• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA N 2 Karanganyar, Jl. Ronggowarsito, Bejen. Alasan pemilihan SMAN 2 Karanganyar sebagai tempat penelitian ini adalah karena merupakan salah satu SMA yang menyelenggarakan kelas imersi di daerah Karanganyar, mempunyai data atau informasi yang memadai untuk kepentingan penelitian, dan di SMA tersebut belum pernah dijadikan obyek penelitian mengenai penyelenggaraan imersi sehingga diharapkan hasil penelitian ini akan memberikan manfaat pada sekolah tersebut.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian merupakan lamanya penelitian ini berlangsung, mulai dari persiapan sampai dengan penyusunan laporan penelitian. Dibawah ini disajikan tabel rincian kegiatan penelitian.

Tabel 3.1 Kegiatan Penelitian

Kegiatan 2012

Feb Mar Apr Mei Jun

a. Persiapan

1) Pengajuan Judul 2) Penyusunan Proposal 3) Ijin Penelitian

b. Pelaksanaan

1) Pengumpulan Data 2) Analisis Data 3) Penarikan

Kesimpulan c. Penyusunan Laporan

commit to user

B. Bentuk dan Strategi Penelitian 1. Bentuk Penelitian

Dalam mengkaji sebuah permasalahan secara utuh dan lengkap diperlukan suatu pendekatan permasalahan melalui bentuk penelitian yang tepat.

Penelitian ini menggunakan bentuk deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada dengan memperhatikan karakteristik, kualitas, serta keterkaitan antara kegiatan (Sukmadinata, 2011 : 72).

Pada penelitian ini, peneliti berusaha memecahkan masalah yang diselidiki mengenai penyelenggaraan kelas imersi dengan cara menggambarkan obyek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang ditemui sebagaimana adanya baik berupa kata-kata tertulis, lisan dari orang-orang maupun perilaku yang dapat diamati.

2. Strategi Penelitian

Agar penelitian dapat mencapai hasil yang optimal, diperlukan suatu strategi penelitian. Starategi penelitian dapat dikatakan sebagai cara seorang peneliti dalam melakukan penelitian. Strategi-strategi yang digunakan seorang peneliti ini akan menentukan hasil dari apa yang ia teliti, dan juga mengenai sumber-sumber data yang dicari.

Penelitian ini menggunakan strategi tunggal terpancang. Tunggal dalam artian penelitian terarah pada sasaran dengan satu karakteristik. Artinya penelitian tersebut hanya dilakukan pada satu sasaran (satu lokasi, atau satu subyek).

Sedangkan terpancang maksudnya adalah sudah terarah pada batasan atau fokus tertentu yang dijadikan sasaran dalam penelitian (H.B Sutopo, 2006 : 114). Jadi penelitian ini terarah pada satu lokasi yaitu SMA Negeri 2 Karanganyar dengan batasan penelitian tentang pelaksanaan kelas imersi pada mata pelajaran kimia.

C. Sumber data

Sumber data merupakan sumber dimana data diperoleh. Data tidak akan diperoleh tanpa adanya sumber data. Dalam memilih sumber data, peneliti harus commit to user

benar-benar berfikir mengenai kemungkinan kelengkapan informasi yang akan dikumpulkan juga validitasnya.

Dalam penelitian ini, peneliti akan mengambil data atau informasi yang berhubungan dengan masalah penelitian melalui informan, tempat dan peristiwa, dokumen dan arsip.

1. Informan

Dalam penelitian pada umumnya, jenis sumber data yang berupa manusia dikenal sebagai responden. Istilah ini digunakan karena peneliti dianggap memiliki posisi yang lebih penting dibanding dengan responden yang hanya sekedar memberikan tanggapan terhadap apa yang diinginkan oleh peneliti. H.B Sutopo (2006 : 58) menyatakan bahwa di dalam penelitian kualitatif lebih tepat disebut dengan informan daripada responden, karena posisi peneliti dan informan dipandang memiliki kedudukan yang sama pentingnya.

Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai informan adalah Kepala SMA Negeri 2 Karanganyar, Ketua Bidang Imersi, Guru Kimia kelas XI imersi, dan Siswa kelas imersi.

2. Tempat dan Peristiwa

Tempat yang dijadikan lokasi penelitian adalah SMA Negeri 2 Karanganyar. Dari lokasi tersebut akan muncul beragam fenomena yang merupakan peristiwa yang ;akan digunakan sebagai data yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti, yaitu tentang pelaksanaan kelas imersi pada mata pelajaran kimia.

3. Dokumen dan Arsip

Sekolah merupakan lembaga formal. Oleh karena itu kerapian dalam administrasi menjadi bagian yang penting sehingga dokumen atau arsip yang telah tertata dapat dijadikan sebagai sumber data apabila terdapat hubungan dengan masalah yang sedang diteliti. Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu. Bila ia merupakan catatan yang bersifat formal dan terencana dalam organisasi sebagai commit to user

bahan dari mekanisme kegiatannya, ia cenderung disebut arsip (H.B Sutopo, 2006 : 61).

D. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel dan perhitungan besarnya sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Sampel yang secara nyata akan diteliti harus representatif dalam arti mewakili populasi baik dalam karakteristik maupun jumlahnya (Sukmadinata, 2011 : 252).

Dalam penelitian ini, sampel yang diambil tidak mutlak jumlahnya.

Artinya sampel yang diambil disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memiliki tujuan atau dilakukan dengan sengaja, cara penggunaan sampel ini diantara populasi sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Mardalis, 2007 : 58). Sampel juga diambil dari berbagai sumber dan dapat dipilih lagi untuk memperluas dan menambah informasi yang telah diperoleh sehingga dapat saling mengisi. Sampel penelitian ini adalah :

1. Guru kimia kelas XI imersi 2. Siswa kelas XI imersi

3. Proses belajar mengajar kimia di kelas imersi

E. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara-cara yang ditempuh untuk mendapatkan data yang diperlukan dengan menggunakan alat tertentu. Untuk memecahkan permasalahan dengan tuntas, dalam penelitian ini diperlukan data yang valid dan reliabel. Untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel, teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Wawancara

Menurut Sugiyono (2009 : 317), “wawancara merupakan teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk commit to user

menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam”. Sedangkan Mardalis (2007 : 64), menyatakan bahwa wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan kepada si peneliti.

Dari pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan percakapan atau dialog antara dua pihak sehingga diperoleh keterangan yang mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik wawancara dengan terlebih dahulu menyusun kerangka pertanyaan yang relevan dengan permasalahan. Kerangka pertanyaan tersebut dimaksudkan sebagai pedoman sehingga dalam melaksanakan wawancara meskipun informan dibebaskan untuk menjawab tetapi tetap mengarah pada maksud pewawancara.

2. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Sukmadinata, 2011 : 220). Sedangkan observasi menurut Mardalis (2007 : 63) merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan teknik observasi berperan pasif dan terstruktur untuk mengamati perilaku yang muncul di lokasi penelitian.

Dalam observasi ini, peneliti telah merancang secara sistematis tentang apa yang akan diamati dan di mana tempatnya, serta peneliti sifatnya hanya mengamati fenomena dan tidak terlibat secara langsung dalam aktivitas yang sedang diamati.

commit to user

3. Dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik (Sukmadinata, 2011 : 221). Teknik tersebut dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mencatat apa yang tertulis dalam dokumen atau arsip yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti kemudian berusaha memahami maknanya.

4. Kuisioner

Angket atau kuisioner merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung, dalam artian peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden (Sukmadinata, 2011 : 219). Dipandang dari cara menjawabnya, kuisioner dibedakan menjadi (1) kuisioner terbuka, yaitu yang memberi kesempatan responden untuk menjawab dengan kalimat sendiri dan (2) kuisioner tertutup, dimana kuisioner sudah disediakan jawabanya sehingga responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kuisioner tertutup.

F. Validitas Data

Ketepatan dan kemantapan data tergantung dari ketepatan memilih sumber data, teknik pengumpulan data dan teknik pengembangan validitas data.

Dalam penelitian ini, pemeriksaan data dilakukan dengan cara trianggulasi.

Pengertian trianggulasi menurut Sugiyono (2009 : 330) yaitu teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada sekaligus menguji kredibilitas data.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan trianggulasi data dan trianggulasi metode. Trianggulasi data disebut juga trianggulasi sumber. Jenis trianggulasi ini dilakukan dengan dua cara. Pertama, data yang sejenis dikumpulkan dengan berbagai sumber data yang tersedia dengan teknik pengambilan data sama. Kedua, data yang sejenis dikumpulkan dari sumber data yang berbeda dengan teknik pengambilan data yang berbeda. Sedangkan commit to user

trianggulasi metode dilakukan dengan cara mengumpulkan data sejenis dari sumber data yang sama tapi dengan teknik pengumpulan data yang berbeda. Dari sini akan diketahui keabsahan data-data tersebut.

G. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan model analisis interaktif, dimana aktivitas dalam tiga komponen analisis yang terdiri dari reduksi data, sajian data dan penarikan simpulan/verifikasi dilakukan dengan cara interaktif dari tiga komponen tersebut.

Dalam model analisis interaktif ketiga komponen analisis berjalan bersama pada waktu kegiatan pengumpulan data. Begitu peneliti menyusun catatan lapangan lengkap, reduksi data segera dibuat dan diteruskan dengan pengembangan bentuk susunan sajian data.

Dari membaca sajian data dengan kelengkapan berbagai pendukungnya, peneliti mengusahakan pemikiran yang mengarah pada kesimpulan yang bersifat sementara karena pengumpulan data masih berlangsung. Apabila peneliti menemukan data baru dengan penahaman baru, maka simpulan sementara tadi perlu dirubah secara tepat. Apabila data baru lebih memperkuat simpulan sementaranya, maka simpulan tersebut dapat dikembangkan menjadi semakin mantap. Demikian seterusnya sehingga pengumpulan data dirasa telah lengkap.

Berikut ini gambar model analisis interaktif :

Gambar 3.1 Model Analisis Interaktif

(Sumber : Miles & Huberman, 1992 : 20)

Data Collection

Data display Data

Reduction

Conclusions : drawing/verifying

commit to user

Model evaluasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Model Evaluasi CIPP. CIPP merupakan singkatan dari context, input, process dan product, dimana keempatnya merupakan sasaran evaluasi yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program. Konsep model tersebut pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). Stufflebeam dalam Widoyoko (2011 : 181) mempunyai pandangan bahwa pentingnya evaluasi adalah bukan untuk membuktikan, tetapi untuk memperbaiki. Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, manajemen, perusahaan, dan sebagainya serta dalam berbabagi jenjang, baik itu proyek, program maupun institusi.

1. Evaluasi Konteks (Context Evaluation)

Evaluasi konteks merupakan penggambaran dan spesifikasi tentang lingkungan program, kebutuhan yang belum dipenuhi, karakteristik populasi dan sampel dari individu yang dilayani dan tujuan program. Evaluasi konteks membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program.

2. Evaluasi Masukan (Input Evaluation)

Evaluasi masukan membantu mengatur keputusan, mementukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya.

3. Evaluasi Proses (Process Evaluation)

Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memperbaiki rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang terjadi.

4. Evaluasi Produk/Hasil (Product Evaluation)

Evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan (Widoyoko, 2011 : 181-183). commit to user

H. Prosedur Penelitian 1. Tahap Pra Lapangan

Tahap ini dilakukan mulai dari pembuatan usulan penelitian, menyusun rancangan, memilih obyek penelitian, hingga pencarian berkas perizinan lapangan.

2. Tahap Kegiatan Lapangan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu menggali data yang relevan dengan tujuan penelitian. Peneliti sudah terjun ke lokasi penelitian untuk memahami latar belakang penelitian dan persiapan diri memasuki lapangan serta sambil mengumpulkan data.

3. Tahap Analisis Data

Tahap ini dilakukan setelah penggalian data dianggap cukup untuk memenuhi tujuan penelitian, kemudian data dianalisis kembali secara lebih mendalam kemudian ditarik sebuah kesimpulan dari analisis tersebut.

4. Tahap Penulisan Laporan

Kegiatan pada tahap penulisan laporan antara lain : a. Menyusun konsep laporan

b. Review konsep laopran atas dasar saran perbaikan dari tim penguji c. Perbaikan konsep dan penyusunan laporan akhir

d. Penggandaan laporan, legalisasi dan pelaporan kepada yang terkait.

Bagan berikut disajikan untuk lebih memudahkan dalam melakukan penelitian :

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian 1. Sejarah Berdirinya SMA Negeri 2 Karanganyar

SMA Negeri 2 Karanganyar berdiri pada tahun 1992. Berdiri untuk pertama kalinya bergabung dengan SMA Negeri 1 Karanganyar dan pertama kalinya dikepalai oleh Bapak Winarno dan wakilnya Bapak Darto. Proses belajar mengajar SMA Negeri 2 Karanganyar dilakukan pada siang hari setelah proses kegiatan belajar mengajar SMA Negeri 1 Karanganyar selesai. Setahun kemudian, tahun 1993 SMA Negeri 2 Karanganyar membangun gedung baru di jalan Ronggowarsito, Bejen, Karanganyar. SK/ Ijin Pendirian sekolah dari Kanwil/

Disdik/ Depag (Nomor/ Tanggal SK) : 748/ 103.13/ M92/ 08-06-1992. Awal pembangunan, SMA Negeri 2 Karanganyar hanya memiliki empat kelas. Setelah penjurusan, empat kelas tersebut dibagi menjadi Kelas Biologi 1, Kelas Biologi 2, Kelas IPS 1, dan Kelas IPS 2. Seiring dengan itu, dari tahun ke tahun gedung sekolah mulai dilengkapi, baik dengan penambahan kelas atau fasilitas sekolah lainnya seperti laboratorium, perpustakaan, masjid, dan lain-lain. Pembangunan terakhir dilaksanakan pada akhir Agustus 2010 dengan merenovasi kelas XII IPS 1 – IPS 4.

SMA Negeri 2 Karanganyar memiliki status sekolah Negeri dan diklasifikasikan sekolah Mandiri, sekarang sudah SSN (tahun 2000 ke atas). SK terakhir status sekolah di SMA Negeri 2 Karanganyar : 076/103.E1/B.93/01-04-1993 dengan Akreditasi A. SK Akreditasi terakhir (Nomor/ Tanggal SK) : Prop-03 MO-79/ 29-09-2007.

2. Visi dan Misi SMA Negeri 2 Karanganyar a. Visi Sekolah

“Unggul dalam Prestasi Bernuansa Imtaq dan Penguasaan Iptek”.

commit to user

b. Misi Sekolah

1) Menumbuhkan rasa semangat dan disiplin yang tinggi bagi seluruh warga sekolah.

2) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif dan efisien.

3) Siap menghantarkan para siswa kejenjang yang lebih tinggi.

4) Mendorong dan membantu siswa untuk mengenali potensi diri.

5) Menanamkan dan membentuk sikap etos kerja yang professional, jujur dan agamis.

3. Struktur Organisasi SMA Negeri 2 Karanganyar

Sekolah merupakan suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan.

Suatu lembaga pendidikan bertanggung jawab terhadap peningkatan pendidikan dan pembentukan generasi yang berbudi luhur. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut suatu lembaga harus mempunyai strategi dalam penanganannya.

Oleh sebab itu SMA Negeri 2 Karanganyar dalam pengeloalaannya memiliki struktur organisasi yaitu :

Gambar 4.1 Struktur Organisasi SMA Negeri 2 Karanganyar

KEPALA SEKOLAH Drs. Bambang Sugeng Maladi, M.M

NIP. 19540625 197803 1 005 KOMITE

Sri Desto U.R.S, S.Sos, M.Si

WAKASEK

B. Deskripsi Temuan Penelitian

1. Penyelenggaraan Kelas Imersi di SMA Negeri 2 Karanganyar

a. Sejarah Penyelenggaraan Kelas Imersi di SMA Negeri 2 Karanganyar SMA Negeri 2 Karanganyar merupakan salah satu sekolah penyelenggara kelas imersi di kabupaten Karanganyar. Menurut informan 1 menjelaskan bahwa SMA Negeri 2 Karanganyar ditunjuk oleh kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Karanganyar sebagai penyelenggara imersi. Adapun pelaksanaan kelas imersi dimulai pada tahun ajaran 2006/2007, tahun ajaran 2011/2012 adalah tahun keenam penyelengaraan kelas imersi di SMA ini. Hal ini berarti tidak ada prosedur penyeleksian khusus dan SMA Negeri 2 Karanganyar dipandang telah memenuhi kriteria sebagai sekolah penyelenggara kelas imersi.

b. Persiapan Penyelenggaraan Kelas Imersi

Penerapan suatu program pendidikan baru membutuhkan berbagai persiapan. Begitu juga dengan penerapan program kelas imersi. SMA Negeri 2 Karanganyar selaku sekolah penyelenggara kelas imersi mempersiapkan berbagai hal berkaitan dengan penerapan kelas tersebut di sekolah ini, antara lain : Struktur Organisasi, Perekrutan Guru, Penyeleksian Siswa, Sarana dan Prasarana, dan Pendanaan. Persiapan – persiapan tersebut akan diuraikan di bawah ini.

1) Struktur Organisasi

Program kelas Imersi merupakan program pendidikan yang berada di bawah naungan SMA Negeri 2 Karanganyar sebagai lembaga formal, untuk itu diperlukan pengelola khusus dalam mengelolanya. Informan 1 menyatakan bahwa hanya terdapat koordinator yang diberi tanggung jawab untuk mengelola kelas imersi, dalam tugasnya koordinator tersebut dibantu oleh kepala sekolah, para wakil kepala sekolah (wakasek) dan guru – guru pengajar kelas imersi. Informan 2 menambahkan bahwa selama ini kelas imersi dikelola oleh pengelola tunggal yaitu bapak Sunardi sebagai ketua bidang imersi (Lampiran 2).

Penjelasan di atas dapat diartikan bahwa sampai dengan tahun pelajaran 2011/2012 SMA Negeri 2 Karanganyar selaku sekolah penyelenggara kelas imersi belum memiliki struktur organisasi khusus untuk mengelola kelas imersi. commit to user

Baru terdapat ketua bidang imersi yang diberi tanggung jawab untuk mengelolanya dan tugas – tugasnya dibantu oleh pihak sekolah, seperti kepala sekolah, para wakasek, dan guru – guru pengajar kelas imersi.

2) Perekrutan Guru

Guru merupakan salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan proses pembelajaran. Menurut informasi yang didapat, pihak sekolah menunjuk sejumlah guru yang dipandang mampu kemudian menawarkan kepada mereka tentang kesediaannya untuk mengajar di kelas imersi. Mereka yang bersedia mendapatkan pelatihan-pelatihan dari beberapa instansi terkait sebagai bekal persiapan untuk menjadi pengajar di kelas imersi.

Senada dengan hal diatas, informan 1 mengatakan bahwa perekrutan guru untuk mengajar di kelas imersi, ditunjuk langsung oleh pihak sekolah dengan kriteria mereka capable, dalan artian mampu menguasai materi pelajaran dan mampu menyampaikannya kepada siswa dalam bahasa Inggris (Lampiran 2).

Guru yang ditunjuk mendapatkan berbagai pelatihan dari instansi terkait.

Berdasarkan informasi tersebut dapat diketahui bahwa SMA Negeri 2 Karanganyar melakukan perekrutan guru sebagai pengajar kelas imersi melalui penunjukan langsung oleh pihak sekolah kepada guru-guru yang dipandang memiliki kemampuan penguasaan bahan ajar sekaligus penyampaiannya dalam bahasa Inggris. Dan juga sekolah mempersiapkan agar para guru tersebut mendapat pelatihan dari beberapa instansi yang bekerjasama dengan sekolah.

3) Penyeleksian Siswa

Siswa merupakan input dari sebuah proses pendidikan. Kualitas dan kuantitas mereka mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Menurut informan 1, selama ini target jumlah rombongan belajar untuk kelas imersi bisa dikatakan terpenuhi (Lampiran 2). Terbukti sejak 2 tahun terkahir jumlah siswa kelas imersi mencapai 2 kelas dengan jumlah hampir 50 anak dan berasal dari sekolah-sekolah di daerah kabupaten Karanganyar. Untuk tahun pertama dibukanya kelas imersi, yaitu 2006/2007 sampai 2009/2010 hanya membuka satu kelas dengan jumlah rombongan belajar sebanyak 24 anak.

commit to user

Informan 1 mengungkapkan bahwa persyaratan bagi siswa kelas imersi adalah nilai rata-rata raport semester 1-5 untuk 3 mata pelajaran UN minimal 7,50 atau nilai UN murni (NEM) rata-rata minimal 6,50. Hal ini berkaitan dengan penjurusan yang akan dilakukan ketika masuk SMA nanti, yaitu mereka akan diarahkan ke jurusan IPA. Pertimbangannya adalah secara logika kemampuan siswa dengan jurusan IPA dipandang lebih baik daripada jurusan IPS dan ketika masuk perguruan tinggi, mereka memiliki kesempatan lebih luas untuk mengambil jurusan (Lampiran 2).

Informan 3 menambahkan bahwa proses seleksi untuk masuk kelas imersi pada tahun pelajaran 2010/2011 meliputi tes tertulis dalam bahasa Inggris, tes lisan melalui wawancara, dan nilai raport untuk 3 mata pelajaran UN tidak boleh kurang dari 7,50. Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diketahui bahwa proses penyeleksian siswa kelas imersi di SMA Negeri 2 Karangannyar tahun pelajaran 2010/2011 meliputi nilai rapor ketika SMP rata-rata 7,50 untuk 3 mata pelajaran UN, tes tertulis dalam bahasa Inggris dan tes wawancara (Lampiran 2). Selain itu, rombongan belajar dibatasi hanya 2 kelas dengan jumlah siswa 24 anak per kelas dan berasal dari SMP di daerah Karanganyar.

4) Sarana dan Prasarana

Kelengkapan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan kelas imersi berpengaruh pada tingkat keberhasilan penyelenggaraan program itu. Adanya sarana dan prasarana yang lengkap akan memberikan kemudahan dan kelancaran proses pembelajaran. Informan 1 menjelaskan bahwa sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang sedikit berbeda untuk kelas imersi, seperti : LCD, seperangkat komputer, AC dan ruangan kelas yang lebih besar dibanding kelas regular (Lampiran 2).

Berdasarkan informasi di atas dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki SMA Negeri 2 Karanganyar dapat dimanfaatkan oleh siswa baik kelas reguler maupun imersi. Namun sekolah memberikan kebijakan pada kelas imersi mengenai sarana-dan prasarana yang berada di dalam kelasnya berupa LCD, seperangkat komputer, dan AC yang tidak terdapat di kelas reguler.

commit to user

5) Pendanaan

Berbagai bentuk persiapan penyelenggaraan kelas imersi membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber utama pembiayaan kelas imersi berasal dari sumbangan pengembangan pendidikan yang dibebankan kepada orang tua/wali siswa kelas X,XI dan XII. Pada awal pembukaan kelas imersi, sebagian besar dana tersebut digunakan untuk penyediaan sarana dan prasarana kelas imersi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa adanya kebutuhan dana yang besar dalam penyelenggaraan kelas imersi. Kebutuhan dana tersebut dipenuhi oleh pihak sekolah dan orang tua/wali siswa kelas imersi. Hal ini berarti bahwa belum adanya bantuan dana dari pihak pemerintah pusat maupun daerah.

c. Sosialisasi Kelas Imersi

Setiap program pendidikan hendaknya disosialisasikan kepada stakeholder pendidikan, dalam artian diberitahukan kepada pihak internal maupun eksternal sekolah agar diketahui keberadaannya. Informan 1 mengungkapkan bahwa selama ini sosialisasi kelas imersi dilakukan dengan pengiriman leaflet

Setiap program pendidikan hendaknya disosialisasikan kepada stakeholder pendidikan, dalam artian diberitahukan kepada pihak internal maupun eksternal sekolah agar diketahui keberadaannya. Informan 1 mengungkapkan bahwa selama ini sosialisasi kelas imersi dilakukan dengan pengiriman leaflet

Dokumen terkait