BAB III SIARAN TELEVISI MULTIMEDIA BERBAYAR SATELIT
C. Televisi Berbayar Satelit
Untuk memberikan pengertian tentang multimedia televisi berbayar satelit maka akan diuraikan terlebih dahulu pengertian secara etimologi atas kata-kata yang terdapat dalam “multimedia televisi berbayar satelit”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Multimedia diartikan sebagai: berbagai jenis sarana, usaha pembangunan untuk dunia komunikasi, pendidikan dan sebagainya, penyediaan informasi pada komputer yang menggunakan suara, grafika, animasi dan teks”. Sedangkan multimedia yang dimaksudkan disini adalah multimedia dalam bidang komunikasi massa seperti surat kabar, radio, dan televisi sendiri.19
Dalam sumber yang sama televisi berbasis multimedia satelit diartikan sebagai “sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui perantara satelit (angkasa) dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar”.20
19
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta, 2003, hal. 762.
20
Ibid., hal. 1162.
Perihal televisi berbasis multimedia satelit dapat juga ditemukan pengaturannya dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dimana dalam Pasal 26 bahwa salah satu lembaga penyiaran berlangganan adalah lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit.
Perihal televisi yang melakukan penyiaran melalui satelit menurut ketentuan Pasal 27 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran adalah “Lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Memiliki jangkauan siaran yang dapat diterima di wilayah Negara Republik Indonesia.
b. Memiliki stasiun pengendali siaran yang berlokasi di Indonesia. c. Memiliki stasiun pemancar ke satelit yang berlokasi di Indonesia. d. Menggunakan satelit yang mempunyai landing right di Indonesia dan e. Menjamin agar siarannya hanya diterima oleh pelanggan.
D. Pengaturan Multimedia Televisi Berbayar Satelit Dalam Hukum Komunikasi di Indonesia
Dalam membahas hasil penelitian ini penulis akan menyajikan studi perbandingan dengan perjanjian berlangganan Indovision. Indovision Nusantara adalah jasa menjadi sasaran pemasaran adala
Indovision Nusantara dioperasikan perusahaan bernama PT. Direct Vision, yang dibentuk pada satelit bernama juga mengoperasika
Pada saat ini, Indovision menyediakan 48 pilihan saluran termasuk di dalamnya 5 saluran yang diproduksi khusus oleh Indovision Indonesia melalui perusahaan penyedia isi siaran PT Adhi Karya Visi, yaitu Indovision Ceria
(untuk anak), Indovision Aruna (untuk sinetron Indonesia dan perempuan), Indovision Kirana (untuk film non-Hollywood), Indovision Xpresi (untuk gaya hidup anak muda dan infotainment), dan Indovision Awani (untuk informasi dan gaya hidup). Indovision ceria, Indovision Kirana, dan Indovision Aruna juga disiarkan di Indovisi Pada ta diluncurkan kapasitas channel berlipat ganda berkat teknologi dengan menambah satu lagi saluran baru yait adalah saluran Indovision yang menayangkan program-program yang bernafaskan agama Islam
Untuk wilayah Kota Medan Indovision telah menyediakan kantor pelayanan pelanggan yang terletak di Jalan Zainul Arifin Medan dekan PT. Bank Sumut. Kantor ini semata-mata merupakan kantor pelayanan pelanggan dan dipimpin oleh seorang Branch Manager.
Hukum komunikasi yang mengatur perihal televisi berbasis satelit dalam hukum Indonesia ditemukan dalam Undang-undang No. 32
Tahun 2002 tentang Penyiaran Bagian Ketujuh Pasal 25 sampai dengan Pasal 29. Meskipun demikian dalam Pasal 13 Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ada juga menyebutkan istilah tentang
lembaga penyiaran berlangganan. Secara spesifiknya Pasal 13 tersebut berbunyi:
(1) Jasa penyiaran terdiri atas: a. Jasa penyiaran radio, dan. b. Jasa penyiaran televisi.
(2) Jasa penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayar (1) diselenggarakan oleh:
a. Lembaga penyiaran publik. b. Lembaga penyiaran swasta.
c. Lembaga penyiaran komunitas, dan. d. Lembaga penyiaran berlangganan.
Dari ketentuan isi Pasal 13 khususnya pada ayat (2) huruf d, maka dapat dijelaskan bahwa lembaga penyiaran berlanggaranan diakui oleh undang-undang ini sebagai salah satu bentuk dari jasa penyiaran televisi.
Selain ketentuan dalam Pasal 13 di atas maka Pasal 25 menyebutkan:
(1) Lembaga Penyiaran berlangganan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf d merupakan lembaga penyiaran berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan dan wajib terlebih dahulu memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran berlangganan.
(2) Lembaga penyiaran berlangganan sebagaimana dimakdsud dalam ayat (1) memancar luaskan atau menyalurkan materi siarannya secara khusus kepada pelanggan melalui radio, televisi, multimedia, atau media informasi lainnya.
Isi Pasal 25 di atas lebih menekankan bentuk badan hukum Indonesia, dengan spesifikasi usaha jasa penyiaran berlangganan. Ketentuan ini juga menjelaskan bahwa badan hukum dalam usaha penyiaran berlangganan di Indonesia tunduk pada ketentuan hukum
Indonesia khususnya ketentuan Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
Badan hukum itu seperti manusia. Satu jelmaan yang sungguh-sungguh ada dalam pergaulan hukum (eineleiblichgeistigelebenssceinheit). Badan hukum itu menjadi suatu “ verband personlijchkeit “ yaitu suatu badan hukum yang membentuk kemauannya dengan perantaraan alat-alat
(orgamen) yang ada pada misalnya pengurusnya sepeti manusia.
Pendeknya berfungsinya badan hukum dipersamakan dengan berfungsinya manusia.21
Apa yang dimaksud dengan badan hukum, tiadalah lain merupakan suatu pengertian, dimana suatu badan yang sekalipun bukan berupa seorang manusia namun dianggap mempunyai suatu harta kekayaan sendiri terpisah dari para anggotanya, dan merupakan pendukung dari hak-hak dan kewajiban seperti seorang manusia.
Lebih lanjut dikatakan oleh Abdul Muis, bahwa :
22
1. Mempunyai harta kekayaan sendiri, yang berasal dari suatu perbuatan pemisahan
Hakekat yang demikianlah yang dianggap kepada suatu badan hukum dapat dipersamakan sebagaimana manusia layaknya dalam pergaulan hukum.
Badan hukum yang bukan manusia mempunyai unsur-unsur:
2. Mempunyai tujuan sendiri
3. Mempunyai alat perlengkapan (organisasi).
Permasalahan pendirian suatu badan hukum tentulah mempunyai alasan tersendiri.
Salah satu motivasi pembentukan badan hukum antara lain terletak pada “pertanggungjawabannya” yang terbatas. Dalam suatu badan hukum, maka harta kekayaan perorangan yang tergabung dalam badan hukum tersebut. Artinya, setiap tagihan atas badan ini semata-mata hanya dapat
21
Abdul Muis, Yayasan Sebagai Wadah Kegiatan Masyarakat, Fak. Hukum USU, Medan, 1991, hal. 29-30.
22
Abdul Muis, Hukum Persekutuan dan Perseroan, Fak. Hukum USU, Medan, 1995, hal. 16.
ditujukan kepada harta kekayaan badan ini dan tidak akan sampai dipertanggung-jawabkan pada harta kekayaan pribadi para perorangan yang tergabung di dalamnya. 23
Badan hukum tidak dapat melakukan sendiri perbuatannya, karena badan hukum bukan manusia yang mempunyai daya pikir dan kehendak. Badan hukum bertindak dengan perantaraan manusia (natuurlijk persoon), akan tetapi orang yang bertindak itu tidak bertindak untuk dirinya melainkan untuk dan atas nama pertanggung-jawaban badan hukum. Salah satu badan hukum itu Dikemukakan pula bahwa Badan hukum dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan-perbuatan hukum seperti manusia. Badan hukum itu mempunyai kekayaan sendiri, ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantaraan pengurusnya, dapat digugat dan menggugat di muka hukum, pendeknya diperlakukan sepenuhnya sebagai seorang manusia.
Pembahasan perihal badan hukum ini amat penting untuk mengetahui kedudukan sebuah bentuk usaha khususnya badan usaha penyiaran, sehingga dike-
tahui apakah sebuah badan usaha penyiaran tersebut memiliki hak dan kewajiban dalam bidang hukum sebagaimana layaknya manusia biasa.
Dari keterangan di atas jelas diakui badan hukum tersebut dapat juga bukan manusia tetapi dapat berbentuk sebuah perusahaan atau organisasi seperti yayasan. Akan tetapi badan hukum mempunyai sifat-sifat khusus. Badan hukum hanya dapat melakukan perbuatan-perbuatan dalam bidang tertentu.
23
adalah Perseroan Terbatas pada perusahaan lembaga penyiaran khususnya penyiaran berlangganan.
Perseroan atau PT yang merupakan badan hukum atau “artificial
person” mampu bertindak melakukan perbuatan hukum melalui wakilnya. Oleh
karena itu perseroan atau PT juga merupakan subjek hukum, yaitu subjek hukum mandiri (persona standi in judicio).24
(1) Lembaga Penyiaran Berlangganan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 terdiri dari:
Dia bisa mempunyai hak dan kewajiban dalam hubungan hukum. Akan tetapi, untuk dapat diakui sebagai subjek hukum, dia harus memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana disebutkan dalam undang-undang.
Dari uraian di atas maka jelaslah apa yang dimaksudkan oleh Pasal 25 Undang-undang Penyiaran, dimana dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa lembaga penyiaran berlangganan adalah sebuah badan hukum yang tunduk kepada ketentuan hukum Indonesia khususnya Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
Selanjutnya Pasal 26 Undang-undang Penyiaran menjelaskan:
a. Lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit. b. Lembaga penyiaran berlangganan melalui kabel dan. c. Lembaga penyiaran berlangganan melalui terestrial.
(2) Dalam menyelenggarakan siarannya, Lembaga penyiaran berlangganan harus.
a. Melakukan sensur internal terhadap semua isi siaran yang akan disiarkan dan/atau disalurkan.
b. Menyediakan paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari kapasitas kanal saluran untuk menyalurkan program dari lembaga penyiaran publik dan lembaga penyiaran swasta dan.
c. Menyediakan 1 (satu) kanal saluran siaran produksi dalam negeri berbanding 10 (sepuluh) siaran produksi luar negeri paling sedikit 1 (satu kanal saluran siaran produksi dalam negeri.
(3) Pembiayaan lembaga penyiaran berlangganan berasal dari:
24
IG. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Mega Point, Jakarta, 2003, hal. 8.
a. Iuran berlangganan, dan b. Siaran iklan dan/atau
c. Usaha lain yang sah dan terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.
Isi Pasal 26 di atas khususnya ayat (1) menjelaskan bahwa lembaga penyiaran berlangganan tersebut dalam melakukan kegiatannya di bidang penyiaran mempergunakan berbagai media sebagai sarana sehingga siarannya dapat terjangkau oleh pelanggan. Sarana tersebut dapat melalui satelit, kabel, atau terestrial. Kesemua media tersebut ditujukan bagi efektivitas dari hasil siaran yang dilakukan memiliki kualitas yang baik yang diterima oleh pemirsanya.
Sedangkan isi Pasal 26 ayat (2) lebih terfokus kepada ketentuan tentang siaran yang layak siar sehingga tidak melanggar kesusilaan dan ketertiban umum yang hidup dalam rezim ketimuran. Jadi dengan adanya sensor siaran tersebut menjadi patut dan layak untuk disaksikan oleh pemirsanya.
Sedangkan perihal pemuatan 1 kanal berbanding 10 siaran produksi luar negeri adalah sebagai faktor perimbangan sehingga pemirsa tidak dilarutkan dengan informasi-informasi dari luar negeri melulu tetapi dikondisikan sehingga pemirsa juga mengetahui jenis produksi dalam negeri yang memiliki watak Indonesia.
Perihal pembiayaan lembaga penyiaran berlangganan ditentukan dalam Undang-undang penyiaran adalah sekedar menjelaskan kepada publik tentang asal muasal dari biaya yang diterima televisi penyiaran berlangganan dalam usahanya melakukan penyiaran.
Pasal 27 Undang-undang Penyiaran menyebutkan:
Lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Memiliki jangkauan siaran yang dapat diterima di wilayah Negara Republik Indonesia.
b. Memiliki stasiun pengendali siaran yang berlokasi di Indonesia. c. Memiliki stasiun pemancar ke satelit yang berlokasi di Indonesia. d. Menggunakan satelit yang mempunyai landing right di Indonesia, dan e. Menjamin agar siarannya hanya diterima oleh pelanggan.
Efektivitas keberadaan Pasal 27 di atas pada dasarnya lebih menekankan pada hasil kualitas siaran dari lembaga penyiaran berlangganan yang mempergunakan satelit sebagai media penyampaian siaran kepada pemirsanya. Penggunaan satelit dalam hal ini juga ditujukan bagi efektivitas usaha jasa penyiaran di Indonesia, sehingga usaha jasa penyiaran televisi berlangganan mampu meningkatkan teknologi penggunaan satelit. Pemakaian satelit sebagai media penyiaran juga diperuntukkan bagi penerimaan siaran oleh pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia.