• Tidak ada hasil yang ditemukan

GELANDANGAN DAN PENGEMIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GELANDANGAN DAN PENGEMIS"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN SOSIAL

REPUBLIK INDONESIA

GELANDANGAN DAN PENGEMIS

PELAYANAN REHABILITASI SOSIAL BAGI KELOMPOK MARGINAL

YA N U A R F . W I S M A YA N T I D K K .

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

@2021

PELAYANAN REHABILITASI SOSIAL KELOMPOK MARGINAL GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Sinopsis

Persoalan gelandangan dan pengemis adalah isu yang cukup kom- pleks. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar memiliki daya tarik tersendiri bagi kelompok miskin. Kaum marginal ini sebagian besar adalah kelompok yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, keterbatasan akes; baik akses pendidikan, kesehatan, maupun keterampilan yang mendukung pen- ingkatan ekonomi. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam rangka penanganan gelandangan dan pengemis. Salah satunya melalui pelayanan rehabilitasi sosial bagi kaum marginal ini; baik melalui pendekatan residential (Balai atau panti sosial), termasuk peran Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) melalui pendekatan komunitas. Pelayanan rehabilitasi sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut bertujuan untuk memberi pemenuhan pelayanan dasar, upaya peningkatan keberfungsian sosial termasuk upaya untuk memecahkan masalah baik secara kemandirian sosial maupun ekonomi. Dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial, masih terdapat tantangan dalam pelayanan, diantaranya masih adanya perbedaan standard pelayanan, keterbatasan sumber daya manusia termasuk pekerja sosial, keterbatasan dukungan anggaran maupun masih terbatasnya kerjasama antar organisasi pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, serta koordinasi dengan pemerintah pusat maupun stakheolders terkait. Untuk itu, platform kebijakan nasional terkait penanganan gelandangan dan pengemis ini perlu menjadi fokus untuk mengatasi kompleksitas masalah yang dihadapi kelompok marginal ini.

Pusat Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Tahun 2021

(2)

iii

PELAYANAN REHABILITASI SOSIAL KELOMPOK MARGINAL:

STUDI PADA GELANDANGAN DAN PENGEMIS

Yanuar Farida Wismayanti dkk.

Pusat Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial

2021

(3)

iv

PELAYANAN REHABILITASI SOSIAL KELOMPOK MARGINAL:

STUDI PADA GELANDANGAN DAN PENGEMIS Konsultan:

Prof. Irwanto

PUI-PT PPH-PUK2IS (Unika Atma Jaya) Kontributor Utama:

Yanuar Farida Wismayanti Husmiati Yusuf

Alit Kurniasari Aulia Rahman

Mery Ganti Widiarto

Hari Harjanto Setiawan Badrun Susantyo

Ita Konita Delfirman

Muhammad Belanawane S

Sumber:

puslit.kemsos.go.id Cover:

Aulia Rahman Ukuran:

x, 131, Uk: 18,2x25,7cm ISBN:

978-623-7806-17-2 Cetakan Pertama:

Agustus 2021

Hak Cipta 2021, Pada Penulis Isi di luar tanggung jawab percetakan Copyright © 2021 by Puslitbangkesos

All Right Reserved

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau

memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

PENERBIT

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial bekerja sama dengan

P3KS Press

(4)

iii KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, berkat rahmat dan karunia-Nya, buku hasil penelitian yang berjudul

“Pelayanan Rehabilitasi Sosial bagi Kelompok Marginal: Studi pada Gelandangan dan Pengemis” dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Penelitian ini merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan kebijakan yang berbasis penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok gelandangan dan pengemis merupakan salah satu kelompok miskin perkotaan yang mengalami masalah dalam akses pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, maupun jaminan sosial lainnya. Pelayanan rehabilitasi sosial baik melalui Balai/Panti maupun LKS merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan keberfungsian sosial kelompok ini yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Perubahan mental melalui pendampingan sosial sangat diperlukan untuk memberikan dukungan dan motivasi bagi mereka menuju kemandirian secara sosial maupun ekonomi.

Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, sesuai dengan pepatah “tidak ada gading yang tidak retak”. Oleh karena itu, kami berharap masukan yang bersifat konstruktif dari pembaca guna perbaikan selanjutnya. Semoga buku ini dapat memberi kontribusi yang bermanfaat bagi praktisi maupun akademisi yang mengkaji permasalahan ini. Kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penelitian hingga terwujudnya buku ini, kami menyampaikan terima kasih.

Jakarta, Agustus 2021 Kepala,

Hartono Laras

(5)

iv

Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Puslitbangkesos dan jajaran, rekan-rekan Peneliti, keluarga dan rekan-rekan Enumerator serta para pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas partisipasinya sehingga buku ini dapat diselesaikan tepat waktu”.

Buku yang kau tulis adalah semacam jejak yang terus menyala di dunia, dan bisa menjadi cahaya akhiratmu.

Helvy Tiana Rosa

(6)

v

Daftar Isi

KATA PENGANTAR iii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

A. Kondisi Gelandangan dan Pengemis di Indonesia 5

B. Keberfungsian Sosial 6

C. Pelayanan Rehabilitasi Sosial Gelandangan dan Pengemis 7

D. Pelayanan Rehabilitasi Sosial Gelandangan dan Pengemis 10

E. Permasalahan dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial 12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 14

A. Pendekatan Penelitian 14

B. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel 14

C. Teknik pengumpulan data 15

D. Pengolahan dan Analisa Data 18

E. Limitasi Penelitian 19

BAB IV GAMBARAN UMUM HASIL PENELITIAN 20

A. Provinsi DKI Jakarta 20

B. Provinsi Jawa Barat 31

C. Provinsi Jawa Timur 45

D. Provinsi Jawa Tengah 62

E. Provinsi Sumatera Utara 71

F. Provinsi Sulawesi Selatan 81

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 91

A. Pelayanan Rehabilitasi Sosial 91

B. Tingkat Keberfungsian Sosial 99

C. Peran Pekerja Sosial Dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial 103

D. Masalah Dan Tantangan Dalam Proses Pelayanan Rehabilitasi Sosial 106

(7)

vi

BAB VI PENUTUP 119

A. Kesimpulan 119

B. Rekomendasi 120

Profil Penulis Indeks

Daftar Pustaka

(8)

vii

Daftar Tabel Tabel 1.

Proporsi Sampel Masing-Masing Provinsi 15 Tabel 2.

Jumlah Enumerator Penelitian 17

Tabel 3.

Daftar Nama Institusi Lokasi Penelitian Kuantitatif dan

Jumlah Sampel 17

Tabel 4.

Sumber Permasalahan Layanan

Rehabilitasi Sosial Gepeng 113 Tabel 5.

Rekomendasi Penelitian 121

(9)

viii

Daftar Gambar

Gambar 1. Bisnis Proses Program Atensi (Asistensi Rehabilitasi Sosial)... 9

Gambar 2. Jenis Kelamin Responden di Provinsi DKI Jakarta... 22

Gambar 3. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi DKI Jakarta... 22

Gambar 4. Responden Berdasarkan Usia di Provinsi DKI Jakarta... 23

Gambar 5. Responden Berdasarkan Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesos ... 23

Gambar 6. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi DKI Jakarta... 24

Gambar 7. Tempat tinggal Responden di Provinsi DKI Jakarta... 24

Gambar 8. Tempat Responden Bekerja di Provinsi DKI Jakarta... 24

Gambar 9. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu... 25

Gambar 10. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi DKI Jakarta... 25

Gambar 11. Responden Mendapat Pelayanan Kesehatan Difasilitasi Lembaga... 27

Gambar 12. Responden Memiliki Keterampilan dan Mendapat Bimbingan Keterampilan... 27

Gambar 13. Petugas Menjadi Tempat Curhat Jika Responden Mengalami Masalah... 28

Gambar 14. Keterlibatan Responden dalam Kegiatan Sosial Kemasyarakatan... 30

Gambar 15. Jenis Kelamin Responden di Provinsi Jawa Barat... 34

Gambar 16. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi Jawa Barat... 34

Gambar 17. Alasan Responden Menggelandang di Provinsi Jawa Barat... 35

Gambar 18. Usia Responden di Provinsi Jawa Barat... 35

Gambar 19. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi Jawa Barat... 36

Gambar 20. Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesos Responden di Provinsi Jawa Barat... 36

Gambar 21. Tempat Tinggal Responden di Provinsi Jawa Barat... 37

Gambar 22.Tempat Responden Bekerja di Provinsi Jawa Barat... 37 Gambar 23. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden

(10)

ix

Perminggu... 38

Gambar 24. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi Jawa Barat... 38

Gambar 25. Asal Rujukan Responden di Provinsi Jawa Barat... 39

Gambar 26. Jenis Kelamin Responden di Provinsi Jawa Timur... 49

Gambar 27. Usia Responden di Provinsi Jawa Timur ... 50

Gambar 28. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi Jawa Timur... 50

Gambar 29. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi Jawa Timur... 51

Gambar 30. Alasan Responden Menggelandang di Provinsi Jawa Timur... 51

Gambar 31. Usia Responden di Provinsi Jawa Timur ... 52

Gambar 32. Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesda Responden di Provinsi Jawa Timur... 52

Gambar 33. Tempat Tinggal Responden di Provinsi Jawa Timur... 53

Gambar 34. Tempat Responden Bekerja di Provinsi Jawa Timur... 53

Gambar 35. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu... 54

Gambar 36. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi Jawa Timur... 54

Gambar 37. Asal Rujukan Responden di Provinsi Jawa Timur... 55

Gambar 38. Rencana Responden Setelah Selesai Mendapat Layanan Lembaga... 62

Gambar 39. Jenis Kelamin Responden di Provinsi Jawa Tengah... 64

Gambar 40. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi Jawa Tengah... 64

Gambar 41. Usia Responden di Provinsi Jawa Tengah... 65

Gambar 42. Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesda Responden di Provinsi Jawa Tengah... 65

Gambar 43. Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesda Responden di Provinsi Jawa Tengah ... 66

Gambar 44. Tempat Responden Tinggal di Provinsi Jawa Tengah... 66

Gambar 45. Tempat Responden Bekerja di Provinsi Jawa Tengah... 67

Gambar 46. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu... 67

(11)

x

Gambar 47. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di

Provinsi Jawa Tengah ... 68

Gambar 48. Jenis Kelamin Responden di Provinsi Sumatera Utara ... 73

Gambar 49. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi Sumatera Utara... 73

Gambar 50. Usia Responden di Provinsi Sumatera Utara... 74

Gambar 51. Kepemilikan KTP Dan BPJS/Jamkes Responden di Provinsi Sumatera Utara... 75

Gambar 52. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi Sumatera Utara... 75

Gambar 53. Tempat Responden Tinggal di Provinsi Sumatera Utara... 76

Gambar 54. Tempat Responden Bekerja di Provinsi Sumatera Utara... 76

Gambar 55. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu... 77

Gambar 56. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi Sumatera Utara... 78

Gambar 57. Keterampilan Responden di Provinsi Sumatera Utara... 79

Gambar 58. Jenis Kelamin Responden di Provinsi Sulawesi Selatan... 83

Gambar 59. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi Sulawesi Selatan .... 83

Gambar 60. Usia Responden di Provinsi Sulawesi Selatan... 84

Gambar 61. Kepemilikan Identitas Responden di Provinsi Sulawesi Selatan... 84

Gambar 62. Kategori Responden di Provinsi Sulawesi Selatan... 85

Gambar 63. Tempat Tinggal Responden di Provinsi Sulawesi Selatan... 86

Gambar 64. Akses Responden Terhadap Layanan Kesehatan di Provinsi Sulawesi Selatan... 87

Gambar 65. Partisipasi Responden dalam Kegiatan Kemasyarakatan... 88

Gambar 66. Partisipasi Responden dalam Kegiatan Kemasyarakatan... 89

(12)

123 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gelandangan dan pengemis (Gepeng) merupakan masalah sosial yang kompleks disebabkan oleh faktor sosial dan ekonomi, diantaranya kemiskinan, kondisi fisik dan kesehatan mental, masalah perumahan, kondisi keluarga yang kurang harmonis termasuk disebabkan karena kecanduan narkotika (Mago et al, 2013). Masih menurut Mago et al. (2013), gelandangan itu sendiri sulit untuk didefinisikan karena sebagian besar mereka adalah tunawisma parsial, karena durasi mereka menjadi gelandangan di kota besar berbeda-beda atau musiman.

Hal ini merupakan tantangan bagi sebagian besar negara-negara di Dunia, seperti Amerika Serikat, Kanada dan Inggris dalam upaya membuat kebijakan untuk mengatasi masalah ini (Mago et al., 2013; Bramley et al., 2020) termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, fenomena gelandangan dan pengemis, merupakan suatu fenomena sosial yang harus ditanggapi dengan serius, terutama karena keberadaan gelandangan dan pengemis di perkotaan telah menujukkan situasi dan kondisi yang kontradiktif seperti dua sisi mata uang; antara perkembangan pembangunan dan masalah sosial. Berdasarkan data Kemensos pada Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) menyebutkan bahwa jumlah tuna sosial pada 2019 sebesar 1,04 juta jiwa. Data tersebut terdiri dari korban perdagangan orang dan Gelandangan Pengemis (Dit TS KPO, 2019). Pada tahun 2019 diperkirakan sejumlah 77.500 orang gelandangan dan pengemis yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia (Kompas.com, 2019). Jumlah gepeng yang cukup besar ini menjadi tanggungjawab pemerintah, termasuk Kementerian Sosial untuk hadir dalam menangani permasalahan gepeng ini sebagai warga masyarakat yang tuna sosial.

Terkait dengan masalah tuna sosial, pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, telah berupaya menurunkan jumlah gepeng dengan berbagai

(13)

2 13 program, seperti pemberian konseling, pelatihan keterampilan, pengawasan dan pembinaan lanjut. Selain itu pemerintah berupaya membangun tempat tinggal untuk mereka, membangun Rusunawa (bangunan datar sederhana), dan transmigrasi (memindahkan penduduk ke pulau lain yang masih memiliki lahan untuk ditanami) (Lastiwi & Badruesham, 2017). Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen atas Agenda SDG’s (Sustainable Development Goals) untuk mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun. Selain itu, visi Pemerintahan Jokowi dalam Nawacita yang memiliki ciri utama: Negara Hadir, Membangun dari Pinggiran dan Revolusi Mental. Hal ini bertujun untuk memastikan kualitas hidup manusi, termasuk produktivitas masyarakat serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik, khususnya bagi kelompok marginal termasuk kelompok gelandangan dan pengemis.

Program pelayanan bagi gelandangan dan pengemis telah banyak dilakukan, namun berbagai persoalan terkait gelandangan dan pengemis tidak pernah surut, khususnya di kota-kota besar, seperti DKI Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Makassar dan kota besar lainnya. Keberadaan gelandangan dan pengemis di kota kota besar akan menjadi beban pemerintah baik pusat, provinsi maupun kota, pada tatanan lingkungan, maupun kehidupan sosial, jika dibiarkan tanpa menerima pelayanan.

Kajian tentang pelayanan sosial bagi kelompok marginal khususnya pada gelandangan dan pengemis ini penting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana pelayanan rehabilitas sosial yang sudah dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat melalui pendekatan komunitas di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberfungsian sosial penerima manfaat, termasuk menggali permasalahan yang dihadapi, kebutuhan bagi kelangsungan kehidupan gelandangan pengemis dan solusinya. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan rumusan untuk menyempurnakan kebijakan dan program yang selama ini sudah dilaksanakan dalam pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis.

(14)

14 3 B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana upaya pelayanan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan oleh Balai/Panti/LKS gelandangan dan pengemis di Indonesia? Apa masalah yang dihadapi dan bagaimana upaya pemecahan masalahnya?

2. Bagaimana tingkat keberfungsian sosial kelompok gelandangan pengemis ditinjau dari dimensi:

a) pemenuhan kebutuhan dasar;

b) peranan sosial; dan c) kemandirian ekonomi.

3. Sejauhmana peran pekerja sosial dalam proses rehabilitasi sosial bagi penerima manfaat gelandangan dan pengemis?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui kondisi pelayanan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan di Balai/Panti/LKS gelandangan dan pengemis (ketersediaan SDM, jenis layanan, manfaat dan layanan sosial yang diharapkan) sekaligus memetakan masalah yang dihadapi dalam upaya pelayanan rehabilitasi sosial dan upaya pemecahannya;

2. Mengetahui sejauhmana tingkat keberfungsian sosial kelompok gelandangan dan pengemis dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar, peranan sosial dan kemandirian ekonomi;

3. Memetakan permasalahan yang dihadapi oleh gepeng (isu sosial, ekonomi dan lingkungan) serta mengidentifikasi berbagai potensi sosial ekonomi dan peluang-peluang lain yang dapat dikembangkan menjadi faktor pemicu dan pendorong keberfungsian kelompok gelandangan dan pengemis.

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan dapat menjadi salah satu referensi atau dasar penyusunan kebijakan terkait pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis, sehingga nantinya pelayanan yang diberikan

(15)

4 15 tepat sasaran dan memberikan hasil yang maksimal bagi gelandangan dan pengemis.

(16)

16 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kondisi Gelandangan dan Pengemis di Indonesia

Gelandangan dan pengemis (gepeng) merupakan masalah sosial yang sering dijumpai khususnya di kota-kota besar. Tidak bisa dipungkiri semakin majunya pembangunan, maka semakin banyak munculnya gelandangan dan pengemis. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak memadai (Fitri, 2019). Fenomena ini semakin lama semakin memprihatinkan. Meskipun pemerintah selalu berusaha untuk mengurangi populasi gepeng melalui operasi penertiban yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja maupun Polisi, namun tetap saja jumlah gepeng seperti tidak pernah berkurang bahkan cenderung bertambah. Mudahnya mencari uang di kota besar seperti Jakarta dan kota besar lainnya telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang dari luar daerah tanpa membawa bekal keterampilan dan pendidikan yang memadai untuk mengadu nasib. Sikap malas dan tidak mau berusaha untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, menginginkan sesuatu yang instan dan kemampuan resiliensi yang rendah (Anggriana, dan Dewi, 2016).

Berbagai faktor penyebab dan alasan menjadi gepeng juga ditemukan dalam kajian Kuntari dan Hikmawati (2017) diantaranya karena alasan faktor ekonomi atau kemiskinan, kendala geografis daerah asal, serta adanya faktor sosial psikologis dan sosial budaya. Penghasilan yang relatif banyak dari mengemis menyebabkan mereka enggan melakukan pekerjaan lain.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menangani masalah gepeng ini. Mendirikan balai, panti milik pemerintah pusat maupun daerah, membentuk Lembaga Kesejahteraan Sosial, bahkan yang masih berbasis murni milik masyarakat. Akan tetapi jumlah populasi gelandangan dan pengemis ini masih saja bertambah populasinya. Berdasarkan temuan penelitian Merlindha dan Hati (2015), upaya rehabilitasi sosial di panti belum maksimal sehingga para gepeng di Jakarta cenderung kembali turun ke jalan setelah mendapatkan pembinaan di panti. Penelitian ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah

(17)

6 17 untuk memberikan wisma yang difokuskan bagi para gelandangan dan pengemis sebagai upaya rehabilitasi sosial, serta memberikan sanksi tegas kepada para gelandangan dan pengemis yang kembali turun ke jalan.

B. Keberfungsian Sosial

Definisi kesejahteraan sosial secara operasional adalah kondisi masyarakat yang berdaya dan mampu mengatasi permasalahan sosial yang mereka alami, serta berperan aktif dalam aktivitas sosial dan ekonomi (Nila et al, 2020). Definisi tersebut merujuk pada teori kesejahteraan sosial dan landasan hukum terkait kesejahteraan sosial di Indonesia. Hal ini sangat penting sebagai sebuah alat yang menunjukkan tingkat atau kecenderungan perubahan tingkat kesejahteraan sosial (Mujiyadi et al, 2013). Dalam perumusan konsep kesejahteraan sosial dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial pasal 1 bahwa :

“Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya”.

Berdasarkan definisi tersebut, secara jelas menunjukkan bahwa tujuan dari kesejahteraan sosial adalah terlaksananya tujuan sosial. Namun demikian hal ini juga harus didukung dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan pemenuhan ekonomi untuk dapat hidup layak. Hal ini juga sangat jelas disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial Pasal 1 bahwa:

“Keberfungsian Sosial adalah suatu kondisi yang memungkinkan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan dan hak dasarnya, melaksanakan tugas dan peranan sosialnya, serta mengatasi masalah dalam kehidupannya”.

Definisi tentang keberfungsian sosial ini juga disampaikan oleh beberapa ahli, menurut Achlis (1992), keberfungsian sosial ini mengacu pada kemampuan orang dalam menjalankan fungsi sosialnya baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain dalam bertindak melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan pemenuhan kebutuhannya. Untuk mencapai keberfungsian sosial, merupakan salah satu kunci dalam memahami kesejahteraan sosial dan merupakan konsep penting dalam praktek pekerjaan sosial, dimana keberfungsian sosial ini merujuk pada tindakan

(18)

18 7 seseorang untuk melaksanakan peranan pemenuhan kebutuhan dan peranan melaksanakan tugas kehidupan (Fahrudin, 2012).

Sukoco (1997) menjelaskan bahwa fungsi sosial merupakan bagian dari kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas kehidupan, memenuhi kebutuhan, dan pemecahan masalah, hal ini bisa ditinjau dari 3 aspek yaitu: (i) fungsionalitas sosial dipandang sebagai kemampuan melaksanakan peranan sosial; (ii) fungsionalitas sosial dipandang sebagai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan; dan (iii) fungsionalitas sosial dipandang sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

C. Pelayanan Rehabilitasi Sosial Gelandangan dan Pengemis

Rehabilitasi dapat didefinisikan sebagai proses membantu individu yang memiliki gangguan fisik atau mental untuk berpartisipasi dalam masyarakat sejauh kemampuannya sepenuhnya. Hal ini sering digambarkan sebagai fase keempat dari praktik medis, yang lain adalah pencegahan, diagnosis, dan perawatan. Pada umumnya rehabilitasi medis menunjuk “fase perawatan di mana pasien dibantu menuju peran independen dalam masyarakat yang kompetitif.

Rehabilitasi mengikuti program medis kuratif dan restoratif dan periode pemulihan. Rehabilitasi berusaha untuk mengatasi dan mengimbangi cacat fisik yang ada dan untuk hambatan emosional yang mencegah pasien melakukan yang terbaik. Penekanan utama adalah pada kemandirian pekerjaan (Braceland, 1966).

Dalam rehabilitasi sosial terdapat tiga model pelayanan yang diberikan kepada klien, yaitu sebagai berikut: 1) Institutional Based Rehabilitation (IBR), suatu sistem pelayanan rehabilitasi sosial dengan menempatkan penyandang masalah dalam suatu institusi tertentu; 2) Extra-institusional Based Rehabilitation, suatu sistem pelayanan dengan menempatkan penyandang masalah pada keluarga dan masyarakat; dan 3) Community Based Rehabilitation (CBR), suatu model tindakan yang dilakukan pada tingkatan masyarakat dengan membangkitkan kesadaran masyarakat dengan menggunakan sumber daya dan potensi yang dimilikinya (Husmiati dkk, 2020).

(19)

8 19 Menurut Undang-Undang Nomor 9 tahun 2011 tentang Kesejahteraan Sosial, yang dimaksud dengan rehabilitasi sosial adalah untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar (Pasal 7). Dalam pasal 7 ayat 3 disebutkan bahwa yang termasuk upaya rehabilitasi sosial diberikan dalam bentuk: a) motivasi dan diagnosis psikososial; b) perawatan dan pengasuhan; c) pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; d) bimbingan mental spiritual; e) bimbingan fisik; f) bimbingan sosial dan konseling psikososial; g) pelayanan aksesibilitas; h) bantuan dan asistensi sosial; i) bimbingan resosialisasi;

j) bimbingan lanjut; dan/atau k) rujukan.

Rehabilitasi sosial untuk gelandangan dan pengemis memiliki tujuan dan fungsi, diantaranya agar gepeng mampu mengubah cara hidup dan cara mendapatkan penghasilan yang sesuai dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Selain itu agar mampu menjalankan fungsi dan peran sosialnya di masyarakat secara wajar. Sedangkan fungsi lainnya agar tumbuh kesadaran akan pentingnya program rehabilitasi yang diberikan karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, membantu untuk mampu memenuhi kebutuhan dasar, untuk mengembangkan potensinya, dan untuk membantu dapat berperilaku normatif.

Kementerian Sosial dalam hal ini Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial telah mengeluarkan program ATENSI, yang memberikan makna bahwa ada perbedaan antara bantuan sosial dan asistensi sosial. Orientasi program rehabilitasi sosial itu lebih mengarah pada upaya membangun sistem pelayanan sosial. Sedangkan sistem bantuan sosial sudah terkonsentrasi di program perlindungan dan jaminan sosial serta program penanganan fakir miskin. ATENSI sebagai layanan yang menggunakan pendekatan berbasis keluarga, komunitas dan residensial ini dilakukan melalui 7 komponen kegiatan, yaitu dukungan pemenuhan hidup layak, perawatan sosial dan/atau pengasuhan, dukungan keluarga, terapi (fisik, mental spiritual, psikososial), pelatihan vokasional dan kewirausahaan, bantuan dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas. Khusus untuk layanan berbasis residensial dilaksanakan di dalam Balai Rehabilitasi Sosial/Loka Rehabilitasi Sosial, termasuk balai sosial tuna sosial.

(20)

20 9 Dasar hukum dari bisnis proses (Alur Kerja) Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yaitu Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 pada Pasal 7 ayat (3). Alur Kerja ATENSI dari mulai akses ke pendekatan dan kesepakatan kemudian ke asesmen komprehensif yang dimulai dengan proses perencanaan Atensi berbasis komunitas yaitu Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), Institusi Pembina Wajib Lapor (IPWL), Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Anak (LPKSA), PUSAKA berbasis residensial yaitu Balai Besar, Balai, Loka, Panti dengan melakukan supervisi (Syauqi, 2021). Untuk menjamin kualitas program, maka sangat penting melakukan proses monitoring dan evaluasi. Setelah proses pelayanan selesai, masuk ke dalam tahapan pasca layanan yang disebut terminasi dan dilanjutkan dengan asesmen berkelanjutan (Syauqi, 2021). Melalui mekanisme ini diharapkan akan mendorong terjadi perubahan Paradigma Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial dari sifatnya pelayananan dan charity berubah menjadi perlindungan sosial dan jaminan sosial.

Gambar 1. Bisnis Proses Program Atensi (Asistensi Rehabilitasi Sosial)

Sumber: Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, 2020.

FASILITASI AKSES

PENDEKATAN &

KESEPAKATAN ASESMEN KOMPREHENSIF

PERENCANAAN ATENSI

SUPERVISI

IMPLEMENTASI

Area Sasaran Asesmen, Perencanaan, Implementasi dan Supervisi RUJUKAN

Perorangan, Kepolisian Rumah Sakit, Panti Sosial, LKS LAPORAN Contact Centre, Hotline Datang Sendiri, Media Online, LKS PENJANGKAUAN Pekerja Sosial, TRC, TKSK, PSM, Pendamping Sosial lainnya (PKH, BSP)

ASESMEN AWAL Verifikasi Kasus (Home Visit, Lembaga, Ruang Publik,dll) RESPON DARURAT Penyelamatan, Medis, Psikologis KESEPAKATAN AWALInform consent, Persetujuan Keluarga/ Orangtua/

wali

ASESMEN KOMPREHENSIF (PD dan siginificant others)

(Medis, Legal, Fisik, Psikososial, Mental, Spritual, Minat dan Bakat/ Potensi, penelusuran keluarga) ASESMEN BERKELANJUTAN

o Pemetaan Sistem Sumber (penyedia layanan) o Rencana ATENSI (Asistensi Rehabilitasi Sosial)

Temporary o Kesepakatan Bersama

Sinkronisasi Pelaksanaan PelayananBerbasis Centrelink

DUKUNGAN KELUARGA SECARA INTENSIF o Mediasi keluarga

o Menjaga keutuhan keluarga o Reunifikasi (Orangtua, Keluarga, Kerabat) o Lingkar dukungan antar keluarga o Dukungan komunitas (Paguyuban) o Kelompok PD sebaya LAYANAN DI LUAR KELUARGA INTI o Keluarga Pengganti

o Lembaga Rujukan berbasis Temporary Shelter (LKS, Fasilitas Kesehatan)

o Advokasi dan aksesibilitas Berbasis

Komunitas (LKS)

Berbasis Residensial (Balai Besar,

Balai/Loka/

Panti)

PACSA LAYANAN DAN TERMINASI

Exit Strategi MONEV

MONITORING o Triwulan 1 o Triwulan 2 o Triwulan 3 EVALUASI o Eval

Pre-test o Eval Post

Test Berbasis

Keluarga (Peksos, TKS, Relawan Sosial)

1. Dukungan Pemenuhan Hidup Layak 2. Perawatan Sosial dan/atau Pengasuhan Anak 3. Dukungan Keluarga

4.Terapi (fisik, psikososial, mental spiritual) 5. Pelatihan Vokasional dan Pembinaan Kewirausahaan 6. Bantuan dan Asistensi Sosial 7. Dukungan Aksesibilitas

(21)

10 21 D. Peran Pekerja Sosial dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial

Pekerjaan Sosial merupakan suatu profesi pelayanan kepada manusia (individu, kelompok, dan masyarakat). Dalam memberikan pelayanan profesionalnya, pekerja sosial dilandasi oleh pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan ilmiah mengenai human relation (relasi antar manusia). Oleh sebab itu, relasi antar manusia merupakan inti dari profesi Pekerjaan Sosial. Menurut Rukminto (2013:18) pengertian pekerja sosial adalah sebagai suatu ilmu memfokuskan intervensinya pada proses interaksi antara manusia (people) dengan lingkungannya, dengan mengutamakan teori-teori perilaku manusia dan sistem sosial, guna meningkatkan taraf hidup (human well- being) masyarakat.

Sedangkan pengertian pekerjaan sosial menurut Zastrow yang dikutip oleh Sukoco (1993:7) mendefinisikan bahwa pekerjaan sosial merupakan kegiatan professional untuk membantu individu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat guna meningkatkan atau memperbaiki kemampuan mereka dalam berfungsi sosial serta menciptakan kondisi masyarakat yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.

Berdasarkan pengertian di atas, maka pekerjaan sosial bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan pertolongan yang diberikan kepada individu, kelompok dan masyarakat guna meningkatkan kemampuan berfungsi sosial agar individu, kelompok dan masyarakat menjadi mandiri. Dari definisi tersebut menurut Sukoco (1993: 8) profesi pekerjaan sosial dan proses pertolongannya mengandung 3 unsur pokok yaitu:

a. Pekerjaan sosial dinyatakan sebagai kegiatan professional.

b. Sasaran kegiatan pekerjaan sosial adalah untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat.

c. Tujuan kegiatan pekerjaan sosial adalah agar mereka dapat 1) Memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfungsi sosial.

2) Menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka/orang dapat mencapai tujuan hidupnya.

(22)

1122 Pekerjaan sosial merupakan kegiatan profesional yang dikerjakan oleh orang atau pihak yang berkompeten di dalam bidang tersebut, dengan tujuan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat untuk berfungsi sosial dan mandiri. Merujuk hal tersebut, maka keberadaan profesi pekerjaan sosial di Indonesia merupakan kondisi yang harus terus menerus mendapat dukungan tentang keberadaan pekerja sosial. Hal ini disebabkan karena dalam dunia Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, konsep relawan dan pekerja sosial seringkali masih tumpang tindih. Konsep relawan sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bergelut di bidang pekerjaan sosial yang bukan berasal dari pendidikan Pekerjaan Sosial ataupun Ilmu Kesejahteraan Sosial. Hal ini disebutkan dalam Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial, pada bab 1 pasal 1 ayat 4 tentang definisi pekerja sosial sebagai berikut : “Pekerja Sosial Profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktek pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial ”.

Selanjutnya peran dan fungsi pekerja sosial diperkuat dengan lahirnya Undang-Undang Pekerjaan Sosial No 14 tahun 2019 tentang Pekerja Sosial, disebutkan bahwa pengertian pekerja sosial adalah adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai praktik pekerjaan sosial serta telah mendapatkan sertifikat kompetensi (Pasal 1 ayat 1). Selanjutya dipertegas juga dalam pasal 1 ayat 2 bahwa Praktik Pekerjaan Sosial adalah penyelenggaraan pertolongan profesional yang terencana, terpadu, berkesinambungan dan tersupervisi untuk mencegah disfungsi sosial, serta memulihkan dan meningkatkan keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

Berdasarkan definsi tersebut pekerja sosial adalah salah satu profesi yang memberikan layanan profesional dalam upaya memulihkan keberfungsian sosial individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, termasuk dalam upaya pelayanan rehabilitasi sosial bagi kelompok marginal gelandangan dan pengemis.

(23)

12 23 E. Permasalahan dalam Pelayanan Rehabilitasi Sosial

Masalah sosial bisa juga diartikan sebagai kondisi yang dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diharapkan. Dalam upaya pelayanan sosial bagi kelompok marginal salah satunya geladangan dan pengemis merupakan salah satu masalah sosial yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, termasuk peran serta komunitas, dunia usaha serta media massa dan akademisi. Namun demikian dalam pelayanan rehabilitasi sosial bagi gepeng ini dihadapkan pada beberapa kendala, di antaranya masalah kelembagaan apa saja termasuk legal frameworknya, masalah infrastruktur program apa saja, masalah kultur dan politik, masalah infrastruktur program apa saja (termasuk budaya birokrasinya) serta kapasitas Pekerja Sosial dalam upaya rehabilitasi sosial.

Gelandangan dan pengemis ini seringkali dihadapkan pada stigma dengan sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis (Ahmad, 2010). Selain itu juga ada faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama dan letak geografis (Ahmad, 2010). Kondisi ini juga yang mempengaruhi dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial, dikarenakan ada stigmatisasi atas kondisi mereka.

Secara legal framework, dalam pelayanan rehabiltasi sosial bagi gelandangan dan pengemis ini terdapat kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah pada bidang sosial. Sebelumnya, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengatur tentang beberapa hal terkait kewenangan pemerintah yang disebut dengan urusan pemerintahan absolut serta urusan pemerintahan konkuren. Paska reformasi, terbit Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan penjabaran mengenai urusan pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren terdiri dari urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan pemerintahan wajib dibagi atas urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan dasar dan urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait pelayanan dasar. Urusan pemerintahan konkuren ini menjadi bagian dari urusan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Kondisi ini seringkali juga

(24)

1324 mengalami permasalahan dalam implementasinya karena ada gap dalam pelayanan rehabilitasi sosial bagi gepeng di era desentralisasi ini.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial menyebutkan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan sosial merupakan sebuah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan masyarakat melalui pelayanan sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial serta perlindungan sosial.

Kesimpulannya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial menegaskan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan sosial menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah baik pemerintah Kabupaten maupun Kota. Hal ini sangat jelas bahwa kinerja penyelenggaraan Pemerintah Daerah diukur dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan sesuai dengan tanggung jawab kewenangan dengan capaian kinerja makro, capaian kinerja penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dan capaian akuntabilitas kinerja Pemerintah Daerah (Syauqi, 2021).

Dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial, kelembagaan dan program maupun intervensi juga sangat mempengaruhi pelaksanaan layanan. Penelitian Anggriana (2016) menunjukkan bahwa secara kelembagaan, panti sosial memiliki keterbatasan dana untuk mendukung usaha kerja gepeng, kesempatan bekerja di sektor formal sangat sulit, keterampilan kerja yang diajarkan sangat minim, umumnya di bawah standar pasaran kerja, dan metode bimbingan mental dan sosial juga kurang tepat. Sehingga secara kelembagaan, intervensi program juga terdapat persoalan yang mempengaruhi keberhasilan program layanan rehabilitasi sosial. Penelitian lain juga menyatakan bahwa bimbingan mental sebagai fokus utama program rehabilitasi di panti sosial, metodenya masih perlu dikaji ulang. Teknik bimbingan mental yang diterapkan lebih mengacu pada aspek transfer pengetahuan, bukan aspek penyadaran mental (Waluyo, 2002). Selain itu peran pendamping dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial juga mengalami keterbatasan (Anggriana, 2016).

(25)

14 25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Studi ini menggunakan pendekatan mixed method, yang menggabungkan metode campuran kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh informasi secara lebih komprehensif. Keputusan untuk menggunakan pendekatan mixed method (metode campuran) adalah cara yang lebih baik menyelidiki kerentanan komunitas tuna sosial dan pelayanan sosial bagi mereka. Dalam penelitian ini, pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui sejauhmana pelayanan rehabilitasi sosial bagi penerima manfaat melalui balai/loka; 2) mengetahui tingkat keberfungsian sosial bagi kelompok gelandangan dan pengemis, serta 3) mengidentifikasi masalah dan solusi. Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan informasi mendalam tentang pelayanan sosial yang dilakukan di Balai/Panti/LKS. Termasuk melakukan triangulasi atas data kuantitatif yang diperoleh dalam studi ini.

B. Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

Sampling yang digunakan adalah metode purposive sampling. Metode ini merupakan metode di mana peneliti menentukan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus sesuai dengan tujuan penelitian, dengan alasan:

 Lokasi Persebaran penerima manfaat pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis.

 Ketersediaan balai/panti/LKS, sehingga terwakili bagaimana pelayanan rehabilitas sosial di Balai, panti milik pemerintah dan LKS yang merupakan bagian dari pelayanan berbasis komunitas.

 Keterwakilan masing-masing wilayah di enam (6) kota besar dimana terdapat balai/panti/LKS yang menangani gelandangan dan pengemis.

Dalam penelitian ini, sampel populasinya adalah kelompok gelandangan dan pengemis yang mendapatkan pelayanan social di dalam panti, maupun pelayanan berbasis komunitas oleh Balai/Panti maupun LKS. Penelitian ini menggunakan Teknik probability sampling berupa proportionate stratified random

(26)

1526 sampling, hal ini dikarenakan penelitian terbagi atas beberapa sub kelompok, yang selanjutnya masing-masing kelompok diambil sampelnya secara terpisah. Populasi penerima manfaat pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis di 6 provinsi lokasi penelitian yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan. Untuk keterwakilan wilayah, maka semua lokasi diambil dengan proporsional jumlah gelandangan dan pengemis yang mendapat pelayanan di Balai/Panti/LKS. Dari jumlah populasi sebanyak 3578, maka dengan tingkat kepercayaan 95% dan nilai alpha 0,5, maka jumlah sampel sebanyak 306 responden. Untuk keterwakilan masing-masing Balai/Panti/LKS, selanjutnya dilakukan pengambilan secara proporsional untuk masing provinsi dan masing-masing Balai/Panti/LKS.

Tabel 1. Proporsi Sampel Masing-Masing Provinsi

No Provinsi Populasi Sampel Pembulatan

1 DKI Jakarta 1681 253.8 254

2 Jawa Barat 579 87.4 88

3 Jawa Tengah 310 46.8 47

4 Jawa Timur 400 60.4 61

5 Sulawesi Selatan 458 69.2 70

6 Sumatera Utara 250 37.8 38

3678 558

Sehubungan dengan sampel yang tersebar di beberapa Balai/Panti/LKS, maka dilakukan pengambilan secara proporsional untuk masing-masing panti, untuk jumlah populasi dan persebarannya di masing-masing Panti/LKS tiap provinsi bisa dilihat dalam tabel 1. Khusus untuk wilayah DKI, dipilih LKS/panti yang mewakili masing-masing kota administratif, selanjutnya dilakukan pemilihan secara proporsional (teknik proportionate random sampling). Provinsi lain juga akan dilalukan pemilihan secara proprsional untuk masing-masing panti terpilih.

C. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini diawali dengan studi dokumentasi dan pustaka untuk menggali lebih jauh informasi terkait gelandangan dan pengemis. Dokumen pendukung berupa catatan harian, laporan kegiatan dan foto

(27)

16 27 juga diperlukan untuk mendukung informasi yang diperlukan. Selanjutnya penelitian ini juga menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu:

1) angket; dalam penelitian ini akan menggunakan e-kuesioner yang menggunakan aplikasi Survey Monkey. Penyebaran e-survey ini akan dilakukan kepada dua kelompok yaitu manajemen pelayanan sosial yang dalam hal ini diwakili oleh kepala Balai/Loka/panti/LKS dan kelompok penerima manfaat yaitu gelandangan dan pengemis. Pengisian data oleh responden dilakukan dengan wawancara oleh enumerator yang sudah dilatih.

2) Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam tentang kondisi dan kebutuhan gelandangan dan pengemis, serta untuk mengetahui bagaimana solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

3) Focus Group Discussion (FGD), dilakukan untuk proses triangulasi data serta memperoleh informasi lebih mendalam dari stakeholders tentang pelayanan rehabilitasi sosial bagi gelandangan dan pengemis.

Pengumpulan data kuantitatif dibantu oleh enumerator yang sudah dilatih oleh peneliti. Seorang enumerator rata-rata akan melakukan wawancara 2- 4 orang setiap hari sehingga diperlukan dua-empat hari bagi masing-masing enumerator untuk menyelesaikan wawancara. Pemilihan enumerator akan dilakukan perekrutan dengan syarat pekerja sosial yang bertugas di Balai/panti/LKS setempat, dengan pertimbangan enumerator mengetahui situasi dan kondisi para penerima manfaat. Untuk menghindari bias, tim peneliti akan melakukan pemilihan lokasi bagi enumerator dalam melaksanakan tugasnya secara objektif, dengan tetap mempertimbangkan situasi pandemi. Setiap lokasi membutuhkan enumerator yang berbeda yang dihitung secara proporsional (Tabel 2).

(28)

1728

Tabel 2. Jumlah Enumerator Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan, tahap pertama merupakan penelitian kuantitatif, dengan penyebaran e-survey ini akan dilakukan kepada dua kelompok yaitu manajemen pelayanan sosial yang dalam hal ini diwakili oleh kepala Balai/Loka/panti/LKS dan kelompok penerima manfaat yaitu gelandangan dan pengemis. Pengisian data oleh responden dilakukan dengan wawancara oleh enumerator yang sudah dilatih. Untuk tahap pertama ini dilakukan di 6 (enam) provinsi dengan di beberapa lokasi layanan rehabilitasi sosial (Tabel 3).

Tabel 3. Daftar Nama Institusi Lokasi Penelitian Kuantitatif dan Jumlah Sampel

Provinsi Nama Lembaga Jumlah

Sampel

DKI Jakarta 209

Karya Putra Indonesia Mandiri 20

LKS Akur Kurnia 20

LKS Balarenik 42

LKS Bhakti Nurul Iman 20

LKS Kumala 21

LKS Nanda Asih 38

Panti Sosial Bina Karya Harapan Jaya 48

Jawa Barat 85

BRSEGP Pangudi Luhur 22

Generasi Anti Narkotika & Kriminalitas (G.A.N.K) 21

LKS Karang Madya 21

Panti Rehabilitasi Sosial Bina Karya Cisarua 21

Jawa Tengah 42

PPS PGOT "Mardi Utomo" Semarang 21

Rumpelsos PGOT Mardi Guno Kebumen 21

Jawa Timur 64

No Provinsi Sampel Enumerator

1 DKI Jakarta 209 12

2 Jawa Barat 85 4

3 Jawa Tengah 42 2

4 Jawa Timur 64 3

5 Sumatera Utara 42 2

6 Sulawesi Selatan 45 2

487 31

(29)

18 29

LKS Insan Sejahtera 21

UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Pasuruan 21

UPT RSBK Madiun 22

Sulawesi Selatan 45

Yayasan Pabatta UMMI 23

Yayasan Ummi Naharia 22

Sumatera Utara 42

UPT PS Gepeng Binjai 22

UPT. PS Gepeng Pinangsori 20

Grand Total 487

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Selanjutnya untuk tahap kedua, penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif di 6 provinsi, namun demikian tidak semua lokasi dalam Tabel 3 menjadi lokasi pengambilan data kualitatif dengan alasan keterwakilan antara balai yang merupakan lembaga layanan lanjut di bawah Kementerian Sosial, panti milik pemerintah dan LKS dalam hal ini mewakili lembaga milik swasta. Adapun lembaga yang menjadi lokasi pengambilan data kualitatif antara lain, UPT Pelayanan Sosial Gepeng Binjai (Sumut); PSBK Harapan Jaya (DKI Jakarta), PSBK Cisarua, Balai Rehablilitasi Sosial Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur dan LKS Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (G.A.N.K) Kota Bandung (Jawa Barat); PGOT Mardi Utomo Semarang (Jateng); PSBK Pasuruan dan LKS Insan Sejahtera di Kota Malang (Jatim); LKS Yayasan Pabatta Ummi dan LKS Yayasan Ummi Naharia (Sulsel).

D. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang didapatkan diperoleh melalui proses pengumpulan data dianalisis dalam beberapa tahap. Tahap pertama akan dilakukan pengolahan data kuantitatif untuk hasil survey dengan menggunakan aplikasi SPSS meliputi: 1) editing, memeriksa seluruh daftar pertanyaan yang diisi oleh responden; 2) coding, memberikan simbol atau tanda berupa angka terhadap jawaban responden penelitian; dan 3) tabulasi, menyusun dan menghitung data dari hasil pengkodean yang kemudian akan disajikan dalam wujud tabel. Selanjutnya, hasil pengolahan data tersebut akan dianalisis untuk mendapatkan data deskriptif. Pengolahan data kualitatif dilakukan dengan memeriksa semua data dari instrumen penelitian,

(30)

1930 seperti dokumen, catatan, hasil FGD dan wawancara, rekaman dan hasil observasi.

Selanjutnya akan dianalisis berdasarkan pendekatan analisis tematik.

E. Limitasi Penelitian

Data penelitian belum menunjukkan data secara nasional karena penelitian ini memiliki sampel populasi adalah kelompok gelandangan dan pengemis yang mendapatkan pelayanan sosial di dalam panti, maupun pelayanan berbasis komunitas oleh Balai/Panti maupun LKS. Data gepeng di Balai milik Kementerian Sosial dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang melayani rehabilitasi sosial Gepeng didapatkan dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang. Sementara itu, data terkait Panti (milik pemerintah daerah) berasal dari penelusuran tim peneliti melalui internet maupun rekan sejawat yang memiliki informasi valid terkait panti yang melayani rehabilitasi sosial gepeng.

(31)

20 31 BAB IV GAMBARAN UMUM HASIL PENELITIAN

Pelayanan rehabilitasi sosial merupakan tahapan yang mendasar dalam proses dukungan sosial dan psikososial bagi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial (PPKS). Tahapan ini sangat penting untuk pencapaian tingkat keberfungsian sosial dan menyiapkan individu untuk berfungsi secara sosial dan kembali ke komunitas. Penelitian ini dilaksanakan di enam (6) provinsi yaitu di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Lokasi penelitian ini antara lain 1 (satu) Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis (BRSEGP) milik Kementerian Sosial yaitu BRSEGP Pangudi Luhur Bekasi, 8 (delapan) panti sosial untuk gelandangan dan pengemis milik pemerintah provinsi, dan 11 (sebelas) LKS yang menangani program pelayanan sosial bagi gelandangan dan pengemis. Secara keseluruhan, total jumlah lembaga yang menjadi sampel dalam penelitian kuantitatif sebanyak 20 lembaga.

Secara umum, berikut gambaran di masing-masing lokasi.

A. Provinsi DKI Jakarta

1. Gambaran umum lembaga yang menjadi lokasi penelitian

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi dimana polulasi paling besar untuk gelandangan dan pengemis yang mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial di panti maupun di LKS. Salah satu panti yang memberikan pelayanan rehabilitasi sosial milik pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah PSBK Balaraja. Panti ini beralamat di Balaraja, Tangerang, Provinsi Banten. Panti Sosial Bina Karya Harapan Jaya (PSBK HJ) merupakan Panti Sosial yang dibentuk dengan tujuan untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial khususnya gelandangan dan pengemis. Namun demikian, pada proses pelaksanaan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan di PSBK HJ terdapat ketidaksesuaian penerima manfaat atau yang disebut sebagai Warga Binaan Sosial (WBS), yaitu terdapat WBS yang mengalami masalah kesehatan mental dan kejiwaan yang tentunya hal tersebut tidak selaras dengan fungsi PSBK HJ itu sendiri. Berdasarkan

(32)

2132 pendataan serta proses assessment yang dilaksanakan pada bulan April 2021 oleh tim PSBK Harapan Jaya, jumlah total WBS di panti tersebut adalah 263 orang, dimana yang masuk kategori geldangan sejumlah 170 orang, pengemis 43 orang dan penyandang disabilitas mental (ODMK dan ODGJ) sejumlah 50 orang. Dalam pelayanan rehabilitasi sosial, PSBK ini menerima rujukan dari panti sosial di wilayah DKI Jakarta dari hasil operasi yustisi yang dilakukan oleh Satpol PP, maupun rujukan dari pihak lain.

Di Provinsi DKI Jakarta, terdapat juga LKS yang menangani gelandangan dan pengemis, salah satunya adalah LKS Balarenik. LKS Balarenik beralamat di kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur berdiri pada tahun 2000. LKS Balarenik memfokuskan kegiatan pada upaya-upaya perlindungan anak dengan program utama pemenuhan hak dasar anak, khususnya anak jalanan dan anak pemulung. Dalam perjalanannya, pada tahun 2015 LKS Balarenik menemukan fakta bahwa anak-anak ini juga rentan menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Yayasan Balarenik melakukan pengembangan kegiatan yaitu Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Narkoba khusus anak. Balarenik menyediakan empat rumah singgah di Jakarta dan rumah rawat inap untuk anak korban pernyalahgunaan narkoba di Bogor, Jawa Barat. Lembaga ini bekerja dengan pendekatan pengembangan masyarakat dan menfokuskan pada program pendidikan dan Kesehatan, termasuk pemenuhan hak anak.

Terkait dengan program penampingan bagi gelandangan dan pengemis, LKS Balarenik juga ambil bagian dalam program pelayanan sosial bagi mereka.

2. Gambaran umum penerima Manfaat

Gambaran umum penerima manfaat di Provinsi DKI Jakarta dapat digambarkan dalam Gambar berikut. Jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan (60%) dan 40% lainnya berjenis kelamin laki- laki.

(33)

22 33

Gambar 2. Jenis Kelamin Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sedangkan untuk tingkat pendidikan responden, sebagian besar adalah tamatan SD (32%). Jumlah responden yang tidak tamat juga menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu sebesar 30%, responden yang lulusan SMP sebanyak 17%, lulusan SMA/SMK sebanyak 11% dan di antara mereka juga ada yang luluasan Diploma sebanyak 2%. Namun demikian, jumlah responden yang buta aksasa juga cukup tinggi yaitu sebanyak 9%.

Gambar 3. Tingkat Pendidikan Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden di wilayah DKI Jakarta berada dalam rentang usia produktif, dimana mereka yang berusia antara 18-25 tahun sebanyak 14%, responden berusia antara 26-33 tahun sebanyak 21%, responden berusia antara34-41 tahun sebanyak 27%, dan mereka yang berusia antara 42-49 tahun sebanyak 18%. Namun demikian ada juga yang sudah berusia lebih dari 49 tahun sebanyak 19%. Sedangkan mereka yang yang berusia anak-anak atau di bawah 18 tahun sebanyak 1%.

(34)

2334

Gambar 4. Responden Berdasarkan Usia di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Berdasarkan kepemilikan kartu identitas atau KTP, sebagian besar responden sudah memiliki KTP (84%) dan masih ada 16% yang belum memiliki KTP. Sedangkan untuk kepemilikan BPJS, masih ada 51% yang belum mempunyai BPJS maupun Jamkessos dan sebagian diantaranya (49%) sudah memiliki BPJS/Jamkessos.

Gambar 5. Responden Berdasarkan Kepemilikan KTP dan BPJS/Jamkesos di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden di Provinsi DKI Jakarta adalah pemulung (70%), sedangkan 7% lainnya adalah pengamen dan 11% lainnya diantaranya bekerja sebagai tukang parkir dan serabutan. Dari keseluruhan responden hanya 12% yang menyatakan bahwa mereka adalah kelompok gelandangan dan pengemis.

(35)

24 35

Gambar 6. Kategori Penerima Manfaat di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tinggal di bedeng-bedeng yang mereka sewa yaitu sebanyak 58%, sedangkan 13% lainnya tinggal di rumah/kamar kontrakan. Responden juga ada yang mengaku tinggal di kolong jembatan sebanyak 6% maupun di teras toko sebanyak 3% dan di bangunan kosong sebanyak 1%.

Gambar 7. Tempat tinggal Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Sebagian besar responden mengaku bahwa mereka menggelandang atau bekerja di lingkungan jalan raya (38%), di lingkungan perumahan (36%), dan sebagian juga di lingkungan pasar/toko sebanyak 11%.

Gambar 8. Tempat Responden Bekerja di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

(36)

2536 Hasil penelitian di DKI Jakarta menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai penghasilan rata-rata per-minggu antara Rp.

100.000 – Rp. 300.000 sebanyak 49%, namun pengeluaran rata-rata per- minggu juga sebagian besar antara Rp. 100.000 – Rp. 300.000 sebanyak 48%. Yang menarik, dari 35% responden yang pengeluaran rata-ratanya antara Rp, 300.000-Rp. 700.000 ternyata hanya 17% yang mempunyai penghasilan antara Rp, 300.000-Rp. 700.000. Artinya besar pasak daripada tiang.

Gambar 9. Rata-Rata Penghasilan dan Pengeluaran Responden Perminggu di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Yang menarik dalam penelitian ini, ternyata sebagian besar responden mengaku tidak memilik tabungan (81%) tapi memilik hutang sebanyak 65%, hanya 19% yang memiliki tabungan, dan 35% yang tidak memiliki hutang.

Gambar 10. Kepemilikan Tabungan dan Hutang Responden di Provinsi DKI Jakarta

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

(37)

26 37 3. Pelayanan Rehabilitasi Sosial

Pelayanan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan melalui tahap assessment awal, dimana sebagian besar penerima manfaat merupakan hasil rujukan dari Dinas Sosial ataupun hasil operasi yustisi. Namun demikian, untuk PSBK Balaraja ini sebagian besar juga mendapatkan rujukan dari RSJ yang ada Di DKI, sehingga sebagian penerima manfaat adalah eks psikotik. Sedangkan rujukan dari Dinas Sosial Provinsi DKI maupun hasil operasi yustisi seharusnya sudah dilaksanakan sesuai seleksi.

Namun demikian, sebagian dari PM di panti tersebut ternyata adalah ODGJ yang memang masih belum siap untuk memperoleh bimbingan keterampilan karena secara mental masih memerlukan terapi mental, sementara dalam panti tersebut belum tersedia petugas khusus yang memberikan layanan tersebut.

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu pelayanan dasar, untuk responden yang berada di balai/panti mereka mendapatkan layanan dasar seperti makan 3 kali sehari yang disediakan oleh Panti. Namun untuk yang di LKS, layanan dasar berupa makan sehari-hari bukan menjadi tanggung jawab pihak LKS, karena mereka tinggal di komunitas dan masih melaksanakan aktivitas pekerjaan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Untuk layanan kesehatan, di Balai/Panti memberikan layanan kesehatan bagi semua penerima manfaat secara rutin, sebagian besar lembaga tersebut bekerjasama dengan pihak Puskesmas setempat untuk layanan kesehatan. Di DKI Jakarta, semua responden (100%) menyatakan bahwa mereka mendapatkan layanan kesehatan dari Balai/Panti. Responden di LKS sebagian besar belum memperoleh akses layanan kesehatan dari LKS yang mendampingi yaitu sebanyak 75% dan hanya 25% yang mengaku memperoleh akses layanan kesehatan.

(38)

2738

Gambar 11. Responden Mendapat Pelayanan Kesehatan Difasilitasi Lembaga

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Terkait dengan bimbingan keterampilan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang dimiliki oleh responden masih minim dan bimbingan keterampilan yang diberikan oleh lembaga bagi responden masih terbatas. 64% reponden menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keterampilan sebelum bergabung dengan lembaga dimana mereka mendapat pelayanan rehabilitasi sosial, dan 72% menyatakan tidak memperoleh bimbingan keterampilan.

Gambar 12. Responden Memiliki Keterampilan dan Mendapat Bimbingan Keterampilan

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Selama dalam pelayanan di Balai/Panti maupun pendampingan dari LKS di Provinsi DKI Jakarta, berbagai permasalahan tentunya muncul dan memerlukan tempat atau orang yang diajak untuk ngobrol atau berdiskusi maupun sekedar curhat. Penelitian ini menunjukkan bahwa masih terbatasnya kesempatan untuk curhat khususnya di LKS sebanyak 77% dan hanya 23% yang mendapat kesempatan untuk curhat kepada pendamping.

Sedangkan responden yang di panti mengaku 71% mendapat kesempatan curhat kepada pendamping dan hanya 29% yang tidak mendapat kesempatan untuk curhat kepada pendamping.

(39)

28 39

Gambar 13. Petugas Menjadi Tempat Curhat Jika Responden Mengalami Masalah

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Keterbatasan pelayanan kesehatan, layanan keterampilan, pendamping sosial bagi penerima manfaat/responden dalam pelayanan rehabilitasi sosial tentunya sangat berpengaruh terhadap hasil yang diharapkan, yaitu tingkat keberfungsian sosial. Kondisi ini tentunya mempengaruhi proses yang seharusnya dilakukan dalam tahapan rehabilitasi sosial. Di LKS kondisinya agak berbeda. Pelayanan dan pendampingan oleh tim dari LKS diberikan kepada keluarga gepeng yang tinggal di slum area, seperti wilayah yang dekat dengan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) atau tempat pengepul sampah plastik. Beberapa program yang dilakukan terkait dengan pendidikan anak, kesehatan maupun akses untuk bantuan sosial lainnya. Pendekatan yang dilakukan berbasis komunitas, sehingga kelompok ini bisa tetap berada di komunitasnya dan bekerja untuk mencari nafkah yang sebagian besar adalah bekerja sebagai pemulung. Yang menarik dalam penelitian ini, bahwa kelompok ini sebagian besar adalah pemulung dan berbeda dengan karakteristik kelompok gelandangan dan pengemis. Layanan di LKS seringkali tidak mengenal istilah terminasi karena pendampingan terus dilakukan oleh pendamping. Namun demikian keterbatasan dana untuk beberapa program seperti bimbingan keterampilan maupun untuk modal usaha.

(40)

2940 4. Tingkat Keberfungsian Sosial

Secara umum pemenuhan kebutuhan dasar bagi penerima manfaat di panti sebagian besar terpenuhi, diantaranya pemenuhan kebutuhan makan 3 kali sehari, kebutuhan pakaian yang layak, dan tempat tinggal. Namun demikian, informan yang berada di LKS mengaku harus bekerja dan mendapatkan uang untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Sebagian besar bekerja sebagai pemulung dan tinggal di lokasi pemukiman kumuh (slum area) di kota Jakarta. Pemenuhan kebutuhan sosialnya ini masih sangat relatif, hal ini disebabkan karena belum maksimalnya peran bimbingan sosial untuk mendukung peranan sosial para penerima manfaat baik di panti maupun di LKS. Keterbatasan layanan bimbingan sosial bertujuan untuk memberikan dukungan sosial bagi penerima manfaat agar bisa menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat. Hal ini menjadi bagian penting, karena motivasi dan dukungan sosial untuk menerima kondisi dan memperbaiki kehidupan mereka diharapkan dapat mengembalikan fungsi sosial kelompok gepeng dalam masyakarakat. Salah satu indikator untuk melihat peranan sosial dalam masyarakat, penelitian ini menanyakan tentang keterlibatan responden dalam kegiatan sosial kemasyarakatan selama pendampingan dari balai/panti/LKS. Responden di panti menunjukkan intensitas sering mengikuti kegiatan kemasyarakatan sebanyak 65% karena hal ini menjadi salah satu agenda kegiatan panti atau balai dimana mereka tinggal, dan hanya 14% yang menyatakan tidak pernah mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Berbeda halnya dengan responden di LKS, karena mereka tidak berada dalam pengawasan yang ketat dan tinggal dalam komunitas lainnya, maka 56% menyatakan tidak pernah terlibat mengikuti kegiatan kemasyarakatan, dan 37% lainnya menyatakan kadang-kadang dan hanya 7% yang menyatakan sering terlibat karena sebagian mereka adalah kader dari LKS tersebut.

(41)

30 41

Gambar 14. Keterlibatan Responden dalam Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Selama di Balai/Panti/LKS

Sumber: Hasil Penelitian, 2021

Hal ini juga tidak lepas dengan tingkat kemandirian dalam mengatasi masalah, baik ekonomi maupun sosial. Kondisi mereka yang secara ekonomi dan sosial menunjukkan keterbatasan, memerlukan upaya peningkatan secara ekonomi misalkan bimbingan keterampilan yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pelayanan yang diberikan masih sangat terbatas sehingga belum mampu mendukung upaya peningkatan keberfungsian sosial secara optimal.

5. Peran Pekerja Sosial dan Pendamping Sosial

Dalam pelayanan sosial, peran pekerja sosial maupun pendamping sosial sangat penting dalam rangka memastikan terselenggaranya layanan rehabilitasi sosial. Namun demikian, peksos di Panti Sosial Rehabilitasi Bina Karya Balaraja di DKI Jakarta ini jumlahnya sangat terbatas. Hanya ada dua (2) orang peksos yang bertugas di Panti tersebut. Dalam pelayanan sehari- hari, panti ini juga menyediakan tenaga pendamping sosial yang menjadi orang tua asuh masing-masing penerima manfaat. Setiap wisma yang terdiri dari 10-15 orang didampingi oleh 1 (satu) orang pendamping sosial.

Namun demikin, fungsi pendamping sosial ini lebih pada kegiatan sehari- hari, sehingga sebagian penerima manfaat yang merupakan ODGJ maupun kelompok terlantar lainnya mengalami kesulitan dalam proses bimbingan sosial. Di panti ini juga belum dilakukan assessment secara lengkap untuk seluruh penerima manfaat karena keterbatasan tenaga peksos. Hal yang

(42)

3142 sama juga terjadi di LKS yang mendampingi gelandangan dan pengemis.

Tenaga pekerja sosial jumlahnya terbatas, sebagian besar adalah para relawan yang membantu proses pendampingan dan biasanya terlibat dalam beberapa program kegiatan. Tugas pendamping sosial tidak fokus hanya pada kelompok gepeng, tapi juga pada isu-isu lainnya seperti pengelolaan sanggar belajar, pendataan dampingan, maupun kegiatan adminsitrasi lainnya.

B. Provinsi Jawa Barat

1. Gambaran umum lembaga yang menjadi lokasi penelitian

Lokasi yang menjadi sasaran penelitian Gepeng di Provinsi Jawa Barat yaitu Panti Sosial Bina Karya (PSBK) Cisarua yang menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Balai Rehablilitasi Sosial Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur, sebagai UPT Kementerian Sosial, Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Perdagangan Orang, dan 2 (dua) Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (G.A.N.K) Kota Bandung dan LKS Karang Madya Kabupaten Bekasi. Profil Lembaga milik pemerintah diwakili oleh PSBK Cisarua (UPT Pemda Provinsi Jawa Barat) dan BRS Gelandangan Pengemis Pangudi Luhur (UPT Kemensos).

PSBK Cisarua sebagai lembaga milik Provinsi Jawa Barat, beralamat di Jl. Kolonel Masturi Panagelan No.1, Cisarua, Kab. Bandung Barat. Berdiri sejak tahun 1981, memiliki tugas dan fungsi untuk merehabilitasi gelandangan dan pengemis. Sasarannya adalah pada orang dewasa dan anak sebagai keluarga maupun individu yaitu anak jalanan dan masyarakat rentan lainnya, seperti wanita atau pria rentan sosial ekonomi. Jumlah Warga Binaan PSBK saat ini 46 orang. Status Lembaga, sampai saat ini belum terakreditasi, sumber anggaran berasal dari APBD dan Baznas.

Peruntukan anggaran lebih banyak dipergunakan untuk permakanan, membayar instruktur, serta kegiatan lainnya terkait dengan fasilitasi warga binaan, seperti melakukan kegiatan Isbat pernikahan dan pembinaan lanjut

Gambar

Gambar 1. Bisnis Proses Program Atensi (Asistensi Rehabilitasi Sosial)
Tabel 1. Proporsi Sampel Masing-Masing Provinsi
Tabel 3. Daftar Nama Institusi Lokasi Penelitian Kuantitatif dan Jumlah Sampel
Gambar  50  menunjukkan pada umumnya responden yang berada di  wilayah Sumatera Utara masih berada dalam kategori usia produktif,  dimana responden yang berusia antara 34-41 tahun sebanyak 33%,  kemudian berusia antara 42-49 tahun sebanyak 24%, berusia ant
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan dalam menangani gelandangan dan pengemis di

Munculnya Strategi Pemberdayaan Kelompok Gelandangan Pengemis Orang Terlantar Dalam Pengentasan Kemiskinan Yang Dilakukan Oleh Dinas Sosial Pemuda Olahraga Kota

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berbagai kebutuhan – kebutuhan psikologis dan pemenuhannya pada Gepeng (Gelandangan dan Pengemis) yang membuat

Pemberian pelayanan dibidang kesehatan merupakan salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan terhadap gelandangan dan pengemis di RPS, ini merupakan upaya untuk

Peran instruktur untuk menumbuhkan motivasi belajar klien gelandangan dan pengemis pada program keterampilan pertanian di Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial

Tetapi pada dasarnya UPT Pelayanan Sosial gelandangan dan pengemis Binjai ini tidak berlandaskan agama, akan tetapi panti ini terbuka dan menerima untuk

Anggota peer group support dapat memperoleh informasi tentang alternatif pekerjaan lain selain menjadi gelandangan dan pengemis serta dapat mengembangkan hubungan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan penanganan anak jalanan gelandangan dan pengemis di Kota Makassar, apa program dalam pembinaan anak jalanan gelandangan