BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA
KERANGKA TEORITIS
A. Teori Propaganda
2. Teknik-teknik Propaganda
Berbagai teknik propaganda yang digunakan oleh seorang propagandis untuk mempengaruhi masyarakat dalam merubah persepsi. Propaganda juga dapat dilakukan dalam beberapa teknik memanipulasi emosi bahkan bisa dilakukan dengan cara membahayakan bagi seorang propagandis karena tujuan dari teknik yang digunakan seorang propagandis untuk “memanipulasi” mulai dari perasaan suka menjadi perasaan tidak suka, dari perasaan cinta menjadi benci, dan lain sebagainya.
Memanipulasi emosi seorang masyarakat juga merupakan teknik yang digunakan oleh seorang propagandis untuk mencapai sasaran dan tujuannya, propaganda seperti halnya komunikasi, sangat membutuhkan teknik. Seperti halnya dengan menggunakan media film yang dijadikan sebagai propaganda dalam mempengaruhi seseorang.
Melalui berbagai teknik ini, propagandis memanipulasi kata, suara, simbol pesan non verbal, sehingga secara tidak langsung tingkat emosinal masyarakat jadi
berubah. Dengan cara seperti itu seorang propagandis mempengaruhi masyarakat karena melalui teknik seperti ini tingkat emosional masyarakat akan berubah ketika seorang propagandis menyebarkan pesan.
Seperti yang terdapat dalam Film 3 ini beberapa teknik yang digunakan seorang propagandis dalam merubah persepsi atau pandangan mansyarakat terhadap agama Islam sebagai berikut:
a. Name Calling
Name Calling adalah propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Tujuannya adalah agar orang menolak dan mengangsikan ide tertentu tanpa mengkoreksinya/memeriksa terlebih dahulu.
Salah satu yang paling melekat pada teknik ini adalah seorang propagandis menggunakan sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang dituju seperti halnya dalam film 3 (Alif, Lam, Mim) ini seorang Kolonel di Negara memberikan sebutan-sebutan buruk kepada Islam dengan menyebut Islam sebagai teroris.
Contoh lain adalah pernyataan Kolonol sebagai seorang pemimpin negara yang menyebut agama Islam sebagai teroris, pemimpin menganggap bahwa orang-orang yang mengenakan pakaian gamis dan sorban dapat menimbulkan tindakan-tindakan kekerasan seperti pengeboman sehingga disebut sebagai seorang teroris. Islam juga dianggap sebagai agama yang fanatik dengan seperti itu sama saja telah memberikan label yang buruk kepada Islam.
Glittering Generalities adalah mengasosiasikan sesuatu dengan suatu “kata bijak” yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Teknik ini dimunculkan untuk mempengaruhi persepsi masyarakat agar mereka ikut serta mendukung gagasan propagandis.
Hal yang dapat kita lihat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini ketika Kolonel menyuruh seorang propagandis untuk menyebarkan pesan yang buruk mengenai Islam kepada rakyat akan tetapi, seorang propagandis tersebut menyampaikannya dengan kata-kata bijak seolah-olah rakyat percaya dengan ucapan yang disampaikan oleh propagandis tersebut.
c. Transfer
Transfer meliputi kekuasaan, sanski dan pengaruh sesuatu yang lebih dihormati serta dipuja dari hal lain agar membuat “sesuatu” lebih bisa diterima. Teknik yang seperti ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dalam sebuah negara.
Teknik propaganda transfer bisa digunakan dengan memakai pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berwibawa dalam lingkungan tertentu. Seorang propagandis dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini menyebarkan pesan buruk tentang Islam dengan mengatas namakan Kolonel yang saat itu sebagai pemimpin negara, propagandis melakukan hal tersebut dengan maksud agar komunikan terpengaruh secara psikologis terhadap apa yang dipropagandakan oleh si propagandis.
Testimonial berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau program/produk adalah baik atau buruk. Propaganda ini sering digunakan dalam kegiatan komersial, meskipun juga bisa digunakan untuk kegiatan politik.
Dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini aparat negara menggunakan teknik ini sebagai kegiatan politiknya untuk memanipulasi pikiran masyarakat dengan memberikan pemahaman-pemahaman negatif tentang Islam kepada masyarakat, selain itu, aparat negara memberikan pemahaman kepada masyarakat agar membenci Islam karena orang-orang Islam dianggap sebagai teroris.
e. Card Stacking
Card Stacking meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu pernyataan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik suatu gagasan, program, manusia dan barang. Teknik propaganda yang hanya menonjolkan hal-hal atau segi baiknya saja, sehingga publik hanya melihat satu sisi saja.
Pada teknik Card Stacking yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini adalah Aparat negara berusaha menonjolkan sesuatu usaha yang baik yang telah dilakukan oleh pemerintah kepada rakyat seolah-olah rakyat percaya dengan hal tersebut. Pemimpin negara menjelaskan kepada rakyat bahwa mereka berhasil menangkap teroris yang selama ini membuat kehancuran di negara kita.
f. Frustration or Spacegot
Teknik ini digunakan untuk menyalurkan kebencian atau frustasi dengan cara menciptakan kambing hitam.11
Sementara untuk teknik seperti ini dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim), Kolonel Mason yang menjadi pemimpin negara dengan sengaja menjadikan agama Islam sebagai kambing hitam dalam kasus pengeboman yang terjadi di Candi cafe. Hal tersebut bertujuan agar rakyat membenci Islam hingga masyarakat memushi orang-orang Islam.
Teknik yang lebih banyak digunakan dalam Film 3 ini, yaitu teknik Name Calling, Card Stacking, Frustration or Spacegot. Dalam teknik name calling ini, pemerintah memberikan ide-ide dan pemahaman yang buruk kepada masyarakat dengan mengatakan bahwa agama Islam itu bukan agama yang membawa kebenaran dan kebaikan untuk manusia sehingga secara tidak sadar masyarakat terpengaruh dengan menganggap Islam sebagai teroris. Sedangkan dalam teknik card stacking, saat pemerintah memberikan bukti-bukti dan kesaksian palsu kepada masyarakat mengenai kasus pengeboman yang terjadi di candie café. Kemudian untuk teknik frustration or spacegot saat pemimpin negara menjadi orang-orang Islam sebagai kambing hitam yang melakukan pengeboman.
11
Mohammad Soelhi, Propaganda dalam Komunikasi Internasional, (Bandung: Simbiosa Reakatama Media, 2012), h. 67.