• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK-TEKNIK KONSELING TEKNIK EMPTHY CHAIR

Dalam dokumen Portofolio Teknik Teknik Konseling teori (Halaman 47-51)

A. KONSEP DASAR TEKNIK

Empty chair (kursi kosong) merupakan salah satu teknik dari terapi gestalt yang dikembangkan oleh tokoh Frederick Fritz Perls. Teknik ini menerapkan permain peran dengan menekankan pada konseli dan seseorang yang ia representasikan dan imagikan di kursi kosong tersbut, konseli memainkan dua peran yang saling berlawanan, konseli memankan nilai-nilainya dan nilai-nilai seseorang yang ia imagikan tersebut (Thompson, 2003:76). Pelaksanaan teknik ini dapat berupa monolog dimana orang yang diajak berbicara di kursi kosong tidak menjawab, atau dapat berupa dialaog dimana orang tersebut menjawab seperti yang mungkin dijawab orang tersebut.

Empty chair adalah suatu cara untuk mengajak konseli agar menginternalisasikan introyeksinya. Dalam teknik ini dua kursi diletakkan di tengah ruangan. Konselor meminta konseli untuk duduk di salah satu kursi dan berperan sebagai topdog, kemudian pindah ke kursi yang lainnya sebagai

underdog. Top dog itu sifatnya sebagai otoriter, menuntut, mengetahui yang terbaik, berkuasa dan otoriter. Topdog adalah orang yang menggunakan kekuatannya untuk menekan dan menakuti orang lain dan bekerja seperti dengan

kata “kamu harus” dan “kamu tidak boleh”. Sedangkan peran underdog sendiri

adalah sebagai korban, defensive, tak berdaya, lemah dan tak berkuasa. Underdog bekerja denga kata “saya mau” dan mencari alasan seperti “saya sudah berusaha keras”. Dialog dilakukan secara berkesinambungan pada dua peran tersebut.

Dengan teknik ini, introyeksi akan terlihat dan konseli dapat merasakan konflik yang ia rasakan secara lebih riil. Konflik tersebut akan dapat terselesaikan dengan penerimaan dan intregasi antara kedua peran tersebut. Teknik ini membantu konseli untuk merasakan perasaannya tentang konflik perasaan dengn penuh, serta merupakan intervensi yang kuat, yang dapat untuk membantu konseli segala umur yang memiliki konflik dengan ornag ketiga yang tidak hadir dalam proses konseling (Gantina, 2011:318).

Empty chair ini mempunyai prinsip dasar : mengutamakan permaianan dialog yang diperankan oleh konseli sendiri, memerlukan kecakapan konselor sebagai frustator, mengungkap konflik antara topdog dan underdog, mensyaratkan konsentrasi.Teknik ini relevan digunakan pada unfinished bussines

di masa lalunya. Teknik ini juga sesuai untuk mengatasi hubungan social dalam lingkungan dari individu, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah atau dalam lingkungan masyarakat, yang mencakup juga perasaan perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, marah, benci, sakit hati, rasa berdosa, rasa terabaikan dan sebagainya, seperti (1) introyeksi daria orang tua versus diri anak, (2) bagian diri yang bertanggung jawab versus bagian diri yang impulsive, (3) orang yang puritan vesus orang yang ekspresif.

B. KARAKTERISTIK

Empty chair sebagai salah satu teknik dari pendekatan Gestalt ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. orientasi pada afektif dan tindakan

2. menekankan pada kesadaran disini dan sekarang 3. penekanan proses daripada isi

4. menuntut keaktifan konseli dalam mengekspresikan perasaannya

5. fokus pada permainan dialog konseli yang menggambarkan dirinya dan tuntutan dari orang lain yang penting dalam hidupnya

6. pemusatan pada tanggung jawab konseli seberapa efektif akan keberhasilan dalam pengungkapan perasaan konseli.

C. TUJUAN

Tujuan utama teknik kursi kosong bertujuan untuk membantu mengatasi konflik interpersonal dam intrapersonal yang menggangggu totalitas kepribadiannya (Thompson, 2004 dalam Gantina, 2011:318). Di samping itu ada tujuan lain dari teknik ini, diantaranya :

1. supaya terjadi katarsis dalam diri konseli 2. mengungkapkan perasaan yang terpendam

3. memperlancar komunikasi

4. membantu konseli mencapai kesadaran yang lebih penuh dan menginternalisasi konflik yang ada pada dirinya.

5. mengusahakan fungsi yang terpadu dan penerimaan atas aspek yang coba dibuang atau diingkari

D. MANFAAT

Beberapa manfaat yang diperoleh dalam penggunaan Empthy chair ini adalah

a. membantu konseli agar mengerti perasaan dari sisi dirinya yang mungkin diingkari

b. untuk memahami unfinished bussines yang selama ini membebani dan menghambat kehidupan konseli secara sehat

c. menyelesaikan introyeksi yang tertunda

d. membantu konseli mengungkapkan perasaan-perasaan yang bertentangan dengan dirinya secara penuh

E. TAHAP-TAHAP

Grenberg dan Malcom (2002, dalam Gantina 2011:319) menjelaskan enam langkah dalam menggunakan teknik kursi kosong, yaitu:

 Konseli diminta mengidentifikasi orang yang menajadi sumber unfinished business

 Konseli merespon seperti yang ia yakini orang terbut akan merespon.

 Konseli melakukan dialog sampai pada poin tercaipainya resolusi untuk menyelesaikan unfinished business

 Konseli memahami unfinished business dari figure to ground dalam kesadaran konseli.

F. APLIKASI TERBATAS

NO. TAHAPAN VERBALISASI

1. Rasionalisasi teknik “ baiklah aqid, terkaiat yang kamu ceritakan tadi bapak

mempunyai suatu cara yang nantinya dapat kita lakukan untuk membantu aqid mengungkapkan perasaan dan pengalaman kepada ayah aqid agar hal-hal yang dirasakan aqid bisa lebih baik lagi, cara itu seperti bermain peran dengan media kursi kosong, disana nanti aqid akan mencoba memainkan peran sebagai diri aqid sendiri sekaligus sebagai ayah aqid.”

2. mengidentifikasi orang yang menajadi sumber unfinished business

“ okey dari yang kamu sampaikan tadi, dapatkah kamu ceritakan lebih dalam lagi terkait ayah kamu yang sudah tidak kamu temui sejak kamu lulus SMP, hal-hal apa yang sekinya masih mengendap dan menjadi beban dalam hidupmu?”

3. Mengindentifikasi respon seperti yang ia yakini orang terbut akan merespon

“ jika kamu menjadi ayahmu, hal-hal apakah yang akan ia katakana terkait keinginanmu tadi, coba peragakan jika perlu dengan mimik dan gaya bicara seperti ayahmu?”

4. Melakukan dialog top dog dan under dog

sampai pada poin tercaipainya resolusi untuk menyelesaikan

unfinished business

“ disini akamu akan coba membayangkan dan menghadirkan sosok ayah kamu duduk pada kursi kosong didepanmu ini, lalu cobalah kamu ungkapkan apa yang menjadi keinginanmu, dan pindahlah ke kursi ayahmu, dan katakana seperti yang apa yang mungkin ayahmu katakana, daj jawablah dengan menyampikan alasan keinginannmu tadi. Bisakah kamu melakukannya?”

5. memahami unfinished business dari figure to ground dalam

kesadaran konseli

“ baik kamu sudah mencoba berdialog, dan kamu juga sudah mencoba merasakan menjadi ayahmu, lalu dari yan kamu pahami bagaimankah perasaan ayah kamu terhdapmu?

6. Evaluai perasaan dan pikiran konseli

“ jika kamu sudah dapat memahami perasaan ayahmu, kamu juga harus belajar mengerti alasan-alasan yang mungkin menjadi dasar akan tindakan yang dilakukannya, lalu beerdasar hal tersbut bagaimankan perasaanmu dan apa yang kamu pikirkan tentang ayahmu?” bisakah kamu memahami dan memaafkannya ?”

TEKNIK-TEKNIK KONSELING

Dalam dokumen Portofolio Teknik Teknik Konseling teori (Halaman 47-51)

Dokumen terkait