman kumuh (slum area) di kota Jakarta. Pemenuhan kebutuhan sosialnya ini masih sangat relatif, hal ini disebabkan karena belum maksimalnya peran bimbingan sosial untuk mendukung peranan sosial para penerima manfaat baik di panti maupun di LKS. Keterbatasan layanan bimbingan sosial bertujuan untuk memberikan dukungan sosial bagi penerima manfaat agar bisa menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Hal ini menjadi bagian penting, karena motivasi dan dukungan sosial untuk menerima kondisi dan memperbaiki kehidupan mereka diharapkan dapat mengembalikan fungsi sosial kelompok gepeng dalam masyakarakat. Salah satu indikator untuk melihat peranan sosial dalam masyarakat, penelitian ini menanyakan tentang keterlibatan responden dalam kegiatan sosial kemasyarakatan selama pendampingan dari balai/panti/LKS. Responden di panti menunjukkan intensitas sering mengikuti kegiatan kemasyarakatan sebanyak 65% karena hal ini menjadi salah satu agenda kegiatan panti atau balai dimana mereka tinggal, dan hanya 14% yang menyatakan tidak pernah mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Berbeda halnya dengan responden di LKS, karena mereka tidak berada dalam pengawasan yang ketat dan tinggal dalam komunitas lainnya, maka 56% menyatakan tidak pernah terlibat mengikuti kegiatan kemasyarakatan, dan 37% lainnya menyatakan kadang-kadang dan hanya 7% yang menyatakan sering terlibat karena sebagian mereka adalah kader dari LKS tersebut.

30 41

Gambar 14. Keterlibatan Responden dalam Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Selama di Balai/Panti/LKS

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Hal ini juga tidak lepas dengan tingkat kemandirian dalam mengatasi masalah, baik ekonomi maupun sosial. Kondisi mereka yang secara ekonomi dan sosial menunjukkan keterbatasan, memerlukan upaya peningkatan secara ekonomi misalkan bimbingan keterampilan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pelayanan yang diberikan masih sangat terbatas sehingga belum mampu mendukung upaya peningkatan keberfungsian sosial secara optimal.

5. Peran Pekerja Sosial dan Pendamping Sosial

Dalam pelayanan sosial, peran pekerja sosial maupun pendamping sosial sangat penting dalam rangka memastikan terselenggaranya layanan rehabilitasi sosial. Namun demikian, peksos di Panti Sosial Rehabilitasi Bina Karya Balaraja di DKI Jakarta ini jumlahnya sangat terbatas. Hanya ada dua (2) orang peksos yang bertugas di Panti tersebut. Dalam pelayanan sehari-hari, panti ini juga menyediakan tenaga pendamping sosial yang menjadi orang tua asuh masing-masing penerima manfaat. Setiap wisma yang terdiri dari 10-15 orang didampingi oleh 1 (satu) orang pendamping sosial.

Namun demikin, fungsi pendamping sosial ini lebih pada kegiatan sehari-hari, sehingga sebagian penerima manfaat yang merupakan ODGJ maupun kelompok terlantar lainnya mengalami kesulitan dalam proses bimbingan sosial. Di panti ini juga belum dilakukan assessment secara lengkap untuk seluruh penerima manfaat karena keterbatasan tenaga peksos. Hal yang

3142 sama juga terjadi di LKS yang mendampingi gelandangan dan pengemis.

Tenaga pekerja sosial jumlahnya terbatas, sebagian besar adalah para relawan yang membantu proses pendampingan dan biasanya terlibat dalam beberapa program kegiatan. Tugas pendamping sosial tidak fokus hanya pada kelompok gepeng, tapi juga pada isu-isu lainnya seperti pengelolaan sanggar belajar, pendataan dampingan, maupun kegiatan adminsitrasi lainnya.

B. Provinsi Jawa Barat

1. Gambaran umum lembaga yang menjadi lokasi penelitian

Lokasi yang menjadi sasaran penelitian Gepeng di Provinsi Jawa Barat yaitu Panti Sosial Bina Karya (PSBK) Cisarua yang menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Balai Rehablilitasi Sosial Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur, sebagai UPT Kementerian Sosial, Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Perdagangan Orang, dan 2 (dua) Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (G.A.N.K) Kota Bandung dan LKS Karang Madya Kabupaten Bekasi. Profil Lembaga milik pemerintah diwakili oleh PSBK Cisarua (UPT Pemda Provinsi Jawa Barat) dan BRS Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur (UPT Kemensos).

PSBK Cisarua sebagai lembaga milik Provinsi Jawa Barat, beralamat di Jl. Kolonel Masturi Panagelan No.1, Cisarua, Kab. Bandung Barat. Berdiri sejak tahun 1981, memiliki tugas dan fungsi untuk merehabilitasi gelandangan dan pengemis. Sasarannya adalah pada orang dewasa dan anak sebagai keluarga maupun individu yaitu anak jalanan dan masyarakat rentan lainnya, seperti wanita atau pria rentan sosial ekonomi. Jumlah Warga Binaan PSBK saat ini 46 orang. Status Lembaga, sampai saat ini belum terakreditasi, sumber anggaran berasal dari APBD dan Baznas.

Peruntukan anggaran lebih banyak dipergunakan untuk permakanan, membayar instruktur, serta kegiatan lainnya terkait dengan fasilitasi warga binaan, seperti melakukan kegiatan Isbat pernikahan dan pembinaan lanjut

32 43 bagi eks warga binaan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, PSBK didukung oleh SDM sejumlah 38 orang, yang terdiri dari 21 orang ASN dan 17 orang non-ASN. Tenaga untuk melakukan rehabilitasi gepeng meliputi Pekerja Sosial, petugas kesehatan, pembina kerohanian, petugas keamanan, petugas kebersihan, juru masak, dan pembina olah raga. Selain itu terdapat pejabat struktural dan staf lainnya yang berstatus ASN. Adapun jumlah Pekerja Sosial adalah 3 orang dan telah bersertifikat. Sarana prasarana untuk Pelayanan WBM di PSBK Cisarua dalam bentuk asrama sejumlah 15 asrama. Setiap asrama terdiri dari 4 kamar sehingga seluruh kamar berjumlah 60 kamar. Sarana yang dimiliki PSBK, terdiri dari ruang perkantoran, ruang konsultasi, ruang pelayanan atau ruang pelatihan dan ruang ibadah. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi pelayanan permakanan, pertanian, menjahit, yang diberikan setiap hari.

Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur adalah balai rehabilitasi sosial gelandangan pengemis milik Kementerian Sosial. Beralamat di Jl. H.M. Djojomartono No. 19 Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 1961, Sasaran pelayanan adalah

Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur adalah balai rehabilitasi sosial gelandangan pengemis milik Kementerian Sosial. Beralamat di Jl. H.M. Djojomartono No. 19 Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 1961, Sasaran pelayanan adalah

Dalam dokumen GELANDANGAN DAN PENGEMIS (Halaman 26-0)