• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teks Pendahuluan: Rombongan Anak Boru Memperkenalkan Dir

4.3 Uraian Teks Tradisi Marosong-osong Adat Angkola

4.3.1 Teks Pendahuluan: Rombongan Anak Boru Memperkenalkan Dir

Tradisi marosong-osong di rumah mora (suhut) yaitu dimulai dari para dara bujing yang akan menyambut anak namboru-nya, pengaturan penyambutan, gelanggang atau tempat berbalas pantun, begitu pula tempat penyerahan bantuan dari pihak anak boru. Penyambutan rombongan anak boru ini tentunya suhut telah mempersiapkan pula

anak-anak putrinya yang disebut dengan si dara bujing (anak gadis) yang akan membalas pantun dari rombongan anak boru-nya.

Setelah persiapan matang, maka rombongan anak boru atau si dara doli tidak diperkanan masuk ke rumah sebelum mengadakan berbalas pantun dan mendapat izin dari si dara bujing. Kemampuan berbalas pantun ini merupakan suatu tradisi adat yang cukup menarik karena hal ini menjadi bentuk tontonan dan atau bentuk seni pertunjukan yang menunjukkan adat istiadat angkola memiliki cara tersendiri untuk berkenalan dan nilai estetis pada tradisi berpantun. Di samping itu, pada berbalas pantun aka nada pantun-pantun jenaka yang dapat menyegarkan suasana sehingga penonton yang melihat tradisi tersebut akan tertawa mendengar pantun jenaka tersebut.

Berdasarkan paparan data marosong-osong di atas, data tersebut terbagi atas tiga bagian yaitu: data pertama tuturan pertama adalah data pendahuluan yang berisi: rombongan anak boru yang datang dan mencoba memperkenalkan diri dengan suhut sihabolonan (tuan rumah) sebagai mora. Dialog tersebut disertai dengan pantun perkenalan, suhut belum mengenal pihak anak boru sebelum memperkenalkan dengan memberikan penjelasan-penjelasan tentang silsilah. Agar lebih jelas akan dipaparkan pada data tabel pada teks berikut:

Tabel 4

Deskripsi Perkenalan pada Teks Marosong-osong

Anak Boru: Ois Roma-roma sipandurung alla le boru angin haba-haba

da jari-jari da anggi da botohon mu// ois roma-roma

siparlungun// pasari-sari dohononmu boru angin sidenggan roha

Akan datang lelaki sipenangguk ikan duhai perempuan bermarga harahap// Sambutlah tangannnya untuk bersalaman lelaki perindu akan datang// memikirkan jawabanmu duhai perempuan bermarga harahap yang baik hati

diri

Mora: so hutanda joo bayo natandang mamolus// da anak ni se so

huboto// sang rupa munu na hutanda// ois dibege ho de anak ni parkouman

Aku tak mengenal kalian wahai lelaki yang numpang lewat// Anak siapa pun aku tak tahu// wajahnya pun aku tak kenal// dengarkah engkau wahai saudara

Makna Bagaimana hendak menyambut sedang aku tak kenal

Anak Boru: ngandia dalan tu lombang allale boru angin jora ma au da//

ois da ramba ni panyabian// ois san dia de anggi dalan manompang// akke hami on do anak ni namboru munu di bege ho dehe

dari mana jalan menuju lembah boru angin // lembah tempat menuai padi// bagaimana caranya hendak menompang // dengarlah kalau kami ini adalah anak laki-laki namborumu Makna Kami ini adalah benar-benar anak namborumu

Mora: da nangge hodong naso lindot bayo na tandang mamolus// ois

sepeda i nikku baya manjadi lereng// da nange hai naso giot // ois ama inanta do naso mangalehen anak ni parkouman.. bukan tangkai yang tak mau berayun duhai lelaki yang menumpang lewat// Sepeda itu jadi mainan// bukan kami yang tidak mau// Ayah dan ibu yang tak merestui duhai saudara Makna Bukan kami tak mau berkenalan (jadi menantu) tapi ayah dan

ibu tak mengizinkan

Anak Boru: ois kareta i do nimmu jadi lereng boru angin haba-haba

adong do anggi baya supir padati// ois ama inanta do nimmu naso mangalehen// gonanma hita rokku kehe kawin lari dibege ho dehe

Sepeda itu kau bilang jadi lereng (sejenis mainan dari roda pedati) anak gadis bermarga harahap// adinda ...ada supir pedati// kalau ayah ibu tidak memberikan restu// alangkah baiknya kita pergi untuk kawin lari

Makna Kalau tak diizinkan kita bisa kawin lari

Anak Boru: ois mangkuling pukul pitu le boru angin haba-haba// hami on

baya jonjong di pintu// tola de masuk tubagasan boru angin jora ma au da

Jam berbunyi pertanda pikul tujuh boru harahap// Kami yang berdiri de depan pintu// bolehkah masuk kedalam wahai anak gadis bermarga harahap kami sudah jera

Mora: habang ma sihorkor alla le bayo na tandang marmayam na songgop tu bulung ni hapadan// nangge ra hami dirambas dilaoskon// songon salohot da di tonga padang anak ni parkouman

terbanglah sihorkor (sejenis lalat kecil) duhai lelaki yang numpang bermain// yang hinggap di daun hapadan (sejenis tumbuhan liar)// kami tak mau dibawa begitu saja

seperti salohot (sejenis tumbuhan yang hidup di antara ilalang) duhai dun sanak

Makna Menolak diajak kawin lari

Anak Boru: ois hami on na bahat sauduran alla le boru angin haba-haba//

ois hami on ma anak boru munu adong ma on baya marga si regar, songoni muse da nasution apalagi hasibuan dibege ho dehe songoni dohot turunan ni tambunan boru angin haba- haba

kami datang seiring sejalan wahai perempuan bermarga harahap// dengarlah kami lah anak lelaki mertua kalian, ada yang bernarga siregar// demikian juga nasution apalagi hasibuan dan keturunan marga tambunan wahai perempuan berarga harahap

Makna menjelaskan kedatangan anak namboru dari berbagai marga

Mora: hu tatap parkacangan joo da tiki coluk pargambiran

ois nangge hu sukkun hamu ise si angkaan sanga ise si anggian anak ni parkouman

kulihat kebun kacang yang dekat dengan kebun kapur sirih aku tak tanya siapa dari kalian si abangan

dan siapa pula si adeknya wahai sanak saudara Makna Kami tak melihat siapa yang lebih tua

Anak Boru: las ni ari on alla le boru angin haba-haba// marasap-asap boto ho da tu barumun// di ari na sadari on martamba-tamba halalungun boru angin haba-haba

hari cukup panas wahai perempuan bemarga harahap// panasnya menguap kujalani sampai ke daerah barumun

pada hari ini// Semakin bertambah saja rasa rindu duhai perempuan bermarga harahap

Makna Bagaimanapun caranya kami tetap ingin berkenalan

Mora: di las ni ari on...// mangkuling baya da ronggur// da ro hamu

tu son // saotik pe sodong hami malungun

Di hari yang panas ini…….// terdengar suara petir// Kalian datang kemari// sedikit pun kami tidak rindu

Makna Kalian bukanlah orang yang kami tunggu (idamkan) Anak Boru: raga di... alla le tungkot si daloman// parasaran baya da

ruak-ruak// tatap hami ulang ligi// pangkulingkon muse tai ulang luas boru angin haba-haba

rotan tongkat untuk mengukur kedalaman// Tempat burung ruak-ruak membuat sarang// tengoklah kami tapi jangan dilihat// Berbicaralah kepada kami tapi jangan bersuara perempuan bermarga harahap

Makna Kedatangan kami janganlah dijengkali

Mora: nada porda nahu tiktik le bayo na tandang ma molus

ois sarung nai rahut baya hu bar-bari nangge tompa mu na huligi,

roha na do nahu jalahi da bayo regar

Bukan tangkai beliung yang kusiapkan wahai lelaki yang numpang lewat// ibarat sedang mengotak-atik kain tenun yang sudah jadi// bukan wajahmu yang ku lihat// tetapi hattimu yang kucari wahai laki-laki bermarga regar

Makna Kami tak memandang harta dan ketampanan

Anak Boru: mangkuling pukul pitu allale tuk suratan bagian na dibalos ni

pukul salapan hami na jonjong di pintu tola de hami masuk tu bagasan boru angin haba-haba

Jam berbunyi pukul tujuh, sudah merupakan takdir dibalas pula oleh pukul delapan

kami yang berdiri di depan pintu, bolehkah kami masuk ke dalam wahai perempuan bermarga harahap

Makna Membujuk untuk bisa diterima

Mora: ois mangkuling pukul pitu nimmu joo

bayo enggan na lambok marlidung ois mali-mali ni saba pintu

ois hamu madung loja ngol-ngolan na jonjong di pintu masuk ma hamu tu bagasan da bayo regar...

Kau bilang jam berbunyi tanda pukul tujuh Lelaki bermarga regar yang halus tutur bahasa Tanaman perdu tumbuh di saba pintu

oh, kalian sudah capek dan pegal berdiri di depan pintu masuklah ke dalam lelaki bermarga siregar

Makna Mempersilahkan masuk ke gelanggang (teras)

Mora: Madung do tung madadi di taili on tu alaman ni bornang na

on bettak na dong do na masa na muba sanga pe na ago ninna roha ni aya dohot uma ujuoiharani sappulu noli ma sayur

harambir di portibi so jungada songon on ise hamu naro on sian di hamu laho ro, nagot tu di do hamu anak ni parkouman laki-laki menganalogikan bahwa tali sudah hampir cocok dengan benang Jangan-jangan ada yang sedang terjadi sesuatu atau nanti ayah dan ibu jangan merasa keehilangan. Karena sepuluh kali makan dengan menggunakan sayur kelapa di dunia ini belum pernah terjadi yang seperti ini Siapa kalian yang datang dan yang mau datang, jadi kalian ini mau kemana Makna Memastikan maksud dan tujuan anak boru

Anak Boru: ois hami on na bahat sauduran alla le boru angin haba-haba//

ois hami on ma anak boru munu adong ma on baya marga si regar, songoni muse da nasution apalagi hasibuan dibege ho dehe songoni dohot turunan ni tambunan boru angin ... kami datang seiring sejalan wahai perempuan bermarga harahap// dengarlah kami lah anak lelaki mertua kalian, ada yang bernarga siregar// demikian juga nasution apalagi hasibuan dan keturunan marga tambunan wahai perempuan berarga harahap

Makna Memastikan bahwa mereka (rombongan) adalah benar-benar anak boru yang punya hajatan (suhut)

Anak Boru: oih sak ni rohakki..oih attara job nirokhaki mambege barita munu// nimmunu hamu anak boru sipakkalang ulang magulang situkkol ulang marebe nimmunu hamu pangalapan ni nahurang panaruan ni nalobi, anggo hai da sak do roha mambege barita munu on, adong nimmu anak ni hasibuan adong anak ni sibayo enggan harana di buka di sada tarombo di anak ni marga siregar di hamu na bahatan datu bettak bia naron mangihut iba

..oih antara resah dan senang mendengar ucapan kalian

katanya kalianlah menantu si penghalang biar tak jatuh dan penopang biar tak merunduk, katanya kalian lah orang yang menutup kekurangan kami sedikit resah mendengar ucapan kalian ini, katanya ada anaknya marga hasibuan anaknya si bayo regar, kalau di buka silsilah marga siregar, banyak keturunan dukun, nanti terpikat pula kami

Makna Janganlah kami dipermainkan

Anak Boru: Hami on na bahat sadalanan nabat sauduran na ro sian bagas

ni orang kaya munu tarboti mada si boru ni tulang pala iboto ni tunggane

kami ini datang seiring sejalan yang datang dari rumah anak menantu di kampung ini, demikianlah anak perempuan ini tulang dan saudara perempuan ipar

Mora: Oih.. anak ni parkouman marburangir hita jolo bettak bia dai ni soda makkobari hita jolo muse janggal pangalaho na

Hu tiktik jo burangir dongan ni soda parkapuron hu sungkun hu sapai hurang denggan di partuturon

oih..saudara ku makan sirih kita dulu biar tau rasanya soda, kalau kita berbicara duluan tidak pantas rasanya, Kusiapkan dulu sirih dan soda , kutegur dan ku sapa tidak baik dalam bertutur

Makna Tidak baik bertegur sapa tanpa izin dari orangtua (memastikan ke orang tua apakah rombongan yang datang benar-benar anak boru yang punya hajatan)

Inanguda: Asi songoni na marroan on babere nai on na menek-menek hu

ida nangge cocok

kenapa begini kecil-kecilnya anak menantu yang datang ini, tak cocok rasanya

Makna Berharap anak boru yang lebih dewasa

Mora: on ma anak ni namboru nai i,tai didokkon uma idokkon do di

bou di oban nagodang di oban namenek uma, biama anggo uma indu na mopop-kopopan do na marbabere i, tai aru pe songoni baen i son do indon inang tua

Inilah anak namboru (saudara perempuan ayah) itu, kata ibu sudah disampaikannya sama bou (saudara perempuan ayah) agar dibawa yang sudah dewasa tapi datang yang masih remaja, gimanalah ibu pun buru-buru yang mau punya menantu itu,tapi walaupun begitu, disini ada mak tuo

Makna Memastikan ke Inangtua (mak tuo)

Inangtua: Ibana ma dai inang da (inang tua)

Benar, ini adalah anak namboru kalian Makna Membenarkan

Inangtua: Assalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh...tutu mada

on anak boru nai, tai on dabo babere nai on di oban hamu na menek-menek nangge ibana da ami rasa on ...Ibana ma dai inang da

Assalamualaikum Warahmatullahi wa barokatuh ..Benar ini adalah anak boru kami tapi kenapalah kalian bawa yang masih remaja, kurang pas rasanya...

Makna Membenarkan kedatangan anak boru

dope hai rasa, tai hu dokkon pe songoni dison dope oppungna sanga bia ning oppung na tu siama

Jelas ini adalah anak menantu kami, tapi kalau pun demikian, karena di sini ada kakekmu ada baiknya kita tanya sama beliau...

Makna Amanguda juga membenarkan

Mora: disapaan pe uda leng marsuhat tu oppung do, oppung domada,

ro hata ni uma nakkin na manyuru na mangantak ninna suhat na di oppungmu do, disapaan oppung menek suhatna indu do udamu, amantuamu, sapaanpe amantu marsuhat tu oppung do, oppung do ma da sude, muda olo nimmu da oppung olo ma hai tai anggo na ibana nimmu oppung nangge ra hai, botul ma on anak ninamboru nai i?

Di tanya paman berpatokan sama kakek, ibu tadi bilang tidak memyuruh dan tidak melarang katanya patokannya sama kakek, ditanya nenek sama paman dan uwak, ditanya uwak berpatokan sama kakek, kalau kakek bilang benar kami mau, tapi kalau tidak kami pun tak mau...

Makna Masih kurang puas bertanya lagi ke kakek

Ompung: mangalusi hata munu anak boru nai, memang au hurang

takkas dope hurasa, sanga ibana on sanga nada, harana antong sorana pe so jungada dope hubege, tompana pe na golap-golap bontar dope, tai bope songoni, ia muda botul ma na anak boru rupani, apalagi parmarga siregar ikkon hubege do jolo sorana boti mada.

Menjawab apa yang disampaikan anak menantu, saya juga merasa masih kurang jelas benar atau tidak, karena suaranya pun belum pernah kudengar, wajahnya pun masih samar- samar, tapi walaupun demikian, kalau benarlah ini anak boru kami apalagi yang bernarga siregar hendaknya ku dengarlah dulu suaranya...

Makna Anak boru diuji dengan lantunan lagu ungu-ungut

Paparan data marosong-osong di atas, pada data tuturan pertama adalah data pendahuluan yang berisi: rombongan anak boru yang datang dan mencoba memperkenalkan diri dengan suhut sihabolonan (tuan rumah) sebagai mora. Dialog tersebut disertai dengan pantun perkenalan, suhut belum mengenal pihak anak boru

sebelum memperkenalkan dengan menggnakan bahasa bersayap dalam bentuk pantun muda-mudi seperti:

Anak

Boru:

Ois Roma-roma sipandurung alla le boru angin haba-haba da jari-jari da anggi da botohon mu// ois roma-roma

siparlungun// pasari-sari dohononmu boru angin sidenggan roha

Akan datang lelaki sipenangguk ikan duhai perempuan bermarga harahap// Sambutlah tangannnya untuk bersalaman lelaki perindu akan datang// memikirkan jawabanmu duhai perempuan bermarga harahap yang baik hati

Makna Sambutlah kedatangan lelaki yang hendak memperkenalkan diri

Anak Boru: Ois Roma-roma sipandurung alla le boru angin haba-haba// da jari-jari da anggi da botohon mu// ois roma-roma siparlungun pasari-sari// dohononmu boru angin sidenggan roha. yang bermakna: Akan datang lelaki sipenangguk ikan duhai perempuan bermarga harahap// Sambutlah tangannya untuk bersalaman// lelaki perindu akan datang// memikirkan jawabanmu duhai perempuan bermarga harahap yang baik hati//

Pada pendahuluan pihak anak boru menjualnya dengan pantun perkenalan, pantun perkenalan tersebut menggunakan kiasan yang rendah hati pihak si dara doli (anak boru) yang berusaha menyanjung pihak si dara bujing pihak mora, dengan menggunakan syair pantun Ois Roma-roma sipandurung alla le boru angin haba-haba// dohononmu boru angin sidenggan roha. yang bermakna: Akan datang lelaki sipenangguk ikan duhai perempuan bermarga harahap// memikirkan jawabanmu duhai perempuan bermarga harahap yang baik hati//.

Penggunaan larik pantun perkenalan dengan merendahkan diri dan menyanjung sidara bujing , sebagai bentuk untuk menarik simpatik dari sidara bujing. Kemudian

dengan menggunakan kalimat pada pantun yang bermakna tersirat memohon untuk berkenalan dengan menggunakan larik pada pantun: // da jari-jari da anggi da botohon mu// ois roma-roma siparlungun pasari-sari. yang maknanya: Sambutlah tangannya untuk bersalaman// lelaki perindu akan datang.

Mora: so hutanda joo bayo natandang mamolus// da anak ni se so

huboto// sang rupa munu na hutanda// ois dibege ho de anak ni parkouman

Aku tak mengenal kalian wahai lelaki yang numpang lewat// Anak siapa pun aku tak tahu// wajahnya pun aku tak kenal// dengarkah engkau wahai saudara

Makna Bagaimana hendak menyambut sedang aku tak kenal

Gambar 8. Perkenalan si dara doli dengan sidara bujing setelah mereka berbalas pantun

Pendahuluan yang dianggap sebagai pengantar yang disampaikan si dara doli telah menggugah minat si dara bujing untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang cukup menarik seperti yang disampaikan si dara bujing dari pihak mora: so hutanda joo bayo natandang mamolus// da anak ni se so huboto// sang rupa munu na

hutanda// ois dibege ho de anak ni parkouman. Yang bermakna: Aku tak mengenal kalian wahai lelaki yang numpang lewat// Anak siapa pun aku tak tahu// wajahnya pun aku tak kenal dengarkah engkau wahai saudara. Jawaban si dara bujing yang tidak menggenal anak namboru-nya akan menarik bagi penonton yang hadir pada tradisi marosong-osong tersebut. Karena cara mereka menjawab dengan menggunakan pantun mudi-mudi yang sudah tentu akan membuat penonton penasaran.

Anak Boru:

ngandia dalan tu lombang allale boru angin jora ma au da// ois da ramba ni panyabian// ois san dia de anggi dalan manompang// akke hami on do anak ni namboru munu di bege ho dehe

dari mana jalan menuju lembah boru angin // lembah tempat menuai padi// bagaimana caranya hendak menompang // dengarlah kalau kami ini adalah anak laki-laki namborumu Makna Kami ini adalah benar-benar anak namborumu

Si dara doli lebih jauh mencoba ingin memperkenalkan diri dan rombongan dengan larik pada pantun memperkenalkan diri bahwa mereka adalah anak namboru- nya dengan menggunakan larik: ngandia dalan tu lombang allale boru angina // ajora ma au da ois da ramba ni panyabian// ois sandia de anggi dalan manompang// akke hami on do anak ni namboru munu di bege ho dehe. Yang bermakna: dari mana jalan menuju lembah boru angin (panggilan untuk perempuan bermarga harahap) aku sudah jera// lembah tempat menuai padi// bagaimana caranya hendak menompang duhai adinda// dengarlah kalau kami ini adalah anak laki-laki namboru mu.

Dengan santun si dara doli menjawab dalam larik pantun bahwa mereka beserta rombongan hendak singgah dan bertamu ke rumah mora/ tulang-nya yang melaksanakan pesta/ upacara perkawinan. Dan si dara bujing menjawab bahwa ayah dan ibu tidak merestuinya dijelaskan pada isi pantun jawaban pada larik pantun: da nange hai naso giot ois ama inanta do naso mangalehen anak ni parkouman.yang

artinya: bukan kami yang tidak mau// ayah dan ibu yang tak merestui aduhai saudara. Pantun muda-mudi yang saling berbalas tidak putus untuk saling merayu dan bercengkrama sehingga tradisi marosong-osong menjadi tradisi yang cukup memberikan hiburan untuk muda-mudi dan komunitas adat Angkola.

Mora: da nangge hodong naso lindot bayo na tandang mamolus// ois

sepeda i nikku baya manjadi lereng// da nange hai naso giot // ois ama inanta do naso mangalehen anak ni parkouman.. bukan tangkai yang tak mau berayun duhai lelaki yang menumpang lewat// Sepeda itu jadi mainan// bukan kami yang tidak mau// Ayah dan ibu yang tak merestui duhai saudara Makna Bukan kami tak mau berkenalan (jadi menantu) tapi ayah dan

ibu tak mengizinkan

Teks osong-osong ditutup dengan diberi penjelasan tentang silsilah secara