• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata seru atau tembung panyeru merupakan kata yang menggambarkan perasaan sedih, senang, kecewa, susah, dan rasa heran. Berikut kata seru yang ditemukan dalam LLBJKNB.

(164) Dhuh kangmas pancèn jêmbar têmênan atimu (CA2/II/1) ‘Duh Kakanda memang lapang betul hatimu’

(165) Dhuh wong ayu pêpujanku sing tak sayang (CA2/III/1) ‘Duh wanita cantik pujaanku yang aku sayang’

(166) Dhuh kangmas kudune sliramu kandha apa anamu (CA2/IV/1) ‘Duh Kakanda harusnya dirimu mengatakan apa adamu’

(167) Ra kênal penyanyine (PJ/VIII/1) Ra ngêrti penciptane (PJ/VIII/2)

Sing pênting hore rame-rame... (PJ/VIII/2) ‘Tidak kenal penyanyinya’

‘Tidak tahu penciptanya’

‘Yang penting hore bersama-sama’

Pada data (164) hingga (166), kata seru yang ditampilkan merupakan aferesis dari kata adhuh yang mengungkapkan perasaan sedih. Kata dhuh pada data menggambarkan kesedihan seorang pasangan suami istri yang telah lama berpisah kemudian bertemu kembali. Kata seru dhuh, berdistribusi di awal baris.

Data (167), terdapat kata seru hore yang menyatakan perasaan gembira. Kata seru hore berdistribusi di tengah baris pada larik terakhir data (167). Fungsi dari penggunaan kata seru hore dalam data yaitu pengarang ingin menyampaikan pesan bahwa apabila kita berkumpul dengan teman-teman yang kita rasakan ialah rasa gembira.

10) Epentesis

Epentesis merupakan penambahan bunyi atau penyisipan bunyi di tengah kata. Dalam LLBJKNB hanya ditemukan satu bentuk epentesis yaitu kata umpama yang berasal dari kata upama dengan mengalami penyisipan bunyi konsonan /m/ di tengah kata, namun tidak merubah makna kata tersebut.

(168) Umpama bisa aku gayuh lintang (GA/III/1) Kêpengin tak pêthik (GA/III/1)

Tak wèhna sliramu sayang (GA/III/1) ‘Seumpama bisa saya meraih bintang’ ‘Akan saya petik’

‘Saya berikan padamu sayang’ (169) Bayangna umpama (SS/I/1)

Nèng donya ora ana cahya (SS/I/2) Ndahne ya pêtênge kaya apa (SS/I/3) ‘Bayangkan seumpama’

‘Di dunia tidak ada cahaya’ ‘Betapa petangnya seperti apa’ (170) Bayangna umpama (SS/II/1)

Nang donya ra ana swara (SS/II/2) Ndahne ya sêpine kaya apa (SS/II/3) ‘Bayangkan seumpama’

‘Di dunia tidak ada suara’ ‘Betapa sepinya seperti apa’ (171) Bayangna umpama (SS/III/1)

Nang donya ora ana dosa (SS/III/2)

Wis pirang mênungsa sing bakal tumindak ala (SS/III/3) ‘Bayangkan seumpama’

‘Di dunia tidak ada dosa’

‘Sudah berapa manusia yang akan bertindak buruk’

Data (168), menunjukkan adanya epentesis kata umpama di awal baris. Sedangkan pada data (169) hingga (171), epentesis kata umpama berada di akhir bait pada tiap baris pertama. Epentensis kata umpama pada data-data di atas berfungsi memberikan kesan indah dengan sedikit menyisipkan bunyi konsonan di tengah kata.

11) Aferesis

Aferesis adalah pengurangan jumlah suku kata di awal untuk melancarkan pelafalan dan mempersingkat tuturan saat diucapkan. Pada LLBJKNB ditemukan ada beberapa kata yang masuk dalam kategorial aferesis. Adapun aferesis yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.

a) Pama

(172) Pama sliramu ngêrti (BK/II/1) ‘Seumpama dirimu tahu’ (173) Pama biyen kowe manut kandhane wong tuwa (D/IV/1)

‘Sumpama dulu Kamu menurut perkataan orang tua’

Data (172) dan (173) menunjukkan adanya aferesis pada kata pama yang berasal dari kata upama ‘seumpama’. Kata upama pada data di atas selalu berdistribusi di depan kalimat karena digunakan pengarang di awal syair.

b) Ra

(174) Ra mbok tututana (CA1/IV/1) ‘Tidak Kamu kejarpun’ (175) Ra kudune aku cupêt ati sing kaya mêngkene (CA2/IV/2)

‘Tidak seharusnya saya berkecil hati (putus asa) seperti ini’ (176) Ra mungkin uripmu tansah rêkasa (D/IV/2)

‘Tidak mungkin hidupmu akan kesulitan’

(177) Ra kênal penyanyine (PJ/VII/1) ‘Tidak kenal penyanyinya’ (178) Ra ngêrti penciptane (PJ/VII/2) ‘Tidak kenal penciptanya’

(179) Ra bakal nrima sliramu (PIL/III/5) ‘Tidak akan menerima dirimu’ (180) Ra nyana nuwuhke trêsna (PJ/V/4)

‘Tidak menyangka menumbuhkan cinta’

(181) Ra ana siji mênungsa sing bisa ngramalna (PM/III/4) ‘Tidak ada satu manusia yang bisa meramalkan’

(183) Merga kowe ra nang kene (SLNJ/II/5) ‘Karena Kamu tidak ada di sini’ (184) Nang donya ra ana swara (PJ/II/2) ‘Di dunia tidak ada suara’

(185) Wis ra ana kabar êmbuh papanku nèng êndi (CA1/II/3) ‘Sudah tidak ada kabar tidak tahu tempatku di mana’ (186) Kaya ra lila aku kèlangan sliramu (MMLT/IV/2)

‘Seperti tidak ikhlas saya kehilangan dirimu’

(187) Aku ra bakal lali marang janji sing kêtali (SLNJ/IV/2) ‘Saya tidak akan lupa pada janji yang terikat’

(188) Kaya-kaya ra lila (BK/II/6) ‘Seperti tidak ikhlas’ (189) Wis nasibe mbên dina ra kêtunggonan (BS/II/4)

‘Sudah nasibnya setiap hari tidak ditemani’

(190) Nêm taun sliramu ra bali (BK/II/4) ‘Enam tahun dirimu tidak kembali’ Data (174) sampai dengan data (190) menunjukkan adanya aferesis pada kata ra yang berasal dari kata ora ‘tidak’. Letak dari aferesis tersebut sangat beragam karena berada di awal baris yang ditunjukkan pada data (174) sampai dengan data (181), berada pada kata ketiga dari depan yang ditunjukkan pada data (182) hingga (184), berada setelah kata pertama (kata kedua dari depan) yang ditunjukkan data (185) hingga (188), serta berada sebelum kata terakhir (kata kedua dari belakang baris) yang ditunjukkan oleh data (189) dan (190).

c) Dha

(191) Bocah-bocah dha cakrukan (BK/VII/2) ‘Anak-anak sedang berkumpul’

Data (191) menunjukkan adanya aferesis pada kata dha yang berasal dari kata padha ‘pada’. Kata dha dominan berdistribusi sebelum kata terakhir pada baris (kata kedua dari belakang).

d) Isa

Data (192) menunjukkan adanya aferesis pada kata isa yang berasal dari kata bisa ‘bisa’ yang mengalami penghilangan konsonan /b/ pada suku kata pertamanya. Letak dari aferesis isa pada data ditunjukkan pada kata kedua dari belakang.

e) Mung

(193) Aku mung lampune lilin (BK/II/6) ‘Saya hanya lampunya lilin’ (194) Tansah ngêlayung, mung tansah ngêlamun (MMLT/II/3)

‘Akan pucat (karena sedih), hanya akan melamun’ (195) Mung swara radio sing bisa dadi gantine (GA/III/5)

‘Hanya suara radio yang bisa jadi gantinya’

Kata mung pada data (193) hingga (195) berasal dari kata amung ‘hanya’ yang mengalami aferesis di suku kata pertama sehingga menghilangkan vokal /a/ miring di depannya. Kata mung ‘hanya’ pada data di atas berdistribusi pada kata kedua, kata ketiga dari belakang, dan awal baris.

f) Ndahne

(196) Nèng donya ora ana cahya (SS/I/2)

Ndahne ya pêtênge kaya apa (SS/I/3)

‘Di dunia tidak ada cahaya’ ‘Betapa gelapnya seperti apa’ (197) Nang donya ra ana swara (SS/II/2)

Ndahne ya sêpine kaya apa (SS/II/3) ‘Di dunia tidak ada suara’

‘Betapa sepinya seperti apa’

Kata ndahne pada data (196) dan (197) merupakan aferesis dari kata mendahne yang mengalami pengurangan jumlah vokal sebanyak dua yaitu konsonan /m/ dan vokal /e/. Distribusi dari kata tersebut yaitu berada di awal baris.

g) Nèng

(198) Nèng lokalisasi nggonku nandhang lara cupêt ati (CA2/II/3) ‘Di lokalisasi tempatku merasakan sakit berkecil hati’

(199) Nèng penjara panggonanku nglakoni mangsa ukuman (CA2/III/3) ‘Di penjara tempatku menjalani waktu hukuman’

(200) Nèng donya ora ana cahya (SS/I/2) ‘Di dunia ini tidak ada cahaya’ (201) Nèng kene kabèh kanca (PJ/VI/1) ‘Disini semua teman’

(202) Nèng gisik dermaga, Waduk Wonorejo (MMLT/III/3) ‘Di bibir dermaga, Waduk Wonorejo’

(203) Ning nèng awak krasa angêt (TO/III/2) ‘Tetapi di badan terasa hangat’ (204) Kutha Pare sing wis kêtali nèng ati (BK/II/6)

‘Kota Pare yang sudah terikat di hati’

Afiksasi yang ditunjukkan data di atas adalah afiksasi kata anèng yang mengalami pengurangan jumlah kata di depan menjadi kata nèng. Kata anèng berasal dari kata ana + ing yang mengalami mengalami persandian. Distribusi kata nèng pada data di atas terletak di awal larik, kata kedua dari depan, dan kata kedua dari belakang.

h) Ning

(205) Ning nèng awak krasa angêt (TO/III/2) ‘Tetapi di badan terasa hangat’ (206) Ning kahanane aku durung ngêrti slirane (GA/III/4)

‘Tetapi keadaannya saya belum tahu bagaimana parasnya’ (207) Ndadèkne wêrna-wêrni, ning rupane ora padha (SS/VIII/2)

‘Membuat warna-warni, Tetapi rupanya tidak sama’

Pada data (205) hingga (207) terdapat afiksasi yaitu kata ning. Kata ning berasal dari kata nanging ‘tetapi’ yang mengalami penghilangan sejumlah huruf

di awal. Pada data di atas, kata ning terletak di awal baris data (206) dan (206). Serta pada kata keempat dari belakang baris data (207).

i) Kang

(208) Marang kang Maha Kuwasa (SS/VI/3) ‘Kepada Yang MahaKuasa’

Kata kang ‘Yang’ pada kata kedua data di atas berasal dari kata ingkang yang mengalami pengurangan jumlah suku kata di awal. Kata kang pada data berdistribusi pada kata kedua dari depan.

j) Njur

(209) Njur têrus gol-sènggolan (GA/I/3) ‘Kemudian terus bersenggolan’

Data (209) di atas menunjukkan adanya aferesis pada kata njur yang berasal dari kata banjur ‘kemudian’. Kata ini berdistribusi di awal baris data (209).

k) Nggo

(210) Nggo sangune urip aku lan kowe (SLNJ/III/3) ‘Untuk bekal hidup saya dan Kamu’

Kata nggo pada awal larik di atas menunjukkan adanya aferesis dengan menghilangkan sejumlah huruf di awal pada kata kanggo ‘untuk’ sehingga berubah menjadi kata nggo. Aferesis pada data di atas berada pada awal baris. l) Make

(211) Jaman biyèn kae make wis nate ngelingne (D/III/1) ‘Zaman dahulu ibu sudah pernah mengingatkan’

Pada data di atas, kata make merupakan bentuk dari penghilangan sejumlah huruf pada kata mamak ‘ibu’ dan kemudian mendapat sufiks {-e} di akhir kata. Kata mamak menurut persepsi penulis merupakan kata sebutan untuk

memanggil ibu. Kata make pada data tersebut berada pada kata keempat dari depan maupun dari belakang.

m) Wong

(212) Dhuh wong ayu pêpujanku sing tak sayang (CA2/III/1) ‘Duh wanita cantik pujaanku yang saya sayang’

(213) Wong ayu sak tenane aku (ARK/IV/1) ‘Wanita cantik sebenarnya saya’ Kata wong pada data (212) dan (213) merupakan bentuk aferesis dari kata uwong ‘orang’ yang mengalami penghilangan sejumlah huruf di awal. Letak dari afiksasi wong ini berada pada kata kedua dari data (212) dan kata pertama pada data (213).

n) Nggonku

(214) Kaya-kaya ora ikhlas nggonku lunga (PIL/I/3) ‘Seperti tidak ikhlas saya pergi’

(215) Nèng lokalisasi nggonku nandhang lara cupêt ati (CA2/II/3) ‘Di lokalisasi tempatku merasa sakit berkecil hati’

Pada data (214), aferesis ditunjukkan oleh kata nggonku pada kata keempat yang berasal dari kata anggon yang mendapat sufiks {-ku} dan mengalami pengurangan vokal /a/ di awal. Berbeda dengan data (214), data (215) menunjukkan adanya aferesis pada kata nggonku yang berasal dari kata panggon yang mendapat sufiks {-ku} dan mengalami pengurangan jumlah huruf di awal. Meskipun kedua kata tersebut memiliki hasil aferesis yang sama, yaitu sama-sama menggunakan kata nggonku akan tetapi memiliki perbedaan asal kata. Data (214), menunjukkan bentuk aferesis nggonku yang mengacu pada persona atau orang, sedangkan nggonku pada data (215) mengacu pada lokasi atau tempat.

o) Bên

(217) Bên dina sambat mumêt sambat ngêlu (D/V/5) ‘Setiap hari mengeluh pusing mengeluh pening’

Data (216) dan (217) menunjukkan adanya aferesis pada awal baris yaitu ditandai dengan kata bên yang berasal dari kata sabên ‘setiap’ yang mengalami pengurangan sejumlah dua huruf di awal kata. Kata bên pada data (198), maupun data (199) berdistribusi di depan baris.

p) Nêm

(218) Wis nêm taun sliramu ora bali (CA1/II/2) ‘Sudah enam tahun dirimu tidak kembali’ (219) Nêm taun sliramu ra bali (CA2/II/4)

‘Enam tahun dirimu tidak kembali’

Data di atas menunjukkan adanya aferesis pada kata nêm yang merupakan pelesapan dari kata ênêm ‘enam’ yang mengalami penghilangan vokal /ê/ di suku kata pertama. Kata nêm menunjuk pada nama bilangan angka. Distribusi aferesis tersebut dalam data (218) terdapat di kata kedua dari depan, sedangkan pada data (219) terletak pada awal baris.

Berdasarkan pemaparan data, didapati adanya aferesis yang bervariasi. Adanya aferesis pada LLBJKNB memiliki fungsi antara lain: 1) untuk mempermudah pengucapan, 2) mendapatkan keseuaian tuturan dengan irama lagu, 3) menambah nilai komunikatif lirik.

b. Aspek Penanda Morfologis

Aspek penanda morfologis yang terdapat dalam LLBJKNB terdiri dari afiksasi dan reduplikasi. Afiksasi yang ditemukan dalam LLBJKNB berupa infiks/ seselan. Sedangkan reduplikasi yang ditemukan di LLBJKNB meliputi dwilingga

dan dwipurwa. Berikut merupakan analisis dari penanda morfologi yang ada dalam LLBJKNB.

1. Reduplikasi

Reduplikasi yang paling menimbulan kesan arkhais dan mendukung keindahan dalam LLBJKNB hanya terdapat pada reduplikasi dwipurwa. Adapun analisisnya dapat dilihat pada kutipan berikut.

Dwipurwa merupakan perulangan kata yang menjadi suku pertama pada awal baris atau di depan kata dasar yang menjadi kata pertama dalam baris. Berikut pemaparan dari dwipurwa dalam LLBJKNB.

(220) Sêsandhing priya liya, pilihan wong tuwa (MMLT/IV/4) ‘Bersanding pria lain, pilihan orang tua’

(sa + sandhing) priya liya, pilihan wong tuwa

Kata sêsandhing pada data (220) berasal dari kata sandhing ‘duduk berdekatan’, yang suku kata pertamanya diulang disertai pelemahan bunyi vokal pada suku kata yang mereduplikasi (sandhing → sasandhing → sêsandhing).

Fungsi dwipurwa pada data (220), untuk menambah kearkhaisan dengan menampilkan data yang memuat bentuk-bentuk tersebut.

Selain kata sêsandhing, variasi juga muncul pada kutipan data di bawah ini. Kata dasar sandhing berubah menjadi sêsandhingan ‘bersandingan’. Berikut analisis dwipurwa dari kata sêsandhingan.

(221) Nyawang sliramu sêsandhingan (MMLT/I/2) ‘Melihat dirimu bersandingan’

Nyawang sliramu {(sa + sandhing) + -an}

Kata sêsandhingan pada data (221) berasal dari kata sandhing ‘duduk berdekatan’, yang suku kata pertamanya diulang menjadi kata sasandhing. Kata

sasandhing dengan adaya pelemahan bunyi vokal pada suku kata yang mereduplikasi sehingga mengalami perubahan menjadi kata sêsandhing (sandhing→sasandhing→sêsandhing). Kata sêsandhing kemudian memperoleh sufiks {-an} menjadi kata sêsandhingan. Pada data di atas, kata sêsandhingan ‘bersandingan’ berfungsi menambah keindahan syair dengan menambah jumlah suku kata.

(222) Dhuh wong ayu pêpujanku sing tak sayang (CA2/IV/4) ‘Duh wanita cantik pujaanku yang saya sayang’

Dhuh wong ayu [{pu + (puja +-an)}+ -ku] sing tak sayang

Data di atas menampilkan reduplikasi di suku kata pertama dari kata dasar puja [pujɔ] ‘puja’ yang memperoleh sufiks {-an} menjadi kata pujaan [pujɔan], karena vokal /a/ jêjêg bertemu dengan vokal /a/ miring terjadilah ellipsis dengan penghilangan bunyi vokal [ɔ] hingga berubah menjadi kata pujan. Kata pujan kemudian mengalami reduplikasi pada suku kata pertamanya menjadi kata pupujan. Kata pupujan mengalami pelemahan bunyi pada suku kata yang mereduplikasi berubah menjadi kata pêpujan (pujan→pupujan→pêpujan). Sedangkan kata pêpujan memperoleh sufiks {-ku} sehingga menjadi kata pêpujanku.

Berdasarkan analisis di atas, tembung rangkep dwipurwa pêpujanku ‘pujaanku’ berfungsi menampilkan kearkhaisan bentuk yang mendukung keindahan syair.

2. Afiksasi

Afiksasi merupakan proses pembentukan kata dengan penambahan afiks pada kata dasar, afiks terdiri dari prefik (afiks yang ditambahkan pada bagian

depan kata), infiks, sufiks, konfiks, dan simulfiks. Afiksasi yang ditemukan dalam LLBJKNB hanya berupa infiks yang menandakan adanya kearkhaisan dan kestetisan kata. Berikut analisis afiksasi tersebut.

(223) Sumêdhot rasaning dhadha (BS/III/4) ‘Mendadak sakit rasa di dada’

(224) Sumilir angin dadi kanca sabên wêngi (ARK/II/1) ‘Semilir angin menjadi teman setiap malam’

Pada data (223) dan (224) penambahan afiks berupa sisipan {-um-} yang termasuk daam ragam literer bahasa Jawa terdapat pada awal baris.

(sêdhot + -um- ) rasaning dhadha

Infiks {-um-} muncul pada kata sumêdhot ‘mendadak sakit’ yang berasal dari kata dasar sêdhot/sêdhut ‘secara tiba-tiba’.

Pada data (224) ,infiks {-um-} ditunjukkan oleh kata sumilir ‘semilir’. (silir + -um- ) angin dadi kanca sabên wêngi

Kata sumilir yang berasal dari kata dasar silir ‘sejuk’. Fungsi infiks {-um} pada data memperindah dan memberikan kesesuaian pada lirik dengan penambahan suku kata.

Tabel 1.4 Rekapitulasi Aspek Penanda Diksi dan Pemilihan Kosakata dalam LLBJKNB

No Diksi Jumlah Persentase Posisi

1 Sinonimi 7 6,36% baris berikutnya, akhir baris

2 Antonimi 2 1,81% akhir baris

3 Kosakata Indonesia 10 9,09% akhir baris, kata kedua 4 Kosakata Inggris 1 0,90% awal baris

5 Kosakata Kawi 2 1,81% awal baris, akhir baris 6 Kosakata dialek

Jawa Timuran

5 4,54% kata kedua dari belakang, awal baris

7 Kata Sapaan 18 16,36% kata kedua dari depan, kata ketiga dari depan, kata

keempat dari depan, akhir baris

8 Tembung Saroja 2 1,81% akhir baris 9

Tembung Garba 7 6,36% Awal baris, kata kedua dari depan, dan kata kedua dari belakang

10

Tembung Panyeru 4 3,63% Awal baris, baris terakhir pada kata kedua dari belakang

11 Epentesis 4 3,63% Awal baris, akhir baris pada larik pertama

12 Aferesis 48 43,63% awal baris, kata kedua dari depan, kata kedua dari belakang, kata ketiga dari depan, tengah baris Total 110 100%

No Penanda Morfologis Jumlah Persentase Posisi

1 Dwipurwa 3 60% awal, akhir, dan tengah baris

2 Afiksasi 2 40% awal baris

Total 5 100%

Berdasarkan tabel di atas, aspek penanda diksi berupa aferesis paling mendominasi dalam LLBJKNB dengan persentase 43,63% dengan posisi di awal baris, kata kedua dari depan, kata kedua dari belakang, kata ketiga dari depan, dan tengah baris. Disusul dengan kata sapaan sebesar 16,36% yang berdistribusi pada kata kedua dari depan, kata ketiga dari depan, kata keempat dari depan, akhir baris, serta kosakata bahasa Indonesia sebesar 9,09% dengan posisi di akhir baris dan kata kedua dari depan. Pada tabel di atas, kosakata bahasa Inggris mendapatkan persentase terkecil yaitu 1,06% di awal baris. Sedangkan untuk penanda morfologis didominasi oleh dwipurwa sebesar 60%.

Melalui tabel tersebut maka dapat diperoleh informasi bahwa dalam LLBJKNB, aferesis menjadi unsur yang dominan dalam membentuk kearkhaisan

syair dengan mengurangi jumlah suku kata untuk mempersingkat, memperindah, dan menyelaraskan tuturan.

Dokumen terkait