LANDASAN TEORI
A. Telaah Pustaka
Penelitian yang di lakukan oleh Hapsara (2015: 15) dalam penelitianya tentang pengaruh kegunaan, kemudahan, resiko dan kepercayaan terhadap penggunaan mobile banking menunjukan hasil yang positif dan signifikan pada semua variabelnya membuktikan bahwa pengaruh kegunaan berpengaruh positif pada nasabah menggunakan mobile banking, Lewis (2010: 2) meneliti tentang faktor-faktor yang menentukan perilaku terhadap penggunaan mobile banking
terjadi hubungan yang signifikan antara persepsi kegunaan dengan sikap penggunaan teknologi informasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian atau lebih tepatnya 263 generasi muda pengguna mobile banking di Jerman.
Mubiyantoro dan Syaefullah (2013: 17) dalam penelitiannya tentang pengaruh persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kesesuaian, dan persepsi risiko terhadap sikap penggunaan mobile banking
(studi kasus di bank bri kota malang) menunjukan hasil yang berbeda dalam faktor kegunaan, bahwa tidak adanya pengaruh pada konstruk persepsi kegunaan dan persepsi resiko terhadap sikap penggunaan mobile banking, tetapi terdapat pengaruh yang positif pada persepsi kemudahan dan persepsi kesesuaian dalam sikap nasabah menggunakan mobile banking.
12
Habibi dan Zaky (2015: 12) dalam penelitiannya tentang pengaruh kepercayaan, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan, dan persepsi kenyamanan terhadap minat penggunaan mobile banking syariah juga mempunyai hasil yang berbeda, penelitian ini menghasilkan konstruk kepercayaan dan persepsi kemudahan tidak berpengaruh terhadap sikap penggunaan mobile banking syariah.
Menurut Djatikusuma (2014: 11) dalam penelitiannya tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat nasabah untuk menggunakan mobile
banking menunjukan bahwa kemudahan, kenyamanan, dan kepercayaan
berpengaruh positif signifikan terhadap minat nasabah untuk menggunakan
mobile banking. tetapi ketersediaan fitur tidak berpengaruh terhadap minat nasabah untuk menggunakan mobile banking.
Amijaya (2010: 56) dalam penelitiannya pengaruh persepsi teknologi informasi, kemudahan, resiko dan fitur layanan terhadap minat ulang nasabah bank dalam menggunakan internet banking (studi pada nasabah bank BCA) menunjukan bahwa teknologi informasi, kemudahan, resiko, dan fitur layanan semuanya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap variabel minat ulang nasabah menggunakan internet banking, maka diharapkan perusahaan tetap mengupdate fitur-fitur yang dibutuhkan oleh nasabah. Adanya kelengkapan fitur akan memudahkan nasabah dalam mendukung aktivitasnya sehingga nasabah akan terus menggunakan internet banking.
Susanti (2015: 70) Pengaruh Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Persepsi Risiko Dan Persepsi Kepercayaan Terhadap Minat Menggunakan
13
Mobile Banking yang melakukan penelitiannya di kota Yokyakarta, memberikan hasil Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan, Persepsi Risiko Dan Persepsi Kepercayaam, Secara Bersama-Sama Berpengaruh Signifikan dan semua variabel secara parsial berpengaruh positif Terhadap Minat Menggunakan
Mobile Banking.
Tirtana dan Sari (2014: 682) dalam penelitiannya Analisis Pengaruh Persepsi Kebermanfaatan, Persepsi Kemudahan Dan Kepercayaan Terhadap Penggunaan Mobile Banking menunjukan hasil persepsi kebermanfaatan, persepsi kemudahan dan kepercayaan berpengaruh positif terhadap penggunaan Risiko didefinisikan sebagai perkiraan subyektif konsumen untuk menderita kerugian dalam menerimaan hasil diinginkan (Pavlou, 2001). Menurut Dowling dan Staelin dalam pavlou (2001), kalou resiko itu meningkat dari sekedar informasi sampai pada keputusan pembelian produk (transaksi).
Penelitian yang dilakukan oleh Warmika (2013) resiko berpengaruh negatif dan signifikan terhadap niat menggunakan internet banking di Kota Denpasar. Hasil ini menunjukkan bahwa apabila seseorang merasa resiko terhadap penggunaan internet banking besar, maka akan menurunkan niatnya menggunakan internet banking, begitu pula sebaliknya, minat menggunakan
internet banking meningkat apabila seseorang merasa risiko penggunaan
internet banking kecil. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Amijaya (2010) bahwa resiko berpengaruh terhadap minat ulang nasabah dalam menggunakan internet banking. Hubungan resiko terhadap pemanfaatan dalam menggunakan internet banking menurut Nawawi (2010) berdampak
14
negatif, dimana nasabah akan semakin tinggi dalam menggunakan internet banking jika resiko yang diterima mereka rendah dalam melakukan transakasi dalam suatu sistem.:
Hadi dan Novi (2013: 65) dalam penelitianya Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Layanan Mobile Banking, menunjukan hasil Persepsi Keamanan, Persepsi Risiko, Persepsi Kemampuan, penggunaan, dan Manfaat Berpengaruh signifikan terhadap penggunaan mobile banking.
Supriyadi (2012: 8) Pengaruh Persepsi Teknologi Informasi, Kemudahan Penggunaan, Resiko Transaksi, Dan Fitur Layanan Pada Minat Ulang Nasabah Dalam Menggunakan Internet Banking. Menunjukan hasil variabel persepsi teknologi informasi, kemudahan penggunaan, resiko transaksi dan fitur layanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat ulang nasabah dalam menggunakan internet banking.
Penelitian sebelumnya yang menggunakan konstruk sikap penggunaan terhadap minat penggunaan yakni Sulistiyarini (2013: 12). Melakukan penelitian mengenai pengaruh minat individu terhadap penggunaan mobile banking model kombinasi TAM dan Theory of planned behavior (TPB). Salah satu konstruk penelitiannya tentang sikap penggunaan terhadap minat penggunaan mobile banking. Sampel dari penelitiannya adalah masyarakat kota Malang. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa sikap penggunaan didukung atau berpengaruh terhadap minat menggunakan mobile banking. Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa sikap penggunaan berpengaruh terhadap minat penggunaan suatu teknologi.
15
Penelitian sebelumnya yang menggunakan obyek mahasiswa adalah Jarkani (2015: 58) dalam penelitiannya yang berjudul Minat Mahasiswa Terhadap Penggunaan m-Banking (Studi Pada Mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin) Hasil penelitian adalah kemudahan berpengaruh positif dengan sikap, kegunaan berhubungan positif dengan sikap, tetapi ketersediaan fitur tidak berpengaruh dengan sikap menggunakan mobile banking.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
o PENUL IS VARIABEL HASIL . Hapsara (2015) Kegunaan,
Kemudahan, Resiko dan Kepercayaan Kegunaan Berpengaruh Positif, Kemudahan Berpengaruh Positif, Resiko Berpengaruh Positif ,kepercayaan Berpengaruh Positif. . Mubiyan toro dan Syaefullah (2013) Persepsi Pegunaan, Persepsi Kemudahan Persepsi Kesesuaian, Persepsi Risiko, dan Sikap
Persepsi Kemudahan Penggunaan dan Persepsi Kesesuaian Berpengaruh Positif. Namun,Persepsi Kegunaan dan Persepsi Resiko Berpengaruh Negative
16 Terhadap Sikap Penggunaan Mobile Banking . Habibi dan Zaky (2015) Kepercayaan,
Persepsi Kegunaan, Persepsi Kemudahan dan Persepsi Kenyamanan
Sikap
Berpengaruh Terhadap Minat dan Sikap Sebagai Mediasi Oleh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kenyamanan, Kepercayaan dan Persepsi Kemudahan Tidak Berpengaruh Terhadap Sikap Penggunaan Mobile Banking Syariah . Djatikus uma (2014) Kemudahan, Kenyamanan, Kepercayaan Ketersediaan Fitur Minat
Kemudahan Penggunaan Berpengaruh Positif Tidak Signifikan, Kenyamanan Berpengaruh Positif Tidak Signifikan, Kepercayaan Berpengaruh Positif Signifikan, Ketersediaan Tidak Berpengaruh Positif dan Tidak Signifikan.
17 . Amijaya (2010) Persepsi Teknologi Informasi,Kemudahan, Resiko, Fitur Layanan, dan Minat Persepsi Teknologi Informasi Berpengaruh Positif, Kemudahan Dalam Penggunaan Berpengaruh Positif, Variabel Resiko Berpengaruh Positif, dan Fitur Layanan Berpengaruh Positif Terhadap Minat Ulang Nasabah Dalam menggunakan internet banking.
Sumber : Data yang diolah (2017)
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya adalah penelitian ini meneliti tiga faktor tersebut secara bersama-sama yaitu, persepsi kegunaan, kepercayaan dan resiko yang diduga mempengaruhi nasabah dalam penggunaan mobile banking syariah. Selain itu yang menjadi obyek penelitian ini adalah mahasiswa FEBI IAIN Salatiga, karena masih sedikit penelitian tentang penggunaan mobile banking terhadap mahasiswa.
1. Teori Kegunaan
Teori Kegunaan (perceived usefulness) merupakan suatu ukuran dimana penggunaan suatu teknologi dipercaya akan mendatangkan manfaat bagi orang yang menggunakannya (Wibowo, 2008). Koufaris (2002: 34)
18
mendevinisikan variabel kegunaan diukur dengan instrumen yang terdiri dari empat indikator, yaitu:
1) mengembangkan kinerja 2) meningkatkan produktivitas 3) meningkatkan efektivitas 4) bermanfaat
2. Teori kepercayaan
Teori Kepercayaan adalah individual-individual membentuk kepercayaan-kepercayaan mengenai teknologi informasi selain dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, dan institusional dimana mereka berinteraksi. Dengan demikian, kepercayaan terhadap teknologi informasi merupakan kepercayaan sentral yang dibentuk dan dipengaruhi oleh faktor-faktor individual, sosial, dan intitusional menurut Al (dalam Harlan, 2014: 26). Koufaris (2002: 26) Indikator yang dapat mengukur variabel kepercayaan ada lima yaitu:
1) dapat dipercaya
2) mengedepankan kepentingan nasabah 3) menjaga nama baik dan berkomitmen tinggi 4) sistem keamanan
5) percaya informasi yang diberikan
19
3. Teori Resiko
Risiko menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh para masyarakat dalam membuat keputusan apakah akan menggunakan e-banking atau tidak. Semakin tinggi risikonya, maka nasabah akan mengurungkan minatnya untuk menggunakan e-banking. Untuk merepresentasikan variabel pengaruh risiko agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan, maka dalam penelitian ini menggunakan indikator - indikator, yang selanjutnya indikator tersebut dijabarkan dalam item - item pernyataan di dalam kuesioner. Dowling dalam Farizi dan Syaefullah (2014) risiko (perceived risk) adalah persepsi negatif konsumen atas sejumlah aktivitas yang didasarkan pada hasil yang negatif dan memungkinkan bahwa hasil tersebut menjadi nyata. Risiko sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan. Semakin kecil risiko dari suatu individu maka semakin besar tingkat kepercayaannya, begitu pula sebaliknya semakin besar risiko dari suatu individu maka semakin kecil tingkat kepercayaannya. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hapsara (2015) yang menyatakan risiko berpengaruh terhadap penggunaan layanan Mobile Banking.
Menurut Pavlou (2003), indikator-indikator untuk mengukur variabel risiko yaitu:
20
Nasabah beranggapan bahwa produk layanan e-banking
yang digunakan mudah dicuri, baik data maupun uangnya secara langsung.
2. Membutuhkan biaya yang besar
Nasabah beranggapan bahwa e-banking itu dalam penggunaannya membutuhkan biaya yang besar.
3. Kemungkinan terdapat risiko penipuan
Nasabah beranggapan bahwa e-banking rawan adanya penipuan,baik penipuan data nasabah maupun penipuan jumlah transaksi.
4. Teori Minat
Menurut Slameto (1988: 182) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan pada suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut maka akan menyebabkan semakin besarnya minat. Amijaya (2010: 22) indikator minat menggunakan mobile banking yang diukur melalui empat aspek yaitu:
1) keinginan menggunakan mobile banking di masa mendatang 2) kesesuaian penggunaan mobile banking dengan kebutuhan 3) dukungan dalam menggunakan mobile banking
21
4) keinginan merekomendasikan mobile banking
B. KERANGKA TEORI
1. Mobile Banking
Mobile banking atau yang lebih dikenal dengan sebutan m-banking
merupakan sebuah fasilitas atau layanan perbankan menggunakan alat komunikasi bergerak seperti handphone, dengan penyediaan fasilitas untuk bertransaksi perbankan melalui sms (pesan singkat) pada handphone. Dengan adanya handphone dan layanan mobile banking, transaksi perbankan yang biasanya dilakukan secara manual, artinya kegiatan yang sebelumnya dilakukan nasabah dengan mendatangi bank, kini dapat dilakukan tanpa harus mengunjungi gerai bank, hanya dengan menggunakan handphone nasabah dapat menghemat waktu dan biaya (Mubiyantoro dan Syaefullah 2013: 2).
Bank menyediakan layanan mobile banking (m-banking) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan alternatif media untuk melakukan transaksi perbankan, selain yang tersedia di kantor cabang dan ATM. Dengan mobile banking, masyarakat tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengantri di kantor-kantor bank atau ATM, karena saat ini banyak transaksi perbankan dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dengan mudah dan praktis melalui handphone. Contohnya adalah transfer dana antar rekening maupun antar bank, pembayaran tagihan, pembelian pulsa isi ulang, ataupun pengecekan mutasi dan saldo rekening. Hampir semua bank di Indonesia telah menyediakan fasilitas mobile banking berupa SIM tolkit (Menu Layanan Data) maupun sms plain (sms manual) atau dikenal dengan SMS
22
banking. Mobile banking adalah langkah awal evolusi bank menjadi
financial service provider (FSP) (Tirtana dan Sari, 2014: 672).
Menurut Hutabarat (2010: 4), mobile banking adalah sebuah fasilitas perbankan melalui komunikasi bergerak seperti handphone dengan penyediaan fasilitas yang hampir sama dengan ATM kecuali mengambil uang
cash. Selain itu Mattila (2003: 6) menyatakan bahwa mobile banking adalah layanan perbankan melalui saluran via wireless, Mobile banking adalah bagian dari electronic banking yang menggunakan teknologi mobile phone. Ada dua macam bentuk mobile banking, yaitu SMS-banking yang diakses dengan mengirimkan pesan tertulis dan WAP-banking bentuk mobile internet service yang diakses via GPRS (internet) connection.
Mobile banking memberikan manfaat baik kepada pihak perbankan maupun nasabah. Diantaranya bagi pihak bank adalah business expansion, customer loyality, revenue and cost improvement, competitive advantage, new business model serta fee base income. Selain itu, manfaat bagi para nasabah diantaranya memberikan kemudahan dan kecepatan, transaksi dimana saja dan kapan saja dapat dilakukan dan hemat biaya dan waktu (Mubiyantoro dan Syaefullah 2013: 2).
Dalam hal ini, fungsi bank tidak hanya sebagai tempat menyimpan dan menyalurkan uang. Sebagai FSP, bank di masa depan berfungsi mengelola keuangan nasabahnya. Termasuk dalam pembayaran tagihan, sampai merencanakan dana pensiun. Layanan-layanan ini bersifat personal, disesuaikan dengan karakteristik nasabahnya. Mobile banking menjadi pilihan
23
karena mudah digunakan, praktis, lebih aman (berbasis nomor telepon seluler), bersahabat dan nyaman.
2. Persepsi Kegunaan
Persepsi kegunaan (perceived usefulness) merupakan suatu ukuran dimana penggunaan suatu teknologi dipercaya akan mendatangkan manfaat bagi orang yang menggunakannya (Wibowo, 2008: 11). Persepsi manfaat juga didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya (Jogiyanto, 2007: 20). Persepsi kegunaan merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan (Jogiyanto, 2007: 21). Konsep ini menggambarkan manfaat system bagi pemakainya yang berkaitan dengan produktivitas, kinerja tugas, efektivitas, pentingnya suatu tugas dan overall usefulness (Handayani, 2007: 12).
Menurut Davis (1993: 23) kegunaan sistem informasi (Perceived usefulness) merupakan sejauh mana seorang individu percaya bahwa dengan menggunakan sistem tertentu akan meningkatkan kinerjanya (perceived useful-ness is the degree to which an individual believes that using a particular system would enhance his or her job performance). Sedangkan menurut Gong dan Arzen (1975: 34) definisi perceived usefulness sebagai probabilitas subjektif pengguna yang menggunakan system aplikasi tertentu dapat meningkatkan harapannya (perceived usefulness as the user’s subjective probabil-ity that using a specific application system will increase his or her expectations). Menurut Sulistiyarini (2013: 3) persepsi
24
kegunaan mencerminkan probabilitas subjektif pengguna yang akan menggunakan sistem informasi yang baru apakah akan bermanfaat bagi diri sendiri atau organisasinya. Persepsi seseorang bahwa kebanyakan pengguna berfikir harus atau tidak harus melakukan perilaku tertentu, kegunaan secara signifikan memberikan pengaruh terhadap apa yang dirasakan (Venkatesh dan Davis, 2000: 45).
Persepsi kegunaan (perceived usefulness) merupakan suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa pengguna suatu sistem tertentu akan dapat meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Faktor kognitif juga berperan penting dimana semakin besar relevansi sistem informasi yang dirasakan user yang didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai derajat target sistem informasi baru yang berlaku untuk tugas dan pekerjaannya maka semakin banyak output penting yang berkualitas, dimana hal ini didefinisikan sebagai pertimbangan seberapa baik system informasi dapat menyelesaikan tugas-tugasnya (Venkatesh dan Davis, 2000: 50).
Berdasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan system dapat meningkatkan kinerja prestasi kerja orang yang menggunakannya. Menurut Thompson dalam Kusumo (2010: 21) menyimpulkan kemanfaatan teknologi informasi merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna teknologi informasi dalam melaksanakan tugasnya dan menyebutkan bahwa individu akan menggunakan sistem jika orang tersebut mengetahui manfaat atau kegunaan (usefulness) positif atas penggunaanya.
25
Koufaris (2002: 34) mendefinisikan variable persepsi kegunaan diukur dengan instrumen yang terdiri dari empat indikator, yaitu: mengembangkan kinerja, meningkatkan produktivitas, meningkatkan efektivitas, serta bermanfaat.
3. Kepercayaan
Lau dan Lee (1999: 8) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan individu untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain dengan resiko tertentu. Kesediaan ini muncul karena adanya pemahaman individu tentang pihak lain yang didasarkan pada masa lalunya, adanya harapan pihak lain akan memberikan sumbangan yang positif (walaupun ada juga kemungkinan pihak lain memberikan sumbangan yang negatif).
Badan Pavlou (2002: 10) dalam Farizi (2014: 5) mendefinisikan kepercayaan sebagai suatu penilaian hubungan dengan orang lain yang melakukan transaksi tertentu sesuai dengan harapan dalam sebuah lingkungan yang penuh ketidak pastian. Butler (1991: 47) dalam Widi (2010: 21) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor kondisi yang dapat menyebabkan kepercayaan itu timbul diantaranya, keleluasaan, ketersediaan, kompetensi, konsistensi, pelaku adil, integritas, loyalitas, keterbukaan, kepercayaan secara keseluruhan, janji akan pemenuhan kebutuhan, dan penerimaan.
Gefen (2002: 32) mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan untuk membuat dirinya peka kedalam tindakan yang diambil oleh pihak yang dipercaya yang didasarkan pada keyakinan. Kepercayaan suatu multidimensi yang kompleks dan spesifik (McKnight dan Chervany, 2002: 7).
26
Literatur kepercayaan di identifikasi dari berbagai dimensi. Dari dimensi ini rasa kejujuran (kredibilitas) mengindikasikan kepastian konsumen dalam bisnis, ketulusan, kenyataan, dan janji (Gundlach dan Murphy, 1993: 9). Sebagai tambahan manfaat untuk bisnis secara umum, kepercayaan telah ditunjukan untuk mempunyai arti penting. Sebagai contoh kepercayaan adalah stau faktor kritis dalam stimulan transaksi secara online.
Andresson dan Weitz (1989: 12) mendefinisikan rasa percaya sebagai kondisi psikologis yang terdiri dari niat/intensi untuk menerima kelemahan berdasarkan pengharapan positif terhadap niat atau perilaku orang lain. Dari definisi ini perlu dicatat dua bagian penting yaitu:
1. Rasa percaya berhubungan dengan pengharapan positif terhadap niat atau perilaku dari partner, sehingga fokusnya adalah pada keyakinan bahwa partner-nya akan bertindak dengan tanggung jawab, menunjukkan integritas dan tidak akan melukai partnernya; 2. Rasa percaya berhubungan dengan niat seseorang mengandalkan
bahwa partnernya akan menerima kelemahan-kelemahan yang kontekstual. Dengan demikian, jika sistem mobile banking itu dapat dipercaya oleh para pengguna, maka akan mendorong para nasabah untuk menerima dan atau menggunakan sistem mobile banking tersebut.
27
yaitu: dapat dipercaya, mengedepankan kepentingan nasabah, menjaga nama baik dan berkomitmen tinggi, percaya informasi yang diberikan, serta perhatian terhadap kondisi nasabah (Koufaris , 2002: 26).
4. Resiko
Resiko adalah persepsi negative konsumen atas sejumlah aktivitas yang didasarkan pada hasil yang negatif dan memungkinkan bahwa hasil tersebut menjadi nyata. Resiko sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan. Semakin kecil resiko dari suatu individu maka semakin besar tingkat kepercayaan, begitu pula sebaliknya semakin besar resiko dari suatu individu maka semakin kecil tingkat kepercayaanya. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hapsara (2015) yang menyatakan resiko berpengaruh terhadap penggunaan layanan Mobile Banking. Adapun indicator yang mengukur variabel resiko sebagai berikut:
1) Kemungkinan terdapat resiko pencurian 2) Membutuhkan biaya yang besar
3) Kemungkinan terdapat resiko penipuan 5. Minat Penggunaan Mobile Banking
Terdapat beberapa model yang digunakan untuk mengetahui penerimaan seseorang terhadap sistem teknologi informasi. Salah satu model tersebut adalah Technology Acceptable Model (TAM), merupakan salah satu model perilaku pemanfaatan teknologi informasi dalam literatur system informasi manajemen (Dishaw dan Strong, 1999: 5). TAM (Technology
28
Acceptance Model) ini dikemukakan oleh Davis (1986: 22) yang
mengembangkan kerangka pemikiran tentang minat pemanfaatan teknologi informasi. TAM berfokus pada sikap terhadap pemakaian teknologi informasi oleh pemakai dengan mengembangkannya berdasarkan persepsi manfaat dan kemudahan dalam pemakaian teknologi informasi. Model ini menyediakan dasar teori untuk menelusuri faktor yang menjelaskan pemakaian
software dan menghubungkannya dengan kinerja pemakai.
TAM merupakan satu di antara banyak model penelitian yang berpengaruh dalam studi determinan akseptasi teknologi informasi. TAM banyak digunakan untuk memprediksi tingkat akseptasi pemakai (user acceptance) dan pemakaian yang berdasarkan persepsi terhadap kemudahan penggunaan manfaat teknologi informasi. Implikasi akseptasi dapat dipelajari dengan menguji hubungan antara akseptasi teknologi informasi dan dampaknya kepada pemakai individua (Amijaya, 2010).
Jogiyanto (2007: 35) yang mendasarkan pada Fishbean dan Ajzen (1975), sikap adalah jumlah dari afeksi (perasaan) yang dirasakan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek atau perilaku dan diukur dengan suatu prosedur yang menempatkan individual pada skala evaluatif dua kutub misalkan baik atau jelek; setuju atau menolak dan lainnya. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sikap seseorang terhadap sistem informasi menunjukkan seberapa jauh orang tersebut merasakan bahwa sistem informasi baik atau jelek bagi dirinya.
29
27) membedakan dua macam sikap, yaitu sikap terhadap obyek-obyek dan sikap berhubungan dengan perilaku. Sikap terhadap obyek-obyek merupakan perasaan seseorang terhadap benda-benda atau obyek. Berbeda dengan sikap mengenai perilaku yang lebih mengarah ke perilakunya bukan ke obyeknya. Sikap seseorang terdiri atas unsure kognitif (cognitive) atau cara pandang, afektif (affective), dan komponen-komponen yang berkaitan dengan perilaku (Mubiyantoro dan Syaefullah, 2013: 4).
Habibi dan Zaky (2015: 6) mendefinisikan bahwa minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Minat pemanfaatan teknologi berhubungan dengan cara perusahaan merencanakan dan mengatur teknologi informasi dalam mencapai manfaat potensial dan efektif (Bergeron dan Raymond, 1992: 10). Teknologi informasi diterapkan sesuai dengan strategi bisnis. Oleh karenanya, perusahaan dapat mengadopsi berbagai tipe pemanfaatan teknologi tergantung pada strategi bisnisnya.
Penggunaan system menurut Davis (1989: 37) adalah kondisi nyata penggunaan system. Dikonsepkan dalam bentuk pengukuran terhadap frekuensi dan durasi waktu penggunaan teknologi. Seseorang akan puas menggunakan sistem jika mereka meyakini bahwa sistem tersebut mudah digunakan dan akan meningkatkan produktivitas mereka, yang tercermin dari kondisi nyata penggunaan (Wibowo, 2008: 23).
Pemanfaatan teknologi menunjukkan keputusan individu untuk menggunakan atau tidak menggunakan teknologi dalam menyelesaikan
30
serangkaian tugasnya. Idealnya, dalam hubungannnya dengan faktor kecocokan tugas-teknologi, pemanfaatan teknologi diukur dengan seberapa besar proporsi pemakai memilih untuk memanfaatkan sistem. Operasionalisasi tersebut mencerminkan keputusan pemakai untuk menggunakan teknologi berdasarkan hasil evaluasinya atas faktor kecocokan tugas teknologi sehingga pemanfaatan teknologi berlangsung dalam situasi sukarela. Akan tetapi, proporsi tersebut sangat sulit dalam studi lapangan. Sebagai pemecahannya, agar pemanfaatan dikonseptualisasikan sebagai seberapa luas sistem informasi terintegrasi pada setiap tugas rutin individu, baik karena pilihan individu atau karena mandat organisasi. Konsep pemanfaatan tersebut mencerminkan pilihan individu (atau organisasi) untuk menerima sistem, atau institusionalisasi sistem. Konsep ini dioperasionalisasi dengan menanyakan seberapa tinggi ketergantungan pemakai terhadap sederetan daftar sistem informasi berbasis komputer yang tersedia pada organisasi.
Indikator minat menggunakan mobile banking yang diukur melalui empat aspek yaitu: keinginan menggunakan mobile banking di masa mendatang, kesesuaian penggunaan mobile banking dengan kebutuhan, dukungan dalam menggunakan mobile banking, keinginan merekomendasikan
mobile banking (Amijaya, 2010 : 22). Mobile banking sebagai salah satu