• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Sejarah

3. Telaga Kembar

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Telaga kembar masih berada di area Halaman Jabalkap, masih belum jelas fungsi daripada Telaga Kembar tersebut. Namun dari beberapa sumber mengatakan kedua telaga ini dulunya berfungsi sebagai tempat pemandian para selir namun kejelasan dari informasi tersebut belum kuat butuh penelitian lebih lanjut dari sumber-sumber yang lebih banyak. Pada saat ini telaga tersebut sering digunakan masyarakat sekitar untuk memancing, entah hal ini dilarang atau diperbolehkan oleh pihak pengelola.

- Kondisi Fisik

Bentuk fisik dari telaga ini masih utuh namun ada beberapa bagian yang lapuk karena usianya yang sudah cukup tua. Untuk keadaan fisik pada umumnya, telaga ini masih terlihat terawat dan berfungsi dengan baik sebagai penampung air. Di telaga ini juga masih ditumbuhi beberapa tanaman air.

(a) (b) Gambar 17 Telaga kembar Sumber: Dokumentasi lapang 2015

4. Halaman Mukedas

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Halaman Mukedas berada di selatan Halaman Jabalkap. Di halaman ini dulunya terdapat Bale Loji, Bale Terang, Sanggah (Merajan), dan dua buah Bangsal. Saat ini Halaman Mukedas merupakan pintu masuk utama menuju Taman Narmada.

- Kondisi Fisik

Bentuk fisik dari Halaman Mukedas masih seperti dulu dengan beberapa pemugaran yang dilakukan oleh pihak pengelola seperti di bagian perkerasan. Dua buah bangsal yang ada di halaman ini juga telah hancur dan hanya menyisakan beberapa bangunan tempat tinggal dan pemujaan seperti Bale Loji, Bale Terang, dan Sanggah (Merajan).

Gambar 18 Halaman Mukedas Sumber: Dokumentasi lapang 2015

5. Bale Loji

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Bale Loji merupakan rumah dari bata, lantai semen, mempunyai serambi terbuka, dan kamar yang berfungsi sebagai tempat tinggal raja pada zaman dulu. Saat ini Bale Loji digunakan sebagai museum tempat dimana benda bersejarah, reruntuhan, dan foto klasik disimpan. Sedangkan Bale Loji yang berupa serambi terbuka dipergunakan sebagai aula kosong yang tidak jarang digunakan para pedagang untuk menjajakan barang dagangannya.

- Kondisi Fisik

Kondisi dari kedua Bale loji ini sudah tidak utuh dengan beberapa pemugaran, salah satunya adalah pemugaran Bale Loji yang sekarang difungsikan sebagai museum. Bangunan tersebut ditambahkan pelapis pada dindingnya dan pintunya juga diperbaiki hingga terlihat baik seperti sedia kala. Namun Bale Loji kedua bentuk fisiknya sudah tidak seperti asli karena kesalahan pihak pemugar terdahulu.

(a) (b) Gambar 19 Bale Loji

Sumber: Dokumentasi lapang 2015

6. Sanggah (Merajan)

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Bangunan ini masih berada di area Halaman Mukedas tepatnya berada di sebelah timur Bale Loji. Bangunan ini dipercaya sebagai tempat Raja untuk beribadah melakukan pemujaan kepada para leluhur

dan juga pada Tuhan Yang Maha Esa, dalam manifestasi sebagai Dewa Siwa, Dewa Wisnu, dan Dewa Brahma.

- Kondisi Fisik

Bangunan Sanggah atau bisa juga disebut Merajan ini berada didalam kawasan yang tidak sembarang orang diperbolehkan masuk. Sehingga bangunan ini masih terjaga dari ulah tangan-tangan pengunjung yang jahil. Di area bangunan ini masih terdapat pohon-pohon asli yang masih dipertahankan walaupun sudah kurang indah untuk dilihat.

(a) (b) Gambar 20 Sanggah (Merajan) Sumber: Dokumentasi lapang 2015

7. Bale Terang

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Bangunan Bale Terang ini masih berada di areal Halaman Mukedas dan masuk juga ke dalam areal halaman Pasarean. Letak Bale Terang berada di sebelah timur Bale Loji. Bangunan ini berbentuk panggung dengan ruang bawah sebagai gudang dan di bagian atas terdapat dua buah kamar dan satu ruangan terbuka yang dipagari. Dua kamar tersebut merupakan tempat raja untuk beristirahat, sedangkan ruangan terbuka dipergunakan raja untuk menikmati pemandangan sekitar di pagi hari. Pada saat ini bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat pengunjung untuk melihat keindahan pemandangan Taman Narmada dan salah satu kamarnya digunakan sebagai kantor perwakilan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang berpusat di Gianyar, Bali.

- Kondisi Fisik

Kondisi Bale Terang saat ini masih sangat bagus dan terawat karena telah mengalami beberapa kali perbaikan. Walaupun sudah mengalami beberapa kali perbaikan bangunan ini masih memiliki bentuk sesuai dengan aslinya.

Gambar 21 Bale terang Sumber: Dokumentasi lapang 2015

8. Halaman Pasarean

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Halaman Pasarean merupakan halaman yang berada di selatan Halaman Mukedas. Di halaman ini terdapat salah satu Bale Loji yang sekarang berbentuk aula, Bale Terang, Bangsal dan Bale Pawedaan. Fungsi dari halaman ini adalah sebagai salah satu tempat aktifitas raja seperti tidur dan beribadah.

- Kondisi Fisik

Dulunya Halaman Pasarean dan halaman Mukedas terpisahkan oleh tembok pemisah yang kini sudah tidak ada. Di halaman ini juga dulunya ada Bale Pawedaan yang berfungsi sebagai tempat membaca Kitab Weda yang menghadap ke Pura Kelasa namun sekarang bangunan ini sudah lenyap. Begitupun bangsal yang sudah lenyap. Kini hanya Bale Loji yang berbentuk aula yang masih kokoh berdiri.

Gambar 22 Halaman Pasarean Sumber: Dokumentasi lapang 2015

9. Halaman Bencingah

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Halaman Bencingah berada di selatan Halaman Pasarean. Halaman Bencingah dapat berarti halaman belakang. Dalam hikayat Rengganis, halaman ini biasa dipakai sebagai tempat untuk menyusun strategi peperangan dan juga biasa digunakan sebagai tempat menunggu bagi siapapun yang akan menghadap raja. Halaman ini dibagi atas bencingah dalam dan bencingah luar.

- Kondisi Fisik

Halaman bencingah sudah banyak mengalami perubahan. Bila zaman dulu halaman ini dibagi atas bencingah luar dan bencingah dalam, maka sekarang pembeda dari kedua bagian tersebut sudah tidak ada atau lenyap. Bangunan yang sudah lenyap di bencingah dalam adalah dua buah bangsal penjagaan yang di dalamnya tersimpan senjata tombak. Sedangkan yang tersisa hanyalah tembok pembatas antara bencingah dalam dan luar.

Gambar 23 Halaman Bencingah Sumber: Dokumentasi lapang 2015

10.Telaga Agung

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Telaga Agung ini merupakan salah satu dari bangunan pemandian, namun jika dilihat dari fungsinya telaga ini bukanlah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat pemandian melainkan sebagai miniatur dari danau Segara Anak yang berada di Gunung Rinjani. Letak Telaga Agung ini berada di sebelah selatan dan berada di dataran yang agak rendah. Dan karena telaga ini memiliki ukuran yang paling besar dibanding teaga lainnya maka telaga ini disebut Telaga Agung. Di ujung timur telaga terdapat sebuah pancuran dalam bentuk gajah yang setengah berdiri dan di sebelah barat terdapat sebuah patung ksatria dengan tangan kiri memegang busur panah dan tangan kanan memegang anak panah sambil menarik busur ke arah patung gajah tersebut, di bagian utara kolam terdapat sebuah miniature candi yang juga berfungsi sebagai pancuran. Pada puncak miniature candi tersebut terdapat gambar matahari yang terbuat dari tembaga.

Pada masa itu telaga ini dijadikan tempat ritual yang diadakan setiap setahun sekali, sehingga dengan dibuatnya telaga buatan ini sang raja tidak harus melakukan ritual tahunan di Danau Segara Anak yang berada di Gunung Rinjani. Saat ini Telaga Agung merupakan salah satu objek wisata yang diminati pengunjung selain kolam renang,

selain karena keindahannya telaga ini juga memiliki wahana berupa sepeda air dan flying fox yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati keindahan Telaga Agung. Namun, Telaga Agung tidak jarang digunakan pedagang sebagai tempat cuci piring.

- Kondisi Fisik

Pada masa sekarang Telaga Agung memiliki kondisi fisik yang sebagian sudah hilang atau hancur karena faktor alam dan ulah manusia. Seperti pada gambar matahari yang berada di puncak miniatur candi yang sudah rusak dan sekarang disimpan di Museum Taman Narmada. Juga pada patung Ksatria yang kini telah hilang karena kurangnya kepedulian dari masyarakat. Sedangkan pada wahana sepeda air menurut arkeolog sudah banyak dirusak oleh masyarakat sekitar.

(a) (b)

Gambar 24 (a) Telaga agung tahun 1911; (b) Telaga Agung sekarang Sumber: kitlv.nl dan Dokumentasi lapang 2015

11.Kolam Renang

- Fungsi

Kolam renang yang biasa disebut Kolam Putri Duyung ini merupakan salah satu dari bangunan pemandian yang sejak dulu hingga sekarang dipergunakan untuk mandi. Kolam renang ini dibangun pada tahun 1967 dengan membongkar kolam lama dengan bentuk yang lebih modern dengan ukuran 50m x 15m. Air yang mengisi kolam ini berasal dari mata air disekitar Taman Narmada. Dalam bentuk modern yang sekarang, nilai yang ada dalam area ini menjadi hilang walaupun fungsinya tidak berubah.

- Kondisi Fisik

Kondisi fisik dari kolam renang ini masih sangat bagus, karena kola mini adalah salah satu daya Tarik pengunjung yang paling banyak didatangi. Namun bentuk dari kondisi aslinya sudah 100% berubah karena sudah direnovasi secara total.

(a)

(b)

Gambar 25 (a) Kolam Putri Duyung tahun 1930; (b) Kolam Renang saat ini Sumber: kitlv.nl dan Dokumentasi lapang 2015

12.Kolam Padmawangi

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Telaga atau Kolam Padmawangi berada di sekitar 25 meter disebelah utara kolam renang. Konon kolam ini adalah tempat mandi para dayang-dayang istana, dan tempat ini merupakan tempat raja memilih selirnya. Pada zaman dulu pula kolam atau telaga ini banyak ditumbuhi oleh bunga Padma yang beraroma harum sehingga disebut dengan Kolam Padmawangi.

- Kondisi Fisik

Saat ini Kolam Padmawangi sudah mengalami beberapa kali perbaikan. Perbaikan yang paling jelas terlihat pada penambahan air mancur yang ada ditengah kolam, namun sejauh ini tidak ada perubahan yang signifikan dari kondisi fisik Kolam Padmawangi.

Gambar 26 Kolam Padmawangi Sumber: Dokumentasi lapang 2015

13.Bale Pentirtaan

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Bale Pentirtaan terletak di sebelah utara Kolam Padmawangi. Di dalam Bale Pentirtaan terdapat sebuah mata air yang menurut kepercayaan pemeluk Hindu merupakan pertemuan dari tiga mata air yang berasal dari Lingsar, Suranadi, dan Narmada. Menurut kepercayaan mereka pula, air yang berada di tempat ini memiliki khasiat memberikan efek awet muda jika seseorang meminumnya, maka dari itu air tersebut dikenal dengan air awet muda. Namun cara memperoleh air ini tidak secara langsung atau seenaknya, melainkan melalui upacara yang biasanya dipimpin langsung oleh Pemangku Pura.

- Kondisi Fisik

Bale Pentirtaan merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi pendatang, baik untuk beribadah maupun untuk meminta air awet muda. Karena banyaknya peminat dari tempat ini tidak heran bila bangunan ini masih baik dan terawatt, hanya saja pada papan informasi yang ada di tempat ini sudah berkarat dan sudah harus diganti agar bisa memberikan info yang informatif kepada para pengunjung.

Gambar 27 Bale Pentirtaan Sumber: Dokumentasi lapang 2015

14.Pura Kelasa

- Sejarah Singkat dan Fungsi

Pura ini merupakan bangunan inti dari keberadaan Taman Narmada ini. Pura ini termasuk salah satu pura yang dianggap tua di Lombok. Pura Kelasa dibangun diatas tiga halaman dengan susunan memusat (konsentrik), tingkat kesucian dari setiap halamannya selain oleh strukturnya ditentukan juga oleh peletakan setiap halamannya sehingga yang tertinggi merupakan halaman yang paling dianggap suci. Susunan memusat ini menurut sumber yang didapat disesuaikan dengan tujuan dan maksud pembangunan pura ini sebagai miniatur atau replika dari Gunung Rinjani, gunung yang tertinggi di Pulau Lombok. Halaman terluar dari Pura terdiri dari turap-turap berundak makin memusat makin tinggi, sedangkan halaman tengah merupakan pelataran terbuka tanpa tembok yang memiliki pintu masuk di bagian barat dan selatan dengan bentuk gapura. Di belakang gapura bagian barat terdapat dua buah bangunan terbuka tanpa tembok dan bertiang enam yang dinamakan dengan Balai Dana. Namun karena fungsinya sebagai tempat menabuh gamelan biasa disebut juga dengan Bale Gong, bahkan ada yang menyebutnya dengan Bale Kembar karena memang kedua bangunan terbuka ini memiliki bentuk fisik yang sama.

- Kondisi Fisik

Karena Pura Kelasa merupakan bangunan inti dan juga bangunan yang paling disakralkan di Taman Narmada, bangunan ini memiliki kondisi fisik yang baik dan terjaga karena memang masih dipergunakan sebagai tempat peribadatan masyarakat Hindu Dharma. Bisa dibilang bangunan ini merupakan satu-satunya bangunan yang masih berfungsi dan berbentuk sesuai dengan aslinya saat pertama kali dibangun.

(a) (b)

(c)

Gambar 28 Pura Kelasa Sumber: Dokumentasi lapang 2015

Elemen Pembentuk Lanskap Lainnya Sumber Daya Air

Elemen lanskap pembentuk Taman Narmada lainnya yang dibahas adalah sumber daya air yang ada di komplek ini. Sumber daya air yang ada di sekitar taman ini kebanyakan berasal dari sumber mata air yaitu Narmada, Suranadi, dan Lingsar yang dipercaya bertemu di Bale Pentirtaan, namun juga dari hulu sumber air seperti Gunung Rinjani. Menurut masyarakat sekitar, air yang ada di Taman Narmada ini selalu mengalir deras dan tidak pernah habis walau musim kemarau sekalipun. Hal ini diperkuat dari data yang didapat dari Balai Informasi Sumber Daya Air Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menjelaskan bahwa debit air dari sungai yang melewati tempat ini selalu stabil sepanjang tahun. Berikut Tabel 17 data debit air bulanan Tahun 2014:

Tabel 17 Data Debit Air Bulanan Tahun 2014

Bulan Debit Air (m3/detik)

Januari 5.86 Februari 3.30 Maret 2.27 April 2.55 Mei 3.30 Juni 1.62 Juli 1.65 Agustus 1.28

Tabel 17 Data Debit Air Bulanan Tahun 2014 (lanjutan)

Bulan Debit Air (m3/detik)

September 1.00

Oktober 1.00

November 1.65

Desember 2.86

Rata-rata 2.36

Sumber: BISDA Prov. NTB 2014

(a) (b) Gambar 29 Sungai Remeneng Sumber: Dokumentasi lapang 2015 Taman Presak

Taman Presak berada di seberang Sungai Remeneng, terletak di bagian paling selatan dari Taman Narmada. Di dalam Taman Presak ditumbuhi oleh banyak Pohon Durian Presak yang bisa dibilang hanya ada di tempat ini. Durian Presak merupakan salah satu buah andalan dari Taman Narmada, selain rasanya yang sangat enak buah ini juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila diperuntukkan untuk memajukan perekonomian masyarakat sekitar Taman Narmada.

Gambar 30 Taman Presak Sumber: Dokumentasi lapang 2015

Analisis Perubahan Karakter Taman Narmada Berdasarkan Periode

Berikut adalah gambaran singkat tentang Taman Narmada dari waktu ke waktu (Tabel 18).

Tabel 18 Taman Narmada Berdasarkan Periode Kerajaan Karangasem Masa Kemerdekaan Usaha Pemugaran 1926-1977 Usaha Pemugaran 1978-1985 Masa Sekarang - Dibangun sebagai tempat peristirahatan raja - Miniatur Gunung Rinjani - Tempat pelaksanaan upacara agama Hindu - Status tak jelas - Dijadikan taman rekreasi untuk umum - Pembangunan cukup air untuk Kolam Padmwangi - Telaga Agung, Candi Bentar, Halaman Jabalkab, Halaman Mukedas, Kolam Renang, Bale Loji dipugar - Pemugaran tanpa disiplin ilmu purbakala - Pemugaran skala kecil pada Bale Loji dan Bale Terang - Penggunaan

bahan-bahan asli seperti batu bata, batu andesit, dan kayu jati - Penggunaan teknik rubbing dalam pemugaran - Taman rekreasi untuk umum - Benda cagar budaya

Dari Tabel diatas dapat dilihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Taman Narmada dari awal dibuat sampai masa sekarang. Tentu perubahan tersebut meliputi perubahan bentuk objek/artefak dikarenakan adanya pemugaran, perubahan jumlah artefak karena kerusakan, dan perubahan beberapa fungsi pada artefak dan objek.

Land Use

Penggunaan lahan di Kompleks Taman Narmada sudah mengalami beberapa perubahan. Pada masa awal berdirinya kompleks taman ini memiliki luas sekita 7 Hektar dengan pembagian meliputi bangunan tempat tinggal, bangunan pemujaan, bangunan pemandian, dan taman (Haris, 1995). Bagian taman yang disebutkan merupakan semua area yang berfungsi sebagai taman estetik maupun area yang didalamnya ditanami pohon-pohon budidaya seperti durian.

Namun pada saat ini luas dari Komplek Taman Narmada sudah mengecil dikarenakan perubahan fungsi lahan yang tadinya berupa hutan budidaya menjadi pemukiman dan perkantoran. Menurut keterangan Direktoran Agraria Provinsi NTB, pemukiman dan perkantoran tersebut mulai muncul sekitar tahun

1960-1970an. Hingga saat ini luas dari Komples Taman Narmada hanya sekitar 4 Hektar.

Land Form

Kompleks Taman Narmada selain diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan, taman ini juga dibangun sebagai perwujudan atau miniatur dari Gunung Rinjani yang didalamnya juga dibuat miniatur dari Danau Segara Anak. Titik puncak dari kompleks taman ini adalah Pura Kelasa yang diibaratkan sebagai puncak dari Gunung Rinjani. Hingga saat ini land form dari tempat ini masih seperti dahulu dan tidak mengalami perubahan.

Vegetasi

Vegetasi yang menjadi ciri khas dari Komples Taman Narmada adalah pohon manggis dan pohon durian yang sudah ada sejak awal dibangunnya kompleks ini. Hingga saat ini kedua jenis pohon tersebut masih ada dan dilestarikan sebagai salah satu ciri atau identitas dari taman ini. Pada beberapa kolam juga dahulu ditumbuhi oleh bunga teratai yang wangi, namun saat ini bunga teratai hanya tersisa di Telaga Kembar.

Sumber Daya Air

Narmada dikenal sebagai “Kota Air”, dimana kawasan ini memiliki sumber air yang melimpah dan tidak akan mengalami kekeringan bahkan pada musim kemarau sekalipun. Sumber daya air di taman ini berasal dari gunung rinjani dan dari dulu sampai sekarang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari seperti ritual keagamaan, irigasi, sumber air minum, dan juga MCK.

Gambar 31 Alur Sumber Air dan Gambar Elevasi Land Cover

Area Taman Narmada dan sekitarnya sudah mengalami beberapa perubahan. Taman Narmada pada saat inii dikelilingi oleh Pasar dan Terminal Narmada di bagian utara, pemukiman dan perkantoran, dan juga sawah di bagian barat timur dan selatan (Gambar 3).

Analisis Elemen Pembentuk Lanskap Taman Narmada

Penilaian terhadap objek yang ada di Taman Narmada mengacu pada persepsi masyarakat menggunakan perhitungan Likert lima skala. Penilaian dilihat dengan beberapa kriteria yang dimodifikasi dari Harris dan Dines (1988) pada objek yang ada. Berikut tabel penilaian dan hasil dari persepsi masyarakat terhadap elemen pembentuk yang ada di Taman Narmada dan perbandingan dengan fakta lapangan.

Tabel 19 Hasil Indeks Persepsi Masyarakat terhadap Objek dan Perbandingan dengan Fakta lapangan

Objek Indeks

Kepentingan

DK*Menurut Masyarakat

Keterangan Melalui Fakta dan

Observasi Lapangan (2015)

Candi

Bentar 0.72 P

Kondisi cukup baik namun sudah tidak difungsikan lagi sebagai pintu masuk utama (Gambar 15)

Halaman

Jabalkap 0.77 P

Sebagian bangunan di halaman ini sudah hilang, seiring berkembangnya zaman fungsinya pun sudah berganti (Gambar 16)

Telaga

Kembar 0.76 P

Kondisi masih baik karena tidak mengalami perubahan secara signifikan (Gambar 17)

Halaman

Mukedas 0.78 P

Beberapa bangunan sudah tidak ada dan hanya menyisakan beberapa bangunan utama (Gambar 18)

Bale Loji 0.77 P

Kondisi memprihatinkan karena bentuk bangunan sudah hampir berubah total secara fisik (Gambar 19)

Merajan

(Sanggah) 0.74 P

Kondisi baik namun area sekitar kurang terawat (Gambar 20)

Bale Terang 0.79 P Kondisi baik dan masih bisa dimanfaatkan

sesuai fungsinya (Gambar 21)

Halaman

Pasarean 0.80 P

Hampir seluruh bangunan di area ini sudah lenyap (Gambar 22)

Halaman

Bencingah 0.81 SP

Hampir seluruh bangunan di area ini sudah lenyap dan hanya menyisakan tembok pembatas (Gambar 23)

Telaga

Agung 0.75 P

Sebagian sudah hancur dan sudah mengalami beberapa perbaikan (Gambar 24)

Kolam

Renang 0.76 P

Bentuk fisik sudah berubah total namun masih difungsikan seperti dulu (Gambar 25)

Kolam

padmawangi 0.81 SP

Kondisi cukup baik hanya berbeda pada penambahan air mancur dan fungsi yang sudah hilang (Gambar 26)

Bale

Pentirtaan 0.77 P

Kondisi baik karena masih digunakan sebagai ritual masyarakat (Gambar 27)

Pura Kelasa 0.82 SP Kondisi baik karena masih digunakan

sebagai ritual masyarakat (Gambar 28) Keterangan: SKP= Sangat kurang penting; KP= Kurang penting; CP= Cukup penting; P= penting; SP= Sangat penting

DK*= Derajat kepentingan

Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa hasil penilaian dari kuisioner yang disebar kepada 20 responden yang meliputi pihak pengelola dan pengunjung menurut derajat kepentingan berkisar penting (skor 4) sampai sangat penting

(skor 5). Hal ini dapat dipastikan bahwa responden menilai bahwa Taman Narmada yang sekarang ini sudah bagus dan baik. Ditambah dengan komentar para responden yang mayoritas puas dengan kondisi Taman Narmada saat ini. Namun hal ini berbanding terbalik dengan pendapat dari narasumber ahli seperti ahli sejarah dan arkeolog. Menurut mereka, Taman Narmada saat ini sudah rusak dan jauh dari nilai sejarah dan budaya yang seharusnya menjadi identitas taman ini.

Sedangkan untuk elemen pembentuk lanskap lainnya seperti Taman Presak (Gambar 30) dan sumber daya air (Gambar 29) menurut hasil wawancara dengan berbagai pihak merupakan salah satu hal penting di Taman ini yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak demi keberlangsungan hidup mereka.

Dapat disimpulkan bahwa Taman Narmada saat ini sudah sangat baik sebagai tempat rekreasi karena penilaian pengunjung yang sangat memuaskan. Namun dari segi sejarah dan budaya, taman ini sudah tidak menggambarkan apa yang terjadi di masa lalu karena kurangnya perhatian atas sejarah dan budaya tersebut.

Analisis Sumber Daya Air, Ketergantungan, dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Taman Narmada

Sumber Daya Air

Menurut data dari sumber yang didapat, jumlah sumber daya air yang berada di dalam dan di sekitar Taman Narmada sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan air yang dipelukan oleh masyarakat. Bahkan masyarakat sangatlah bergantung akan adanya sumber daya air yang ada di tempat ini. Dengan demikian, selain berfungsi sebagai taman kerajaan tempat ini juga memiliki fungsi sosial terhadap masyarakat guna memenuhi kebutuhan air. Menurut hasil survei di lapangan ditemukan bahwa sumber air di Taman Narmada ini dipergunakan

Dokumen terkait