• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak Sampel

BAB III METODE PENELITIAN

4.2 Karakteristik Sampel

4.2.3 Jumlah Tanggungan Keluarga Peternak Sampel

Perbedaan jumlah tanggungan keluarga peternak sampel akan mempengaruhi jumlah penggunaan tenaga kerja dalam mengelola usahaternak keluarga yang nantinya dapat berdampak pada jumlah pendapatan yang diterima peternak. Semakin banyak jumlah anggota keluarga peternak dalam usia produktif maka pengelolaan usahatani peternak akan semakin mudah sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak. Klasifikasi jumlah tanggungan keluarga peternak sampel dapat dilihat pada Tabel 4.7 :

Tabel 4.7 Jumlah tanggungan peternak sampel di desa Lubuk Bayas, 2017 No Kelompok jumlah tanggungan Jumlah tanggungan Persentase (%)

1 1-2 16 80,0

2 3-4 4 20,0

Jumlah 20 100

Sumber : Data yang diolah di lampiran 4

Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa jumlah tanggungan keluarga peternak sampel terbesar di Desa Lubuk Bayas berada pada kelompok tanggungan 1-2 orang yaitu sebanyak 16 0rang atau sekitar 80,0 % dari jumlah tanggungan peternak sampel di Desa Lubuk Bayas. Sedangkan jumlah tanggungan peternak sampel pada kelompok 3-4 orang yaitu sebanyak 4 orang atau sekitar 20,0%.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Sistem Pemeliharaan Usaha Ternak Sapi Di Daerah Penelitian

Di daerah penelitian, yakni Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, mayoritas peternak sapi masih mengusahakan ternak sapinya secara sederhana. Bentuk pemeliharaan ternak terprogram dengan baik, namun tata laksana kurang efisien. Kandang, sebagai tempat berlindung sapi dari terik matahari di siang hari dan udara dingin pada malam hari tersedia cukup bagus. Dalam penggembalaannya ternak sapi potong hanya berada di kandang dan sesekali dilepas dekat dengan pemukiman peternak.

Usaha ternak sapi yang dilakukan secara sederhana tidak terlalu memikirkan hasil produksinya karena peternak menganggap tingkat usaha seperti ini hanya sebagai pekerjaan sampingan. Meski begitu, kepedulian peternak terhadap ternak sapi mereka cukup diperhatikan. Ternak sapi dipandang sebagai aspek kepuasan, karena peternak dianggap telah memiliki tabungan berbentuk ternak yang dapat dijual pada saat dibutuhkan dalam keadaan tidak terduga. Proses sistem pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak sapi potong di daerah penelitian adalah sebagai berikut :

A. Perkandangan

Di daerah penelitian, kandang dibangun dengan arah utara – selatan, agar sinar matahari pada waktu pagi hari tetap masuk kandang dan tidak begitu panas. Sinar matahari pada pagi hari mengandung sinar ultraviolet yang sangat penting untuk membasmi kuman dan membantu pembentukan vitamin pada ternak sapi potong. Kebutuhan kandang sangat penting sekali sebagai pelindung panas, hujan, dingin dan tiupan angin yang sangat kencang. Selain itu juga memudahkan pemeliharaan seperti pengontrolan penyakit dan

pengobatan. Pembuatan ventilasi dibuat sehingga udara tetap bisa keluar masuk pada kandang.

Atap kandang kebanyakan terbuat dari rumbia atau nipah. Hal ini dipilih karena biayanya lebih murah dan sesuai dengan keadaan perekonomian peternak tersebut, rumbia atau nipah tersebut juga tidak begitu menyerap panas matahari sehingga kondisi kandang tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak telalu dingin pada malam harinya. Dinding kandang terbuat dari papan dan kayu, sedangkan bagian bawah dinding terbuat dari beton. Lantai kandang ternak tersebut juga masih terbuat dari semen. Untuk ventilasi, sudah cukup tersedia di kandang tersesbut.

Perkandangan sapi potong dibangun berdekatan dengan rumah penduduk atau peternak agar para peternak dapat lebih mudah mengawasi usaha ternaknya tersebut. Ukuran dari masing – masing kandang disesuaikan dengan jumlah ternak dari setiap peternak. Tidak ada peternak yang memiliki dua kandang atau lebih yang berarti tidak ada peternak yang melakukan pemisahan kandang berdasarkan umur ternak sapi potong.

Kandang pemeliharaan ternak sapi tersebut tidak dipisahkan sesuai dengan umur ternak sapi potong, tetapi seluruh ternak tersebut dipelihara dalam satu kandang. Alasan peternak melakukan hal ini karena keterbatasan modal dan lahan untuk usaha ternak sapi tersebut, dan hal ini dianggap peternak masih sangat wajar, karena peternak masih dapat merasakan keuntungan dari hasil ternak sapi, walaupun hanya dipelihara dalam kandang yang seadanya saja.

B. Penyediaan Bibit

Para peternak di daerah penelitian memilih jenis bibit ternak sapi potong lokal. Cara perkawinan yang dilakukan oleh peternak adalah dengan menggunakan Inseminasi Buatan (IB) dengan biaya suntiknya berupa bantuan dari pemerintah. Namun ada juga peternak yang mencoba membiarkan ternak kawin secara alamiah yaitu proses

pemasukan sperma pada alat kelamin betina yang dilakukan oleh pejantan itu sendiri atau secara kontak langsung dengan sapi betina.

Umumnya jenis bibit ternak sapi sebagai pejantan adalah jenis sapi lokal, seperti sapi bali.

Para peternak ada juga yang memperoleh bibit dari daerah lain, peternak membeli bibit atau bakalan sapi lokal yang berumur 2,5 – 3 tahun, kemudian setelah berumur 4 – 5 tahun keatas sapi potong telah siap untuk dijual dengan bobot berkisar antara 300 – 400 kg.

C. Pemberian Pakan Hijauan

Pakan hijau merupakan makanan pokok bagi ternak sapi. Ternak sapi dapat memperoleh pakan hijauan di lokasi penggembalaan, pakan ternak sapi diberikan oleh peternak pada kandang sapi tersebut. Biasanya ternak sapi diberikan pakan hijauan dua kali sehari, yakni pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan pada sore hari pukul 17.00 WIB. Jenis pakan hijauan yang diberikan untuk ternak sapi potong tersebut adalah jenis rumput lapangan dan rumput gajahan ( King Grass). Banyaknya pakan hijauan yang diberikan tergantung pada populasi ternak sapi potong yang dipelihara, biasanya sampai 20kg per sapi per hari, dengan harga Rp7.500 per 20kg.

D. Pemberian Air Minum

Di daerah penelitian air minum untuk ternak sapi potong selalu disediakan dalam kandang yang diletakkan di tempat ember air minum. Pemberian air minum untuk sapi potong di daerah penelitian ini diberikan secukupnya dan dilakukan pada pagi dan sore hari. Sumber air minum untuk ternak sapi potong tersebut berasal dari air sumur di dekat pekandangan sapi potong tersebut dan di daerah penelitian ketersediaan air bersih masih sangat mencukupi.

E. Kebersihan Sapi Potong dan Kandang

Di daerah penelitian kebersihan kandang dilakukan dengan cukup baik, dimana kebersihan kandang dilakukan setiap hari sekali yaitu pada pagi hari. Pada malam hari juga dilakukan pengasapan agar kondisi kandang tetap baik dan juga untuk mencegah datangnya lalat yang dapat mengganggu kesehatan sapi potong. Kebersihan kandang sangat perlu dilakukan untuk menunjang kesehatan sapi potong, selain untuk menjaga kelembaban kandang, hal tersebut juga dilakukan untuk menghindari adanya lalat atau serangga lain yang sering terdapat pada kandang ternak sapi potong tersebut.

F. Pemberian Obat - obatan

Peternak sapi yang berada di daerah penelitian, pada umumnya masih memberikan obat – obatan alami bila ternak sapi potong mereka terserang penyakit. Peternak memberikan obat – obatan alami untuk menyembuhkan penyakit yang sering timbul seperti diare dan masuk angin. Pemberian obat pada ternak sapi potong juga dapat dilakukan secara suntikan dengan bantuan dokter hewan atau juga dapat langsung diberikan melalui mulut ternak sapi oleh bantuan peternak sapi potong tersebut, bila sapi potong menderita penyakit diare atau masuk angin umumnya peternak memberikan obat suntikan teramisin atau dengan memberi makan obat ramuan dengan rempah – rempah, seperti kunyit, jahe dan bahan – bahan lainnya. Namun pemberian obat-obatan ini merupakan bantuan dari pemerintah.

Dari penjelasan yang telah dijabarkan di atas yaitu mengenai sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di Desa Lubuk Bayas, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, yaitu usaha ternak sapi potong di daerah penelitian pelaksanaan pemeliharaannya masih tergolong tradisional (ekstensif), hal ini dapat dibuktikan yaitu selama proses pemeliharaan ternak, perawatan ternak hingga ternak sapi potong tersebut dapat dijual, proses pemeliharaan tersebut dikerjakan secara sederhana atau tidak menggunakan kandang yang sesuai dengan umur ternak sapi potong dan pakan yang

diberikan juga hanya mengandalkan pakan hijauan, tanpa ada dberikan pakan tambahan atau konsentrat dalam usaha ternak sapi potong tersebut.

Dimana menurut (Sugeng, 2008), usaha ternak sapi potong yang dilakukan secara ekstensif adalah usaha ternak yang dalam tahapan proses pemeliharaannya tidak dilakukan secara terprogram atau khusus serta tidak menggunakan pakan tambahan atau konsentrat.

Peternak masih menggunakan sistem tradisonal karena sistem tersebut dianggap masih sangat mudah dan sederhana untuk dijalankan tetapi dapat memberikan keuntungan yang cukup besar juga untuk membantu memenuhi kebutuhan peternak suatu saat, karena para peternak menganggap usaha tersebut hanya sebagai usaha sampingan atau cadangan saja, yang suatu saat bila diperlukan untuk keperluan mendesak, usaha ternak sapi yang dianggap sebagai tabungan itu dapat langsung dijual untuk memenuhi kebutuhan peternak.

5.2 Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong

Pendapatan usaha yang diperoleh dari ternak sapi potong adalah selisih antara total penerimaan usaha ternak sapi dengan total biaya produksi yang dikeluarkan peternak selama proses usaha pemeliharaan atau kegiatan budidaya ternak sapi tersebut.

A. Biaya Produksi Usaha Ternak

Biaya produksi dalam pengelolaan usaha ternak sapi potong meliputi biaya penyusutan, biaya pemeliharaan. Biaya penyusutan terdiri dari biaya penyusutan kandang dan penyusutan peralatan. Biaya pemeliharaan terdiri dari biaya obat – obatan, dan niaya pakan ternak. Biaya - biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1 Rata – rata biaya produksi usaha ternak sapi potong (Rp/tahun/peternak)

Total biaya produksi 9.578.209 100

Sumber : data diolah dari lampiran 5, 6, 7, 8 (2017)

Rataan biaya produksi pada usaha ternak sapi potong per peternak pertahun mencakup biaya penyusutan kandang sebesar Rp.357.154 atau 7,18 % dari seluruh total biaya produksi, dan biaya penyusutan peralatan sebesar Rp.131.000 atau 4,6 % dari seluruh total biaya produksi, kemudian biaya pemeliharaan yang terdiri dari biaya obat – obatan sebesar Rp.45.055 atau 2,15 % dari total biaya produksi, dan biaya Pakan untuk ternak sebesar Rp.9.045.000 atau 85,16 % dari total biaya produksi usaha ternak sapi potong.

Biaya mencari pakan ternak dalam usaha ternak sapi potong tersebut termasuk biaya produktif tidak tunai karena tidak dibayar langsung namun diperhitungkan sebagai biaya produktif dalam menganalisis pendapatan bersih usaha ternak sapi potong. Biaya – biaya tambahan lain yaitu biaya IB (Inseminasi Buatan) sebesar Rp.0 atau 0 % dari total biaya produksi dikarenakan peternak tidak menggunakannya. Rata – rata total biaya produksi usaha ternak sapi potong tersebut sebesar Rp. 9.578.209.

B. Penerimaan Usaha Ternak Sapi Potong

Penerimaan adalah penjumlah dari penjualan kotoran ternak dan urin, pertambahan nilai ternak, dan hasil penjualan ternak sapi potong dalam satu proses produksi ternak sapi potong tersebut selama satu tahun. Rataan penerimaan usaha ternak sapi potong yang diperoleh peternak dapat dilihat pada Tabel 5.2 berikut.

Tabel 5.2 Rata – rata penerimaan pada usaha ternak sapi potong pada daerah penelitian (Rp/tahun/peternak)

No Uraian Jumlah penerimaan (Rp)

1 Pertambahan nilai ternak sapi potong 6.000.000

2 Penjualan sapi potong 26.400.000

3 Penjualan kotoran sapi potong 2.052.000

Total penerimaan 34.452.000

Sumber : data diolah dari lampiran 9, 10, 13 (2017)

Rataan pertambahan nilai ternak sapi potong yang diperoleh peternak di daerah penelitian adalah sebesar Rp.6.000.000 pertahun. Rataan penjualan sapi potong sebesar Rp.26.400.000 pertahun, serta rataan penerimaan yang diperoleh dari penjualan kotoran sapi potong adalah sebesar Rp.2.052.000 pertahun. Peternak menjual kotoran sapi potong dengan menggunakan wadah sorongan atau beko serta goni dan peternak juga menjual urin sapi dengan menggunakan jerigen, dengan harga satu goni kotoran sapi potong sebesar Rp.25 dengan berat 1 Kg yang dijual sebulan sekali dan harga satu liter urin sapi potong sebesar Rp.500 yang dijual sebulan sekali. Penjualan kotoran dan urin ini dikoordinir oleh satu orang yang diberi kepercayaan oleh peternak. Pembeli kotoran sapi potong ini datang ke lokasi dan kotoran serta urin tersebut dibawa ke pengumpul kotoran dan urin yang nantinya digunakan sebagai pupuk bagi tanaman. Rataan total penerimaan peternak dari usaha ternak sapi potong adalah Rp 34.452.000 pertahun per peternak.

C. Pendapatan Usaha Ternak Sapi Potong

Pendapatan usaha ternak sapi potong yang diperoleh dari selisih antara total penerimaan usaha ternak sapi dengan total biaya yang dikeluarkan peternak selama proses pemeliharaan sapi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.3 sebagai berikut.

Tabel 5.3 Rata – rata pendapatan bersih usaha ternak sapi potong (Rp/tahun/peternak)

No Uraian Jumlah (Rp/tahun)

1 Penerimaan usaha ternak sapi potong 34.452.000 2 Biaya produksi usaha ternak sapi potong 9.356.110

Pendapatan bersih usaha ternak sapi potong 25.095.889 Sumber : Data diolah dari lampiran 14, 15 ( 2017)

Berdasarkan Tabel 5.3 dapat diketahui bahwa rataan penerimaan usaha ternak sapi potong per peternak/tahun adalah sebesar Rp 34.452.000 dan rataan total biaya produksi sebesar Rp 9.356.110. Maka rataan pendapatan bersih usaha ternak yang diterima oleh peternak sapi potong adalah sebesar Rp 25.095.889 (per peternak/tahun).

5. 3 Kontribusi Usaha Ternak Sapi Potong Terhadap Pendapatan Keluarga Total pendapatan keluarga adalah penjumlahan pendapatan usaha ternak sapi potong dan pendapatan luar usaha ternak sapi potong. Total pendapatan keluarga peternak berasal dari pendapatan luar usaha ternak sapi potong dan pendapatan dari usaha ternak sapi potong baik untuk dikembangkan untuk menambah pendapatan bagi keluarga sehingga tingkat pendapatan menjadi lebih baik. Sumber pendapatan keluarga di daerah penelitian adalah dari usahatani padi dan usaha ternak sapi potong.

Usahatani padi merupakan usahatani utama sementara usaha ternak sapi potong adalah sebagai usaha sampingan atau dianggap sebagai tabungan. Namun usaha ternak sapi potong juga merupakan salah satu sumber pendapatan yang dapat diperoleh setiap setahun sekali, sehingga memberi sumbangan yang cukup besar terhadap pendapatan keluarga. Tanaman padi dapat dipanen dua kali dalam setahun yaitu panen biasanya pada bulan februari - Juli. Namun nilai sosialnya tinggi karena hanya menunggu 5 bulan setelah ditanam hasilnya dapat dipanen dan dapat langsung digunakan untuk konsumsi keluarga dan juga untuk dijual.

Total pendapatan keluarga peternak sapi potong di daerah penelitian diperoleh dari pendapatan usaha ternak sapi potong ditambah dengan pendapatan non usaha ternak yaitu usahatani padi pertahun seperti tertera pada Tabel 5.4 sebagai berikut.

Tabel 5.4 Kontribusi pendapatan usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluar di desa penelitian, 2017

No Uraian Jumlah (Rp/tahun) Kontribusi (%)

1 Pendapatan usaha ternak sapi potong 25.095.889 54,28 2 Pendapatan non usaha ternak sapi 21.134.500 45,72 Total pendapatan keluarga 46.230.389 100 Sumber : Data diolah dari lampiran 17 ( 2017)

Kontribusi pendapatan dari usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga adalah 54,28 % (lebih besar dari 50%), sedangkan kontribusi dari pendapatan non usaha ternak sapi potong (Usahatani Padi) adalah 45,72 % (lebih kecil dari 50%). Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak sapi potong memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar dibandingkan kontribusi yang diperoleh dari usaha non ternak sapi potong (padi) terhadap total pendapatan keluarga peternak di daerah penelitian.

Dapat dilihat bahwa meskipun usaha ternak sapi potong di daerah penelitian hanya dianggap peternak sebagai usaha sampingan, tetapi pada kenyataannya usaha ternak sapi potong tersebut dapat menyumbangkan pendapatan yang jauh lebih besar daripada pendapatan non usaha ternak sapi potong yaitu usahatani padi yang mereka anggap sebagai usaha pokok mereka. Sesuai dengan penjabaran mengenai besar kontribusi usaha tersebut, maka hipotesis diterima yaitu kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap total pendapatan keluarga adalah besar yaitu sebesar 54,28 % (>50%).

5.4 Hambatan Yang Dihadapi Peternak

5.4.1 Masalah Yang Dihadapi Peternak Dalam Usaha Ternak Sapi Potong

A. Kurangnya Pengetahuan Peternak Tentang Pemeliharaan Sapi Potong yang Baik Masalah yang dihadapi oleh petenak di daerah penelitian merupakan masalah yang berasal dari peternak itu sendiri yaitu menyangkut kesulitan yang dihadapi dalam mengusahakan sapi potong tersebut. Kebiasaan-kebiasaan dalam melakukan usaha secara tradisonal ini sebenarnya menurut peternak karena di daerah tersebut belum pernah ada yang meneliti atau menginformasikan secara khusus kepada peternak mengenai usaha

ternak sapi potong yang baik di daerah penelitian tersebut. Peternak juga kurang aktif mencari informasi tentang pemeliharaan ternak sapi potong yang lebih baik, para peternakhanya mengusahakan sapi potong yang mereka kelola dengan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan dan orang tua mereka secara turun-temurun.

Kesulitan peternak dalam memahami usaha ternak sapi potong secara modern atau intensif tersebut, merupakan kendala bagi peternak lainnya yang juga berniat untuk mengembangkan usaha ternak tersebut, karena kurangnya pengetahuan dan minat peternak untuk mempelajari mengenai pengelolaan usaha ternak sapi potong secara intensif tersebut. Peternak lebih memilih mengelola ternak sapi potong secara tradisional karena dianggap lebih menguntungkan, karena tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar, tetapi hasil pendapatan yang mereka peroleh tetap menjanjikan keuntungannya.

Kurangnya pengetahuan peternak tentang pengelolaan usaha ternak sapi potong yang baik ini yang akhirnya membuat peternak kurang memberikan perhatian terhadap usaha sapi potong ini secara intensif. Padahal jika diberikan perhatian khusus terhadap ternak sapi potong tersebut, maka akan semakin besar pula pendapatan yang diperoleh, dimana sistem usaha ternak sapi potong yang dilakukan secara intensif dapat mempercepat proses penambahan bobot sapi potong karena ternak diberikan pakan tambahan atau konsentrat, mengingat harga jual ternak sapi potong sampai saat ini masih cukup tinggi, sehingga pendapatan yang diperoleh dari ternak sapi potong ini tidak hanya lagi dianggap sebagai kontribusi bagi pendapatan keluarga saja, akan tetapi bila dikelola secara lebih baik dapat menjadi salah satu penghasilan utama bagi keluarga.

B. Kekurangan Modal

Modal yang cukup sangat dibutuhkan dalam mengusahakan ternak sapi potong, sesuai dengan hasil wawancara mengenai keadaan di lapangan ternyata salah satu kendala peternak yang tidak ingin merubah sistem pemeliharaan usaha ternaknya tersebut adalah

karena peternak masih banyak yang merasakan kekurangan modal, sehingga peternak kurang memperhatikan kualitas dari pemeliharaan yang mereka lakukan, seperti kondisi kandang yang seadanya saja serta pemberian pakan ternak yang belum memenuhi kebutuhan nutrisi pada ternak sapi potong, hal ini berhubungan karena kurangnya modal peternak, padahal seperti yang diketahui bahwa pemberian pakan tambahan bagi ternak dapat meningkatkan bobot dan kualitas produksi ternak sapi potong tersebut.

Spesifikasi masalah untuk setiap peternak dapat dilihat pada lampiran 21 (terlampir) yang menunjukkan bahwa peternak yang mengalami masalah terhadap pengetahuan atau informasi mengenai manfaat pemeliharaan sapi potong yang lebih baik atau intensif yaitu sebesar 75 %, sedangkan peternak yang mengalami masalah terhadap ketersediaan modal yaitu sebesar 85 % dari total sampel peternak yang berjumlah 20 KK.

5.4.2 Upaya-Upaya Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Masalah Dalam Usaha Ternak Sapi Potong

A. Mencari Informasi Pada PPL / Buku / Kelompok Ternak

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani dimana peternak masih kesulitan dalam mengusahakan ternak sapi potong tersebut dengan cara yang lebih baik karena kurangnya pengetahuan dan informasi yang didapatkan adalah biasanya peternak berusaha belajar dari pengalaman peternak sapi potong lain yang telah sukses sebelumnya, mereka berdiskusi dan memecahkan masalah secara bersama-sama yang berkaitan dengan ternak sapi potong, dalam kelompok ternak yang ada di daerah penelitian.

Peternak juga mencari informasi dari daerah – daerah lain yang berada di sekitar daerah penelitian tentang pengembangan ternak sapi potong, sehingga mereka dapat lebih mandiri dalam mengusahakan ternaknya. Peternak hendaknya mempunyai kerjasama yang baik antara sesama peternak sapi potong di luar daerah mereka, agar dapat saling berbagi tentang sistem pemeliharaan yang baik pada ternak sapi potong dan agar bisa

mempraktekannya mulai dari pemilihan bibit sapi hingga ternak sapi tersebut dapat dijual.

B. Mencari Pinjaman Modal

Peternaksulit mendapatkan modal karena di daearah ini belum tersedia CU atau Koperasi yang dapat dimanfaatkan sebagai peminjaman bagi peternak yang kekurangan modal.

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh peternak yang berhubungan dengan kurangnya modal tersebut, biasanya peternak meminjam modal ke peternak yang lain, atau menyisihkannya dari pendapatan keluarga yang lain untuk menbeli bibit baru atau memenuhi kebutuhan produksi bagi ternak sapi .

C. Menekan Biaya Produksi

Selain mencari pinjaman modal dari pihak lain, untuk mengatasi masalah kurangnya modal, para peternak juga melakukan penghematan biaya produksi, misalnya dengan tidak memakai tenaga kerja dari luar keluarga, hanya mengandalkan pakan hijau yang diambil peternak dari padang rumput saja, meminta bantuan obat – obatan dari pemerintahan setempat, artinya peternak menganggap beternak sapi potong tersebut hanya sebagai tabungan dalam bentuk ternak, bukan sebagai usaha ternak yang dikelola secara khusus dengan tujuan agar mendapatkan hasil produksi ternak sapi potong yang berkualitas baik.

Spesifikasi solusi masalah untuk setiap peternak dapat dilihat pada lampiran 22 (terlampir) yang menunjukkan bahwa peternak yang memilih solusi masalah untuk mencari informasi pada PPL /buku / kelompok ternak mengenai pengetahuan atau informasi mengenai manfaat pemeliharaan sapi potong yang lebih baik atau intensif yaitu sebesar 50%, sedangkan peternak yang memilih untuk mencari pinjaman karena keterbatasan modal mereka yaitu sebesar 70%, kemudian peternak yang memilih untuk

menekan biaya produksi ternak sapi potong karena keterbatasan modal yang mereka miliki yaitu sebesar 55% dari total sampel peternak yang berjumlah 20 KK.

51

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Dari analisis yang dilakukan terhadap usaha ternak sapi potong di daerah penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di daerah penelitian masih

1. Sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di daerah penelitian masih

Dokumen terkait