• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Landasan Teori

2.2.3 Teks, Ko-teks dan Konteks

Setiap tradisi lisan memiliki bentuk dan isi. Bentuk terbagi atas teks, ko-teks, dan konteks, sedangkan isi terdiri dari makna dan fungsi, nilai dan norma, serta kearifan lokal (Sibarani, 2012: 241-242). Teks, koteks, dan konteks merupakan tiga bagian yang saling berhubungan sehingga pemahaman sebuah teks juga tergantung pada ko-teks dan konteksnya, dan juga sebaliknya. Di samping menganalisis hubungan proposisi dalam teks tradisi lisan, juga perlu menganalisis elemen koteks dan konteksnya untuk mendapatkan makna yang sebenarnya, makna paduan kalimat dalam wacana tradisi lisan baru dapat dipahami secara lengkap setelah dikaitkan dengan ko-teks dan konteksnya. Teks memiliki struktur, ko-teks memiliki elemen, dan konteks memiliki kondisi, yang formulanya dapat diungkapkan dari kajian tradisi lisan.

2.2.3.1 Teks

Teks merupakan unsur verbal baik berupa bahasa yang tersusun ketat ―tightly

formalized language” seperti bahasa sastra maupun bahasa naratif yang mengantarkan tradisi lisan non verbal seperti teks pengantar sebuah performansi. Struktur itu dapat dilihat dari struktur makro, struktur alur, dan struktur mikro. Struktur makro merupakan makna keseluruhan, makna global atau makna umum dari sebuah teks yang dapat dipahami dengan melihat topik atau tema dari sebuah teks. Struktur alur merupakan skema atau alur sebuah teks. Sebuah teks, termasuk teks tradisi lisan secara garis besar tersusun atas tiga elemen yaitu pendahuluan (introduction), bagian tengah (body), dan penutup (conclution), yang masing-masing saling mendukung secara koheren (Sibarani, 2012: 242). Analisis teks harus mampu mengungkapkan pesan-pesan apa yang ada dalam setiap elemen

teks itu. Sedangkan struktur mikro adalah struktur teks secara linguistik teoretis. Linguistik teoretis mencakup tataran bahasa seperti bunyi (fonologis), kata (morfologis), kalimat (sintaksis), wacana (diskursus), makna (semantik), maksud (pragmatik), gaya bahasa (stilistik), dan bahasa kiasan figuratif. Kajian struktur mikro akan merumuskan formula berupa kaidah bagi bahasa sehari-hari dan bahasa susastera mulai dari tataran bahasa yang paling rendah seperti bunyi sampai tataran yang paling tinggi seperti wacana. Dalam penelitian nyanyian rakyat anak-anak pada MBT, analisis teks dilakukan dengan cara menemukan tema maupun topik yang merupakan makna secara keseluruhan dari teks nyanyian tersebut, mengungkapkan pesan-pesan apa yang ada dalam setiap elemen teks nyanyian anak tersebut, serta merumuskan formula berupa kaidah bagi bahasa sehari-hari dan bahasa susastera nyayian anak tersebut mulai dari tataran bahasa yang paling rendah seperti bunyi sampai tataran yang paling tinggi seperti wacana.

2.2.3.2 Ko-teks

Ko-teks menurut Cook (1994) adalah hubungan antar wacana yang merupakan lingkungan kebahasaan yang melingkupi suatu wacana. Dengan begitu makna ujaran ditentukan oleh teks sebelum dan sesudahnya. Ko-teks ini dapat berwujud ujaran, paragraf, atau wacana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ko-teks adalah konteks yang bersifat fisik, yakni konteks lingkungan. Ko-teks suatu kata adalah kata-kata lain yang digunakan di dalam frasa atau kalimat yang sama. Koteks mempunyai pengaruh yang kuat dalam penafsiran makna. Mey (1993) mendefinisikan ko-teks sebagai sebuah kalimat (tunggal ataupun ganda) yang merupakan bagian dari teks yang (kurang lebih secara langsung)

mengelilinginya. Ko-teks dari tuturan semacam ini tidak memadai untuk memahami kata-kata, kecuali jika mencakup sebuah pemhaman dari tindak-tindak yang terjadi sebagai bagian dan hasil dari kata-kata tersebut. untuk memahami tingkah laku linguistik orang, kita perlu mengetahui segala hal tentang penggunaan bahasa mereka; yaitu, kita harus melihat lebih jauh dari sekedar ko-teks tuturan dan memperhatikan keseluruhan lingkungan linguistik ke dalam pandangan kita. Hal ini berarti bahwa kita harus memperluas visi kita dari ko-teks menjadi konteks: Yaitu, keseluruhan dari lingkungan (bukan hanya linguistik) yang mengelilingi produksi bahasa.

Ko-teks menurut Sibarani (2012: 242) adalah keseluruhan unsur yang mendampingi teks seperti unsur paralinguistik, proksemik, kinetik, dan unsur material lainnya. Deskripsi paralinguistik mencakup intonasi, aksen, jeda, dan tekanan. Peranan kajian paralinguistik sangat penting ketika tradisi dinyayikan atau disenandungkan sebagaimana karakteristik kebanyakan tradisi lisan. Kinetik merupakan bidang ilmu yang mengkaji gerak isyarat. Dalam tradisi lisan, gerak isyarat sangat berperan karena karakteristik tradisi lisan yang berupa kegiatan, peristiwa atau pertunjukan. Dalam melakonkan tradisi lisan, gerak isyarat itu lebih luas perannya karena meliputi berbagai tarian atau gerakan lain yang tidak sekedar sebagai pendamping dan pengganti teks verbal dalam komunikasi. Proksemik merupakan bidang ilmu yang mempelajari penjagaan jarak antara pembicara dan pendengar sebelum dan ketika sedang terjadi komunikasi. Deskripsi sikap dan penjagaan jarak antar pelaku dan antara pelaku dengan penonton akan memberikan kontribusi pada interpretasi makna dalam tradisi lisan. Dari penjagaan jarak para pelaku dapat terlihat oposisi binari antar pelaku, yang

menggambarkan peran sebagai raja-rakyat, majikan-pembantu, direktur-karyawan, pimpinan-bawahan, orang kaya-orang miskin, dan sebagainya. Bentuk ko-teks lain yang sangat perlu dikaji dalam tradisi lisan adalah unsur material atau benda yang sering mendampingi penggunaan teks. Unsur-unsur material yang dipergunakan dalam praktik tradisi lisan dapat berupa perangkat pakaian dengan gayanya, penggunaan warna dengan ragam pilihannya, penataan lokasi dengan dekorasinya, dan penggunaan berbagai properti dengan fungsi masing-masing. Dengan demikian, kajian semiotik terhadap unsur-unsur material yang simbolik sebagai bagian dari ko-teks perlu dilakukan dalam memahami tradisi lisan. Dalam penelitian nyanyian anak-anak pada MBT yang menjadi ko-teks adalah intonasi, aksen, jeda, dan tekanan dari nyanyian anak tersebut, dan juga benda-benda atau material yang digunakan dalam nyanyian permainan tersebut.

2.2.3.3 Konteks

Secara harfiah, konteks berarti ―something accompanying text‖, yang berarti : sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks. Konteks diungkapkan melalui karakterisasi bahasa yang digunakan penutur (Halliday & Hasan, 1985). Di dalam teori Halliday, pengertian harfiah itu diterjemahkan dalam batasan Saussure yang menyatakan bahwa bahasa sebagai suatu fakta sosial. Oleh Halliday ―something‖ di atas diolah menjadi ―sesuatu yang telah ada dan hadir dalam partisipan sebelum tindak komunikasi dilakukan, karena itu konteks mengacu pada konteks kultural dan konteks sosial (Halliday, 1978; Wirth, 1984) yang diidentifikasikan atas ranah, tenor, dan modi.

Ranah merupakan rekaman tentang peristiwa apa yang terjadi, yaitu segala peristiwa atau tindak sosial yang sedang berlangsung pada pengalaman atau

benak. Aspek itu menggambarkan peristiwa apa yang terjadi yang melibatkan para penutur atau partisipan sebagaimana dinyatakan atau direalisasikan berupa unsur-unsur status, proses, pelaku, tujuan, lokasi, dan waktu. Tenor merupakan unsur-unsur partisipan yang menyatakan interpersonal dan status yang direalisasikan dalam pilihan-pilihan piranti wacana. Dalam tenor itu, hubungan interaksi yang signifikanlah yang diamati. Sedang modi adalah realisasi yang diungkapkan oleh teks secara keseluruhan sebagai tindak sosial, baik bersifat lisan dan tulisan, monolog atau dialog.

Leech (1983) menyatakan konteks adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadai sebuah tuturan. Selanjutnya Schiffrin (1994) membedakan antara kontek dengan teks dengan menjelaskan bahwa teks merupakan isi linguistik dari tuturan-tuturan, arti semantik dari kata-kata, ekspresi, dan kalimat. Teks juga merupakan sistem kebahasaan yang terdiri atas beberapa komponen yang saling berhubungan dan masing-masing komponen tersebut juga mempunyai otonomi. Adapun konteks adalah ―pengetahuan‖, ―situasi‖, dan ―teks‖. Konteks sebagai pengetahuan berkaitan dengan kompetensi komunikasi; konteks sebagai situasi berkaitan dengan kompetensi sosial, budaya, dan strategi; dan konteks sebagai teks berkaitan dengan keberadaan unsur-unsur teks yang bisa dipisahkan, diartikan, daan dimaknai.

Konteks sebagai pengetahuan dan situasi memandang ujaran sebagai suatu unit kejadian teertentu yaang bersifat tertutup, dan ujaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang selalu baru, dan bergantung pada situasi dan masyarakatnya. Paandangan pertama berkaitan dengan kemampuan penutur dalam menggunakan

konvensi yang digunakan dalam bahasanya, sedangkan pandangan kedua berkaitan dengan kemampuan penutur untuk selalu berkreasi dalam menyusun tuturannya sesuai dengan situasi dan budayanya. Cook (1994) meembedakan pengertian konteks menjadi dua yaitu, konteks dalam pengertian sempit dan dalam pengertian luas. Dalam pengertian sempit, konteks mengacu pada faktor di luar teks. Sedang dalam pengertian luas, konteks dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yaang relevan dengan ciri dunia dan ko-teks. Pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia berkaitan dengan situasi fisik, situasi sosial dan budaya, penanggap, dan skemata mereka, dan teks lain (interteks). Konteks situasi paling baik dipakai sebagai bentuk skematis yaang sesuai untuk diterapkan pada peristiwa-peristiwa bahasa. Konteks situasi bagi kajian linguistik menurut Brown & Yule (1986) menghubungkan kategori-kategori yaang berikut. (1) ciri-ciri yang relevan dari para peserta: orang-orang, kepribadian pada perbuatan verbal dan nonverbal paara peserta; (2) tujuan-tujuan yang relevan; dan (3) akibat perbuatan verbal.

Dalam kajian tradisi lisan peranan konteks sangat penting. Menurut Sibarani (2012:234) dalam memahami kajian tradisi lisan ada beberapa jenis konteks yaitu konteks budaya, konteks sosial, konteks situasi, dan konteks ideologi yang perlu dikaji dalam memahami makna, maksud pesan, dan fungsi tradisi lisan, yang pada gilirannya diperlukan untuk memahami nilai dan norma budaya yang terdapat dalam tradisi lisan.

Sedangkan menurut Sinar, T.S (2010: 54) sistem konteks sosial berada pada tingkat semiotik konotatif bahasa yang terdiri dari konteks situasi, konteks budaya dan ideologi.

Berdasarkan ketiga defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dalam memahami konteks yaitu pada pemahaman tradisi lisan. Setiap jenis konteks berbeda-beda sedangkan dalam Halliday dan Sinar dalam memahami konteks harus dilihat 3 variabel yaitu Medan (apa dan untuk apa), tenor (kepada siapa) dan mode (bagaimana). Dimana ketiga istilah tersebut terangkum pada konteks sosial dan konteks situasi dalam pemahaman tradisi lisan.

Dalam penelitian tradisi lisan nyanyian rakyat anak-anak pada MBT, konteks merupakan salah satu yang harus diamaati sehingga pemaknaan nyanyian anak-anak dapat dilihat secara keseluruhan. Oleh karena itu penulis tertarik dalam mendeskripsikan nyanyian anak-anak dalam konteks sosial dan konteks situasi yang dikemukakan oleh Sibarani.

Dalam Sibarani (2012: 326) konteks sosial mengacu pada faktor-faktor sosial yang mempengaruhi atau menggunakan konteks. Konteks sosial ini meliputi orang-orang yang terlibat seperti pelaku, pengelola, penikmat dan bahkan komunitas pendukungnya. Konteks situasi mengacu pada waktu, tempat dan cara penggunaan teks. Hal ini terlihat jelas pada nyanyian anak-anak, siapakah penutur, pengelola dan penikmatnya. Dan kapan nyanyian anak-anak itu dilakukan, di mana tempatnya, serta bagaimana melakukannya.

Baca selengkapnya

Dokumen terkait